Kaskus

Story

kabelrolAvatar border
TS
kabelrol
that's what friends are for
Spoiler for pembuka:


Spoiler for sampul:




Pesan whatsapp itu datang begitu saja,

Quote:


Tangan gue masih perih karena kejadian di pagi kemarin itu, kalo dirasa, perihnya hati gue lebih kerasa ketimbang tinju yang ngga dipake 10 tahun lebih buat nonjok orang lagi. Meski gitu, gue tetep berkeinginan untuk bales pesan itu.

"Sini aja, Nae,"

"Oke, gue emang udah di jalan, sih. Paling sepuluh menit sampe di tempat lo,"

centang biru. Gue nyengir aja. Itu bocah emang belum berubah terlalu banyak, kecuali ada gelar dokter yang baru dia dapet di depan namanya. Gue lihat profil kontak whatsappnya. Nae beneran ngga berubah, tidak ada juga perubahan pada warna rambut. Gue berdiri, ngeliat kaca, dan nyisir rambut pake tangan. Gue ganti celana dan baju. Gue berantakan banget, untung Nae dateng. Kalo ngga, bisa sepuluh hari dalam kondisi bau gitu, gue masih betah emoticon-Malu (S)Bener aja, ngga lama, ada yang ngetok pintu di lantai bawah--ya, iyalah, kalo ngetoknya di pintu lantai atas, ngeri amat, sob emoticon-Takut (S)

"Assalamu'alaikum,"

suaranya, sih, Nae, yang menyeru salam di bawah. Gue balas salamnya sembari lari ke bawah. Gue sendiri lagi di rumah kali ini, semua orang lagi jaga toko di toko pojokan itu. Gue absen ke orang rumah gue ngga bisa partisipasi jaga toko beberapa hari ini. Alasan gue, sih, masuk angin. Padahal, mah, justru badan gue lagi 'kosong' banget. Air mata ngosongin badan gue banget. Tsaah~

"Masuk, Bu Dokter!"
"Gue udah masuk, Mbel. Buset, berantakan amat lo, Har?"
"Yah, begitulah," gue cuma tersenyum kecut. Gue ngga beralasan nyinyir seperti, gue mah bukan dokter, jadi ngga wajib selalu bersih--padahal mah emang dasarnya aja gue jorok emoticon-Malu (S)

"mana Haruki?"

Aah.. akhirnya pertanyaan itu pecah juga, keluar.

"Duduk dulu, Nae. Mau minum apa?" dan akhirnya kita berbasa-basi sejenak. Gue jadi punya waktu untuk nyiapin kata terbaik apakah yang akan mewakili rentetan kejadian sejauh ini--sudah terlalu jauh emoticon-Frown

"Har, apa perlu gue tanya sekali lagi? Mana Haruki?"

dr.Nae sepertinya menangkap gejala ngga beres dari gue. Sebab, apdetan medsos gue waktu itu, terakhir soal gue sama Haruki EO-in kateringnya perkimpoian Widya (emoticon-Frown emoticon-Frown)

"Dia udah pulang, Nae"

"Gue ngga yakin, Har, kalo Haruki cuma sekadar 'pulang' aja. Pasti ada yang harus lo ceritain ke gue,"

Ternyata, waktu basa-basi dan ngambilin minuman barusan tadi ngga cukup ngasih waktu gue untuk cari kata terbaik untuk memulai percurhatan ini emoticon-Malu (S)

"Yaah.. jadi gini nae...
Spoiler for sekilas cerita sebelumnya:


...gitu, Nae.."

mata dr. Nae terlihat simpatik mendengar kisah yang belibet barusan.

"Widya kimpoi?" --gue ngangguk.
"Haruki ....?" --gue ngangguk lagi.
"Lo ngenes banget, Har..," --gue tersenyum kecut, sembari ngangkat bahu. Nasib gue begini kali.
"Terus, sekarang lo mau gimana, Har?" --gue tersenyum kecut lagi, ngangkat bahu lagi. Gue masih bingung, lebih tepatnya kaget sih. Nae mendesah perlahan, dia gigit bibir bawahnya. Keknya Nae semacam gemes dengerin cerita gue.

"Gue tanya balik sama lo, Nae. Kalo lo di posisi gue, apa yang lo lakukan?"

"Gue bakal nyari Haruki sampe dapet, ngga perduli gimana,"

Jeder! seakan ada durian jatuh di ubun-ubun gue. Yap, jawabannya emang sesimpel itu, tapi tentu dengan banyak ganjelan.

