- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#384
Partitur no. 71
Tak kusangka, akhir dari bulan yang indah ini sudah di depan mata. Rasanya baru saja kemarin aku melihat hiasan petasan menghiasi langit bersama bintang-bintang pada tahun baru. Dan sekarang hanya tersisa sekitar seminggu lagi menjelang bulan baru—di mana semuanya masih misteri. Rasanya sekarang aku hanya ingin menutup bulan ini menyibukkan diri dengan hobi baruku ini. Hunting foto.
Karena masih penasaran mengapa temanku itu bisa mengambil gambar dari telepon genggamnya dengan begitu bagus, aku sendiri sampai mencoba-coba memotret dengan menggunakan telepon genggam adikku, sampai adikku gemas, “Kenapa Kang Iman nggak pake handphone sendiri, sih? Kan udah punya handphone!” memang rasanya tak enak meminjam handphone adikku terus menerus. Tapi tentu saja jawabannya hanya satu: kamera milik adikku itu lebih bagus dari punyaku.
Sampai-sampai karena sangat penasaran, aku mengirim pesan kepada temanku yang harus bertanggung jawab karena telah membuatku tertarik kepada dunia fotografi dan harus menarik ucapanku selama delapan belas tahun.
“Om, keren fotonya, ajarin dong!” bujukku dalam pesan di facebook.
“Wah, gw mah newbie, Man. Nanti malah jelek lagi foto lo.” Jawabnya merendah. Orang yang sangat mahir selalu saja merendah!
“Jeleknya aja segitu, gimana bagusnya, Om? Haha” ledekku.
“Bisa aja lo, Man. Ahaha..” balasnya. “Lo gabung ke grup komunitas foto pake handphone aja, Man. Ada dua, sih. Gw kirim link dua-duanya, deh.”
“Boleh banget tuh, Om. Makasih banyak, ya!” kataku dengan senang.
“Sama-sama, Man. Good luck, ya!”
Selang beberapa lama, bukannya link yang masuk ke dalam notifku, tapi langsung undangan untuk masuk ke grup tersebut. Dengan cepat aku langsung menyutujui untuk bergabung dan melihat semua foto-foto yang para member itu upload di sana. Tak kuasa melihat fotonya yang sangat bagus-bagus, aku sampai menekan tombol like pada hampir semua foto. Dan, sebagai pemula, aku langsung tertarik kepada sebuah foto yang hanya memfokuskan pada objek kecil yang bisa menjadi objek utama yang saat indah. Foto makro. Mungkin terlihat mudah, tapi pada kenyataannya sangatlah sulit mengambil foto makro. Terlebih jika menggunakan sebuah telepon genggam.
Tak sabar rasanya akan bertemu Tasya lagi beberapa hari lagi, akan kuceritakan semuanya mengenai hobi baruku ini!
***
Karena takut ia kelelahan karena terus-terusan bekerja, kami sepakat untuk bertemu di tempat yang tak jauh dari kantornya. Meskipun waktu itu aku sempat memaksanya untuk mengikuti acara ulang tahunku—dan aku terkadang agak menyesal karena hanya mementingkan diriku sendiri. Ia mengalahkan rasa lelahnya untukku.
Setidaknya, aku sekali-sekali juga harus menempuh jarak yang cukup jauh agar mengatahui rasanya menjadi Tasya. Sekitar pukul lima sore, aku sudah sampai disebuah Supermarket yang bergaya Jepang di sekitar daerah Salemba. Kulihat ketika turun dari bus, Tasya sedang asyik mengobrol bersama Bunda dan temannya yang menginap di rumahku.
“Lah, itu si Iman!” kata Bundaku sambil menunjuk ke arahku.
“Iya, Nda. Tasyanya mau Iman culik bentar dulu.” Aku segera menyalami Bunda.
Tak lama, tanganku sudah dicubit oleh Tasya. Kangen rasanya dengan cubitannya yang sudah cukup lama tak kurasakan.
“Yaudah, baliknya jangan pagi-pagi, eh, malem-malem ya..” kata Bundaku sambil pergi menuju Halte Busway.
