panadangan coach Timo untuk Sepakbola Indonesia Yang Bersih, Sehat dan berPrestasi
Surat Terbuka Untuk Tim-tim Transisi (Bagian Pertama)
July 22, 2015 oleh Timo Scheunemann
Code:
http://mobile.supersoccer.co.id/supersoccer-tv/surat-terbuka-untuk-tim-tim-transisi/
Roadmap to Success (Part One)
Quote:
Menpora, BOPI, dan tim transisi terbilang tegas menggalakan reformasi sepak bola Indonesia. Dibalik ketegasan ini ada dukungan penuh dari Presiden Jokowi yang memilih jalur reformasi total demi sepak bola Indonesia yang jauh lebih baik, yang jauh lebih membanggakan. Sebuah target yang tidak mudah untuk dicapai. Pressure atau beban yang ada di pundak Anda sangat besar. Salah melangkah dan target yang dibebankan Presiden dan masyarakat bola Indonesia akan gagal tercapai.
Memang tugas Anda sebatas menghantarkan reformasi sepak bola Indonesia ke arah yang benar, namun justru langkah-langkah awal akan sangat menentukan arah perjalanan reformasi. Karena itu, dengan segala kerendahan hati, ijinkan saya sedikit membantu tugas Anda dengan masukan-masukan yang bersifat tehnis sepakbola. Maklum, saya bukanlah seorang birokrat atau politikus yang paham seluk beluk politik. Saya hanyalah pelaku tehnis di lapangan yang kebetulan paham mengenai apa yang terlah dilakukan negara-negara lain untuk maju, sekaligus mengerti dari first hand experience tentang realita sepak bola Indonesia di lapangan.
Untuk mencapai target yang dicanangkan Presiden Jokowi ( timnas yang hebat), diperlukan liga professional yang berkelas dan pembinaan usia muda yang berkualitas. Itu formulanya.
Nah, liga professional yang berkelas, pembinaan usia muda yang efektif dan managemen timnas, semuanya bersumber pada federasi. Logis, karena federasi lah yang membuat peraturan-peraturan serta kebijakan yang mempengaruhi kualitas dan efektifitas liga professional dan pembinaan usia muda. Federasi yang berkualitas melahirkan timnas yang berkualitas!
Good governance equals good policies equals success
Karena pentingnya peran federasi dalam proses meraih kesuksesan, kiprah tim transisi dalam pembentukan federasi baru sangat ditunggu. Reformasi dan proses mencapai kesuksesan akan kandas bila Anda salah memilih orang. Lalu orang-orang seperti apa yang dibutuhkan sebuah federasi yang efektif? Jawabanya ada dua; orang yang mumpuni (capable di bidangnya masing-masing) dan orang yang berjiwa nasionalis praktis. Yang dimaksud dengan berjiwa nasionalis praktis adalah orang-orang yang tidak sekedar cinta Indonesia di mulut saja, atau secara seremonial, berdiri tegak saat upacara bendera namun loyo dan tanpa disiplin saat bekerja. Bukan juga orang –orang yang naik pitam saat ada yang mengkritik Indonesia, namun membuang sampah secara sembarangan, atau tidak menyiram saat menggunakan toilet umum. No, no, no! Yang kita butuhkan adalah orang-orang yang cinta mati pada Indonesia secara praktis alias nyata. Orang-orang yang mampu, yang peduli, yang bersih. Yang kita butuhkan adalah manusia-manusia setengah dewa (ala lirik lagu the great Iwan Fals).
“Pancasila” kemajuan sepakbola Indonesia
Lalu seperti apa kebijakan yang sangat perlu dilakukan demi meraih kesuksesan dan kebanggaan publik terhadap timnas kita?
Ada 5 kebijakan utama yang mutlak harus dilakukan bila menginginkan kemajuan yang signifikan. Seperti Pancasila yang sesungguhnya, “pancasila kemajuan sepak bola Indonesia” mutlak harus dijalankan. Ini bukan masalah opini pribadi/ sok tahu/dll, melainkan fakta. It’s a hard fact, as hard as steel. Kelima kebijakan utama ini juga bukan rocket science, melainkan simple common sense. Dilakukan kita maju, tidak dilakukan kita akan semakin tertinggal . Tidak banyak yang paham seberapa jauhnya ketertinggalan kita dibandingkan beberapa negara tetangga, apalagi negara-negara yang telah maju persepakbolaannya. Untuk itu perlu saya tekankan sekali lagi, ketidakmampuan atau kitakmauan menjalankan kelima kebijakan utama ini akan berujung pada…nothing! Tidak akan ada perbedaan. Sepak bola Indonesia akan terus seperti sekarang; penuh intrik bak sinetron murahan dan skandal demi skandal demi skandal akan terus terjadi. Saat ini sudah terjadi degradasi makna kata skandal. Skandal telah dianggap biasa sehingga tidak ditanggapi dengan serius dan terlupakan dalam hitungan hari. Dan yang paling penting, tidak akan ada perubahan dalam hal prestasi. Nothing!
