- Beranda
- Stories from the Heart
The Abnormal (kisah fiksi bercampur reality masa-masa SMA)
...
TS
joechristianp
The Abnormal (kisah fiksi bercampur reality masa-masa SMA)
The Abnormal
Selamat pagi, siang, sore, malam agan/wati semuanya
Disini saya mau mengikuti saran dari teman saya yaitu menyebarluaskan hobi iseng-iseng saya ini
tak lain dan tak bukan adalah menulis
selama ini kegiatan saya hanyalah mengekspresikan hobi ini secara tertutup di laptop pribadi
sampai suatu saat teman saya menyarankan untuk memposting di SFTH kaskus.. katanya para pembaca disini baek-baek

oleh karena itu, saya mohon pendapat agan/wati semuanya jikalau ada saran untuk tulisan-tulisan saya yang kebetulan belum pernah dibaca oleh siapapun

satu lagi.. saya masih newbie di kaskus.. jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau thread ini tidak rapi atau tidak layak dimata agan-agan sekalian

Terima kasih untuk yang mau membaca dan mohon bantuannya
~Don't judge a book by it's cover ~
... meh, that's bullshit !
Spoiler for Sinopsis:
...
Samuel yang biasa dipanggil 'Jo' adalah siswa SMA yang selalu beranggapan kalau kata don't judge a book by it's coveradalah omong kosong. karena apa yang dia lihat selalu tak sesuai dengan ekspetasi dia.
ditambah lagi penyakit social awkwardnya membuat dia selalu merasa canggung di dekat lawan jenis dan karena itu, dia dijuluki 'cowo terjutek' semasa hidupnya.
sampai suatu hari. seseorang yang unik muncul di hadapannya dan mengubah seluruh jalan hidupnya. serempak dengan datangnya masalah yang bertubi-tubi, dapatkah dia menggapai tujuannya?
...
Spoiler for Prolog:
Cerita ini bukan dari kisah nyata tetapi saya memberanikan diri untuk menempatkan nama sekolah sendiri sebagai latar utama.Saya juga akan menggunakan gaya bahasa setengah gaul
walaupun saya belum terbiasa memakainya. Ketika saya melihat foto sepupu saya yang menderita down syndrome, pikiran saya mulai mengarang cerita dan saya ingin mengaplikasikannya dalam bentuk light-novel. Walau ini bukan kisah nyata; sifat, latar, dan tokoh yang saya pakai berasal dari dunia nyata.
Disini saya akan menuliskan beberapa pengalaman hidup saya yang baru 16 tahun ini dan menambahkan sedikit bumbu-bumbu imajinasi orisinil dari otak saya sendiri dan dari beberapa buku, film, bahkan kartun yang mengambil peran dalam hidup saya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua orang mengatakan kalau jangan menilai orang dari tampangnya melainkan nilai dari apa yang ada dalam dirinya, tapi bagi gue itu semua omong kosong. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang menilai orang secara langsung dari sifat objek yang dinilainya. Orang-orang akan memperlakukan kamu lebih baik jika kamu cakep (baca: cantik atau ganteng). Berdasarkan paham negatif inilah gue meyakini kalau frase don’t judge a book by it’s cover itu omong kosong. Pada kenyataanya manusia membeli buku dengan cover yang bagus, membeli makanan yang kemasannya bagus, bahkan lebih bangga memakai gadget berlambang apel padahal fiturnya sama dengan gadget yang harganya sama dengan uang jajan gue selama sebulan.
Tapi tak jarang gue sedikit menerima kalau ada beberapa orang yang benar-benar menilai orang dari sifat alaminya. Seperti contoh, saat gue ke Trans Studio Bandung (TSB) bersama teman-teman gue, ada cewek cantik se-kabupaten mempunyai pacar seorang cowo yang mukanya lebih mirip dengan siluman gagang pintu. Disitu gue menilai mungkin si cowo benar-benar memiliki hati yang pure dan si cewe benar-benar tulus mencintainya. Tapi sesaat kami hendak pulang, di tempat parkir, si cowok sedang asyik memainkan kunci mobil lamborgini nya dengan muka senyum sombong merangkul sang cewe yang senang kegirangan memegang produk paling baru dari gadget apel yang sudah disebutkan diatas. Sejak kejadian itu, gue dan teman-teman sejomblo sepakat untuk tidak ke TSB lagi.
Mari kita kesampingkan masalah siluman gagang pintu dulu, disini gue akan memaksukan objek manusia yang biasanya sosoknya dihiraukan oleh manusia lain. Tak lain dan tak bukan adalah manusia yang tidak normal. Orang yang dilahirkan tak sempurna dari semestinya. Gue percaya semua orang mempunyai masa depan yang cerah yang telah Tuhan tentukan. Mau itu cinta, karir, kesehatan, keluarga dan lain-lain asalkan kita sebagai makhluk ciptaanNya mengikuti apa yang Dia perintahkan.
Tidak semua manusia normal. Ada yang dilahirkan hanya dengan satu tangan. ada juga yang mempunyai dua tangan, dua kaki tapi harus berbagi kepala dan jantung dan seisi perutnya bersama saudara kembar sebadannya. Begitu pula dengan cinta. Semua punya selera masing-masing. Si tampan dengan si cantik. Si kaya dengan si miskin. Si pemain film serigala dengan si cantik, si kaya, si sosialita, si pintar dan si lain-lainnya. yaa, pemain film mempunyai banyak pacar, oleh karena itu, selain jadi pengacara, cita-cita sampingan gue adalah pemain film.
