- Beranda
- Stories from the Heart
The Abnormal (kisah fiksi bercampur reality masa-masa SMA)
...
TS
joechristianp
The Abnormal (kisah fiksi bercampur reality masa-masa SMA)
The Abnormal
Selamat pagi, siang, sore, malam agan/wati semuanya
Disini saya mau mengikuti saran dari teman saya yaitu menyebarluaskan hobi iseng-iseng saya ini
tak lain dan tak bukan adalah menulis
selama ini kegiatan saya hanyalah mengekspresikan hobi ini secara tertutup di laptop pribadi
sampai suatu saat teman saya menyarankan untuk memposting di SFTH kaskus.. katanya para pembaca disini baek-baek

oleh karena itu, saya mohon pendapat agan/wati semuanya jikalau ada saran untuk tulisan-tulisan saya yang kebetulan belum pernah dibaca oleh siapapun

satu lagi.. saya masih newbie di kaskus.. jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau thread ini tidak rapi atau tidak layak dimata agan-agan sekalian

Terima kasih untuk yang mau membaca dan mohon bantuannya
~Don't judge a book by it's cover ~
... meh, that's bullshit !
Spoiler for Sinopsis:
...
Samuel yang biasa dipanggil 'Jo' adalah siswa SMA yang selalu beranggapan kalau kata don't judge a book by it's coveradalah omong kosong. karena apa yang dia lihat selalu tak sesuai dengan ekspetasi dia.
ditambah lagi penyakit social awkwardnya membuat dia selalu merasa canggung di dekat lawan jenis dan karena itu, dia dijuluki 'cowo terjutek' semasa hidupnya.
sampai suatu hari. seseorang yang unik muncul di hadapannya dan mengubah seluruh jalan hidupnya. serempak dengan datangnya masalah yang bertubi-tubi, dapatkah dia menggapai tujuannya?
...
Spoiler for Prolog:
Cerita ini bukan dari kisah nyata tetapi saya memberanikan diri untuk menempatkan nama sekolah sendiri sebagai latar utama.Saya juga akan menggunakan gaya bahasa setengah gaul
walaupun saya belum terbiasa memakainya. Ketika saya melihat foto sepupu saya yang menderita down syndrome, pikiran saya mulai mengarang cerita dan saya ingin mengaplikasikannya dalam bentuk light-novel. Walau ini bukan kisah nyata; sifat, latar, dan tokoh yang saya pakai berasal dari dunia nyata.
Disini saya akan menuliskan beberapa pengalaman hidup saya yang baru 16 tahun ini dan menambahkan sedikit bumbu-bumbu imajinasi orisinil dari otak saya sendiri dan dari beberapa buku, film, bahkan kartun yang mengambil peran dalam hidup saya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua orang mengatakan kalau jangan menilai orang dari tampangnya melainkan nilai dari apa yang ada dalam dirinya, tapi bagi gue itu semua omong kosong. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang menilai orang secara langsung dari sifat objek yang dinilainya. Orang-orang akan memperlakukan kamu lebih baik jika kamu cakep (baca: cantik atau ganteng). Berdasarkan paham negatif inilah gue meyakini kalau frase don’t judge a book by it’s cover itu omong kosong. Pada kenyataanya manusia membeli buku dengan cover yang bagus, membeli makanan yang kemasannya bagus, bahkan lebih bangga memakai gadget berlambang apel padahal fiturnya sama dengan gadget yang harganya sama dengan uang jajan gue selama sebulan.
Tapi tak jarang gue sedikit menerima kalau ada beberapa orang yang benar-benar menilai orang dari sifat alaminya. Seperti contoh, saat gue ke Trans Studio Bandung (TSB) bersama teman-teman gue, ada cewek cantik se-kabupaten mempunyai pacar seorang cowo yang mukanya lebih mirip dengan siluman gagang pintu. Disitu gue menilai mungkin si cowo benar-benar memiliki hati yang pure dan si cewe benar-benar tulus mencintainya. Tapi sesaat kami hendak pulang, di tempat parkir, si cowok sedang asyik memainkan kunci mobil lamborgini nya dengan muka senyum sombong merangkul sang cewe yang senang kegirangan memegang produk paling baru dari gadget apel yang sudah disebutkan diatas. Sejak kejadian itu, gue dan teman-teman sejomblo sepakat untuk tidak ke TSB lagi.
Mari kita kesampingkan masalah siluman gagang pintu dulu, disini gue akan memaksukan objek manusia yang biasanya sosoknya dihiraukan oleh manusia lain. Tak lain dan tak bukan adalah manusia yang tidak normal. Orang yang dilahirkan tak sempurna dari semestinya. Gue percaya semua orang mempunyai masa depan yang cerah yang telah Tuhan tentukan. Mau itu cinta, karir, kesehatan, keluarga dan lain-lain asalkan kita sebagai makhluk ciptaanNya mengikuti apa yang Dia perintahkan.
Tidak semua manusia normal. Ada yang dilahirkan hanya dengan satu tangan. ada juga yang mempunyai dua tangan, dua kaki tapi harus berbagi kepala dan jantung dan seisi perutnya bersama saudara kembar sebadannya. Begitu pula dengan cinta. Semua punya selera masing-masing. Si tampan dengan si cantik. Si kaya dengan si miskin. Si pemain film serigala dengan si cantik, si kaya, si sosialita, si pintar dan si lain-lainnya. yaa, pemain film mempunyai banyak pacar, oleh karena itu, selain jadi pengacara, cita-cita sampingan gue adalah pemain film.