"Untuk apa? Toh, dia udah ada Farhan. Farhan pasti bisa ngelindungi Haruki,"

"Muka lo! Lo percaya sama Farhan, heh? Bukannya lo tau gimana Farhan?"

Jeder lagi! gue teringat bagaimana Widya nyiram pake air kola Farhan dan Nurul--sahabatnya Widya sendiri, di malam itu, di depan muka gue sendiri. Tapi, gue masih berusaha membebal.

"Waktu itu masih cinta monyet, jaman SMA, sekarang udah berubah kali,"

"bodoh! Kalo gitu, pertanyaannya gue inverse, bukannya lo ngga tau gimana Farhan?"

Lagi-lagi jeder lagi! Ya, gue tau Farhan, justru karena itu gue harus khawatir. Ya, justru gue ngga tau gimana Farhan sebenernya, karena itu gue harus lebih-lebih khawatir banget.

"Har, kejar, Har!"

"Gue harus gimana?"

"Lo dateng wisuda dan sumpah dokter gue, ya. Sampe itu, gue bantu lo," terus Nae kasih tanda 'V' dengan jari dan jari tengahnya ke depan muka gue, "dua bulan, lo harus cari ongkos ke kampus gue selama waktu ini buat ngehadirin wisuda gue,"

"kampus lo itu... siang di kampus gue, malem di kampus lo, kan?"

Nae ngangguk, dengan mantap. Gue neguk ludah sendiri. Gue coba ngitung-ngitung.. pasti ongkosnya lebih mahal ketimbang waktu Haruki ngongkosin gue nemenin dia mudik ketemu saudara kembarnya di kampung halamannya itu.. Bukan, bukan di Ciracas...

Quote:
Polling
0 suara
siapa yang punya tujuan paling jujur?
Diubah oleh kabelrol 09-12-2015 00:47
anasabilaAvatar border
pulaukapokAvatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
67.7K
320
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
kabelrolAvatar border
TS
kabelrol
#15
dramatis!
"Lo parah juga, ya, Har, kasian Ara,dong,"

"Yah, gue harus gimana lagi?" -- gue mengangkat bahu.

Sejujurnya, memang, dengan datangnya Haruki di rumah--dan kantor usaha keluarga--ada banyak ide inovasi produk dan pemasaran yang terlintas di meja rapat dua kali mingguan itu. Kondisi sumber daya Haruki yang kapabel, memang bikin ide itu tergelontor begitu saja, siap dilaksanakan besok lusa. Maka, ketika kemaren malam/pagi Haruki pamit ke seluruh anggota keluarga, bukan cuma gue aja yang bersedih.

"Kamu boleh masuk dan keluar rumah dan kantor ini kapan aja, Haruki. Kongkretnya, kalo besok kamu dapat kerjaan yang menurutmu lebih baik, saya ngga nahan kamu lebih lama di rumah dan kantor ini. Tapi, begitu ada kesulitan, silakan kapan saja datang. Ini memang saya desain menjadi rumah singgah bagi yang berkenan," --itu yang bapak gue bilang ketika Haruki datang ke rumah, sebelum liat kinerjanya.

Sebulan di rumah, cukup 3 hari aja, waktu yang dibutuhin Haruki buat nunjukin potensinya dan semua orang rumah langsung tambah suka sama dia.

Sehingga,ketika Haruki kemarin, selain sedih karena salah satu 'anggota keluarga' angkat kaki, ide dan inovasi itu mandek. Ngga ada yang garap itu lebih baik daripada Haruki. Sehingga, ketika Ara gue ajak kerja di toko pojokan itu, pantaslah Nae berespon seperti itu. Yah, tapi, gue harus gimana lagi baiknya. Pada kondisi yang pas nanti, gue akan cerita yang sesungguhnya ke Ara, gue berjanji diam-diam dalam hati.

