- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#399
Partitur no. 73
Sakit itu memang tak enak.
Membosankan.
Walau Dokter itu menyuruhku dirawat, tapi aku tak mengindahkan tawarannya itu. Setahuku, kalau tifus itu hanya butuh banyak istirahat dan minum air putih. Tentu saja makan makanan yang tak memberatkan usus.
Meskipun begitu, Bundaku yang khawatiran itu menyuruhku tetap dirawat, agar cepat sembuh. Bukan dirawat inap di rumah sakit, namun rawat jalan (ini sebutannya, ya?). Setiap hari harus kembali ke rumah sakit untuk diinfus sampai infus itu habis selama seminggu.
Yang membuatku sama sekali tak tahan adalah makanan khas rumah sakit. Bubur yang hampir tak ada rasanya.
Ah, membosankan.
“Man, Ayah hari ini ada kerjaan dulu, nggak bisa nganter ke rumah sakit, nggak apa-apa, kan?” tanyanya sambil memasuki kamarku.
“Nggak apa-apa kok, Yah..” jawabku.
“Yaudah, istirahat yang cukup. Cepet sembuh..”
Aku menggenggam tangannya yang kurus kering untuk salim, dan menatap kepergiannya dari tempat tidur.
Di suatu siang yang membosankan di rumah karena masih masa istirahat, tepatnya hari Jum’at, Asisten Rumah Tangga mengetok pintu kamarku. “Man?” teriaknya dari depan pintu.
“Kenapa, Mbak?”
“Ada yang mau ketemu, nih.”
“Siapa?”
Orang itu telah berdiri di depan pintu kamarku.
***
Siapa itu? Teman sekolahku? Ah, bukan. Aku mengingat mukanya, tapi tak begitu ingat namanya. Jika ia teman satu sekolahku, sudah pasti ia sering kutemui, minimal di kantin.
“Apa kabar, Man?” tanyanya orang itu mendekat sambil melepas jaketnya.
“Baik.. Hehe” aku bingung harus menjawab apa.
“Lo lagi sakit?” tanyanya lagi.
“Nggak, kok.. Cuma istirahat aja, capek soalnya..” kataku berbohong. Ya, setidaknya untuk memotivasi diriku untuk sembuh.
“Inget gw, nggak?”
Aku menggelengkan kepala. “Cuma inget mukanya, sih, kayak pernah liat di mana gitu..”
“Lo mantannya Rina, kan?”
Mengapa langsung menuju membahas Rina? Orang yang waktu itu putus denganku di ruang BP. Aku menjaga kontak baik dengannya, tak seperti Sarah.
“Iya.. Kok tau?”
“Gw temen seangkatannya dulu.” Jawabnya. Ya, ternyata benar. Mukanya memang benar-benar tak asing lagi di mataku! Namanya Joshua. Mengapa aku bisa lupa namanya? Ia adalah senior yang sangat baik. OSIS yang menanganiku ketika MOS ku dulu. Mengapa aku bisa lupa?
Aku ingat, dia pernah memberiku ongkos untuk naik ojek ketika hari pertama MOS di sekolah, karena ia melihatku kebingungan. Ia memberiku ongkos patungan bersama temannya yang menjadi OSIS ku juga, Kak Timothy namanya.
“Ooh.. Hehe,” aku terkekeh-kekeh. “Ada apa, kak?” aku bangun dari tidurku. Kepalaku rasanya sudah mendingan. Meskipun masih terasa sakit, tapi sudah tak separah kemarin-kemarin.
“Gini.. Gw inget Rina dulu pernah bilang kalo lo anak band,” katanya perlahan. “Sekarang masih ngeband, nggak?”
“Masih, kok.. Ada apa emangnya?”
“Kampus gw ngadain acara, tapi band yang registnya kurang satu.. Nah, lo mau ikut, nggak? Nanti gw yang bayarin..”
“Wah, rejeki, nih!” kataku dalam hati. Semangat dari dalam tubuhku pun mulai keluar membara, menghapus keletihan akibat penyakit aneh bernama tifus ini.
“Boleh tuh, Kak!” jawabku bersemangat, seakan benar-benar melupakan penyakit ini. Taka pa-apa sekali-sekali berbohong, tak memikirkan konsekuensi lainnya.
“Beneran, nih?” tanyanya.
“Emang kapan acaranya?”
