Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#411
Partitur no. 74 : Halte


Ternyata, semuanya tak bisa sesuai dengan harapan.

Penyakitku terasa sama seperti ketika pertama kali terkena penyakit ini. Tapi, untungnya Harrys tak membocorkan hal itu, dan malah asyik main game online di komputernya. Bundaku begitu menghawatirkan badanku yang kembali panas. Kujawab saja, bahwa memang mungkin cuaca yang mendukung penyakitku ini.

Tasya marah kepadaku karena keputusanku untuk tetap manggung kemarin. Ah, menambah masalah saja. “Tuh kan, rasain kan akibatnya!” omelnya di WhatsApp ketika kulaporkan kondisiku pada malam hari.

Memang aku agak menyesal kalau tahunya begini, tapi, bagaimana aku bisa menolak tawaran untuk manggung? Bayangkan bagaimana seorang Dave Grohl yang kemarin baru saja patah kakinya di panggung dan tetap menyelesaikan konsernya, bahkan tetap melanjutkan tur!

“Tau gitu nggak aku tolong kemaren, deh!” lanjutnya.

“Tapi kemaren aku udah lumayan sehat, kok!” balasku.

“Udah lumayan sehat? Tapi kan bukan berarti udah sembuh total!”

Entah, aku bingung. Aku juga tak bisa melawan Tasya, karena ia yang sudah menolongku kemarin.

“Iya, deh. Aku nurut sekarang.” Kataku mengalah.

Beberapa hari kemudian.....

Saat itu tanggal 14 Februari. Hari Cinta.

Entah kebetulan atau tidak, saat itu Tasya berniat untuk menjenguk ke rumah sepulang kerja. Benar-benar hari cinta. Meskipun kemarin diomeli olehnya karena kesalahanku, kuanggap itu karena ia perhatian kepadaku.

Tepat sekitar pukul enam lebih, seseorang mengetuk pintuk kamarku.

“Masuk,” pintaku ketika mendengar pintu itu diketuk.

Orang itu pun membuka pintu kamark. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan panjang khusus perempuan, juga dengan rok hitam. Tasya lah orang itu. Orang yang kutunggu-tunggu kehadirannya sejak ia bilang akan menjengukku.

“Hai,” kataku.

“Seharusnya aku yang bilang hai,” katanya sambil tertawa. “Apa kabar?”

“Baik, kok.” jawabku sambil berusaha duduk. “Eh, kayak orang jauh aja nanyain apa kabar? Ahaha”

Senyumnya membuatku teduh. “Kamu, sih, kemaren pake bandel ngeband lagi sakit! Waktu buat istirahatnya nambah, kan!” ia mengelus kepalaku pelan-pelan dengan kehangatan hatinya.

“Iya deh, aku kapok..”

“Asal nggak diulangin aja..” lanjutnya. “Ini nggak kamu makan?” tanyanya ketika melihat bubur dan teh yang ada di meja.

“Nggak, bosen soalnya, bubur mulu!” keluhku. “Mana rasanya pake disamain kayak yang di rumah sakit lagi.”

“Yah, itukan karena buat kesehatan juga, sayang..” ujarnya sambil mengambil piring bubur itu. “Kalo aku suapin gimana?”

“Kayak anak kecil banget nggak, sih?” tanyaku dengan malu-malu.

“Dari pada nggak dimakan sama sekali?”

“Nggak apa-apa, deh, kali aja kalo sambil liatin muka kamu jadi manis buburnya!” ledekku.

“Tuhkan, lagi sakit aja masih sempet-sempetnya gombal!” ia menampakan ekspresi muka gemas ingin mencubit.

“Untung aku lagi sakit, kalo nggak, aku bakal kena cubitan, nih!”

“Tunggu nyampe kamu sembuh aja, cubitannya sekarang ditabung dulu buat nanti.”

“Kalo gitu aku sakit aja biar nggak kena cubit.”

