- Beranda
- Stories from the Heart
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)
...
TS
masternagato
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)
Bissmillah.
Assalamualaikum.
Nb: kontak bbm berubah: 5AB07E99
Wa:08128886670
Line:
@masternagato
mas ter nagato proudly Present
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
DISCLAIMER
1. sangat dianjurkan mencopy dan memperbanyak. Share kepada dunia tulisan busuk ini! (kayanya lebay banget sih?)
Ijin atau tanpa seijin dari penulis (buat ane sah-sah aje)
pelanggaran hak cipta akan dikenakan sanksi sesuai dengan hati nurani lau sendiri.
.
2. Kisah dalam cerita ini adalah fiksi belaka kalau ada kesamaan nama, tempat atau kejadian itu cuma kebetulan semata.
Selamat membaca tulisan busuk ini!
*******
Petunjuk arah baca HD
Kalo membaca tanda:
*******
Berarti pergantian waktu, bisa tempat, tokoh.
Atau bisa tokoh sama waktu dan tempat berbeda?
Bisa aja cuma di alam mimpi!
Kalo membaca tanda:
-------
Ini menandakan hari yang sama.
Bisa berbbeda waktu, berbeda tokoh, berbeda tempat, tapi tetap dihari yang sama.
Bisa juga menunjukan kelanjutan alur cerita!
*******
soudtrack: Eminem Not Afraid
Langsung update add line:
@masternagato
Pin bb: 5AB07E99
WhatsappBrother-sister
Jangan lupa

Bikin

sekalian


Atas saran berbagai pihak.
:Yang mau memberikan donasi seikhlasnya.

Untuk terwujudnya buku ini
Rekening bank btpn
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Rudi hermawan

sedikit sinobsis:
bersetting di tahun 2003.
Rudi kelas 2 SMA.
Masuk ke blackworl, drugs user tingkat dewa.
Menjadi drugs dealer.
Hidup penuh bling-bling,wanita.
Teman-teman yang mengelilingi karena uang.
Dengan time skip.
Rudi yang di tahun 2014.
Sudah berkeluarga,punya anak.
Hidup dengan kemiskinan,tanpa penglihatan,positif HIV?
*******
’HIV AIDS salah satu penyakit paling menakutkan.’
’penyakit kutukan’
’yang terkena tak tertolong!’
’sampah masyarakat’
’jauhi orang-orang sampah itu’
’tak ada obatnya!’
’pasti mati’
dan masih banyak lagi label stigma yang menempel!
Yang berpendapat sama dengan stigma di atas!
Monggo jangan di teruskan membaca.
Why..?
Guest what?
Yang nulis HIV+

jadi harus di jauhi.. Nanti ketularan.


warning 16+ only.

Minimal SMA kelas satu boleh lanjut baca, wajib malah!

"Ini nyata gan?"
"terserah.! Anggap aja fiksi"
HIV (Human Immunodeficiency Virus)
AIDS (Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome)
ane nulis ini biar bro-sis mikir sejuta kali!
Untuk tenggelam di blackworl,sex,drugs.
Dan buat yang sudah terkena!
Bangun! Bangkit! Kembalikan warna hidup lo sebelumnya.
Gak ada yang mau bertemen ama lo?
Minder?
Sekeliling lo penuh kepalsuan?
Takut? Trauma?
Sumpah demi Allah
Ane siap kapan aja jadi best friend forever!
Melewati semua cobaan yang ane anggap adalah pujian dari Allah
ane bukan siapa-siapa.
Cuma orang buta pengangguran kelas berat.
Bermodalkan laptop jadul dengan pembaca layar.
Dengan tetesan darah, dengan gerimis air mata.
Dengan sepenuh hati..
Berharap kejelekan ane jadi kebaikan lo.
Kesedihan ane menjadi kebahagiaan buat lo.
Salah langkahnya ane menjadi jalan buat lo.
Penyakit ane menjadi kesehatan buat lo.
"kenapa pemeran utamanya Rudi sama ama agan?"
"habis gak ada yang lebih bagus dari Rudi, yang lebih mahal banyak!"

harapan utama ane. Menurunkan tingkat HIV AIDS walaupun cuma beberapa %
setidaknya menghambat kecepatan tingkat HIV AIDS yang menggila setiap detiknya.
Harapan ke dua.
Tentu saja tulisan ini jadi sumber penghasilan ane!
Gak ada yang bisa ane lakuin selain nulis!
Setiap hari bini kerja nyari nafkah!
Bayangin perasaan ane yang cuma enak-enakan dirumah!
Asli mending tusuk ane gan.. Daripada ane ngerasain ini setiap hari.


stop!
Ane gak minta di kasihani.
Tapi ane berharap buat agan-sista bantuin nerbitin tulisan ane ini.
Kendala ane di modal gak ada!
Boro-boro buat publish keseharian ane juga susah.
Ngiklanin rumah buat modal di fjb.
Ampe capek nyundulnya belum ketemu jodohnya tuh rumah.
Entah kenapa ane yakin aja kalo ini jadi novel, pasti laris.

impianya sih kalo jadi novel.
Taruh di sekolahan, yayasan narkoba atau HIV AIDS.
Taruh dirumah sakit tempat HIV AIDS.
Kalo bisa di toko buku apalagi.
Yah cuma harapan.
Mudah-mudah dikabulkan allah, aamiin.
dan agan sista ada yang tertarik.
Apalagi dilirik penerbit.
"kenapa gak langsung ngirim ke penerbit gan?"
"karena tulisan ane,ane ngerasa berantakan perlu di poles.. Perlu ada yang ngeditorin.
Penerbit mana mau nerima tulisan mentah ane!"

"emang tulisanya udah tamat gan?"
"boro-boro,. Males-malesan nulisnya. Kalo ada yang nerbitin tuh! Baru semangat"
sebetulnya sih tokoh utamanya bukan cuma Rudi.
Banyak tokoh utama lainya.
Termasuk pembaca ane sebut tokoh utama juga disini.
cerita ini agan-sista
Bakal nemuin 3type orang HIV

Ini pakai pengamatan ane sendiri dan bahasa ane seadanya:
Jadi gak bakal ketemu kalo search di google.


1: saver: orang yang terkena HIV dan sadar akan HIVnya!
2. Invite: orang terkena HIV tapi dendam!
Dan membahayakan orang lain.
Menyebarkan HIV ke orang lain!
Biasanya faktornya adalah type invite ini terkena HIV tapi gak terima!
Masih bisa disadarkan type yang ini.
3. Zero: orang ini terkena HIV tapi ia gak tahu!
Ini yang paling berbahaya!
Ia gak tahu.
Yang terkena gak tahu!
Semua gak tahu.
Tahu-tahu pada kena HIV.
Sedikit saran dan percobaan buat agan-sista.
Supaya lebih bersyukur atas nikmat Allah
Kalo agan-sista di rumah sendiri.
Terserah mau malem boleh, siang juga boleh.
Coba lakuin kegiatan sambil di tutup pake apa aja matanya.
Sejam aja coba rasain.abis itu agan-sista renungin.
Seberapa nikmat Allah yang diberikan.
Banyak yang nyoba saran ane ini.
Nanti pandangan agan-sista berubah, setelah melakukan percobaan di atas.

