- Beranda
- Stories from the Heart
The Abnormal (kisah fiksi bercampur reality masa-masa SMA)
...
TS
joechristianp
The Abnormal (kisah fiksi bercampur reality masa-masa SMA)
The Abnormal
Selamat pagi, siang, sore, malam agan/wati semuanya
Disini saya mau mengikuti saran dari teman saya yaitu menyebarluaskan hobi iseng-iseng saya ini
tak lain dan tak bukan adalah menulis
selama ini kegiatan saya hanyalah mengekspresikan hobi ini secara tertutup di laptop pribadi
sampai suatu saat teman saya menyarankan untuk memposting di SFTH kaskus.. katanya para pembaca disini baek-baek

oleh karena itu, saya mohon pendapat agan/wati semuanya jikalau ada saran untuk tulisan-tulisan saya yang kebetulan belum pernah dibaca oleh siapapun

satu lagi.. saya masih newbie di kaskus.. jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau thread ini tidak rapi atau tidak layak dimata agan-agan sekalian

Terima kasih untuk yang mau membaca dan mohon bantuannya
~Don't judge a book by it's cover ~
... meh, that's bullshit !
Spoiler for Sinopsis:
...
Samuel yang biasa dipanggil 'Jo' adalah siswa SMA yang selalu beranggapan kalau kata don't judge a book by it's coveradalah omong kosong. karena apa yang dia lihat selalu tak sesuai dengan ekspetasi dia.
ditambah lagi penyakit social awkwardnya membuat dia selalu merasa canggung di dekat lawan jenis dan karena itu, dia dijuluki 'cowo terjutek' semasa hidupnya.
sampai suatu hari. seseorang yang unik muncul di hadapannya dan mengubah seluruh jalan hidupnya. serempak dengan datangnya masalah yang bertubi-tubi, dapatkah dia menggapai tujuannya?
...
Spoiler for Prolog:
Cerita ini bukan dari kisah nyata tetapi saya memberanikan diri untuk menempatkan nama sekolah sendiri sebagai latar utama.Saya juga akan menggunakan gaya bahasa setengah gaul
walaupun saya belum terbiasa memakainya. Ketika saya melihat foto sepupu saya yang menderita down syndrome, pikiran saya mulai mengarang cerita dan saya ingin mengaplikasikannya dalam bentuk light-novel. Walau ini bukan kisah nyata; sifat, latar, dan tokoh yang saya pakai berasal dari dunia nyata.
Disini saya akan menuliskan beberapa pengalaman hidup saya yang baru 16 tahun ini dan menambahkan sedikit bumbu-bumbu imajinasi orisinil dari otak saya sendiri dan dari beberapa buku, film, bahkan kartun yang mengambil peran dalam hidup saya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua orang mengatakan kalau jangan menilai orang dari tampangnya melainkan nilai dari apa yang ada dalam dirinya, tapi bagi gue itu semua omong kosong. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang menilai orang secara langsung dari sifat objek yang dinilainya. Orang-orang akan memperlakukan kamu lebih baik jika kamu cakep (baca: cantik atau ganteng). Berdasarkan paham negatif inilah gue meyakini kalau frase don’t judge a book by it’s cover itu omong kosong. Pada kenyataanya manusia membeli buku dengan cover yang bagus, membeli makanan yang kemasannya bagus, bahkan lebih bangga memakai gadget berlambang apel padahal fiturnya sama dengan gadget yang harganya sama dengan uang jajan gue selama sebulan.
Tapi tak jarang gue sedikit menerima kalau ada beberapa orang yang benar-benar menilai orang dari sifat alaminya. Seperti contoh, saat gue ke Trans Studio Bandung (TSB) bersama teman-teman gue, ada cewek cantik se-kabupaten mempunyai pacar seorang cowo yang mukanya lebih mirip dengan siluman gagang pintu. Disitu gue menilai mungkin si cowo benar-benar memiliki hati yang pure dan si cewe benar-benar tulus mencintainya. Tapi sesaat kami hendak pulang, di tempat parkir, si cowok sedang asyik memainkan kunci mobil lamborgini nya dengan muka senyum sombong merangkul sang cewe yang senang kegirangan memegang produk paling baru dari gadget apel yang sudah disebutkan diatas. Sejak kejadian itu, gue dan teman-teman sejomblo sepakat untuk tidak ke TSB lagi.
Mari kita kesampingkan masalah siluman gagang pintu dulu, disini gue akan memaksukan objek manusia yang biasanya sosoknya dihiraukan oleh manusia lain. Tak lain dan tak bukan adalah manusia yang tidak normal. Orang yang dilahirkan tak sempurna dari semestinya. Gue percaya semua orang mempunyai masa depan yang cerah yang telah Tuhan tentukan. Mau itu cinta, karir, kesehatan, keluarga dan lain-lain asalkan kita sebagai makhluk ciptaanNya mengikuti apa yang Dia perintahkan.
