- Beranda
- Stories from the Heart
I SWEAR THIS TIME I MEAN IT
...
TS
bukanpemainbaru
I SWEAR THIS TIME I MEAN IT

Oke, sebelum gue mulai, gue mau minta izin kepada Moderator dan para pembaca setia forum SFTH untuk menceritakan kisah gue
Berbekal pengalaman dari membaca banyak novel novel terkenal dan kisah kisah yang sangat inspiratif dari para kaskuser seperti "Have I Told You Lately That I Love You" karya bang Nanda, "Sepasang Kaos Kaki Hitam" milik om Ari, "You Are My Happiness" cerita mas Baskoro, serta cerita lainya yang melecut nyali gue untuk membagi kisah gue.
Gue ingin mengutarakan sebuah kisah yang ada di ingatan gue, sebuah cerita cinta masa lalu gue yang membuat gue bisa berada disini dan selalu membuat gue bersyukur karena Tuhan telah memilih gue untuk mengalaminya
Nama tokoh disini gue samarkan dengan alasan menjaga privasi masing masing. Jika ada kesamaan alur cerita, nama tokoh, dan tempat gue minta maaf. Selamat membaca 

Quote:
Diubah oleh bukanpemainbaru 11-08-2015 21:00
junti27 dan anasabila memberi reputasi
3
86.6K
488
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bukanpemainbaru
#106
PART 14
Mata gue masih terpaku pada sms itu, gue spontan langsung ngelihat ke Ara. Awalnya gue mikir Ara yang ngesms gue dan mancing gue buat ngajak ngobrol dia lagi, tapi ternyata gue kepedean, Ara masih mencatat pelajaran yang lagi diterangkan guru gue.
Tapi gue masih curiga jika ini SMS dari Ara, gue inget terakhir pulang hp gue tergeletak di meja dan ada 1 misscall dari nomer yang sama, dan orang terakhir yang duduk di sebelah gue adalah Ara. Gue pun coba memastikanya
Gue mencatat nomernya di hp gue, setelah gue cocokan, nomernya gak sama. Ternyata bener, gue kepedean. Tapi segi positifnya, sekarang gue punya nomernya Ara. Karena sudah pasti bukan Ara yang sms gue, gue mengandai-andai siapa yang mengirimkan pesan itu ke gue. Dan nama lain yang terpikirkan adalah..
Mutia.
Gue langsung minta izin ke guru untuk ijin keluar kelas, mungkin aja dia lagi mengamati gue dari luar, tapi setelah gue keluar, diluar kelas gue gak ada siapa siapa. Gue sadar gue disini makin kepedean, mana mungkin Mutia tau nomer hp gue, kenal aja barusan
Gue masuk lagi ke kelas sembari memikirkan siapa yang ngesms gue, gue celingukan mencari tau siapa yang ngesms gue. Gue yakin pasti anak anak di kelas gue. Gue pun meng-sms orang itu
Gue keliling dan melihat seisi kelas dan mengecek siapa yang membuka hpnya, tapi percuma, gak ada yang memegang hp. Kelas dalam keadaan hening dan semua murid sedang mencatat, entah apa yang dicatat karena dari awal emang gue gak merhatiin. Gue makin penasaran, siapa yang sms gue. Saat gue sibuk memegang hp gue sambil celingukan, tiba tiba ada sms masuk. Dari nomer yang tidak dikenal, tapi kali ini nomernya berbeda dengan yang tadi. Makin penasaran, gue buka sms itu
Gue kaget, siapa lagi ini yang ngesms gue, gue celingukan lagi nyari siapa yang ngesms gue, tapi lagi lagi gak ada murid yang sedang memegang hp. Karena emosi gue jawab
Sent.
Gue tinggal nunggu balesan. Hanya beberapa detik sebuah pesan masuk lagi ke hp gue
DEG.
Gue langsung melihat ke meja guru dan ngelihat Bu Dinda, guru biologi gue yang sedang memasang senyum keji ala ibu tiri di sinetron bersambung, seakan berkata “Euh euh euh, berani beraninya kamu mempermainkanku Timmy, akan kubuat kau menerima akibatnya HAHAHAHAHAHA”
Gue lupa kalo Bu Dinda ini juga merangkap wali kelas gue, dia mendata siswa yang dia asuh, termasuk gue. Dan tentunya nomer hp gue pun juga dia punya, makanya dia bisa nge-sms gue. Meskipun galak dan sudah kepala 3, tapi Bu Dinda ini sangat cantik. Dia sudah mempunyai seorang anak, tapi badanya masih ideal, gitar spanyol gitu. Dia selalu menjadi pusat perhatian guru laki laki di sekolah gue, walaupun dia tidak menggunakan make up yang banyak untuk mempercantik diri, dia selalu tampil cantik. Jangankan guru laki laki, muridpun banyak yang suka. Apalagi gue
Gue langsung malu dan nunduk. Gue sikep hp gue diatas meja, sambil gue pura-pura belum ngebaca sms itu. Tapi beberapa saat kemudian ada sms masuk lagi, gue reflek melihat sebuah pesan lagi. Dari Bu Dinda
Mampus gue
Gue pun berdiri dari kursi dan menuju ke meja Bu Dinda, masih dengan senyum ingin memangsanya, gue cuma bisa cecengesan sambil memberikan hp gue ke guru yang memiliki badan ideal itu
Gue ngeliat ke arah Ara, dia juga ternyata lagi ikut-ikutan ngetawain gue
Setelah gue taruh hp kesayangan gue di meja Bu Dinda, gue langsung kembali ke Meja gue dengan Ara. Gue takut candaan gue tadi bikin Ara marah. Dan bener aja, gue lihat Ara sedang masang muka jutek
Ara diem, dia lalu menoleh ke gue, dan natap gue tajem.
Modyar aku
Tapi gue masih curiga jika ini SMS dari Ara, gue inget terakhir pulang hp gue tergeletak di meja dan ada 1 misscall dari nomer yang sama, dan orang terakhir yang duduk di sebelah gue adalah Ara. Gue pun coba memastikanya
Quote:
Gue mencatat nomernya di hp gue, setelah gue cocokan, nomernya gak sama. Ternyata bener, gue kepedean. Tapi segi positifnya, sekarang gue punya nomernya Ara. Karena sudah pasti bukan Ara yang sms gue, gue mengandai-andai siapa yang mengirimkan pesan itu ke gue. Dan nama lain yang terpikirkan adalah..
Mutia.
Gue langsung minta izin ke guru untuk ijin keluar kelas, mungkin aja dia lagi mengamati gue dari luar, tapi setelah gue keluar, diluar kelas gue gak ada siapa siapa. Gue sadar gue disini makin kepedean, mana mungkin Mutia tau nomer hp gue, kenal aja barusan
Gue masuk lagi ke kelas sembari memikirkan siapa yang ngesms gue, gue celingukan mencari tau siapa yang ngesms gue. Gue yakin pasti anak anak di kelas gue. Gue pun meng-sms orang itu
Quote:
Gue keliling dan melihat seisi kelas dan mengecek siapa yang membuka hpnya, tapi percuma, gak ada yang memegang hp. Kelas dalam keadaan hening dan semua murid sedang mencatat, entah apa yang dicatat karena dari awal emang gue gak merhatiin. Gue makin penasaran, siapa yang sms gue. Saat gue sibuk memegang hp gue sambil celingukan, tiba tiba ada sms masuk. Dari nomer yang tidak dikenal, tapi kali ini nomernya berbeda dengan yang tadi. Makin penasaran, gue buka sms itu
Quote:
Gue kaget, siapa lagi ini yang ngesms gue, gue celingukan lagi nyari siapa yang ngesms gue, tapi lagi lagi gak ada murid yang sedang memegang hp. Karena emosi gue jawab
Quote:
Sent.
Gue tinggal nunggu balesan. Hanya beberapa detik sebuah pesan masuk lagi ke hp gue
Quote:
DEG.
Gue langsung melihat ke meja guru dan ngelihat Bu Dinda, guru biologi gue yang sedang memasang senyum keji ala ibu tiri di sinetron bersambung, seakan berkata “Euh euh euh, berani beraninya kamu mempermainkanku Timmy, akan kubuat kau menerima akibatnya HAHAHAHAHAHA”
Gue lupa kalo Bu Dinda ini juga merangkap wali kelas gue, dia mendata siswa yang dia asuh, termasuk gue. Dan tentunya nomer hp gue pun juga dia punya, makanya dia bisa nge-sms gue. Meskipun galak dan sudah kepala 3, tapi Bu Dinda ini sangat cantik. Dia sudah mempunyai seorang anak, tapi badanya masih ideal, gitar spanyol gitu. Dia selalu menjadi pusat perhatian guru laki laki di sekolah gue, walaupun dia tidak menggunakan make up yang banyak untuk mempercantik diri, dia selalu tampil cantik. Jangankan guru laki laki, muridpun banyak yang suka. Apalagi gue

