- Beranda
- Stories from the Heart
that's what friends are for
...
TS
kabelrol
that's what friends are for
Spoiler for pembuka:
Spoiler for sampul:
Pesan whatsapp itu datang begitu saja,
Quote:
Tangan gue masih perih karena kejadian di pagi kemarin itu, kalo dirasa, perihnya hati gue lebih kerasa ketimbang tinju yang ngga dipake 10 tahun lebih buat nonjok orang lagi. Meski gitu, gue tetep berkeinginan untuk bales pesan itu.
"Sini aja, Nae,"
"Oke, gue emang udah di jalan, sih. Paling sepuluh menit sampe di tempat lo,"
centang biru. Gue nyengir aja. Itu bocah emang belum berubah terlalu banyak, kecuali ada gelar dokter yang baru dia dapet di depan namanya. Gue lihat profil kontak whatsappnya. Nae beneran ngga berubah, tidak ada juga perubahan pada warna rambut. Gue berdiri, ngeliat kaca, dan nyisir rambut pake tangan. Gue ganti celana dan baju. Gue berantakan banget, untung Nae dateng. Kalo ngga, bisa sepuluh hari dalam kondisi bau gitu, gue masih betah
Bener aja, ngga lama, ada yang ngetok pintu di lantai bawah--ya, iyalah, kalo ngetoknya di pintu lantai atas, ngeri amat, sob 
"Assalamu'alaikum,"
suaranya, sih, Nae, yang menyeru salam di bawah. Gue balas salamnya sembari lari ke bawah. Gue sendiri lagi di rumah kali ini, semua orang lagi jaga toko di toko pojokan itu. Gue absen ke orang rumah gue ngga bisa partisipasi jaga toko beberapa hari ini. Alasan gue, sih, masuk angin. Padahal, mah, justru badan gue lagi 'kosong' banget. Air mata ngosongin badan gue banget. Tsaah~
"Masuk, Bu Dokter!"
"Gue udah masuk, Mbel. Buset, berantakan amat lo, Har?"
"Yah, begitulah," gue cuma tersenyum kecut. Gue ngga beralasan nyinyir seperti, gue mah bukan dokter, jadi ngga wajib selalu bersih--padahal mah emang dasarnya aja gue jorok

"mana Haruki?"
Aah.. akhirnya pertanyaan itu pecah juga, keluar.
"Duduk dulu, Nae. Mau minum apa?" dan akhirnya kita berbasa-basi sejenak. Gue jadi punya waktu untuk nyiapin kata terbaik apakah yang akan mewakili rentetan kejadian sejauh ini--sudah terlalu jauh

"Har, apa perlu gue tanya sekali lagi? Mana Haruki?"
dr.Nae sepertinya menangkap gejala ngga beres dari gue. Sebab, apdetan medsos gue waktu itu, terakhir soal gue sama Haruki EO-in kateringnya perkimpoian Widya (
)"Dia udah pulang, Nae"
"Gue ngga yakin, Har, kalo Haruki cuma sekadar 'pulang' aja. Pasti ada yang harus lo ceritain ke gue,"
Ternyata, waktu basa-basi dan ngambilin minuman barusan tadi ngga cukup ngasih waktu gue untuk cari kata terbaik untuk memulai percurhatan ini

"Yaah.. jadi gini nae...
Spoiler for sekilas cerita sebelumnya:
...gitu, Nae.."
mata dr. Nae terlihat simpatik mendengar kisah yang belibet barusan.
"Widya kimpoi?" --gue ngangguk.
"Haruki ....?" --gue ngangguk lagi.
"Lo ngenes banget, Har..," --gue tersenyum kecut, sembari ngangkat bahu. Nasib gue begini kali.
"Terus, sekarang lo mau gimana, Har?" --gue tersenyum kecut lagi, ngangkat bahu lagi. Gue masih bingung, lebih tepatnya kaget sih. Nae mendesah perlahan, dia gigit bibir bawahnya. Keknya Nae semacam gemes dengerin cerita gue.