Gue menghela napas melihat punggung Ara yang makin menjauh dari posisi gue sama Nae, kemudian hilang di pojokan. Gue jadi inget suatu cerita jaman dulu--entah boongan atau beneran--bahwa salah satu orang tua Farhan, yang berarti juga orang tua Ara, sudah ngga ada. Ngeliat kondisi rumah Ara kek gitu tadi, gue ngga berani lebih jauh nanya Ara. Tapi, seengganya, rumah yang gue datengin ini udah bener, inirumah tinggal Farhan, seenganya pernah. Ada foto keluarga besar-besar dipasang di pigura indah di ruang tamu.Kita bisa segera liat foto itu ketika masuk ke ruang tamunya.

dan akhirnya, pencarian pertama ini entahlah mau dibilang sukses atau gagal--dan ngga ada kejadian sesuai skenario yang dirancang sebelumnya. Hasilnya adalah kita ketemu sanak sodara Farhan, tapi kita ngga bisa dapet info dimana Farhan berada.Yang ada, malah kekhawatiran yang lebih besar merangkak dan menjalar. Bisa gawat, jika anak mereka (?) sudah dalam pelarian,bahkan sebelum dilahirkan emoticon-Berduka (S).

Maka, gue buka kunci HP gue sembari berharap, ada notif dari medsos datang sesuai harapan, Novi respon permintaan pertemanan gue. Tapi, ngga ada ternyata, seengganya di malam itu--kata gue membesarkan hati sendiri...

"Har, jangan nyerah, baru juga hari pertama. Kita cari kemungkinan lain,oke?" kata Nae sembari nepuk bahu gue, berusaha menegarkan gue.

***


"Nama kamu Ara? semester berapa?"

"empat, Mbak,"

"Jurusan?"

"(nyebut suatu jurusan, dan kampus di kota gue)"

gue terhenyak, gue tau dimana itu.

"Lhoo, ternyata adek kelasnya Harsya, toh,"

gue menoleh, gue malah baru tau pas ini banget, pas kakak gue ngewawancara Ara sebelum dia diterima kerja, ternyata Ara adek kelas gue banget, jurusan sama, cuma angkatan aja beda; pas gue lulus, dia masuk jurusan. Yah, begitulah.

Ara tersenyum. Mungkin, dia juga baru tau, sob. Gue berpikiran, ini harusnya lebih mudah, setelah Bapak gue ngga tertarik untuk wawancara sendiri setelah Haruki pergi. Keknya, Bapak gue beneran ngerasa kehilangan deh. Dari sekian pegawai tetap atau paruh waktu, keknya Haruki punya tempat tersendiri di hati keluarga gue emoticon-Malu (S)eh, dia malah mutusin pergi emoticon-Berduka (S)

Gue memerhatikan Ara, dia begitu mengikuti alurnya. Dia ngga kepingin menunjukkan dirinya agar segera diterima. Dia jawab pertanyaan dengan seadanya, pun ketika Kakak gue menjelaskan beberapa pekerjaan yang akan dia kerjakan. Tentu saja, bukan ide dan inovasi yang kemarin kita bicarakan ketika Haruki masih ada disini, sob. Pekerjaannya agak jauh dengan kompetensi jurusan. Tapi, gue melihat Ara yang berusaha nyaman dengan apa yang dia hadapi. Disitulah gue merasa tambah berdosa. Mata Ara begitu ikhlas dengan apa yang didepannya. Gue tambah ngerasa berdosa, keikhlasannya bilang bahwa Ara akan iya aja selama kehormatan keluarganya bisa dia pertahankan untuk ngga tersungkur lebih jauh ke bawah lagi.

Diam-diam,. gue berjanji pada diri sendiri, sembari bersyukur, bahwa suatu saat nanti, pada kondisi terjepit bagaimanapun, gue akan mencoba membicarakannya baik-baik dengan semua keluarga. Tentu saja, semakin kuat prinsip gue untuk ngga aneh-aneh emoticon-Smilie Ara akan bekerja mulai besok. Ara pulang ketika Nae kembali meng-wassap gue.

"Gimana, oi? ada info masuk?"

centang biru sementara waktu di sisi Nae. Gue heran aja kenapa dia begitu niat kali ini, untuk kasus Haruki ini.

"Belum. Lo ada?"

"Ada?"

centang biru, gue tukar centang biru itu dengan tombol warna hijau.

"Halo? Lo dimana, Nae?"

"10 meter lewat gerbang komplek lo. Lo udah mandi, kan?"

klik, telepon ditutup. Gue langsung menghambur dengan sepeda motor pergi ke rumah, tempat Nae akan menjemput gue setelah gue mandi kilat emoticon-Malu (S) Gue temui Nae dengan rambut setengah basah. Nae cekikikan sendiri ngeliat gue masih ada ilernya gitu.

"Buset, kalo gue ngga dateng, gue yakin lo pasti mandi pas gue dateng, mana tau bulan depan, ya, Har?"