Tidak semua manusia normal. Ada yang dilahirkan hanya dengan satu tangan. ada juga yang mempunyai dua tangan, dua kaki tapi harus berbagi kepala dan jantung dan seisi perutnya bersama saudara kembar sebadannya. Begitu pula dengan cinta. Semua punya selera masing-masing. Si tampan dengan si cantik. Si kaya dengan si miskin. Si pemain film serigala dengan si cantik, si kaya, si sosialita, si pintar dan si lain-lainnya. yaa, pemain film mempunyai banyak pacar, oleh karena itu, selain jadi pengacara, cita-cita sampingan gue adalah pemain film.
Gue sebagai pengarang cerita ini berharap kalau isi novel ini benar-benar ada di dunia nyata dimana orang-orang yang dilahrikan kurang dari semestinya mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama seperti manusia pada umumnya.
walaupun saya belum terbiasa memakainya. Ketika saya melihat foto sepupu saya yang menderita down syndrome, pikiran saya mulai mengarang cerita dan saya ingin mengaplikasikannya dalam bentuk light-novel. Walau ini bukan kisah nyata; sifat, latar, dan tokoh yang saya pakai berasal dari dunia nyata.Disini saya akan menuliskan beberapa pengalaman hidup saya yang baru 16 tahun ini dan menambahkan sedikit bumbu-bumbu imajinasi orisinil dari otak saya sendiri dan dari beberapa buku, film, bahkan kartun yang mengambil peran dalam hidup saya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua orang mengatakan kalau jangan menilai orang dari tampangnya melainkan nilai dari apa yang ada dalam dirinya, tapi bagi gue itu semua omong kosong. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang menilai orang secara langsung dari sifat objek yang dinilainya. Orang-orang akan memperlakukan kamu lebih baik jika kamu cakep (baca: cantik atau ganteng). Berdasarkan paham negatif inilah gue meyakini kalau frase don’t judge a book by it’s cover itu omong kosong. Pada kenyataanya manusia membeli buku dengan cover yang bagus, membeli makanan yang kemasannya bagus, bahkan lebih bangga memakai gadget berlambang apel padahal fiturnya sama dengan gadget yang harganya sama dengan uang jajan gue selama sebulan.
Tapi tak jarang gue sedikit menerima kalau ada beberapa orang yang benar-benar menilai orang dari sifat alaminya. Seperti contoh, saat gue ke Trans Studio Bandung (TSB) bersama teman-teman gue, ada cewek cantik se-kabupaten mempunyai pacar seorang cowo yang mukanya lebih mirip dengan siluman gagang pintu. Disitu gue menilai mungkin si cowo benar-benar memiliki hati yang pure dan si cewe benar-benar tulus mencintainya. Tapi sesaat kami hendak pulang, di tempat parkir, si cowok sedang asyik memainkan kunci mobil lamborgini nya dengan muka senyum sombong merangkul sang cewe yang senang kegirangan memegang produk paling baru dari gadget apel yang sudah disebutkan diatas. Sejak kejadian itu, gue dan teman-teman sejomblo sepakat untuk tidak ke TSB lagi.
Mari kita kesampingkan masalah siluman gagang pintu dulu, disini gue akan memaksukan objek manusia yang biasanya sosoknya dihiraukan oleh manusia lain. Tak lain dan tak bukan adalah manusia yang tidak normal. Orang yang dilahirkan tak sempurna dari semestinya. Gue percaya semua orang mempunyai masa depan yang cerah yang telah Tuhan tentukan. Mau itu cinta, karir, kesehatan, keluarga dan lain-lain asalkan kita sebagai makhluk ciptaanNya mengikuti apa yang Dia perintahkan.
Tidak semua manusia normal. Ada yang dilahirkan hanya dengan satu tangan. ada juga yang mempunyai dua tangan, dua kaki tapi harus berbagi kepala dan jantung dan seisi perutnya bersama saudara kembar sebadannya. Begitu pula dengan cinta. Semua punya selera masing-masing. Si tampan dengan si cantik. Si kaya dengan si miskin. Si pemain film serigala dengan si cantik, si kaya, si sosialita, si pintar dan si lain-lainnya. yaa, pemain film mempunyai banyak pacar, oleh karena itu, selain jadi pengacara, cita-cita sampingan gue adalah pemain film.
Gue sebagai pengarang cerita ini berharap kalau isi novel ini benar-benar ada di dunia nyata dimana orang-orang yang dilahrikan kurang dari semestinya mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama seperti manusia pada umumnya.
Spoiler for PART 1: Normal:
Nama gue Sam Cristian. Panjangnya Samuel Cristian Gibran Panjaitan. Gue mempunyai nama paling panjang di kelas (mungkin di sekolah) sekaligus mempunyai gelar nama panggilan terpendek. Makhluk-makhluk di sekolah biasa memanggil gue Jo (bahkan ada yang memanggil O ). (panggilan gue didapat dari nama karakter game online gue. semua game online yang gue mainin nick nya Joe blablabla.., awalnya hanya teman sepermainan gue yang tau, eh ternyata sampe keterusan ke kelas..)(diluar ketika ditanya apa nama panggilannya, gue selalu mengatakan 'Jo')
Sepanjang hidup gue yang masih pendek ini, terlihat sangat normal. Tampang biasa saja,Hidup berkecukupan, sekolah lancar, makan tiga kali sehari, berantem, bahkan ikut main ke warnet saat point blank datang merusak generasi yang sudah rusak ini.