“Daah..” aku melambaikan tanganku kepada Bunda.
“Yuk masuk..” ajak Tasya sambil menguncir rambutnya yang mulai panjang.
Tempat ini baru saja buka sekitar akhir bulan Desember lalu. Sejak tempat ini dibuka, sudah beberapa kali Tasya mengajakku ke sini, tapi baru kali akhirnya benar-benar terjadi. Ia sangat mengetahui aku memang menyukai masakan Jepang. “Sebenernya sih bukan karena makanan Jepang nya, tapi karena aku tau kamu Wapol, apa aja dimakan..” komentar Tasya begitu memasuki toko ini. “Hayo, bingungkan mau mesen apa?” ia melihatku sambil tertawa senang.
“Jahat sih kamu, tau aja aku lemah sama ginian..”
“Kok jahat? Yaudah, selamat bengong di depan etalase, ya..” ia meninggalkanku sendirian kebingungan, melihat-lihat ke segala arah seperti orang bodoh.
Bukannya mencari Tasya, aku malah terus terdiam di tempat aku berdiri sedari tadi, menatapi satu-satu yang sekiranya akan kubeli. Memang kebiasaanku, jika sudah melihat tempat seperti ini, aku sampai kebingungan mau berbuat apa dan mau membeli apa.
“Duh, Tasya mana, nih?” tanyaku dalam hati sambil melihat-lihat sekitar untuk membeli suatu camilan atau minuman. Aku lagi-lagi terdiam di depan mesin pendingin minuman yang di dalamnya menyajikan berbagai jenis minuman—menatapi satu persatu minuman yang terlihat sangat segar itu sambil menimbang-nimbang minuman mana yang akan kubeli.
Akhirnya aku memilih salah satu dari minuman yang seolah berbicara keras kepadaku, “Hayo beli aku! Biarkan aku menyegarkan tenggorokanmu dan menghilangkan dahagamu!” jahatnya ia bersembunyi di balik tempat minuman yang berisi teh dengan susu. Aku pun menuju ke kasir, di mana tak jauh dari situ aku kembali bertemu dengan Tasya yang sedang asyik mencari camilannya sendiri.
“Tuh kan, kamu sendiri juga bingung!” ledekku.
“Abisnya keliatan enak-enak..”
“Berarti kamu Wapol juga, kan?”
“Nggak dong, kan aku nggak makan segalanya kayak kamu.”
“Kata siapa? Kamu udah makan hati aku sekitar setahun yang lalu.” Cubitan kembali melayang ke kulitku. “Sejak kapan kamu mulai berprofesi jadi tukang cubit orang lagi?” kataku sambil menaruh minumanku sambil mengusap bagian yang dicubit tadi.
“Abisnya gombal mulu, sih!”
“Aku nggak gombal kok. Nih buktinya rambut aku lurus aja!”
“Itu gimbal, sayang!”
“Hoo, udah diganti, ya?”
“Emang kamunya aja jelek.”
“Jelek itu jelas-jelas keren, lho.”
“Mas, Mbak, kalo mau bayar cepetan, ya!” ujar kasir itu.
“Kamu sih gombal mulu!” katanya sambil membayar minuman dan makananku juga.
“Eh, kenapa jadi kamu yang bayar?” aku buru-buru mengeluarkan uang dari dompetku untuk membayar bagianku.
“Udah nggak apa-apa..” ia pun segera mengambil makanan dan minuman yang dimasukan ke dalam plastik itu menuju atas tempat ini. Aku segera menyusulnya ke atas setelah merapihkan isi dompetku kembali.
Tasya terlihat dengan cepatnya sudah dapat tempat untuk kami berdua, tepat di dekat sebuah pembatas untuk melihat ke arah luar. Ia pun mengeluarkan pesanan kami itu dari plastik putih tersebut.
“Eia, aku mau cerita, deh..” kataku membuka pembicaraan sambil mengambil tempat duduk.
“Cerita apa, sayang?”
Aku pun mengambil handphoneku, mencari-cari foto yang sudah ku simpan di galeri dan memperlihatkannya kepada Tasya. “Menurut kamu, ini bagus nggak?”