Gue sebagai pengarang cerita ini berharap kalau isi novel ini benar-benar ada di dunia nyata dimana orang-orang yang dilahrikan kurang dari semestinya mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama seperti manusia pada umumnya.
walaupun saya belum terbiasa memakainya. Ketika saya melihat foto sepupu saya yang menderita down syndrome, pikiran saya mulai mengarang cerita dan saya ingin mengaplikasikannya dalam bentuk light-novel. Walau ini bukan kisah nyata; sifat, latar, dan tokoh yang saya pakai berasal dari dunia nyata.Disini saya akan menuliskan beberapa pengalaman hidup saya yang baru 16 tahun ini dan menambahkan sedikit bumbu-bumbu imajinasi orisinil dari otak saya sendiri dan dari beberapa buku, film, bahkan kartun yang mengambil peran dalam hidup saya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua orang mengatakan kalau jangan menilai orang dari tampangnya melainkan nilai dari apa yang ada dalam dirinya, tapi bagi gue itu semua omong kosong. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang menilai orang secara langsung dari sifat objek yang dinilainya. Orang-orang akan memperlakukan kamu lebih baik jika kamu cakep (baca: cantik atau ganteng). Berdasarkan paham negatif inilah gue meyakini kalau frase don’t judge a book by it’s cover itu omong kosong. Pada kenyataanya manusia membeli buku dengan cover yang bagus, membeli makanan yang kemasannya bagus, bahkan lebih bangga memakai gadget berlambang apel padahal fiturnya sama dengan gadget yang harganya sama dengan uang jajan gue selama sebulan.
Tapi tak jarang gue sedikit menerima kalau ada beberapa orang yang benar-benar menilai orang dari sifat alaminya. Seperti contoh, saat gue ke Trans Studio Bandung (TSB) bersama teman-teman gue, ada cewek cantik se-kabupaten mempunyai pacar seorang cowo yang mukanya lebih mirip dengan siluman gagang pintu. Disitu gue menilai mungkin si cowo benar-benar memiliki hati yang pure dan si cewe benar-benar tulus mencintainya. Tapi sesaat kami hendak pulang, di tempat parkir, si cowok sedang asyik memainkan kunci mobil lamborgini nya dengan muka senyum sombong merangkul sang cewe yang senang kegirangan memegang produk paling baru dari gadget apel yang sudah disebutkan diatas. Sejak kejadian itu, gue dan teman-teman sejomblo sepakat untuk tidak ke TSB lagi.
Mari kita kesampingkan masalah siluman gagang pintu dulu, disini gue akan memaksukan objek manusia yang biasanya sosoknya dihiraukan oleh manusia lain. Tak lain dan tak bukan adalah manusia yang tidak normal. Orang yang dilahirkan tak sempurna dari semestinya. Gue percaya semua orang mempunyai masa depan yang cerah yang telah Tuhan tentukan. Mau itu cinta, karir, kesehatan, keluarga dan lain-lain asalkan kita sebagai makhluk ciptaanNya mengikuti apa yang Dia perintahkan.
Tidak semua manusia normal. Ada yang dilahirkan hanya dengan satu tangan. ada juga yang mempunyai dua tangan, dua kaki tapi harus berbagi kepala dan jantung dan seisi perutnya bersama saudara kembar sebadannya. Begitu pula dengan cinta. Semua punya selera masing-masing. Si tampan dengan si cantik. Si kaya dengan si miskin. Si pemain film serigala dengan si cantik, si kaya, si sosialita, si pintar dan si lain-lainnya. yaa, pemain film mempunyai banyak pacar, oleh karena itu, selain jadi pengacara, cita-cita sampingan gue adalah pemain film.
Gue sebagai pengarang cerita ini berharap kalau isi novel ini benar-benar ada di dunia nyata dimana orang-orang yang dilahrikan kurang dari semestinya mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama seperti manusia pada umumnya.
Spoiler for PART 1: Normal:
Nama gue Sam Cristian. Panjangnya Samuel Cristian Gibran Panjaitan. Gue mempunyai nama paling panjang di kelas (mungkin di sekolah) sekaligus mempunyai gelar nama panggilan terpendek. Makhluk-makhluk di sekolah biasa memanggil gue Jo (bahkan ada yang memanggil O ). (panggilan gue didapat dari nama karakter game online gue. semua game online yang gue mainin nick nya Joe blablabla.., awalnya hanya teman sepermainan gue yang tau, eh ternyata sampe keterusan ke kelas..)(diluar ketika ditanya apa nama panggilannya, gue selalu mengatakan 'Jo')
Sepanjang hidup gue yang masih pendek ini, terlihat sangat normal. Tampang biasa saja,Hidup berkecukupan, sekolah lancar, makan tiga kali sehari, berantem, bahkan ikut main ke warnet saat point blank datang merusak generasi yang sudah rusak ini.
Tapi dikehidpuan gue yang normal ini, gue menderita penyakit psikologis yang beberapa orang mungkin mengalaminya tapi belum menyadarinya, penyakit ini disebut social-awkward. Ciri-cirinya: gue akan mengeluarkan aura canggung setiap bertemu orang yang baru kenal,gue gak bisa menatap mata orang lama-lama, gue gak akan bisa membuat percakapan di ruang penuh orang tetapi sepi, gue hanya ngobrol akrab bersama orang yang gue anggap teman (biasanya teman sekelas), dan yang paling menonjol setiap gue suka sama sosok cewek, gue akan mengobrol tak kenal lelah melalui jejaring sosial, entah itu sms, bbm, LINE, simsimi, apapun itu. Tapi ketika bertemu dengan orangnya langsung, mulut gue membisu, otak gue berhenti sesaat, tak ada yang bisa gue lakukan selain membuang muka. Alhasil gue dapat predikat cowo terjutek sejak SD kelas 4 sampai sekarang. Gue sedikit bangga dengan itu, itu membuktikan kalau keberadan gue setidaknya di akui orang.
Selain social-awkward di kehidupan gue yang normal ini ada satu hal yang menurut gue tidak normal kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan gue. Yaitu cinta.
Gue belum pernah merasakan cinta yang benar-benar sampai ke pojok hati gue. Sebatas suka yang sebulan kemudian rasa itu telah terlupakan. Cinta monyet yang merupakan salah satu dari syndrom remaja ini sering menghampiri gue. Gebetan gue banyak (pas smp). Tapi hanya tiga yang nyantol.