Tapi dikehidpuan gue yang normal ini, gue menderita penyakit psikologis yang beberapa orang mungkin mengalaminya tapi belum menyadarinya, penyakit ini disebut social-awkward. Ciri-cirinya: gue akan mengeluarkan aura canggung setiap bertemu orang yang baru kenal,gue gak bisa menatap mata orang lama-lama, gue gak akan bisa membuat percakapan di ruang penuh orang tetapi sepi, gue hanya ngobrol akrab bersama orang yang gue anggap teman (biasanya teman sekelas), dan yang paling menonjol setiap gue suka sama sosok cewek, gue akan mengobrol tak kenal lelah melalui jejaring sosial, entah itu sms, bbm, LINE, simsimi, apapun itu. Tapi ketika bertemu dengan orangnya langsung, mulut gue membisu, otak gue berhenti sesaat, tak ada yang bisa gue lakukan selain membuang muka. Alhasil gue dapat predikat cowo terjutek sejak SD kelas 4 sampai sekarang. Gue sedikit bangga dengan itu, itu membuktikan kalau keberadan gue setidaknya di akui orang.
Selain social-awkward di kehidupan gue yang normal ini ada satu hal yang menurut gue tidak normal kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan gue. Yaitu cinta.
Gue belum pernah merasakan cinta yang benar-benar sampai ke pojok hati gue. Sebatas suka yang sebulan kemudian rasa itu telah terlupakan. Cinta monyet yang merupakan salah satu dari syndrom remaja ini sering menghampiri gue. Gebetan gue banyak (pas smp). Tapi hanya tiga yang nyantol.
Gue sering membandingkan kisah asmara gue dengan teman-teman smp dan sma gue. Beberapa dari mereka bisa awet pacaran sampai bertahun-tahun padahal setiap bulannya mereka pasti berantem dan membuat suasana kelas jadi canggung. Ada yang pacarannya sudah direstui orangtua kedua belah pihak. Bahkan ada yang sudah merasakan first kiss nya (ya gue gak ngarep sih). Tapi gue disini hanya menjadi perantara teman-teman gue yang pacaran dan menjadi sumber cibiran mereka saat gue melakukan kesalahan. “jomblo sihh” begitu kurang lebih.
Ketiga mantan gue ini hampir semua gue udah lupa. Yang paling gue inget adalah yang terakhir. Sosok bernama Fifi ini mengaku suka gue ketika jurit malam acara dari gereja gue dulu. Malam itu kami disuruh melewati jalan setapak becek nan gelap. Gue sebagai laki-laki satu-satunya di kelompok itu membranikan diri membawa senter dan maju di barisan paling depan. Fifi berada dibelakang gue dan sepanjang perjalan dia memegang lengan jaket gue.
Awalnya hanya jaket. Tapi makin jauh kami melewati jalan setapak ini, tangan dia berada di telapak tangan gue.
“gue takut Jo, kaya gini sebentar gapapa ya?”
Yahh well ini berkah buat gue. Lumayan tangan gue yang sudah lama tidak digenggam ini dipegang oleh cewe cantik yang baru saja gue kenal. Jadi gue bersikap gentle dan mempersilahkan dia menyandarkan ketakutannya ke tangan gue.
Selesai acara dia berkata
“wah Jo lu hebat banget ya. Kok berani siih di tempat gelap sempit gitu? Jago deh kamu”
Disitu gue gak mungkin berkata yang sejujurnya. Apanya yang berani? Sepanjang acara gue ngumpulin semua ketakutan gue ke dalam perut gue yang masuk angin. Seingat gue, setiap mau jalan langkah kaki gue gemetar membayangkan apa yang bersembunyi di tempat gelap seperti itu. Tapi apa boleh buat, bacot an khas gue keluar tiba-tiba bercampur dengan kebiasaan social-awkward gue.
“ah segitu mah udah sering di rumah, huehe” gue berbicara dengan nada sok cool sambil membuang muka.
Dengan semua kejadian itu, pada akhirnya gue bertukaran nomor handphone dan pin bb. Kebiasaan buruk gue terjadi lagi. Gue banyak berbicara di percakapan tak langsung itu. Kami berbicara tak kenal waktu. Menanyakan hal-hal yang sama terus menerus sampai salah satu berkata “udah dulu ya udah malam, dadah good night, sleep well !”
Itu berulang terus menerus sampai takdir mempertemukan kami secara langsung di gereja. Saat kami berpapasan dia hanya melempar senyum sedangkan gue melempar muka sambil menahan malu.
Sampai sekarang belum ada percakapan secara langsung diantara kami. Gue hanya berbicara seperti orang bisu melalui handphone.
Lambat laun kami menyatakan saling suka (melalui sms). Walaupun ngomongnya udah pake sayang-sayang an, gue gak pernah nembak dia. Jadi secara teoritis hubungan ini tidak bisa dikatakan pacar. Hanya gue seorang yang menganggap dia mantan pacar gue setiap ditanya perihal “berapa banyak mantan pacar lo?”