“Bagus banget!” katanya terkejut dan menampakkan mata yang belo. “Itu siapa yang foto? Kamu?”
“Bukan, temen aku.. Fotonya pake handphone lagi..”
“Serius?”
“Iya,” jawabku. “Aku juga kaget.”
“Wah..” nampaknya ia masih takjub dengan apa yang ia lihat tadi. “Terus kamu pengen cerita apa tadi?”
“Nggak, aku cuma jadi tertarik dunia fotografi aja,” kataku dengan yakin.
“Bagus dong! Kali aja kamu sukses juga di situ.. Aku sih dukung aja..” ujarnya. “Terus ngebandnya masih, nggak?”
“Ngeband mah bakal terus.. Hehe”
“Si Agan juga suka motret tuh..”
“Wah, serius? Jago dong dia..”
“Masih belajar, tapi bagus kok kalo aku bilang..”
“Ajarin dong!” kataku sumringah.
“Boleh. Nanti aku bilangin, deh..” jawabnya. “Eia, yang kemaren juga kamu belum cerita tuh..”
“Kemaren tuh yang mana, ya?” kataku kebingungan.
“Yang waktu ada acara di rumah kamu, terus kamu tiba-tiba pulang basah kuyup semua itu..”
“Hoo, yang itu..”
Aku pun mulai menceritakan dengan seru sampai terbawa suasana ketika menceritakannya, sementara Tasya mendengarkan dengan seksama sambil menikmati camilan dan minumannya. Sesekali aku juga mengambil minumku disela cerita, terkadang juga memakan makananku yang sudah direbus di kasir tadi.
“Wah..” ujar Tasya ketika aku mengambil jeda sambil makan. “Itu karena kamu gendut tuh, makannya perahu karetnya bocor..”
“Apa hubungannya....”
“Iya, karena kamu gendut, terus perahunya keberatan, bocor deh akhirnya..”
“Jahat bener sih kamu.. Ahaha”
“Terus gimana, naksir sama Olive itu, nggak?”
Jleb.
“Nggak lah sayang, udah punya kamu juga..” memang, beberapa hari lalu aku sempat mencari-cari di twitter dan menemukan akun berserta fotonya. Namun tak kuikuti akun milik Olive itu.
“Kalo naksir juga nggak apa-apa. Asal cuma sebatas naksir aja.” Ledeknya.
Aku pun melanjuti ceritaku anehku itu. Meskipun aneh, aku tetap semangat menceritakannya kepada Tasya. Di tengah cerita, entah mengapa, perutku terasa mual ingin muntah, dan mataku tak bisa terfokus menatap Tasya, meskipun ia sangat cantik (apa hubungannya!). Kepalaku terasa mengalami gempa. Lidahku terasa pahit—tak kalah dengan rasa pahitnya dunia. Keringat dingin juga mengucur dari seluruh tubuhku. Apakah aku hamil? Eh, maksudku, apakah aku terkena penyakit? Mengapa mendadak? Bukannya tadi tak kenapa-kenapa?
Aku berusaha untuk melanjuti ceritaku itu, sampai akhirnya aku terlihat oleh Tasya berusaha memegangi leherku untuk mengukur tubuhku yang suhunya mulai naik ini. “Kamu kenapa?” tanyanya panik.
“Eh, nggak kenapa-kenapa, kok..” kataku mengelak.
“Jangan boong! Itu muka kamu tiba-tiba pucet gitu!” ia terlihat sangat khawatir.
“Kena bedak kali tadi tiba-tiba.. Nggak, aku nggak apa-apa, kok..” aku berusaha terlihat baik-baik saja. “Hoek!” suara itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku. Tapi aku tak muntah.
“Tuh, kan. Kamu kenapa?” ia segera menghampiriku yang mulai kehilangan kendali atas tubuhku sendiri. Tangannya pun memegangi leherku. “Yaampun, badan kamu panas gini. Kalo begini kenapa kamu maksain ke sini?”
“Aku nggak tau, tadi nggak begini..”
