- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
464.7K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#750
A Part 30
Aku langsung masuk ke kamar dan menaruh surat atau apalah itu yang dari Reza tadi di meja belajar. Belum aku buka karena kurasa itu tidak penting. Katanya soal dan kunci jawaban ulangan tadi di sekolah. Ah, kalau cuma itu mah aku juga bisa kok. Aku bisa kok ngerjain ulangan dan dapaet nilai 100 dengan usahaku sendiri.
***
“Heh, Bisa bikin masakan kangkung kan?”
Aku disuruh kak Fe masak kangkung, padahal aku sedang asik nonton tv. Tadinya aku mau nunggu sampai acara yang aku tonton selesai tapi tv nya keburu dimatiin kak Fe jadi terpaksa deh aku harus beranjak pergi dari sofa dan pergi ke dapur.
Oh.. jadi kresek hitam yang dibawa kak Fe tadi itu isinya kangkung ya. Tumben-tumbenan nih kak Fe beli ginian. Aku mengeluarkan kangkung dan beberapa bahan lainnya seperti cabe, tomat, bawang, terasi dari kresek tersebut. Wah udah komplit juga bahannya, kirain kak Fe Cuma beli kangkungnya doang. Setelah mengeluarkan isi dari kresek tersebut aku temukan sebuah obat. Obat apaan nih, kok ada obat. Oh, mungkin kak Fe beli kangkungnya di warung-warung terus tukang warungnya salah masukin obat ke kresek belanjaan kak Fe. Jadi aku buang saja obatnya ke tempat sampah.
Okey, Chef Ani siap beraksi. Aku bersihkan dahulu kangkungnya lalu petik daun dan batangnya. Setelah itu aku iris bahan-bahan lainnya, seperti bawang, tomat, dll. Kemudian aku panaskan penggorengan dengan minyak agar panas. Lalu aku masukan bahan-bahan itu ke penggorengan lalu tumis hingga harum.
“Ani sedang masak apa?”Tanya ibu.
“Eh.. ibu, aku mau masak tumis kangkung, tadi kak Fe minta dibuatin tumis kangkung.”
“Oh.. begitu ya.. Yauda malam ini kita makan sama tumis kangkung aja ya, biar ibu bikin gorengan tempe nya.”
“Iya, bu.”
Hidangan sudah siap disantap. Tumis kangkung buatan Ani menjadi menu makan malam hari ini. Selesai mandi aku turun ke bawah dan siap untuk makan. Tapi ibu menyuruhku untuk membangunkan kak Fe dulu. Loh ternyata kak Fe masih mengenakan seragam sekolahnya dan tertidur di sofa.
Aku mencoba untuk membangunkan kak Fe, sumpah kak Fe susah untuk dibangunin, sekarang aku malah jadi berpikir siapa sih yang kebo. Usahaku untuk membangunkan kak Fe nihil jadi aku lapor aja ke ibu, kak Fe gak mau bangun.
“Bu, kak Fe kebo bu, susah dibangunin.”
“Oyah? Sini biar ibu aja yang bangunin.” Kata ibu.
Sekarang giliran ibu mau bangunin kak Fe. Akankah usaha ibu berhasil membangunkan kak Fe?
Setelah beberapa saat ibu kembali dengan senyuman. Benar saja ibu tersenyum karena berhasil membangunkan kak Fe dan membawanya ke meja makan. Cuma ibu yang bisa menaklukan kak Fe.
Kebiasaan di keluarga ini sebelum makan kita harus berdoa dahulu dengan khusyuk di dalam hati, gak boleh makan sebelum berdoa kata ibu, terus juga di meja makan tidak ada yang boleh membawa hp.
Aku berdoa terima kasih ya Tuhan karena sudah berada disini dan bersyukur bisa makan dan tidak kekurangan.
Pas makan ibu memulai pembicaraan, awalnya sih ibu ngomongin ibunya Stella dan Stella mampir ke rumah kepada kak Fe., tapi lama-kelamaan ibu malah inget dan nyerembet ngomongin aku main kemarin.
“Eh ibu baru inget, kemarin Ani nonton ama siapa Fe?” Ibu sudah memulai.
“Pacarnya tuh bu..” Ceplos kak Fe.
“Tuh kan bener, kata ibu juga, kamu pacaran kan ya Ani?”
Ibuuuuu…
“Ih, ibu apaan, kak Fe mah bohong ih.” Aku membela diri.