Gue sebagai pengarang cerita ini berharap kalau isi novel ini benar-benar ada di dunia nyata dimana orang-orang yang dilahrikan kurang dari semestinya mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama seperti manusia pada umumnya.
walaupun saya belum terbiasa memakainya. Ketika saya melihat foto sepupu saya yang menderita down syndrome, pikiran saya mulai mengarang cerita dan saya ingin mengaplikasikannya dalam bentuk light-novel. Walau ini bukan kisah nyata; sifat, latar, dan tokoh yang saya pakai berasal dari dunia nyata.Disini saya akan menuliskan beberapa pengalaman hidup saya yang baru 16 tahun ini dan menambahkan sedikit bumbu-bumbu imajinasi orisinil dari otak saya sendiri dan dari beberapa buku, film, bahkan kartun yang mengambil peran dalam hidup saya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua orang mengatakan kalau jangan menilai orang dari tampangnya melainkan nilai dari apa yang ada dalam dirinya, tapi bagi gue itu semua omong kosong. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang menilai orang secara langsung dari sifat objek yang dinilainya. Orang-orang akan memperlakukan kamu lebih baik jika kamu cakep (baca: cantik atau ganteng). Berdasarkan paham negatif inilah gue meyakini kalau frase don’t judge a book by it’s cover itu omong kosong. Pada kenyataanya manusia membeli buku dengan cover yang bagus, membeli makanan yang kemasannya bagus, bahkan lebih bangga memakai gadget berlambang apel padahal fiturnya sama dengan gadget yang harganya sama dengan uang jajan gue selama sebulan.
Tapi tak jarang gue sedikit menerima kalau ada beberapa orang yang benar-benar menilai orang dari sifat alaminya. Seperti contoh, saat gue ke Trans Studio Bandung (TSB) bersama teman-teman gue, ada cewek cantik se-kabupaten mempunyai pacar seorang cowo yang mukanya lebih mirip dengan siluman gagang pintu. Disitu gue menilai mungkin si cowo benar-benar memiliki hati yang pure dan si cewe benar-benar tulus mencintainya. Tapi sesaat kami hendak pulang, di tempat parkir, si cowok sedang asyik memainkan kunci mobil lamborgini nya dengan muka senyum sombong merangkul sang cewe yang senang kegirangan memegang produk paling baru dari gadget apel yang sudah disebutkan diatas. Sejak kejadian itu, gue dan teman-teman sejomblo sepakat untuk tidak ke TSB lagi.
Mari kita kesampingkan masalah siluman gagang pintu dulu, disini gue akan memaksukan objek manusia yang biasanya sosoknya dihiraukan oleh manusia lain. Tak lain dan tak bukan adalah manusia yang tidak normal. Orang yang dilahirkan tak sempurna dari semestinya. Gue percaya semua orang mempunyai masa depan yang cerah yang telah Tuhan tentukan. Mau itu cinta, karir, kesehatan, keluarga dan lain-lain asalkan kita sebagai makhluk ciptaanNya mengikuti apa yang Dia perintahkan.
Tidak semua manusia normal. Ada yang dilahirkan hanya dengan satu tangan. ada juga yang mempunyai dua tangan, dua kaki tapi harus berbagi kepala dan jantung dan seisi perutnya bersama saudara kembar sebadannya. Begitu pula dengan cinta. Semua punya selera masing-masing. Si tampan dengan si cantik. Si kaya dengan si miskin. Si pemain film serigala dengan si cantik, si kaya, si sosialita, si pintar dan si lain-lainnya. yaa, pemain film mempunyai banyak pacar, oleh karena itu, selain jadi pengacara, cita-cita sampingan gue adalah pemain film.
Gue sebagai pengarang cerita ini berharap kalau isi novel ini benar-benar ada di dunia nyata dimana orang-orang yang dilahrikan kurang dari semestinya mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama seperti manusia pada umumnya.
Spoiler for PART 1: Normal:
Nama gue Sam Cristian. Panjangnya Samuel Cristian Gibran Panjaitan. Gue mempunyai nama paling panjang di kelas (mungkin di sekolah) sekaligus mempunyai gelar nama panggilan terpendek. Makhluk-makhluk di sekolah biasa memanggil gue Jo (bahkan ada yang memanggil O ). (panggilan gue didapat dari nama karakter game online gue. semua game online yang gue mainin nick nya Joe blablabla.., awalnya hanya teman sepermainan gue yang tau, eh ternyata sampe keterusan ke kelas..)(diluar ketika ditanya apa nama panggilannya, gue selalu mengatakan 'Jo')
Sepanjang hidup gue yang masih pendek ini, terlihat sangat normal. Tampang biasa saja,Hidup berkecukupan, sekolah lancar, makan tiga kali sehari, berantem, bahkan ikut main ke warnet saat point blank datang merusak generasi yang sudah rusak ini.
Tapi dikehidpuan gue yang normal ini, gue menderita penyakit psikologis yang beberapa orang mungkin mengalaminya tapi belum menyadarinya, penyakit ini disebut social-awkward. Ciri-cirinya: gue akan mengeluarkan aura canggung setiap bertemu orang yang baru kenal,gue gak bisa menatap mata orang lama-lama, gue gak akan bisa membuat percakapan di ruang penuh orang tetapi sepi, gue hanya ngobrol akrab bersama orang yang gue anggap teman (biasanya teman sekelas), dan yang paling menonjol setiap gue suka sama sosok cewek, gue akan mengobrol tak kenal lelah melalui jejaring sosial, entah itu sms, bbm, LINE, simsimi, apapun itu. Tapi ketika bertemu dengan orangnya langsung, mulut gue membisu, otak gue berhenti sesaat, tak ada yang bisa gue lakukan selain membuang muka. Alhasil gue dapat predikat cowo terjutek sejak SD kelas 4 sampai sekarang. Gue sedikit bangga dengan itu, itu membuktikan kalau keberadan gue setidaknya di akui orang.
Selain social-awkward di kehidupan gue yang normal ini ada satu hal yang menurut gue tidak normal kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan gue. Yaitu cinta.
Gue belum pernah merasakan cinta yang benar-benar sampai ke pojok hati gue. Sebatas suka yang sebulan kemudian rasa itu telah terlupakan. Cinta monyet yang merupakan salah satu dari syndrom remaja ini sering menghampiri gue. Gebetan gue banyak (pas smp). Tapi hanya tiga yang nyantol.