Index setelah pariwara berikut ini:yang mau bergabung di FHD (fans hati malaikat darah iblis)
Invite pin: 5AB07E99
Mau memberikan donasi silakan
Rekening btpn.
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Atas nama Rudi hermawan
Call/sms/whatsapp:
08128886670
Update add line:
@masternagato
selamat membaca

HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
Mau membeli buku ini?
Mau memberikan donasi untuk membantu tulisan ini
:thubup
Menjadi novel


"apa yang didapetin kalo ngasih donasi gan?"
"gak ada! Ente dapet ucapan terimakasih sedalamnya dari lubuk hati ane!"

Mudah-mudahan dengan donasi gotong royong seikhlasnya.
Bisa menerbitkan tulisan busuk ane.
aamiin..
Bisa di bilang ini sumbangan lebih tepatnya kale

Rekening btpn.
Norek:
90010415858
Rudi hermawan.
DAFTAR ISI:
Update langsung ad line:
@masternagato
BAB1: KABUKI
BAB2 BAGIAN1: PENGANTIN KOPLAK
BAB2 BAGIAN2: PENGANTIN KOPLAK
BAB SIDE STORY: PENCARIAN SAHABAT 12 TAHUN
BAB3 BAGIAN1: TULISAN BERBICARA
BAB3 BAGIAN2: TULISAN BERBICARA
BAB4 BAGIAN1: OTAK MAFIA
BAB4 BAGIAN2: OTAK MAFIA
BAB5 BAGIAN1: PRODUK GAGAL
BAB5 BAGIAN2: PRODUK GAGAL
BAB6: SAVE HOUSE
BAB7: OTAK ATIK
BAB8: TEKAD BLENDER
BAB9 BAGIAN1: EMOTION
BAB9 BAGIAN2: EMOTION
BAB WARNING: WAJIB BACA
BAB WARNING: WAJIB BACA
BAB10: LATIHAN MEMBUNUH
BAB11 BAGIAN1: UNDER THE INFLUENCE
BAB11 BAGIAN2: UNDER THE INFLUENCE
BAB : warning2: galaw gak penting!
BAB12 BAGIAN1: CANDIED MANGO MISERABLE
BAB12 BAGIAN2: CANDIED MANGO MISERABLE
BAB13: NGENES AWARDS
BAB14: TULISANKU ATAU KELUARGAKU
BAB15 BAGIAN1: HEY MAN
BAB15 BAGIAN2: HEY MAN
update FHD16: koberlaw
BAB16 BAGIAN1: RIP
BAB16 BAGIAN2: RIP
BAB WARNING3: PETUNJUK ARAH
BAB17 BAGIAN1: LOVE NOTES FOR MY DRUGS
BAB17 BAGIAN2: LOVE NOTES FOR MY DRUGS
BAB18 BAGIAN1: POCONG VS KUNTILANAK
BAB18 BAGIAN2: POCONG VS KUNTILANAK
BAB19 BAGIAN1: FROZEN HEART
BAB19 BAGIAN2: FROZEN HEART
REHAT
BAB WARNING4: FHD LEGOWO
BAB20: MENGECOH HITUNGAN LANGIT
BAB21 BAGIAN1: BIG MOM
BAB21 BAGIAN2: BIG MOM
BAB22: SATU TITIK X SEPULUH=SEPULUH
BAB23 BAGIAN1: FOUR GODFATHER
BAB23 BAGIAN2: FOUR GODFATHER
BAB24 BAGIAN1: ROLLER HEARTS
BAB24 BAGIAN2: ROLLER HEARTS
BAB25: VIRGIN SEGAW
BAB26 BAGIAN1: MASIH HIJAU
BAB26 BAGIAN2: MASIH HIJAU
BAB27 BAGIAN1: FIRST JACKPOT
BAB27 BAGIAN2: FIRST JACKPOT
BAB28 BAGIAN1: FOR SENTIMENTAL REASON
BAB28 BAGIAN2: FOR SENTIMENTAL REASON
BAB28 BAGIAN3: FOR SENTIMENTAL REASON
video zamirah monster kecil
wait yo!
IN PROGRESS


