Kaskus

Story

yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
A Born Beauty - Berkat Atau Kutukan
A Born Beauty - Berkat Atau Kutukan


Cantik sedari lahir, pintar secara akademis, mahir dalam bermusik; ia memang sempurna. Tak heran semua orang memujanya. Kaum Adam berkompetisi memenangkan hatinya, sementara kaum Hawa menjadi temannya demi ketenaran.

Namun, mereka tak tahu bahwa hidupnya menyimpan sebuah rahasia. Selama ini ia terus berjuang melawan kepedihan mendalam atas kehilangan kasih sayang yang utuh dari orang tuanya akibat perceraian dan sahabat kecilnya yang menghilang di saat yang paling dibutuhkan. Tanpa disadari, sifatnya menjadi buruk. Ia membanggakan kesempurnaannya.

Sampai pada suatu masa, kehidupannya mulai berubah ketika ditemukannya kembali sepucuk catatan kecil dari sahabatnya yang terselip di kotak pensil usangnya. Sejak itulah, ia memiliki sebuah harapan untuk bangkit. Ia tak perlu mengandalkan dirinya sendiri dengan hadirnya orang-orang yang mengasihinya. Masalah datang silih berganti, tetapi ia bertahan dan menyelesaikan perjuangannya.
.


INDEX:
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Trivia #1
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Trivia #2
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
Chapter 33
Chapter 34
Chapter 35
Chapter 36
Chapter 37
Chapter 38
Chapter 39
Chapter 40
Chapter 41
Chapter 42
Ending
Bonus Chapter

*******


Chapter 1

[PUBLISHED]

Dapatkan bukunya di :

Yohana Ekky Tan
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 11 suara
Menurut kalian, cerita ini harusnya:
Dipanjangin.
55%
Diselesain cepet tapi dikasi bonus chapters.
45%
Diubah oleh yohanaekky 08-07-2019 16:05
S.HWijayaputraAvatar border
anasabilaAvatar border
anasabila dan S.HWijayaputra memberi reputasi
2
25.4K
251
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
#190
Chapter 37

Mobil Jackson sengaja diberhentikan di tempat yang agak jauh dari tempat Savannah berdiri. Ia dan Ifone mengamati apa yang sedang Savannah lakukan bersama seseorang yang tampak seperti seorang pria yang lebih tua darinya. Sayangnya, dari kejauhan apa yang kemungkinan mereka bicarakan tidak dapat ditebak.

“Kalo aku kesana aja gimana?” tanya Ifone setengah meminta persetujuan dari Jackson.

Jackson menggeleng. “Kita memang harus tahu dia ngapain, tapi bukan sekarang. Di rumah aja. Coba nanti kamu tanyain dia. Kita tes apa dia jujur.” Ia mengusulkan.

Ifone menyetujuinya.

Dengan itu, Jackson melanjutkan perjalanan menuju rumah Ifone yang tinggal beberapa blok saja. Sesampainya disana, ia segera memarkirkan mobil. Cepat-cepat dibukakannya pintu untuk Ifone yang dengan perlahan menggendong Ricardo yang benar-benar terlelap sedari tadi.

Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah yang pintunya dibiarkan terbuka. Rupanya Erick dan Jane sedang duduk mengobrol di ruang tamu bersama dengan seorang wanita yang terlihat seperti rekan kerja Erick yang dulu sempat Ifone lihat.

Ketika melihat Ifone menggendong seorang bayi, mata Erick dan Jane tampak terbelalak. Erick tak dapat meninggalkan tamunya, tetapi tidak dengan Jane. Ia permisi untuk pergi dan berjalan bersama Ifone dan Jackson, siap untuk menembakkan banyak pertanyaan mengenai Ricardo.

Mereka bertiga berhenti di ruang keluarga yang paling dekat dengan ruang tamu. Ifone duduk di sofa dengan perlahan, diikuti oleh Jane dan Jackson.

“Oke. Jelasin ke mama sekarang.” Jane meminta dengan tidak sabar. Jelas ia menampakkan kekhawatiran akan sesuatu yang buruk yang mungkin telah Ifone atau Jackson atau keduanya telah lakukan.

