- Beranda
- Stories from the Heart
that's what friends are for
...
TS
kabelrol
that's what friends are for
Spoiler for pembuka:
Spoiler for sampul:
Pesan whatsapp itu datang begitu saja,
Quote:
Tangan gue masih perih karena kejadian di pagi kemarin itu, kalo dirasa, perihnya hati gue lebih kerasa ketimbang tinju yang ngga dipake 10 tahun lebih buat nonjok orang lagi. Meski gitu, gue tetep berkeinginan untuk bales pesan itu.
"Sini aja, Nae,"
"Oke, gue emang udah di jalan, sih. Paling sepuluh menit sampe di tempat lo,"
centang biru. Gue nyengir aja. Itu bocah emang belum berubah terlalu banyak, kecuali ada gelar dokter yang baru dia dapet di depan namanya. Gue lihat profil kontak whatsappnya. Nae beneran ngga berubah, tidak ada juga perubahan pada warna rambut. Gue berdiri, ngeliat kaca, dan nyisir rambut pake tangan. Gue ganti celana dan baju. Gue berantakan banget, untung Nae dateng. Kalo ngga, bisa sepuluh hari dalam kondisi bau gitu, gue masih betah
Bener aja, ngga lama, ada yang ngetok pintu di lantai bawah--ya, iyalah, kalo ngetoknya di pintu lantai atas, ngeri amat, sob 
"Assalamu'alaikum,"
suaranya, sih, Nae, yang menyeru salam di bawah. Gue balas salamnya sembari lari ke bawah. Gue sendiri lagi di rumah kali ini, semua orang lagi jaga toko di toko pojokan itu. Gue absen ke orang rumah gue ngga bisa partisipasi jaga toko beberapa hari ini. Alasan gue, sih, masuk angin. Padahal, mah, justru badan gue lagi 'kosong' banget. Air mata ngosongin badan gue banget. Tsaah~
"Masuk, Bu Dokter!"
"Gue udah masuk, Mbel. Buset, berantakan amat lo, Har?"
"Yah, begitulah," gue cuma tersenyum kecut. Gue ngga beralasan nyinyir seperti, gue mah bukan dokter, jadi ngga wajib selalu bersih--padahal mah emang dasarnya aja gue jorok

"mana Haruki?"
Aah.. akhirnya pertanyaan itu pecah juga, keluar.
"Duduk dulu, Nae. Mau minum apa?" dan akhirnya kita berbasa-basi sejenak. Gue jadi punya waktu untuk nyiapin kata terbaik apakah yang akan mewakili rentetan kejadian sejauh ini--sudah terlalu jauh

"Har, apa perlu gue tanya sekali lagi? Mana Haruki?"
dr.Nae sepertinya menangkap gejala ngga beres dari gue. Sebab, apdetan medsos gue waktu itu, terakhir soal gue sama Haruki EO-in kateringnya perkimpoian Widya (
)"Dia udah pulang, Nae"
"Gue ngga yakin, Har, kalo Haruki cuma sekadar 'pulang' aja. Pasti ada yang harus lo ceritain ke gue,"
Ternyata, waktu basa-basi dan ngambilin minuman barusan tadi ngga cukup ngasih waktu gue untuk cari kata terbaik untuk memulai percurhatan ini

