- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#814
F Part 31
Perceraian orang tua. Bagi anak mungkin itu sebuah kata yang menakutkan, kata yang tidak ingin mereka dengar, dan kata yang tidak ingin mereka alami.
Orang tua gue bercerai ketika gue duduk di sekolah menengah pertama. Walaupun usia gue masih belesan setidaknya gue udah bisa berpikir dan mengetahui mana yang baik dan buruk. Ibu gue selalu menghampiri gue ketika malam hari atau ketika tidak ada ayah di rumah. Ibu gue selalu bilang kalau dia sudah tidak kuat untuk hidup lagi bersama ayah, dia sudah lelah, dia lebih baik mati. Jelas omongan ibu berbeda dengan sekarang, ia harus menelan ludah sendiri semenjak ayah meninggal. Ayah ternyata menyimpan warisan yang cukup untuk melunasi hutang-hutang keluarga saat itu. Sementara ayah gue juga sama, ketika kondisi sulit ayah selalu ngedatangi gue juga, tapi dia hanya bisa diam, mengelus-ngelus kepala gue. Dia tampak kebingungan dan frustasi. Ayah sangat mencintai ibu, namun dulu ibu terlalu angkuh untuk bersama dirinya. Gue begitu tertekan sekali ketika disatu sisi ibu meminta cerai dengan ayah sedangkan ayah selalu bilang ingin selalu bersama ibu dan mempertahankan keluarga ini. Gue? Gue anak yang beranjak remeja yang tidak tahu harus berbuat apa, gue bingung, disatu sisi gue ingin melihat mereka bahagia, di sisi lain gue juga gak ingin kehilangan mereka.
Sampai pada akhirnya, tanpa meminta persetujuan gue, mereka bercerai, dan gue harus menerimanya. Hubungan status suami istri mereka telah hilang, tapi hubungan gue dengan mereka sebagai keluarga antara anak, ayah, dan ibu tidak akan pernah hilang.
****
“Kak Fe.. makananya sudah siap..”
Suara Ani memanggil. Gue masih terduduk di kamar melihat ke jendela, ya sejenak mengingat masa lalu gue tadi. Harus gue akui gue semenjak kedatangan mereka, terutama dengan adanya Ani, hidup gue perlahan berubah. Gue jadi lebih dekat dengan ibu, tidak seperti sebelumnya, dan entah kenapa gue sepertinya menerima mereka berdua, orang luar yang seharusnya tidak gue terima.
Kadang malam menjelang tidur gue selalu berpikir apakah perubahan gue ini adalah sebuah kepura-puraan. Kepura-puraan yang dibuat gue sendiri tidak sadar karena sakitnya ibu. Tapi, entahlah.
Malam ini makan seperti biasanya, menyambut Burhan bapaknya Ani yang baru saja pulang setelah seminggu lebih dinas keluar kota. Gue duduk disamping Ani dan selera makan gue sedang turun.
“Sayang kenapa makanya sedikit?”
Itulah respon ibu yang selalu perhatian ke gue. Iya, gue malas makan malam ini. Entah kenapa diantara begitu banyak dan lezatnya hidangan di meja tidak ada satupun membuat gue ingin melahapnya. Sesekali gue melihat ke arah Pria yang disamping ibu, gue melihat pria yang selalu bercengkrama, membicarakan dirinya, gue benci. Tempat duduk yang ia tempati itu seharusnya milik ayah gue.
“Aku sudah Bu! ”
Gue menyudahi makan malam dan kembali ke kamar. Tanpa handphone yang sudah gue buang ke kolam nenek, gue seperinya sudah terbiasa hidup tanpa alat komunikasi elektronik. Jelas hanya lantunan musik di ipod yang menemani gue setiap malam.
Orang tua gue bercerai ketika gue duduk di sekolah menengah pertama. Walaupun usia gue masih belesan setidaknya gue udah bisa berpikir dan mengetahui mana yang baik dan buruk. Ibu gue selalu menghampiri gue ketika malam hari atau ketika tidak ada ayah di rumah. Ibu gue selalu bilang kalau dia sudah tidak kuat untuk hidup lagi bersama ayah, dia sudah lelah, dia lebih baik mati. Jelas omongan ibu berbeda dengan sekarang, ia harus menelan ludah sendiri semenjak ayah meninggal. Ayah ternyata menyimpan warisan yang cukup untuk melunasi hutang-hutang keluarga saat itu. Sementara ayah gue juga sama, ketika kondisi sulit ayah selalu ngedatangi gue juga, tapi dia hanya bisa diam, mengelus-ngelus kepala gue. Dia tampak kebingungan dan frustasi. Ayah sangat mencintai ibu, namun dulu ibu terlalu angkuh untuk bersama dirinya. Gue begitu tertekan sekali ketika disatu sisi ibu meminta cerai dengan ayah sedangkan ayah selalu bilang ingin selalu bersama ibu dan mempertahankan keluarga ini. Gue? Gue anak yang beranjak remeja yang tidak tahu harus berbuat apa, gue bingung, disatu sisi gue ingin melihat mereka bahagia, di sisi lain gue juga gak ingin kehilangan mereka.
Sampai pada akhirnya, tanpa meminta persetujuan gue, mereka bercerai, dan gue harus menerimanya. Hubungan status suami istri mereka telah hilang, tapi hubungan gue dengan mereka sebagai keluarga antara anak, ayah, dan ibu tidak akan pernah hilang.
****
“Kak Fe.. makananya sudah siap..”
Suara Ani memanggil. Gue masih terduduk di kamar melihat ke jendela, ya sejenak mengingat masa lalu gue tadi. Harus gue akui gue semenjak kedatangan mereka, terutama dengan adanya Ani, hidup gue perlahan berubah. Gue jadi lebih dekat dengan ibu, tidak seperti sebelumnya, dan entah kenapa gue sepertinya menerima mereka berdua, orang luar yang seharusnya tidak gue terima.
Kadang malam menjelang tidur gue selalu berpikir apakah perubahan gue ini adalah sebuah kepura-puraan. Kepura-puraan yang dibuat gue sendiri tidak sadar karena sakitnya ibu. Tapi, entahlah.
Malam ini makan seperti biasanya, menyambut Burhan bapaknya Ani yang baru saja pulang setelah seminggu lebih dinas keluar kota. Gue duduk disamping Ani dan selera makan gue sedang turun.
“Sayang kenapa makanya sedikit?”
Itulah respon ibu yang selalu perhatian ke gue. Iya, gue malas makan malam ini. Entah kenapa diantara begitu banyak dan lezatnya hidangan di meja tidak ada satupun membuat gue ingin melahapnya. Sesekali gue melihat ke arah Pria yang disamping ibu, gue melihat pria yang selalu bercengkrama, membicarakan dirinya, gue benci. Tempat duduk yang ia tempati itu seharusnya milik ayah gue.
“Aku sudah Bu! ”
Gue menyudahi makan malam dan kembali ke kamar. Tanpa handphone yang sudah gue buang ke kolam nenek, gue seperinya sudah terbiasa hidup tanpa alat komunikasi elektronik. Jelas hanya lantunan musik di ipod yang menemani gue setiap malam.
itkgid memberi reputasi
1