"Gue tanya balik sama lo, Nae. Kalo lo di posisi gue, apa yang lo lakukan?"
"Gue bakal nyari Haruki sampe dapet, ngga perduli gimana,"
Jeder! seakan ada durian jatuh di ubun-ubun gue. Yap, jawabannya emang sesimpel itu, tapi tentu dengan banyak ganjelan.
"Untuk apa? Toh, dia udah ada Farhan. Farhan pasti bisa ngelindungi Haruki,"
"Muka lo! Lo percaya sama Farhan, heh? Bukannya lo tau gimana Farhan?"
Jeder lagi! gue teringat bagaimana Widya nyiram pake air kola Farhan dan Nurul--sahabatnya Widya sendiri, di malam itu, di depan muka gue sendiri. Tapi, gue masih berusaha membebal.
"Waktu itu masih cinta monyet, jaman SMA, sekarang udah berubah kali,"
"bodoh! Kalo gitu, pertanyaannya gue inverse, bukannya lo ngga tau gimana Farhan?"
Lagi-lagi jeder lagi! Ya, gue tau Farhan, justru karena itu gue harus khawatir. Ya, justru gue ngga tau gimana Farhan sebenernya, karena itu gue harus lebih-lebih khawatir banget.
"Har, kejar, Har!"
"Gue harus gimana?"
"Lo dateng wisuda dan sumpah dokter gue, ya. Sampe itu, gue bantu lo," terus Nae kasih tanda 'V' dengan jari dan jari tengahnya ke depan muka gue, "dua bulan, lo harus cari ongkos ke kampus gue selama waktu ini buat ngehadirin wisuda gue,"
"kampus lo itu... siang di kampus gue, malem di kampus lo, kan?"
Nae ngangguk, dengan mantap. Gue neguk ludah sendiri. Gue coba ngitung-ngitung.. pasti ongkosnya lebih mahal ketimbang waktu Haruki ngongkosin gue nemenin dia mudik ketemu saudara kembarnya di kampung halamannya itu.. Bukan, bukan di Ciracas...
Quote:
Polling
0 suara
siapa yang punya tujuan paling jujur?
Diubah oleh kabelrol 09-12-2015 00:47
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
67.8K
320
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kabelrol
#33
panjang umur
"dua-duanya, deh, Har,"
Gue diem sebentar. Ini sungguh ngga enak untuk dikatakan. Semacam ada perih,
"boleh itu jadi opsi terakhir aja?"
"MBEL, BILANG, MBEL! apaan?"
gue mengibaskan muka,
"ya, mau gimana kita deketin Novi, oke, anggaplah Haruki numpang di sana, ya, gue kira Haruki bakal menghindar kalo tau mau kita datengin. Emang salah gue juga, gue ngga bisa nahan emosi, sampe nonjok Farhan berkali-kali di pagi itu. Nah, karena kita tau Haruki bakal ngehindarin gue, maka Novi pun begitu. Gembok medsosnya ngga bakal dia buka. Mau udah ketemu nomor kontaknya pun, ngga bakal di bales. Entah kenapa gue yakin. Kita mesti datang begitu aja ke tempatnya, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Nah, Kita tau Novi pramugari. Lo punya temen pramugari Nae?"
Nae ngegeleng,
"Gue juga ngga punya, lo punya temen pilot, Nae?"
Nae mikir sebentar, terus ngegeleng. Gue liatin dia dengan tatapan, 'gue punya, loh'
"Siapa, Har?"
"Suami Widya; Ari, Nae,"
"Baguslah, eh, tapi emang mereka di perusahaan yang sama?"
"Ngga, tapi satu grup, ada kemungkinan Ari bisa cari celah dari sana,"
"yaudah, ayok kita samperin bocahnya,"
Gue semacam nelen kulit duren. Untuk ngeluarin kalimat selanjutnya begitu ngga nyaman. Kemudian, Nae pun tersadar...