"Yaah.. jadi gini nae...
Spoiler for sekilas cerita sebelumnya:
...gitu, Nae.."
mata dr. Nae terlihat simpatik mendengar kisah yang belibet barusan.
"Widya kimpoi?" --gue ngangguk.
"Haruki ....?" --gue ngangguk lagi.
"Lo ngenes banget, Har..," --gue tersenyum kecut, sembari ngangkat bahu. Nasib gue begini kali.
"Terus, sekarang lo mau gimana, Har?" --gue tersenyum kecut lagi, ngangkat bahu lagi. Gue masih bingung, lebih tepatnya kaget sih. Nae mendesah perlahan, dia gigit bibir bawahnya. Keknya Nae semacam gemes dengerin cerita gue.
"Gue tanya balik sama lo, Nae. Kalo lo di posisi gue, apa yang lo lakukan?"
"Gue bakal nyari Haruki sampe dapet, ngga perduli gimana,"
Jeder! seakan ada durian jatuh di ubun-ubun gue. Yap, jawabannya emang sesimpel itu, tapi tentu dengan banyak ganjelan.
"Untuk apa? Toh, dia udah ada Farhan. Farhan pasti bisa ngelindungi Haruki,"
"Muka lo! Lo percaya sama Farhan, heh? Bukannya lo tau gimana Farhan?"
Jeder lagi! gue teringat bagaimana Widya nyiram pake air kola Farhan dan Nurul--sahabatnya Widya sendiri, di malam itu, di depan muka gue sendiri. Tapi, gue masih berusaha membebal.
"Waktu itu masih cinta monyet, jaman SMA, sekarang udah berubah kali,"
"bodoh! Kalo gitu, pertanyaannya gue inverse, bukannya lo ngga tau gimana Farhan?"
Lagi-lagi jeder lagi! Ya, gue tau Farhan, justru karena itu gue harus khawatir. Ya, justru gue ngga tau gimana Farhan sebenernya, karena itu gue harus lebih-lebih khawatir banget.
"Har, kejar, Har!"
"Gue harus gimana?"
"Lo dateng wisuda dan sumpah dokter gue, ya. Sampe itu, gue bantu lo," terus Nae kasih tanda 'V' dengan jari dan jari tengahnya ke depan muka gue, "dua bulan, lo harus cari ongkos ke kampus gue selama waktu ini buat ngehadirin wisuda gue,"
"kampus lo itu... siang di kampus gue, malem di kampus lo, kan?"
Nae ngangguk, dengan mantap. Gue neguk ludah sendiri. Gue coba ngitung-ngitung.. pasti ongkosnya lebih mahal ketimbang waktu Haruki ngongkosin gue nemenin dia mudik ketemu saudara kembarnya di kampung halamannya itu.. Bukan, bukan di Ciracas...
Quote:
Polling
0 suara
siapa yang punya tujuan paling jujur?
Diubah oleh kabelrol 09-12-2015 00:47
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
67.7K
320
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kabelrol
#7
dimana Haruki?
pertanyaan itu simpel tapi ngejawabnya ngga sesimpel itu. Dimana Haruki? Harus dari mana gue mulai nyari dia?
Gue ngga bisa nyari Haruki ke rumahnya, dia udah diusir sama emak-bapaknya karena kesalahannya itu.
Gue ngga bisa nyari ke kampusnya, Haruki udah lulus lumayan lama.
Gue ngga bisa nyari ke kantornya, Haruki udah sign-out gegara kesalahannya itu.
Gue ngga tau siapa orang terdekat Haruki, kecuali Novi. Ya, Novi.
Lucunya, gue kenal Novi jauh sebelum gue tau Novi deket sama Haruki. Kilasan dari cerita sebelumnya, gue kenal Novi waktu gue ada perjalanan terbang ke suatu pulau. Senyum pramugari yang biasanya senyum (atau ngga senyum) ke setiap penumpang menjadi lebih berkesan ketika mbak-mbak yang mirip vokalis wsatcc itu cekikikan liat gue yang pake topeng kuda
Lucunya lagi, beberapa kali gue punya perjalanan ke pulau itu, gue selalu naik pesawat yang beda tapi dengan salah satu kru udara yang sama, ya, Novi itu. Waktu itu, gue tau naman Novi dari papan nama di dadanya di seragam hijaunya itu. Waktu itu, gue ngga dikenal sama dia, lha, gue mah cuma penumpang kelas ekonomi
Kita ngga saling mengenal waktu itu, sebenernya, kecuali papan nama dan topeng kuda. Ya, gue dipanggil 'mas kuda' sama Novi.
Bahkan, ketika gue diajak nemenin Haruki mudik ke kampung halamannya, bukan Ciracas
, ketika gue nurunin barang bawaan dari bagasi bus yang bawa kita ke bandara, ketika secara ngga sengaja gue sama Haruki amprokan sama Novi, ketika Novi dan Haruki saling heboh melepas rindu, Novi bilang, "Eh, mas kuda...," 
Ngomong-ngomong, Haruki yang ngga bisa sembarang deket sama sembarang orang itu punya alasan gimana dia bisa deket sama orang, bahkan orang yang baru kenal beberapa menit.
1. orang itu punya warna yang aneh, contohnya gue. Yah, entahlah penjelasan umumnya, kalo penjelasan Haruki sih, orang-orang dengan warna yang 'aneh', Haruki bisa deket dengan mereka. Gue salah satunya. Contoh orang yang lain adalah Aul, sahabat gue semasa SD yang udah meninggal gegara asma
2. orang yang mengakui saudara kembarnya Haruki, namanya Yuki. Dia udah lama meninggal, tapi karena suatu hal, Haruki yakin Yuki masih ada dan selalu disampingnya
. Gue bukan termasuk orang nomer 2 ini, gue ngga mengakui itu Haruki. Gue selalu bilang, itu sesuatu yang menyerupai Haruki. Masalahnya, Farhan si lelaki sial itu mengakui Yuki--entah dia bisa liat beneran atau itu cuma akal-akalannya aja untuk mendapat pengakuan Haruki. Cih.
Nah, gue ngga ngerti nih kalo Novi masuk ke kategori yang mana, mungkin, Novi masuk di kategori nomer 3 yang gue belum tau.
Medsos emang bahanya bener. Dari hasil kepo medsos Haruki--apdetan terakhirnya di perkimpoiannya Widya, gue dapet medsosnya Novi. Aih, Novi emang pantes keterima jadi kru kabin pesawat telep... eh, udara
. Dia tinggi lagi ramping, itu belum termasuk mukanya yang imut-imut mirip mbak Sari waytsus 
Nah, gue ketemu masalah pertama sob. Novi gembok semua medsosnya. Gue harus punya waktu untuk nunggu Novi nerima semua permintaan pertemanan gue ke dia. Tapi, gue punya satu keuntungan, terakhir, Haruki ngapdet sambil ngetag gue dan Novi nge-frown apdetan itu. Barangkali, karena waktu itu gue pake topeng kuda