Gue sering membandingkan kisah asmara gue dengan teman-teman smp dan sma gue. Beberapa dari mereka bisa awet pacaran sampai bertahun-tahun padahal setiap bulannya mereka pasti berantem dan membuat suasana kelas jadi canggung. Ada yang pacarannya sudah direstui orangtua kedua belah pihak. Bahkan ada yang sudah merasakan first kiss nya (ya gue gak ngarep sih). Tapi gue disini hanya menjadi perantara teman-teman gue yang pacaran dan menjadi sumber cibiran mereka saat gue melakukan kesalahan. “jomblo sihh” begitu kurang lebih.
Ketiga mantan gue ini hampir semua gue udah lupa. Yang paling gue inget adalah yang terakhir. Sosok bernama Fifi ini mengaku suka gue ketika jurit malam acara dari gereja gue dulu. Malam itu kami disuruh melewati jalan setapak becek nan gelap. Gue sebagai laki-laki satu-satunya di kelompok itu membranikan diri membawa senter dan maju di barisan paling depan. Fifi berada dibelakang gue dan sepanjang perjalan dia memegang lengan jaket gue.
Awalnya hanya jaket. Tapi makin jauh kami melewati jalan setapak ini, tangan dia berada di telapak tangan gue.
“gue takut Jo, kaya gini sebentar gapapa ya?”
Yahh well ini berkah buat gue. Lumayan tangan gue yang sudah lama tidak digenggam ini dipegang oleh cewe cantik yang baru saja gue kenal. Jadi gue bersikap gentle dan mempersilahkan dia menyandarkan ketakutannya ke tangan gue.
Selesai acara dia berkata
“wah Jo lu hebat banget ya. Kok berani siih di tempat gelap sempit gitu? Jago deh kamu”
Disitu gue gak mungkin berkata yang sejujurnya. Apanya yang berani? Sepanjang acara gue ngumpulin semua ketakutan gue ke dalam perut gue yang masuk angin. Seingat gue, setiap mau jalan langkah kaki gue gemetar membayangkan apa yang bersembunyi di tempat gelap seperti itu. Tapi apa boleh buat, bacot an khas gue keluar tiba-tiba bercampur dengan kebiasaan social-awkward gue.
“ah segitu mah udah sering di rumah, huehe” gue berbicara dengan nada sok cool sambil membuang muka.
Dengan semua kejadian itu, pada akhirnya gue bertukaran nomor handphone dan pin bb. Kebiasaan buruk gue terjadi lagi. Gue banyak berbicara di percakapan tak langsung itu. Kami berbicara tak kenal waktu. Menanyakan hal-hal yang sama terus menerus sampai salah satu berkata “udah dulu ya udah malam, dadah good night, sleep well !”
Itu berulang terus menerus sampai takdir mempertemukan kami secara langsung di gereja. Saat kami berpapasan dia hanya melempar senyum sedangkan gue melempar muka sambil menahan malu.
Sampai sekarang belum ada percakapan secara langsung diantara kami. Gue hanya berbicara seperti orang bisu melalui handphone.
Lambat laun kami menyatakan saling suka (melalui sms). Walaupun ngomongnya udah pake sayang-sayang an, gue gak pernah nembak dia. Jadi secara teoritis hubungan ini tidak bisa dikatakan pacar. Hanya gue seorang yang menganggap dia mantan pacar gue setiap ditanya perihal “berapa banyak mantan pacar lo?”
Fifi cewek yang bener-bener gue respect. Dia berkata kalau gue cinta pertamanya dan dia belum pernah merasa senyaman ini setiap dia chattingan dengan gue.
Sampai sekarang kami punya janji. Setelah kelulusan SMP gue pernah berkata gue bakal masuk sma di Bandung (saat itu gue masih tinggal di cianjur). Dia berkata gak ada yang bisa gantiin gue, dia gak pengen gue pindah. Dan dengan kebranian, kebodohan, kepolosan gue, gue berkata “sanggup nunggu tiga tahun?”.
Dia menyanggupinya, dia berkata bakal nunggu tiga tahun sampai dia lulus sma dan hendak kuliah ke Bandung. Janji itu masih berlaku sampai sekarang. Gue tinggal meunggu 1,5 tahun lagi untuk membuktikan janji yang dibuat anak smp ini. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati gue, janji ini sama sekali tidak gue tanggapi.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun penyakit gue, gue sadar kalau Fifi adalah orang terakhir yang gue suka. ~
Sampai dia datang dan mengubah segalanya...
Sepanjang hidup gue yang masih pendek ini, terlihat sangat normal. Tampang biasa saja,Hidup berkecukupan, sekolah lancar, makan tiga kali sehari, berantem, bahkan ikut main ke warnet saat point blank datang merusak generasi yang sudah rusak ini.
Tapi dikehidpuan gue yang normal ini, gue menderita penyakit psikologis yang beberapa orang mungkin mengalaminya tapi belum menyadarinya, penyakit ini disebut social-awkward. Ciri-cirinya: gue akan mengeluarkan aura canggung setiap bertemu orang yang baru kenal,gue gak bisa menatap mata orang lama-lama, gue gak akan bisa membuat percakapan di ruang penuh orang tetapi sepi, gue hanya ngobrol akrab bersama orang yang gue anggap teman (biasanya teman sekelas), dan yang paling menonjol setiap gue suka sama sosok cewek, gue akan mengobrol tak kenal lelah melalui jejaring sosial, entah itu sms, bbm, LINE, simsimi, apapun itu. Tapi ketika bertemu dengan orangnya langsung, mulut gue membisu, otak gue berhenti sesaat, tak ada yang bisa gue lakukan selain membuang muka. Alhasil gue dapat predikat cowo terjutek sejak SD kelas 4 sampai sekarang. Gue sedikit bangga dengan itu, itu membuktikan kalau keberadan gue setidaknya di akui orang.
Selain social-awkward di kehidupan gue yang normal ini ada satu hal yang menurut gue tidak normal kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan gue. Yaitu cinta.
Gue belum pernah merasakan cinta yang benar-benar sampai ke pojok hati gue. Sebatas suka yang sebulan kemudian rasa itu telah terlupakan. Cinta monyet yang merupakan salah satu dari syndrom remaja ini sering menghampiri gue. Gebetan gue banyak (pas smp). Tapi hanya tiga yang nyantol.