“Eh, kok ngomongnya gitu!” ujarnya. “Yaudah, nih makan dulu. Buka mulutnya. Aaaaa..” sendok yang ia pegang mendekati mulutku.

Aku membuka pelan-pelan mulutku, membiarkan sendok itu masuk membawa makanan pahit itu.

“Eh, iya, kok jadi manis ya pas kamu suapin?”

“Tuhkan gombal lagi!” katanya dengan gemas.

“Bakalan abis sih ini buburnya,”

“Teh nya mau diminum juga nggak?”

“Boleh, tapi itu teh pait juga.” Jelasku. “Tapi mungkin bisa manis juga kayak bubur tadi kasusnya. Manis karena kamu.”

“Ih, kamu, mah!” mukanya memerah. “Yaudah, nih.” ia mengambilkan gelas beling itu dan mengarahkannya ke mulutku lagi.

Tentu saja, aku meminumnya. Gelasnya tetap Tasya yang pegang, tapi ku pegang sedikit, takut gelas itu akan terjatuh.
Manis. Karena itu sebenarnya memang teh manis.

“Tuh, kan. Emang kamunya aja pinter gombal!” ledeknya. “Aku pulang ah kalo digombalin terus!”

“Pulang aja, tapi abisin dulu buburnya!”

“Kan punya kamu itu buburnya. Nanti kalo aku yang makan tambah pait kalo ngeliat kamu.”

“Dasaaar! Dikira aku garem apa.”

“Garem mah asin, Bapak!” tawanya. “Yaudah, nih, lanjut dulu makannya.”

Aku benar-benar serasa anak bayi yang sedang disuapi oleh Ibunya ketika sudah jam makan. Ia menyuapiku sampai makanan itu benar-benar habis.

“Enak, nggak?” tanyanya kemudian.

“Enak banget, apalagi kalo makannya nasi Padang, lebih enak..”

“Yaudah, aku beliin, tapi nasinya aku yang manakin, kamu makan bungkusnya aja.”

“Makasih, aku ngeliatin kamu makan aja, deh, biar overdosis.”

“Kok overdosis?”

“Iya, kan kalo ngeliatin kamu udah ikutan kenyang, apalagi kamunya manis.”

Ekspresi mukanya lagi-lagi menampakkan ekspresi gemas.

“Aku ke toilet, ah, dari pada digombalin kamu terus.”

“Apa hubungannya?”

Ia tak membalasnya, malah menjulurkan lidahnya kepadaku.

Dasar menyebalkan! Tapi tetap saja ia orang yang kucinta.

Ketika akhirnya ia keluar dari kamar mandi dalam waktu yang cukup lama, ada perubahan yang sangat ketara pada ekspresi wajah Tasya. Ia seperti gelisah, tak seperti tadi ketika ia datang tadi. Ia gampang tertebak, pasti ia sedang bete, pikirku sok tahu.

Bagaimana bete kalau hanya keluar dari kamar mandi?

“Sayang...” katanya dengan malu-malu.

“Kenapa?” tanyaku.

Ia mendekatkan mulutnya ke kupingku. “Aku...”

“Eh, nggak jadi, deh..” ekspresinya kembali gelisah.

“Emang soal apa? Sini cerita..”

“Tentang masalah cewek, sih, masa aku ngomongnya ke laki-laki?”

“Masalah cewek? Abis berantem? Apa muka kamu kebakar lagi terus jadi merah?” tanyaku polos.

“Iiih, bukaan!” ketusnya. “Aku...” Ia akhirnya membisikkan satu dua patah kata kepadaku dengan sangat hati-hati, mungkin takut tersinggung juga.

“Eh?” kataku kaget. Sebenarnya aku tak begitu mengerti apa yang ia bisikkan tadi. Aku hanya bereaksi kaget saja, agar suasana tak garing.

“Terus gimana?”

Masalah perempuan itu seperti apa, sih? Bukannya setiap orang juga punya masalah?

“Nggak tau.. Kalo nyuruh kamu nggak enak, lagi sakit..”