Yap, semoga dengan ini Novi sadar akan keberadaan gue dan semoga dia ngga sadar, gue punya suatu maksud tetiba ngedeketin medsosnya. Gue berharap Haruki ngga ngeblok duluan Novi untuk ngga berhubungan sama gue, ketika suatu saat gue akan melakukannya. Yah, pokoknya coba dulu aja, ribet amat lo, Har.
Gue menghela napas panjang, gue ngga punya alternatif solusi lain.
"gimana, Har? ketemu?"
"Ketemu, sih, ketemu, tapi ya gitu, Nae, gue mesti nunggu Novi accept friend request dari gue,"
"solusi lain?"
"beluman ada,"
"Gue ada,"
"Apaan?"
Nae ngambil beberapa koran di laci meja tamu,
"Har, lo ada kotak sepatu bekas?"
"Ada? kenapa?"
"Mana? siniin,"
Gue enggan bertanya dulu, gue langsung ke kamar belakang, singkat cerita, semua permintaan Nae sudah ada di depannya. Gue mulai paham ketika dia minta gunting, selotip, dan bungkus kado motif batik. Gue berharap jangan.. jangan, dong... jangan...
"Kita nyamar jadi tukang paket aja, nganter ini ke rumah Farhan, kita mulai cari info dari sana,"
Gue tepok jidat. Nah, bener, kan si gembel sok ide ini
"atau lo pilih, gue yang nyamar jadi mantannya Farhan, bilang ke orang tuanya gue minta pertanggung jawabannya,"
wanjiiiiiir, ini bocah belajar apa deh semasa kuliah
gue ngakak-ngakak. anjir, dari matanya, sih, si Nae serius banget sama rencana A dan rencana B-nya ini.
"jadi, pilih, Har"
"Nanti sorelah, siang begini mah rumahnya masih kosong paling,"
"Har, Har, muka gue udah kuyu belum?"
gue ngeliatin muka bocah yang super niat ini. Emang, keknya, si Nae ini salah kaprah soal ambil jurusan, dia harusnya ngga ngambil kedokteran kemaren itu, harusnya dia ambil jurusan sandi negara gitu
Kalo kondisinya gini, gue jadi inget ketika gue sama Nae, waktu jaman kelas 2 SMA, melakukan hal yang hampir sama. Diam-diam sembunyi di belokan rumah seseorang buat ngawasin rumah itu. Kalo dipikir, kebiasaan ini muncul ketika gue SD sih
waktu itu, gue ajak Aul untuk 'ngintai' rumah Fitri
kecengan semasa SD dulu
ketika SMA, gue sama Nae 'ngintai' rumah Nisa, kecengan gagal karena ketololan gue
ketika bulan kemaren itu, gue sama Nae 'ngintai'.... rumah cowok
Kali ini, di depan rumah Farhan. Bukan ngga mungkin, gue terlalu jauh mikirin kemungkinan yang ada sementara Haruki ngga jauh dari tempat gue, yaitu di rumah suami (maksa)-nya itu.
Info soal rumah Farhan gue dapet dari buku tahunan dan untuk sampe kesini ngga bisa sekali langkah aja. Cih. Alamat Farhan udah beda sama yang kecantum di buku tahunan SMP. Gue harus muter nyari temen di smansa dulu. Masalahnya lagi, temen gue dari smansa pada kerja di luar kota gue ini. Nae berperan disini, dia bisa tau aja temennya anak smansa--sekolahnya Farhan dulu--yang masih di kota gue, cewek, udah kimpoi, dan udah punya anak.
Awkward moment terjadi disini. Kenapa begitu, ya, kenapa harus, kenapa harus Aci yang jadi temennya Nae, masih di kota gue, cewek, udah kimpoi, dan udah punya anak, sehingga dia bisa siap kapan aja ketika ditanya rumah Farhan dimana sesuai buku tahunan.
"Nae, ngga mungkin Aci,"
"Kenapa emang, Har?"
"Eh..."
"...ya, kan aneh aja kalo tiba-tiba lo nelpon dia terus minta alamatnya Farhan,"
"siapa bilang gue mau nelpon dia? gue mau ke rumahnya langsung kok,"
WANJIR WANJIR WANJIR
ngga mungkin banget gue ikut Nae, terus cecengiran waktu Nae-Aci ketemu setelah sekian lama dan cipika-cipiki. Aci bakal nanya sok ngga kenal gitu, "eh, siapa, nih, Nae?" Nae bakal jawab, "Ah, bukan apa-apa, gue nemu pas di perjalanan kesini". eh, ngga gitu juga sih. Tapi, intinya gue ngga punya muka bangetlah ketemu Aci dengan keturunannya itu
Tapi, kalo gue terus nolak, Nae bakalan curiga kenapa gue menghindar. Akhirnya, cerita ini mundur sebentar, dari "har, muka gue udah kuyu belum?" jadi ke "har, lo kenapa gelisah gitu dah dari tadi? kebelet e*k ya?"
"iya," --anjir gue jawab asal aja. Yah, gue ngga mau keliatan gelisah gue di perjalanan yang hampir sampe rumah Aci sebentar lagi ini karena gue ngga punya muka ketemu Aci, setelah sekian lama.
"Ya, udah, nanti numpang e*k di rumah Aci aja,"
WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR
dan Nae serius banget. Gue yang gelisahnya makin jadi, dalam 10 menit, kita udah di depan pager rumah Aci, Nae-Aci cipika-cipiki, Aci ngga mengindahkan atau memilih nyuekin gue pas itu, terus Nae sok-sokan manja sama anaknya Aci, dan muka gue makin pucet. Pucetnya muka itu malah makin kampret.
"Eh, Ci, kenalin, nih, temen gue, sebelum kenalan, dia boleh numpang ke kamar mandi dulu ngga? Dia mules banget, tuh"
Nae kayaknnya ngga tau gue kenal sama Aci. Aci ngeliatin gue dari atas ke bawah. Dengan tatapan yang "oh, elo? masih idup lo?"
terus bilang,
"Oh, ya, silakan, kayaknya udah kebelet banget, ya, Mas?"
Gue cuma mendehem kaku terus ngangguk dan tanpa ditunjukkin jalannya, tanpa bertanya, gue cari sendiri kamar mandinya. Anjir, makin keliatan gue kebelet boker--padahal ngga--karena gue nyari tempat pembuangan berdasarkan insting
di kamar mandi, gue nyebut berkali-kali: WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR
berhubung di tempat najis kan ngga boleh dzikir sob 
selama di kamar mandi, ada beberapa suara ketawa dari ruangan depan. Keknya dua orang itu lagi ngomongin gue deh