“Jangan mikir aneh-aneh dulu ya, ma.” Ifone ganti meminta karena ia merasa mamanya begitu.

“Iya, iya,” sahut Jane tidak sabaran.

“Mama mungkin nggak tahu atau lupa. Ada dulu temenku waktu kecil namanya Rudi, sekarang jadi salah satu pegawai papa yang megang cabang Jepara. Nah dia ini punya anak angkat. Dia titipin anaknya ke aku, karena aku satu-satunya yang bisa bikin anak ini nggak nangis karena ditinggal papanya.” Ifone menjelaskan panjang lebar sambil berharap agar mamanya langsung mengerti.

Jane mengelus dadanya seakan mendapat kelegaan setelah mengalami penderitaan. “Ya ampun. Kirain kalian ada apa-apa,” ucapnya.

“Tuh kan mama.” Ifone sedikit kesal karena tebakannya benar.

“Tante, tenang aja. Kami pacarannya sehat kok,” Jackson menambahi agar membuat Jane semakin percaya.

Jane mengangguk. “Iya, tante percaya,” ucapnya. Ia berpaling dari Jackson kepada Ricardo lalu pada Ifone. “Kamu capek ya? Sini mama aja yang gendong. Itung-itung belajar gendong bayi lagi kalo kalian udah punya anak.”

Glek. Ifone kembali dikejutkan dengan perkataan yang serupa tapi tak sama itu. Nggak di restoran, nggak di rumah, bawaannya malah bikin canggung. Aduh. Harus udah mulai terbiasa diomongin begini nih kalo bawa Ricardo sama ada Jackson di sebelahku.

Dengan perlahan Jane mengambil Ricardo dari tangan Ifone. Ia menggendongnya dan memandanginya sambil tersenyum. Namun beberapa saat kemudian, ketika Ifone hendak pergi ke kamarnya untuk meletakkan tas punggungnya, Ricardo menangis karena menyadari bahwa ia sedang digendong seorang yang tidak ia kenal. Cepat-cepat Ifone berbalik dan menggendong Ricardo kembali.

Suara tangisan Ricardo terdengar begitu keras sehingga Cumiakan telinga. “Ma..ma..” isaknya.

“Iya, iya, sayang. Mama disini ya. Cup cup.” Ifone menepuk-nepuk pantat Ricardo untuk membuatnya tenang. “Anak pinter ya.”

Ketika Ricardo melihat wajah Ifone, tangisannya berangsur-angsur berhenti.

Berbeda dengan Jackson yang sudah lebih dulu tahu, Jane ternganga heran melihat pemandangan ini. Ia tak menyangka bahwa putrinya yang dinilainya selama ini cenderung sangat cuek rupanya sanggup menyihir seorang anak yang menangis keras dan membuatnya langsung diam.

Erick, yang tamunya sudah pulang, masuk ke dalam ruang keluarga dan duduk di sebelah Jane. “Kenapa tadi?” tanyanya.

“Pa, pa. Masa iya sih anak kita udah besar gini? Coba lihat. Dia udah pantes jadi mama sekarang.” Jane memberitahu Erick tanpa berpaling padanya tetapi tetap melihat pada Ifone yang menggendong Ricardo.

Mendengar ucapan mamanya, Ifone berdecak. “Ah mama. Udah ah.” Ia meminta. Wajahnya yang putih menunjukkan rona-rona merah di pipinya.

“Tapi itu anak siapa?” Erick yang belum tahu menahu mengenai asal usul Ricardo langsung bertanya.

“Katanya Ifone Rudi, pa,” Jane yang menjawab.

Erick mengerutkan dahinya. “Rudi, pegawai papa?” ia mengkonfirmasi.

Ifone mengangguk. “Kan dia perjalanan bisnis ke Amerika, pa. Makanya titip ke aku.”

“Oh iya. Tapi papa nggak tahu lho kalo dia udah menikah.” Erick berkomentar. Ia tampak berpikir mengenai kemungkinan Rudi pernah menceritakan pernikahannya, tetapi tidak pernah karena buktinya ia jelas menunjukkan ketertarikan pada Ifone.