Gue sering membandingkan kisah asmara gue dengan teman-teman smp dan sma gue. Beberapa dari mereka bisa awet pacaran sampai bertahun-tahun padahal setiap bulannya mereka pasti berantem dan membuat suasana kelas jadi canggung. Ada yang pacarannya sudah direstui orangtua kedua belah pihak. Bahkan ada yang sudah merasakan first kiss nya (ya gue gak ngarep sih). Tapi gue disini hanya menjadi perantara teman-teman gue yang pacaran dan menjadi sumber cibiran mereka saat gue melakukan kesalahan. “jomblo sihh” begitu kurang lebih.
Ketiga mantan gue ini hampir semua gue udah lupa. Yang paling gue inget adalah yang terakhir. Sosok bernama Fifi ini mengaku suka gue ketika jurit malam acara dari gereja gue dulu. Malam itu kami disuruh melewati jalan setapak becek nan gelap. Gue sebagai laki-laki satu-satunya di kelompok itu membranikan diri membawa senter dan maju di barisan paling depan. Fifi berada dibelakang gue dan sepanjang perjalan dia memegang lengan jaket gue.
Awalnya hanya jaket. Tapi makin jauh kami melewati jalan setapak ini, tangan dia berada di telapak tangan gue.
“gue takut Jo, kaya gini sebentar gapapa ya?”
Yahh well ini berkah buat gue. Lumayan tangan gue yang sudah lama tidak digenggam ini dipegang oleh cewe cantik yang baru saja gue kenal. Jadi gue bersikap gentle dan mempersilahkan dia menyandarkan ketakutannya ke tangan gue.
Selesai acara dia berkata
“wah Jo lu hebat banget ya. Kok berani siih di tempat gelap sempit gitu? Jago deh kamu”
Disitu gue gak mungkin berkata yang sejujurnya. Apanya yang berani? Sepanjang acara gue ngumpulin semua ketakutan gue ke dalam perut gue yang masuk angin. Seingat gue, setiap mau jalan langkah kaki gue gemetar membayangkan apa yang bersembunyi di tempat gelap seperti itu. Tapi apa boleh buat, bacot an khas gue keluar tiba-tiba bercampur dengan kebiasaan social-awkward gue.
“ah segitu mah udah sering di rumah, huehe” gue berbicara dengan nada sok cool sambil membuang muka.
Dengan semua kejadian itu, pada akhirnya gue bertukaran nomor handphone dan pin bb. Kebiasaan buruk gue terjadi lagi. Gue banyak berbicara di percakapan tak langsung itu. Kami berbicara tak kenal waktu. Menanyakan hal-hal yang sama terus menerus sampai salah satu berkata “udah dulu ya udah malam, dadah good night, sleep well !”
Itu berulang terus menerus sampai takdir mempertemukan kami secara langsung di gereja. Saat kami berpapasan dia hanya melempar senyum sedangkan gue melempar muka sambil menahan malu.
Sampai sekarang belum ada percakapan secara langsung diantara kami. Gue hanya berbicara seperti orang bisu melalui handphone.
Lambat laun kami menyatakan saling suka (melalui sms). Walaupun ngomongnya udah pake sayang-sayang an, gue gak pernah nembak dia. Jadi secara teoritis hubungan ini tidak bisa dikatakan pacar. Hanya gue seorang yang menganggap dia mantan pacar gue setiap ditanya perihal “berapa banyak mantan pacar lo?”
Fifi cewek yang bener-bener gue respect. Dia berkata kalau gue cinta pertamanya dan dia belum pernah merasa senyaman ini setiap dia chattingan dengan gue.
Sampai sekarang kami punya janji. Setelah kelulusan SMP gue pernah berkata gue bakal masuk sma di Bandung (saat itu gue masih tinggal di cianjur). Dia berkata gak ada yang bisa gantiin gue, dia gak pengen gue pindah. Dan dengan kebranian, kebodohan, kepolosan gue, gue berkata “sanggup nunggu tiga tahun?”.
Dia menyanggupinya, dia berkata bakal nunggu tiga tahun sampai dia lulus sma dan hendak kuliah ke Bandung. Janji itu masih berlaku sampai sekarang. Gue tinggal meunggu 1,5 tahun lagi untuk membuktikan janji yang dibuat anak smp ini. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati gue, janji ini sama sekali tidak gue tanggapi.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun penyakit gue, gue sadar kalau Fifi adalah orang terakhir yang gue suka. ~
Sampai dia datang dan mengubah segalanya...
Sepanjang hidup gue yang masih pendek ini, terlihat sangat normal. Tampang biasa saja,Hidup berkecukupan, sekolah lancar, makan tiga kali sehari, berantem, bahkan ikut main ke warnet saat point blank datang merusak generasi yang sudah rusak ini.
Tapi dikehidpuan gue yang normal ini, gue menderita penyakit psikologis yang beberapa orang mungkin mengalaminya tapi belum menyadarinya, penyakit ini disebut social-awkward. Ciri-cirinya: gue akan mengeluarkan aura canggung setiap bertemu orang yang baru kenal,gue gak bisa menatap mata orang lama-lama, gue gak akan bisa membuat percakapan di ruang penuh orang tetapi sepi, gue hanya ngobrol akrab bersama orang yang gue anggap teman (biasanya teman sekelas), dan yang paling menonjol setiap gue suka sama sosok cewek, gue akan mengobrol tak kenal lelah melalui jejaring sosial, entah itu sms, bbm, LINE, simsimi, apapun itu. Tapi ketika bertemu dengan orangnya langsung, mulut gue membisu, otak gue berhenti sesaat, tak ada yang bisa gue lakukan selain membuang muka. Alhasil gue dapat predikat cowo terjutek sejak SD kelas 4 sampai sekarang. Gue sedikit bangga dengan itu, itu membuktikan kalau keberadan gue setidaknya di akui orang.