10 menit, berasa cukup, gue ngga mau disangka, "keknya keluarnya gede banget, ya, Har? berapa kilo? lama bener, hahahahaha" Selama 10 menit itu, kalo gue pas keluar ini gue ketemu supervisor SDM perusahaan shampo, gue bakal lolos kualifikasi banget jadi orang lab yang nguji komposisi produk. 10 menit waktu yang cukuplah buat ngapalin ramuan sampo itu terbuat dari apa aja
10 langkah menuju ruang tamu sungguh sangat berarti sob. Setiap langkah kanan adalah takbir, setiap langkah kiri adalah istigfar.
tengsin abis njir. Dan, akhirnya gue sampe juga di ruang tamu itu. Hal yang gue benci adalah Nae duduk ngadep ke arah gue dateng dan Aci yang diseberangnya pasti ngebelakangin arah gue dateng. Muka Nae yang respon akan kedatangan gue dan badan Aci yang ngebalik untuk konfirmasi berubahnya air muka Nae itu yang luar bi(n)asa. Malesin banget.
"Eeh, ternyata lo kenal Aci, ya, Har?"
Di sepersekian detik itu, gue sempet ngeliat mukanya Aci yang anaknya lagi di pangkuan Nae. Mukanya bilang, "KENAL BANGET. GUE NGGA AKAN LUPA ORANG YANG NOLAK GUE"
Gue cuma ngangguk sambil senyum maksa dan cengegesan. "Gue juga ngga tau lo berdua saling kenal." -- gue mencoba basa-basi.
"iya, temen se-SD kita mah," Aci coba respon dengan lembut. Rupanya, yang dari tadi itu cuma khayalan gue aja. Mungkin, karena sudah beranak, Aci jadi kebalikan apa yang barusan gue imajinasikan. Dia begitu keibuan dan seakan lupa sama kejadian pas pelajaran matematik waktu itu. Baginya, nembak itu ngga ada upil-upilnya. Guenya aja yang dari tadi ke-GR-an. Obrolan pun mengalir dengan enak. Gue udah bisa ketawa sekarang. Ah, paling di pikiran mereka berdua lagi seliweran, "kayaknya si Harsya sembelit 5 hari dan lega disini, alhamdulillah"

