- Beranda
- Stories from the Heart
MATA RANTAI - THE GHOST HUNTER
...
TS
wignyaharsono
MATA RANTAI - THE GHOST HUNTER
Halo Agan-agan Semua

Selamat datang di Thread MATA RANTAI. Thread ini berisi cerita seri (serial dongeng) tentang seorang lelaki bernama JUNA JANUARDO yang diberi titah untuk meneruskan sebuah perusahaan supranatural. Ide ceritanya gue ambil dari beberapa film dan gue gabung-gabung. Inilah beberapa film yang menginspirasi gue.
1. Kingsman
2. Harry Potter
3. Hunger Games
4. Don Jon
5. Fifty Shade of Grey
7. Insidious
8. The Conjuring
Gabungan inspirasi kedelapan film itu menghasilkan sebuah plot cerita novel yang rencananya sekitar 40an BAB dengan judul MATA RANTAI.
Semoga berkenan dan selamat membaca. Just info, cerita ini juga aku muat di blog pribadi (www.wignyawirasana.com)
Salam Ndongeng,
WH

Selamat datang di Thread MATA RANTAI. Thread ini berisi cerita seri (serial dongeng) tentang seorang lelaki bernama JUNA JANUARDO yang diberi titah untuk meneruskan sebuah perusahaan supranatural. Ide ceritanya gue ambil dari beberapa film dan gue gabung-gabung. Inilah beberapa film yang menginspirasi gue.
1. Kingsman
2. Harry Potter
3. Hunger Games
4. Don Jon
5. Fifty Shade of Grey
7. Insidious
8. The Conjuring
Gabungan inspirasi kedelapan film itu menghasilkan sebuah plot cerita novel yang rencananya sekitar 40an BAB dengan judul MATA RANTAI.
Semoga berkenan dan selamat membaca. Just info, cerita ini juga aku muat di blog pribadi (www.wignyawirasana.com)
Salam Ndongeng,
WH
Quote:
Original Posted By wignyaharsono►
SINOPSIS
JUNA JANUARDO adalah seorang bisnisman yang sukses mengelola Digiforyou, sebuah perusahaan konsultan digital. Dia ganteng, kharismatik, dan semua wanita mendambakannya. Hidupnya baik-baik saja. Dia memilki keluarga yang bahagia, teman-teman menyenangkan, dan tentunya wanita-wanita yang mengantri untuk diajak jalan dengannya.
Hidupnya berubah dalam hitungan detik saat seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa Juna adalah generasi Mata Keempat yang akan memimpin Mata Rantai, Perusahaan Non Government yang dilegalkan untuk mengurusi kasus-kasus yang berhubungan dengan dunia gaib.
Ini adala kisah tentang perjuangan, ambisi, pengkhianatan, dan cinta yang dibumbui dengan dunia gaib dan teknologi.
INDEX
- PROLOG
- BAB 1
- BAB 2
- BAB 3
- BAB 4
- BAB 5
- BAB 6
- BAB 7
- BAB 8
- BAB 9
- BAB 10 (part 1)
- BAB 10 (part 2)
- BAB 11
- BAB 12
- BAB 13
- BAB 14
- BAB 15
- BAB 16
- BAB 17
- BAB 18 bagian pertama
- BAB 18 bagian kedua
- BAB 19
- BAB 20
- BAB 21
- BAB 22 bagian pertama
- BAB 22 bagian kedua
- BAB 23 bagian pertama
- BAB 23 bagian kedua
- BAB 24
- BAB 25 bagian pertama
- BAB 25 bagian kedua
- BAB 26
- BAB 27 bagian pertama
- BAB 27 bagian kedua
- BAB 28
- BAB 29
- BAB 30
- BAB 31
- BAB TERAKHIR
SINOPSIS
JUNA JANUARDO adalah seorang bisnisman yang sukses mengelola Digiforyou, sebuah perusahaan konsultan digital. Dia ganteng, kharismatik, dan semua wanita mendambakannya. Hidupnya baik-baik saja. Dia memilki keluarga yang bahagia, teman-teman menyenangkan, dan tentunya wanita-wanita yang mengantri untuk diajak jalan dengannya.
Hidupnya berubah dalam hitungan detik saat seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa Juna adalah generasi Mata Keempat yang akan memimpin Mata Rantai, Perusahaan Non Government yang dilegalkan untuk mengurusi kasus-kasus yang berhubungan dengan dunia gaib.
Ini adala kisah tentang perjuangan, ambisi, pengkhianatan, dan cinta yang dibumbui dengan dunia gaib dan teknologi.
INDEX
- PROLOG
- BAB 1
- BAB 2
- BAB 3
- BAB 4
- BAB 5
- BAB 6
- BAB 7
- BAB 8
- BAB 9
- BAB 10 (part 1)
- BAB 10 (part 2)
- BAB 11
- BAB 12
- BAB 13
- BAB 14
- BAB 15
- BAB 16
- BAB 17
- BAB 18 bagian pertama
- BAB 18 bagian kedua
- BAB 19
- BAB 20
- BAB 21
- BAB 22 bagian pertama
- BAB 22 bagian kedua
- BAB 23 bagian pertama
- BAB 23 bagian kedua
- BAB 24
- BAB 25 bagian pertama
- BAB 25 bagian kedua
- BAB 26
- BAB 27 bagian pertama
- BAB 27 bagian kedua
- BAB 28
- BAB 29
- BAB 30
- BAB 31
- BAB TERAKHIR
Diubah oleh wignyaharsono 08-11-2015 02:11
cumibakar217 dan 18 lainnya memberi reputasi
15
63.3K
Kutip
448
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wignyaharsono
#161
BAB 18 bagian pertama
Spoiler for BAB 18 bagian pertama:
Sabtu sore, Ariana masih ada di meja kerja untuk membereskan beberapa kerjaan. Seharusnya dia sudah bisa bersantai di apartemen, atau menonton bersama teman, atau melakukan kegiatan lain. Tetapi, beberapa berkas laporan harus ia selesaikan hari ini agar hari minggu besok tak ada yang mengganggu. Kalaupun ada, pasti hanya dering telepon dari Juna yang menanyakan agendanya untuk seminggu ke depan. Jadi, hari ini dia harus lembur. Sebenarnya, Mata Rantai bagi Ariana sudahlah seperti rumah kedua. Ini semua karena kebaikan Tuan Mata kepada dirinya. Jadi, apa salahnya mengabdi untuk orang yang telah menyelamatkan hidupnya dari kesendirian.
