- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#369
Partitur no. 69 : (Outro) For A Long Day
Aku pun menengok menuju ke arah sumber suara wanita yang memanggilku. “Ya ampun, kamu kenapa?” tanya wanita itu dengan ekspresi yang sangat terkejut melihat penampilanku yang tak karuan itu. “Aku baru mau pulang, kukira kamu nggak bakal dateng..”
Sama terkejutnya denganku ketika melihat kedatangannya yang tak kuduga—karena ia lagi-lagi bilang kepadaku tak bisa datang—aku terbengong sambil memegang gagang pintu kamarku. Butuh waktu untukku kembali ke dunia nyata ini setelah terbengong-bengong, dan menjawab pertanyaannya. Aku sama sekali tak menyangka, karena ia bilang hanya ada dua kemungkinan: ikut makan malam dalam ulang tahunku atau mengikuti acara ini. “Man?” tanyanya lagi.
“Eh, itu, anu..” tak tahu kenapa aku menjadi seorang yang gagap, seperti orang yang ingin berbohong, tapi niatku bukan itu. Aku bingung menjelaskannya. “abis ngasih bantuan gitu, tapi..” belum selesai aku menjelaskan dengan kebingungan, aku berjalan ke arahnya. Ia sama sekali tak mengeluarkan ekspresi jijik kepadaku.
“Kamu udah lama?” kataku mengalihkan pembicaraan.
“Dari tadi nungguin kamu..” ia yang keliatan khawatir itu mengeluarkan sapu tangan miliknya dari tas yang biasa ia kenakan. Sapu tangan putih yang hangat ini menyentuh rambutku dengan halus, membiarkan air yang membasahi kepalaku itu hingga kering perlahan-lahan. Sentuhannya sangat hati-hati, penuh cinta, penuh keprihatinan, atau tepatnya kekhawatiran.
Nampaknya, ia bisa menerka-nerka apa yang terjadi kepadaku tadi. Sangat lucu, karena ternyata ia sangatlah perhatian. Harrys dan Tafa—atau aku panggil saja Sultan, melihatku dengan sangat iri. “Mau dong dilapin juga.. Keringetan, nih..” ujar Sultan.
Aku hanya bisa tertawa. “Yaudah, akunya bau ini, mau mandi dulu..” kataku melepaskan sapu tangan yang masih ada di kepalaku itu. “Makasih ya, sayang..” aku segera menuju ke pintu kamarku kembali.
Ketika akan membuka pintu itu lagi, aku mendengar suara banyak orang di kamarku. Siapa yang berada di dalam? Mengapa bisa masuk ke kamarku? Lantas, karena khawatir, aku langsung membuka pintu kamarku. Ternyata, itu teman-temanku dari komunitas Muse yang sedang berkumpul di dalam sana. Tentu saja ada Kang Naufal yang sedang sakit di dalamnya. Ada Kakaknya Tasya juga di sana. “Man, lo kenapa?” tanya Mbak Sari kebingungan melihat kondisiku yang aneh itu. Aku langsung menampakkan senyum dan menutup kembali pintu kamarku untuk pergi mandi di kamar sebelah. Rasanya, tak enak jika mandi di kamar mandi kamarku jika sedang banyak orang.
Lagu-lagu dari Bon Jovi terdengar hingga kamar mandi dari acara itu, membuat tiap nada-nadanya menemaniku membersihkan badanku yang ternyata benar-benar kotor. Aku tak heran jika ada yang menatap jijik kepadaku. Lumpur-lumpur, tanah melekat ke baju dan celanaku, bahkan ada beberapa yang di betis karena aku tadi melipat celanaku ketika berada di sana. Yang paling mengganggu adalah bau sampah yang mengidap di bajuku hingga membuat ruangan kamar mandi yang cukup kecil ini terasa bau sampah juga.
Aku segera menyusul ke ruang tengah untuk menemui Tasya lagi setelah selesai mandi dan memakai baju yang sekiranya cocok untuk jalan menonton konser—meskipun acara tersebut ada di rumahku. “Udah keren, belum?”
“Sejak kapan kamu keren?” ledek Tasya dan Harrys berbarengan.
“Baru tadi ada yang perhatian banget, sekarang udah gini lagi,” kataku pura-pura mengambek.
“Hehe iya-iya, yaampun kamu, ya..” ujar Tasya sambil tertawa. Aku segera mengambil duduk di kursi panjang—di sebelah Harrys dan Sultan. Tasya turut ikut pindah ke sebelahku.