"Iya, Ci, jadi pinjem buku tahunan smansa dong,"
"boleh aja, gue ambil sebentar, ya,"
dan Aci pun dateng sambil ngedekap di dada buku tahunan sekolahnya,
"lo berdua mau kepo siapa sih?"
bangkek! si Aci tau aja nih
gue nyenggol Nae, kali ini tugasnya.
"Farhan, Ci. Dia ganteng banget, deh"
Aci ngakak, dari identifikasi singkat gue, gue tau kalo Aci tau (mampus lo bingung sob hahah) kita berdua ngeboong. Ngga mungkin banget hari gini ngecengin orang terus nyari datanya di buku tahunan. Emangnya, kita anak SMP? hahahahahaha
Tapi, Aci milih ngga terlalu musingin. Dia ngasih waktu kita untuk kepo. Dia ambil lagi anaknya dari pangkuan Nae dan pura-pura ngebobokin bayinya di kamar. Aci beneran dewasa banget--dalam arti ngga nanyain urusan kita lebih jauh. Dia dewasa banget, kalo kita sampe niat ngepoin seseorang di buku tahunan, di usia segini, pasti ada sesuatu yang penting. Aci super dewasa, kalo dia tanya untuk urusan apa kita berdua nyariin Farhan dan Nae jawabnya ngaco begitu, Aci semacam ngerti kalo kita sebenernya pengen bilang, "ehm, maaf, ini urusan yang bisa lo campurin gitu aja,"
sejujurnya gue terkesan dengan ke-dewasa-an Aci
Lima belas menit waktu yang dikasih Aci, sungguh cukup. Kita berdua udah dapet datanya Farhan. Gue sih berpikiran, kemungkinan Farhan masih pake nomer HP yang sama dari SMA kecil banget sob. Yah, yang penting dapet foto alamatnya dah. Lima belas menit cukup banget, sampe gue sempet ngecengin cewek-cewek smansa yang potensial banget
Aci datang dengan senyum di bibir. Ugh, coba aja dia belum bersuami dan beranak, pastilah.....
ngga gue apa-apain sih
dan setelah basa-basi di beberapa segi, gue sama Nae mohon diri. Sindiran Aci begitu terasa,
"nanti kalo udah ngga sibuk, main-main lagilah kesini,"
gue cuma nyengir aja, Nae juga begitu. Sindirannya begitu terasa...
dan cerita ini balik lagi,
"muka gue udah kuyu belum, Har?"
Ceritanya, gue dan Nae sudah di depan rumah Farhan versi buku tahunan SMA, semoga penghuninya belum ganti alamat...
Gue ngga bisa nyari Haruki ke rumahnya, dia udah diusir sama emak-bapaknya karena kesalahannya itu.
Gue ngga bisa nyari ke kampusnya, Haruki udah lulus lumayan lama.
Gue ngga bisa nyari ke kantornya, Haruki udah sign-out gegara kesalahannya itu.
Gue ngga tau siapa orang terdekat Haruki, kecuali Novi. Ya, Novi.
Lucunya, gue kenal Novi jauh sebelum gue tau Novi deket sama Haruki. Kilasan dari cerita sebelumnya, gue kenal Novi waktu gue ada perjalanan terbang ke suatu pulau. Senyum pramugari yang biasanya senyum (atau ngga senyum) ke setiap penumpang menjadi lebih berkesan ketika mbak-mbak yang mirip vokalis wsatcc itu cekikikan liat gue yang pake topeng kuda
Spoiler for kek gini nih sob:
Lucunya lagi, beberapa kali gue punya perjalanan ke pulau itu, gue selalu naik pesawat yang beda tapi dengan salah satu kru udara yang sama, ya, Novi itu. Waktu itu, gue tau naman Novi dari papan nama di dadanya di seragam hijaunya itu. Waktu itu, gue ngga dikenal sama dia, lha, gue mah cuma penumpang kelas ekonomi
Kita ngga saling mengenal waktu itu, sebenernya, kecuali papan nama dan topeng kuda. Ya, gue dipanggil 'mas kuda' sama Novi.Bahkan, ketika gue diajak nemenin Haruki mudik ke kampung halamannya, bukan Ciracas
, ketika gue nurunin barang bawaan dari bagasi bus yang bawa kita ke bandara, ketika secara ngga sengaja gue sama Haruki amprokan sama Novi, ketika Novi dan Haruki saling heboh melepas rindu, Novi bilang, "Eh, mas kuda...," 
Ngomong-ngomong, Haruki yang ngga bisa sembarang deket sama sembarang orang itu punya alasan gimana dia bisa deket sama orang, bahkan orang yang baru kenal beberapa menit.
1. orang itu punya warna yang aneh, contohnya gue. Yah, entahlah penjelasan umumnya, kalo penjelasan Haruki sih, orang-orang dengan warna yang 'aneh', Haruki bisa deket dengan mereka. Gue salah satunya. Contoh orang yang lain adalah Aul, sahabat gue semasa SD yang udah meninggal gegara asma