Dulu saat awal-awal di Mata Rantai, Tuan Juna sering mengajaknya berkeliling dari satu ruang ke ruangan lain di perusahaan ini. Bukan lagi lewat pintu-pintu umum yang biasa dilewati oleh karyawan, namun menyusuri lorong lain, lift lain, dan pintu-pintu rahasia yang hanya bisa diakses h Tuan Mata. Sangat mengasyikkan. Perusahaan ini memiliki banyak sekali lorong rahasia untuk menyelinap. Dan untuk pertama kalinya juga, Ariana diajak ke lantai 13, tempat Tuan Mata tinggal.
Ariana memang merasa bahwa Tuan Mata seperti menganggapnya sebagai seorang cucu sendiri. Mungkin karena Ariana selalu antusias saat beliau menceritakan tentang Mata Rantai, dunia gaib, atau cara-cara menembus altar lain. Tuan Mata memang tidak terlalu dekat dengan anak-anaknya. Apakah karena dua anaknya itu tidak mewarisi darah Mata atau tidak ada ketertarikan dengan perusahaan supranatural itu? Ariana tidak cukup mengerti. Beberapa kali Ariana pernah melihat Andra dan Andrea, tetapi tak pernah mengobrol dalam waktu yang lama. Mereka juga tidak tinggal di sini, mereka ikut ibunya di daerah BSD. Setelah dewasa, mereka mengejar mimpi mereka masing-masing dan tidak berniat untuk menggantikan ayahnya.
Ariana pun beruntung, bisa menjadi bagian dari Mata Rantai. Tuan Mata sangat baik mengajarinya banyak hal. Menyekolahkannya. Dan saat ini adalah waktu untuk membalas kebaikan Tuan Mata. Ia mencurahkan semua daya tenaga untuk mengembalikan kedigdayaan Mata Rantai.
Minggu ini adalah hari yang sangat berat. Kasus Lenwa seperti ledakan bom atom yang maha dahsyat. Membutuhkan energi. Dan memulihkan tubuhnya yang lelah bukan perkara gampang. Ia sudah lama tidak ‘berkelana’ dan sekalinya kemarin ‘berkelana’, energi yang ia habiskan begitu besar. Belum lagi, hari-hari kemudian adalah meeting-meeting panjang dengan para Chief Rantai.
Pertengahan tahun ini, review keuangan perusahaan mulai menunjukkan tanda-tanda positif. Ariana harus mengakui bahwa langkah Juna untuk melakukan Cost Reduction di beberapa sektor sangatlah tepat. Perekonomian global memang sedang tidak sehat seperti tahun lalu, hal inilah yang memperburuk kinerja Mata Rantai belakangan. Jadi langkah Juna adalah hal yang tepat. Waktu review seminggu ini, para Chief sudah melaporkan keuangan yang membaik. Meskipun belum sepenuhnya. Tetapi, kebijakan itu sampai detik ini masih menuai kontroversi dari beberapa bagian, termasuk para Chief yang kondisi keuangannya sebenarnya positif. Salah satunya tentu saja Ronero.
Beberapa kali Ronero bersitegang dengan Juna tentang beberapa kebijakan perusahaan. Misalnya, Building The Sun mengapa ikut terkena imbas Cost Reduction padahal selama setahun ini perusahaan kontraktor itu tidak pernah mengalami keuangan yang negatif. Tetapi bagi Juna, keuangan perusahaan tidak hanya dipengaruhi oleh perusahaan-perusahaan yang menunjukkan kinerja keuangan yang buruk. Semua harus saling menyokong.
Menurut Ariana, Juna kini mulai menunjukkan kekuatannya. Ia merasa atasannya itu sudah mulai bisa memposisikan diri agar semua orang di bawahnya, termasuk para Chief yang memiliki umur di atas Juna, mulai menganggapnya sebagai atasan. Ariana tahu, memposisikan diri sebagai atasan dengan anak buah yang lebih berpengalaman adalah hal yang sulit. Dan Ariana pun mengerti, Juna sedang berusaha untuk mengimbanginya. Beberapa kali ia melihat Juna sedang duduk malam-malam seorang diri di ruang kerjanya, membaca beberapa jurnal, laporan keuangan, dan hal lain terkait perusahaan ini. Di setiap meeting, lelaki 28 tahun itu juga kerap mencoba menjadi seorang yang bijak dalam mengambil keputusan.
Ariana merapikan kertas terakhir di atas meja. Dia menghela nafas panjang untuk menenangkan hatinya. Ia harus istirahat. Mungkin dia bisa berenang atau pergi ke salon.
Ponsel pintar di meja bergetar. Ariana melihat nama Juna ada di sana.
“Hallo, Tuan.”
“Aku akan memecatmu jika kamu masih memanggilku seperti itu.”
“Coba saja,” goda Ariana. Dia tahu Juna pasti bercanda.
“Sedang apa kamu?”
“Masih membereskan beberapa berkas laporan. Ada yang bisa kubantu?”
Ada jeda sedikit. Juna seperti melakukan sesuatu. “Sudah hampir jam 6 sore, dan kamu masih bekerja?”
“Aku tak ingin hari mingguku diganggu oleh dering telepon.” Ariana terkekeh.
“Pantas saja Tuan Mata menyukaimu. Kamu pekerja keras.”
Meski tak terlihat Juna, muka Ariana mendadak bersemu merah.
“Apakah malam ini ada acara?”
Ariana terpaku. Apakah ini ajakan kencan untukku? Oh, tidak, aku harus menenangkan diri.
“Aku masih ada beberapa pekerjaan.” Jelas saja Ariana berbohong. Ia tak ingin dianggap sebagai seorang wanita yang terlalu bersemangat diajak untuk berkencan. Apalagi oleh atasannya sendiri.
Terdengar nafas kecewa dari seberang telepon. “Baiklah, aku sebagai Tuan dan Bos kamu memerintahkan kamu untuk berhenti bekerja malam ini. Temui aku di lobi satu jam lagi. Oh iya…” Ariana tercekat. Dia tak tahu apa yang akan Juna katakan setelahnya. “Dandan yang cantik. Eva sudah menyiapkanku satu stel bleser warna biru tua buatku. Kuharap kamu memakai gaun yang terbaik.”
Klik. Sambungan telepon itu mati.