“Kalo itu mah, gawat!” aku segera terbangun dari tempat tidurku itu. “Kamu tunggu di sini sebentar, nanti aku balik lagi!” pintaku layaknya pahlawan.

Aku pun menuju kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci muka. “DUG!”

“Aduuuuh..” keluhku.

“Yaampun, kamu kenapa?”

“Kejedot pintu. Hehe” kataku malu. Ia hanya menggelengkan kepala.

Setelah cukup ganteng untuk keluar (setidaknya untukku), aku yang masih sempoyongan ini bergegas lari mengambil kunci untuk membuka gerbang rumahku. Aku pergi menyelinap agar orang rumah tak tahu kalau aku pergi mencari sesuatu. “Ih, kamu nggak usah maksain, nanti sakit lagi!” tegurnya melarangku pergi.

“Nggak apa-apa, dari pada kamu kenapa-kenapa!” kataku sambil berlari yang hampir jatuh tersandung angin.

“Ih, aku bisa sendiri nanti!” katanya lagi. “Kamu pentingin diri kamu dulu aja!”

“Buat aku, kamu yang terpenting!” ujarku meniru perkataannya ketika berada di Bus TransJakarta ketika awal diriku ini sakit.

Ia terdiam dengan pipi memerah.

“Duh, di mana lagi belinya?” keluhku kebingungan. “Di Lawson ada nggak, ya?”

Aku yang tak mengerti apa masalah perempuan itu segera lari menuju Lawson yang baru buka di dekat rumahku. Ketika sampai, aku langsung mencari-cari di etalase—menyueki pegawai yang menyambutku dengan hangat—tapi tak ada. Isinya makanan semua. Ada beberapa kebutuhan pribadi. Tapi bukan itu yang tadi diminta Tasya.

Melihat barang itu jelas tak ada, aku berlari keluar, mencari Supermarket yang ada di dekat Lawson. Tapi aku baru ingat, sebelahnya Lawson ini adalah HokBen. Jelas tak ada benda itu di HokBen.

Tiba-tiba aku teringat ke sebuah tempat di dekat rumah sakit yang sering dibilang Budeku adalah tempat yang lengkap untuk membeli berbagai barang kebutuhan. Sebuah Supermarket hampir serba ada. Aku bergegas berlari kembali menuju Supermarket itu. Ternyata tempatnya cukup jauh.

Badanku mengeluarkan keringat dingin, tapi tak apa-apa. Suhu tubuhku naik lagi, itu juga tak apa-apa. Kepalaku kembali sakit? Tak apa-apa. Asal, pandanganku tidak kabur seperti sekarang ini. Karena itu, aku hampir lagi tercebut got! Orang-orang disekelilingku menatapku kebingungan, ada yang ingin membantuku. Untung, aku tak benar-benar tercebur seperti waktu itu.

Sampainya di Supermarket itu, aku segera menuju lantai dua, di mana barang-barang kebutuhan pribadi dijual di situ. Aku mencari-cari dari pelosok ke pelosok lainnya.

“Ini ukurannya yang mana, ya?” kataku kebingungan ketika akhirnya menemukan yang Tasya bilang.

Aku benar-benar bingung! Bukan bingung karena harus memilih minuman di depan kulkas, tapi bingung membeli ukuran mana yang cocok. Aku benar-benar awam dalam hal ini, bisa dibilang, aku tak tahu. Aku buta. Aku tak tahu apa-apa mengenainya. “Merknya yang ini bukan, ya? Apa bedanya? Apa sama aja?”

Menurutku, semuanya mirip-mirip, hampir tak ada bedanya. Jadi, aku mengambil satu saja, yang iklannya terkadang suka muncul di tv. Aku juga tak mengerti apa yang dimaksud dengan ukuran. Jadi aku mengambil yang ukurannya sedang. Aku tak bisa menanya ke penjaga Supermarket itu, aku malu. Masa laki-laki nanya hal seperti itu?