Kontak:
WA: 08128886670
Pin bbm: 5AB07E99
line:
@masternagato
Twitter: @masternagato
Diubah oleh masternagato 24-03-2017 22:20
anasabila memberi reputasi
1
256.6K
1.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
masternagato
#1156
BAB28-2
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
BAB 28-2:
FOR SENTIMENTAL REASON
SUMBER:
www.masternagato.com
-------
Melihat Mika menggunakan kursi roda; ke dua kaki-tangan kiri, penuh balutan gips, tangan kanan memegang koran seolah itu nyawanya.
Rayung histeris, menjerit ngeri, bersimpuh memeluk kaki suaminya... Tapi pihak rumah sakit Cross begitu cekatan-tak-menyia-nyiakan-waktu-membawa masuk Mika ke dalam Ambulans.
Sepertinya mereka mendapat perintah tak tertulis, untuk membawa Mika secepatnya tanpa membuat pihak media mengendus kedatangan Mika.
Karena berita Mika sudah ada di koran pagi Buktif-Pos.
Rayung terlalu bingung untuk mengingat beberapa orang yang mengantar Mika: ada perwakilan Dubes Meksiko, ada wanita paruh baya dengan pakaian nyentrik--nyaris norak (menggunakan pakaian dengan warna terang permen aneka rasa) tapi wanita yang rada ling-lung ini ternyata pengacara Mika?
Yang tak bisa ia lupakan dua orang Meksiko bersetelan rapih--hanya mengawasi dari samping, dengan teliti mereka berdua mengamati proses pengangkutan Mika ke dalam Ambulans.
Memang semua tampak membingungkan? Tapi yang paling membuat Rayung frustasi tatapan Mika begitu dingin... Seperti bertemu dengan orang yang berbeda?
Rasa penasaran Rayung terjawab di dalam ambulans yang melaju cepat meninggalkan bandara diikuti dua mobil Volvo hitam di belakangnya.
Di belakang Ambulans mereka hanya berdua, Rayung memeluk kaki suaminya yang terbaring tak berdaya--masih dengan tatapan dingin, berharap kaki itu sembuh dengan pelukanya?
Mika menyodorkan gulungan koran; dari dalam koran meluncur Nokia N-gage QD... Rayung bingung memegang HP yang dalam posisi Real One Pllayer pada layar utamanya.
"Kamu nyalain Video itu..." kata Mika lembut-tatapan dingin.
Mendengar nada suara suaminya yang tak berubah? Hanya tatapanya yang sangat mengganggunya? Mungkin Mika stress dengan musibah ini? Batin Rayung sedih.
Video berdurasi dua puluh menit itu menampilkan: pasangan sedang bertarung mati-matian di atas kasur menggunakan jurus women on top.
Suara pertarungan yang memanas keluar bergabung dengan suasana ambulans yang melintas di kemacetan ibukota Millvia.
Rayung mau mengecilkan volume pertarungan...
"Jangan di kecilin volumenya... Biar begitu... Tonton sampai habis..." ucap Mika lembut-penuh sayang dalam balutan suaranya, hanya tetap menatap dingin.
Rayung mengangkat satu alis, berpikir? Apa Mika lagi horny? Ia membalas tatapan dingin Mika dengan senyuman menggoda.
Rayung membalikan hp, sedikit memiringkanya... Karena siapapun yang merekam pertarungan ini... Pasti secara diam-diam... Mungkin dengan HP? Dengan Handycam? Apapun alat perekamnya, posisi peletakan alat itu salah... Dasar amatir, maki Rayung membatin.
Wanita dalam pertarungan itu melonjak-lonjak, setiap loncatan bemper mendarat pada Patkwa (sesuai langkah dalam penjuru delapan persegi) yang tepat.
Dari belakang hanya terlihat rambut tergerai, punggung mulus... Serta processor yang menikam motherboard dengan Kiam-boh (rumus pedang) membabi-buta.
Kecepatan lelaki itu seakan ia adalah Kiam-bengcu (raja pedang)
Si wanita masih dengan jurus yang sama (women on top) tapi melakukan gerakan-gerakan bervariasi berusaha menaklukan Kiam-hoat (jurus pedang) lawanya; kadang lambat penuh tekanan mematikan... Kadang begitu cepat penuh perhitungan... Sebentar ia menggunakan aliran dari Butong-pay, sebentar dengan aliran Shaolin-pay, Hoasan-pay, Kunlun-pay.. Sebentar terselip gerakan Mo-kau (aliran sesat)... Sebentar dengan aliran campur sari?
Mungkin kalo ada Lo-cianpwe (pendekar kawakan) di tanya, wanita ini dari perguruan mana? Pasti ia akan menggeleng kebingungan.
Nafas Rayung memburu, wajah memanas, ia mulai terbawa pertarungan itu, menatap layar HP tak berkedip:
wanita itu menghentikan gerakanya... Apa ia mau mengganti jurus?--ternyata tidak.. Masih dengan jurus women on top.ia mencondongkan badan ke belakang... Ke dua tanganya memegang pergelangan kaki lawanya untuk menahan berat posisinya... Ia mulai bergerak lagi... Perlahan... Mengulang gerakan variasi yang sama... Hasilnya... Gerakan-sama-pose-berbeda. Tampaknya Kiam-tim (barisan pedang) lelaki itu akan hancur berantakan.
Wanita itu mengangkat tangan kiri, bertumpu dengan satu tangan--gerakan-tak-terhenti.
Ia mengumpulkan rambutnya yang tergerai, memutar-mutar-memilin menjadi satu-menyampirkan-rambut-di-depan-air-bag.
Tangan kirinya meremas air-bag yang diselimuti rambut--lelaki itu merasa ia mendapatkan serangan Em-gi (senjata rahasia) tak terduga, memancar dari air-bag... Lelaki itu kewalahan--sebentar lagi ia akan mati bersimbah darah kepuasan--mengeluarkan kepingan jiwanya dari processor.
Tanpa ampun wanita itu terus bergerak dengan posisi seperti itu... Lalu... Ia menengok kebelakang... Memperlihatkan wajahnya yang penuh kemenangan... Penuh nafsu membunuh... Tanpa dosa.... Hanya kepuasan... Lelaki itu sudah terkapar tak berdaya--seolah ia meminta ampun... Wanita itu menggigit bibir--gerakanya tak terkendali--secepatnya ingin menyusul kematian lawanya..
Dengusan nafas, entah jeritan kesakitan, entah pelepasan kepuasan kematian yang bahagia...
Suara pertarungan agak tereda, karena HP itu entah sejak kapan sudah terlepas dari tangan Rayung...
Kalo bisa ia mau membayar siapapun yang mau menggantikan posisinya saat ini... Apapun... Berapapun.... Segalanya akan ia berikan untuk mengubah semua ini menjadi mimpi.
Rayung sudah pucat, tangan yang gemetar menjalar kesuluruh tubuhnya.. Ia terisak tanpa suara, tak berani menatap suaminya.
Ia merasa hina... Seperti binatang... Seperti kotoran... Bahkan lebih hina lagi.
"Hebat kamu... Seharusnya kamu ke Meksiko, disana kamu lagi hits... Video kamu menyebar seperti wabah penyakit... Aku yakin... Kalo kamu kesana kamu bisa jadi artis dadakan..." ucap mika pelan, setiap kata merobek-robek Rayung.
"Aneh? Ya? Kamu liat badan kamu sendiri tapi gak kenal... Kamu denger suara sendiri tapi gak kenal... Sangking terlalu banyak... Tak terhitung... Jadi kamu gak ngenalin diri sendiri.."