2. orang yang mengakui saudara kembarnya Haruki, namanya Yuki. Dia udah lama meninggal, tapi karena suatu hal, Haruki yakin Yuki masih ada dan selalu disampingnya
. Gue bukan termasuk orang nomer 2 ini, gue ngga mengakui itu Haruki. Gue selalu bilang, itu sesuatu yang menyerupai Haruki. Masalahnya, Farhan si lelaki sial itu mengakui Yuki--entah dia bisa liat beneran atau itu cuma akal-akalannya aja untuk mendapat pengakuan Haruki. Cih.Nah, gue ngga ngerti nih kalo Novi masuk ke kategori yang mana, mungkin, Novi masuk di kategori nomer 3 yang gue belum tau.
Medsos emang bahanya bener. Dari hasil kepo medsos Haruki--apdetan terakhirnya di perkimpoiannya Widya, gue dapet medsosnya Novi. Aih, Novi emang pantes keterima jadi kru kabin pesawat telep... eh, udara
. Dia tinggi lagi ramping, itu belum termasuk mukanya yang imut-imut mirip mbak Sari waytsus 
Nah, gue ketemu masalah pertama sob. Novi gembok semua medsosnya. Gue harus punya waktu untuk nunggu Novi nerima semua permintaan pertemanan gue ke dia. Tapi, gue punya satu keuntungan, terakhir, Haruki ngapdet sambil ngetag gue dan Novi nge-frown apdetan itu. Barangkali, karena waktu itu gue pake topeng kuda
Yap, semoga dengan ini Novi sadar akan keberadaan gue dan semoga dia ngga sadar, gue punya suatu maksud tetiba ngedeketin medsosnya. Gue berharap Haruki ngga ngeblok duluan Novi untuk ngga berhubungan sama gue, ketika suatu saat gue akan melakukannya. Yah, pokoknya coba dulu aja, ribet amat lo, Har.Gue menghela napas panjang, gue ngga punya alternatif solusi lain.
"gimana, Har? ketemu?"
"Ketemu, sih, ketemu, tapi ya gitu, Nae, gue mesti nunggu Novi accept friend request dari gue,"
"solusi lain?"
"beluman ada,"
"Gue ada,"
"Apaan?"
Nae ngambil beberapa koran di laci meja tamu,
"Har, lo ada kotak sepatu bekas?"
"Ada? kenapa?"
"Mana? siniin,"
Gue enggan bertanya dulu, gue langsung ke kamar belakang, singkat cerita, semua permintaan Nae sudah ada di depannya. Gue mulai paham ketika dia minta gunting, selotip, dan bungkus kado motif batik. Gue berharap jangan.. jangan, dong... jangan...
"Kita nyamar jadi tukang paket aja, nganter ini ke rumah Farhan, kita mulai cari info dari sana,"
Gue tepok jidat. Nah, bener, kan si gembel sok ide ini