Ariana tampak terkejut dengan apa yang barusan ia dengar. Dia membuang muka dan melihat wajahnya di cermin yang sengaja ia letakkan di dalam ruangannya. Mukanya benar-benar berantakan. Dan ia hanya punya waktu satu jam untuk berbenah.
“Dasar lelaki, apakah ia selalu memperlakukan semua wanita seperti ini?” Ariana tampak cemberut.
Ariana menekan tombol lift menuju lantai 1. Gedung apartemennya adalah gedung kembar yang berada di belakang gedung utama Mata Rantai. Untuk menuju lobi, ada dua pilihan jalan. Pertama, halaman yang dipenuhi dengan rumbut hijau dan bunga. Atau lewat lorong yang menghubungkan antar gedung. Pilihan kedua adalah pilihan yang sangat tepat mengingat kali ini Ariana mengenakan pakaian yang tidak biasa. Stelan blus warna merah maroon dengan payet sederhana di bagian lengan. Rambutnya ia biarkan terurai rapi, sedikit berombak. Ia memoles sedikit wajahnya, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan. Entah magnet apa yang telah menariknya, tetapi malam ini ia ingin tampil cantik. Heels12 cm membuatnya sedikit lebih jenjang dan langkah kakinya terlihat lebih menawan.
Sepanjang perjalanan menuju lobi, ia tak bisa membayangkan apa yang akan Juna katakan padanya. Apakah ternyata atasannya itu hanya mengerjainya saja, atau dia memang ingin benar-benar ditemani malam ini. Sejak terakhir kali menghubunginya tadi, Juna belum menghubunginya kembali. Bahkan pesan singkat pun tidak. Hal itulah yang membuat Ariana was-was. Apakah ini hanyalah tipuan belaka.
Ternyata Juna menepati janjinya. Ariana melihatnya sedang berdiri di dekat jendela sambil menatap keluar. Malam hari, halaman Mata Rantai dipenuhi dengan lampu-lampu taman yang cantik. Sangat menyenangkan dan menenangkan. Ariana sering berpikir, bagaimana ide awal Tuan Mata menyulap perusahaan supranatural menjadi semenyenangkan ini.
Ariana semakin dekat ke tempat Juna. Dan semakin dekat, ia bisa melihat penampilan Juna sekarang. Blazer warna biru tua yang dipadukan dengan polo shirt warna putih mengesankan formal namun tetap sporty. Sepatu sneakers warna hitam menambah kesan santai. Rambut Juna tampak baru dipotong rapi dan kini klimis. Wajahnya tampak berseri, tidak tampak kelelahan seperti yang Ariana lihat di setiap meeting. Eva pasti yang memberikan sentuhan di semua detail tubuh Juna.
“Hai,” sapa Ariana.
Juna menoleh dan tersenyum saat mengetahui Ariana sudah berada di dekatnya. Senyum yang sontak membuat jantung Ariana berhenti berdetak, aliran darah membeku, dan nafasnya tercekat. Selama beberapa detik, Ariana terpesona dengan senyum Juna yang tak pernah semenarik sekarang. Pria playboy yang urakan itu, malam ini terkesan sangat menggiurkan. Ariana menelan ludah untuk menetralisir keadaan.
“Sudah siap?” tanya Juna.
Ariana mengamati tubuhnya. Detak jantungnya mendadak berpacu cepat. “Seperti yang kamu lihat. Mau ke mana kita?”
“Suatu tempat yang tinggi.” Juna mendekat ke arah Ariana. Dia memposisikan diri di samping Ariana dan berharap Ariana akan memegang tangannya.
Dengan canggung Ariana meraih tangan Juna dan meloloskan tangannya sendiri ke dalam tangan Juna. Karena sedekat inilah, kini Ariana bisa mencium wangi semerbak dari tubuh atasannya itu. Dia menelan ludah.
Aku harus menenangkan diri.
Menit kemudian, mereka sudah membelah Jakarta dan berhenti di salah satu hotel di daerah Sudirman. Juna kemudian membawa Ariana ke restoran hotel itu yang terletak di lantai paling atas. Dari tempat itulah, Ariana bisa melihat dengan jelas Monas, Tugu Selamat Datang, dan keindahan kerlip lampu Jakarta. Juna sengaja memilih bagian luar restoran agar bisa melihat keindahan Jakarta. Tak berapa lama pelayan datang. Juna memesan beberapa menu, begitu pun dengan Ariana.
“Seformal ini makan malam kita?” tanya Ariana setelah pelayan itu pergi. “Jujur, aku tak biasa. Aku biasa makan di….”
“Syuuuut.” Juna menempelkan telunjuknya di bibir. “Apakah kamu bisa untuk tidak secerewet biasanya.” Dia tersenyum.
Ariana menghela nafas pendek. Lelaki di depannya ini, mengapa harus tersenyum. Sorot lampu temaram, lagu-lagu romantis dari Live Music, dan pemandangan indah kota Jakarta malam hari, pastilah menjadi magnet yang semakin membuat Juna terlihat menarik. Dan Ariana harus bisa mengendalikan diri.
“Maaf, Tuan, aku….”
“Apakah kamu ingin aku benar-benar memecatmu karena selalu memenggilku seperti itu. Oh, come on.” Mendadak sifat asli Juna keluar.
Ariana tiba-tiba berdiri.
“Mau ke mana?”
“Aku ke toilet sebentar.” Ariana membutuhkan nafas bebas sekarang.
Ariana tak membutuhkan ijin Juna, dia langsung bergegas pergi. Melewati sepasang kekasih yang sedang saling pandang di dalam restoran, seorang pelayang yang membawa botol wine warna gelap, dan beberapa orang yang sedang menyaksikan berita di televisi. Di tempat seperti ini, masih ada yang melihat berita? Ariana sempat melirik berita itu. Seorang pejabat yang ditangkap di sebuah hotel oleh penyidik KPK. Pejabat itu memang sudah lama diselidiki karena kasus korupsi pembangunan sarana olahraga International di Surabaya dan Palembang. Akhirnya hari ini, dia ditangkap.
Arian tak mengacuhkan berita itu, dia melebarkan langkah kakinya dan segera pergi ke toilet. Di sana, dia hanya memandangi tubuhnya lewat cermin lebar. Malam ini, dia sudah berdandan sempurna. Hal yang tak pernah ia lakukan. Buat apa? Ariana bertanya kepada dirinya sendiri.
