- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#956
F Part 35
Di jalan gue sengaja agak ngebut agar cepet sampai ke rumah. Sempet di omelin ama ibu. Tapi gue gak peduli, soalnya gue udah ada janji ama Stella di rumah. Ibu baru selesai check up. Kondisi ibu sudah agak baikan sekarang mah.
Kemarin Stella YM! gue, dia bilang mau ke rumah, dia sendirian hari ini karena mamahnya mau pergi ke luar kota, ada perlu katanya.
***
“Oy Stell..” Sapa gue ke Stella pas di rumah. Rupanya dia sudah menunggu dari tadi bersama Ani. Gue langsung ngajak Stella untuk pergi ke kamar gue aja.
***
“Fe?” Kata Stella.
“Yaaa?”
“I wanna tell you about something.”
“Apa? Cerita aja Stell.” Jawab gue sambil merapihkan pakaian gue di kasur.
“LOOK AT ME!!!” Teriak Stella.
Gue kaget, gak ada angin, gak ada hujan, Stella meneriaki gue. Gue membalikan badan dan langsung melihat ke Stella yang sedang duduk di kursi meja belajar gue. Gue mendapati dirinya sedang berkaca-kaca, sepertinya mau nangis.
“Ada apa sih Stell?” Tanya gue dengan nada tinggi. Jujur gue gak suka diteriaki.
“Gue pengen MATI!!” Jawab dia.
Wtf she says. Butuh waktu untuk mencerna perkataan Stella. Dia mau mati, gak ada petir, gak ada api, dia pengen mati. Sebenarnya apa yang terjadi. Gue jadi bingung sumpah.
“Seriously? Kenapa lo?” Tanya gue lagi.
“Gue pengen mati Fe, is it clear?” Jawab dia.
“NO!!!!” Gue mendatangi dirinya dan menatap kedua matanya tajam. Gue penasaran apa yang sudah terjadi, kenapa dia mendadak jadi begini.
“Ada apa sih Stella? Cerita ama gue?” Tanya gue lagi. Stella hanya bisa diam sambil nangis menatap gue.
“Stell?”
“Stella?”
Ah!! I have no idea. Dia masih saja bisu diam seribu bahasa. Gue berpikir keras apa sih yang sebenarnya terjadi kepada dia. Apa mungkin rasa bersalahnya terhadap kematian Ayu mendadak muncul lagi atau ada sesuatu yang lain?
Aha, gue baru teringat kalau tadi Stella menghabiskan waktu di rumah bersama Ani. Pasti ada sesuatu yang terjadi, apakah Ani telah berbuat sesuatu kepada Stella sehingga membuat dirinya nangis gak karuan di kamar gue saat ini.
Gue langsung pergi ke luar kamar, turun ke bawah menemui Ani di dapur.
“ANIII!!”
“ANIII!!”
“Sayang kenapa kamu teriak-teriak?” Kata ibu.
“Ada apa kak?” Jawab Ani.
“Aku butuh Ani.” Jawab gue ke ibu.
“Ani ikut gue ke kamar, cepet!”
“Eh.. Ani kan sedang bantu ibu masak.” Kata ibu.
“Ibu, aku pinjam bentar!” Kata gue.
“Oke, tapi jangan lupa dikembalikan.”
“Iya ih, ibu.”
Gue sama Ani langsung ke kamar gue. Gue menarik tangan Ani supaya jalannya agak cepetan, biar langsung sampai dan memecahkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Stella.
“Ada apa sih kak?” Tanya Ani pas di depan pintu kamar.
“Sudah masuk aja.” Gue membuka pintu kamar.
“Lihat,”
“Lihat apa kak?”
“Itu Stella, kenapa?”
“Kenapa dengan kak Stella, kak?”
“Ih.. sini..”
Gue membawa Ani ke depan muka Stella yang sudah lembab dengan air mata.
“Ini kenapa kak Stella nangis kak?” Tanya Ani dengan penuh heran.
“Itu yang mau gue tanyain, tadi lu ngapain aja ama Stella, apa yang telah lo lakuin terhadap dia?” Tanya gue kesal ke Ani.
“Aku tadi cuman nonton film aja kak ama ka Stella pas lagi nunggu kakak pulang.” Jawab Ani.
“Ah.. jangan bohong, pasti lu apa-apain ya tadi? Lu bilang apa ke dia, Ni.?”