Gue sering membandingkan kisah asmara gue dengan teman-teman smp dan sma gue. Beberapa dari mereka bisa awet pacaran sampai bertahun-tahun padahal setiap bulannya mereka pasti berantem dan membuat suasana kelas jadi canggung. Ada yang pacarannya sudah direstui orangtua kedua belah pihak. Bahkan ada yang sudah merasakan first kiss nya (ya gue gak ngarep sih). Tapi gue disini hanya menjadi perantara teman-teman gue yang pacaran dan menjadi sumber cibiran mereka saat gue melakukan kesalahan. “jomblo sihh” begitu kurang lebih.
Ketiga mantan gue ini hampir semua gue udah lupa. Yang paling gue inget adalah yang terakhir. Sosok bernama Fifi ini mengaku suka gue ketika jurit malam acara dari gereja gue dulu. Malam itu kami disuruh melewati jalan setapak becek nan gelap. Gue sebagai laki-laki satu-satunya di kelompok itu membranikan diri membawa senter dan maju di barisan paling depan. Fifi berada dibelakang gue dan sepanjang perjalan dia memegang lengan jaket gue.
Awalnya hanya jaket. Tapi makin jauh kami melewati jalan setapak ini, tangan dia berada di telapak tangan gue.
“gue takut Jo, kaya gini sebentar gapapa ya?”
Yahh well ini berkah buat gue. Lumayan tangan gue yang sudah lama tidak digenggam ini dipegang oleh cewe cantik yang baru saja gue kenal. Jadi gue bersikap gentle dan mempersilahkan dia menyandarkan ketakutannya ke tangan gue.
Selesai acara dia berkata
“wah Jo lu hebat banget ya. Kok berani siih di tempat gelap sempit gitu? Jago deh kamu”
Disitu gue gak mungkin berkata yang sejujurnya. Apanya yang berani? Sepanjang acara gue ngumpulin semua ketakutan gue ke dalam perut gue yang masuk angin. Seingat gue, setiap mau jalan langkah kaki gue gemetar membayangkan apa yang bersembunyi di tempat gelap seperti itu. Tapi apa boleh buat, bacot an khas gue keluar tiba-tiba bercampur dengan kebiasaan social-awkward gue.
“ah segitu mah udah sering di rumah, huehe” gue berbicara dengan nada sok cool sambil membuang muka.
Dengan semua kejadian itu, pada akhirnya gue bertukaran nomor handphone dan pin bb. Kebiasaan buruk gue terjadi lagi. Gue banyak berbicara di percakapan tak langsung itu. Kami berbicara tak kenal waktu. Menanyakan hal-hal yang sama terus menerus sampai salah satu berkata “udah dulu ya udah malam, dadah good night, sleep well !”
Itu berulang terus menerus sampai takdir mempertemukan kami secara langsung di gereja. Saat kami berpapasan dia hanya melempar senyum sedangkan gue melempar muka sambil menahan malu.
Sampai sekarang belum ada percakapan secara langsung diantara kami. Gue hanya berbicara seperti orang bisu melalui handphone.
Lambat laun kami menyatakan saling suka (melalui sms). Walaupun ngomongnya udah pake sayang-sayang an, gue gak pernah nembak dia. Jadi secara teoritis hubungan ini tidak bisa dikatakan pacar. Hanya gue seorang yang menganggap dia mantan pacar gue setiap ditanya perihal “berapa banyak mantan pacar lo?”
Fifi cewek yang bener-bener gue respect. Dia berkata kalau gue cinta pertamanya dan dia belum pernah merasa senyaman ini setiap dia chattingan dengan gue.
Sampai sekarang kami punya janji. Setelah kelulusan SMP gue pernah berkata gue bakal masuk sma di Bandung (saat itu gue masih tinggal di cianjur). Dia berkata gak ada yang bisa gantiin gue, dia gak pengen gue pindah. Dan dengan kebranian, kebodohan, kepolosan gue, gue berkata “sanggup nunggu tiga tahun?”.
Dia menyanggupinya, dia berkata bakal nunggu tiga tahun sampai dia lulus sma dan hendak kuliah ke Bandung. Janji itu masih berlaku sampai sekarang. Gue tinggal meunggu 1,5 tahun lagi untuk membuktikan janji yang dibuat anak smp ini. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati gue, janji ini sama sekali tidak gue tanggapi.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun penyakit gue, gue sadar kalau Fifi adalah orang terakhir yang gue suka. ~
Sampai dia datang dan mengubah segalanya...
Spoiler for Indeks:
PART 6: Hoseki ? Hoffen?
PART 7: Hoseki ? Hoffen? -2
PART 8: The Abnormal One
PART 9: The Abnormal One -2
PART 10: The Abnormal One -3
PART 11: Pembahasan Tanpa Ujung
PART 12: Kerupuk Ikan Rasa Udang (A story from Redzki)
PART 13: Kerupuk Ikan Rasa Udang (A story from Redzki) -2
PART 14: Benjamin Spock
PART 15: Benjamin Spock -2
PART 16: Benjamin Spock -3
PART 17: Trissha Minnoty
PART 18: Trissha Minnoty -2
PART 19: Between You and Her
PART 20: Symphony 7 Warna
PART 21: Symphony 7 Warna -2
PART 22: Symphony 7 Warna -3
PART 23: Permata dan Harapan
PART 24: Permata dan Harapan -2
PART 25: Permata dan Harapan -3
PART 26: Gadis Malu
PART 27: Black Market
PART 28: Black Market -2
PART 29: Sebab Akibat
PART 30: Sebab Akibat -2
PART 31: Anggrek Bulan
PART 32: Anggrek Bulan -2
PART 33: Dibalik Hujan Kemarau (A story from Agam)
PART 34: Dibalik Hujan Kemarau (A story of Agam) -2
PART 35: If You Know What I Mean
PART 36: If You Know What I Mean -2
PART 37: 15 Agustus
PART 38: 15 Agustus -2
PART 39: Minneapolis
PART 40: Minneapolis -2
PART 41: Woman's Problem
PART 42: Woman's Problem -2
PART 43: Uncompleted Canceled Plan
PART 44: Uncompleted Canceled Plan -2
PART 45: Uncompleted Canceled Plan -3
PART 46: Uncompleted Canceled Plan -4
PART Bonus: Yuk! mengenal dan tes Highly Sensitive Person !