“Besok, Man.”
Aku terkaget. “Kok mendadak banget?”
“Iya, abisnya dari kemaren nggak ada yang daftar lagi..” jelasnya. “Mau ya, Man?”
Aku terdiam sejenak. Jika ditawari untuk minggu depan atau dua minggu lagi, tentu akan kuterima. Tapi ini tepat esok hari! Terakhir latihan dengan bandku saja baru bulan lalu, ketika aku berdamai dengan Afi. Tapi ini benar-benar mendadak. “Tapi, nggak ada salahnya juga, kan?” kata hati kecilku berbicara. Mungkin hatiku dari sisi jahatnya. “Udah lama kan nggak manggung? Udah, lupain aja sakitnya!”
“Oke, gw mau deh, Kak..” jawabku setelah memikir-mikir dulu.
“Makasih banyak, Man!” ujarnya senang. “Tapi lo isi formulir ini dulu, ya..” katanya menyerahkan formulir yang bertuliskan pendaftaran band. “Eh, iya, sama ini persyaratan-persyaratannya..”
Tentu aku langsung mengisinya, membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang kusuka itu kujawab. “Nih..”
“Oke, good luck besok ya, Man!” ujarnya meninggalkan kamarku.
***
Sebagai pemain musik, acara manggung memang acara yang paling ditunggu-tunggu. Kita diberi kesempatan untuk menunjukan kebolehan kita di atas panggung, atau menyalurkan perasaan kita kepada yang menonton. Sebuah ajang yang benar-benar seru! Tentu saja bisa berkenalan dengan sesama pemain musik juga.
Tepat hari itu, aku langsung mengontak Afi melalui Facebook ketika ia sedang online.
Quote:
Aku belum benar-benar lega mendengar pernyataan Afi itu. Menggantung. Perasaanku tak enak. Bagaimana pun, aku sudah berjanji akan mengisi panggung esok hari. Aku hanya menunggu kepulangan Harrys dari sekolah untuk mendiskusikan hal ini. Tapi memang benar sih, semuanya terlalu mendadak.
Apakah kami harus hanya berdua di atas panggung seperti Blood Red Shoes atau The White Stripes? Apakah kami harus mengubah konsep seperti itu?
Kepalaku kembali sakit memikirkannya. Apa aku terlalu memaksakannya?
***
Hari esok pun tiba. Aku panik, meskipun kemarin sore sudah latihan bersama Harrys. Tapi aku harus berbohong lagi bahwa Afi akan ikut. Kalau Afi ikut, sudah pasti Harrys mau ikut.
Bunda dan Ayahku sudah berangkat sedari tadi, sehingga aku bisa berangkat dengan leluasa.
“PING!” sebuah notif masuk ke dalam handphoneku. Aku segera melihatnya. Semoga bukan mimpi buruk.
Ternyata dari Afi.
Quote:
Aku memang tak memikirkan jadinya akan seperti apa, karena yang penting kami akan bermain kembali. Rasanya, kerapihan bermain sudah bukan hal yang penting. Yang terpenting adalah kesenangan di atas panggung. Sialnya, hari ini aku terkena flu.
Dan, sebuah ide sempat hadir di kepalaku. Mengapa aku tak meminta Tasya menyanyi saja?
Quote:
Ternyata sia-sia aku mengajaknya. Ia tak jauh berbeda dari Bundaku. Apa ia tak mengerti kalau kau bosan di rumah?
Terpaksa aku harus menggunakan suaraku yang pas-pasan ini untuk kembali bernyanyi. Sudah lama aku tak latihan menyanyi sejak Tasya mengambil alih sebagai vokalis di bandku. Aku mengambil gitarku sambil iseng-iseng menyanyikan lagu yang akan kubawakan nanti.
Sekitar pagi menjelang siang, aku bersama yang lain sudah hadir di Kampus itu. Ternyata, Kampus itu sangatlah besar.
“Wah, nanti kita main di mana, Man?” Tanya Afi yang masih terpelongo melihat gedenya Kampus ini.
“Kurang tau, deh.. Ini aku kontak Kakak kelasku dulu..”
Baru mau ku kontak, Joshua sudah hadir berlari-lari menuju arah kami. “Akhirnya dateng juga lo, Man!” katanya sambil melap keringatnya karena habis berlari. “Yuk, ikutin gw!” ujarnya.