“Aku punya sesuatu, lho!” seru Tasya dengan sangat senang.
“Apaan, tuh?”
“Tebak, hayo!”
“Gitar?” tebakku asal.
“Enak aja!”
“Ngg, efek gitar?”
“Bukaan!”
“Makanan?”
“Dasar wapol!”
“Terus apa, dong?” Tasya terlihat mengambil sesuatu di dalam tasnya. Ia mengeluarkan benda berbentuk persegi yang dibungkus dengan bungkusan berwarna biru.
“Nih!” katanya sambil mengulurkan barang itu dengan senang. Bungkusannya sangat rapih, tidak seperti yang pernah kubuat.
“Ini kado?”
“Yaampuun, masih nanya lagi!” katanya tertawa.
“Enak banget Kang Iman dapet kado!” protes Harrys dari sebelahku.
“Harrys mau? Nanti Kakak buatin kue lagi, ya, buat Harrys..” ujar Tasya.
“Mau dong!” kata Sultan.
“Aku juga ya, satu loyang aja..”
“Nggak ada buat kamu!” cibirnya sambil tertawa.
“Boleh aku buka sekarang, nggak?” tanyaku.
“Boleh, kok..”
Aku segera membuka bungkusan berbentuk persegi itu dengan sangat hati-hati. Tak sampai hati jika langsung ku sobek bungkusan itu. Aku hanya mencabut perekatnya dan membukanya sama seperti cara ia membungkus. Warna hijau di dalamnya terlihat sekilas ketika sebagian bagian sudah terbuka. “Wah,” aku sudah mengira-ngira isi kado itu.
Karena semakin tak sabar, aku langsung membuka semuanya. Aku sangat terkejut melihatnya. Memang, beberapa bulan belakangan ini, sering sekali topik pembicaraanku dengan Tasya adalah mengenai album trilogi yang diluncurkan perlahan-lahan oleh band favoritku, Green Day, lalu mengenai album baru Muse, dan juga album baru Paramore paska ditinggal oleh Farro bersaudara. Obrolan kami berbulan-bulan lalu ini benar-benar berwujud nyata dalam sebuah kado, bukan sekedar dalam percakapan lagi.
Spoiler for iuno!:
Sebuah wajah yang sangat familiar dengan setiap bola matanya ditandai tanda “x” menjadi ciri khas tersendiri pada cover album ini selain warna hijau yang mendominasi. Melihatnya, aku langsung menaruh album itu ke meja di depanku dan memeluk Tasya. “Makasih banyak, sayaaaang..” kataku.
Ya, album itu adalah album pembuka dari trilogi indah yang diciptakan Green Day. Sedikit nuansa politik—malah hampir tak ada—dan lebih menekankan kepada kehidupan sehari-hari, cinta, dan bersenang-senang. Sebuah album yang menurutku sangat fresh, dan terasa nuansa tahun 80’an, ada juga yang terasa seperti terinspirasi dari lagu-lagu Beatles. “Kapan kamu belinya?” tanyaku.
“Ada, deh..” katanya sambil menjulurkan lidahnya.
“Dasaar.. Eiya, nonton ke depan sana, yuk?” usulku.
“Hayuk..” aku juga mengajak Harrys dan Sultan yang sedari tadi hanya ikut tertawa mendengar percakapanku dengan Tasya. Aku menaruh terlebih dahulu kado dari Tasya ke kamar Harrys—karena kamarku penuh dengan orang.
Kami berempat segera menuju ke depan, di mana ternyata sangat banyak orang—lebih dari yang kuduga—memenuhi halaman depan rumahku. Banyak juga anak-anak tentangga yang melihat dari luar, ada pak RT dan pak RW turut hadir. “Dari mana aja lo, Man?” Lukman menghampiriku yang sedang menyaksikan band yang sedang bermain.
“Ahaha, tadi abis ngasih bantuan, Man..” jawabku.
“Band yang mainin paramore udah main tadi, tuh. Keren banget mainnya. Gitarisnya itu gitarisnya Funky Kopral..” kata Lukman menjelaskan.
“Iya tuh, sayang, bagus banget tadi yang mainin paramore..” ujar Tasya menyetujuinya.
“Terus, sekarang ke mana mereka?” tanyaku sambil melihat sekeliling halaman depan rumahku itu.