“Yaudah, kita pulang sekarang, yuk!” usulnya. Raut mukanya menampakan penyesalan, rasa kasihan, kepedulian atau rasa perhatian.
“Kamu jangan khawatir gitu.. Mungkin cuma salah makan aja..”
“Kita ke dokter sekarang, ya!” bujuk Tasya.
“Jangan, nanti ngerepotin kamu..”
“Sayang, nggak apa-apa, demi kesehatan kamu. Aku juga masih ada uang, kok. Cukup buat ke dokter..”
“Nggak usah, sayang.. Mending uangnya kamu pake untuk yang lain yang lebih penting..”
“Buat aku, kamu itu yang terpenting..” ujarnya dengan sungguh-sungguh.
Aku terdiam.
Suasana menjadi hening secara ajaib.
Sebuah drama aneh tengah berada di Supermarket ini. “Aku sayang kamu. Aku peduli sama kamu.. Yuk, ke dokter..”
“Pulang ke rumah aja, deh..” kataku.
Tasya mengambil nafas panjang. “Oke, deh..”
Ia berusaha mengangkat tubuhku yang kepayahan ini dengan keberatan. “Maafin aku, Sya..” kataku sambil berdiri, dan berjalan dituntun oleh Tasya. Setiap langkahku itu membuatku semakin mual. “Hoek!”
“Kalo kamu mau muntahin, muntahin sekarang aja.. Itu ada kamar mandi, kok..”
Aku menggelengkan kepala. “Nanti di rumah aja..” Suasana di sekitar situ mulai terasa aneh.
Gelap.
Padahal tadi ketika aku datang ke tempat ini, semua terasa terang. Dengan kesadaranku yang tidak tahu tinggal berapa, kami mulai menaiki tangga menuju Halte Bus TransJakarta.
Aneh sekali, mengapa mendadak semua terasa gelap? Di dalam bus ketika akhirnya kami mendapatkan bus, kulihat samar-samar wajah Tasya mulai menitikan air mata. Mengapa ia menangis? Apakah aku melukai hatinya?
Kehangatan tangan Tasya mengenai kepalaku. Kepalaku juga disenderkan ke bahunya. Satu tangannya lagi sedang memelukku. “Bentar lagi nyampe, kok.. Kamu sabar, ya..” ia terlihat seperti sosok seorang Ibu. Ya, ia seperti Bundaku. Tidak, mungkin seorang kekasih yang juga sebagai seorang malaikat. Tak terbayang jika aku sedang sendirian menuju tempat itu. Siapa gerangan yang akan menolongku?
Kesehatan memang menjadi kelemahanku sejak kecil.
Dari tiga bersaudara, akulah yang paling rentan terserang penyakit. Apa pun itu. Aku sudah pernah terkena demam berdarah dua kali, dan tifus sekali.
Mungkin, akulah yang selalu membuat repot orang di sekelilingku. Selalu saja membuat orang lain kesusahan. Aku juga tak bisa apa-apa. Aku sering dimarahi oleh Bundaku atau Kang Naufal karena aku memang nyatanya tak bisa berbuat apa-apa. Keberadaan diriku mungkin tak diinginkan orang lain. Rasanya, aku ingin keberadaanku di dunia ini ada karena suatu alasan. Setidaknya, bisa membuat dunia seseorang berbeda.
Halo, wanita yang sangat cantik.
Suara siapakah itu?
Mengapa kau menangis tersedu-sedu?
Suara aneh itu datang lagi, tapi aku tak bisa melihat siapa yang berbicara kepadanya.
Apakah aku telah menyakiti hatimu?
Mengapa orang itu mengatakan ‘aku’?Pastilah ia orang yang sangat dekat dengannya.
Meskipun kau menangis, kau tetaplah cantik. Mungkin kaulah mutiara yang hilang.
Aku tak melihat ada orang lain yang berbicara padanya, karena ia terus menatapku dalam pelukannya sambil menangis.
Pelukannya membuat tubuhku terasa hangat. Setidaknya, sampai kemudian aku tak sadarkan diri di dalam bus itu.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 22:37
0
