Kaskus

News

plonardAvatar border
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.

Khalid ibn Al-Walid


Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.

Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)


Daftar Istilah Penting

Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.

Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.

Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.

Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.

Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.

Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.

Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.

Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.

Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.

Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.

Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.

Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.

Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.

Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.

Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.

Romawi
Lihat Bizantin.

Syam
Lihat Levant.


Garis Besar Biografi

Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد‎; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]

Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.



(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
plonardAvatar border
TS
plonard
#125
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed


Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
(Halaman 9)

Dalam Pertempuran Badr, seorang lelaki muda bernama Abdullah bin Ubay ditahan oleh pasukan (bukan Abdullah bin Ubay pemimpin Kaum Munafik). Ayahnya, Ubay bin Khalaf, datang dan menebus anaknya dengan 4.000 dirham. Setelah anaknya dibebaskan, Ubay bertingkah sombong dan tidak sopan. Ia berkata, "Hei Muhammad! Aku punya seekor kuda yang aku besarkan dengan banyak makanan, karena pada pertempuran berikutnya, aku akan mengendarai kuda tersebut dan aku akan membunuhmu." Nabi kemudian menjawab, "Tidak, kamu tidak akan membunuh saya. Tetapi saya yang membunuhmu di atas kuda itu, jika Allah menghendaki."[1] Lelaki itu kemudian tertawa meremehkan sambil berkuda dengan anaknya meninggalkan Madinah.

Dan sekarang, Ubay bin Khalaf maju mendekati nabi di atas kudanya. Ia melihat para sahabat nabi memberikannya jalan. Ia melihat sang nabi di atas kudanya dan dengan berat hati, ia mengakui keberanian laki-laki yang hendak ia bunuh. Sang nabi mengenakan dua lapis zirah rantai. Ia juga memakai pelindung kepala dari anyaman rantai beserta pelat pelindung pipi; pedangnya masih disarungkan, terikat dengan ikat pinggang kulit, dan tangan kanannya memegang tombak. Ubay melihatnya sebagai lelaki yang kuat, berbahu lebar, berlengan kekar, lengan yang bisa mematahkan tombak menjadi dua. Sang nabi terlihat sangat gagah.

Sangat sedikit di antara kita yang hidup di masa kini mengetahui bahwa Muhammad adalah salah satu Muslim terkuat di zamannya. Dengan ditambah kepribadiannya yang kuat dan mulia sebagai seorang yang dipilih oleh Allah, kita bisa membayangkan betapa berat untuk menghadapinya sebagai musuh. Namun Ubay tidak goyah. Ia baru saja membunuh seorang Muslim dan semangatnya sedang tinggi.

Nabi sebenarnya bisa dengan mudah meminta para sahabatnya untuk membunuh Ubay. Mereka akan melaksanakannya dan membunuhnya. Atau bisa saja ia memberikan perintah sederhana, “Bunuh lelaki itu,” dan sangat besar kemungkinan lelaki itu akan tewas karena ketika Ali telah bersiap membunuh seseorang, tidak ada yang bisa menyelamatkan calon korbannya. Tetapi nabi memerintahkan para sahabatnya untuk memberi jalan. Kali ini, ia tidak menghendaki bantuan dari siapa pun. Ini adalah masalah harga diri pribadi, sebuah persoalan tentang keksatriaan. Muhammad akan bertarung seorang diri sebagai seorang Arab yang bersikap ksatria. Ia tetap akan menemui penantangnya.

Ketika Ubay tiba di dekat nabi, ia menarik kudanya. Ia tidak dalam situasi yang terburu-buru. Tanpa ragu, ia mengira bahwa Muhammad akan menunggu dirinya menyerang, dengan santai ia mengeluarkan pedangnya dari sarung. Namun ia terlalu santai, nabi telah mengangkat tombaknya dan menyabetkan tombaknya ke bagian atas dada Ubay. Ubay mencoba menghindar, tetapi kurang cepat. Sabetan tombak tersebut mengenai bahu kanannya, di dekat leher. Lukanya cukup ringan, tetapi Ubay jatuh dari kudanya dan mematahkan rusuknya. Sebelum nabi sempat menyerang kembali, Ubay bangun dan lari tunggang langgang sambal berteriak ketakutan menuju rekan-rekannya. Rekan-rekannya menenangkannya dan bertanya tentang duelnya. Ubay menjawab dengan gemetaran, “Demi Allah, Muhammad telah membunuhku.”

Rekan Quraysy-nya memeriksa lukanya dan mengatakan agar ia tidak berlebihan karena lukanya ringan dan akan sembuh dengan segera. Suara Ubay justru meninggi, “Aku akan mati!” Ketika rekan-rekannya berusaha menenangkan, Ubay tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan berteriak, “Kukatakan pada kalian, aku akan mati! Muhammad pernah mengatakan padaku ia akan membunuhku. Kalau saja Muhammad hanya meludahiku, aku pasti mati!”[2] Ubay tidak bisa ditenangkan.

Kelak ketika pasukan Quraysy pulang ke Makkah, ia ikut bersama mereka. Saat mereka berkemah di suatu lokasi bernama Saraf, tidak jauh dari Makkah, laki-laki ini tewas. Penyebabnya tentu saja bukan efek fisik dati lukanya. Dan Allah Maha Mengetahui!

Catatan Kaki Halaman 9
[1] Ibnu Hisyam: hlm. 549; Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 84.
[2] Ibnu Hisyam: hlm, 84.


__________________________________________________________________________
(Halaman 10)

Pertempuran secara bertahap menjadi semakin sengit karena pasukan Muslim bertahan dengan kuat dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Abu Sufyan dan Khalid menghendaki penyelesaian yang cepat karena pertempuran telah berlangsung terlalu lama. Pasukan Quraysy memutuskan untuk menekan lebih keras dan jika memungkinkan membunuh nabi karena kematiannya akan mematahkan perlawanan Muslim.