"Eh.. Maaf, Har,"
Gue yakin mata gue kosong, tatapan gue kosong, gue mengangguk basa-basi. Yah, menghubungi Ari sama aja menghubungi Widya. Bukannya gue ngga mau turut berbahagia atas pernikahan itu. Tapi, rasanya gue udah pernah bilang, gue bisa berdiri disana, bahkan ikut nyumbang lagu, gue semacam yakin karena ada Haruki di sana. Nah, kali ini, dia yang di sebelah gue itu ngga ada
. Ya, sejujurnya, pas kemaren Haruki ilang, gue langsung curiga dia ke Novi--ngga mungkin, ngga mungkin dia pulang ke Jepang dengan kondisi begitu, gue juga langsung mikir ke arah sana, hubungi Ari. Gue punya nomornya, hp gue hilang sebelum gue nyimpen nomer Ari yang kali ini gue bek-ap di email. Tapi..., ya, itulah. Gimana juga kalo gue nanti ketemu Lani?
"Setuju, Har. Itu langkah kita kalo udah mentok banget, ya. Ari terakhir, ya. Udah, ah, jangan sedih gitu,"
Nah, ya, kan, ya, kan. Lihat, deh, Nae berusaha ngehibur gue. Bahkan, dia juga nepuk bahu gue, persis kayak Haruki yang nepuk bahu gue dulu, bilangnya ada ketombe pas akad pernikahan Widya itu. Tapi, entahlah, hentakannya terasa beda. Nae kosong, ngga seperti Haruki yang begitu berisi. Gue mengangguk pelan--satu-satunya respon yang bisa keluar diantara duri yang merangsang air mata
"Oi, Har, melamun, lo!"
Gue gelagapan. Nah, ya, kan, untuk bagian ini, gue enggan untuk cerita ke Nae. Gue lebih milih dua ke-melamun-an ini gue simpan sendiri.
Lantas, kenapa gue masih begitu sakit sampe-sampe gue males ngehubungi Ari?
aah, bener deh, Maret-April 2015 itu bulan-bulan galau
"Hei, bang, kemana aja? baru keliatan,"
Gue tersenyum dengan mata panda. Gue ngga bisa tidur banget semaleman, pas naik pesawat, sampe menuju kota gue. Gue ngga bisa merem banget. Minggu malam, gue sampe lupa, Ara mulai kerja paruh waktu dari hari ini, hari dimana toko lagi rame-ramenya. Gue begok banget, bukannya balik, lantas bobok, gue malah jalan ke toko.
"Iya, nih, Ra, baru jalan-jalan,"--jawabannya perlu gue pikir dulu. Ara di sini, karena abangnyaitu, dan dia ngga tau, gue dalam rangka nyari abang kandungnya itu.
Ara dipanggil kakak gue, terdengar dari kejauhan. Dia keluar dari ruangan kantor yang nempel sama kasir, tempat dia duduk tadi. Gue nyoba konek sama internet dan nyoba integrasiin komputer gue sama medsos Haruki yang kemaren gue sadap
Belum, sama sekali ngga ada. Oh,ya, untuk alamat Novi, tentu saja sudah gue cari di medsos ini, masalah, medsos yang ini, termasuk medsos yang udah ditinggalin orang-orang. Gue buka di profile-nya, yang ngga digembok karena gue pake akunnya Haruki, ngga ada keterangan alamat atau nomor HP. Gue jadi mikir, percuma aja gue nyadap medsos Haruki yang ini, gue cuma bisa kepo soal chat-chatnya aja. Tetep aja, kalo gue chat Novi, ngga mungkin chatnya Novi bales. Malah, bisa jadi mereka makin waspada. Gue iseng buka chat history Haruki-Novi, ketika Ara nepok dari belakang.
"hayoh, kepo sapa, tuh?"
gue refleks mijit tombol Alt+tab, masuk ke desktop.
"Yeey, bener, kaan. Hahaha, bang di kantor bang, eh"
gue gelapan--dimana harusnya gue ngga mesti begitu
Gue cengegesan sambil ngga bilang apa-apa. Ah, gue berharap Ara kenal sama Novi sama Haruki, dan gue curiganya, sih, kenal 
"Ra, besok ke kampus?"