Gue langsung malu dan nunduk. Gue sikep hp gue diatas meja, sambil gue pura-pura belum ngebaca sms itu. Tapi beberapa saat kemudian ada sms masuk lagi, gue reflek melihat sebuah pesan lagi. Dari Bu Dinda
Quote:
Mampus gue
Gue pun berdiri dari kursi dan menuju ke meja Bu Dinda, masih dengan senyum ingin memangsanya, gue cuma bisa cecengesan sambil memberikan hp gue ke guru yang memiliki badan ideal itu
Quote:
Gue ngeliat ke arah Ara, dia juga ternyata lagi ikut-ikutan ngetawain gue
Quote:
Setelah gue taruh hp kesayangan gue di meja Bu Dinda, gue langsung kembali ke Meja gue dengan Ara. Gue takut candaan gue tadi bikin Ara marah. Dan bener aja, gue lihat Ara sedang masang muka jutek
Quote:
Ara diem, dia lalu menoleh ke gue, dan natap gue tajem.
Modyar aku
0
: “Eh ra, aku boleh minta nomer hp kamu? Aku mau nanya nanya kalo ada PR dari gurunya” kata gue berbohong, niatnya sih modus sekalian hehe
: “Bilang aja mau smsan. Modusmu tu lhoo dasar” gue dijitak, modus ketauan
: “Yah kan sambil menyelam minum air hehe”
: “Pulang sekolah diambil lagi kan ya bu, saya bisa baca kok hehe” kata gue cengengesan
: “Lain kali jangan smsan pas pelajaran ibu ya, kalo guru yang lain terserah kamu” kata Bu Dinda diikuti tawa temen temen sekelas gue
: “Hehe iya bu”
: “Duh saya sama dia mah udah khatam bu” canda gue sambil disoraki temen sekelas gue
: “Eh ra maafin aku, tadi becanda, benerann”