Spoiler for Penokohan:
Sam Cristian (Joe) ... Tokoh utama dalam cerita. juga berperan sebagai penulis cerita alias TS sendiri

Hoseki Hoffen ... Perempuan yang menjadi sorotan karena keunikannya.. mungkin ada yang bertanya kenapa namanya nyentrik banget, karena itu tetap bersabar karena ada part dimana nama makhluk ini dijabarkan.
Mino ... Perempuan yang mempunyai cara sendiri ketika mengejar orang yang disukainya... aneh memang.
Agam ... si otaku pervert temennya Sam
Redzki ... Maniak komputer yang misterius. temennya Sam juga
Bagdi (bang Andi) ... anaknya pak kost yang kebetulan seorang psikolog. temennya Sam lagi..
Cipta ... pelawak di Baka sekaligus ketua Baka. lagi-lagi temannya Sam..
Bella ... Perempuan yang dikejar-kejar Sam. ...tadinya
Om Albert ... Ayahnya Hoseki. si kaya dengan sembilan anak uniknya.
Pakos ... pria buncit sang penjaga rumah kost
Bukos ... sepaket dengan Pakos
Renaldi ... teman bermain Sam. hanya muncul saat dikantin.
Bu Musdianti .. si guru bahasa Inggris yang kelewat baik.
Pak Momo ... Si wali kelas tercintah
..next, Coming Soon
Diubah oleh joechristianp 13-09-2015 20:08
anasabila memberi reputasi
1
17.2K
Kutip
126
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
joechristianp
#53
Spoiler for PART 22: Symphony 7 Warna -3:
Rasa penasaran gue tiba-tiba muncul ketika gue, Agam, dan Redzki sedang di kantin. Gue teringat kalau Mino pernah bilang kalau Agam adalah kenalannya, dan Mino terlihat tak nyaman ketika bicara tentang Agam. Ketika dia menyelesaikan suapan terakhir kupat tahu nya, gue mulai menginterogasi.
“lu udah kenal lama ama Mino gam?” tanya gue tiba-tiba.
Pffffffffffffffttt !!!
Agam bersin-bersin dan memuntahkan kupatnya yang terakhir dari mulutnya. Dia kaget setelah gue membawa nama Mino.
“lu kenapa bego?! Diliatin orang tuh.”
“enggak enggak sorry..”
Uhuukkk!! Hueekk....
Gue membiarkan Agam menyelesaikan batuknya dan mengambil nafas. Dia terlihat lebih tenang dengan wajahnya yang memerah.
“udah? ” tanya gue mengganggu dia yang sedangmerapikan ingusnya.
“kalem..” sambil mengambil nafas dalam
“apa tadi?”
“udah lama kenal Mino?”
“oh Minooo ? ha ha ha” dia menyeringai sedikit.
“ya lumayan lah, dari kelas satu smp.”
“ohh..”. gue sebenarnya bingung mau menanyakan apa lagi.
“dia mantan gue sob..”
BAM!
Itu dia yang pengen gue tau. Gue udah ada feeling tentang ini. Kalau membawa nama makhluk satu ini, Mino merasa tidak nyaman. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya.
“oh ya? Berapa lama lu... “
“satu tahun satu bulan.”
“terus kenapa putus? Gak mau balikan nih?” tanya gue sambil nada menggoda.
“gak Jo, gue nyerah. Dia itu overly protectedbanget ! gue saranin lu jangan terlalu dekat deh..”
“..masalahnya, kayanya dia tertarik ama lu Jo.”
Kalau itu sih...
“gue yakin lu jadi korban yang sama dengan gue.”
“apa maksud lo?”
Agam diam sejenak sambil mendramatisir keadaan. Sedangkan Redzki hanya sibuk mendengarkan sambil mengunyah keripik kentang keempatnya.
“gue tebak, dia pasti tau segala tentang lo kan?”
“..sepertinya”
“nahh.. saran gue sih jauhin tuh orang.. mending lo jagain Hoseki aja, gue tau lu seneng sama dia..”
Oh well.. kayanya itu udah menjadi rahasia umum.
“tapi memang sih dia jadi alasan gue menjomblo sekarang. Gue masih pengen sama dia. Walau masih Smp, setiap sama dia tuh terasa asik, kalau kata Natsume Soseki – penulis asal Jepang pada zaman Meiji – ‘ bersamanya, bulan jadi terlihat lebih cantik. ‘ . Bener-bener Jo gue gak bisa lupain tu anak. “
“ehmm.. tunggu.. maksud lo apa tadi? Bulan.. apa?”
“nih gue kasih tau ya..” Agam mulai menjelaskan pengetahuan tentang Jepang nya yang luas.
“orang-orang di Jepang tidak pernah mengatakan ‘aku mencintaimu’. Mereka jarang mengungkapkan hal secara langsung laki-laki Jepang biasa mengatakan: ‘bulannya indah’. Ia terkesan dengan keindahan bulan. Ukuran bulan berubah, tapi warnanya tidak.”
“namun pada malam ini, karena ia sangat senang bersama dengan seorang gadis, bulan yang biasa-biasa pun jadi terlihat begitu indahnya. Dengan kata lain, artinya, ‘bulan yang biasa-biasa saja ini terlihat cantik, saya senang karena ada kamu.’ ”
“mungkin lebih jelasnya. ’ Bersamamu, bulan terlihat lebih cantik..’
tapi sekarang hidup gue rasanya udah berhenti ha ha ha”
Gue masih setengah mengerti dengan penjelasan Agam. Yang gue mengerti, ungkapan ‘ bulan terlihat lebih cantik jika bersamamu ‘ adalah cara Agam mengatakan kalau dia masih mencintai Mino.