"Iya, Bang. Ciye, salting, hahaha
"
"Yee, bawel deh, nanti gue potong gaji lo, loh, Ra," --terpaksa jurus nyang ini mesti keluar
padahal gue ngga punya otoritas sampe segitunya

"Ampun, ampun, bang
iya, bang, ke kampus, kan ada kuliah, kenapa gitu?"
"Tolong liatin mading pasca dong, udah ada pengumumannya belum," --njiir, ini pengalihan topik yang malesin banget
"Eduun, ngambil jurusan apa, bang? pasca (sekolah pascasarjana) toh? siap bang"
SEKIP
"bang, harus abang sendiri yang liat, bang," begitu kata Ara di senin malam, ketika dia datang ke toko dan konfirmasi ke gue soal permintaan tolong kemaren,"
"Ooh, oke, deh, besok ajalah, ketimbang keburu mager entar
"
"Jam berapa, bang, lo mau ke kampusnya?"
"Yaah, jam sembilanan paling,"
"Ih, bareng dong! nebeng, nebeng, hehe,"
Gue diem sebentar, sejujurnya, gue ngga pengen mengakrabkan diri sama Ara, karena suatu saat yang lalu dan suatu saat yang di depan, ketika abang kandungnya ketemu, gue bakal nonjok muka abangnya lagi
dan gue ngeri aja kalo itu di depan muka Ara--sementara, pengorbanan Ara karena abangnya itu ngga sedikit juga. Dan demi gue kemaren minta tolong, dan kayaknya gue bakal males ke kampus lantas gue bakal minta tolong banyak ke Ara besok-besok, gue mengangguk.
SEKIP.
Kampus ini ngga banyak berubah. Berubah deng. Gedung kuliah Ara yang tiga tahun lalu gedung tempat gue kuliah udah banyak banyak banget berubah. Yang tadinya kantin kaki lima berubah jadi parkiran mobil. Yang tadinya gudang kosong udah jadi bagus dijadiin laboratorium. Yang tadinya gedung ketunda pembangunannya sekarang udah mulai dilanjutin lagi. Gedung kuliah pasca persis di sebelah gedung kuliah Ara, yah, karena masih satu disiplin ilmu, sih. Dari parkiran ke gedung kuliah, jalannya agak jauh juga. Ada sekitar 200 meter dan itu ngelewatin gedung kuliah jurusan lain. Otomatis, kita akan ketemu orang dari beda fakultas dan beda jurusan atau sama fakultas dan beda jurusan atau sama jurusan, yah pokoknya kek gitu deh
Nah, yang bikin gue kaget, dulu semasa gue tingkat 2, 3, atau 4, gue sering disapa atau nyapa orang-orang di sekitar sini (maklum, gue akamsi
), kalo si Ara ini, yang nyapa keknya hampir semua orang disini
keknya dia terkenal banget di mari. Hmmm, emang, kalo kita ngga ngeliat si abang kandungnya yang meleset jalur, Ara ini termasuk idaman juga
. Sampe akhirnya, dia melipir ke salah satu anak-anak nongkrong.
"bang, gue duluan, yak,"
"oke, oke. Ntar sore jangan telat, Ra
"
Ara ngasih jempolnya. Gue melanjutkan perjalanan sebagai pengembara, pengembara yang ngga dikenal atau mengenal seseorang disini. Tsaah
SEKIP
Gue melongok ke mading yang di maksud dan pengumannya emang ngga ditempel kayak kata Ara. Gue masuklah ke sekretariat salah satu jurusan pascasarjana di kampus gue tuh. Gue tersentak agak kaget,
"Mahal?"
"Oii, Har, ngapain lo kemari?"
"Lah, elo?"