"Ma... Ma... Maafin, aku. Mik.." sahut Rayung terbata, tak jelas, ingin rasanya ia mengubur diri hidup-hidup.
"Sebelum jemput aku... Kamu dari. Mana?" tanya Mika lembut.
"A... Aku dari rumah Mik.." gagap Rayung, keringat dingin.
Panasnya kota Millvia, kemacetan merayap, suasana gerah, sumpek, tercermin dimana-mana.
Hanya dalam ambulans itu menjadi neraka beku.
-------
pernah kamu berbuat salah?pernah!
Itu bagus, pelajaran terbaik adalah kita memperbaiki kesalahan.
Apakah kamu pernah melakukan kesalahan yang sama?
Pernah!
Inilah masalah sebenarnya.
Pernah kamu mengulangi kesalahan yang sama, di hari yang sama?
Pernah!
Inilah penyakit.
Pernah kamu melakukan kesalahan yang sama, menyesal, lalu mengulanginya dalam waktu lima detik?
Pernah!
Coba lihat dirimu? Kamu terombang-ambing di lautan lepas, menggunakan perahu kecil.
Di depanmu, begitu dekat dengan pulau kesalahan.
Dan kamu begitu jauh dengan allah.
Semoga kita semua tak terlempar ke dalam kerak neraka, aamiin.
Semoga rahmat allah selalu dalam langkah kita, beserta ridho Allah menyelimuti kita, aamiin.
Kejahatan tak pernah habis, kalo kita menutupi dosa dengan dosa.
Masya allah.
-------
Mika bersabar sebisa mungkin, berusaha memaafkan kesalahan istrinya.
Ia berpikir kenapa istrinya bisa melakukan kesalahan seperti itu? Pasti dirinya sendiri juga ikut andil, menyebabkan kesalahan itu bisa terjadi.
Ia masih penuh harapan, kalo istrinya terus berkata jujur, ia akan memaafkannya.
Tapi.... Begitu marahnya Mika, hingga kemarahanya bisa membuat sekelilingnya menjadi kawah penuh lahar yang menggelegak.
Baru beberapa detik lalu Rayung minta maaf? Belum hitungan menit, kembali berbohong.
Mika terkekeh sinis. Kini nada suaranya yang lembut berubah datar-tanpa perasaan, seolah ia tak mengenal wanita dihadapanya.
"Hebat... Aku baru tahu kamu kalo dirumah pake baju kaya gini... Baju kamu lebih cocok kalo ke tempat dugem... Ke hotel... Tapi kalo di rumah begini... Yang terpenting... Baju ini juga gak cocok buat jemput suami yang kecelakaan.... Yah... Kecuali nemuin suami orang, baju ini emang cocok... Pas..." jelas Mika datar-mengalun penuh kebencian.
Rayung tak bisa berkata-kata... Hanya terisak tanpa suara, ia merasa begitu bodoh, bisa-bisanya ia masih menggunakan baju sialan ini.
Mengutukki kebodohanya, ia teringat perkataan Vita, beberapa bulan lalu, ia masih ingat jelas Vita mengatakanya di telpon setelah keberangkatan terakhir Mika untuk berlayar.
“lo tau Ray, sebusuk-busuknya bangke lo umpetin pasti kecium baunya...
Well, gua sih gak setuju ama perumpamaan ini, menurut gua Ray, kalo lo nyimpen bangke, terus mika juga nyimpen bangke... Dugaan lo kan Mika maen cewek di laut! ... Tapi seandainya Mika, ternyata dia kerja bener, cuma ada lo dihatinya... Gua yakin Mika bakal dikasih jalan buat nyium kebusukan lo.”
Rayung menertawakan omongan Vita, menurutnya itu lelucon paling konyol yang pernah di ucapkan Vita seumur hidup pertemananya dari SMP.
Vita tak mengerti, ia menjual diri karena memang tak punya uang sama sekali... Sedangkan rayung segalanya ada, nafkah lahir batin lebih dari cukup. Kenapa Rayung masih tercemplung di bisnis lendir?
Rayung masih menguatkan alasannya, kenapa ia begini, karena Mika lebih lama di laut daripada di ranjang istrinya.
Kini... Menyesal.... Sudah terlambat.
Ia menimpakan semua kesalahanya karena Mika, padahal dirinyalah yang bermasalah.
"Kamu, gak perlu buang-buang air mata KW tiga kamu... Sekarang kamu denger cerita aku, kenapa aku bisa begini." ucap Mika, mengertak gigi.
Ia berharap setelah mendengar ceritanya, Rayung akan mati pelan-pelan.
*******
Aku bukanlah seorang guru, pengalamanku memberikanmu pelajaran? Aku tak peduli!
Sebut aku si sesat dari Timur-atau-si racun dari Barat!-; Terima kasih sudah memuji!
Mari sama-sama kita mengulang kalimat sihir ini:
YANG MENURUTMU BAGUS--BELUM TENTU BAIK.
Ulang sekali lagi. Lagi. Apa sihirnya bekerja....? Ulangi lagi, sambil memikirkan; apa yang kau harapkan malah menjatuhkanmu ke jurang.
Follow me yow:
YANG MENURUTMU BAGUS--BELUM TENTU BAIK.
Sudah? Lakukan lagi sebanyak delapan kali.
Masih belum merasakan sesuatu? Baik, silahkan ambil uang kalian kembali. Aku hanya bisa bilang:
Selamat terjebak dalam tulisan busuk ini.
*******
Ini moment yang kunanti-nantikan, makan bersama ayah-ibuku.
Lebih sering seperti ini? Betapa bahagianya aku!
Walaupun lebih mirip persidangan acara makan malam ini; aku sebagai terdakwa.
"kamu tuh apa-apaan sih? Pergi ke hotel Astral? Ngajak cewek mandi bareng? Siapa tuh cewek namanya? Rina? Tuh cewek juga masih SMP kan! Ya allah Rudi! Kamu tuh masih SMP! Bisa-bisanya ngelakuin perbuatan kaya gitu!" kata Ayu frustasi; menghentikan gerakan sendok dan garpu-menatap-kecewa.
"Apa seperti ini? Tingkah anak jebolan pesantren? Cuma bikin malu aja lo!" timpal Sodikin geram.
Melihat kekecewaan yang meluap dari ayah-ibuku, rasa bersalah menjerat.
Tapi rasa amarah juga mewarnaiku.
Ayu berdiri, mengangkat piring yang masih belum habis makananya.
"mamah besok mau ke New York... Kamu... Jangan macem-macem lagi dirumah!" ucap Ayu santai, menuju dapur.
"mamah gak ngerti! Papah gak ngerti! Gak ada yang ngerti Rudi-" teriaku; menggeser piring (suara piring menusuk telinga)
rasa amarah yang terpendam melebihi rasa bersalahku!
Bisa-bisanya ibuku, masih mau pergi! Di saat-saat seperti ini!
Otakku berjalan jernih, tanpa pengaruh obat-obatan.
Dalam kejernihan pikiran, aku berteriak mengeluarkan isi hatiku:
"-SAYA KECANDUAN NARKOBA!"
suara piring terjatuh, Bangku tergeser keras!
Air mataku terjatuh, pelukan ibuku begitu erat, sungguh menenangkan. Ayahku berdiri mematung; seolah ia akan berdiri di sana untuk ratusan tahun.
-------
Pernah kamu merasakan bahwa; hidup ini tak adil? Astagfirullah, Aku pernah!
Pernah kamu mengutuk allah sang penguasa alam semesta, maha kuasa atas segala sesuatu!? Astagfirullah, aku pernah!
Pernah kamu dalam keadaan sehat, tapi tak bisa bernafas karena masalah menghantammu melebihi gelombang tsunami? Astagfirullah, aku pernah!
Lo pikir, lo punya duit bisa beli langit?
Lo bisa, bercinta ama semua mahluk alam semesta? Dari kelas kuda sampai domba? Semua lo goda!
-------