Ketika membayar, untungnya sang kasir tak melihatku dengan tatapan aneh yang seolah berkata, “laki-laki kok beli ginian. Jangan-jangan.....” kalaupun kasir itu berpikiran seperti itu, aku tak peduli. Asal ketika pulang aku tak kecebur got lagi.

Aku berlari dengan sempoyongan seperti tadi ketika berangkat. Mungkin terlihat seperti orang mabuk yang ingin menyerang orang lain di jalan sambil membawa barang aneh bernama.....

***


Sampainya di rumah, Tasya terlihat sedang bengong di kursi panjang di ruang tengah, kepalanya dihadapkan ke bawah. Ketika ia mengetahui kehadiranku, ia masih menampakkan ekspresi gelisah. Aneh.

Masa masalah perempuan sampai segitunya? Memang, masalahnya dengan siapa, sih?

“Eh, iya, dari tadi aku nyari ini, tapi aku masih bingung ini gunanya buat apa, lho..” kataku polos sambil memberikan benda itu sambil mengatur nafas karena kecapekkan. Tubuhku penuh keringat dingin. Kakiku kotor.

“Yaampun sayang...” ia yang tadinya gelisah malah tertawa. Mengapa aku malah diketawain, bukannya menjelaskannya benda ini? “Ini tuh namanya pembalut perempuan, ya, buat yang lagi datang bulan.” Ia masih tertawa.

“Hoo, bulan kan emang lagi di atas, tuh. Tiap malem juga ada.”

“Bukan itu!” tawanya semakin meledak. “Duh, stres nanti aku. Yaudah, aku ke kamar mandi dulu, ya.”

Sebenarnya aku ingin mengetahui lebih lanjut soal itu. Tapi, aku tahu itu hal yang bukan harus didiskusikan dengan Bundaku.

Jadi, itulah benda yang kubeli hari itu: pembalut wanita.

Ternyata, aku baru sadar sekarang mengapa teman-temanku sering mengataiku terlalu polos.

Tak lama, Tasya pun keluar dari kamar mandi, menemuiku yang masih istirahat karena memaksakan berlari tadi.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya dengan khawatir.

“Nggak apa-apa, kok. Hehe” tapi bohong.

“Makasih banyak ya, sayang, yaampun.. Aku nggak nyangka, lho..” ia memelukku kencang. Rasanya aku memang sudah sembuh seketika.

“Masalah biasa itu, mah,” kataku dengan sombong. Padahal mah, tadi hampir tercebut got.

“Sekali lagi makasih banyak, ya..” ujarnya sambil tersenyum. “Btw, aku pulang, ya, udah malem soalnya..”

“Cepet banget, ya..” kataku sambil mencari-cari jam di sekitarku. “Aku anterin sampe Halte, deh..”

“Eh, nggak usah, kamu masih sakit!”

“Nggak apa-apa, cuma nyampe Halte doang..”

“Tadi kamu udah maksain beli ini, sekarang waktunya kamu istirahat, aku nggak mau kamu sakit kayak kemaren pas abis manggung lagi..”

“Udah sehat kok, ini!” aku menggerak-gerakan badanku agar terlihat segar bugar.

“Nggak! Pokoknya jangan!” paksanya.

Tak lama, setelah ia memakai sepatu, ia kembali pamit lagi kepadaku. Aku hanya mengangguk. Seperti ngambek. Ketika ia kubukakan gerbangnya, aku mengikutinya dari belakang.

“Kok ngikutin?”

“Biar tau aja, kali aja ada yang mau culik kamu gitu, jadi aku liatin, biar kamu ngerasa aman.” Kataku sok keren. “Tapi, emang ada yang mau culik kamu? Kamu kan makannya banyak banget!”

Ia tertawa. Rasanya, hari ini penuh tawa. Ah, tidak. Hari-hari lainnya juga penuh tawa jika bersamanya.

“Yang ada itumah kamu, Wapol!”

“Wapol Jagorawi?”

“Itumah Tol Jagorawi! Jauh banget, sayang!”

“Nggak jauh, kok, itu buktinya kamu deket, ada di hati aku.” Kataku polos.