Fifi cewek yang bener-bener gue respect. Dia berkata kalau gue cinta pertamanya dan dia belum pernah merasa senyaman ini setiap dia chattingan dengan gue.
Sampai sekarang kami punya janji. Setelah kelulusan SMP gue pernah berkata gue bakal masuk sma di Bandung (saat itu gue masih tinggal di cianjur). Dia berkata gak ada yang bisa gantiin gue, dia gak pengen gue pindah. Dan dengan kebranian, kebodohan, kepolosan gue, gue berkata “sanggup nunggu tiga tahun?”.
Dia menyanggupinya, dia berkata bakal nunggu tiga tahun sampai dia lulus sma dan hendak kuliah ke Bandung. Janji itu masih berlaku sampai sekarang. Gue tinggal meunggu 1,5 tahun lagi untuk membuktikan janji yang dibuat anak smp ini. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati gue, janji ini sama sekali tidak gue tanggapi.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun penyakit gue, gue sadar kalau Fifi adalah orang terakhir yang gue suka. ~
Sampai dia datang dan mengubah segalanya...
Sepanjang hidup gue yang masih pendek ini, terlihat sangat normal. Tampang biasa saja,Hidup berkecukupan, sekolah lancar, makan tiga kali sehari, berantem, bahkan ikut main ke warnet saat point blank datang merusak generasi yang sudah rusak ini.
Tapi dikehidpuan gue yang normal ini, gue menderita penyakit psikologis yang beberapa orang mungkin mengalaminya tapi belum menyadarinya, penyakit ini disebut social-awkward. Ciri-cirinya: gue akan mengeluarkan aura canggung setiap bertemu orang yang baru kenal,gue gak bisa menatap mata orang lama-lama, gue gak akan bisa membuat percakapan di ruang penuh orang tetapi sepi, gue hanya ngobrol akrab bersama orang yang gue anggap teman (biasanya teman sekelas), dan yang paling menonjol setiap gue suka sama sosok cewek, gue akan mengobrol tak kenal lelah melalui jejaring sosial, entah itu sms, bbm, LINE, simsimi, apapun itu. Tapi ketika bertemu dengan orangnya langsung, mulut gue membisu, otak gue berhenti sesaat, tak ada yang bisa gue lakukan selain membuang muka. Alhasil gue dapat predikat cowo terjutek sejak SD kelas 4 sampai sekarang. Gue sedikit bangga dengan itu, itu membuktikan kalau keberadan gue setidaknya di akui orang.
Selain social-awkward di kehidupan gue yang normal ini ada satu hal yang menurut gue tidak normal kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan gue. Yaitu cinta.
Gue belum pernah merasakan cinta yang benar-benar sampai ke pojok hati gue. Sebatas suka yang sebulan kemudian rasa itu telah terlupakan. Cinta monyet yang merupakan salah satu dari syndrom remaja ini sering menghampiri gue. Gebetan gue banyak (pas smp). Tapi hanya tiga yang nyantol.
Gue sering membandingkan kisah asmara gue dengan teman-teman smp dan sma gue. Beberapa dari mereka bisa awet pacaran sampai bertahun-tahun padahal setiap bulannya mereka pasti berantem dan membuat suasana kelas jadi canggung. Ada yang pacarannya sudah direstui orangtua kedua belah pihak. Bahkan ada yang sudah merasakan first kiss nya (ya gue gak ngarep sih). Tapi gue disini hanya menjadi perantara teman-teman gue yang pacaran dan menjadi sumber cibiran mereka saat gue melakukan kesalahan. “jomblo sihh” begitu kurang lebih.
Ketiga mantan gue ini hampir semua gue udah lupa. Yang paling gue inget adalah yang terakhir. Sosok bernama Fifi ini mengaku suka gue ketika jurit malam acara dari gereja gue dulu. Malam itu kami disuruh melewati jalan setapak becek nan gelap. Gue sebagai laki-laki satu-satunya di kelompok itu membranikan diri membawa senter dan maju di barisan paling depan. Fifi berada dibelakang gue dan sepanjang perjalan dia memegang lengan jaket gue.
Awalnya hanya jaket. Tapi makin jauh kami melewati jalan setapak ini, tangan dia berada di telapak tangan gue.
“gue takut Jo, kaya gini sebentar gapapa ya?”
Yahh well ini berkah buat gue. Lumayan tangan gue yang sudah lama tidak digenggam ini dipegang oleh cewe cantik yang baru saja gue kenal. Jadi gue bersikap gentle dan mempersilahkan dia menyandarkan ketakutannya ke tangan gue.
Selesai acara dia berkata
“wah Jo lu hebat banget ya. Kok berani siih di tempat gelap sempit gitu? Jago deh kamu”
Disitu gue gak mungkin berkata yang sejujurnya. Apanya yang berani? Sepanjang acara gue ngumpulin semua ketakutan gue ke dalam perut gue yang masuk angin. Seingat gue, setiap mau jalan langkah kaki gue gemetar membayangkan apa yang bersembunyi di tempat gelap seperti itu. Tapi apa boleh buat, bacot an khas gue keluar tiba-tiba bercampur dengan kebiasaan social-awkward gue.