“Anak angkat, pa. Katanya nemuin di jalan, ditelantarin orang tua. Dia—” Ifone menjelaskan tetapi kemudian terinterupsi karena Ricardo sedikit menangis lagi. “Kayanya dia laper deh. Iya sayang? Ricardo laper?” Ia membelai pipi anak itu.

Jane beranjak mendekati Ifone. “Makannya apa? Umur berapa sih?” tanyanya.

“Tiga tahun, ma. Itu di tas sih ada bubur punya dia. Tinggal dibuat aja.” Ifone memberitahu.

Jackson dengan tanggap mengambil piring dan sendok yang ada di dalam tas itu beserta bubur bubuk yang sudah dimasukkan ke dalam sebuah wadah. Dikeluarkannya juga botol susunya yang masih ada isinya.

“Kalo susunya kayanya harus diangetin dulu deh.” Ifone langsung berkomentar ketika melihat Jackson sedang mengamati susu dalam botol itu. “Atau bikin baru aja. Minta tolong ya, Jackson?”

Jackson mengangguk. Ia langsung menuju ke dapur untuk melakukan apa yang Ifone minta.

“Mama bikinin buburnya ya,” Jane langsung mengambil peralatan makan dan bubur bubuk yang sudah Jackson keluarkan tadi lalu menuju dapur mengikuti Jackson.

Erick yang tidak tahu harus melakukan apa hanya tertawa.

Ifone terheran karena papanya tiba-tiba saja tertawa tanpa alasan yang jelas. Ia berjalan mendekati papanya dan berdiri di depannya. “Kenapa, pa? Aneh deh,” celetuknya tanpa radu.

“Nggak sabar jadinya papa.”

Aduh, sekarang giliran papa. “Stop. Aku tahu papa mau ngomong apa.” Ifone meminta tanpa basa-basi. Ia masih sedikit merasa kurang nyaman untuk mendengar perbicangan mengenai dirinya menjadi seorang istri atau mama.

“Duduk aja sini.” Erick menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.

Ifone melakukan apa yang papanya katakan. Ricardo agak sedikit menangis lagi ketika Ifone duduk, tetapi kemudian dapat diatasi karena Ifone mengajaknya bercanda. Ia juga berusaha mengenalkan papanya pada Ricardo.

Karena Erick memiliki sense of humor yang bagus, usahanya untuk membuat Ricardo tertawa tidak lah begitu susah. Ricardo pun jadi cepat untuk menyukai Erick. Ia tak henti-hentinya tertawa ketika Erick menggodanya.

Tak lama, Jane dan Jackson kembali. Masing-masing membawa apa yang telah mereka buat. Jane memberikan piring itu pada Ifone yang akan menyuapinya, sementara Jackson tetap membawakan botol susu itu. Jane duduk di sebelah Ifone, sementara Jackson mengambil sebuah kursi dan duduk di depannya, sehingga posisi duduk menjadi seperti lingkaran.

Semuanya melihat aktivitas Ifone menyuapi Ricardo dan menikmati pemandangan itu seolah sedang menonton film kesukaan mereka. Makin lama, canda dan tawa juga mengisi waktu-waktu itu. Kali ini bukan hanya Erick saja yang berhasil membuat Ricardo tertawa, Jane pun juga berhasil. Anak itu menjadi terlihat sangat senang berada di tengah-tengah keluarga Ifone.

“Halo semua,” suara Savannah terdengar ketika ia masuk ke ruang keluarga membawa sebuah kantung plastik yang berlabel mini market. Wajahnya menampakkan rasa terkejut ketika melihat ada seorang anak kecil di tengah-tengah Erick, Jane, Ifone dan Jackson.

“Oh, udah kelar belanjanya?” tanya Jane.

Savannah mengangguk sambil berjalan mendekati ‘konferensi’ itu. “Tapi nggak ada sardennya, tante. Nggak jadi makan sarden deh malam ini.” Ia memberitahu. “Ngomong-ngomong ini anak siapa? Lucu banget.”

“Anak temen papa, Van,” jawab Ifone.

Savannah mengangguk-angguk. “Kalo gitu aku taruh belanjaan di lemari es dulu ya,” ucapnya, tetapi saat hendak berbalik Ifone memanggilnya.