Sekelompok infantri Quraysy kemudian maju mendekati nabi. Pasukan Muslim terus bertahan dan banyak di antara mereka yang gugur. Tiga orang Quraysy berhasil menembus pertahanan dan berhasil memperoleh jangkauan untuk melempar batu ke arah nabi. Mereka bertiga adalah Utbah bin Abi Waqqas, Abdullah bin Shahab, dan Ibnu Qami'ah. Mereka mulai melemparkan batu ke arah nabi.

Empat lemparan Utbah (yang merupakan seorang saudara dari Sa'ad) mengenai wajah nabi, mematahkan beberapa gigi bawahnya dan melukai bibir bawahnya. Abdullah mendaratkan sebuah batu yang melukai kening nabi, sementara Ibnu Qami'ah melukai pipi nabi dan mematahkan dua rantai zirah kepalanya, lalu menusuk tulang pipinya.

Nabi terjatuh dan ditolong oleh Thalhah. Pada saat itu, pasukan kecil Muslim bersama nabi melakukan serangan balasan yang sangat kuat dan mendorong pasukan Quraysy ke belakang. Sa'ad meletakkan busurnya, mengeluarkan pedang dan berlari mengejar saudaranya, tetapi Utbah lari lebih cepat dan berlindung di barisan Quraysy. Nantinya, Sa'ad mengatakan bahwa belum pernah ia merasa sangat ingin membunuh seseorang sebesar keinginannya untuk membunuh saudaranya ini karena Utbah telah melukai sang nabi.

Nabi dan kelompoknya mendapat kesempatan lagi untuk sedikit beristirahat, menyeka darah dari wajahnya. Sambil membersihkan wajahnya, ia berkata, "Bagaimana mungkin suatu kaum akan bahagia setelah mereka mewarnai wajah nabi mereka dengan darah, padahal ia mengajak mereka kepada Tuhan mereka!"[1] Abu 'Ubaydah, yang sedikit banyak adalah seorang ahli bedah, mencoba mengeluarkan dua rantai kecil yang menusuk tulang pipi nabi. Akhirnya, ia harus menggunakan giginya dan dalam prosesnya, dua gigi Abu 'Ubaydah copot. Ia kemudian dikenal di antara orang Arab sebagai Al-Asram, yang berarti seseorang yang tidak memiliki gigi seri.

Di masa istirahat singkat ini, nabi memperoleh kekuatannya kembali dan pulih dari efek shock dari luka yang diperolehnya. Seorang perempuan berkulit hitam bernama Ummu 'Ayman berdiri di dekatnya. Ummu 'Ayman adalah perempuan yang pernah mengasuh nabi di masa kecilnya. Dari barisan Quraysy, seorang laki-laki bernama Haban bin Al-Arqa pelan-pelan berjalan ke daerah di mana panahnya dapat menjangkau musuh. Ia menembakkan panahnya dari sana dan mengenai punggung Ummu 'Ayman. Haban melihat kejadian ini sebagai hal yang lucu dan sambil terbahak-bahak, ia kembali ke barisan pasukan Quraysy. Sang nabi marah melihat kejadian ini. Ia mengambil sebuah anak panah dari wadah anak panahnya dan memberikannya pada Sa'ad. "Panah orang itu,"[2] perintahnya kepada Sa'ad. Sa'ad menarik anak panah pada busurnya, membidik dengan hati-hati, lalu menembakkannya pada kafir tadi dan menembus lehernya. Kali ini sang nabi yang tertawa!

Pasukan Quraysy melakukan serangan terakhir mereka kepada nabi dengan ganas dari segala arah. Lingkaran pertahanan yang dibuat para sahabat berhasil menahan serangan di hampir semua titik; tetapi di satu lokasi, Ibnu Qami'ah berhasil menembusnya dan ia langsung berlari menuju nabi. Laki-laki ini adalah salah seorang yang melemparkan batu kepada nabi dalam fase serangan sebelumnya. Di dekat nabi dan sedikit di sebelah kanannya, berdirilah Mush'ab bin 'Umayr dan seorang perempuan bernama Ummu Ammarah. Perempuan ini telah meninggalkan tugas utamanya untuk membawakan air untuk mereka yang terluka, dan kali ini, ia mengambil sebuah pedang dan musuh dari salah seorang korban pertempuran. Ia menjatuhkan seekor kuda dan melukai seorang kafir.

Ibnu Qami'ah salah mengira bahwa Mush'ab adalah nabi dan ia mengejarnya. Mush'ab menunggu dengan pedang terhunus dan mereka mulai berduel. Setelah beberapa kali saling serang, Ibnu Qami'ah membunuh Mush'ab bin 'Umayr dengan sebuah sabetan mematikan.

Ketika ia jatuh, Ummu Ammarah mengejar Ibnu Qami'ah dan menyabetkan pedangnya di bahu musuh. Ibnu Qami'ah memakai baju zirah rantai. Karena sabetan Ummu Ammarah sebagai seorang perempuan juga tidak terlalu kuat, Ibnu Qami'ah tidak terluka. Sebagai balasannya, Ibnu Qami'ah menyabetkan pedang ke bahu perempuan itu, tetapi karena pukulannya terburu-buru, luka ini tidak membunuh Ummu Ammarah. Ummu Ammarah mendapatkan luka yang cukup dalam di bahu dan ia terjatuh, tidak bisa bergerak untuk beberapa saat.

Catatan Kaki Halaman 10
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 80; Waqidi: Maghazi, hlm.191.
[2] Waqidi: Maghazi, hlm.189.

Diubah oleh plonard 14-06-2016 07:30
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.