“ah segitu mah udah sering di rumah, huehe” gue berbicara dengan nada sok cool sambil membuang muka.
Dengan semua kejadian itu, pada akhirnya gue bertukaran nomor handphone dan pin bb. Kebiasaan buruk gue terjadi lagi. Gue banyak berbicara di percakapan tak langsung itu. Kami berbicara tak kenal waktu. Menanyakan hal-hal yang sama terus menerus sampai salah satu berkata “udah dulu ya udah malam, dadah good night, sleep well !”
Itu berulang terus menerus sampai takdir mempertemukan kami secara langsung di gereja. Saat kami berpapasan dia hanya melempar senyum sedangkan gue melempar muka sambil menahan malu.
Sampai sekarang belum ada percakapan secara langsung diantara kami. Gue hanya berbicara seperti orang bisu melalui handphone.
Lambat laun kami menyatakan saling suka (melalui sms). Walaupun ngomongnya udah pake sayang-sayang an, gue gak pernah nembak dia. Jadi secara teoritis hubungan ini tidak bisa dikatakan pacar. Hanya gue seorang yang menganggap dia mantan pacar gue setiap ditanya perihal “berapa banyak mantan pacar lo?”
Fifi cewek yang bener-bener gue respect. Dia berkata kalau gue cinta pertamanya dan dia belum pernah merasa senyaman ini setiap dia chattingan dengan gue.
Sampai sekarang kami punya janji. Setelah kelulusan SMP gue pernah berkata gue bakal masuk sma di Bandung (saat itu gue masih tinggal di cianjur). Dia berkata gak ada yang bisa gantiin gue, dia gak pengen gue pindah. Dan dengan kebranian, kebodohan, kepolosan gue, gue berkata “sanggup nunggu tiga tahun?”.
Dia menyanggupinya, dia berkata bakal nunggu tiga tahun sampai dia lulus sma dan hendak kuliah ke Bandung. Janji itu masih berlaku sampai sekarang. Gue tinggal meunggu 1,5 tahun lagi untuk membuktikan janji yang dibuat anak smp ini. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati gue, janji ini sama sekali tidak gue tanggapi.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun penyakit gue, gue sadar kalau Fifi adalah orang terakhir yang gue suka. ~
Sampai dia datang dan mengubah segalanya...
Spoiler for Indeks:
PART 6: Hoseki ? Hoffen?
PART 7: Hoseki ? Hoffen? -2
PART 8: The Abnormal One
PART 9: The Abnormal One -2
PART 10: The Abnormal One -3
PART 11: Pembahasan Tanpa Ujung
PART 12: Kerupuk Ikan Rasa Udang (A story from Redzki)
PART 13: Kerupuk Ikan Rasa Udang (A story from Redzki) -2
PART 14: Benjamin Spock
PART 15: Benjamin Spock -2
PART 16: Benjamin Spock -3
PART 17: Trissha Minnoty
PART 18: Trissha Minnoty -2
PART 19: Between You and Her
PART 20: Symphony 7 Warna
PART 21: Symphony 7 Warna -2
PART 22: Symphony 7 Warna -3
PART 23: Permata dan Harapan
PART 24: Permata dan Harapan -2
PART 25: Permata dan Harapan -3
PART 26: Gadis Malu
PART 27: Black Market
PART 28: Black Market -2
PART 29: Sebab Akibat
PART 30: Sebab Akibat -2
PART 31: Anggrek Bulan
PART 32: Anggrek Bulan -2
PART 33: Dibalik Hujan Kemarau (A story from Agam)
PART 34: Dibalik Hujan Kemarau (A story of Agam) -2
PART 35: If You Know What I Mean
PART 36: If You Know What I Mean -2
PART 37: 15 Agustus
PART 38: 15 Agustus -2
PART 39: Minneapolis
PART 40: Minneapolis -2
PART 41: Woman's Problem
PART 42: Woman's Problem -2
PART 43: Uncompleted Canceled Plan
PART 44: Uncompleted Canceled Plan -2
PART 45: Uncompleted Canceled Plan -3
PART 46: Uncompleted Canceled Plan -4
PART Bonus: Yuk! mengenal dan tes Highly Sensitive Person !
Spoiler for Penokohan:
Sam Cristian (Joe) ... Tokoh utama dalam cerita. juga berperan sebagai penulis cerita alias TS sendiri

Hoseki Hoffen ... Perempuan yang menjadi sorotan karena keunikannya.. mungkin ada yang bertanya kenapa namanya nyentrik banget, karena itu tetap bersabar karena ada part dimana nama makhluk ini dijabarkan.
Mino ... Perempuan yang mempunyai cara sendiri ketika mengejar orang yang disukainya... aneh memang.
Agam ... si otaku pervert temennya Sam
Redzki ... Maniak komputer yang misterius. temennya Sam juga
Bagdi (bang Andi) ... anaknya pak kost yang kebetulan seorang psikolog. temennya Sam lagi..
Cipta ... pelawak di Baka sekaligus ketua Baka. lagi-lagi temannya Sam..