"atau lo pilih, gue yang nyamar jadi mantannya Farhan, bilang ke orang tuanya gue minta pertanggung jawabannya,"
wanjiiiiiir, ini bocah belajar apa deh semasa kuliah
gue ngakak-ngakak. anjir, dari matanya, sih, si Nae serius banget sama rencana A dan rencana B-nya ini."jadi, pilih, Har"
"Nanti sorelah, siang begini mah rumahnya masih kosong paling,"
****
"Har, Har, muka gue udah kuyu belum?"
gue ngeliatin muka bocah yang super niat ini. Emang, keknya, si Nae ini salah kaprah soal ambil jurusan, dia harusnya ngga ngambil kedokteran kemaren itu, harusnya dia ambil jurusan sandi negara gitu

Kalo kondisinya gini, gue jadi inget ketika gue sama Nae, waktu jaman kelas 2 SMA, melakukan hal yang hampir sama. Diam-diam sembunyi di belokan rumah seseorang buat ngawasin rumah itu. Kalo dipikir, kebiasaan ini muncul ketika gue SD sih
waktu itu, gue ajak Aul untuk 'ngintai' rumah Fitri
kecengan semasa SD dulu
ketika SMA, gue sama Nae 'ngintai' rumah Nisa, kecengan gagal karena ketololan gue
ketika bulan kemaren itu, gue sama Nae 'ngintai'.... rumah cowok
Kali ini, di depan rumah Farhan. Bukan ngga mungkin, gue terlalu jauh mikirin kemungkinan yang ada sementara Haruki ngga jauh dari tempat gue, yaitu di rumah suami (maksa)-nya itu.Info soal rumah Farhan gue dapet dari buku tahunan dan untuk sampe kesini ngga bisa sekali langkah aja. Cih. Alamat Farhan udah beda sama yang kecantum di buku tahunan SMP. Gue harus muter nyari temen di smansa dulu. Masalahnya lagi, temen gue dari smansa pada kerja di luar kota gue ini. Nae berperan disini, dia bisa tau aja temennya anak smansa--sekolahnya Farhan dulu--yang masih di kota gue, cewek, udah kimpoi, dan udah punya anak.
Awkward moment terjadi disini. Kenapa begitu, ya, kenapa harus, kenapa harus Aci yang jadi temennya Nae, masih di kota gue, cewek, udah kimpoi, dan udah punya anak, sehingga dia bisa siap kapan aja ketika ditanya rumah Farhan dimana sesuai buku tahunan.
"Nae, ngga mungkin Aci,"
"Kenapa emang, Har?"
"Eh..."
Quote:
"...ya, kan aneh aja kalo tiba-tiba lo nelpon dia terus minta alamatnya Farhan,"
"siapa bilang gue mau nelpon dia? gue mau ke rumahnya langsung kok,"
WANJIR WANJIR WANJIR

ngga mungkin banget gue ikut Nae, terus cecengiran waktu Nae-Aci ketemu setelah sekian lama dan cipika-cipiki. Aci bakal nanya sok ngga kenal gitu, "eh, siapa, nih, Nae?" Nae bakal jawab, "Ah, bukan apa-apa, gue nemu pas di perjalanan kesini". eh, ngga gitu juga sih. Tapi, intinya gue ngga punya muka bangetlah ketemu Aci dengan keturunannya itu

Tapi, kalo gue terus nolak, Nae bakalan curiga kenapa gue menghindar. Akhirnya, cerita ini mundur sebentar, dari "har, muka gue udah kuyu belum?" jadi ke "har, lo kenapa gelisah gitu dah dari tadi? kebelet e*k ya?"
"iya," --anjir gue jawab asal aja. Yah, gue ngga mau keliatan gelisah gue di perjalanan yang hampir sampe rumah Aci sebentar lagi ini karena gue ngga punya muka ketemu Aci, setelah sekian lama.
"Ya, udah, nanti numpang e*k di rumah Aci aja,"
WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR

dan Nae serius banget. Gue yang gelisahnya makin jadi, dalam 10 menit, kita udah di depan pager rumah Aci, Nae-Aci cipika-cipiki, Aci ngga mengindahkan atau memilih nyuekin gue pas itu, terus Nae sok-sokan manja sama anaknya Aci, dan muka gue makin pucet. Pucetnya muka itu malah makin kampret.
"Eh, Ci, kenalin, nih, temen gue, sebelum kenalan, dia boleh numpang ke kamar mandi dulu ngga? Dia mules banget, tuh"
Nae kayaknnya ngga tau gue kenal sama Aci. Aci ngeliatin gue dari atas ke bawah. Dengan tatapan yang "oh, elo? masih idup lo?"
terus bilang,"Oh, ya, silakan, kayaknya udah kebelet banget, ya, Mas?"
Gue cuma mendehem kaku terus ngangguk dan tanpa ditunjukkin jalannya, tanpa bertanya, gue cari sendiri kamar mandinya. Anjir, makin keliatan gue kebelet boker--padahal ngga--karena gue nyari tempat pembuangan berdasarkan insting
di kamar mandi, gue nyebut berkali-kali: WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR
berhubung di tempat najis kan ngga boleh dzikir sob 
selama di kamar mandi, ada beberapa suara ketawa dari ruangan depan. Keknya dua orang itu lagi ngomongin gue deh

10 menit, berasa cukup, gue ngga mau disangka, "keknya keluarnya gede banget, ya, Har? berapa kilo? lama bener, hahahahaha" Selama 10 menit itu, kalo gue pas keluar ini gue ketemu supervisor SDM perusahaan shampo, gue bakal lolos kualifikasi banget jadi orang lab yang nguji komposisi produk. 10 menit waktu yang cukuplah buat ngapalin ramuan sampo itu terbuat dari apa aja