kami keluar dari rumah sakit ke tiga dengan kekecewaan yang sama, tiga rumah sakit raksasa di kota Millvia.
Semua tak punya jawaban; untuk mengobati drugs-user?
Apa aku ada di zaman yang salah? Beginikah jadinya kalo orang tua sama sekali tak mengetahui narkoba itu apa?
Aku teringat pernah ayahku menemukan bong di kamar.
“ini apa?” tanya Sodikin bingung.
“oh... Itu tempat minum baru pah” jawabku setengah pucat, setengah merinding.
Yang membuatku terkejut lagi, ayahku menyedot bong itu (berusaha meminum air yang didalamnya)
“lahh, tempat minum sableng... Ampe botak gak bakal keisep airnya” omel Sodikin keki.
Aku masih bisa merasakan, waktu itu aku terus gemetar ketakutan.
Sekarang terbukti jelas, ke dua orang tuaku tak tahu apa-apa soal narkoba!
Tapi itu gunanya dokter kan? Tahu jawaban, dan solusi!
Fuck! Ini sudah tahun 2001... Kita sudah melewati millenium! Kemana orang-orang yang bergaya pintar? Bangga dengan warna millenium?
Trend silver dimana-mana... Apa aku tinggal di negara dengan keterbelakangan waktu? Sungguh ironi, saat drugs-user mau berobat? Dokter tak punya solusi?
Asli, aku benar-benar ada di zaman yang salah.
Sodikin yang membentur tiga rumah sakit dengan kekecewaan.
Narkoba. Narkoba. Yang paling tahu narkoba pasti Polisi! Batin Sodikin harapanya kembali bangkit.
Ia menelpon teman segembelnya (sama-sama gembel waktu mudanya) di Shonen.
Kini temanya itu reserse wilayah Shonen.
Betul saja, dari Karmin, ayahku mendapat jawaban yang memuaskan.
"Gimana pah?" tanya Ayu, cemas.
"kata Karmin, masukin rehabilitasi... Menurut Karmin tempat rehab yang paling top, terkenal karena keamannan tak tertembus, tempat rehab mmilik dokter Ruskin Suryaji." jawab Sodikin, tampak keteganganya menghilang.
"pah! Rudi kecanduan narkoba! Bukan rampok. Buat apa keamanan bagus... Kalo gak ada yang sembuh!" sergah Ayu emosi.
"bukan gitu mah-" sahut Sodikin takut.
"-kata Karmin, banyak yang berhasil sembuh disana... Nanti Karmin nyuruh Somat yang bisa nganterin kita kesana."
"nganterin-nganterin! Enak aja! Ceck dulu itu tempat rehab apa tempat dokter nyari duit! Jangan maen bawa Rudi kesono, gitu aja.. Kamu gimana sih pah!" sembur Ayu.
*******
Entah jam berapa ini, rasanya masih mual... Tangan merasakan sesuatu yang lembut, lunak... Merasa jengah, karena posisi tidurku memeluk Meidina--tanganku berada dalam kaosnya.
Aku mengusir tanganku untuk menyingkir? Celakanya tangan keparat punya otak sendiri--malah otomatis bergerak.
Melihat Medina yang terlelap--bibirnya--seperti magnet, tak sadar aku mengecupnya perlahan.
Meidina membuka mata malas, memandangku sendu--matanya penuh kata-kata yang tak kumengerti.
Ia sedikit bergerak-menggeser posisinya lebih nyaman... Sedikit kaget--lalu tersenyum--ia memegang tanganku dari luar kaosnya.
"Hai..." sapanya pelan (suara mengantuk)
"hai..." balasku-malu-menghentikan aktifitas tangan.
Ia merunduk, menyelipkan kepalanya dileherku. Hembusan nafasnya mengirim aliran listrik pada leher--tanganya yang memegang tanganku dari luar kaosnya bergerak--mencambuk tanganku untuk beraktifitas lagi.
Sofa lipat yang cukup besar; bisa terbagi menjadi beberapa potong.
Reda meringkup seperti udang, sementara Astrid duduk menyender di pojok terpulas (mulut menganga).
Disampingnya tergeletak tiga insulin (salah satunya masih di dalam plastik pembungkus)
Bungkus rokok, asbak kaca bening sangat kontras berisi darah bercampur abu dan puntung rokok.
"dari semalem, kayanya betah banget tanganya?-" bisik Meidina, matanya menari-nari geli.
"-apa... Jangan-jangan bisanya cuma disitu doang?" tanyanya menggoda, sedikit mengejek.
Bersyukur penerangan kamar sedikit; cukup untuk menutupi wajahku yang seperti kepiting rebus.
"enak aje, ngejek ya?" balasku keki, menjepit volume mixer agak keras.
"Au...-" ia menggigit bibir.
"terus? Buktiin lo punya skill apa lagi." tantangnya, menarikku--berada diatas--menindihnya.
Kakinya dibelakang menyilang-menjepitku.
Panas dengan ejekanya, aku mengeluarkan seluruh kemampuanku.
Tangan kami berkutat, menjelajah di berbagai tempat.
Processor-motherboard saling tergesek--: pakaian sebagian basah keringat, aku merasa bangga dengan keahlianku? ’dhuar’ meledak puas...
Tersenyum bahagia, berbaring lemas di sebelahnya.
"Cuma begitu doang...?" tanya Meidina datar, wajahnya berbingkai kekecewaan.
Rasa puas, kebahagiaan yang melambung; terguyur air dan lenyap mendengar ucapanya.
Campuran jengah-bingung mendera, aku menatapnya putus asa, tak tahu harus berkata apa?
"lo... Belum pernah ngesley?-" tanyanya perlahan.
Malu merembes; kupingku serasa panas, wajah kami sangat dekat (hidung menempel hidung)
"-gak perlu malu.., mau gua ajarin... Pelajaran yang gak bisa lo pelajarin dari buku." bujuknya, tatapan mengunci.
Aku tertawa kecil (serasa menelan permen aneka rasa kecoak).
Aku mengangguk perlahan; menobatkanya menjadi guru.
"Pelajaran pertama, lo inget-lo ulang kalimat ini dalam kepala lo... Dengan kalimat ini, gua yakin banyak cewek yang mau buka celana buat lo." ucapnya berbisik, hidungnya menggesek hidungku.
"Apa Mei... Kalimatnya?" tanyaku merasa tersihir oleh ucapanya.
"Ladies first" katanya lambat-lambat.
"Ladies first?" timpalku mengulang-penuh tanda tanya?
Tanganya menuntun tanganku, menelusuri perlahan--menuju motherboard.
Tanganku gemetar merasakan kabel-kabel kusut disekitar motherboard.
Ia mendorong tak sabar jariku--:
"Ja... Jangan Mei,"
--jariku membeku diatas motherboard, masih merasa aneh dengan kabel-kabel kusut disekitarnya.
"Apa gak sakit.. Kalo dimasukin gitu?" tanyaku-khawatir.
"please... Deh, Boerju! Masa gua mau nyakitin diri sendiri?-" jawabnya geli.
"-murid yang baik, ikutin gu.. Ahhh.... Ya. Ya. Begitu... Lagi... Lebih cepet please... Mmmm... Ladies first..." kata Meidina tak focus dengan nada yang berubah-ubah.
Bempernya bergoyang--tanganku menari kagok--berusaha mengimbangi gerakanya.
Merasakan cairan oli-melumuri jariku.
Sementara Meidina terus menggumamkan berkali-kali:"ladies first" perlahan.
"ladies first" suara tertahan."ladies first" nafas memburu.
Jariku menari--tanpa mempedulikan irama--memimpin kecepatan didepan."mmmm... Murid pintar..." ucapnya terengah-engah-matanya yang terpejam-membuka-terus menatapku; berbisik menggoda menyihirku dengan tatapanya.