Bella ... Perempuan yang dikejar-kejar Sam. ...tadinya
Om Albert ... Ayahnya Hoseki. si kaya dengan sembilan anak uniknya.
Pakos ... pria buncit sang penjaga rumah kost
Bukos ... sepaket dengan Pakos
Renaldi ... teman bermain Sam. hanya muncul saat dikantin.
Bu Musdianti .. si guru bahasa Inggris yang kelewat baik.
Pak Momo ... Si wali kelas tercintah
..next, Coming Soon
Diubah oleh joechristianp 13-09-2015 20:08
anasabila memberi reputasi
1
17.3K
Kutip
126
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
joechristianp
#62
Spoiler for PART 28: Black Market -2:
Setelah megetahui kalau orang yang diinjak dan rambutnya yang akan dipotong itu adalah Hoseki, rasa takut gue mendadak hilang. Semua digantikan amarah. Rasa benci memenuhi kepala gue dan tanpa berfikir ulang gue mengambil sebilah kayu bekas potongan kursi. Menjadikannya senjata dan berlari ke tempat perkara.
Gue berlari dengan cepat. Sesaat gue melihat Hoseki tak mengeluarkan suara ketika disiksa. Orang yang memegang gunting melihat kehadiran gue. secara otomatis orang itu menjadi target pukulan pertama gue.
BAKKK !
Pukulan pertama tepat mendarat di pipinya. Gue melihat beberapa potong gigi dan darah keluar dari mulutnya. Orang itu tersungkur ke tanah. Entah mati atau tidak gue tidak peduli. Yang jelas balok kayu itu hancur dengan sekali pukul. Amarah benar-benar memenuhi gue, seakan-akan gue dikendalikan olehnya.
Pernah sekali gue merasa seperti ini. Waktu itu ketika smp, gue melihat adik gue yang masih sd di palak oleh tiga orang anak smp. Orang yang memalak itu adalah kakak kelas gue sendiri. Awalnya gue takut membantu, tapi begitu gue melihat sebuah tinju mengenai hidung adik gue, rasa takut digantikan amarah. Gue membabibuta memukul acak tapi keras ke kakak kelas gue sendiri. alhasil gue kalah di pertarungan yang kalah jumlah itu tapi seorang dari mereka dibawa kerumah sakit karena gue memukul terlalu keras tepat di diafragma (ulu hati) nya.
Perasaan yang sama gue luapkan untuk melindungi Hoseki. entah kenapa gue seakan tak bisa mengendalikan diri gue sendiri. semua jurus yang pernah gue lihat di tv gue keluarkan untuk melawan satu orang yang tersisa ini yang ternyata cukup tangguh juga. Gerakan Jet li, Ip man, Jackie Chen, Steven Siegel, bahkan Naruto gue keluarkan. Yang jelas gue menggila disana. Tapi ada satu yang tidak gue sadar. Gue tertawa ketika menghajar lawan yang sudah tumbang itu.
Beruntung Hoseki ada disana. Dia memegang tangan gue ketika gue sedang asik memukuli kepala orang yang ternyata sudah pingsan itu. Pandangan gelap gue sekakan terbuka ketika tangan lembutnya menahan amukan gue. gue baru sadar ternyata dua orang ini terkapar oleh ulah gue sendiri.
Gue melihat Hoseki. kondisinya cukup buruk. Ada bekas lebam di pipi kanannya dan rambut dia terpotong-potong secara acak. Dengan setengah menangis dia membantu gue berdiri. Ketika badan gue berdiri tegak, baru terasa ada yang berdarah di hidung dan alis mata gue. perut gue juga terasa sakit. Tampaknya gue menerima pukulan cukup banyak.
Gue merangkul Hoseki. kakinya terkilir entah kenapa. Mbak penjaga BM menjatuhkan adonan tempenya ketika melihat wajah bonyok gue. dia hanya melihat tanpa membantu gue sampai gue menghilang dari pandangannya. Beruntung ruang UKS dekat. Gue segera ke UKS untuk mengobati Hoseki dan diri gue sendiri.
Ada perasaan takut ketika melewati ruang BK. Gue takut melaporkan kejadian ini dan gue juga takut jikalau seseorang melihat kebrutalan gue tadi. Masalahnya ada di peraturan sekolah. Sekolah gue menerapkan peraturan tentang perkelahian yang sangat tegas. Sekali saja ada murid yang berkelahi di ruang lingkup sekolah, maka kedua murid yang berseteru akan dikeluarkan (Drop Out).
Gue malah memikirkan kedua orang yang gue hajar. Gue takut salah satunya tidak bernafas dan memperumit keadaan. Gue berjalan lesu untuk mengecek keadaan mereka. Ternyata mereka saling bahu-membahu untuk berdiri sambil memegang anggota tubuh mereka yang terasa sakit. Ketika gue melihat lebih dalam, kedua orang itu adalah murid kelas dua. Kakak kelas gue sendiri.