“Aku gak ngapa-ngapain kak, aku gak bilang apa-apa. Suer deh kak, serius.”
“Stell… jawab gue, si Ani tadi ngapain elo?” Tanya gue Stella.
“She didn’t do anything.” Jawab Stella beranjak dari kursi, bersamaan itu pula di berhenti menangis.
Gue dan Ani hanya bisa cengo kebingungan, gak ngerti apa sih yang sebenarnya terjadi. Lama-lama gue bisa gila ngadepin masalah ini soalnya gue gak ngerti apa sih yang sebenarnya terjadi saat itu juga.
“Gue ngidap bipolar Fe.” Ujar Stella menghela nafas yang kemudian duduk di pinggir kasur gue.
“Bipolar? Serius?”
“Bipolar itu apa kak?” Tanya Ani.
Yang gue tau bipolar adalah gangguan mental. Orang yang ngidap bipolar moodnya sering berubah-rubah dan sering depresi. Abang gue, Kurt Cobain salah satu pengidap bipolar.
“Ani, cepet bantu ibu masak.” Gue mendorong Ani untuk pergi keluar, menyuruhnya untuk kembali memasak. Setelah Ani keluar, gue mengunci pintu kamar rapat-rapat.
“Sejak kapan?” Tanya gue kepada Stella.
“3 tahun mungkin. Entah kenapa, ketika gue sendiri, gue pengen bunuh diri, makanya gue kesini. Gue gak mau sendirian.”
“Stell….”
“Fe… bantu gue!”
Stella memegang tangan gue, seperti meminta bantuan atau pertolongan dan gue sekali lagi gak tau harus ngapain.
“apa yang harus gue lakukan Stell?”
“Just stay here, temani gue. Gue takut, gue takut hilang kendali.”
Mendengar perkataan Stella tersebut entah harus bilang apa, tapi rasanya lebay aja.
“Tenang Stell, lu bisa nginep malam ini di rumah gue.”
“Benarkah?”
“Iya.”
“Thanks.”
Malam itu Stella menginap di rumah gue, ibu gue udah bilang ke mamahnya Stella via telepon kalau Stella nginep di rumah gue, Malam itu juga ketika makan malam, gue memperkenalkan Stella ke Burhan. Malam itu gue dan Stella hanya diam di kamar, mendengarkan musik, berbincang-bincang soal masa depan, dan tidur bersama jam 22.30.
Kemarin Stella YM! gue, dia bilang mau ke rumah, dia sendirian hari ini karena mamahnya mau pergi ke luar kota, ada perlu katanya.
***
“Oy Stell..” Sapa gue ke Stella pas di rumah. Rupanya dia sudah menunggu dari tadi bersama Ani. Gue langsung ngajak Stella untuk pergi ke kamar gue aja.
***
“Fe?” Kata Stella.
“Yaaa?”
“I wanna tell you about something.”
“Apa? Cerita aja Stell.” Jawab gue sambil merapihkan pakaian gue di kasur.
“LOOK AT ME!!!” Teriak Stella.
Gue kaget, gak ada angin, gak ada hujan, Stella meneriaki gue. Gue membalikan badan dan langsung melihat ke Stella yang sedang duduk di kursi meja belajar gue. Gue mendapati dirinya sedang berkaca-kaca, sepertinya mau nangis.
“Ada apa sih Stell?” Tanya gue dengan nada tinggi. Jujur gue gak suka diteriaki.
“Gue pengen MATI!!” Jawab dia.
Wtf she says. Butuh waktu untuk mencerna perkataan Stella. Dia mau mati, gak ada petir, gak ada api, dia pengen mati. Sebenarnya apa yang terjadi. Gue jadi bingung sumpah.
“Seriously? Kenapa lo?” Tanya gue lagi.
“Gue pengen mati Fe, is it clear?” Jawab dia.
“NO!!!!” Gue mendatangi dirinya dan menatap kedua matanya tajam. Gue penasaran apa yang sudah terjadi, kenapa dia mendadak jadi begini.
“Ada apa sih Stella? Cerita ama gue?” Tanya gue lagi. Stella hanya bisa diam sambil nangis menatap gue.
“Stell?”
“Stella?”
Ah!! I have no idea. Dia masih saja bisu diam seribu bahasa. Gue berpikir keras apa sih yang sebenarnya terjadi kepada dia. Apa mungkin rasa bersalahnya terhadap kematian Ayu mendadak muncul lagi atau ada sesuatu yang lain?