“Udah pulang duluan, Man. Ada manggung lagi katanya..” jelas Lukman. “Thanks ya, Man. Lo milihin band yang keren banget..” katanya dengan senang.
Awalnya aku menawarkan bandnya Rahman yang waktu itu kulihat sebulan lalu untuk mengisi acara ini, tapi e-mail ku tak dibalas oleh mereka. Padahal, aku ingin sekali melihat penampilan mereka lagi, tertuama gitaris wanita itu. Ah, sudahlah. Akhirnya aku menawari teman dekatku yang baru kukenal sejak aku menonton tribute paramore bulan Juni lalu dengan Tasya, Wida namanya.
Ada pula beberapa hal yang berubah dalam acara ini. Salah satunya adalah absennya komunitas Dream Theater, karena pihak mereka yang sedang berhalangan.
Band yang selanjutnya akan naik ka atas panggung adalah band dari komunitas Gigi yang tadi ikut memberikan bantuan bersamaku. Dan para personilnya sudah segar bugar seakan kejadian tadi benar-benar tak menjadi penghalang. Mereka sedang briefing di luar rumahku, semacam berdoa bersama agar panggung ini akan sukses. Para anggota komunitas Gigi juga banyak lagi yang berdatangan ke sini. Kakak dari Bundaku yang tadi ikut juga sudah hadir lagi di tempat ini. Tentu saja ia mengganti bajunya yang turut basah kuyup tadi.
Teman Kantor Bunda dan Tasya juga turut hadir di sana, menyapa Tasya dari kejauhan. “Lo bisa nyasar ke sini gimana ceritanya, Sya?” tanya perempuan itu.
“Karena tau infonya aja, Mbak..” jawab Tasya dengan ramah. Aku baru ingat bahwa teman satu Kantornya tak ada yang tahu bahwa Tasya adalah kekasih dari anaknya Bunda.
Para MC mengumumkan akan mengadakan sebuah permainan kecil berhadiah sambil menunggu band dari komunitas Gigi itu selesai memasang dan mengurusi alat-alatnya. Rupanya, Om Wahyu membawa soundman nya sendiri, khusus untuk penampilan mereka.
“Ayok, kita bakal bikin permainan kecil, nih!” kata seorang MC yang kutahu juga seorang fotografer handal yang bernama Arvin bersama seorang MC perempuan yang mengenakan hijab. “Hadiahnya kaos dari komunitas Mr. Big ini..” lanjutnya sambil mengeluarkan satu kaos berwarna biru yang bercampur dengan merah pada lengannya. “Ada yang mau?”
Ada satu orang yang maju ke depan untuk mengikuti permainan sederhana ini. Aku juga tergiur, karena aku menginginkan hadiah kaosnya. Dan, sepertinya Tasya melihat sorot mataku yang polos seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu. Baru kulihat wajahnya, langsung tersirat ekspresi muka jahat—atau tepatnya licik. Benar saja, aku langsung di dorong untuk maju ke depan.
“Ya, dengan Mas siapa ini?” tanya MC berkerudung itu. Aku hanya senyam-senyum tak jelas di atas sana. Aku menatap Tasya dengan muka sebal. Ia hanya tertawa bersama adiknya dengan perasaan puas.
“Iman..” jawabku dengan malu-malu.
“Iya, Iman. Ini permainannya gini, Man. Lo keluarin semua benda yang sekang lo pegang atau yang ada di kantong lo. Baju lo juga boleh, sepatu, kaos kaki, dompet, duit, kartu-kartu di dompet, pokoknya apa aja. Nah, yang paling panjang itu yang menang.” Jelas sang MC. Aku yang polos itu hanya mengangguk kebingungan. “Udah siap?”
“Tiga.. Dua.. Satu!” baru permainan ini dimulai tapi sepertinya kekalahanku sudah telak. Dompetku tak ada uangnya. Kartu juga hanya kartu pelajar, dan beberapa kartu rumah sakit. Aku tak mengenakan sepatu—tak mengenakan kaos kaki pula. Hanya mengenakan sepatu sandal.
Lawanku sudah mengeluarkan semuanya, jauh melebihi milikku.
Waktu terasa sangat lama di atas sana. Aku sudah sangat pasrah, bahwa aku tak akan mendapat kaos itu.
“Ya, waktunya sudah habis!” ujar sang MC dengan sangat semangat. “kita liat siapa yang bakal menang..” ia melihat-lihat ke bawah, sejauh mana kami meletakan barang-barang kami. Karena sudah pasti aku tak akan menang, aku pasrah saja ketika mereka melihat ke arahku.