"Yaa, mandi, kan, selama butuh emoticon-Big Grin. Jadi, info apa yang lo dapet?"

"Hmm, gue kepikiran alternatif solusi, sih, bukan info kontak dan lain sebagainya?"

Gue agak kecewa. Ah. Muka gue terlipat dan keknya Nae sadarin itu.

"Daripada lo, Bangke, udah ngga ada info, ngga ada solusi alternatif. Ah, jadi gini...." gue berdiam, nengok ke karahnya, nunggu-nunggu ide apakah yang keluar dari Bu dokter ini, "...lo kepikiran ngga, Har, buat datengin rumah Haruki?"

"Dia udah diusir dari rumahnya, Nae,"

"Kita bisa mulai cari info baru atau alternatif solusi lain dari sana, kalo lo ada ide lebih bagus lagi, gue mendengarkan,"

Gue diem. Nih anak bener juga. Sekarang bukan lagi berdebat soal mungkin-ngga mungkin. Gue mesti nempuh itu selama kemungkinan itu ngga nol sama sekali, kayak gue yang tanpa info di hari ketiga pencarian ini. Novi belum juga ngasih buka gembok medsosnya emoticon-Nohope

"harus sekarang banget kita berangkat?" --ragu gue cuma digantung mengingat perjalanan ke rumah ortunya Haruki itu dari ujung ke ujung Pulau Jawa emoticon-Ngakak (S). dan Nae ngangguk emoticon-Belo

"lo mertimbangin apa lagi, Har? akhir minggu besok. Ini udah sore?"

"tiketnya?"

"gue udah tau lo bakal nanya itu, nih kode booking-nya, besok subuh terbang. tinggal transfer aja, sampe lo iya atau ngga,"

kayak kalo lagi nonton fluxcup di yutup, ada banyak warna yang keliyengan di kepala gue waktu itu. Hanjir, ini serius banget. Terakhir gue pergi dengan begok begini pas ke pantai sama inisial W di awal tahun kemaren. Tau ini gue berasa bodoh, pergi sesukanya, tanpa rencana, masih untung ngga nebeng truk pertamina sih emoticon-Malu (S) Yah, gue ngga punya ikatan dengan siapapun sekarang, apalagi, kerjaan gue sekarang satu-dua dipegang Ara. Keluarga gue bakal iya aja selama gue ngabarin. Haruki perlu segera disiapkan. Ngga ada lagi yang perlu dipertimbangkan menuju berat ke ragu untuk ngga berangkat.

dan gue segera mandi dengan benar ketika selesai mengangguk. Gue setujulah. Ngga ada harganya tabungan gue itu, kalo bukan untuk dipake di kondisi darurat begini. Gue pun beralasan ada temen gue yang kimpoi dan sekalian liburan. Yes, ijin udah diterima. Gue ngga tidur di malam itu. Segera berangkat naik bus ke bandara. Sebelah gue, si Nae ini, malah tidur dengan nyenyaknya. Gue kepingin tidur juga, tapi rasanya ngga bisa. Gue menerawang ke luar jendela. Ah, pesawat yang dipilih Nae sungguh tepat, plat merah dengan seragam hijau, potongan dada V dan diataranya ada kain putih. Gue ngga bawa topeng kuda kali ini, tapi gue bisa sekaligus berharap ketemu Novi di perjalanan kali ini.

Sekip.

Ngga semudah itu harapan gue tertunai dengan kenyataan. Maskapai yang sama, tapi bukan Novi yang di sana di keesokan subuhnya itu. Gue malah mikir ngelantur, apa jangan-jangan gue harus ke pulau yang satu itu, dan bersama Gadis, kalo mau ketemu Novi? emoticon-Berduka (S)
Gue terakhir sadar bahkan ketika pesawat belum tinggal landas dan baru bangun ketika ada pemberitahuan kita sampe di bandara tujuan dengan ngga ada perbedaan waktu dengan bandara keberangkatan. Waktu sejam, tidur gue enak dan gue bersiap melakukan perjalanan ini.

Pertanyaan bodoh muncul begitu aja ketika gue bersiap nurunin tas dari bagasi atas: orang tuanya Haruki ada di rumah ngga, ya? kalo ngga ada gimana?