Aha, gue baru teringat kalau tadi Stella menghabiskan waktu di rumah bersama Ani. Pasti ada sesuatu yang terjadi, apakah Ani telah berbuat sesuatu kepada Stella sehingga membuat dirinya nangis gak karuan di kamar gue saat ini.
Gue langsung pergi ke luar kamar, turun ke bawah menemui Ani di dapur.
“ANIII!!”
“ANIII!!”
“Sayang kenapa kamu teriak-teriak?” Kata ibu.
“Ada apa kak?” Jawab Ani.
“Aku butuh Ani.” Jawab gue ke ibu.
“Ani ikut gue ke kamar, cepet!”
“Eh.. Ani kan sedang bantu ibu masak.” Kata ibu.
“Ibu, aku pinjam bentar!” Kata gue.
“Oke, tapi jangan lupa dikembalikan.”
“Iya ih, ibu.”
Gue sama Ani langsung ke kamar gue. Gue menarik tangan Ani supaya jalannya agak cepetan, biar langsung sampai dan memecahkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Stella.
“Ada apa sih kak?” Tanya Ani pas di depan pintu kamar.
“Sudah masuk aja.” Gue membuka pintu kamar.
“Lihat,”
“Lihat apa kak?”
“Itu Stella, kenapa?”
“Kenapa dengan kak Stella, kak?”
“Ih.. sini..”
Gue membawa Ani ke depan muka Stella yang sudah lembab dengan air mata.
“Ini kenapa kak Stella nangis kak?” Tanya Ani dengan penuh heran.
“Itu yang mau gue tanyain, tadi lu ngapain aja ama Stella, apa yang telah lo lakuin terhadap dia?” Tanya gue kesal ke Ani.
“Aku tadi cuman nonton film aja kak ama ka Stella pas lagi nunggu kakak pulang.” Jawab Ani.
“Ah.. jangan bohong, pasti lu apa-apain ya tadi? Lu bilang apa ke dia, Ni.?”
“Aku gak ngapa-ngapain kak, aku gak bilang apa-apa. Suer deh kak, serius.”
“Stell… jawab gue, si Ani tadi ngapain elo?” Tanya gue Stella.
“She didn’t do anything.” Jawab Stella beranjak dari kursi, bersamaan itu pula di berhenti menangis.
Gue dan Ani hanya bisa cengo kebingungan, gak ngerti apa sih yang sebenarnya terjadi. Lama-lama gue bisa gila ngadepin masalah ini soalnya gue gak ngerti apa sih yang sebenarnya terjadi saat itu juga.
“Gue ngidap bipolar Fe.” Ujar Stella menghela nafas yang kemudian duduk di pinggir kasur gue.
“Bipolar? Serius?”
“Bipolar itu apa kak?” Tanya Ani.
Yang gue tau bipolar adalah gangguan mental. Orang yang ngidap bipolar moodnya sering berubah-rubah dan sering depresi. Abang gue, Kurt Cobain salah satu pengidap bipolar.
“Ani, cepet bantu ibu masak.” Gue mendorong Ani untuk pergi keluar, menyuruhnya untuk kembali memasak. Setelah Ani keluar, gue mengunci pintu kamar rapat-rapat.
“Sejak kapan?” Tanya gue kepada Stella.
“3 tahun mungkin. Entah kenapa, ketika gue sendiri, gue pengen bunuh diri, makanya gue kesini. Gue gak mau sendirian.”
“Stell….”
“Fe… bantu gue!”
Stella memegang tangan gue, seperti meminta bantuan atau pertolongan dan gue sekali lagi gak tau harus ngapain.
“apa yang harus gue lakukan Stell?”
“Just stay here, temani gue. Gue takut, gue takut hilang kendali.”
Mendengar perkataan Stella tersebut entah harus bilang apa, tapi rasanya lebay aja.
“Tenang Stell, lu bisa nginep malam ini di rumah gue.”
“Benarkah?”
“Iya.”
“Thanks.”
Malam itu Stella menginap di rumah gue, ibu gue udah bilang ke mamahnya Stella via telepon kalau Stella nginep di rumah gue, Malam itu juga ketika makan malam, gue memperkenalkan Stella ke Burhan. Malam itu gue dan Stella hanya diam di kamar, mendengarkan musik, berbincang-bincang soal masa depan, dan tidur bersama jam 22.30.
itkgid memberi reputasi
1