Rasanya, ia seperti tak tahan untuk mencubit atau mencakarku seperti dulu.

Kami pun akhirnya sampai di Halte Busway di depan rumah sakit. Aku membeci Halte ini. Karena Halte ini, sering kali aku harus berpisah dari Tasya. Aku tak ingin berpisah dengannya. Halte ini membuatku rindu ia yang sebenarnya hanya pergi ke rumahnya.

Aku pun berpamit untuk kembali ke rumahku, merebahkan tubuhku yang kelelahan ini di kasur yang empuk. Membayangkannya saja membuatku ingin secepatnya tiba. Tapi, Tasya memegang tanganku ketika aku berbalik.

Ia menampakkan senyum sedih. Mengapa senyum sedih? Bukannya dari tadi kami hanya tertawa-tawa seperti biasa saja? Suara kendaraan yang berlalu lalang menjadi suara latar kami agar seperti di drama-drama tv. Tapi, akunya saja berlebihan. Tidak. Tidak seberlebihan itu! Mobilnya hanya berlalu lalang. “Makasih banyak ya, sayang..”

“Eh, kok dibahas lagi? Itu kan hal biasa..”

“Biasa gimana? Kan kamu lagi sakit!”

“Hehe, bentar lagi juga sembuh, kok.”

“Kamu jangan ngentengin kesehatan kamu gitu..”

Aku mengangguk. Bukan aku ingin membatahnya seperti biasa, tapi aku tak tega. Ekspresi mukanya kali ini bener-bener serius.

“Maafin aku, ya, ngerepotin kamu gini, aku salah..”

“Jangan nyalahin diri kamu sendiri terus, lah.”

“Kamu mau janji nggak sama aku?” ujarnya.

“Janji apa?” tanyaku. Sepertinya semuanya benar-benar berubah menjadi serius. “Janji siswa? Kalo itu aku udah lumayan hafal, lho.”

“Bukaaan!” ia malah tertawa. Katanya lagi serius? “Sini jari kelingking kamu.”

Aku memberikan jari kelingkingku. Lagi-lagi aku tak tahu untuk apa jari kelingkingku kuberikan kepadanya. Aku hanya memberikannya saja. Jari kelingking kami pun saling bertautan.

“Ini maksudnya apa? Kita ngiket janji?”

Ia mengangguk.

“Butuh tali nggak? Apa mau ku printin kalimat janji siswa?”

Lagi-lagi ia tertawa.

“Bukaaan. Aku pengen kamu janji satu hal..”

“Apa itu?” tanyaku penasran.

“Jangan tinggalin aku. Bisa, nggak?”

Aku terkaget-kaget. Meskipun jari kami sudah bertautan, tapi untukku, janji itu adalah janji yang berat, meskipun aku memang tak mau kehilangan dirinya. Rasanya, masa depan masih sangat jauh.

Karena bingung, aku langsung menyetujui janji itu. Sebenarnya aku bingung, aku tak mau mengikat janji yang mungkin tak bisa aku tepati. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dihidupku. Tapi, aku menyetujuinya karena aku sayang kepadanya.

“Makasih buat pengorbanan kamu hari ini,” ia menampakkan senyum sedihnya lagi.

“Ah, biasa, kok.” Lagi-lagi aku sok keren.

Ia kembali tersenyum, dan pergi membeli tiket bus TransJakarta itu.

Aku menunggunya hadir di kaca bening itu. Jika ia muncul di kaca bening itu, berarti ia sudah selesai membeli tiket. Dan, ia muncul dari balik kaca itu sambil tersenyum. Aku melambaikan tanganku terus. Ia juga membalas lambaian tanganku itu.

Ya, terus, sampai kaca itu diganti dengan tembok berwarna krem itu. Dasar tembok penghalang.

Aku terus menghadap Halte itu sampai aku sadar bahwa aku sudah kembali tertabrak pohon. Sial. Dasar pohon perusak suasana!


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 22:39
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.