Setelah selesai berbenah diri, gue dan Hoseki berjalan dengan tiga kaki menuju ke kelas. Istirahat belum berakhir. Sepanjang perjalanan ke kelas, banyak mata memandang ngeri ke arah gue. gue dan Hoseki mirip korban tabrak lari. Tapi tak ada satupun dari mereka yang menolong langkah Hoseki bahkan tidak ada yang berkata “apa yang terjadi denganmu? Apa kau baik-baik saja?”. Gue tak memperdulikan pandagangan mereka dan terus berjalan ke kelas dengan raut muka masam.
Di kelas gue disambut dengan tatapan yang sama. Tapi kali ini mereka langsung menghampiri dan menolong gue dan Hoseki. gue senang melihat para wanita tak banyak bicara tapi menolong Hoseki dengan segala yang mereka punya. Ada yang menawarkan betadine, kapas, bahkan minyak kain putih.
Berbeda dengan perempuan, bagi laki-laki ini terlihat keren. Teman-teman Baka malah bersorak melihat kondisi gue. gue sama sekali tidak merasa kesal. Sambil menertawai gue, mereka membantu gue sebisa mungkin dan gue menceritakan semua yang terjadi.
Gue beruntung mempunyai teman seperti mereka. Mereka mengerti keadaan dan berjanji untuk tidak membuka mulut apalagi melaporkan kepada guru. Salah seorang bernama Sandy yang mempunyai badan paling proposional di kelas dari grup Underground berkata.
“kalau ada apa-apa lagi. Bilang ke gue. “
Gue merasakan proteksi yang sangat aman kalau mendengar itu dari Underground. Badan merka tinggi dan besar. Dan jikalau menyerang secara bergerombolan, mereka akan menang dengan mudah.
Sepanjang perjalanan pulang sekolah, gue dikawal oleh seluruh laki-laki dari kelas gue.
Ada satuhal yang masih membuat gue kawatir. Gue belum melihat Hoseki setelah kejadian tadi. dia langsung dijemput pulang ketika para cewe menelpon ayahnya Hoseki. gue belum menanyakan apa yang terjadi. Kenapa dia jadi bahan siksaan. Kenapa dia tidak berteriak ketika disiksa. Dan siapa dua orang tersebut. Banyak yang ingin gue tanyakan. Ketika gue melihat kondisi diri gue sendiri, gue dengan pasrah membiarkan kasus itu tak terpecahkan.
...
Sore hari setelah salat magrib, gue menghampiri Bagdi yang sedang main playstation dan menceritakan semua yang terjadi di sekolah. Dia anak Psikologi, jadi gue memercayakan seluruh rahasia gue ke dia. Gue menceritakan secara mendetil apa yang gue lakuin agar mendapat saran terbaik dari dia.
Tapi satu-satunya saran yang harus gue lakuin tidak terpikirkan oleh gue. Dia menyarankan gue untuk mengecek kejiwaan gue dan mengikuti terapi emosi.
Ketika dia mendegar bahwa gue tertawa saat memukuli orang yang sudah terkapar. Dia mengatakan kalau ada sifat psycho dalam diri gue dan menyarankan untuk mengecek kejiwaan gue.
Psycho ..? well..Gue rasa ini sudah terjadi beberapa kali sebelumnya.
Gue berlari dengan cepat. Sesaat gue melihat Hoseki tak mengeluarkan suara ketika disiksa. Orang yang memegang gunting melihat kehadiran gue. secara otomatis orang itu menjadi target pukulan pertama gue.
BAKKK !
Pukulan pertama tepat mendarat di pipinya. Gue melihat beberapa potong gigi dan darah keluar dari mulutnya. Orang itu tersungkur ke tanah. Entah mati atau tidak gue tidak peduli. Yang jelas balok kayu itu hancur dengan sekali pukul. Amarah benar-benar memenuhi gue, seakan-akan gue dikendalikan olehnya.
Pernah sekali gue merasa seperti ini. Waktu itu ketika smp, gue melihat adik gue yang masih sd di palak oleh tiga orang anak smp. Orang yang memalak itu adalah kakak kelas gue sendiri. Awalnya gue takut membantu, tapi begitu gue melihat sebuah tinju mengenai hidung adik gue, rasa takut digantikan amarah. Gue membabibuta memukul acak tapi keras ke kakak kelas gue sendiri. alhasil gue kalah di pertarungan yang kalah jumlah itu tapi seorang dari mereka dibawa kerumah sakit karena gue memukul terlalu keras tepat di diafragma (ulu hati) nya.
Perasaan yang sama gue luapkan untuk melindungi Hoseki. entah kenapa gue seakan tak bisa mengendalikan diri gue sendiri. semua jurus yang pernah gue lihat di tv gue keluarkan untuk melawan satu orang yang tersisa ini yang ternyata cukup tangguh juga. Gerakan Jet li, Ip man, Jackie Chen, Steven Siegel, bahkan Naruto gue keluarkan. Yang jelas gue menggila disana. Tapi ada satu yang tidak gue sadar. Gue tertawa ketika menghajar lawan yang sudah tumbang itu.
Beruntung Hoseki ada disana. Dia memegang tangan gue ketika gue sedang asik memukuli kepala orang yang ternyata sudah pingsan itu. Pandangan gelap gue sekakan terbuka ketika tangan lembutnya menahan amukan gue. gue baru sadar ternyata dua orang ini terkapar oleh ulah gue sendiri.