“Sila satu”: Akademi pelatih
Policy atau kebijakan pertama dan utama yang akan menggiring Indonesia ke jalur kesuksesan adalah akademi kepelatihan untuk pelatih. Pentingnya peran pelatih dalam pembentukan pemain tidak bisa dianggap remeh. Pelatihlah ujung tombak pembinaan sepak bola Indonesia. Lewat pelatih, pemain mendapatkan program latihan yang efektif ataupun tidak. Lewat pelatih pemain dipengaruhi karakternya secara baik ataupun buruk. Lewat pelatih, pemain mengetahui makanan apa yang perlu dikonsumsi dan mana yang tidak. Pelatih yang tidak berpengetahuan, dan hanya sekedar mengandalkan pengalamnya sebagi pemain, tidak akan mampu mengembangkan pemain hingga pada titik tercapainya potensi pemain.
Mengembangkan potensi pelatih adalah mengembangkan potensi pemain di semua level; mulai dari desa hingga ke level timnas! Itulah sebabnya pendirian akademi pelatih satu pintu tidak bisa diundur-undur lagi. Konsep akademi satu pintu penting karena berhubungan dengan standarisasi baik materi maupun istruktur kepelatihan, juga standarisasi tata cara penerimaan calon pelatih dan kelulusan. Selain itu akademi satu pintu memudahkan federasi memantau jumlah pemegang lisensi. Di saat yang sama, para calon pelatih bisa mendapatkan informasi yang jelas via website akademi pelatih. Semua menjadi jelas, semua menjadi tertata rapi bila akademi pelatih dilaksanakan di satu tempat, kompleks ABRI di Bogor, misalnya. Melakukan kerjasama dengan berbagai pihak boleh-boleh saja, road show demi pengadaan lisensi D di daearh-daerah monggo, asal ada lokasi utama pelatihan bagi pelatih lisensi C, B dan A, yang dimonitor dan dibantukan oleh AFC secara langsung dan terus menerus. Mengadakan lisensi secara periodik dan tanpa standarisasi kelulusan dan penerimaan calon pelatih yang ketat tidak akan mampu mengatrol kualitas pelatih (dan pemain!) kita. Indonesia teramat sangat membutuhkan pelatih yang berkualitas tinggi dan dalam jumlah yang banyak!
Karena itu semua pelatihan pelatih berada pada posisi “sila satu”.
Sedemikian pentingnya faktor federasi dan akademi pelatih sehingga saya menutup surat terbuka bagian satu disini dulu. Selanjutnya saya akan membahas “sila” dua sampai lima. Semoga atensi Anda tidak redup. Demi Indonesia, saya berharap atensi Anda tetap terjaga.
Surat Terbuka Untuk Tim Transisi (Bagian Kedua)
July 24, 2015 oleh Timo Scheunemann
Code:
http://mobile.supersoccer.co.id/supersoccer-tv/surat-terbuka-untuk-tim-transisi-bagian-kedua/
Road to Success (Part Two)
Quote:
berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,Dear Tim Transisi,
Pada bagian pertama surat terbuka ini, saya mengutarakan pentingnya federasi yang mumpuni dan bersih. Salah satu dari keduanya tidak cukup, mengingat federasilah yang berperan penting menggiring pembinaan sepak bola Indonesia ke jalur kesuksesan via kebijakan-kebijakan yang efektif.
Dari “pancasila” kebijakan yang perlu dilakukan federasi saya telah membahas “sila pertama” yakni pendidikan pelatih. Mendidik pelatih berarti mendidik pemain; baik pemain kampung maupun professional, baik pemain muda maupun senior. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi menekankan pentingnya pembentukan akademi pelatih satu pintu selain menyatakan dengan lantang bahwa mereka-mereka yang tidak paham pentingnya arti pendidikan pelatih tidak layak berada di sebuah federasi olahraga, terutama sepak bola.
Kini ijinkan saya menjabarkan secara singkat “sila kedua” hingga “sila kelima”; road to success sepak bola Indonesia.
“Sila kedua”: Akademi untuk pemain berbakat
AFC telah bertahun-tahun mengeluarkan peraturan mengenai lima poin yang harus dimiliki sebuah tim professional. Kelima poin ini sudah waktunya dilakukan tanpa menerima lagi berbagai alasan klub untuk tidak memenuhinya. Diantara lima poin lisensi tim professional tersebut, saya ingin mengedepankan satu poin yang sudah pasti akan meningkatkan kualitas pesepakbola kita. Poin itu adalah diharuskannya klub professional memiliki akademi bagi pemain muda berbakat.