"ladies first... Ladies first... Ladies.." ucapnya, berusaha menahan suaranya agar tetap pelan.
-------
Bersambung ke bagian3...
BAB 28-2:
FOR SENTIMENTAL REASON
SUMBER:
www.masternagato.com
-------
Melihat Mika menggunakan kursi roda; ke dua kaki-tangan kiri, penuh balutan gips, tangan kanan memegang koran seolah itu nyawanya.
Rayung histeris, menjerit ngeri, bersimpuh memeluk kaki suaminya... Tapi pihak rumah sakit Cross begitu cekatan-tak-menyia-nyiakan-waktu-membawa masuk Mika ke dalam Ambulans.
Sepertinya mereka mendapat perintah tak tertulis, untuk membawa Mika secepatnya tanpa membuat pihak media mengendus kedatangan Mika.
Karena berita Mika sudah ada di koran pagi Buktif-Pos.
Rayung terlalu bingung untuk mengingat beberapa orang yang mengantar Mika: ada perwakilan Dubes Meksiko, ada wanita paruh baya dengan pakaian nyentrik--nyaris norak (menggunakan pakaian dengan warna terang permen aneka rasa) tapi wanita yang rada ling-lung ini ternyata pengacara Mika?
Yang tak bisa ia lupakan dua orang Meksiko bersetelan rapih--hanya mengawasi dari samping, dengan teliti mereka berdua mengamati proses pengangkutan Mika ke dalam Ambulans.
Memang semua tampak membingungkan? Tapi yang paling membuat Rayung frustasi tatapan Mika begitu dingin... Seperti bertemu dengan orang yang berbeda?
Rasa penasaran Rayung terjawab di dalam ambulans yang melaju cepat meninggalkan bandara diikuti dua mobil Volvo hitam di belakangnya.
Di belakang Ambulans mereka hanya berdua, Rayung memeluk kaki suaminya yang terbaring tak berdaya--masih dengan tatapan dingin, berharap kaki itu sembuh dengan pelukanya?
Mika menyodorkan gulungan koran; dari dalam koran meluncur Nokia N-gage QD... Rayung bingung memegang HP yang dalam posisi Real One Pllayer pada layar utamanya.
"Kamu nyalain Video itu..." kata Mika lembut-tatapan dingin.
Mendengar nada suara suaminya yang tak berubah? Hanya tatapanya yang sangat mengganggunya? Mungkin Mika stress dengan musibah ini? Batin Rayung sedih.
Video berdurasi dua puluh menit itu menampilkan: pasangan sedang bertarung mati-matian di atas kasur menggunakan jurus women on top.
Suara pertarungan yang memanas keluar bergabung dengan suasana ambulans yang melintas di kemacetan ibukota Millvia.
Rayung mau mengecilkan volume pertarungan...
"Jangan di kecilin volumenya... Biar begitu... Tonton sampai habis..." ucap Mika lembut-penuh sayang dalam balutan suaranya, hanya tetap menatap dingin.
Rayung mengangkat satu alis, berpikir? Apa Mika lagi horny? Ia membalas tatapan dingin Mika dengan senyuman menggoda.
Rayung membalikan hp, sedikit memiringkanya... Karena siapapun yang merekam pertarungan ini... Pasti secara diam-diam... Mungkin dengan HP? Dengan Handycam? Apapun alat perekamnya, posisi peletakan alat itu salah... Dasar amatir, maki Rayung membatin.
Wanita dalam pertarungan itu melonjak-lonjak, setiap loncatan bemper mendarat pada Patkwa (sesuai langkah dalam penjuru delapan persegi) yang tepat.
Dari belakang hanya terlihat rambut tergerai, punggung mulus... Serta processor yang menikam motherboard dengan Kiam-boh (rumus pedang) membabi-buta.
Kecepatan lelaki itu seakan ia adalah Kiam-bengcu (raja pedang)
Si wanita masih dengan jurus yang sama (women on top) tapi melakukan gerakan-gerakan bervariasi berusaha menaklukan Kiam-hoat (jurus pedang) lawanya; kadang lambat penuh tekanan mematikan... Kadang begitu cepat penuh perhitungan... Sebentar ia menggunakan aliran dari Butong-pay, sebentar dengan aliran Shaolin-pay, Hoasan-pay, Kunlun-pay.. Sebentar terselip gerakan Mo-kau (aliran sesat)... Sebentar dengan aliran campur sari?
Mungkin kalo ada Lo-cianpwe (pendekar kawakan) di tanya, wanita ini dari perguruan mana? Pasti ia akan menggeleng kebingungan.
Nafas Rayung memburu, wajah memanas, ia mulai terbawa pertarungan itu, menatap layar HP tak berkedip:
wanita itu menghentikan gerakanya... Apa ia mau mengganti jurus?--ternyata tidak.. Masih dengan jurus women on top.ia mencondongkan badan ke belakang... Ke dua tanganya memegang pergelangan kaki lawanya untuk menahan berat posisinya... Ia mulai bergerak lagi... Perlahan... Mengulang gerakan variasi yang sama... Hasilnya... Gerakan-sama-pose-berbeda. Tampaknya Kiam-tim (barisan pedang) lelaki itu akan hancur berantakan.
Wanita itu mengangkat tangan kiri, bertumpu dengan satu tangan--gerakan-tak-terhenti.
Ia mengumpulkan rambutnya yang tergerai, memutar-mutar-memilin menjadi satu-menyampirkan-rambut-di-depan-air-bag.
Tangan kirinya meremas air-bag yang diselimuti rambut--lelaki itu merasa ia mendapatkan serangan Em-gi (senjata rahasia) tak terduga, memancar dari air-bag... Lelaki itu kewalahan--sebentar lagi ia akan mati bersimbah darah kepuasan--mengeluarkan kepingan jiwanya dari processor.
Tanpa ampun wanita itu terus bergerak dengan posisi seperti itu... Lalu... Ia menengok kebelakang... Memperlihatkan wajahnya yang penuh kemenangan... Penuh nafsu membunuh... Tanpa dosa.... Hanya kepuasan... Lelaki itu sudah terkapar tak berdaya--seolah ia meminta ampun... Wanita itu menggigit bibir--gerakanya tak terkendali--secepatnya ingin menyusul kematian lawanya..
Dengusan nafas, entah jeritan kesakitan, entah pelepasan kepuasan kematian yang bahagia...
Suara pertarungan agak tereda, karena HP itu entah sejak kapan sudah terlepas dari tangan Rayung...
Kalo bisa ia mau membayar siapapun yang mau menggantikan posisinya saat ini... Apapun... Berapapun.... Segalanya akan ia berikan untuk mengubah semua ini menjadi mimpi.
Rayung sudah pucat, tangan yang gemetar menjalar kesuluruh tubuhnya.. Ia terisak tanpa suara, tak berani menatap suaminya.
Ia merasa hina... Seperti binatang... Seperti kotoran... Bahkan lebih hina lagi.
"Hebat kamu... Seharusnya kamu ke Meksiko, disana kamu lagi hits... Video kamu menyebar seperti wabah penyakit... Aku yakin... Kalo kamu kesana kamu bisa jadi artis dadakan..." ucap mika pelan, setiap kata merobek-robek Rayung.
"Aneh? Ya? Kamu liat badan kamu sendiri tapi gak kenal... Kamu denger suara sendiri tapi gak kenal... Sangking terlalu banyak... Tak terhitung... Jadi kamu gak ngenalin diri sendiri.."
"Ma... Ma... Maafin, aku. Mik.." sahut Rayung terbata, tak jelas, ingin rasanya ia mengubur diri hidup-hidup.