Gue melihat Hoseki. kondisinya cukup buruk. Ada bekas lebam di pipi kanannya dan rambut dia terpotong-potong secara acak. Dengan setengah menangis dia membantu gue berdiri. Ketika badan gue berdiri tegak, baru terasa ada yang berdarah di hidung dan alis mata gue. perut gue juga terasa sakit. Tampaknya gue menerima pukulan cukup banyak.
Gue merangkul Hoseki. kakinya terkilir entah kenapa. Mbak penjaga BM menjatuhkan adonan tempenya ketika melihat wajah bonyok gue. dia hanya melihat tanpa membantu gue sampai gue menghilang dari pandangannya. Beruntung ruang UKS dekat. Gue segera ke UKS untuk mengobati Hoseki dan diri gue sendiri.
Ada perasaan takut ketika melewati ruang BK. Gue takut melaporkan kejadian ini dan gue juga takut jikalau seseorang melihat kebrutalan gue tadi. Masalahnya ada di peraturan sekolah. Sekolah gue menerapkan peraturan tentang perkelahian yang sangat tegas. Sekali saja ada murid yang berkelahi di ruang lingkup sekolah, maka kedua murid yang berseteru akan dikeluarkan (Drop Out).
Gue malah memikirkan kedua orang yang gue hajar. Gue takut salah satunya tidak bernafas dan memperumit keadaan. Gue berjalan lesu untuk mengecek keadaan mereka. Ternyata mereka saling bahu-membahu untuk berdiri sambil memegang anggota tubuh mereka yang terasa sakit. Ketika gue melihat lebih dalam, kedua orang itu adalah murid kelas dua. Kakak kelas gue sendiri.
Setelah selesai berbenah diri, gue dan Hoseki berjalan dengan tiga kaki menuju ke kelas. Istirahat belum berakhir. Sepanjang perjalanan ke kelas, banyak mata memandang ngeri ke arah gue. gue dan Hoseki mirip korban tabrak lari. Tapi tak ada satupun dari mereka yang menolong langkah Hoseki bahkan tidak ada yang berkata “apa yang terjadi denganmu? Apa kau baik-baik saja?”. Gue tak memperdulikan pandagangan mereka dan terus berjalan ke kelas dengan raut muka masam.
Di kelas gue disambut dengan tatapan yang sama. Tapi kali ini mereka langsung menghampiri dan menolong gue dan Hoseki. gue senang melihat para wanita tak banyak bicara tapi menolong Hoseki dengan segala yang mereka punya. Ada yang menawarkan betadine, kapas, bahkan minyak kain putih.
Berbeda dengan perempuan, bagi laki-laki ini terlihat keren. Teman-teman Baka malah bersorak melihat kondisi gue. gue sama sekali tidak merasa kesal. Sambil menertawai gue, mereka membantu gue sebisa mungkin dan gue menceritakan semua yang terjadi.
Gue beruntung mempunyai teman seperti mereka. Mereka mengerti keadaan dan berjanji untuk tidak membuka mulut apalagi melaporkan kepada guru. Salah seorang bernama Sandy yang mempunyai badan paling proposional di kelas dari grup Underground berkata.
“kalau ada apa-apa lagi. Bilang ke gue. “
Gue merasakan proteksi yang sangat aman kalau mendengar itu dari Underground. Badan merka tinggi dan besar. Dan jikalau menyerang secara bergerombolan, mereka akan menang dengan mudah.
Sepanjang perjalanan pulang sekolah, gue dikawal oleh seluruh laki-laki dari kelas gue.
Ada satuhal yang masih membuat gue kawatir. Gue belum melihat Hoseki setelah kejadian tadi. dia langsung dijemput pulang ketika para cewe menelpon ayahnya Hoseki. gue belum menanyakan apa yang terjadi. Kenapa dia jadi bahan siksaan. Kenapa dia tidak berteriak ketika disiksa. Dan siapa dua orang tersebut. Banyak yang ingin gue tanyakan. Ketika gue melihat kondisi diri gue sendiri, gue dengan pasrah membiarkan kasus itu tak terpecahkan.
...
Sore hari setelah salat magrib, gue menghampiri Bagdi yang sedang main playstation dan menceritakan semua yang terjadi di sekolah. Dia anak Psikologi, jadi gue memercayakan seluruh rahasia gue ke dia. Gue menceritakan secara mendetil apa yang gue lakuin agar mendapat saran terbaik dari dia.
Tapi satu-satunya saran yang harus gue lakuin tidak terpikirkan oleh gue. Dia menyarankan gue untuk mengecek kejiwaan gue dan mengikuti terapi emosi.
Ketika dia mendegar bahwa gue tertawa saat memukuli orang yang sudah terkapar. Dia mengatakan kalau ada sifat psycho dalam diri gue dan menyarankan untuk mengecek kejiwaan gue.
Psycho ..? well..Gue rasa ini sudah terjadi beberapa kali sebelumnya.
0
Kutip
Balas