Gue sebenarnya sudah mengetahui kenapa Agam terus menjomblo padahal banyak cewe yang mengejarnya. Dua minggu yang lalu, sekumpulan mahasiswa Psikologi dari Universitas Pendidikan Indonesia datang ke sma kami untuk melakukan ‘survey remaja’ yang sekaligus menjadi tugas kuliah mereka. kebetulan kelas gue terpilih menjadi objek survey. Pertanyaan-pertanyaan unik khas psikologi adalah salah satu yang gue suka. Terasa seru ketika menjawabnya. Ketika memasuki bagian ‘pencerminan diri’ ada soal yang menanyakan,”apa judul lagu yang menggambarkan kehidupan asmara kamu?”. Gue sebenarnya bingung menjawabnya. Sesaat gue mau menjawab lagu “i’m not okay, i promise” dari My Chemical Romance. Entah kenapa, bahkan rasanya lagu itu tidak cukup untuk menggambarkan gue. gue mencari pencerahan dan melihat sekeliling. Agam menutup lembar jawabannya dibalik sikut tangan kirinya. Samar-samar gue melihat dia menulis lagunya The Script yang berjudul “ I’m the man who can be move”. Hari itu ketika pulang sekolah, gue membelikan dia teh botol sebagai rasa prihatin.
Tcih dasar anak abg
“ya.. gue mulai ngerti. Tapi kalau cuma mengatakan ‘Bersamamu, bulan terlihat lebih cantik ’ , perasaan tidak akan tersampaikan kan?”
Dia mengangguk.
“gue tarik kesimpulan ya.. yang gue denger dari frase lu tadi, menurut gue lu gak akan bisa lupain tuh orang kalau begini terus..”
Agam semakin serius mendegarkan.
“..alasan mengapa luka lu gak hilang saat lu mencoba melupakan,, karena mencoba melupakan sama dengan mengingatnya kembali..”
Redzki ikut menganguk-ngangguk kecil
“lo itu cuma berputar, berputar, berputar, ditempat yang sama. Ingat!, jam itu tak pernah berhenti berputar. Tapi jam di hidup lo udah berhenti berputar! Udah waktunya lo berhenti menatap jam yang telah berhenti berputar. Inget bro ini udah Sma, setidaknya jangan habisin waktu lo buat bergalau ria.. jadikan waktu di Sma lo menjadi yang paling asik”
Agam terdiam mendengar penjelasan gue.
“mulai sekarang hapus tuh frase dari otak lo. Coba sekarang, menurut lo bagaimana cara memperbaiki jam yang berhenti berputar?”
“.. ganti batre nya”
“..ehh gak itu sih yang gue pikirin.. tapi oke deh, lu tinggal perbaikin batre nya kan? Sekarang kita umpamakan kalau jam yang berhenti itu adalah elo dan batre itu adalah Mino. Apa yang harus lo buang dan ganti?”
“ Mino “
“nah ! itu saran dari gue..” gue berlagak ala Mario Teguh.
Super Sekali !
“gile lu keren banget bro..”
“gue belom selesai..”
Bel masuk pelajaran berbunyi tapi kami menghiraukannya.
“pastikan ada seseorang di diri lo. ..Gue ambil dari lagunya Coalamode . hidup ini seperti sebuah symphony. Dalam hidup udah menjadi keinginan kita untuk memainkan Symphony yang indah. Ingat ! banyak suara yang gak bisa lu mainin dengan seorang diri. Menangis, tertawa, dengan nada do-re-mi-fa-so. Sebuah symphony penuh emosi yang dimainkan bersama, itulah yang menjadi tujuan akhir hidup lo.”
“walau ktia masih muda, kita udah seharusnya mengambil langkah. Gue juga masih dikatakan abg labil, tapi makna dari lagu ini menjadi pegangan kecil buat gue. pegangan kecil yang menopang dari dalam.”
Badan Agam mulai gemetar. Entah apa yang dia pikirkan. Sepanjang gue menjelaskan, dia mendengar dengan mata yang kosong. Gue tau dia terlalu membayangkan apa yang gue katakan. Atau mungkin dia tak mengerti apa yang gue katakan. Sedangkan Redzki, dia mempunyai pengalaman yang hampir mirip dengan Agam, jadi dia tak melepaskan telinganya sedikitpun selama gue berceramah.
“lu ngerti kan maksud gue?”
“iya bro gue ngerti.”
“tapi jangan seperti Mino ya..”
“maksud lo?”
“tau kan cara Mino mengejar sesuatu? “
“ditengah lagu, Coalamode mengatakan, semakin kuat yang lo rasakan saat bersama seseorang, semakin kau lupa cara terpaku disuatu tempat. Artinya, lu bakal lupa posisi lo yang sekarang, ada kemungkinan lo bakal lupain siapa yang memperkenalkan lagu ini dan siapa yang meceramahi lo di kantin saat jam pelajaran sedang berlangsung.”
Agam menyeringai.
“ini lagu kayanya kuat bener.. terlalu banyak majasnya.”
“ini bukan majas, kaya yang lo katakan sebelumnya, ada orang-orang yang jarang mengatakan suatu hal secara langsung. Mereka lebih suka memakai ungkapan atau perumpamaan. Itu yang sebenarnya membuat lagu ini sukar dimengerti.”
“orang jepang? Jangan-jangan..”
“yap.. ini lagu dari band Jepang. Bukan lo doang yang tau tentang Jepang” gue tersennyum licik.
Agam menghela nafas sambil tersenyum kecil. Suara tarikan nafasnya terdengar jelas. Dia mengambil udara terlalu keras di kantin yg sepi.
“judulnya ?”
“ nanairo simfonii ” . “ lo tau artinya kan.. ?”
“ Symphony 7 warna *“ ...
Kami kembali ke kelas. Beruntung Bu Arum sedang baik. Dia mempersilahkan kami masuk kelas tanpa hukuman. Belakangan gue tau, beberapa hari setelah gue memberi lagu tersebut, Agam menjadikan lagu itu menjadi ringtone hp nya.