SEKIP SEKITAR SEPULUH MENITAN
Kita ngakak bareng, "hahahaha, masa kita sekelas bareng lagi? ah, males banget gue!"--dan kita masa ngomong itu hampir barengan
Setelah ngakak bareng sedikit, reuni dengan kenangan kebodohan waktu kuliah s1, gue sedikit nyinyir ke Mahal, dikit kok
"Wah, berarti gue dimata-matai Widya lagi, nih,"
Noura semacam muka kaget gitu pas gue ngomong kek gitu (nah, bingung kan, banyak gitunya
)
"Eh, lo udah tau belom Widya masuk rumah sakit?"
"APAH? KENAPA? KAPAN?"
"buset, kalem sob. Tauk dah, gue juga baru liat di p*th-nya, belum jengukin. Jengukin, yok, Har,"
Gue tau ini anjir, anjir, anying banget. Gue bermaksud nyinyir, emang malah dinyinyirin balik dan itu perih banget. Lagi-lagi, ada duri dalam tenggorakkan. Syit. Dan, emang bener, kalo ada Haruki, gue bakal bisa ngangguk dengan lebih tegas, dan kata-kata itu terulang lagi,
dan ini..., langsung ngehubungi Widya langsung. Widya masuk rumah sakit? bitc* plis! Kurang panjang umur tuh anak
Gue diem sebentar. Ini sungguh ngga enak untuk dikatakan. Semacam ada perih,
"boleh itu jadi opsi terakhir aja?"
"MBEL, BILANG, MBEL! apaan?"
gue mengibaskan muka,
"ya, mau gimana kita deketin Novi, oke, anggaplah Haruki numpang di sana, ya, gue kira Haruki bakal menghindar kalo tau mau kita datengin. Emang salah gue juga, gue ngga bisa nahan emosi, sampe nonjok Farhan berkali-kali di pagi itu. Nah, karena kita tau Haruki bakal ngehindarin gue, maka Novi pun begitu. Gembok medsosnya ngga bakal dia buka. Mau udah ketemu nomor kontaknya pun, ngga bakal di bales. Entah kenapa gue yakin. Kita mesti datang begitu aja ke tempatnya, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Nah, Kita tau Novi pramugari. Lo punya temen pramugari Nae?"
Nae ngegeleng,
"Gue juga ngga punya, lo punya temen pilot, Nae?"
Nae mikir sebentar, terus ngegeleng. Gue liatin dia dengan tatapan, 'gue punya, loh'
"Siapa, Har?"
"Suami Widya; Ari, Nae,"
"Baguslah, eh, tapi emang mereka di perusahaan yang sama?"
"Ngga, tapi satu grup, ada kemungkinan Ari bisa cari celah dari sana,"
"yaudah, ayok kita samperin bocahnya,"
Gue semacam nelen kulit duren. Untuk ngeluarin kalimat selanjutnya begitu ngga nyaman. Kemudian, Nae pun tersadar...
"Eh.. Maaf, Har,"
Gue yakin mata gue kosong, tatapan gue kosong, gue mengangguk basa-basi. Yah, menghubungi Ari sama aja menghubungi Widya. Bukannya gue ngga mau turut berbahagia atas pernikahan itu. Tapi, rasanya gue udah pernah bilang, gue bisa berdiri disana, bahkan ikut nyumbang lagu, gue semacam yakin karena ada Haruki di sana. Nah, kali ini, dia yang di sebelah gue itu ngga ada
. Ya, sejujurnya, pas kemaren Haruki ilang, gue langsung curiga dia ke Novi--ngga mungkin, ngga mungkin dia pulang ke Jepang dengan kondisi begitu, gue juga langsung mikir ke arah sana, hubungi Ari. Gue punya nomornya, hp gue hilang sebelum gue nyimpen nomer Ari yang kali ini gue bek-ap di email. Tapi..., ya, itulah. Gimana juga kalo gue nanti ketemu Lani?"Setuju, Har. Itu langkah kita kalo udah mentok banget, ya. Ari terakhir, ya. Udah, ah, jangan sedih gitu,"
Nah, ya, kan, ya, kan. Lihat, deh, Nae berusaha ngehibur gue. Bahkan, dia juga nepuk bahu gue, persis kayak Haruki yang nepuk bahu gue dulu, bilangnya ada ketombe pas akad pernikahan Widya itu. Tapi, entahlah, hentakannya terasa beda. Nae kosong, ngga seperti Haruki yang begitu berisi. Gue mengangguk pelan--satu-satunya respon yang bisa keluar diantara duri yang merangsang air mata

Quote:
"Oi, Har, melamun, lo!"