Ia kemudian teringat dengan percakapannya bersama Tuan Mata beberapa tahun lalu. Saat itu, dia baru semester 6. Dan Tuan Mata telah mengajarinya banyak hal tentang kehidupan ini. Malam itu, tiba-tiba Tuan Mata menanyainya tentang suatu hal yang sangat pribadi.
“Kamu sedang dekat dengan seorang pria?” tanya Tuan Mata.
Ariana yang tak terbiasa dengan obrolan santai dengan Tuan Mata, mendadak terkejut. Ia tersipu. Dia menahan senyum yang justru membuat Tuan Mata semakin ingin mengorek hal yang tak ia ketahui.
“Katakan, aku tak mungkin menceritakan pada siapa pun. Kamu tahu, bahwa aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri.” Tuan Mata tersipu malu.
“Saya tak sedang dekat dengan siapa pun Tuan. Maksudku untuk saat ini saya sedang sendiri.” Ariana menahan diri untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Sungguh hanya itu yang kamu ingin katakan?”
Ariana merasa terpojok. Tuan Mata sepertinya punya bakat menjadi seorang psikolog. “Saya baru saja ditinggalkan oleh dia. Dia memilih untuk bekerja ke luar negeri. Dan kami rasa hubungan jarak jauh adalah sulit. Jadi, kami berpisah baik-baik.”
Tuan Mata mengangguk-angguk. “Aku tahu, aku tahu.” Dia merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya. Sebuah foto. Dia menyodorkan foto itu kepada Ariana.
Ariana menerimanya. Foto itu menunjukkan seorang pria dengan t-shirt warna putih dan bercelana pendek. Tampak santai. Dia mirip sekali dengan Tuan Mata. Terutama di bagian mata. Dan harus Ariana akui bahwa lelaki di foto itu menarik. Rambutnya dipotong pendek dan sengaja dibuat berantakan, kulit mukanya terlihat bersih, dan dia memiliki daya tarik di bagian mata dan senyumannya.
“Itu Juna. Aku sering menceritakannya padamu, bukan?”
Ariana menoleh ke Tuan Mata. Ariana mengerti dengan perasaan Tuan Mata sekarang. Bagaimana pun, Tuan Mata berusaha untuk tetap menjadi ayah yang baik bagi anaknya.
Ariana belum pernah ditunjukkan wajah asli Juna Januardo. Dan malam itu, Tuan Mata menunjukkannya untuk pertama kalinya.
“Apakah dia menarik?” tanya Tuan Mata, dia memicingkan mata. Menggoda.
“Menarik?” tanya Ariana balik.
“Kamu tahu maksudku pasti. Aku selalu beranggan bahwa suatu saat aku bisa melihatnya menikah dengan seseorang yang baik. Kamu baik, aku rasa.”
Ariana terkejut. Dia tak menyangka Tuan Mata akan mengatakan hal ini kepadanya. Tetapi dia bukan terkejut untuk dirinya, tetapi untuk Juna. Setelah beberapa tahun, Tuan Mata meninggalkannya, Juna pasti tidak akan dengan mudah menerima permintaan Tuan Mata. Terutama untuk hal yang sangat krusial bagi hidupnya. Dijodohkan oleh orang yang menelantarkannya? Meski pun orang itu adalah ayah kandungnya, pasti Juna akan menolak keras.
“Tuan terlalu serius malam ini,” Ariana mencoba membelokkan pembicaraan.
“Aku serius.” Tuan Mata mengeluarkan sesuatu yang lain dalam sakunya. “Aku telah membuatkan kalian sebuah cincin dari Aquamarine, sebuah batu dengan warna biru yang melambangkan percintaan dan kasih sayang. Aku juga sudah mengukir nama kalian di sini.” Tuan Mata menyodorkan batu itu kepada Ariana.
Batu cincin yang indah, pikir Ariana.
“Tuan, apakah Tuan yakin dengan hal ini. Jika aku menjadi Juna….”
“Aku tahu, aku tahu. Sebagai ayah, aku tak bisa memaksakan kehendaknya. Tetapi sebagai ayah, aku ingin memilihkan seseorang yang baik untuknya. Saya rasa, kamu adalah orang yang tepat dan spesial. Tapi…..” Tuan Mata menatap Ariana serius. “tenang saja, aku tak akan memaksakan hal ini. Aku akan memberikan cincin ini, nanti. Ketika kalian berdua benar-benar jatuh cinta.”
Perkataan Tuan Mata malam itu serasa sebuah keyakinan bahwa Ariana dan Juna akan bertemu suatu saat nanti. Dan sekarang kejadian. Ariana bertemu dengan Juna. Dan Ariana jadi teringat dengan percakapan malam itu.
Ariana melihat wajahnya di cermin. Apakah kini dia jatuh cinta? Dia sendiri tidak tahu. Toh, sekarang Tuan Mata juga sudah tidak ada di dunia ini. Jadi, percakapan malam itu hanya sebuah cerita usang. Tak ada yang tahu selain dirinya.
Ariana kembali ke meja. Di sana makanan sudah tersedia dan Juna sedang menikmati segelas red wine-nya.
“Lama sekali, makanan sampai sudah datang.”
“Tadi lihat berita sebentar,” Ariana berbohong. “Kamu mengikuti kasus Joko Susilo?”
“Pejabat yang dicurigai korupsi itu?”
“Iyap, tepat sekali. Sore tadi dia ditangkap.”
Dan percakapan tentang Joko Susilo itu menjadi pembuka percakapan-percakapan selanjutnya. Malam itu, Juna terlihat lebih santai dan terbuka. Dia menceritakan masa kecilnya. Menceritakan pekerjaannya di Digiforyou dengan lebih detail.
“Sekarang ceritakan tentang hidupmu. Selama ini, aku tak pernah tahu tentang dirimu.”
“Kamu tak perlu tahu,” kilah Ariana.
“Ayolah. Aku ingin mengenalmu lebih dekat.”
Ariana terpana menatap wajah Juna. Ingin mengenal lebih dekat? “Baiklah. Mungkin aku bisa memulai dengan kakekku.”
Dan Ariana pun menceritakan tentang kakeknya, lalu kedua orang tuanya, kariernya, apa yang menjadi minatnya sekarang. Satu hal yang tak ia ceritakan adalah kedekatannya dengan Tuan Mata. Belum saatnya Juna tahu, pikirnya saat ini.