Kami pun mengikutinya sampai ke sebuah ruangan besar sambil menenteng alat-alat kami. Aku sangat terkejut. Bagaimana mungkin tak ada band yang mau bermain lagi di tempat sebesar ini, dengan dukungan sound system dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal itu? Aku merasa tak menyesal memilih gagasan ini. Karena, aku bisa mencoba langsung kehebatan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang sound system tersebut.
“Jam berapa kita manggung?” tanyaku.
“Nanti, sebelum makan siang..” jawabnya.
“Gw mau briefing dulu, boleh, kan?”
“Oke, nanti gw ke sini lagi kok pas lo mau manggung nanti..”
“Siiip” aku mengacungkan jempolku.
Kami menaiki sebuah tangga, yang cukup jauh dari panggung agar kami bisa mendengar instrument kami ini untuk latihan. Ya, kali ini Afi menjadi pemain bass lagi. Memang, selama beberapa bulan kebelakang, kami belum nemu pemain bass yang cocok.
Dikertas persyaratan yang kubaca kemarin, kami harus membawakan satu lagu hasil aransemen serta satu lagu bebas. Aku bingung, aku belum pernah sama sekali mengaransemen ulang sebuah lagu. Aku tak mau hanya sekedar memilih sebuah lagu pelan, lalu kupakaikan efek distorsi dan dipakaikan beat drum yang nge-punk. Aku ingin sesuatu yang berbeda dari itu. Tapi, semua itu tak bisa kukerjakan jika hanya diberi waktu satu hari.
Lalu, secara tiba-tiba, aku mendapat ide cemerlang: aku meminjam aransemen lagu Indonesia Pusaka yang di medley dengan lagu Tanah Air yang pernah Kang Naufal perdengarkan kepadaku dulu. Dan tentu saja, aku harus meminta izin karena memainkan karyanya, karena memang ini bukan karyaku. Untungnya, Kakakku sedang baik kala itu, jadi aku diizinkan.
“Inget-inget urutannya ya, Fi..” ujarku ketika selesai membawakan lagu itu dengan suara dari instrument yang sangat pelan.
“Iya, Man..” ia kembali mengingat-ingat yang baru saja ia mainkan. Ia nampak sangat gugup.
“Semoga lancar, ya..” aku mengepalkan tanganku dan menaruhnya ke depan. Afi dan Harrys juga melakukan hal yang sama. “Sukses!!” teriak kami bersama.
Nampaknya, virus gugup itu juga menular kepadaku. Band yang sedang bermain sekarang bagus sekali. Sound system yang digunakan memang bukan main-main. Apa layak band seperti kami main di tempat ini? Tubuhku mengeluarkan banyak keringat dingin. Badanku juga terasa lemas.
Band kami pun akhirnya dipanggil untuk giliran bermain. Aku sangat gugup. Sambil menyiapkan alat-alat, sekilas aku melihat ke arah penonton, yang sudah ramai oleh mahasiswa dan mahasiswi kampus itu. Aku mengambil gitar batik ke sayanganku, dan kucolok kabel jack itu sambil mengambil sedikit keberanian. “Udah pada siap?” tanyaku sambil mencoba efek-efekku untuk checksound.
“Udah, kok..” kata Afi sambil mengacungkan jempolnya.
Ah, melihat Afi dengan ekspresi itu lagi-lagi membuatku teringat sebuah penggalan dari film Suckseed, di mana Koong memaksa Ped untuk manggung di sebuah tempat yang isinya anak-anak kecil, yang ternyata panggungnya itu dihadiri oleh si cantik Ern. Meskipun mereka memainkannya sangat berantakan karena Koong dan Ex yang belum benar-benar sembuh. Dan, kami sekarang seperti itu.
Suaraku benar-benar parah. Naik turun suaranya sangat kacau. Badanku juga semakin lemas karena memang masih sakit. Flu ku juga semakin parah. Kepalaku sakit. Sungguh panggungku yang paling kacau. Sambil menghilangkan kegugupan itu, aku sedikit bergaya dan memainkan efek-efek untuk menutupi suaraku yang sangat jelek.
“Ngg, anu..” kataku ketika kami selesai membawakan lagu pertama. “Maaf kalo tadi jelek banget dan parah, karena kami belum sempat benar-benar latihan..” kataku dengan lemas, sama sekali tak bersemangat. “Dan, kami baru bener-bener dikasih tau acara ini kemaren, jadi mendadak banget..”