"Tenang, ada nenek gue,"--Nae cuma jawab dengan enteng. Cis, jadi orang tuanya Haruki itu neneknya Nae? emoticon-Hammer (S)

Sepuluh pagi, gue sampe di alamat yang dimaksud. Terakhir kali kesini, beberapa puluh bulan yang lalu, diantara semester 2 atau 4 begitu gue lupa. Sepi menggantung di sela beranda rumah yang besar dan jadul itu. Gue melihat jam tangan sekali lagi, terlalu siang untuk belum bangun, terlalu wajar untuk penghuni pergi untuk suatu urusan. Ketika gue sudah nuker semua ragu dengan keinginan nekat untuk ngetok pintu, ada rem berdecit dan suara setengah bersorak.

"Loh, Harsya, ya?"

cuma mirip, toh wajar, dia adalah ibu dari anak itu, anak yang kita cari-cari selama ini. Mirip, bahkan 'loh'-nya terdengar seperti 'roh' emoticon-Ngakak (S) gue jadi inget pertemuan pertama sama Haruki di awal semester 2 kelas 2 waktu itu. Tentang huruf R yang berlebihan untuk diucapkan....

senyum gue tambah lebar menemui sosok yang satu lagi turun dari mobil, bapaknya Haruki. Mereka tersenyum menyambut gue. Ini pertanda baik. Semoga saja.

"wah, tumben mampir, ayo masuk,"--Bapak Haruki dengan lembut mendorong punggung gue untuk masuk.

"oh, ya, kenalin, Pak, Bu, ini Nae. Temen yang nganter dari bandara sampe sini,"--gue sengaja ngebelokin kenyataan sedikit untuk bagian situ sob. Gue pengen ini jadi urusan pribadi gue seorang. Gue dan Nae udah bersepakat soal ini. Dan orang tua Nae berkenalan hangat dengan Nae. Untungnya, Nae dengan entah kekuatan apa bisa ngomong dan logat Jawa emoticon-Ngakak (S) --gue sebenernya khawatir untuk urusan sebelah situ emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S)

Teh hangat dan kue putri ayu--yang warna hijau, bolong di tengah tapi ngga sampe nembus ke bawah, dengan taburan kelapa di kepalanya--sudah tersaji di atas meja, ketika gue balik ke ruang tamu setelah menyambut tawaran untuk mandi dulu. Yah, gue juga semacam akrab dengan keluarga Haruki. Gue disambit, eh, disambut emoticon-Big Grin bak sanak keluarga yang pulang dari jauh untuk sekian lama. Basa-basi sudah terjadi dan dari sana, gue tau, kedua orang tua Haruki ngga tau Haruki sempet mampir di tempat gue untuk beberapa waktu di kemarin itu.

"Harukinya lagi keluar, Har. Wah, padahal dia mesti seneng kalo tau kamu dateng. Kok mendadak banget, toh, Har?"

Gue tersenyum tipis, "ya, Pak.." sekarang ada 2 opsi kalimat lanjutan yang bisa gue keluarkan: (1) lagi liburan, sekalian silaturahmi. Kalo gue jawab ini, basa-basi akan berlanjut terus dan gue ngga dapat apa yang gue harapkan dengan dateng kesini. Penukarnya adalah gue ngga nambahin lara yang daritadi ditutupin sama beliau berdua. (2) lagi nyari Haruki, nih. Penukarnya adalah gue akan mengingat sesuatu duka bagi mereka. Bagi gue juga. Sasaran gue adalah nomer Novi. Barangkali, mereka sempet punya, atau seengganya, gue boleh selidikin sesuatu catatan yang ketinggalan di kamar Haruki. Semoga masih ada sisa. Di sepersekian detik itu, gue berpikir baik-buruk, enak-ngga enaknya. Ketimbang gue disenggol Nae untuk perjalanan yang percuma, gue milih opsi (2).

dan bener aja, muka mereka berdua langsung terlipat, sedih, kecewa, antara marah juga ada. Suasana diam memeluk kita beberapa saat.

