- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465.8K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#798
F Part 30
Gara-gara becandain Ani pas makan, rasa kantuk gue jadi hilang. Selesai makan gue mencari-cari obat tidur yang gue udah gue beli. Gue lupa menaruhnya, gue cek di tas gak ada, di saku celana gak ada. Ya, ampun efek kurang tidur bikin gue jadi pelupa.
“Niii..” Gue menggedor-gedor pintu kamar Ani yang terkunci.
“Aniii….”
“Ani….buka!”
“Woii.. “
“. buka..!!!”
Ngepet lah si Ani, gue dikacangin. Hampir sepuluh menit gue panggil-panggil dan gedor pintunya, gak dibuka.
“ANIIIIII!!!” Teriak gue sekeras-kerasnya.
“Sayang, ada apa? ” Kata Ibu yang baru saja datang. Kedatangan ibu gak gue sadari, ibu datang mungkin karena teriakan gue yang cukup kencang sehingga menarik perhatian ibu.
“Ini si Ani rese, pintunya gak dibuka.”
“Ani….?” Ucap ibu lembut sambil mengetuk pintu beberapa kali. Gue yakin si Ani gak bakal buka pintu kamarnya. Gue yang teriak aja gak didenger, apalagi suara ibu yang pelan.
……
“Ya..?”
Ajaib, hanya satu kali panggilan oleh ibu, Ani membuka pintu kamarnya. Gue melongo tak percaya, kesal dibuatnya. Pengen rasanya gue maki-maki si Ani, gue dari tadi nungguin di depan pintu kamarnya manggil-manggil gak dibuka, padahal tujuan gue cuma mau nanya tentang obat tidur.
“Eh.. lu gue panggil-panggil dari tadi kenapa gak dibuka?”
“Lu punya telinga gak sih? Atau lu udah tuli ya?”
Ani hanya diam saja, rambutnya berantakan, mukanya cemberut dan murung. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Tapi gue yakin si Ani pasti merasa kesal karena tadi sudah diledekin gue bareng ibu. Ani menundukan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca.
“ih kok mewek…”
Gue bisa melihat air mata yang mengalir di pipinya.
“Sayang,, sudah….” Kata ibu.
“Lagian ada orang manggil-manggil, malah diantep. Dasar cengeng.”
“Udah..udah..” Ibu mencoba menenangkan gue.
“Ani.. kenapa kamu gak menjawab panggilan kakakmu tadi?” Lanjut kata ibu.
Lagi-lagi si Ani hanya diam saja, dia hanya bisa menangis sambil mengepal kedua tangannya. Gue sih gak peduli, gak simpati ama orang cengeng. Gue jadi masang muka sinis sama si Ani.
“Ibu kayak yang gak tau aja, si Ani ngambek tuh gara-gara kita ledek tadi.”
“Kamu marah sama ibu dan kakakmu?” Tanya ibu.
“Ibu dan kakakmu tadi becanda Aniiiiii, jangan dianggap serius.” Kata ibu.
“kak Fe dan ibu becandanya keterlaluan, jelas-jelas aku ini gak pacaran sama Reza.” Kata Ani.
“Yaelah, ni aniii… gitu doang.” Kata gue sinis.
Ibu mendekap Ani dan mencoba untuk mengusap air matanya. Sementara gue melihatnya jadi geli. Dasar bocah.
“Ni.. lu tadi liat obat tidur yang gue beli gak?”
“Obat?”
“yang dikresek item tadi kak?
“Iya kali, dimana sekarang?”
“Udah aku buang ke tempat sampah. Kirain itu obat apa.”
“Astagaaaaaa…begoo…”
Arghh.. gue harus gimana lagi, tadinya gue mau mencak-mencak lagi si Ani tapi sayangnya ada Ibu. Ibu pasti tidak akan membiarkannya. Daripada emosi gue meledak, gue memutuskan untuk pergi ke kamar gue, mengunci pintu rapat-rapat dan mencoba memejamkan mata untuk tidur.
***
“Dre.. lu udah kepikiran mau kuliah kemana?”
“Belum..”
