- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87K
544
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#142
Part 20: Maya Versus Callista
Quote:
Erik dan kelompoknya langsung menjauh ketakutan karena kemampuan psikis Maya. Mereka berempat bersembunyi di sebuah kamar rawat inap yang tidak terpakai untuk mendiskusikan rencana mereka berikutnya untuk mengamankan lantai. Tentunya masih ada beberapa vampire di lantai ini. Selain itu, vampire dari lantai atas pastinya akan turun untuk mengejar mereka. Erik dan tiga temannya harus menghadapi vampire dari lantai ini dan vampire dari lantai atas. Rencana mereka adalah mengecek dan mengamankan tiap kamar. Tentunya juga mengamankan jika ada pasien yang masih disandera oleh para vampire.
Quote:
Erik, Kartika dan Niken langsung menghela nafas panjang seperti Mario.
Quote:
Kembali ke pertarungan Maya melawan Callista. Kedua tangan Maya menggumpalkan angin. Kaki Maya juga tak menyentuh tanah. Tentunya karena ditopang oleh angin buatannya. Sementara Callista hanya bersandar di tembok dan tersenyum memandang Maya. Vampire berambut pirang dan berlipstick pink itu menunjukkan taring-taringnya ketika tersenyum.
Tempat pertarungan mereka berdua sekarang berada di koridor lantai tiga. Koridor yang merupakan salah satu dari banyak koridor di rumah sakit ini memiliki dinding yang khas. Bukan karena warna catnya atau apa. Tetapi, karena di tiap koridor di lantai tiga dipenuhi lukisan yang begitu indah karena di semua lukisan memiliki detail dan perpaduan warna yang khas. Lalu lantainya yang dibuat dari porselin berwarna orange. Sepertinya manajemen rumah sakit ini berniat menghilangkan kesan rumah sakit jiwa yang berhantu di benak penduduk Jakarta.
Quote:
Terdengar suara ponsel berdering dari saku Callista. Callista mengambil ponsel dari sakunya dan mulai berbicara. Maya belum mau menyerangnya meskipun keadaan itu adalah kesempatan untuknya. Angin yang dipadatkan di kedua kakinya belum sempurna benar.
Quote:
Tiba-tiba saja jarak Maya dan Callista hanya beberapa centimeter. Dengan menggunakan angin yang dia gumpalkan di kakinya, Maya melontarkan dirinya untuk mendekati Callista. Tentunya Callista memiliki kecepatan vampire untuk mengelak, tapi dia hanya bisa terpaku. Terpaku karena Maya yang hanya manusia biasa, yang tentunya tak memiliki kecepatan vampire, tahu-tahu berada di depannya. Callista hanya bisa membelalak, mulut menganga dan nafas tertahan. Tangan kanan Maya menghantam muka Callista. Membuat kepala pengendali api itu terbentur dinding hotel. Belum selesai, telapak kaki Maya yang masih memiliki sisa gumpalan angin, menghantam pelipis kanan Callista.
Tendangan itu Callista terhempas. Ketika di udara, Callista mengibaskan tangannya empat kali. Dari kibasan tangannya itu terciptalah empat gelombang api. Serangan empat gelombang api Callista memang terlihat acak dan tidak terarah. Callista hanya menerapkan prinsip ‘iseng-iseng berhadiah’ saja. Beruntung bagi Callista, bersamaan dengan tubuhnya yang menghantam dinding, salah satu dari empat gelombang api yang dilepaskannya membakar celana panjang Maya. Api berwarna merah itu membakar celana Callista dengan cepat.
Maya cepat-cepat meniup api yang berkobar di celana kanannya itu dengan angin yang kencang. Angin Maya yang kuat cukup untuk melenyapkan api yang membakar celana Maya dalam waktu singkat. Maya menggigit bibir bawahnya karena kesal melihat celananya terbakar hingga menyentuh lututnya.