Malam ini, menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua. Hampir pukul sebelas mereka turun dari restoran dan kembali menjelajah kota Jakarta. Mereka tidak lekas kembali ke Mata Rantai, namun berputar-putar sebentar melewati Senayan, Bundaran HI, Medan Merdeka.
“Monas terlihat cantik jika malam hari,” kata Ariana.
“Kamu seperti tidak pernah melihatnya saja, Ariana.”
“Aku selalu kagum dengan seni arsitektur yang indah. Monas salah satunya. Dulu waktu aku masih kuliah, aku sering pergi ke Monas, bahkan naik sampai atas.”
“Oh, ya? Apa yang kamu lihat?”
“Kamu belum pernah ke sana?”
Juna menggeleng.
“Manusia modern sepertimu memang selalu disibukkan dengan urusan materi dan lupa dengan hal-hal seni. Monas adalah salah satu keindahan yang wajib kita kagumi. Aku sangat senang melihat kota Jakarta dari puncaknya. Menarik, meskipun harus berdesakan bersama anak-anak sekolah ketika akan naik. Tetapi rasanya sangat puas. Meskipun bukan puncak tertinggi di Jakarta, namun melihat kota Jakarta dari atasnya sangatlah indah. Tingginya hanya 132 meter. Dikelilingi oleh gedung-gedung pemerintahan. Diciptakan dengan konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni. Lingga adalah sebuah obyek tegak, tinggi dan melambangkan falus atau penis. Lambang kesuburan. Yoni berarti kandungan atau rahim. Dalam buku Kama Sutra, yoni berarti pasangan lingga yang merupakan simbol dari alat kelamin wanita. Penciptaan Monas dengan mengadaptasi kedua konsep ini, berarti Monas adalah lambang dari penciptaan yang sempurna. Hasil perkimpoian Lingga dan Yoni. Sebuah konsep sederhana, kelahiran. Diciptakan karena untuk mengenang perlawanan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan. Sebuah kelahiran.”
Juna tampak takjub dengan penuturan Ariana tentang Monas yang detail. Dia tak menyangka Ariana bisa tahu sedalam itu.
“Di jaman internet seperti sekarang, mendapatkan informasi seperti menghirup udara. Gratis,” Ariana tertawa. “Dan ada satu impianku sejak dulu tentang Monas.”
“Apa itu?”
“Aku ingin menaikinya saat malam. Pasti sangat indah.”
“Bukankah tadi kita sudah berada di salah satu puncak tertinggi di Jakarta?”
“Beda. Sangat beda. Berdiri di atas Monas seperti berdiri di atas pusat kota. Jantung Jakarta.” Ariana menyentuh dadanya sambil terpejam.
“Kamu benar-benar seperti Arya. Dia selalu mengagumi hal-hal seperti itu. Dia pernah mengatakan padaku bahwa sebagai seorang Mata Rantai, aku harus lebih peduli dengan hal-hal di sekitar. Bahkan kata dia, banyak hantu-hantu bergelantungan di mana-mana, jika kita peka.”
“Tepat sekali. Kamu harus melatihnya dengan berputar kota Jakarta.”
Dan malam itu, mereka berdua menghabiskan sisa malam dengan berputar-putar kota Jakarta.
Dulu saat awal-awal di Mata Rantai, Tuan Juna sering mengajaknya berkeliling dari satu ruang ke ruangan lain di perusahaan ini. Bukan lagi lewat pintu-pintu umum yang biasa dilewati oleh karyawan, namun menyusuri lorong lain, lift lain, dan pintu-pintu rahasia yang hanya bisa diakses h Tuan Mata. Sangat mengasyikkan. Perusahaan ini memiliki banyak sekali lorong rahasia untuk menyelinap. Dan untuk pertama kalinya juga, Ariana diajak ke lantai 13, tempat Tuan Mata tinggal.
Ariana memang merasa bahwa Tuan Mata seperti menganggapnya sebagai seorang cucu sendiri. Mungkin karena Ariana selalu antusias saat beliau menceritakan tentang Mata Rantai, dunia gaib, atau cara-cara menembus altar lain. Tuan Mata memang tidak terlalu dekat dengan anak-anaknya. Apakah karena dua anaknya itu tidak mewarisi darah Mata atau tidak ada ketertarikan dengan perusahaan supranatural itu? Ariana tidak cukup mengerti. Beberapa kali Ariana pernah melihat Andra dan Andrea, tetapi tak pernah mengobrol dalam waktu yang lama. Mereka juga tidak tinggal di sini, mereka ikut ibunya di daerah BSD. Setelah dewasa, mereka mengejar mimpi mereka masing-masing dan tidak berniat untuk menggantikan ayahnya.
Ariana pun beruntung, bisa menjadi bagian dari Mata Rantai. Tuan Mata sangat baik mengajarinya banyak hal. Menyekolahkannya. Dan saat ini adalah waktu untuk membalas kebaikan Tuan Mata. Ia mencurahkan semua daya tenaga untuk mengembalikan kedigdayaan Mata Rantai.
Minggu ini adalah hari yang sangat berat. Kasus Lenwa seperti ledakan bom atom yang maha dahsyat. Membutuhkan energi. Dan memulihkan tubuhnya yang lelah bukan perkara gampang. Ia sudah lama tidak ‘berkelana’ dan sekalinya kemarin ‘berkelana’, energi yang ia habiskan begitu besar. Belum lagi, hari-hari kemudian adalah meeting-meeting panjang dengan para Chief Rantai.
Pertengahan tahun ini, review keuangan perusahaan mulai menunjukkan tanda-tanda positif. Ariana harus mengakui bahwa langkah Juna untuk melakukan Cost Reduction di beberapa sektor sangatlah tepat. Perekonomian global memang sedang tidak sehat seperti tahun lalu, hal inilah yang memperburuk kinerja Mata Rantai belakangan. Jadi langkah Juna adalah hal yang tepat. Waktu review seminggu ini, para Chief sudah melaporkan keuangan yang membaik. Meskipun belum sepenuhnya. Tetapi, kebijakan itu sampai detik ini masih menuai kontroversi dari beberapa bagian, termasuk para Chief yang kondisi keuangannya sebenarnya positif. Salah satunya tentu saja Ronero.