Sore itu gue main ke rumah Andrea seperti biasa. Kalau lagi gak betah di rumah pasti larinya ke rumah Andrea. Rumah Andrea, kamar Andrea bagi gue kayak kamar gue yang kedua. Kamarnya sama besarnya dengan kamar gue cuman yang membedakan isi kamar gue dan Andrea adalah dia adalah penggemar Kpop sehingga di kamarnya terdapat poster bintang dan group Kpop sedangkan di kamar gue hanya ada poster Marilyn Monroe.
“Lu sendiri mau kemana Fe?”
“Gak tau..”
Gue mengaduk-ngaduk kopi yang baru gue seduh. Gue jadi memikirkan kopi, kata orang kunci menikmati kopi itu bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya. Kopi yang gue seduh ini menggunakan cangkir yang sangat bagus, cangkir yang terbuat porselen ini begitu cantik. Katanya hidup kita seperti kopi. Iya, seperti kopi yang ada pahit dan manis. Tapi, bagi gue jika kopi itu diibaratkan hidup kita, gue mau kopi/hidup gue dibungkus atau diwadahi dengan cangkir yang cantik.
“Pfffttt.. pait..” Keluh gue.
Gue kemudian menambahkan gula ke dalam isi kopi gue agar terasa lebih manis.
“Sejak kapan hobi ngopi?” Tanya Andrea ke gue.
“Gak tau, akhir-akhir ini gue susah tidur.”
“Lah terus kenapa ngopi?”
“Pengen aja.”
“Kebiasaan lu Fe, sukanya yang aneh-aneh.”
“Hehehe.”
“Gue mau nanti karir gue dan segala yang gue punya bisa secantik cangkir ini Dre, terus gue jalani hidup bisa semanis kopi ini.”
“Ngomong apa sih, jangan sok filosofis gitu deh.” Cibir Andrea.
“Ehhhhh.. bukan sok filosofis, intinya gue pengen kehidupan gue itu terjamin, gue pengen kuliah di tempat yang bagus, pekerjaan bagus, rumah tangga yang bagus, dsb yang bagus, dan gue juga ngejalaninya dengan bahagia!!”
“Semua orang juga pengen begitu Fe. Tapi, buat lu sih apa sih yang ngak bisa?”
“Gue sekarang takut Dre..”
“Takut kenapa?”
“Setelah kehilangan Ayah gue, gue sekarang takut kehilangan ibu gue..”
“Niii..” Gue menggedor-gedor pintu kamar Ani yang terkunci.
“Aniii….”
“Ani….buka!”
“Woii.. “
“. buka..!!!”
Ngepet lah si Ani, gue dikacangin. Hampir sepuluh menit gue panggil-panggil dan gedor pintunya, gak dibuka.
“ANIIIIII!!!” Teriak gue sekeras-kerasnya.
“Sayang, ada apa? ” Kata Ibu yang baru saja datang. Kedatangan ibu gak gue sadari, ibu datang mungkin karena teriakan gue yang cukup kencang sehingga menarik perhatian ibu.
“Ini si Ani rese, pintunya gak dibuka.”
“Ani….?” Ucap ibu lembut sambil mengetuk pintu beberapa kali. Gue yakin si Ani gak bakal buka pintu kamarnya. Gue yang teriak aja gak didenger, apalagi suara ibu yang pelan.
……
“Ya..?”
Ajaib, hanya satu kali panggilan oleh ibu, Ani membuka pintu kamarnya. Gue melongo tak percaya, kesal dibuatnya. Pengen rasanya gue maki-maki si Ani, gue dari tadi nungguin di depan pintu kamarnya manggil-manggil gak dibuka, padahal tujuan gue cuma mau nanya tentang obat tidur.
“Eh.. lu gue panggil-panggil dari tadi kenapa gak dibuka?”
“Lu punya telinga gak sih? Atau lu udah tuli ya?”
Ani hanya diam saja, rambutnya berantakan, mukanya cemberut dan murung. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Tapi gue yakin si Ani pasti merasa kesal karena tadi sudah diledekin gue bareng ibu. Ani menundukan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca.
“ih kok mewek…”
Gue bisa melihat air mata yang mengalir di pipinya.
“Sayang,, sudah….” Kata ibu.
“Lagian ada orang manggil-manggil, malah diantep. Dasar cengeng.”