Pemain sepak bola dilahirkan dan diciptakan. Bukan salah satu. Karena itu bakat alami yang dimiliki banyak anak bangsa perlu dibina melaui sebuah akademi yang berkualitas tinggi. Karena terkoneksi dengan tim profesional (klub Divisi Utama dan Liga Super) output pemain-pemain binaan ini jelas.
Tidak cukup memiliki banyak akademi yang berafiliasi lansung dengan klub professional, kualitas akademi sangat menentukan terciptanya pemain-pemain yang nantinya mampu membanggakan bangsa dan Negara.
Standar akademi yang berkualitas tinggi:
Pelatih minimal berlisensi B dibawah seorang technical director berlisensi A. saran saya, untuk 3 tahun pertama technical director diisi pelatih asing yang sekaligus bisa mendidik pelatih lokal akademi dan SSB di sekitar lokasi klub.
Lapangan berkualitas bagus/ sangat bagus.
Pendidikan formal tidak dinomerduakan.
Standar makanan bagi pemain sesuai kebutuhan atlet sepak bola.
Adanya tim pencari bakat professional (bekerja khusus mencari bakat). Hal ini sangat penting karena realita saat ini banyak pemain berbakat tidak terpantau sehingga bakat alam yang dimiliki menjadi sia-sia. Pencarian bakat secara tidak professional juga memudahkan praktek penitipan pemain dan pemilihan pemain yang salah. Sebaliknya, apabila klub memiliki staf pencari bakat professional yang tidak berhasil mendapatkan pemain berbakat tinggi tentu konsekuensinya mereka akan dipecat. Dengan demikian pemain berbakat bisa dipastikan akan ditemukan karena karir tim scout taruhannya.
Adanya asrama untuk pemain berusia 15 tahun keatas sehingga diatas 15 tahun pencarian pemain berbakat berskala nasional. Untuk kategori usia 15 tahun kebawah pencari bakat cukup mencari di lingkup lokal maupun regional. Pemain seusia SD dan SMP masih labil untuk berpisah dari orangtua dalam kurun waktu yang lama. Messi kecil, contohnya, tidak pindah ke Spanyol dari Argentina seorang diri, namun bersama keluarga.
Pendanaan akademi bisa dibiayai swasta ataupun APBD karena bersifat pembinaan. Klub professional juga bisa mengadakan SSB PERSIJA, misalnya, yang sifatnya berbayar. Pemasukan dari SSB PERSIJA ini kemudian bisa dipakai guna mendanai Akademi PERSIJA yang bersifat gratis namun dibarengi dengan seleksi penerimaan yang sangat ketat. Sponsor swasta, permohononan dana APBD, ataupun subsidi silang, semuanya bisa dilakukan sehingga mementahkan argumentasi tentang tidak adanya dana. Kalau ada niat pasti ada jalan!
“Sila ketiga”: Liga professional yang berkualitas
Pemain usia muda bermuara pada tim professional, sedang pemain professional bermuara pada timnas. Semuanya berhubungan erat sehingga masing-masing perlu perhatian khusus.
Secara nyata liga professional yang berkualitas hendaknya memiliki karakterisasi seperti berikut:
Fair play. Bukan olah raga namanya kalau tidak fair. Sepak bola bukan sinetron. Tanpa fair play juga tidak akan ada kepercayaan publik (trust factor) yang mutlak dibutuhkan demi berkembangnya industri sepak bola.
Pemain asing maksimal 3 pemain/ klub agar kesempatan pemain lokal untuk berkembang tidak terhambat. Saya pribadi menyarankan 3 pemain asing, namun hanya 2 diantaranya yang boleh bermain. Dengan demikian persaingan antar pemain asing terjaga dan tidak ada lagi pemain asing yang tiba-tiba loyo setelah menandatangani kontrak.
Sistim kompetisi dan jadwal tertata rapi.
Lisensi klub diperketat tanpa menunda-nunda lagi dengan berbagai alasan. Apabila klub yang memperoleh lisensi sebagai klub professional nantinya hanya sedikit tidak mengapa karena justru akan sesuai dengan pakem kerucut; level amatir dihuni ratusan klub, level Divisi Utama puluhan klub, dan level Liga Super belasan klub. Ada istilah pedang mengasah pedang. Begitu juga dengan pemain. Apabila pemain-pemain berkualitas terkonsentrasi di Liga Super yang tidak dikuti oleh banyak klub maka secara otomatis kualitas pertandingan akan meningkat dan pemain diasah secara tajam mengingat rekan-rekan setimnya serta pemain lawan semuanya berkualitas.