Gue gelagapan. Nah, ya, kan, untuk bagian ini, gue enggan untuk cerita ke Nae. Gue lebih milih dua ke-melamun-an ini gue simpan sendiri.
Lantas, kenapa gue masih begitu sakit sampe-sampe gue males ngehubungi Ari?
aah, bener deh, Maret-April 2015 itu bulan-bulan galau

****
"Hei, bang, kemana aja? baru keliatan,"
Gue tersenyum dengan mata panda. Gue ngga bisa tidur banget semaleman, pas naik pesawat, sampe menuju kota gue. Gue ngga bisa merem banget. Minggu malam, gue sampe lupa, Ara mulai kerja paruh waktu dari hari ini, hari dimana toko lagi rame-ramenya. Gue begok banget, bukannya balik, lantas bobok, gue malah jalan ke toko.
"Iya, nih, Ra, baru jalan-jalan,"--jawabannya perlu gue pikir dulu. Ara di sini, karena abangnyaitu, dan dia ngga tau, gue dalam rangka nyari abang kandungnya itu.
Ara dipanggil kakak gue, terdengar dari kejauhan. Dia keluar dari ruangan kantor yang nempel sama kasir, tempat dia duduk tadi. Gue nyoba konek sama internet dan nyoba integrasiin komputer gue sama medsos Haruki yang kemaren gue sadap
Belum, sama sekali ngga ada. Oh,ya, untuk alamat Novi, tentu saja sudah gue cari di medsos ini, masalah, medsos yang ini, termasuk medsos yang udah ditinggalin orang-orang. Gue buka di profile-nya, yang ngga digembok karena gue pake akunnya Haruki, ngga ada keterangan alamat atau nomor HP. Gue jadi mikir, percuma aja gue nyadap medsos Haruki yang ini, gue cuma bisa kepo soal chat-chatnya aja. Tetep aja, kalo gue chat Novi, ngga mungkin chatnya Novi bales. Malah, bisa jadi mereka makin waspada. Gue iseng buka chat history Haruki-Novi, ketika Ara nepok dari belakang."hayoh, kepo sapa, tuh?"
gue refleks mijit tombol Alt+tab, masuk ke desktop.
"Yeey, bener, kaan. Hahaha, bang di kantor bang, eh"
gue gelapan--dimana harusnya gue ngga mesti begitu
Gue cengegesan sambil ngga bilang apa-apa. Ah, gue berharap Ara kenal sama Novi sama Haruki, dan gue curiganya, sih, kenal 
"Ra, besok ke kampus?"
"Iya, Bang. Ciye, salting, hahaha
""Yee, bawel deh, nanti gue potong gaji lo, loh, Ra," --terpaksa jurus nyang ini mesti keluar
padahal gue ngga punya otoritas sampe segitunya

"Ampun, ampun, bang
iya, bang, ke kampus, kan ada kuliah, kenapa gitu?""Tolong liatin mading pasca dong, udah ada pengumumannya belum," --njiir, ini pengalihan topik yang malesin banget
"Eduun, ngambil jurusan apa, bang? pasca (sekolah pascasarjana) toh? siap bang"
SEKIP
"bang, harus abang sendiri yang liat, bang," begitu kata Ara di senin malam, ketika dia datang ke toko dan konfirmasi ke gue soal permintaan tolong kemaren,"
"Ooh, oke, deh, besok ajalah, ketimbang keburu mager entar
""Jam berapa, bang, lo mau ke kampusnya?"