“Udah..udah..” Ibu mencoba menenangkan gue.
“Ani.. kenapa kamu gak menjawab panggilan kakakmu tadi?” Lanjut kata ibu.
Lagi-lagi si Ani hanya diam saja, dia hanya bisa menangis sambil mengepal kedua tangannya. Gue sih gak peduli, gak simpati ama orang cengeng. Gue jadi masang muka sinis sama si Ani.
“Ibu kayak yang gak tau aja, si Ani ngambek tuh gara-gara kita ledek tadi.”
“Kamu marah sama ibu dan kakakmu?” Tanya ibu.
“Ibu dan kakakmu tadi becanda Aniiiiii, jangan dianggap serius.” Kata ibu.
“kak Fe dan ibu becandanya keterlaluan, jelas-jelas aku ini gak pacaran sama Reza.” Kata Ani.
“Yaelah, ni aniii… gitu doang.” Kata gue sinis.
Ibu mendekap Ani dan mencoba untuk mengusap air matanya. Sementara gue melihatnya jadi geli. Dasar bocah.
“Ni.. lu tadi liat obat tidur yang gue beli gak?”
“Obat?”
“yang dikresek item tadi kak?
“Iya kali, dimana sekarang?”
“Udah aku buang ke tempat sampah. Kirain itu obat apa.”
“Astagaaaaaa…begoo…”
Arghh.. gue harus gimana lagi, tadinya gue mau mencak-mencak lagi si Ani tapi sayangnya ada Ibu. Ibu pasti tidak akan membiarkannya. Daripada emosi gue meledak, gue memutuskan untuk pergi ke kamar gue, mengunci pintu rapat-rapat dan mencoba memejamkan mata untuk tidur.
***
“Dre.. lu udah kepikiran mau kuliah kemana?”
“Belum..”
Sore itu gue main ke rumah Andrea seperti biasa. Kalau lagi gak betah di rumah pasti larinya ke rumah Andrea. Rumah Andrea, kamar Andrea bagi gue kayak kamar gue yang kedua. Kamarnya sama besarnya dengan kamar gue cuman yang membedakan isi kamar gue dan Andrea adalah dia adalah penggemar Kpop sehingga di kamarnya terdapat poster bintang dan group Kpop sedangkan di kamar gue hanya ada poster Marilyn Monroe.
“Lu sendiri mau kemana Fe?”
“Gak tau..”
Gue mengaduk-ngaduk kopi yang baru gue seduh. Gue jadi memikirkan kopi, kata orang kunci menikmati kopi itu bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya. Kopi yang gue seduh ini menggunakan cangkir yang sangat bagus, cangkir yang terbuat porselen ini begitu cantik. Katanya hidup kita seperti kopi. Iya, seperti kopi yang ada pahit dan manis. Tapi, bagi gue jika kopi itu diibaratkan hidup kita, gue mau kopi/hidup gue dibungkus atau diwadahi dengan cangkir yang cantik.
“Pfffttt.. pait..” Keluh gue.
Gue kemudian menambahkan gula ke dalam isi kopi gue agar terasa lebih manis.
“Sejak kapan hobi ngopi?” Tanya Andrea ke gue.
“Gak tau, akhir-akhir ini gue susah tidur.”
“Lah terus kenapa ngopi?”
“Pengen aja.”
“Kebiasaan lu Fe, sukanya yang aneh-aneh.”
“Hehehe.”
“Gue mau nanti karir gue dan segala yang gue punya bisa secantik cangkir ini Dre, terus gue jalani hidup bisa semanis kopi ini.”
“Ngomong apa sih, jangan sok filosofis gitu deh.” Cibir Andrea.
“Ehhhhh.. bukan sok filosofis, intinya gue pengen kehidupan gue itu terjamin, gue pengen kuliah di tempat yang bagus, pekerjaan bagus, rumah tangga yang bagus, dsb yang bagus, dan gue juga ngejalaninya dengan bahagia!!”
“Semua orang juga pengen begitu Fe. Tapi, buat lu sih apa sih yang ngak bisa?”
“Gue sekarang takut Dre..”
“Takut kenapa?”
“Setelah kehilangan Ayah gue, gue sekarang takut kehilangan ibu gue..”
itkgid memberi reputasi
1