"Sebelum jemput aku... Kamu dari. Mana?" tanya Mika lembut.
"A... Aku dari rumah Mik.." gagap Rayung, keringat dingin.
Panasnya kota Millvia, kemacetan merayap, suasana gerah, sumpek, tercermin dimana-mana.
Hanya dalam ambulans itu menjadi neraka beku.
-------
pernah kamu berbuat salah?pernah!
Itu bagus, pelajaran terbaik adalah kita memperbaiki kesalahan.
Apakah kamu pernah melakukan kesalahan yang sama?
Pernah!
Inilah masalah sebenarnya.
Pernah kamu mengulangi kesalahan yang sama, di hari yang sama?
Pernah!
Inilah penyakit.
Pernah kamu melakukan kesalahan yang sama, menyesal, lalu mengulanginya dalam waktu lima detik?
Pernah!
Coba lihat dirimu? Kamu terombang-ambing di lautan lepas, menggunakan perahu kecil.
Di depanmu, begitu dekat dengan pulau kesalahan.
Dan kamu begitu jauh dengan allah.
Semoga kita semua tak terlempar ke dalam kerak neraka, aamiin.
Semoga rahmat allah selalu dalam langkah kita, beserta ridho Allah menyelimuti kita, aamiin.
Kejahatan tak pernah habis, kalo kita menutupi dosa dengan dosa.
Masya allah.
-------
Mika bersabar sebisa mungkin, berusaha memaafkan kesalahan istrinya.
Ia berpikir kenapa istrinya bisa melakukan kesalahan seperti itu? Pasti dirinya sendiri juga ikut andil, menyebabkan kesalahan itu bisa terjadi.
Ia masih penuh harapan, kalo istrinya terus berkata jujur, ia akan memaafkannya.
Tapi.... Begitu marahnya Mika, hingga kemarahanya bisa membuat sekelilingnya menjadi kawah penuh lahar yang menggelegak.
Baru beberapa detik lalu Rayung minta maaf? Belum hitungan menit, kembali berbohong.
Mika terkekeh sinis. Kini nada suaranya yang lembut berubah datar-tanpa perasaan, seolah ia tak mengenal wanita dihadapanya.
"Hebat... Aku baru tahu kamu kalo dirumah pake baju kaya gini... Baju kamu lebih cocok kalo ke tempat dugem... Ke hotel... Tapi kalo di rumah begini... Yang terpenting... Baju ini juga gak cocok buat jemput suami yang kecelakaan.... Yah... Kecuali nemuin suami orang, baju ini emang cocok... Pas..." jelas Mika datar-mengalun penuh kebencian.
Rayung tak bisa berkata-kata... Hanya terisak tanpa suara, ia merasa begitu bodoh, bisa-bisanya ia masih menggunakan baju sialan ini.
Mengutukki kebodohanya, ia teringat perkataan Vita, beberapa bulan lalu, ia masih ingat jelas Vita mengatakanya di telpon setelah keberangkatan terakhir Mika untuk berlayar.
“lo tau Ray, sebusuk-busuknya bangke lo umpetin pasti kecium baunya...
Well, gua sih gak setuju ama perumpamaan ini, menurut gua Ray, kalo lo nyimpen bangke, terus mika juga nyimpen bangke... Dugaan lo kan Mika maen cewek di laut! ... Tapi seandainya Mika, ternyata dia kerja bener, cuma ada lo dihatinya... Gua yakin Mika bakal dikasih jalan buat nyium kebusukan lo.”
Rayung menertawakan omongan Vita, menurutnya itu lelucon paling konyol yang pernah di ucapkan Vita seumur hidup pertemananya dari SMP.
Vita tak mengerti, ia menjual diri karena memang tak punya uang sama sekali... Sedangkan rayung segalanya ada, nafkah lahir batin lebih dari cukup. Kenapa Rayung masih tercemplung di bisnis lendir?
Rayung masih menguatkan alasannya, kenapa ia begini, karena Mika lebih lama di laut daripada di ranjang istrinya.
Kini... Menyesal.... Sudah terlambat.
Ia menimpakan semua kesalahanya karena Mika, padahal dirinyalah yang bermasalah.
"Kamu, gak perlu buang-buang air mata KW tiga kamu... Sekarang kamu denger cerita aku, kenapa aku bisa begini." ucap Mika, mengertak gigi.
Ia berharap setelah mendengar ceritanya, Rayung akan mati pelan-pelan.
*******
Aku bukanlah seorang guru, pengalamanku memberikanmu pelajaran? Aku tak peduli!
Sebut aku si sesat dari Timur-atau-si racun dari Barat!-; Terima kasih sudah memuji!
Mari sama-sama kita mengulang kalimat sihir ini:
YANG MENURUTMU BAGUS--BELUM TENTU BAIK.
Ulang sekali lagi. Lagi. Apa sihirnya bekerja....? Ulangi lagi, sambil memikirkan; apa yang kau harapkan malah menjatuhkanmu ke jurang.
Follow me yow:
YANG MENURUTMU BAGUS--BELUM TENTU BAIK.
Sudah? Lakukan lagi sebanyak delapan kali.
Masih belum merasakan sesuatu? Baik, silahkan ambil uang kalian kembali. Aku hanya bisa bilang:
Selamat terjebak dalam tulisan busuk ini.
*******
Ini moment yang kunanti-nantikan, makan bersama ayah-ibuku.
Lebih sering seperti ini? Betapa bahagianya aku!
Walaupun lebih mirip persidangan acara makan malam ini; aku sebagai terdakwa.
"kamu tuh apa-apaan sih? Pergi ke hotel Astral? Ngajak cewek mandi bareng? Siapa tuh cewek namanya? Rina? Tuh cewek juga masih SMP kan! Ya allah Rudi! Kamu tuh masih SMP! Bisa-bisanya ngelakuin perbuatan kaya gitu!" kata Ayu frustasi; menghentikan gerakan sendok dan garpu-menatap-kecewa.
"Apa seperti ini? Tingkah anak jebolan pesantren? Cuma bikin malu aja lo!" timpal Sodikin geram.
Melihat kekecewaan yang meluap dari ayah-ibuku, rasa bersalah menjerat.
Tapi rasa amarah juga mewarnaiku.
Ayu berdiri, mengangkat piring yang masih belum habis makananya.
"mamah besok mau ke New York... Kamu... Jangan macem-macem lagi dirumah!" ucap Ayu santai, menuju dapur.
"mamah gak ngerti! Papah gak ngerti! Gak ada yang ngerti Rudi-" teriaku; menggeser piring (suara piring menusuk telinga)
rasa amarah yang terpendam melebihi rasa bersalahku!
Bisa-bisanya ibuku, masih mau pergi! Di saat-saat seperti ini!
Otakku berjalan jernih, tanpa pengaruh obat-obatan.
Dalam kejernihan pikiran, aku berteriak mengeluarkan isi hatiku:
"-SAYA KECANDUAN NARKOBA!"
suara piring terjatuh, Bangku tergeser keras!
Air mataku terjatuh, pelukan ibuku begitu erat, sungguh menenangkan. Ayahku berdiri mematung; seolah ia akan berdiri di sana untuk ratusan tahun.
-------
Pernah kamu merasakan bahwa; hidup ini tak adil? Astagfirullah, Aku pernah!
Pernah kamu mengutuk allah sang penguasa alam semesta, maha kuasa atas segala sesuatu!? Astagfirullah, aku pernah!
Pernah kamu dalam keadaan sehat, tapi tak bisa bernafas karena masalah menghantammu melebihi gelombang tsunami? Astagfirullah, aku pernah!
Lo pikir, lo punya duit bisa beli langit?
Lo bisa, bercinta ama semua mahluk alam semesta? Dari kelas kuda sampai domba? Semua lo goda!
-------
kami keluar dari rumah sakit ke tiga dengan kekecewaan yang sama, tiga rumah sakit raksasa di kota Millvia.
Semua tak punya jawaban; untuk mengobati drugs-user?