"Yaah, jam sembilanan paling,"
"Ih, bareng dong! nebeng, nebeng, hehe,"
Gue diem sebentar, sejujurnya, gue ngga pengen mengakrabkan diri sama Ara, karena suatu saat yang lalu dan suatu saat yang di depan, ketika abang kandungnya ketemu, gue bakal nonjok muka abangnya lagi
dan gue ngeri aja kalo itu di depan muka Ara--sementara, pengorbanan Ara karena abangnya itu ngga sedikit juga. Dan demi gue kemaren minta tolong, dan kayaknya gue bakal males ke kampus lantas gue bakal minta tolong banyak ke Ara besok-besok, gue mengangguk.SEKIP.
Kampus ini ngga banyak berubah. Berubah deng. Gedung kuliah Ara yang tiga tahun lalu gedung tempat gue kuliah udah banyak banyak banget berubah. Yang tadinya kantin kaki lima berubah jadi parkiran mobil. Yang tadinya gudang kosong udah jadi bagus dijadiin laboratorium. Yang tadinya gedung ketunda pembangunannya sekarang udah mulai dilanjutin lagi. Gedung kuliah pasca persis di sebelah gedung kuliah Ara, yah, karena masih satu disiplin ilmu, sih. Dari parkiran ke gedung kuliah, jalannya agak jauh juga. Ada sekitar 200 meter dan itu ngelewatin gedung kuliah jurusan lain. Otomatis, kita akan ketemu orang dari beda fakultas dan beda jurusan atau sama fakultas dan beda jurusan atau sama jurusan, yah pokoknya kek gitu deh

Nah, yang bikin gue kaget, dulu semasa gue tingkat 2, 3, atau 4, gue sering disapa atau nyapa orang-orang di sekitar sini (maklum, gue akamsi
), kalo si Ara ini, yang nyapa keknya hampir semua orang disini
keknya dia terkenal banget di mari. Hmmm, emang, kalo kita ngga ngeliat si abang kandungnya yang meleset jalur, Ara ini termasuk idaman juga
. Sampe akhirnya, dia melipir ke salah satu anak-anak nongkrong."bang, gue duluan, yak,"
"oke, oke. Ntar sore jangan telat, Ra
"Ara ngasih jempolnya. Gue melanjutkan perjalanan sebagai pengembara, pengembara yang ngga dikenal atau mengenal seseorang disini. Tsaah
SEKIP
Gue melongok ke mading yang di maksud dan pengumannya emang ngga ditempel kayak kata Ara. Gue masuklah ke sekretariat salah satu jurusan pascasarjana di kampus gue tuh. Gue tersentak agak kaget,
"Mahal?"
Quote:
"Oii, Har, ngapain lo kemari?"
"Lah, elo?"
SEKIP SEKITAR SEPULUH MENITAN
Kita ngakak bareng, "hahahaha, masa kita sekelas bareng lagi? ah, males banget gue!"--dan kita masa ngomong itu hampir barengan

Setelah ngakak bareng sedikit, reuni dengan kenangan kebodohan waktu kuliah s1, gue sedikit nyinyir ke Mahal, dikit kok

"Wah, berarti gue dimata-matai Widya lagi, nih,"
Noura semacam muka kaget gitu pas gue ngomong kek gitu (nah, bingung kan, banyak gitunya
)"Eh, lo udah tau belom Widya masuk rumah sakit?"
"APAH? KENAPA? KAPAN?"
"buset, kalem sob. Tauk dah, gue juga baru liat di p*th-nya, belum jengukin. Jengukin, yok, Har,"
Gue tau ini anjir, anjir, anying banget. Gue bermaksud nyinyir, emang malah dinyinyirin balik dan itu perih banget. Lagi-lagi, ada duri dalam tenggorakkan. Syit. Dan, emang bener, kalo ada Haruki, gue bakal bisa ngangguk dengan lebih tegas, dan kata-kata itu terulang lagi,
Quote:
dan ini..., langsung ngehubungi Widya langsung. Widya masuk rumah sakit? bitc* plis! Kurang panjang umur tuh anak

0
semoga berkesan curhatan gue yang ini 
zumpah, ane zuzur ngga nyangka bakal dapet sambutan sebegitu bagusnya 