Selain social-awkward di kehidupan gue yang normal ini ada satu hal yang menurut gue tidak normal kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan gue. Yaitu cinta.
Gue belum pernah merasakan cinta yang benar-benar sampai ke pojok hati gue. Sebatas suka yang sebulan kemudian rasa itu telah terlupakan. Cinta monyet yang merupakan salah satu dari syndrom remaja ini sering menghampiri gue. Gebetan gue banyak (pas smp). Tapi hanya tiga yang nyantol.
Gue sering membandingkan kisah asmara gue dengan teman-teman smp dan sma gue. Beberapa dari mereka bisa awet pacaran sampai bertahun-tahun padahal setiap bulannya mereka pasti berantem dan membuat suasana kelas jadi canggung. Ada yang pacarannya sudah direstui orangtua kedua belah pihak. Bahkan ada yang sudah merasakan first kiss nya (ya gue gak ngarep sih). Tapi gue disini hanya menjadi perantara teman-teman gue yang pacaran dan menjadi sumber cibiran mereka saat gue melakukan kesalahan. “jomblo sihh” begitu kurang lebih.
Ketiga mantan gue ini hampir semua gue udah lupa. Yang paling gue inget adalah yang terakhir. Sosok bernama Fifi ini mengaku suka gue ketika jurit malam acara dari gereja gue dulu. Malam itu kami disuruh melewati jalan setapak becek nan gelap. Gue sebagai laki-laki satu-satunya di kelompok itu membranikan diri membawa senter dan maju di barisan paling depan. Fifi berada dibelakang gue dan sepanjang perjalan dia memegang lengan jaket gue.
Awalnya hanya jaket. Tapi makin jauh kami melewati jalan setapak ini, tangan dia berada di telapak tangan gue.
“gue takut Jo, kaya gini sebentar gapapa ya?”
Yahh well ini berkah buat gue. Lumayan tangan gue yang sudah lama tidak digenggam ini dipegang oleh cewe cantik yang baru saja gue kenal. Jadi gue bersikap gentle dan mempersilahkan dia menyandarkan ketakutannya ke tangan gue.
Selesai acara dia berkata
“wah Jo lu hebat banget ya. Kok berani siih di tempat gelap sempit gitu? Jago deh kamu”
Disitu gue gak mungkin berkata yang sejujurnya. Apanya yang berani? Sepanjang acara gue ngumpulin semua ketakutan gue ke dalam perut gue yang masuk angin. Seingat gue, setiap mau jalan langkah kaki gue gemetar membayangkan apa yang bersembunyi di tempat gelap seperti itu. Tapi apa boleh buat, bacot an khas gue keluar tiba-tiba bercampur dengan kebiasaan social-awkward gue.
“ah segitu mah udah sering di rumah, huehe” gue berbicara dengan nada sok cool sambil membuang muka.
Dengan semua kejadian itu, pada akhirnya gue bertukaran nomor handphone dan pin bb. Kebiasaan buruk gue terjadi lagi. Gue banyak berbicara di percakapan tak langsung itu. Kami berbicara tak kenal waktu. Menanyakan hal-hal yang sama terus menerus sampai salah satu berkata “udah dulu ya udah malam, dadah good night, sleep well !”
Itu berulang terus menerus sampai takdir mempertemukan kami secara langsung di gereja. Saat kami berpapasan dia hanya melempar senyum sedangkan gue melempar muka sambil menahan malu.
Sampai sekarang belum ada percakapan secara langsung diantara kami. Gue hanya berbicara seperti orang bisu melalui handphone.
Lambat laun kami menyatakan saling suka (melalui sms). Walaupun ngomongnya udah pake sayang-sayang an, gue gak pernah nembak dia. Jadi secara teoritis hubungan ini tidak bisa dikatakan pacar. Hanya gue seorang yang menganggap dia mantan pacar gue setiap ditanya perihal “berapa banyak mantan pacar lo?”
Fifi cewek yang bener-bener gue respect. Dia berkata kalau gue cinta pertamanya dan dia belum pernah merasa senyaman ini setiap dia chattingan dengan gue.
Sampai sekarang kami punya janji. Setelah kelulusan SMP gue pernah berkata gue bakal masuk sma di Bandung (saat itu gue masih tinggal di cianjur). Dia berkata gak ada yang bisa gantiin gue, dia gak pengen gue pindah. Dan dengan kebranian, kebodohan, kepolosan gue, gue berkata “sanggup nunggu tiga tahun?”.
Dia menyanggupinya, dia berkata bakal nunggu tiga tahun sampai dia lulus sma dan hendak kuliah ke Bandung. Janji itu masih berlaku sampai sekarang. Gue tinggal meunggu 1,5 tahun lagi untuk membuktikan janji yang dibuat anak smp ini. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati gue, janji ini sama sekali tidak gue tanggapi.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun penyakit gue, gue sadar kalau Fifi adalah orang terakhir yang gue suka. ~
Sampai dia datang dan mengubah segalanya...
Spoiler for Indeks:
PART 6: Hoseki ? Hoffen?
PART 7: Hoseki ? Hoffen? -2
PART 8: The Abnormal One
PART 9: The Abnormal One -2
PART 10: The Abnormal One -3
PART 11: Pembahasan Tanpa Ujung
PART 12: Kerupuk Ikan Rasa Udang (A story from Redzki)
PART 13: Kerupuk Ikan Rasa Udang (A story from Redzki) -2
PART 14: Benjamin Spock
PART 15: Benjamin Spock -2
PART 16: Benjamin Spock -3
PART 17: Trissha Minnoty
PART 18: Trissha Minnoty -2
PART 19: Between You and Her
PART 20: Symphony 7 Warna
PART 21: Symphony 7 Warna -2
PART 22: Symphony 7 Warna -3
PART 23: Permata dan Harapan
PART 24: Permata dan Harapan -2
PART 25: Permata dan Harapan -3
PART 26: Gadis Malu
PART 27: Black Market
PART 28: Black Market -2
PART 29: Sebab Akibat
PART 30: Sebab Akibat -2
PART 31: Anggrek Bulan
PART 32: Anggrek Bulan -2
PART 33: Dibalik Hujan Kemarau (A story from Agam)
PART 34: Dibalik Hujan Kemarau (A story of Agam) -2
PART 35: If You Know What I Mean
PART 36: If You Know What I Mean -2
PART 37: 15 Agustus
PART 38: 15 Agustus -2
PART 39: Minneapolis
PART 40: Minneapolis -2
PART 41: Woman's Problem
PART 42: Woman's Problem -2
PART 43: Uncompleted Canceled Plan
PART 44: Uncompleted Canceled Plan -2
PART 45: Uncompleted Canceled Plan -3
PART 46: Uncompleted Canceled Plan -4
PART Bonus: Yuk! mengenal dan tes Highly Sensitive Person !