“Sila keempat”: Perbaikan sarana dan prasarana
APBD sudah seharusnya dipakai untuk project dan event-event pembinaan, termasuk penyediaan lapangan berkualitas. Saya percaya setiap kecamatan, bahkan kebanyakan desa, mampu membangun lapangan bersandar internasional. Kita negara kaya, kok. Harus bisa!
Selain itu, sebagai bagian dari sarana dan prasarana, pembinaan wasit satu pintu perlu diwujudkan. Satu pintu penting lagi-lagi demi terciptanya standarisasi materi pelatihan, instruktur pelatihan, pemilihan calon wasit dan kelulusan wasit. Saya memperhatikan masalah pendidikan wasit di Indonesia tidak terletak pada materi dan instruktur perwasitan. Permasalahan lebih banyak berada pada proses penyaringan calon wasit. Solusi perlu dicari bersama mengenai hal ini. Lulusan SGO, misalnya, atau dari ABRI/polisi.
“Sila kelima”: Kompetisi usia muda
Last, but certainly not least, adalah diwujudkannya kompetisi usia muda secara merata (di semua pengcab) dan dalam kurun waktu yang lama (bukan bersifat turnamen). Pengcab diharuskan memutar liga berbagai usia bila tidak ingin kehilangan hak suara dalam kongres. Peraturan ini sangat perlu demi membangunkan banyak pengcab dari tidur pulasnya. Intinya pengurus sepak bola harus diharuskan mengurus sepak bola, bukanya berpangku tangan atau malah menjadi penguras. Untuk itu ketegasan dari pusat sangat diperlukan.
Juara tingkat kota/kabupaten nantinya bisa dipertemukan di level provinsi lalu nasional. Dalam tingkat provinsi (diadakan oleh asprov) maupun nasional (diadakan oleh Badan Usia Muda) tidak perlu menggunakan sistim kompetisi liga. Turnamen berdurasi singkat sudah cukup asal di lingkup lokal diharuskan berbentuk liga.
Di saat yang sama, kompetisi antar pengcab (all star kota/kabupaten) juga perlu dilakukan, namun cukup dengan sistim turnamen berdurasi singkat. Sekali lagi, tulang punggung pembinaan usia muda seharusnya berada di lingkup lokal yang berbentuk liga.
Dengan sistim seperti ini scout lokal maupun nasional akan dimudahkan dalam tugasnya mencari bakat. Dengan sistim seperti ini pemain akan berkembang secara maksimal, dan, di saat yang sama, timnas kelompok umur betul-betul akan diisi pemain-pemain terbaik dari seluruh Indonesia sehingga arti kata tim NASIONAL terwujudkan.
Lalu bagaimana dengan event-event berskala nasional, bahkan internasional, seperti Aqua Danone, Yamaha, MUPC, antar sekolah (oleh Mendikbud), dll? Semua itu tetap perlu dijalankan dan patut mendapatkan dukungan penuh federasi, namun tidak bisa digunakan sebagai tulang punggung pembinaan. Turnamen-turnamen tersebut hanya bersifat “iceing on the cake”, bukan program utama. SSB juga dipersilahkan mengadakan turnamen tambahan dengan berbagai modifikasi aturan (jumlah pemain, durasi pertandingan, dll) asal liga lokal tetap ada dan berlangsung sesuai acuan FIFA bagi masing-masing kelompok umur. Sebagai panduan silahkan lihat di buku saya Ayo Indonesia; Kurikulum Sepak Bola indonesia .
Sebagai penutup ijinkan saya menekankan sekali lagi pentingnya kelima sila diatas “diamalkan” secara menyeluruh dan mendetail. Perhatikan federasi-federasi di dunia. Federasi yang “mengamalkan” ke lima poin diatas pasti sukses, sedang yang tidak “mengamalkan” PASTI terseok-seok.
Bila itu semua dilakukan saya super yakin sepak bola Indonesia akan maju dan meraih sukses pada masa mendatang. Kesuksesan yang saya prediksi akan berpengaruh besar pada persatuan bangsa, kebanggaan bangsa, bahkan ekonomi bangsa. Sedemikan besarnya pengaruh sepak bola. Karena itu kemajuan sepak bola Indonesia patut diperjuangkan oleh Anda, saya, dan semua pembaca.
Semoga ulasan ini dapat membantu Anda merealisasikan keinginan presiden dan bangsa Indonesia pada umumnya yakni membentuk timnas Indonesia yang membanggakan.
Selamat bekerja,