“Yang menang adalah... IMAN!” teriak MC itu membakar suasana di rumahku. Aku terbengong kaget—sekaligus bingung. Bagaimana aku bisa menang? “Pada bingung, kan? Oke, kita jelasin.. Jadi permainan ini jebakan sebenernya, permainan kebalikan. Yang menang adalah yang mengeluarkan barang-barangnya paling sedikit.” Aku hanya bisa terbengong bodoh lagi. “kaosnya ukuran apa, Man?” tanya Arvin.
“Ukuran L aja, Vin..” kataku. Ia segera menuju ke bagian panitia yang berada di sebelah kiri panggung, mengambil satu dari banyaknya kaos yang tersedia di sana.
“Selamat Iman buat kaosnya! Silahkan kembali ke bawah..”
“Ciee kaos baru nih, ya..” ledek Tasya sambil tertawa. “Nggak sia-sia kan aku dorong kamu tadi?”
“Iya, sih.. Lumayan dapet dua kado..” aku langsung membuka bungkusan kaos tersebut dan mencocok-cocokannya ke badanku. “Keren, nggak?”
“Sejak kapan kamu keren?”
***
Band yang sedang memainkan nada khas Gigi pun benar-benar membakar suasana di sini. Mereka membuat kami terbawa suasana. Mulai dari suasana ramai hingga suasana sendu. Para penggemar Gigi—atau sebutan untuk penggemarnya adalah Gigikita—langsung memenuhi barisan depan. Mereka loncat-loncat—menyatu dengan musik yang sedang dibawakan—serasa menonton Gigi yang asli. Om Wahyu memang benar-benar penggemar berat sang Dewa Budjana, sound gitarnya sampai benar-benar mirip! Tanda tangan di gitarnya juga tak pernah hilang sejak ia memintanya ketika aku masih di bangku Sekolah Dasar. Aku dan Tasya juga ikut maju ke depan bersama Bunda. Kami turut mengikuti euforiakeseruan malam itu dengan ikut bernyanyi dan ikut loncat, melupakan kelelahan yang baru kualami.
Sama sekali tak perlu menjaga imej jika menonton sebuah band bersama Tasya. Ini bukan kali pertamanya menonton sebuah band bersamanya, kami sudah terbiasa mengikuti euforia tanpa saling merasa tak enakan. Terutama ketika kami menonton acara tribute Paramore pada bulan Juni lalu.
Suasana sendu dimulai ketika mereka mulai membawakan lagu 11 Januari, salah satu lagu hits yang meledak di pasaran Indonesia. Aku memeluk Tasya dari belakang ketika lagu itu dimainkan, layaknya sepasang kekasih ketika mereka berada pada sebuah konser dan band yang bermain memainkan lagu romantis. Tasya yang merasa tak enakkan berusaha melepas genggaman tanganku, tapi aku tetap memeluknya. Bundaku melihatnya, dan tentu saja ia meledekku.
Lagu yang mereka bawakan berikutnya juga membuat suasana ini bertambah sendu. Mereka membawakan lagu Wild World yang di cover oleh Mr. Big dari penyanyi aslinya Cat Steven. Lalu, lagu yang mereka bawakan selanjutnya adalah sebuah lagu Gigi yang mereka benar-benar dedikasikan kepada korban banjir yang melanda Jakarta, terutama karena mereka juga melihat sendiri kepahitan itu tadi. Lagu ini bercerita bagaimana seharusnya kita mencintai orang lain dalam definisi yang luas. Perihal mencintai tak selalu mengenai mencintai lawan jenis, namun mengenai mencintai sesama manusia, atau lebih tepatnya semua makhluk hidup. Mencintai itu perihal berkorban demi orang lain, mungkin seperi yang kami lakukan tadi. Ingin menangis rasanya mendengarkan mereka membawakan lagu ini, terlebih karena benakku memang serasa masih berada di sana.
Para Muser sudah berada disebelah kiriku sedari tadi ketika band yang membawakan Gigi ini sedang tampil. Nampaknya, band mereka akan segera tampil setelah ini. “Nanti kan Om kamu yang nyanyi” kataku kepada Tasya ketika band di atas sudah selesai bermain.
“Hah? Om ku? Yang mana?” jawabnya sambil menatapku dengan keheranan. Sepertinya ia benar-benar tak tahu menahu soal ini.