10 langkah menuju ruang tamu sungguh sangat berarti sob. Setiap langkah kanan adalah takbir, setiap langkah kiri adalah istigfar.
tengsin abis njir. Dan, akhirnya gue sampe juga di ruang tamu itu. Hal yang gue benci adalah Nae duduk ngadep ke arah gue dateng dan Aci yang diseberangnya pasti ngebelakangin arah gue dateng. Muka Nae yang respon akan kedatangan gue dan badan Aci yang ngebalik untuk konfirmasi berubahnya air muka Nae itu yang luar bi(n)asa. Malesin banget."Eeh, ternyata lo kenal Aci, ya, Har?"
Di sepersekian detik itu, gue sempet ngeliat mukanya Aci yang anaknya lagi di pangkuan Nae. Mukanya bilang, "KENAL BANGET. GUE NGGA AKAN LUPA ORANG YANG NOLAK GUE"
Gue cuma ngangguk sambil senyum maksa dan cengegesan. "Gue juga ngga tau lo berdua saling kenal." -- gue mencoba basa-basi.
"iya, temen se-SD kita mah," Aci coba respon dengan lembut. Rupanya, yang dari tadi itu cuma khayalan gue aja. Mungkin, karena sudah beranak, Aci jadi kebalikan apa yang barusan gue imajinasikan. Dia begitu keibuan dan seakan lupa sama kejadian pas pelajaran matematik waktu itu. Baginya, nembak itu ngga ada upil-upilnya. Guenya aja yang dari tadi ke-GR-an. Obrolan pun mengalir dengan enak. Gue udah bisa ketawa sekarang. Ah, paling di pikiran mereka berdua lagi seliweran, "kayaknya si Harsya sembelit 5 hari dan lega disini, alhamdulillah"

"Iya, Ci, jadi pinjem buku tahunan smansa dong,"
"boleh aja, gue ambil sebentar, ya,"
dan Aci pun dateng sambil ngedekap di dada buku tahunan sekolahnya,
"lo berdua mau kepo siapa sih?"
bangkek! si Aci tau aja nih
gue nyenggol Nae, kali ini tugasnya."Farhan, Ci. Dia ganteng banget, deh"
Aci ngakak, dari identifikasi singkat gue, gue tau kalo Aci tau (mampus lo bingung sob hahah) kita berdua ngeboong. Ngga mungkin banget hari gini ngecengin orang terus nyari datanya di buku tahunan. Emangnya, kita anak SMP? hahahahahaha
Tapi, Aci milih ngga terlalu musingin. Dia ngasih waktu kita untuk kepo. Dia ambil lagi anaknya dari pangkuan Nae dan pura-pura ngebobokin bayinya di kamar. Aci beneran dewasa banget--dalam arti ngga nanyain urusan kita lebih jauh. Dia dewasa banget, kalo kita sampe niat ngepoin seseorang di buku tahunan, di usia segini, pasti ada sesuatu yang penting. Aci super dewasa, kalo dia tanya untuk urusan apa kita berdua nyariin Farhan dan Nae jawabnya ngaco begitu, Aci semacam ngerti kalo kita sebenernya pengen bilang, "ehm, maaf, ini urusan yang bisa lo campurin gitu aja,"
sejujurnya gue terkesan dengan ke-dewasa-an Aci
Lima belas menit waktu yang dikasih Aci, sungguh cukup. Kita berdua udah dapet datanya Farhan. Gue sih berpikiran, kemungkinan Farhan masih pake nomer HP yang sama dari SMA kecil banget sob. Yah, yang penting dapet foto alamatnya dah. Lima belas menit cukup banget, sampe gue sempet ngecengin cewek-cewek smansa yang potensial banget
Aci datang dengan senyum di bibir. Ugh, coba aja dia belum bersuami dan beranak, pastilah.....ngga gue apa-apain sih

dan setelah basa-basi di beberapa segi, gue sama Nae mohon diri. Sindiran Aci begitu terasa,
"nanti kalo udah ngga sibuk, main-main lagilah kesini,"
gue cuma nyengir aja, Nae juga begitu. Sindirannya begitu terasa...
dan cerita ini balik lagi,
"muka gue udah kuyu belum, Har?"
Ceritanya, gue dan Nae sudah di depan rumah Farhan versi buku tahunan SMA, semoga penghuninya belum ganti alamat...
pulaukapok memberi reputasi
1
Tutup
Buat pembaca yang baru pertama kenal, salken sob
semoga berkesan curhatan gue yang ini
zumpah, ane zuzur ngga nyangka bakal dapet sambutan sebegitu bagusnya 