Gue merenung sendiri di meja kelas gue. keadaan terasa sepi. Gue merasa bodoh memberi Agam saran. Maksudnya, orang macam apa yang memberi orang lain saran sedangkan hidupnya sendiri sangat membutuhkan saran.
Sebenarnya gue hanya tau lagu itu ketika mendengar melalui radio di kost. Gue denger dan gue cari dan translate liriknya, ternyata cukup bagus. Bacotan khas gue keluar begitu saja saat gue ingin membantu Agam. Segala kalimat lirik itu gue lebih-lebihkan untuk memberi kesan bagus. Kesan yang menjadi saran dan bisa mengubah seseorang. Itu yang gue harapkan.
Terkadang saran yang seharusnya buat gue, gue berikan untuk orang lain. Gue merasa bodoh tidak menganggap lagu itu menjadi arti penting buat gue.
Sekarang gue merasakannya. Gue membutuhkan symphony yang bergema. Symphony indah penuh emosi..
..Yang dimainkan bersama.
“lu udah kenal lama ama Mino gam?” tanya gue tiba-tiba.
Pffffffffffffffttt !!!
Agam bersin-bersin dan memuntahkan kupatnya yang terakhir dari mulutnya. Dia kaget setelah gue membawa nama Mino.
“lu kenapa bego?! Diliatin orang tuh.”
“enggak enggak sorry..”
Uhuukkk!! Hueekk....
Gue membiarkan Agam menyelesaikan batuknya dan mengambil nafas. Dia terlihat lebih tenang dengan wajahnya yang memerah.
“udah? ” tanya gue mengganggu dia yang sedangmerapikan ingusnya.
“kalem..” sambil mengambil nafas dalam
“apa tadi?”
“udah lama kenal Mino?”
“oh Minooo ? ha ha ha” dia menyeringai sedikit.
“ya lumayan lah, dari kelas satu smp.”
“ohh..”. gue sebenarnya bingung mau menanyakan apa lagi.
“dia mantan gue sob..”
BAM!
Itu dia yang pengen gue tau. Gue udah ada feeling tentang ini. Kalau membawa nama makhluk satu ini, Mino merasa tidak nyaman. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya.
“oh ya? Berapa lama lu... “
“satu tahun satu bulan.”
“terus kenapa putus? Gak mau balikan nih?” tanya gue sambil nada menggoda.
“gak Jo, gue nyerah. Dia itu overly protectedbanget ! gue saranin lu jangan terlalu dekat deh..”
“..masalahnya, kayanya dia tertarik ama lu Jo.”
Kalau itu sih...
“gue yakin lu jadi korban yang sama dengan gue.”
“apa maksud lo?”
Agam diam sejenak sambil mendramatisir keadaan. Sedangkan Redzki hanya sibuk mendengarkan sambil mengunyah keripik kentang keempatnya.
“gue tebak, dia pasti tau segala tentang lo kan?”
“..sepertinya”
“nahh.. saran gue sih jauhin tuh orang.. mending lo jagain Hoseki aja, gue tau lu seneng sama dia..”
Oh well.. kayanya itu udah menjadi rahasia umum.
“tapi memang sih dia jadi alasan gue menjomblo sekarang. Gue masih pengen sama dia. Walau masih Smp, setiap sama dia tuh terasa asik, kalau kata Natsume Soseki – penulis asal Jepang pada zaman Meiji – ‘ bersamanya, bulan jadi terlihat lebih cantik. ‘ . Bener-bener Jo gue gak bisa lupain tu anak. “
“ehmm.. tunggu.. maksud lo apa tadi? Bulan.. apa?”
“nih gue kasih tau ya..” Agam mulai menjelaskan pengetahuan tentang Jepang nya yang luas.
“orang-orang di Jepang tidak pernah mengatakan ‘aku mencintaimu’. Mereka jarang mengungkapkan hal secara langsung laki-laki Jepang biasa mengatakan: ‘bulannya indah’. Ia terkesan dengan keindahan bulan. Ukuran bulan berubah, tapi warnanya tidak.”
“namun pada malam ini, karena ia sangat senang bersama dengan seorang gadis, bulan yang biasa-biasa pun jadi terlihat begitu indahnya. Dengan kata lain, artinya, ‘bulan yang biasa-biasa saja ini terlihat cantik, saya senang karena ada kamu.’ ”
“mungkin lebih jelasnya. ’ Bersamamu, bulan terlihat lebih cantik..’
tapi sekarang hidup gue rasanya udah berhenti ha ha ha”
Gue masih setengah mengerti dengan penjelasan Agam. Yang gue mengerti, ungkapan ‘ bulan terlihat lebih cantik jika bersamamu ‘ adalah cara Agam mengatakan kalau dia masih mencintai Mino.
Gue sebenarnya sudah mengetahui kenapa Agam terus menjomblo padahal banyak cewe yang mengejarnya. Dua minggu yang lalu, sekumpulan mahasiswa Psikologi dari Universitas Pendidikan Indonesia datang ke sma kami untuk melakukan ‘survey remaja’ yang sekaligus menjadi tugas kuliah mereka. kebetulan kelas gue terpilih menjadi objek survey. Pertanyaan-pertanyaan unik khas psikologi adalah salah satu yang gue suka. Terasa seru ketika menjawabnya. Ketika memasuki bagian ‘pencerminan diri’ ada soal yang menanyakan,”apa judul lagu yang menggambarkan kehidupan asmara kamu?”. Gue sebenarnya bingung menjawabnya. Sesaat gue mau menjawab lagu “i’m not okay, i promise” dari My Chemical Romance. Entah kenapa, bahkan rasanya lagu itu tidak cukup untuk menggambarkan gue. gue mencari pencerahan dan melihat sekeliling. Agam menutup lembar jawabannya dibalik sikut tangan kirinya. Samar-samar gue melihat dia menulis lagunya The Script yang berjudul “ I’m the man who can be move”. Hari itu ketika pulang sekolah, gue membelikan dia teh botol sebagai rasa prihatin.