Spoiler for Penokohan:
Sam Cristian (Joe) ... Tokoh utama dalam cerita. juga berperan sebagai penulis cerita alias TS sendiri

Hoseki Hoffen ... Perempuan yang menjadi sorotan karena keunikannya.. mungkin ada yang bertanya kenapa namanya nyentrik banget, karena itu tetap bersabar karena ada part dimana nama makhluk ini dijabarkan.
Mino ... Perempuan yang mempunyai cara sendiri ketika mengejar orang yang disukainya... aneh memang.
Agam ... si otaku pervert temennya Sam
Redzki ... Maniak komputer yang misterius. temennya Sam juga
Bagdi (bang Andi) ... anaknya pak kost yang kebetulan seorang psikolog. temennya Sam lagi..
Cipta ... pelawak di Baka sekaligus ketua Baka. lagi-lagi temannya Sam..
Bella ... Perempuan yang dikejar-kejar Sam. ...tadinya
Om Albert ... Ayahnya Hoseki. si kaya dengan sembilan anak uniknya.
Pakos ... pria buncit sang penjaga rumah kost
Bukos ... sepaket dengan Pakos
Renaldi ... teman bermain Sam. hanya muncul saat dikantin.
Bu Musdianti .. si guru bahasa Inggris yang kelewat baik.
Pak Momo ... Si wali kelas tercintah
..next, Coming Soon
Diubah oleh joechristianp 13-09-2015 20:08
anasabila memberi reputasi
1
17.2K
Kutip
126
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
joechristianp
#59
Spoiler for PART 26: Gadis Malu:
Setiap nama ada makna nya. gue baru tau nama Hoseki bermakna cukup dalam. Permata dan Harapan. Sayang sekali ibunya mendapat permata yang tak indah. Tapi sang ayah masih terus berharap pada permata yang cacat ini.
Makna dari nama benar-benar penting. Nama gue diambil dari penulis novel asal Lebanon bernama Khalil Gibran. Ayah gue memang mengoleksi banyak novelnya Khalil Gibran. Entah karena kagum akan tulisannya atau mengharapkan anaknya menjadi penulis, dia memberi nama anak ke-dua nya Gibran. Alhasil gue merasakan dampaknya dalam diri gue. di kelas bahasa Indonesia, ketika disuruh mengarang cerita, gue sering mendapat nilai tertinggi di kelas.
Nama adalah doa. Mungkin doa ayah gue menamakan gue agar sikap gue seperti Khalil Gibran, tenang dan peduli sekitar. -pada nyatanya gue seorang yang rusuh dan cuek -
lantas apa doa ayahnya Hoseki?. harapan ? harapan seperti apa? Apa ia mengharapkan Hoseki untuk melanjutkan perusahaannya? Atau dia mengharapkan kesembuhan Hoseki ?. tak ada yang tau sedangkan gue terus mencari tau.
Kalu dipikir-pikir, Hoseki adalah orang beruntung. Tak banyak dari penyandang autis yang diperlakukan luar biasa oleh orang tuanya. Contohnya saja, gue mempunyai keponakan jauh yang mengalami down syndrome. Keitka kami sekeluarga mengunjungi rumahnya, dia selalu disembunyikan dalam kamar. Mungkin karena malu atau apa yang jelas dia hanya keluar untuk bersalaman saat gue sekeluarga hendak pulang atau baru datang. Lagi-lagi setiap mengingat itu, gue sadar kalau gue orang yang beruntung.
Di hidup gue yang beruntung ini, ada saatnya hidup terasa berat. Biasanya waktu-waktu yang berat itu terjadi di sekitar tanggal 20-30. Yap, fase akhir bulan sedang melanda hidup gue sekarang. Uang bulanan gue sudah habis untuk membeli parsel buah. Jadi menu gue untuk tiga hari kedepan tidak lain dan tidak bukan adalah energen + mie cup. Suapan pertama terasa enak. Suapan kedua gurihnya mulai berkurang. Suapan ketiga keempat dan seterusnya gue kebosanan dan rasanya gue ingin memuntahkan semua isi perut gue.
Ternyata benar. Hari ini hari kamis dan Hoseki kembali masuk sekolah. Seperti biasa gue ketiduran di pagi hari sebelum pelajaran mulai dan seseorang mengelus dahi gue. kali ini bukan bu Yuli – guru tercantik – yang mengelus. Melainkan Hoseki. Rona merah muncul dipipi gue ketika membuka mata dan gue kurang yakin seperti apa ekspresi di wajah gue terlihat. Agam yang melihat gue terbangun, berbisik dengan nada menggoda.
“ yokata ne Jo-san..”
Gue salting dan segera membuang muka. Hoseki kembali ke posisi duduknya dan bersikap tenang. Tak banyak yang berubah dari dia. Gue sampai bingung apa gunanya rehabilitasi.
Banyak yang gue ingin tanyakan tapi mulut gue terkunci rapat. Gue merasa malu untuk bertanya. Gue yakin dia tau kalau dua hari yang lalu gue berkunjung ke rumahnya. Gue juga belum membahas perihal percakapan gue dengah ayahnya Hoseki ke teman-teman Baka. Ada semacam preasaan yang mengatakan kalau hal ini sebaiknya jangan dulu dibahas. Hoseki juga selalu menghindar kalau ditanya tentang kehidupannya. Jadi gue rasa dia tidak akan senang kalau gue mengumbar tentang 8 saudara autisnya.