“Lupa aku namanya, ada pokoknya kata abang kamu kemaren yang nyanyi bagian Mr. Big nya nanti Om nya..” ia masih menampakkan ekspresi kebingungan.
“Ngg, anu..” nampaknya bingung mencari-cari alasan. “Sodara jauh aku itu, aku nggak begitu deket. Deketnya sama abang..” aku mengangguk mengerti, walaupun awalnya aku sempat curiga karena bagaimana satu keluarga tidak mengetahui sanak saudara sendiri?
Aku tak lagi memedulikannya ketika mereka sudah membuka lagu pertama dengan meriah dengan lagu Hysteria. Nada-nada aneh khas Muse dimainkan dengan sangat hebat. Kakaknya Tasya hanya menyanyi saat itu, karena gitarnya setahuku sedang di service di salah satu bengkel gitar. Dalam seksi gitar dipercayakan sepenuhnya kepada Rizal, gitaris dalam band The Panitias kemarin. Ia memang sangat handal dalam bermain gitar, bisa dibilang ia lebih handal daripada diriku ini. Drummernya kali ini adalah seorang wanita cantik bernama Edelweis—namanya cantik seperti bunga yang menjadi namanya—pacarnya gitaris yang membanting gitar dalam tribute kemarin. Sebenarnya ia seorang pemain bass, tapi ia juga cukup menguasai bermain drum. Kang Naufal yang sedang sakit itu terlihat sangat lemas di atas panggung.
Lagu kedua, mereka akan membawakan lagu Mr. Big yang sudah dibawakan oleh beberapa band sebelumnya. Sebenarnya hal ini tak diperbolehkan oleh pantia, tapi daripada band ini batal tampil, aku harus membujuk lagi para panitia agar memperbolehkannya. Om nya Tasya pun naik ke atas panggung itu—menggantikan abangnya Tasya yang sekarang berpindah ke instrumen keyboard.
Ada satu hal yang aneh pada ekspresi Tasya ketika Om nya itu naik ke atas panggung: ia seperti tak mengenalnya. Ekspresinya seperti bertanya-tanya: ‘Siapa orang ini?’ Apakah benar itu saudaranya? Seperti menyembunyikan sesuatu.
Terlepas dari semua kecurigaanku akan sikapnya, suara Om itu sangatlah bagus, cocok dengan lagu yang ia bawakan. Tak salah Bang Ichy memilihnya sebagai vokalis khusus membawakan lagu-lagu ala Mr.Big.
Kini giliran band dari pihak komunitas Mr. Big yang akan bermain sebagai bintang tamu sekaligus tuan rumah acara ini. Lagu-lagu hits dari era Paul Gilbert hingga Ritchie Kotzen turut dimainkan dengan sangat hebat, seperti biasanya. Sayang, lagu-lagu dari album barunya tak turut dimainkan malam itu.
Tentu saja, membuat sebuah acara seperti ini bukannya tanpa menuai protes. Meskipun rumahku berada tepat di seberang jalan raya, tapi, ada tetangga—padahal tinggalnya di seberang rumahku—yang protes karena suara musik mengganggunya ketika acara ini sedang sampai puncaknya. Terlebih, kami sudah meminta izin kepada pihak yang berwenang untuk membuat acara ini. Untungnya tetangga itu segera diamankan karena cukup banyak petugas keamanan yang ada di sana. Walaupun begitu, hal ini membuatku cukup khawatir hingga tak bisa menikmati musik yang sedang dimainkan.
Para pemain dari komunitas Mr. Big sedang membawakan masing-masing satu lagu dari komunitas yang diundangnya dalam acara ini. Mulai dari memainkan lagu Gigi yang langsung dihajar oleh lagu Muse dan Paramore secara berturut-turut. Yang bergantian biasanya hanya vokalisnya saja. Dan, siapa sangka, sang MC wanita yang mengenakan hijab itu menyanyikan lagu Ignorance dengan hebatnya.
Sebuah acara indah yang menutup satu hari yang mungkin paling berharga dalam hidupku, ketika pulang dari sebuah petualangan aneh yang kualami, hingga dihibur dengan lagu-lagi dari band yang semuanya benar-benar kusukai, berkumpul dengan orang yang rata-rata kukenal, sampai hadirnya sosok wanita yang menemaniku menikmati malam ini.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 22:37
0

