Di gedung Mata Rantai, Janero tampak berdiam diri di dalam ruangannya sambil mendengarkan percakapan antara Juna dan Ariana melalui sebuah alat penyadap. Sesekali dia mendengus cemburu.
Saat dia sedang fokus mendengarkan cerita Ariana tentang Monas yang menurutnya sangatlah membosankan, ponsel pintarnya bergetar. Dari nomer yang sangat ia kenal.
“Apakah kamu sudah menemukannya?” tanya orang di sebarang telepon.
“Belum. Seharin aku sudah mencarinya di komputer, namun aku belum menemukannya. Tetapi aku menemukan sesuatu yang menarik.”
“Apa?”
“Peta 3D Mata Rantai.”
“Kedengarannya menarik. Tetapi untuk saat ini, aku tidak membutuhkannya. 30 Juni sebentar lagi, dan aku tidak punya cukup waktu untuk menunggu. Kuharap besok aku sudah mendapatkannya. Karena botol-botol itu sudah datang dan aku harus memproduksi secepatnya. Apakah bayaranmu kurang untuk melakukan hal ini?”
“Tidak, tidak. Baiklah, aku akan mencarinya lagi besok. Bersabarlah.”
Hubungan jarak jauh itu terputus.
Janero mematikan ponselnya.
Suara tawa Ariana di mesin penyadap semakin membuatnya panas. Sesekali suara Ariana diselingi oleh tawa Juna.
Dia harus mencarinya malam ini. Dan harus ketemu. Dia sudah tidak sabar ingin melihat kehancuran Juna.
# # #
Beratus kilometer dari kota Jakarta. Di Galeri Mahakarya.
Alexa Crain menutup ponselnya. Tikus kecil itu belum menemukannya. Dia takut detik kabisat akan segera lewat. Detik kabisat kali ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan aksinya. Pada 30 Juni 2015, jam-jam komputer di seluruh dunia secara bersamaan akan “menambah waktu” sebanyak 1 detik pada saat pukul 23:59:59. Dimaksudkan untuk menghilangkan selisih antara standar waktu internasional (UTC) dengan waktu rotasi bumi yang sebenarnya, karena 1 hari tidak berlalu tepat dalam 24 jam. Kabar yang beredar, dunia internet akan mengalami kekacauan hebat. Jaringan internet pada dasarnya mengandalkan satuan waktu yang tepat dan seragam agar jutaan komputer yang tergabung di dalamnya dapat saling berkomunikasi dengan baik. Beberapa jaringan akan terputus atau error dan tidak bisa diakses.
Crain akan memanfaatkan detik kabisat dan kekacauan internet untuk melakukan aksinya. Dan dia membutuhkan Janero untuk segera menemukan apa yang ia butuhkan.
Crain memandangi botol-botol bening seukuran botol mineral 600 ml yang kini berjalan di atas Conveyor belt. Botol-botol itu melewati penyemprot air bertenaga rendah. Setelah melewatinya, botol itu tampak bersih. Selanjutnya mereka akan dikeringkan di pengering otomatis dan segera dimasukkan ke dalam kardus.
Crain dibantu oleh dua orang untuk melakukan pekerjaannya itu. Dia sendiri hanya mengamati saat para pekerjanya merapikan kardus berisi botol-botol yang siap untuk dikirim ke Jakarta.
Oh tidak, sebenarnya Crain tidak dibantu oleh ‘orang’. Jika diperhatikan dengan saksama, para pekerja Crain berwajah pucat dan kelopak matanya putih semua. Mirip seperti Hantu Anak Bermata Hitam di Texas. Mereka tampak menuruti apa yang Crain perintahkan. Karena di tangan Crain, ada batu berwarna-warni yang memiliki kekuatan untuk menyeimbangkan kehidupan. Batu Mata Rantai.
# # #
Mobil Juna Mata memasuki pelataran Kota Tua. Tadi Ariana bilang bahwa kawasan Kota Tua saat malam hari sangatlah cantik. Jadi Ariana mengajak Juna untuk pergi ke sana. Jam sudah hampir tengah malam saat mereka datang. Namun, suasana di sana masihlah sangat ramai.
“Apakah kita tidak aneh datang ke sini dengan berpakaian seperti ini?” Juna melihat blasernya.
“Lepas saja,” ucap Ariana. Dia sendiri tidak peduli dengan penampilannya sekarang.
“Mau ngapain sih?”
“Jalan-jalan saja. Bukankah tadi kamu yang bilang bahwa hari ini harus jalan-jalan.” Ariana sudah mendahului Juna jalan.
Juna berlari dan menjejeri Ariana. “Selain cerewet, kamu juga ngeselin.”
“Tidak sengeselin playboy.”Ariana tertawa.
Ponsel pintar Juna bergetar. Dia meminta Ariana berhenti, tetapi Ariana justu menghampiri penjual jagung rebus dan memesan jagung itu.
“Halo,” ucap Juna.
Juna tampak berdiri kaku mendengar berita yang disampaikan penelepon.
“Kapan?” tanya Juna.
Raut mukanya berubah dingin.
“Baiklah, aku akan segera ke sana.” Dia menutup ponsel pintarnya.
Juna berjalan mendekat ke arah Ariana.
“Siapa? Wanita-wanita yang meminta penjelasan karena malam ini tak kamu temani?” tanya Ariana sambil tertawa.
“Bukan. Arya.”
“Arya? Ada apa dia mencarimu selarut ini? Ada hal penting?”
“Sangat penting.”
Ariana menyadari perubahan muka Juna. “Ada apa?”
“Dilan meninggal.”
# # #