Seperti biasa gue, Agam, dan Redzki bersemedi di kantin sambil menikmati kentang goreng. Ini tanggal satu, tapi ibu gue belum mengirimkan uang. Jadi gue hanya bisa menonton mereka menyantap satu persatu kentang ke mulut mereka yang bau.
Saat sedang asik melihat mereka makan, sosok yang sudah lama tidak gue temui lewat dengan tenangnya di hadapan gue. kami bahkan saling bertukar pandang. Tatapan yang gue rasakan berbeda dari biasanya. Kami memang sesekali bertatapan ketika gue sedang mencuri pandang. Kala itu dia menatap gue seperti sedang menatap orang asing biasa. Tapi kali ini dia menatap gue sakan-akan gue ini seorang buron yang sedang dicari Interpol. Entah itu tatapan jijik atau apa yang jelas kami bertatapan cukup lama dari biasanya. Bella. Langsung mengantri untuk membeli kentang setelah sorotan mata kami bertemu. Setelah selesai dia kembali tanpa menolah ke belakang sedikit pun.
Sesaat gue baru ingat. Gue ada urusan dengan dia yang belum diselesaikan dulu. sudah cukup lama sampai-sampai gue melupakannya dengan mudah.
Dia duduk tiga meja jauhnya dengan gue. punggung eloknya memblakangi gue. ketika gue melihat dia membuka hp,gue langsung berinisiatif untuk mengiriminya pesan. Dia dulu ingin bertemu kan.
“mumpung lagi dikantin, dulu ingin ngomongin apa?”
gue melihat dia membaca sms gue. sesaat kemudian, dia memutar kepalanya dan melirik gue dengan senyum yang entah kenapa membuat gue kesal.
Tiba-tiba dia beranjak dari kursinya, meninggalkan teman-temannya dan menghampiri meja gue.
Ia duduk persis didepan gue. spontan gue, Agam, dan Redzki kaget dibuatnya.
Redzki bergeser tigaperempat pantat kearah berlawanan dari Bella. Sedangkan Agam, yang duduk disebelah gue, terus melongo melihat Bella yang dengan enaknya duduk menghadap gue. sedangkan gue, gue tak tau bagaimana gambaran muka gue sekarang. Yang jelas dia tau persis bagaimana membuat gue salah tingkah.
“ hai Jo” Bella angkat bicara.
“oh.. hai ada apa?” jawab gue canggung.
“bukannya kita masih punya urusan ya?” bela bicara sini sambil melirik tajam Agam dan Redzki. Menandakan kalau dia tak ingin ada yang mendengar. Dia jauh lebih menyeramkan dari yang gue duga.
Agam dan Redzki mengambil inisiatif untuk pergi. Gue ingat bisikan terakhir Agam sesaat dia mau keluar dari keadaan.
“ good luck , have fun “ *wink*
Kedipan satu mata itu benar-benar membuat gue kesal. Suatu saat gue merasa ingin memukul salah satu matanya dengan batu akik koleksi pakos.
“ehh jadi...?”
“sebetulnya udah telat. Tapi masih menganggu gue.” ucapnya.
Raut muka dan ekspresi nya seperti Mariam Melinda ketika memainkan peran antagonis. Dia dengan cepat membuat gue me-review apa yang gue lakukan selama ini. Gue takut melakukan sesuatu yang salah yang membuat dia marah. Walau dia tidak marah sekarang, gue merasakan aura yang mengerikan. Terlalu mengerikan untuk siswi cantik berbadan tegap seperti dia.
“eh aku ada salah ya?” tanya gue ragu.
“iya keberadaan lo itu salah.”
Leher gue terasa tercekik.
“ma.. maksudnya?”
“kalau lo gak ada, gue gak akan diteror ni orang”
Bella menunjukkan foto Mino dari hp nya. gue tertegun. Memang sifat Mino sama mengerikannya dengan sosok yang sedang duduk menghadap gue. Mino agresif dalam segala hal. Tapi gue gak menyangka kalau dia akan meneror Bella.
“neror seperti apa?”
Bella kemudian mengetuk-ngetuk layar hp nya. lalu menunjukkan pesan panjang antar dia dengan Mino.
Setelah gue simak, kurang lebih isinya adalah agar Bella segera menghapus kontak gue dari ponselnya. Pesan-pesan Mino mengerikan, begitu pula pesan jawaban dari Bella. Bella yang merasa tidak bersalah memaki-maki Mino dengan bahasa yang kasar. Dipercakapan digital itu keduanya tidak mau menyerah. Tidak ada alasan buat Mino untuk memrintah Bella dan tidak ada alasan pula buat Bella untuk menghapus kontak gue. diujung pesan Mino berkata.
“ pokonya kalau lo masih punya kontak dia, liat aja! Lo gak bakal tenang sekolah di sini !”
Pesan itu dikirim berbulan-bulan yang lalu. Bulan yang sama ketika Bella mengajak gue ketemuan. Sepertinya Bella ingin membahas masalah ini dari dulu. tapi apa daya, gue merasa Hoseki lebih penting dari ini.
“terus” gue mulai berkomentar. “kenapa kontak aku gak dihapus aja?”
Diluar dugaan, Bella hanya memalingkan muka sambil menahan malu. Dia menutup mata sejenak seperti memikirkan sebuah alasan. Gue melihat kulit pipinya memerah.
Dengan nada setengah marah. “...bukan berarti aku mau nyimpen kontak kamu ya !. ini cumma.. cumaa” dia berhenti sejenak memikirkan alasan lain. “.. aku gak suka diperintah. Itu aja !”
Kemudian dia pergi membawa hp nya. meninggalkan gue sendirian di pojok kantin. Bukan rasa takut lagi yang muncul dihati gue. melainkan rasa senang.