"Harukinya lagi ngga ada, Har,"

"justru saya kesini dalam rangka nyariin dia, Pak, Bu,"

Muka mereka terangkat. Raut muka mereka susah gue jelaskan, antara kaget, harapan, merasa aneh, nyampur aduk jadi satu.Sekalian basah aja deh,

"Iya, Pak, Bu, kemarin Haruki mampir ke rumah saya..."

dan gue menjelaskan semuanya, tapi dengan meminalisir kebencian gue terhadap Farhan. Bisa gawat kali kalo abis itu Bapak Haruki ke belakang rumah terus ambil golok emoticon-Takut (S) emoticon-Ngakak (S) Perasaan gue dikuras lagi ketika ngeliat mereka menyeka pipi mereka yang basah--terutama ibunya yang cantik lagi singset itu. Setelah titik terakhir cerita gue terlepas, Bapak Haruki menunduk dalam. Nah, gue udah siapin diri untuk kondisi yang mengenaskan ini... Nae beberapa kali mendehem, aura prihatin yang terpencar dari Nae bikin suasana ruang tamu yang sebenernya bisa bikin tidur di detik ke-0.988 ketika menginjakkan kaki di sini jadi berat. Berat hingga mata melek dan mengeluarkan air mata.

"Saya lupa sama sekali, dia anak kami yang terakhir (tersisa--untuk bagian ini, imajinasi gue doang, tapi gue semacam bisa nangkep kata-kata ini hendak dikeluarkan), saya nyesel udah semarah itu kemarin. Kami udah cari Haruki kemana-mana, nihil. Semua info ngarah ke Farhan. Dan kami ngga bisa ngelacak ada dimana Farhan itu. Dia keluar dari kantornya dua minggu yang lalu, keluar dari kosannya tiga minggu yang lalu. Artinya, luka ini sudah siap busuk sejak lama. Dia menghilang. Kalau ngga karena ibunya, saya udah nyerah aja. Ibunya selalu keinget gimana kami kehilangan Yuki di kebakaran waktu itu..."

isak tangis mereka berdua--terutama ibunya--semakin dalam. Bapaknya merengkuh bahu ibunya. Nae rikuh sendiri--dalam konteksnya memang, ini sama sekali bukan urusannya. Nae sigap pergi ke sebelah ibunya Haruki dan menawarkan selembar tisu. Disitulah, ibunya bisa sedikit tersenyum--ah, ngenes sekali ngeliat orang yang senyum di tengah tenggelam kesedihan begini.

"Sebenernya, ada satu lagi kemungkinan sumber info, Pak...,"

mereka berdua mengangkat kepala, meraka semacam mencium harapan. Yah, gue ngerasain rasa-rasa itu. Harapan.

"...Novi, Pak. Barangkali, Novi punya info,"

Bapaknya tercenung sebentar. Lantas nepuk pahanya keras-keras.

"Ya, Allah, saya kok baru sadar. Novi itu sering juga kesini. Aduh, kenapa saya ngga kepikir sama sekali. Ya! Ya! Bener banget! Kamu tau dimana dia?"

Gue ngegeleng perlahan, "justru saya kesana untuk nyari info itu, Pak?"

"dengan cara?"

Gue pun nyeritain langkah kongkret ke tujuan itu, lewat medsos, tapi sayangnya, semuanya masih terkunci, yah, baru hari ketiga, eh, keempat sih. "...tapi, saya masih ada celah satu lagi, kalau bapak-ibu berkenan, dan kalau memang memungkinkan, saya pengen coba cari info soal Novi di kamarnya Haruki, Pak, Bu,"

Mereka mengangguk dengan cepat, seolah gue adalah anak mereka sendiri, gue sampe hampir nangis terharu nerima anggukan itu. Kemungkinannya cuma dua, antara mereka sangat memercayai gue seperti anak sendiri atau mereka bosan bertemu ujung buntu suatu alternatif jalan dan kini menemukan suatu titik terang yang harus dicoba sama-sama, oleh kita yang menyanyangi Haruki seperti bagian tubuh sendiri.

"..karena itu, Pak, Bu, saja ajak Nae yang perempuan kemari. Dia teman sekelas waktu SMA, dia temennya Haruki juga. Kita cukup deket waktu dulu, walaupun Haruki lebih deket ke saya ketimbang ke Nae. Makanya, dulu dia jarang main ke rumah,"

Sangat dramatis keliatannya, tapi gue ngeliat itu, definisi itu, ketika dengan lembut ibu Haruki mulai mengenggam telapak tangan Nae. Nae membalasnya dengan lembut. Dia juga udah ngga kuat ngebendung rongrongan air mata haru. Dan, setelah kita berempat melepaskan perasaan yang tertahan, berlembar-lembar tisu kita cabut, usap, dan buang, sampailah gue dan Nae.

Di balik pintu ini, entah ada apa di baliknya, kabar baik atau buruk,

mereka bernama harapan.

Spoiler for anjir sob:
0
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.