Benar-benar aku telah menyiakan kesempatan ini, meskipun sangat puas dengan suara gitarku.
Aku langsung melanjutkan ke lagu kedua, lagu terakhir yang kami bawakan. Aku tak begitu khawatir mengenai lagu ini, karena kami sudah sangat sering membawakan lagunya. Suaraku sudah sedikit terkontrol, mesikpun tak bisa dibilang bagus juga. Hidungku terasa mampet karena ingus, membuatku susah mengambil nafas. Suaraku bindeng.
Tapi, lagu keduaku ini bisa sangat diakali dengan suara efek gitar yang membuat orang lupa akan vokalku. Aku memainkan lagu Boulevard Of Broken Dreams versi aslinya. Tentu saja, respon yang menonton sangat berbeda dari lagu pertama yang baru saja kami latihan tadi. Karena penontonnya mulai menyanyi dengan meriah, aku bertambah semangat, dan melupakan rasa sakitku tadi. Meskipun tadi sempat lemas, kini aku melompat kesana kemari, meluapkan kesenangan.
Jarang sekali bandku yang menonton sebanyak ini. Mungkin pertama kalinya. Ditengah solo gitar lagu itu, aku sok-sokan maju ke depan. Alhasil, kabel yang seharusnya tak kenapa-kenapa itu mendadak mengeluarkan suara noise yang sangat hebat. Suara gitarku tak lagi keluar. Langsung kulihat dicolokan efekku, apakah kabelnya copot. Namun, sama sekali tak copot! Aku yang gampang panik itu langsung melanjuti dengan menyanyi sambil membenarkan efek itu menggunakan kakiku. Terkadang gitarku kembali tersambung, terkadang terputus kembali.
Dibagian akhir, aku membetulkan kabel itu sambil mencoba-coba memainkan efek. Suara noisenya benar-benar sangat parah. Jika aku sedang mengikuti lomba band, pasti nilai bandku sudah pasti minus karena kejadi tadi.
“Terima kasih!” ucapku saat lagu itu selesai.
Penonton pun ada yang memberi tepuk tangan dengan sangat kencang. Aku sudah pasrah, ketika Joshua memberikan handphone milik Harrys yang digunakan untuk merekam tadi. “Keren banget tadi, Man! Cuma suara vokal lo aja..”
“Iya, nih, udah lama gw nggak nyanyi..”
“Nggak apa-apa, tapi sukses tadi!” sepertinya ia tak mengerti masalahku di atas panggung tadi. “Thank you banget ya, Man! Btw, lo pada mau minum apa?”
“Teh aja, deh..” jawab Harrys.
“Dingin atau anget?”
“Gw anget, deh.” Jawabku. “Terserah kalo yang lain..”
“Yaudah samain aja..” kata Afi.
“Oke, tunggu bentar, ya..”
Sambil menunggu Joshua kembali, kami mendengarkan rekaman kami manggung tadi. Memang, tak jauh berbeda dari yang langsung kudengar tadi. Aku memang payah!
“Nanti upload aja nih yang Boulevard of Broken Dreams..” saranku.
“Iya, sih, lebih mending..” kata Harrys setuju.
“Btw, kamu kenapa, Man? Kok pucet mukanya?” katanya terlihat khawatir. “Abis ini pulang aja gimana?” usulnya.
“Boleh, deh..” anggukku. Penyakitku kambuh lagi.
“Kang Iman sebenernya lagi sakit, Fi, dari kemaren..”
“Hoo..” Afi nampak khawatir.
Tak lama setelah Joshua datang membawa teh, kami langsung meminta pamit karena kondisiku.
Sesampainya di rumah, aku langsung terbaring lemas lagi.
“Ini ku upload ya, Man?” Tanya Afi.
“Iya, Fi. Sekalian bikin channel band kita aja..”
“Ide bagus tuh..” katanya sambil menyalakan komputer itu.
Semoga Harrys tak membocorkan kepada Ayah dan Bundaku mengenai panggung hari ini. Dan, semoga ketika mereka pulang, kondisiku sudah membaik. Yang harus kulakukan sekarang adalah menarik selimut dan memejamkan mata.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 22:38
0