“Habis dari mini market tadi kamu kemana, Van?” tanyanya.

“Huh?” Savannah memasang tampang tidak mengerti. “Nggak kemana-mana sih. Cuman ke mini market aja.”

Ifone diam sejenak tapi kemudian berkata lagi, “Aku tadi nggak sengaja lihat kamu ada di blok sebelah lagi ngobrol sama orang. Siapa tuh?”

Savannah membentuk ‘O’ dengan mulutnya lalu tersenyum. “Aku juga enggak tahu. Dia tanya jalan. Kan aku juga belum terlalu kenal daerah ini, jadi kubilang aja nggak tahu. Terus dianya rada gimana gitu.” Ia menjelaskan.

Ifone mengangguk-angguk. “Lain kali hati-hati aja, Van. Orang nggak dikenal, tau lah.” Ia sedikit berkilah agar tidak terlihat baru saja menginterogasinya.

Savannah tersenyum. “Iya, Fone,” ujarnya menerima wejangan Ifone. “Semuanya, aku ke dapur dulu ya.” Kemudian ia berbalik meninggalkan ruang keluarga menuju dapur.

Sepeninggalan Savannah, Ifone memandang Jackson dan sedikit menggeleng seolah berkata, ‘Dugaan kita nggak bener.’

“Ricardo, ayo sama nenek sini,” Jane menepukkan telapak tangannya lalu membuka kedua tangannya untuk membujuk anak itu mau digendong. Ia menyadari bahwa Ifone terlihat begitu lelah dan ingin menggantikannya menggendong Ricardo.

Secara ajaib, Ricardo mau berpindah dari Ifone kepada Jane. Dalam hati Ifone ia merasa lega karena setidaknya ia bisa beristirahat.

Kemudian Jackson memberikan botol susu itu pada Jane ketika diminta. Ricardo segera meminumnya dalam pelukan Jane.

“Aku ke kamar dulu ya. Mau naruh tas.” Ifone berkata kepada semuanya, tetapi terutama pada Jackson. Lalu ia beranjak dari sofa dan berjalan keluar dari ruang keluarga.

Begitu lelah rasanya tubuh Ifone sehingga ia ingin membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Namun hal itu tidak mungkin karena Jackson masih ada di rumahnya. Ia tidak akan begitu saja membiarkannya dan meninggalkannya untuk tidur.

Masuk ke dalam kamarnya hanya untuk meletakkan tasnya, mengambil kuncir rambut dan menguncir tinggi rambutnya, lalu keluar kembali menuju ruang keluarga. Tetapi sebelum kembali ke ruang keluarga, dahaga melanda sehingga ia beralih menuju ke dapur.

Belum sempat dilangkahkannya kaki ke dalam dapur, Ifone menghentikan langkahnya di balik dinding yang membatasi lorong dengan dapur ketika mendengar Savannah sedang membicarakan sesuatu yang terdengar serius dengan seseorang di telepon. Ia mendengarkannya dengan seksama.

Iya. Saya minta bapak bisa lakuin secepatnya. Saya nggak mau ambil pusing. Saya bisa bayar berapapun. Tolong jangan kecewakan saya. Ya pokoknya secepatnya. Jangan diundur-undur dengan alasan apapun juga. Oke. Oke. Saya akan kabarin lagi nanti.

Ifone tidak dapat menyimpulkan sesuatu pun dari percakapan singkat yang didengarnya itu. Langkah kaki Savannah yang terdengar mendekat membuatnya cepat-cepat berlari pergi agar tidak ketahuan bahwa ia tidak sengaja mendengar percakapannya. Ia tidak sempat berpikir lebih jauh, tetapi ia merasa ada sesuatu yang berkaitan dengan pria yang Savannah temui tadi siang.

***ABB***
Halo gan! Minta tolong dong. Itu di atas ada poling. Minta masukan ya.. Hihi.. Makasih yang udah setia baca.. Kalo udah baca, mohon tinggalkan jejak seenggaknya satu kali ya. Bikin lah si penulis ini seneng gitu atuh. Haha..
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.