Gue tetap berfikir positif mencerna semua kata yang dia katakan. Dia mengubah kata ‘gue’ menjadi aku dan ‘lo’ menjadi kamu. Ditambah lagi dia mengucapkannya dengan malu sambil sedikit marah. Rona merah dipipinya jelas terlihat. Karena sering ikut-ikutan Agam yang suka menonton anime Jepang dikelas, ada satu kata yang terlintas di pikiran gue.
Tsundere !
Kata Tsundere sering dipakai di berbagai Anime, komik, atau film Jepang yang bergenre romantic comedy. Tsundere bisa diartikan seperti malu-malu kucing. Suka tapi berlagak tidak suka. Mau tapi malu. Atau hal lainnya yang mengambarkan kalau dia terlalu sombong dan malu mengutarakan isi hatinya. Pikiran positif gue mengatakan seperti itu. Memang ciri-cirinya persis seperti yang terlihat di film-film fiksi Jepang. Walaupun hal itu terasa tidak nyata, entah kenapa gue terasa senang dibuatnya.
Gue kembali ke kelas tepat setelah bel berbunyi. Agam dan Redzki heran melihat raut wajah gue yang terlihat senang.
Sambil tertawa lirih, gue menceritakan segalanya.
Makna dari nama benar-benar penting. Nama gue diambil dari penulis novel asal Lebanon bernama Khalil Gibran. Ayah gue memang mengoleksi banyak novelnya Khalil Gibran. Entah karena kagum akan tulisannya atau mengharapkan anaknya menjadi penulis, dia memberi nama anak ke-dua nya Gibran. Alhasil gue merasakan dampaknya dalam diri gue. di kelas bahasa Indonesia, ketika disuruh mengarang cerita, gue sering mendapat nilai tertinggi di kelas.
Nama adalah doa. Mungkin doa ayah gue menamakan gue agar sikap gue seperti Khalil Gibran, tenang dan peduli sekitar. -pada nyatanya gue seorang yang rusuh dan cuek -
lantas apa doa ayahnya Hoseki?. harapan ? harapan seperti apa? Apa ia mengharapkan Hoseki untuk melanjutkan perusahaannya? Atau dia mengharapkan kesembuhan Hoseki ?. tak ada yang tau sedangkan gue terus mencari tau.
Kalu dipikir-pikir, Hoseki adalah orang beruntung. Tak banyak dari penyandang autis yang diperlakukan luar biasa oleh orang tuanya. Contohnya saja, gue mempunyai keponakan jauh yang mengalami down syndrome. Keitka kami sekeluarga mengunjungi rumahnya, dia selalu disembunyikan dalam kamar. Mungkin karena malu atau apa yang jelas dia hanya keluar untuk bersalaman saat gue sekeluarga hendak pulang atau baru datang. Lagi-lagi setiap mengingat itu, gue sadar kalau gue orang yang beruntung.
Di hidup gue yang beruntung ini, ada saatnya hidup terasa berat. Biasanya waktu-waktu yang berat itu terjadi di sekitar tanggal 20-30. Yap, fase akhir bulan sedang melanda hidup gue sekarang. Uang bulanan gue sudah habis untuk membeli parsel buah. Jadi menu gue untuk tiga hari kedepan tidak lain dan tidak bukan adalah energen + mie cup. Suapan pertama terasa enak. Suapan kedua gurihnya mulai berkurang. Suapan ketiga keempat dan seterusnya gue kebosanan dan rasanya gue ingin memuntahkan semua isi perut gue.
...
Ternyata benar. Hari ini hari kamis dan Hoseki kembali masuk sekolah. Seperti biasa gue ketiduran di pagi hari sebelum pelajaran mulai dan seseorang mengelus dahi gue. kali ini bukan bu Yuli – guru tercantik – yang mengelus. Melainkan Hoseki. Rona merah muncul dipipi gue ketika membuka mata dan gue kurang yakin seperti apa ekspresi di wajah gue terlihat. Agam yang melihat gue terbangun, berbisik dengan nada menggoda.
“ yokata ne Jo-san..”
Gue salting dan segera membuang muka. Hoseki kembali ke posisi duduknya dan bersikap tenang. Tak banyak yang berubah dari dia. Gue sampai bingung apa gunanya rehabilitasi.
Banyak yang gue ingin tanyakan tapi mulut gue terkunci rapat. Gue merasa malu untuk bertanya. Gue yakin dia tau kalau dua hari yang lalu gue berkunjung ke rumahnya. Gue juga belum membahas perihal percakapan gue dengah ayahnya Hoseki ke teman-teman Baka. Ada semacam preasaan yang mengatakan kalau hal ini sebaiknya jangan dulu dibahas. Hoseki juga selalu menghindar kalau ditanya tentang kehidupannya. Jadi gue rasa dia tidak akan senang kalau gue mengumbar tentang 8 saudara autisnya.
Seperti biasa gue, Agam, dan Redzki bersemedi di kantin sambil menikmati kentang goreng. Ini tanggal satu, tapi ibu gue belum mengirimkan uang. Jadi gue hanya bisa menonton mereka menyantap satu persatu kentang ke mulut mereka yang bau.
Saat sedang asik melihat mereka makan, sosok yang sudah lama tidak gue temui lewat dengan tenangnya di hadapan gue. kami bahkan saling bertukar pandang. Tatapan yang gue rasakan berbeda dari biasanya. Kami memang sesekali bertatapan ketika gue sedang mencuri pandang. Kala itu dia menatap gue seperti sedang menatap orang asing biasa. Tapi kali ini dia menatap gue sakan-akan gue ini seorang buron yang sedang dicari Interpol. Entah itu tatapan jijik atau apa yang jelas kami bertatapan cukup lama dari biasanya. Bella. Langsung mengantri untuk membeli kentang setelah sorotan mata kami bertemu. Setelah selesai dia kembali tanpa menolah ke belakang sedikit pun.
