Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#4920
Episode 2 : Chain Reaction

Apa yang akan kalian lakukan, ketika seseorang dari masa lalu kembali di kehidupan kalian, dengan hal-hal yang baru di dalam dirinya? Pasti akan membangkitkan kerinduan di hati, entah sedikit atau banyak. Bangkitnya kerinduan itu terkadang memicu efek berantai di kehidupan, ada yang kemudian terjebak dalam nostalgia masa lalu, ada yang sanggup menunjukkan dimana posisi dia berdiri di hidup, dan ada pula yang memusuhi. Semua itu berangkat dari pola pikir kita, dan seberapa kuat hati kita. Mungkin kalian sudah bisa menarik satu kesimpulan yang akan menjadi jawaban kalian atas pertanyaan gue tadi. Tapi sekarang simpan dulu jawaban kalian itu, dan silakan dengarkan cerita gue ini.

* * *


Gue memasuki sebuah café di bilangan Senopati, di tengah rintik hujan Jakarta di sebuah sore. Setelah memilih tempat duduk, gue membaca-baca buku menu yang tercetak mewah di tangan gue. Jari telunjuk gue menyusuri daftar menu yang ada disitu, sambil mencoba menentukan pilihan. Gue melirik ke pelayan yang berdiri cukup jauh dari meja gue, dan gue bersyukur karena dia gak menunggu di samping gue. Ketika pilihan gue telah jatuh di salah satu jenis minuman, gue menutup buku menu itu. Tepat di saat itu, gue melihat ada sesosok wanita masuk ke dalam café, dengan 2 orang teman wanitanya.

Butuh waktu beberapa detik buat gue untuk mengenalinya. Tapi butuh waktu entah berapa lama buat gue untuk memahami mengapa Tuhan mempertemukan kami disitu. Mata gue mengikuti gerak tubuhnya, dan baru gue alihkan ketika gue menyadari salah satu temannya memandangi gue.

Gue mengalihkan pandangan ke novel di meja, mencoba gak mempedulikan sesosok wanita yang barusan masuk. 10 menit, 15 menit, 20 menit, akhirnya konsentrasi gue buyar, dan gue tergoda untuk melirik sekali lagi ke arah wanita tadi. Ketika gue melirik ke arahnya, tepat pada saat itu dia memandangi gue, sehingga kedua mata kami bertemu. Gue tersenyum kepadanya, dan dia membalas sambil memiringkan kepala. Gue mengangkat cangkir, dan sekali lagi tersenyum kepadanya.

Diluar dugaan gue, gak berapa lama kemudian dia berdiri, dan menghampiri gue sambil membawa cangkirnya sendiri. Dia berdiri di belakang kursi di hadapan gue.

“Boleh?” tanyanya lembut.
“Silakan.” jawab gue sambil tersenyum.

Dia kemudian duduk di hadapan gue. Sekejap kemudian situasi menjadi canggung buat gue membuka percakapan. Dia berada tepat di hadapan gue, dengan jarak sangat dekat, bahkan gue bisa mendengar suara hembusan napasnya.

“Halo, Amelia.”
“Halo, Baskoro.”
“Apa kabar?”
“Seperti yang kamu lihat. Aku masih utuh.”
gue tertawa.
“Ya, kamu masih Amelia yang dulu.”
“Kamu apa kabar?,” suaranya lembut. Berbeda dari dia yang dulu gue kenal.
“Alhamdulillah baik.”, jawab gue.

Percakapan kami itu seakan menemui dinding batu yang tinggi, dan tidak bisa menemukan jalan lain selain ke arah yang sebenarnya kami hindari. Percakapan tentang masa lalu. Terlalu jahat buat gue untuk membahasnya, tapi terlalu canggung bagi kami untuk mengabaikannya.

“Kamu nunggu seseorang disini?,” tanyanya perlahan.
Gue menggeleng, “Enggak, aku gak nunggu siapa-siapa kok. Memang ini yang aku cari, quality me-time. Kadang aku butuh waktu sendirian untuk beberapa saat.” kemudian gue tertawa pelan, “Biar aku tetep waras.”
“Aku ganggu quality me-timekamu dong kalo gitu?”
“Kamu merasa jadi pengganggu?”
Dia mengangkat bahu, “Entahlah.”

Gue menggerakkan badan condong ke depan, sambil melipat kedua tangan di meja. Gue memandanginya lekat-lekat, dan senyum kecil tersungging di bibir gue. Dan itu juga menciptakan senyum kecil di bibirnya.

“Kamu tamu di waktu yang tepat.”, sahut gue lembut.

Dia tertawa kemudian menunduk memainkan jemarinya. Sepertinya dia salah tingkah, atau ada sebab lain yang gak gue ketahui. Gue menunggu dia dengan sabar.

“Mata kamu masih seperti dulu ya.”, ucapnya pada akhirnya.
“Kenapa sama mata aku?”
“Tajem, galak, nyeremin.”, dia terdiam sejenak, ”tapi dari mata kamu itulah aku lihat ketulusan dan keteguhan hati kamu yang gak berbatas.”
“Senyum kamu juga masih seperti dulu kok.”, sahut gue pelan.
“Ada apa sama senyum aku?”
“Feels like home.”

Kemudian segalanya menjadi lebih mudah, sekaligus lebih rumit. Obrolan gue dengannya semakin akrab dan hangat, sekaligus melupakan teman wanitanya yang tadi datang bersama. Waktu itu rasanya gue ditarik kembali ke masa lalu, tanpa menyediakan jalan untuk kembali. Dan mungkin gue gak akan bisa kembali, seandainya takdir gak menunjukkan jalan untuk kembali.

“Aku boleh minta nomor handphone kamu?”, tanyanya.
Gue mengangguk, dan secara otomatis membuka handphone gue.
“Berapa?”, tanyanya lagi.
Mendadak gue terdiam, tangan gue membeku. Gue mematikan lagi handphone, dan meletakkannya di meja. Gue memandangi dia dengan tatapan tenang.
“Berapa nomor kamu?”, ulangnya dengan sabar.
Gue menggeleng dan tersenyum.
“Sepertinya itu belum perlu. Maafin aku ya.”, jawab gue.
“Kenapa? Kamu takut kita CLBK?”
“Bukan.”
“Terus kenapa?”, kejarnya.
“Aku belum percaya sama diri aku sendiri. Jadi untuk tetap menjaga perasaan kita semua, mungkin lebih baik kita seperti ini aja. Until the universe allows us to meet.”, jawab gue.
“Aku cuma pingin ada silaturahmi lagi kok.”
“Kita terlalu dekat untuk jadi sekedar teman, tapi terlalu canggung untuk tetap berpura-pura gak ada apapun diantara kita. Dan, kita masing-masing punya hati yang harus dijaga.”
“Okay, kalo itu memang prinsip kamu.”
“Kamu marah?”, tanya gue hati-hati.
Dia menggeleng dengan senyum dipaksakan.
“Enggak kok.”
Gue meraih satu tangannya di atas meja, dan menggenggam jemarinya. “Aku percaya kamu bisa ngerti kok.”
“Semoga…”, sahutnya lemah, “when will I see you again?”

Gue terdiam sebentar, sebelum gue bisa menjawab pada akhirnya.

“Ketika kita sudah bisa memahami satu sama lain. And I will always waiting for that certain moment.

0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.