Quote:
Kali ini giliran Maya yang terkejut karena tahu-tahu Callista sudah berada di depannya. Dengan cepat, Maya menyilangkan dua lengannya tepat di mukanya. Sehingga mampu menangkis tinju Callista. Namun, dia tidak dapat menebak tendangan Callista yang mendarat di perutnya. Kali ini, giliran Maya yang terhempas karena tendangan keras Callista.
Quote:
Angin yang keluar dari tangan Maya menetralkan semua api yang berterbangan ke arahnya. Karena Maya berhasil menghajar habis api-api itu, lawannya semakin penasaran. Maya didekati oleh Callista yang terus maju perlahan. Api-api Callista terus menghujani Maya. Tiba-tiba saja Callista mengeluarkan bola api yang sangat besar hingga membakar semua yang dilewatinya. Pintu-pintu rumah sakit yang tersentuh api itu langsung terbakar hebat. Maya menghilangkan bola api yang sangat besar itu dengan angin yang besar pula. Ketika api itu hilang, tahu-tahu Callista sudah berada di depannya. Perut Maya dihantam oleh tinju api Callista yang membuat dirinya langsung terhempas sambil merasakan api yang membakar pakaiannya. Sialnya lagi dia tubuhnya mendarat di pintu kamar. Maya mencoba berdiri namun Callista tak memberinya kesempatan. Tinju Callista yang dipenuhi oleh kobaran api menghancurkan pintu yang ada di belakang Maya. Maya sendiri mengubah niatnya dari bangkit berdiri kembali menjadi menghindari tinju Callista yang panas dari bawah. Di saat itu pula Maya mengeluarkan angin ke kaki Callista. Angin itu membuat Callista kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Di saat itu pula, Maya melompat, menggumpalkan angin di sikunya dan mendaratkan sikunya di perut Callista.
Callista memuntahkan darah. Pukulan Maya tidak berhenti sampai di situ. Maya menyatukan kedua tangannya, memberikan gumpalan angin dan sekali lagi tinju angin itu menghantam perut Callista. Darah yang keluar dari mulut Callista membasahi pakaiannya. Lebih banyak daripada yang sebelumnya. Melihat Maya yang mulai menyerang untuk yang ketiga kalinya, dengan seluruh kesadaran dan kekuatannya, Callista menggulingkan diri menjauhi Maya. Tinju Maya yang ditambahi tekanan angin hanya meretakkan lantai rumah sakit. Di saat menggulingkan diri, Callista melemparkan bola apinya ke muka Maya. Lawan Callista yang sudah paham serangan ‘iseng-iseng berhadiah’ ala Callista mengeluarkan angin di udara. Api Callista lenyap bertubrukan dengan angin itu.
Dua gadis ini bangkit berdiri dengan terhuyung-huyung. Mereka terengah-rengah. Tentunya serangan demi serangan yang sangat mengandalkan kecepatan dan reflek ini memacu otak dan fisik mereka untuk bergerak cepat. Keduanya sama-sama merasa lelah dan mengalami pendarahan. Bagi Callista yang merupakan ras vampire, luka akibat tekanan angin dari Maya di perutnya tadi sudah regenerasi. Sementara Maya, yang merupakan manipulator, tentu ketahanan fisiknya lebih hebat beberapa kali lipat daripada manusia biasa. Dua-duanya sama-sama tersenyum sambil saling menatap tajam satu sama lain.
Quote:
Callista tiba-tiba melompat dan mengarahkan lututnya ke muka Maya. Gerakan itu terbaca oleh Maya. Dengan mudah Maya menghindarinya ke kanan dan bersamaan itu pula Maya meluncurkan tinjunya ke Callista ketika vampire itu di udara. Callista dengan kecepatan vampirenya menangkis serangan Maya dengan tapak tangan kirinya. Tangan kirinya lalu mencengkeram erat tangan Maya agar dia tidak kabur. Sementara tangan kanan Callista yang sudah menyimpan api, langsung saja disemburkannya ke muka Maya. Callista hanya membakar beberapa lukisan di dinding karena Maya yang sudah menyadari bahaya itu langsung merunduk dan mencoba memukul ulu hati Callista. Dengan mudah Callista menangkapnya.
0