Beberapa kali Ronero bersitegang dengan Juna tentang beberapa kebijakan perusahaan. Misalnya, Building The Sun mengapa ikut terkena imbas Cost Reduction padahal selama setahun ini perusahaan kontraktor itu tidak pernah mengalami keuangan yang negatif. Tetapi bagi Juna, keuangan perusahaan tidak hanya dipengaruhi oleh perusahaan-perusahaan yang menunjukkan kinerja keuangan yang buruk. Semua harus saling menyokong.
Menurut Ariana, Juna kini mulai menunjukkan kekuatannya. Ia merasa atasannya itu sudah mulai bisa memposisikan diri agar semua orang di bawahnya, termasuk para Chief yang memiliki umur di atas Juna, mulai menganggapnya sebagai atasan. Ariana tahu, memposisikan diri sebagai atasan dengan anak buah yang lebih berpengalaman adalah hal yang sulit. Dan Ariana pun mengerti, Juna sedang berusaha untuk mengimbanginya. Beberapa kali ia melihat Juna sedang duduk malam-malam seorang diri di ruang kerjanya, membaca beberapa jurnal, laporan keuangan, dan hal lain terkait perusahaan ini. Di setiap meeting, lelaki 28 tahun itu juga kerap mencoba menjadi seorang yang bijak dalam mengambil keputusan.
Ariana merapikan kertas terakhir di atas meja. Dia menghela nafas panjang untuk menenangkan hatinya. Ia harus istirahat. Mungkin dia bisa berenang atau pergi ke salon.
Ponsel pintar di meja bergetar. Ariana melihat nama Juna ada di sana.
“Hallo, Tuan.”
“Aku akan memecatmu jika kamu masih memanggilku seperti itu.”
“Coba saja,” goda Ariana. Dia tahu Juna pasti bercanda.
“Sedang apa kamu?”
“Masih membereskan beberapa berkas laporan. Ada yang bisa kubantu?”
Ada jeda sedikit. Juna seperti melakukan sesuatu. “Sudah hampir jam 6 sore, dan kamu masih bekerja?”
“Aku tak ingin hari mingguku diganggu oleh dering telepon.” Ariana terkekeh.
“Pantas saja Tuan Mata menyukaimu. Kamu pekerja keras.”
Meski tak terlihat Juna, muka Ariana mendadak bersemu merah.
“Apakah malam ini ada acara?”
Ariana terpaku. Apakah ini ajakan kencan untukku? Oh, tidak, aku harus menenangkan diri.
“Aku masih ada beberapa pekerjaan.” Jelas saja Ariana berbohong. Ia tak ingin dianggap sebagai seorang wanita yang terlalu bersemangat diajak untuk berkencan. Apalagi oleh atasannya sendiri.
Terdengar nafas kecewa dari seberang telepon. “Baiklah, aku sebagai Tuan dan Bos kamu memerintahkan kamu untuk berhenti bekerja malam ini. Temui aku di lobi satu jam lagi. Oh iya…” Ariana tercekat. Dia tak tahu apa yang akan Juna katakan setelahnya. “Dandan yang cantik. Eva sudah menyiapkanku satu stel bleser warna biru tua buatku. Kuharap kamu memakai gaun yang terbaik.”
Klik. Sambungan telepon itu mati.
Ariana tampak terkejut dengan apa yang barusan ia dengar. Dia membuang muka dan melihat wajahnya di cermin yang sengaja ia letakkan di dalam ruangannya. Mukanya benar-benar berantakan. Dan ia hanya punya waktu satu jam untuk berbenah.
“Dasar lelaki, apakah ia selalu memperlakukan semua wanita seperti ini?” Ariana tampak cemberut.
# # #
Ariana menekan tombol lift menuju lantai 1. Gedung apartemennya adalah gedung kembar yang berada di belakang gedung utama Mata Rantai. Untuk menuju lobi, ada dua pilihan jalan. Pertama, halaman yang dipenuhi dengan rumbut hijau dan bunga. Atau lewat lorong yang menghubungkan antar gedung. Pilihan kedua adalah pilihan yang sangat tepat mengingat kali ini Ariana mengenakan pakaian yang tidak biasa. Stelan blus warna merah maroon dengan payet sederhana di bagian lengan. Rambutnya ia biarkan terurai rapi, sedikit berombak. Ia memoles sedikit wajahnya, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan. Entah magnet apa yang telah menariknya, tetapi malam ini ia ingin tampil cantik. Heels12 cm membuatnya sedikit lebih jenjang dan langkah kakinya terlihat lebih menawan.
Sepanjang perjalanan menuju lobi, ia tak bisa membayangkan apa yang akan Juna katakan padanya. Apakah ternyata atasannya itu hanya mengerjainya saja, atau dia memang ingin benar-benar ditemani malam ini. Sejak terakhir kali menghubunginya tadi, Juna belum menghubunginya kembali. Bahkan pesan singkat pun tidak. Hal itulah yang membuat Ariana was-was. Apakah ini hanyalah tipuan belaka.
Ternyata Juna menepati janjinya. Ariana melihatnya sedang berdiri di dekat jendela sambil menatap keluar. Malam hari, halaman Mata Rantai dipenuhi dengan lampu-lampu taman yang cantik. Sangat menyenangkan dan menenangkan. Ariana sering berpikir, bagaimana ide awal Tuan Mata menyulap perusahaan supranatural menjadi semenyenangkan ini.
Ariana semakin dekat ke tempat Juna. Dan semakin dekat, ia bisa melihat penampilan Juna sekarang. Blazer warna biru tua yang dipadukan dengan polo shirt warna putih mengesankan formal namun tetap sporty. Sepatu sneakers warna hitam menambah kesan santai. Rambut Juna tampak baru dipotong rapi dan kini klimis. Wajahnya tampak berseri, tidak tampak kelelahan seperti yang Ariana lihat di setiap meeting. Eva pasti yang memberikan sentuhan di semua detail tubuh Juna.
“Hai,” sapa Ariana.
Juna menoleh dan tersenyum saat mengetahui Ariana sudah berada di dekatnya. Senyum yang sontak membuat jantung Ariana berhenti berdetak, aliran darah membeku, dan nafasnya tercekat. Selama beberapa detik, Ariana terpesona dengan senyum Juna yang tak pernah semenarik sekarang. Pria playboy yang urakan itu, malam ini terkesan sangat menggiurkan. Ariana menelan ludah untuk menetralisir keadaan.
“Sudah siap?” tanya Juna.
Ariana mengamati tubuhnya. Detak jantungnya mendadak berpacu cepat. “Seperti yang kamu lihat. Mau ke mana kita?”