Tcih dasar anak abg
“ya.. gue mulai ngerti. Tapi kalau cuma mengatakan ‘Bersamamu, bulan terlihat lebih cantik ’ , perasaan tidak akan tersampaikan kan?”
Dia mengangguk.
“gue tarik kesimpulan ya.. yang gue denger dari frase lu tadi, menurut gue lu gak akan bisa lupain tuh orang kalau begini terus..”
Agam semakin serius mendegarkan.
“..alasan mengapa luka lu gak hilang saat lu mencoba melupakan,, karena mencoba melupakan sama dengan mengingatnya kembali..”
Redzki ikut menganguk-ngangguk kecil
“lo itu cuma berputar, berputar, berputar, ditempat yang sama. Ingat!, jam itu tak pernah berhenti berputar. Tapi jam di hidup lo udah berhenti berputar! Udah waktunya lo berhenti menatap jam yang telah berhenti berputar. Inget bro ini udah Sma, setidaknya jangan habisin waktu lo buat bergalau ria.. jadikan waktu di Sma lo menjadi yang paling asik”
Agam terdiam mendengar penjelasan gue.
“mulai sekarang hapus tuh frase dari otak lo. Coba sekarang, menurut lo bagaimana cara memperbaiki jam yang berhenti berputar?”
“.. ganti batre nya”
“..ehh gak itu sih yang gue pikirin.. tapi oke deh, lu tinggal perbaikin batre nya kan? Sekarang kita umpamakan kalau jam yang berhenti itu adalah elo dan batre itu adalah Mino. Apa yang harus lo buang dan ganti?”
“ Mino “
“nah ! itu saran dari gue..” gue berlagak ala Mario Teguh.
Super Sekali !
“gile lu keren banget bro..”
“gue belom selesai..”
Bel masuk pelajaran berbunyi tapi kami menghiraukannya.
“pastikan ada seseorang di diri lo. ..Gue ambil dari lagunya Coalamode . hidup ini seperti sebuah symphony. Dalam hidup udah menjadi keinginan kita untuk memainkan Symphony yang indah. Ingat ! banyak suara yang gak bisa lu mainin dengan seorang diri. Menangis, tertawa, dengan nada do-re-mi-fa-so. Sebuah symphony penuh emosi yang dimainkan bersama, itulah yang menjadi tujuan akhir hidup lo.”
“walau ktia masih muda, kita udah seharusnya mengambil langkah. Gue juga masih dikatakan abg labil, tapi makna dari lagu ini menjadi pegangan kecil buat gue. pegangan kecil yang menopang dari dalam.”
Badan Agam mulai gemetar. Entah apa yang dia pikirkan. Sepanjang gue menjelaskan, dia mendengar dengan mata yang kosong. Gue tau dia terlalu membayangkan apa yang gue katakan. Atau mungkin dia tak mengerti apa yang gue katakan. Sedangkan Redzki, dia mempunyai pengalaman yang hampir mirip dengan Agam, jadi dia tak melepaskan telinganya sedikitpun selama gue berceramah.
“lu ngerti kan maksud gue?”
“iya bro gue ngerti.”
“tapi jangan seperti Mino ya..”
“maksud lo?”
“tau kan cara Mino mengejar sesuatu? “
“ditengah lagu, Coalamode mengatakan, semakin kuat yang lo rasakan saat bersama seseorang, semakin kau lupa cara terpaku disuatu tempat. Artinya, lu bakal lupa posisi lo yang sekarang, ada kemungkinan lo bakal lupain siapa yang memperkenalkan lagu ini dan siapa yang meceramahi lo di kantin saat jam pelajaran sedang berlangsung.”
Agam menyeringai.
“ini lagu kayanya kuat bener.. terlalu banyak majasnya.”
“ini bukan majas, kaya yang lo katakan sebelumnya, ada orang-orang yang jarang mengatakan suatu hal secara langsung. Mereka lebih suka memakai ungkapan atau perumpamaan. Itu yang sebenarnya membuat lagu ini sukar dimengerti.”
“orang jepang? Jangan-jangan..”
“yap.. ini lagu dari band Jepang. Bukan lo doang yang tau tentang Jepang” gue tersennyum licik.
Agam menghela nafas sambil tersenyum kecil. Suara tarikan nafasnya terdengar jelas. Dia mengambil udara terlalu keras di kantin yg sepi.
“judulnya ?”
“ nanairo simfonii ” . “ lo tau artinya kan.. ?”
“ Symphony 7 warna *“ ...
Kami kembali ke kelas. Beruntung Bu Arum sedang baik. Dia mempersilahkan kami masuk kelas tanpa hukuman. Belakangan gue tau, beberapa hari setelah gue memberi lagu tersebut, Agam menjadikan lagu itu menjadi ringtone hp nya.
Gue merenung sendiri di meja kelas gue. keadaan terasa sepi. Gue merasa bodoh memberi Agam saran. Maksudnya, orang macam apa yang memberi orang lain saran sedangkan hidupnya sendiri sangat membutuhkan saran.
Sebenarnya gue hanya tau lagu itu ketika mendengar melalui radio di kost. Gue denger dan gue cari dan translate liriknya, ternyata cukup bagus. Bacotan khas gue keluar begitu saja saat gue ingin membantu Agam. Segala kalimat lirik itu gue lebih-lebihkan untuk memberi kesan bagus. Kesan yang menjadi saran dan bisa mengubah seseorang. Itu yang gue harapkan.
Terkadang saran yang seharusnya buat gue, gue berikan untuk orang lain. Gue merasa bodoh tidak menganggap lagu itu menjadi arti penting buat gue.
Sekarang gue merasakannya. Gue membutuhkan symphony yang bergema. Symphony indah penuh emosi..
..Yang dimainkan bersama.
♪ NP : Coalamode – Nanairo Simfonii ♪
Mungkin sudah ada beberapa yang tau tentang ini

Diubah oleh joechristianp 28-06-2015 21:33
0
Kutip
Balas