Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread1Anggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#366
Partitur no. 68 : The Irony Behind The Ghost Town


Benar saja, baru saja kami menghirup udara segar dan menemukan daerah yang surut—setidaknya bisa beristirahat—kini di depan kami terpampang pemandangan yang sangat menyedihkan. Rasanya, kota mati dalam film atau game Silent Hillitu nyata adanya. Dan kota itu ada di depan mataku. Semuanya terasa seperti tak ada kehidupan. Satu-satunya lampu yang menyala adalah lampu rumah sakit, atau plang dari toko-toko. Ada sedikit penerangan pada jalan, tapi tak banyak.

Gelap.

Sunyi.

Banjir yang sangat tinggi.

Bau sampah yang berserakan di mana-mana.

Hanya suara angin yang sedang berhembus dan suara hujan yang memecahkan telinga.

Kulihat samar-samar dalam kegelapan yang sunyi malam itu ada orang yang terjebak juga seperti kami. Ada pula sekumpulan orang yang berjalan di atas banjir yang sangat tinggi di depan kami! Setelah kulihat-lihat, mereka bukan berjalan, melainkan duduk di sebuah kursi panjang, dan ada dua atau tiga orang yang mengangkat mereka.

“Mau ojek angkat, Pak?” tawar seorang Bapak-bapak dengan ramah kepada kami.

“Ojek angkat apa ya, Pak?” kataku dengan polos. Sebenarnya aku sangat penasaran.

“Bapak lihat yang lagi duduk di atas kursi itu?” ujar Bapak itu menunjuk orang yang baru saja kulihat tadi.

“Hoo..” nampaknya aku bisa mengerti, karena sebutuan ojek angkat ini baru pertama kali kudengar. “Gimana, nih?”

“Ya, mau nggak mau kita naik itu..” kata Om Ivan. “Kalo dianterin sampe fly over sana berapa, Pak?”

“Tiga ratus ribu, Mas.” Ucapan Bapak-bapak itu membuatku terkaget-kaget. Harganya memang jauh lebih mahal dari perahu karet, tapi memang karena benar-benar orang itu yang mengangkatnya. Aku melihat ke arah ayahku.

Nampaknya ayahku tak begitu mempermasalahkannya, “Mau gimana lagi?”

Yang membuatku bingung, Bapak itu memanggilku dengan sebutan “Pak”, sementara kepada Om Ivan memanggil dengan sebutan “Mas. Apakah mukaku terlihat setua itu?

Hari sudah sangat gelap waktu itu, matahari sudah tenggelam, dan kulihat sekarang sudah jam delapan malam. Wah, pasti acara di rumahku sudah dimulai sedari tadi, dan sedang pada asyik menikmati penampilan band-band yang akan main nanti! Kami yang terpaksa menaiki ojek angkat itu menikmati pemandangan dari atas kursi panjang itu. Satu kursi hanya muat untuk bertiga. Dan yang mengisi kursi itu tentu saja aku, ayahku dan Om Ivan. “Kalo Harrys ikut, udah pasti minta pulang dari tadi ini!” kataku terkekeh-kekeh. Kami serasa menunggangi kuda di daerah Puncak.

Pemandangan dari atas sini walaupun terasa agak bau sampah, tapi cukup indah. Aku melihat potret lanskap kota Jakarta dari sisi yang benar-benar berbeda dari apa yang pernah kulihat sebelumnya. Banyak refleksi bayangan yang muncul dari air banjir ini. Semua yang tak indah bisa jadi indah. Aku benar-benar bersyukur.

Lalu, aku berusaha melihat sekitar dari sudut baru. Aku harus membuka kacamataku yang sudah basah itu untuk melihat dengan jernih sekelilingku—walaupun pada akhirnya tetap tak terlihat apa-apa, karena minus pada mataku sudah cukup tinggi. Terkadang aku iri kepada mereka yang tidak mengenakan kacamata, karena dalam kondisi seperti ini mereka bisa memandang sekeliling dengan tetap jernih.

Bulan yang terhalang dengan langit yang mendung itu tambah terhalang oleh mataku yang rabun jauh. Bintang-bintang pun begitu.

Sesekali kami mengobrol dengan dua Bapak-bapak yang mengangkat kami ini. Mereka sudah sangat terbiasa dengan situasi ini. Sangat berbeda denganku yang terbiasa di rumah, bersantai ketika hujan melanda Ibu Kota dengan sangat deras. Penuturan Bapak itu membuat hatiku tercelos. Rasanya, aku ingin ikut menangisi penderitaan orang lain, setelah aku melihat realita yang menyedihkan, tapi tetap indah di mata mereka.

Bagaimana bisa selama ini aku hanya berdiam diri saja melihat melalui media-media? Walaupun keadaan ekonomiku terbilang tak begitu bagus, tapi tetap ada yang lebih di bawahku. Dan mereka tetap senang akan hidup mereka yang begitu. Ironi yang manis.

Ayahku mengambil handphone nya untuk menjepret pemandangan depan kami yang mungkin jarang kami temui berikutnya. Karena takjub dengan hasilnya yang bisa menjadi sangat bagus, aku juga mengikutinya untuk mendapatkan sedikit refleksi dari pencahayaan yang sangat sedikit itu. Untung saja, aku masih sempat memotretnya sebelum baterai handphoneku habis.

Kulihat dari atas situ, para anggota band yang nantinya akan bermain itu sedang berenang di air banjir itu. “Semangat! Semangat!” teriak gitaris dari band itu, Om Wahyu—salah satu yang memberiku semangat dan teman bertukar tentang dunia gitar.

Perlahan tapi pasti, aku akhirnya melihat jalan yang sama ketika kami berangkat tadi. Itu membuatku sangat lega. Rute yang kami tempuh sangat jauh—atau mungkin karena aku yang tak tahu. Dan benar saja, teman-teman band itu terus berenang sampai tujuan akhir kami!

Terlihat rombongan perempuan yang sudah duluan sampai masih menunggui kami. Akhirnya kami terbebas dari kota mati ini.

Kami mengeringkan diri kami terlebih dahulu sebelum menaiki mobil untuk kembali ke kediamanku. Lelah sekali. Tapi, itu pengalaman berharga yang tak akan pernah ditukar dengan pengalamanku lainnya. Aku semakin mensyukuri hidupku karenanya.

***


Akhirnya sampai juga ke rumah! Di tengah keputusasaanku tadi, kukira aku tak bisa kembali ke rumahku tercinta ini. Dari depan rumah sudah terdengar suara drum yang sangat kencang—menandakan sebuah band sedang bermain. Aku yang basah kuyup dan bau tak karuan ini tak sabar menuju ke depan, melihat siapa yang sedang bermain. Dan aku baru tersadar, di mana kamera yang dititipkan Angga kepadaku tadi?

Ketika memasuki ruang tengah, aku melihat Harrys sedang bercanda riang dengan dua orang. Dua orang itu duduk di kursi yang berlawanan arah denganku, sehingga tak bisa kulihat jelas kepada siapa Harrys sedang bercanda. Karena malu, aku terus melaju menuju kamarku untuk segera mandi sampai sebuah panggilan kencang datang memanggilku. “Imaaan!” suara wanita yang halus itu begitu tak asing di kupingku.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 22:35
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.