“Suatu tempat yang tinggi.” Juna mendekat ke arah Ariana. Dia memposisikan diri di samping Ariana dan berharap Ariana akan memegang tangannya.
Dengan canggung Ariana meraih tangan Juna dan meloloskan tangannya sendiri ke dalam tangan Juna. Karena sedekat inilah, kini Ariana bisa mencium wangi semerbak dari tubuh atasannya itu. Dia menelan ludah.
Aku harus menenangkan diri.
Menit kemudian, mereka sudah membelah Jakarta dan berhenti di salah satu hotel di daerah Sudirman. Juna kemudian membawa Ariana ke restoran hotel itu yang terletak di lantai paling atas. Dari tempat itulah, Ariana bisa melihat dengan jelas Monas, Tugu Selamat Datang, dan keindahan kerlip lampu Jakarta. Juna sengaja memilih bagian luar restoran agar bisa melihat keindahan Jakarta. Tak berapa lama pelayan datang. Juna memesan beberapa menu, begitu pun dengan Ariana.
“Seformal ini makan malam kita?” tanya Ariana setelah pelayan itu pergi. “Jujur, aku tak biasa. Aku biasa makan di….”
“Syuuuut.” Juna menempelkan telunjuknya di bibir. “Apakah kamu bisa untuk tidak secerewet biasanya.” Dia tersenyum.
Ariana menghela nafas pendek. Lelaki di depannya ini, mengapa harus tersenyum. Sorot lampu temaram, lagu-lagu romantis dari Live Music, dan pemandangan indah kota Jakarta malam hari, pastilah menjadi magnet yang semakin membuat Juna terlihat menarik. Dan Ariana harus bisa mengendalikan diri.
“Maaf, Tuan, aku….”
“Apakah kamu ingin aku benar-benar memecatmu karena selalu memenggilku seperti itu. Oh, come on.” Mendadak sifat asli Juna keluar.
Ariana tiba-tiba berdiri.
“Mau ke mana?”
“Aku ke toilet sebentar.” Ariana membutuhkan nafas bebas sekarang.
Ariana tak membutuhkan ijin Juna, dia langsung bergegas pergi. Melewati sepasang kekasih yang sedang saling pandang di dalam restoran, seorang pelayang yang membawa botol wine warna gelap, dan beberapa orang yang sedang menyaksikan berita di televisi. Di tempat seperti ini, masih ada yang melihat berita? Ariana sempat melirik berita itu. Seorang pejabat yang ditangkap di sebuah hotel oleh penyidik KPK. Pejabat itu memang sudah lama diselidiki karena kasus korupsi pembangunan sarana olahraga International di Surabaya dan Palembang. Akhirnya hari ini, dia ditangkap.
Arian tak mengacuhkan berita itu, dia melebarkan langkah kakinya dan segera pergi ke toilet. Di sana, dia hanya memandangi tubuhnya lewat cermin lebar. Malam ini, dia sudah berdandan sempurna. Hal yang tak pernah ia lakukan. Buat apa? Ariana bertanya kepada dirinya sendiri.
Ia kemudian teringat dengan percakapannya bersama Tuan Mata beberapa tahun lalu. Saat itu, dia baru semester 6. Dan Tuan Mata telah mengajarinya banyak hal tentang kehidupan ini. Malam itu, tiba-tiba Tuan Mata menanyainya tentang suatu hal yang sangat pribadi.
“Kamu sedang dekat dengan seorang pria?” tanya Tuan Mata.
Ariana yang tak terbiasa dengan obrolan santai dengan Tuan Mata, mendadak terkejut. Ia tersipu. Dia menahan senyum yang justru membuat Tuan Mata semakin ingin mengorek hal yang tak ia ketahui.
“Katakan, aku tak mungkin menceritakan pada siapa pun. Kamu tahu, bahwa aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri.” Tuan Mata tersipu malu.
“Saya tak sedang dekat dengan siapa pun Tuan. Maksudku untuk saat ini saya sedang sendiri.” Ariana menahan diri untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Sungguh hanya itu yang kamu ingin katakan?”
Ariana merasa terpojok. Tuan Mata sepertinya punya bakat menjadi seorang psikolog. “Saya baru saja ditinggalkan oleh dia. Dia memilih untuk bekerja ke luar negeri. Dan kami rasa hubungan jarak jauh adalah sulit. Jadi, kami berpisah baik-baik.”
Tuan Mata mengangguk-angguk. “Aku tahu, aku tahu.” Dia merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya. Sebuah foto. Dia menyodorkan foto itu kepada Ariana.
Ariana menerimanya. Foto itu menunjukkan seorang pria dengan t-shirt warna putih dan bercelana pendek. Tampak santai. Dia mirip sekali dengan Tuan Mata. Terutama di bagian mata. Dan harus Ariana akui bahwa lelaki di foto itu menarik. Rambutnya dipotong pendek dan sengaja dibuat berantakan, kulit mukanya terlihat bersih, dan dia memiliki daya tarik di bagian mata dan senyumannya.
“Itu Juna. Aku sering menceritakannya padamu, bukan?”
Ariana menoleh ke Tuan Mata. Ariana mengerti dengan perasaan Tuan Mata sekarang. Bagaimana pun, Tuan Mata berusaha untuk tetap menjadi ayah yang baik bagi anaknya.
Ariana belum pernah ditunjukkan wajah asli Juna Januardo. Dan malam itu, Tuan Mata menunjukkannya untuk pertama kalinya.
“Apakah dia menarik?” tanya Tuan Mata, dia memicingkan mata. Menggoda.
“Menarik?” tanya Ariana balik.
“Kamu tahu maksudku pasti. Aku selalu beranggan bahwa suatu saat aku bisa melihatnya menikah dengan seseorang yang baik. Kamu baik, aku rasa.”
Ariana terkejut. Dia tak menyangka Tuan Mata akan mengatakan hal ini kepadanya. Tetapi dia bukan terkejut untuk dirinya, tetapi untuk Juna. Setelah beberapa tahun, Tuan Mata meninggalkannya, Juna pasti tidak akan dengan mudah menerima permintaan Tuan Mata. Terutama untuk hal yang sangat krusial bagi hidupnya. Dijodohkan oleh orang yang menelantarkannya? Meski pun orang itu adalah ayah kandungnya, pasti Juna akan menolak keras.