Sesaat gue baru ingat. Gue ada urusan dengan dia yang belum diselesaikan dulu. sudah cukup lama sampai-sampai gue melupakannya dengan mudah.
Dia duduk tiga meja jauhnya dengan gue. punggung eloknya memblakangi gue. ketika gue melihat dia membuka hp,gue langsung berinisiatif untuk mengiriminya pesan. Dia dulu ingin bertemu kan.
“mumpung lagi dikantin, dulu ingin ngomongin apa?”
gue melihat dia membaca sms gue. sesaat kemudian, dia memutar kepalanya dan melirik gue dengan senyum yang entah kenapa membuat gue kesal.
Tiba-tiba dia beranjak dari kursinya, meninggalkan teman-temannya dan menghampiri meja gue.
Ia duduk persis didepan gue. spontan gue, Agam, dan Redzki kaget dibuatnya.
Redzki bergeser tigaperempat pantat kearah berlawanan dari Bella. Sedangkan Agam, yang duduk disebelah gue, terus melongo melihat Bella yang dengan enaknya duduk menghadap gue. sedangkan gue, gue tak tau bagaimana gambaran muka gue sekarang. Yang jelas dia tau persis bagaimana membuat gue salah tingkah.
“ hai Jo” Bella angkat bicara.
“oh.. hai ada apa?” jawab gue canggung.
“bukannya kita masih punya urusan ya?” bela bicara sini sambil melirik tajam Agam dan Redzki. Menandakan kalau dia tak ingin ada yang mendengar. Dia jauh lebih menyeramkan dari yang gue duga.
Agam dan Redzki mengambil inisiatif untuk pergi. Gue ingat bisikan terakhir Agam sesaat dia mau keluar dari keadaan.
“ good luck , have fun “ *wink*
Kedipan satu mata itu benar-benar membuat gue kesal. Suatu saat gue merasa ingin memukul salah satu matanya dengan batu akik koleksi pakos.
“ehh jadi...?”
“sebetulnya udah telat. Tapi masih menganggu gue.” ucapnya.
Raut muka dan ekspresi nya seperti Mariam Melinda ketika memainkan peran antagonis. Dia dengan cepat membuat gue me-review apa yang gue lakukan selama ini. Gue takut melakukan sesuatu yang salah yang membuat dia marah. Walau dia tidak marah sekarang, gue merasakan aura yang mengerikan. Terlalu mengerikan untuk siswi cantik berbadan tegap seperti dia.
“eh aku ada salah ya?” tanya gue ragu.
“iya keberadaan lo itu salah.”
Leher gue terasa tercekik.
“ma.. maksudnya?”
“kalau lo gak ada, gue gak akan diteror ni orang”
Bella menunjukkan foto Mino dari hp nya. gue tertegun. Memang sifat Mino sama mengerikannya dengan sosok yang sedang duduk menghadap gue. Mino agresif dalam segala hal. Tapi gue gak menyangka kalau dia akan meneror Bella.
“neror seperti apa?”
Bella kemudian mengetuk-ngetuk layar hp nya. lalu menunjukkan pesan panjang antar dia dengan Mino.
Setelah gue simak, kurang lebih isinya adalah agar Bella segera menghapus kontak gue dari ponselnya. Pesan-pesan Mino mengerikan, begitu pula pesan jawaban dari Bella. Bella yang merasa tidak bersalah memaki-maki Mino dengan bahasa yang kasar. Dipercakapan digital itu keduanya tidak mau menyerah. Tidak ada alasan buat Mino untuk memrintah Bella dan tidak ada alasan pula buat Bella untuk menghapus kontak gue. diujung pesan Mino berkata.
“ pokonya kalau lo masih punya kontak dia, liat aja! Lo gak bakal tenang sekolah di sini !”
Pesan itu dikirim berbulan-bulan yang lalu. Bulan yang sama ketika Bella mengajak gue ketemuan. Sepertinya Bella ingin membahas masalah ini dari dulu. tapi apa daya, gue merasa Hoseki lebih penting dari ini.
“terus” gue mulai berkomentar. “kenapa kontak aku gak dihapus aja?”
Diluar dugaan, Bella hanya memalingkan muka sambil menahan malu. Dia menutup mata sejenak seperti memikirkan sebuah alasan. Gue melihat kulit pipinya memerah.
Dengan nada setengah marah. “...bukan berarti aku mau nyimpen kontak kamu ya !. ini cumma.. cumaa” dia berhenti sejenak memikirkan alasan lain. “.. aku gak suka diperintah. Itu aja !”
Kemudian dia pergi membawa hp nya. meninggalkan gue sendirian di pojok kantin. Bukan rasa takut lagi yang muncul dihati gue. melainkan rasa senang.
Gue tetap berfikir positif mencerna semua kata yang dia katakan. Dia mengubah kata ‘gue’ menjadi aku dan ‘lo’ menjadi kamu. Ditambah lagi dia mengucapkannya dengan malu sambil sedikit marah. Rona merah dipipinya jelas terlihat. Karena sering ikut-ikutan Agam yang suka menonton anime Jepang dikelas, ada satu kata yang terlintas di pikiran gue.
Tsundere !
Kata Tsundere sering dipakai di berbagai Anime, komik, atau film Jepang yang bergenre romantic comedy. Tsundere bisa diartikan seperti malu-malu kucing. Suka tapi berlagak tidak suka. Mau tapi malu. Atau hal lainnya yang mengambarkan kalau dia terlalu sombong dan malu mengutarakan isi hatinya. Pikiran positif gue mengatakan seperti itu. Memang ciri-cirinya persis seperti yang terlihat di film-film fiksi Jepang. Walaupun hal itu terasa tidak nyata, entah kenapa gue terasa senang dibuatnya.
Gue kembali ke kelas tepat setelah bel berbunyi. Agam dan Redzki heran melihat raut wajah gue yang terlihat senang.
Sambil tertawa lirih, gue menceritakan segalanya.
0
Kutip
Balas