Apa aku ada di zaman yang salah? Beginikah jadinya kalo orang tua sama sekali tak mengetahui narkoba itu apa?
Aku teringat pernah ayahku menemukan bong di kamar.
“ini apa?” tanya Sodikin bingung.
“oh... Itu tempat minum baru pah” jawabku setengah pucat, setengah merinding.
Yang membuatku terkejut lagi, ayahku menyedot bong itu (berusaha meminum air yang didalamnya)
“lahh, tempat minum sableng... Ampe botak gak bakal keisep airnya” omel Sodikin keki.
Aku masih bisa merasakan, waktu itu aku terus gemetar ketakutan.
Sekarang terbukti jelas, ke dua orang tuaku tak tahu apa-apa soal narkoba!
Tapi itu gunanya dokter kan? Tahu jawaban, dan solusi!
Fuck! Ini sudah tahun 2001... Kita sudah melewati millenium! Kemana orang-orang yang bergaya pintar? Bangga dengan warna millenium?
Trend silver dimana-mana... Apa aku tinggal di negara dengan keterbelakangan waktu? Sungguh ironi, saat drugs-user mau berobat? Dokter tak punya solusi?
Asli, aku benar-benar ada di zaman yang salah.
Sodikin yang membentur tiga rumah sakit dengan kekecewaan.
Narkoba. Narkoba. Yang paling tahu narkoba pasti Polisi! Batin Sodikin harapanya kembali bangkit.
Ia menelpon teman segembelnya (sama-sama gembel waktu mudanya) di Shonen.
Kini temanya itu reserse wilayah Shonen.
Betul saja, dari Karmin, ayahku mendapat jawaban yang memuaskan.
"Gimana pah?" tanya Ayu, cemas.
"kata Karmin, masukin rehabilitasi... Menurut Karmin tempat rehab yang paling top, terkenal karena keamannan tak tertembus, tempat rehab mmilik dokter Ruskin Suryaji." jawab Sodikin, tampak keteganganya menghilang.
"pah! Rudi kecanduan narkoba! Bukan rampok. Buat apa keamanan bagus... Kalo gak ada yang sembuh!" sergah Ayu emosi.
"bukan gitu mah-" sahut Sodikin takut.
"-kata Karmin, banyak yang berhasil sembuh disana... Nanti Karmin nyuruh Somat yang bisa nganterin kita kesana."
"nganterin-nganterin! Enak aja! Ceck dulu itu tempat rehab apa tempat dokter nyari duit! Jangan maen bawa Rudi kesono, gitu aja.. Kamu gimana sih pah!" sembur Ayu.
*******
Entah jam berapa ini, rasanya masih mual... Tangan merasakan sesuatu yang lembut, lunak... Merasa jengah, karena posisi tidurku memeluk Meidina--tanganku berada dalam kaosnya.
Aku mengusir tanganku untuk menyingkir? Celakanya tangan keparat punya otak sendiri--malah otomatis bergerak.
Melihat Medina yang terlelap--bibirnya--seperti magnet, tak sadar aku mengecupnya perlahan.
Meidina membuka mata malas, memandangku sendu--matanya penuh kata-kata yang tak kumengerti.
Ia sedikit bergerak-menggeser posisinya lebih nyaman... Sedikit kaget--lalu tersenyum--ia memegang tanganku dari luar kaosnya.
"Hai..." sapanya pelan (suara mengantuk)
"hai..." balasku-malu-menghentikan aktifitas tangan.
Ia merunduk, menyelipkan kepalanya dileherku. Hembusan nafasnya mengirim aliran listrik pada leher--tanganya yang memegang tanganku dari luar kaosnya bergerak--mencambuk tanganku untuk beraktifitas lagi.
Sofa lipat yang cukup besar; bisa terbagi menjadi beberapa potong.
Reda meringkup seperti udang, sementara Astrid duduk menyender di pojok terpulas (mulut menganga).
Disampingnya tergeletak tiga insulin (salah satunya masih di dalam plastik pembungkus)
Bungkus rokok, asbak kaca bening sangat kontras berisi darah bercampur abu dan puntung rokok.
"dari semalem, kayanya betah banget tanganya?-" bisik Meidina, matanya menari-nari geli.
"-apa... Jangan-jangan bisanya cuma disitu doang?" tanyanya menggoda, sedikit mengejek.
Bersyukur penerangan kamar sedikit; cukup untuk menutupi wajahku yang seperti kepiting rebus.
"enak aje, ngejek ya?" balasku keki, menjepit volume mixer agak keras.
"Au...-" ia menggigit bibir.
"terus? Buktiin lo punya skill apa lagi." tantangnya, menarikku--berada diatas--menindihnya.
Kakinya dibelakang menyilang-menjepitku.
Panas dengan ejekanya, aku mengeluarkan seluruh kemampuanku.
Tangan kami berkutat, menjelajah di berbagai tempat.
Processor-motherboard saling tergesek--: pakaian sebagian basah keringat, aku merasa bangga dengan keahlianku? ’dhuar’ meledak puas...
Tersenyum bahagia, berbaring lemas di sebelahnya.
"Cuma begitu doang...?" tanya Meidina datar, wajahnya berbingkai kekecewaan.
Rasa puas, kebahagiaan yang melambung; terguyur air dan lenyap mendengar ucapanya.
Campuran jengah-bingung mendera, aku menatapnya putus asa, tak tahu harus berkata apa?
"lo... Belum pernah ngesley?-" tanyanya perlahan.
Malu merembes; kupingku serasa panas, wajah kami sangat dekat (hidung menempel hidung)
"-gak perlu malu.., mau gua ajarin... Pelajaran yang gak bisa lo pelajarin dari buku." bujuknya, tatapan mengunci.
Aku tertawa kecil (serasa menelan permen aneka rasa kecoak).
Aku mengangguk perlahan; menobatkanya menjadi guru.
"Pelajaran pertama, lo inget-lo ulang kalimat ini dalam kepala lo... Dengan kalimat ini, gua yakin banyak cewek yang mau buka celana buat lo." ucapnya berbisik, hidungnya menggesek hidungku.
"Apa Mei... Kalimatnya?" tanyaku merasa tersihir oleh ucapanya.
"Ladies first" katanya lambat-lambat.
"Ladies first?" timpalku mengulang-penuh tanda tanya?
Tanganya menuntun tanganku, menelusuri perlahan--menuju motherboard.
Tanganku gemetar merasakan kabel-kabel kusut disekitar motherboard.
Ia mendorong tak sabar jariku--:
"Ja... Jangan Mei,"
--jariku membeku diatas motherboard, masih merasa aneh dengan kabel-kabel kusut disekitarnya.
"Apa gak sakit.. Kalo dimasukin gitu?" tanyaku-khawatir.
"please... Deh, Boerju! Masa gua mau nyakitin diri sendiri?-" jawabnya geli.
"-murid yang baik, ikutin gu.. Ahhh.... Ya. Ya. Begitu... Lagi... Lebih cepet please... Mmmm... Ladies first..." kata Meidina tak focus dengan nada yang berubah-ubah.
Bempernya bergoyang--tanganku menari kagok--berusaha mengimbangi gerakanya.
Merasakan cairan oli-melumuri jariku.
Sementara Meidina terus menggumamkan berkali-kali:"ladies first" perlahan.
"ladies first" suara tertahan."ladies first" nafas memburu.
Jariku menari--tanpa mempedulikan irama--memimpin kecepatan didepan."mmmm... Murid pintar..." ucapnya terengah-engah-matanya yang terpejam-membuka-terus menatapku; berbisik menggoda menyihirku dengan tatapanya.
"ladies first... Ladies first... Ladies.." ucapnya, berusaha menahan suaranya agar tetap pelan.
-------
Bersambung ke bagian3...
Diubah oleh masternagato 10-07-2015 08:32
0