“Tuan terlalu serius malam ini,” Ariana mencoba membelokkan pembicaraan.
“Aku serius.” Tuan Mata mengeluarkan sesuatu yang lain dalam sakunya. “Aku telah membuatkan kalian sebuah cincin dari Aquamarine, sebuah batu dengan warna biru yang melambangkan percintaan dan kasih sayang. Aku juga sudah mengukir nama kalian di sini.” Tuan Mata menyodorkan batu itu kepada Ariana.
Batu cincin yang indah, pikir Ariana.
“Tuan, apakah Tuan yakin dengan hal ini. Jika aku menjadi Juna….”
“Aku tahu, aku tahu. Sebagai ayah, aku tak bisa memaksakan kehendaknya. Tetapi sebagai ayah, aku ingin memilihkan seseorang yang baik untuknya. Saya rasa, kamu adalah orang yang tepat dan spesial. Tapi…..” Tuan Mata menatap Ariana serius. “tenang saja, aku tak akan memaksakan hal ini. Aku akan memberikan cincin ini, nanti. Ketika kalian berdua benar-benar jatuh cinta.”
Perkataan Tuan Mata malam itu serasa sebuah keyakinan bahwa Ariana dan Juna akan bertemu suatu saat nanti. Dan sekarang kejadian. Ariana bertemu dengan Juna. Dan Ariana jadi teringat dengan percakapan malam itu.
Ariana melihat wajahnya di cermin. Apakah kini dia jatuh cinta? Dia sendiri tidak tahu. Toh, sekarang Tuan Mata juga sudah tidak ada di dunia ini. Jadi, percakapan malam itu hanya sebuah cerita usang. Tak ada yang tahu selain dirinya.
Ariana kembali ke meja. Di sana makanan sudah tersedia dan Juna sedang menikmati segelas red wine-nya.
“Lama sekali, makanan sampai sudah datang.”
“Tadi lihat berita sebentar,” Ariana berbohong. “Kamu mengikuti kasus Joko Susilo?”
“Pejabat yang dicurigai korupsi itu?”
“Iyap, tepat sekali. Sore tadi dia ditangkap.”
Dan percakapan tentang Joko Susilo itu menjadi pembuka percakapan-percakapan selanjutnya. Malam itu, Juna terlihat lebih santai dan terbuka. Dia menceritakan masa kecilnya. Menceritakan pekerjaannya di Digiforyou dengan lebih detail.
“Sekarang ceritakan tentang hidupmu. Selama ini, aku tak pernah tahu tentang dirimu.”
“Kamu tak perlu tahu,” kilah Ariana.
“Ayolah. Aku ingin mengenalmu lebih dekat.”
Ariana terpana menatap wajah Juna. Ingin mengenal lebih dekat? “Baiklah. Mungkin aku bisa memulai dengan kakekku.”
Dan Ariana pun menceritakan tentang kakeknya, lalu kedua orang tuanya, kariernya, apa yang menjadi minatnya sekarang. Satu hal yang tak ia ceritakan adalah kedekatannya dengan Tuan Mata. Belum saatnya Juna tahu, pikirnya saat ini.
Malam ini, menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua. Hampir pukul sebelas mereka turun dari restoran dan kembali menjelajah kota Jakarta. Mereka tidak lekas kembali ke Mata Rantai, namun berputar-putar sebentar melewati Senayan, Bundaran HI, Medan Merdeka.
“Monas terlihat cantik jika malam hari,” kata Ariana.
“Kamu seperti tidak pernah melihatnya saja, Ariana.”
“Aku selalu kagum dengan seni arsitektur yang indah. Monas salah satunya. Dulu waktu aku masih kuliah, aku sering pergi ke Monas, bahkan naik sampai atas.”
“Oh, ya? Apa yang kamu lihat?”
“Kamu belum pernah ke sana?”
Juna menggeleng.
“Manusia modern sepertimu memang selalu disibukkan dengan urusan materi dan lupa dengan hal-hal seni. Monas adalah salah satu keindahan yang wajib kita kagumi. Aku sangat senang melihat kota Jakarta dari puncaknya. Menarik, meskipun harus berdesakan bersama anak-anak sekolah ketika akan naik. Tetapi rasanya sangat puas. Meskipun bukan puncak tertinggi di Jakarta, namun melihat kota Jakarta dari atasnya sangatlah indah. Tingginya hanya 132 meter. Dikelilingi oleh gedung-gedung pemerintahan. Diciptakan dengan konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni. Lingga adalah sebuah obyek tegak, tinggi dan melambangkan falus atau penis. Lambang kesuburan. Yoni berarti kandungan atau rahim. Dalam buku Kama Sutra, yoni berarti pasangan lingga yang merupakan simbol dari alat kelamin wanita. Penciptaan Monas dengan mengadaptasi kedua konsep ini, berarti Monas adalah lambang dari penciptaan yang sempurna. Hasil perkimpoian Lingga dan Yoni. Sebuah konsep sederhana, kelahiran. Diciptakan karena untuk mengenang perlawanan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan. Sebuah kelahiran.”
Juna tampak takjub dengan penuturan Ariana tentang Monas yang detail. Dia tak menyangka Ariana bisa tahu sedalam itu.
“Di jaman internet seperti sekarang, mendapatkan informasi seperti menghirup udara. Gratis,” Ariana tertawa. “Dan ada satu impianku sejak dulu tentang Monas.”
“Apa itu?”
“Aku ingin menaikinya saat malam. Pasti sangat indah.”
“Bukankah tadi kita sudah berada di salah satu puncak tertinggi di Jakarta?”
“Beda. Sangat beda. Berdiri di atas Monas seperti berdiri di atas pusat kota. Jantung Jakarta.” Ariana menyentuh dadanya sambil terpejam.
“Kamu benar-benar seperti Arya. Dia selalu mengagumi hal-hal seperti itu. Dia pernah mengatakan padaku bahwa sebagai seorang Mata Rantai, aku harus lebih peduli dengan hal-hal di sekitar. Bahkan kata dia, banyak hantu-hantu bergelantungan di mana-mana, jika kita peka.”
“Tepat sekali. Kamu harus melatihnya dengan berputar kota Jakarta.”
Dan malam itu, mereka berdua menghabiskan sisa malam dengan berputar-putar kota Jakarta.
# # #
Diubah oleh wignyaharsono 05-07-2015 00:08
0
Kutip
Balas