“Kakakmu ini mah jarang bohong, kamu mah kemarin juga bohong katanya mau belajar kelompok eh taunya malah pacaran, nonton.” Kata ibu.
“Wahaha serius Bu? Ani bilang mau kerja kelompok? Bohong banget itu mah Bu wong aku liat kemarin dia di bioskop gandengan tangan.” Kak Fe jadi ikut-ikutan.
“Wah segitunya kah sayang? Ani hebat ya udah beranjak dewasa.” Kata ibu.
“Ih.. kalian..kok gitu sih..”
“Udah mah gitu mereka panggil papih-mamih pas makan.” Fitnah terbesar yang diucapkan kak Fe.
“KAK FE REZA BUKAN PACAR AKU TAUU!!!!” Aku neriaki kak Fe, itu fitnah benar-benar fitnah, aku gak suka difitnah gini.. tapi ibu dan kak Fe bener-bener kompak ngeledekin aku. Aku jadi sedih.
“Oh.. namanya Reza Ni? Sini dong kenalin ke ibu.”
“Ih.. ibu dia itu bukan pacar aku.”
“Tadi aku ketemu orangnya di sekolah Bu, nanyain Ani kenapa gak sekolah.”
“Oyah? Ani kapan-kapan ajak kesini lah ya...”
“Kok kalian jahat sih..” kata-kata terakhirku sebelum meninggalkan mereka di meja makan. Aku beneran gak suka di ledekin seperti ini, jelas-jelas aku kemarin cuma main doang, nonton, dan makan bareng kak Fe dan temannya. Reza itu bukan pacar aku. Memang aku kemarin salah udah bohongi ibu, tapi ya ibu kok tega banget sih ngeledekin aku gitu, mojokin aku. Aku bete.
Aku masuk ke kamar dan ku kunci pintu kamar rapat-rapat. Aku mengambil amplop yang diberikan Reza tadi siang. Gara-gara orang ini nih aku diledekin seperti ini… Aku robek amplopnya, apaan sih ini.
***
“Heh, Bisa bikin masakan kangkung kan?”
Aku disuruh kak Fe masak kangkung, padahal aku sedang asik nonton tv. Tadinya aku mau nunggu sampai acara yang aku tonton selesai tapi tv nya keburu dimatiin kak Fe jadi terpaksa deh aku harus beranjak pergi dari sofa dan pergi ke dapur.
Oh.. jadi kresek hitam yang dibawa kak Fe tadi itu isinya kangkung ya. Tumben-tumbenan nih kak Fe beli ginian. Aku mengeluarkan kangkung dan beberapa bahan lainnya seperti cabe, tomat, bawang, terasi dari kresek tersebut. Wah udah komplit juga bahannya, kirain kak Fe Cuma beli kangkungnya doang. Setelah mengeluarkan isi dari kresek tersebut aku temukan sebuah obat. Obat apaan nih, kok ada obat. Oh, mungkin kak Fe beli kangkungnya di warung-warung terus tukang warungnya salah masukin obat ke kresek belanjaan kak Fe. Jadi aku buang saja obatnya ke tempat sampah.
Okey, Chef Ani siap beraksi. Aku bersihkan dahulu kangkungnya lalu petik daun dan batangnya. Setelah itu aku iris bahan-bahan lainnya, seperti bawang, tomat, dll. Kemudian aku panaskan penggorengan dengan minyak agar panas. Lalu aku masukan bahan-bahan itu ke penggorengan lalu tumis hingga harum.
“Ani sedang masak apa?”Tanya ibu.
“Eh.. ibu, aku mau masak tumis kangkung, tadi kak Fe minta dibuatin tumis kangkung.”
“Oh.. begitu ya.. Yauda malam ini kita makan sama tumis kangkung aja ya, biar ibu bikin gorengan tempe nya.”
“Iya, bu.”
***
Hidangan sudah siap disantap. Tumis kangkung buatan Ani menjadi menu makan malam hari ini. Selesai mandi aku turun ke bawah dan siap untuk makan. Tapi ibu menyuruhku untuk membangunkan kak Fe dulu. Loh ternyata kak Fe masih mengenakan seragam sekolahnya dan tertidur di sofa.
Aku mencoba untuk membangunkan kak Fe, sumpah kak Fe susah untuk dibangunin, sekarang aku malah jadi berpikir siapa sih yang kebo. Usahaku untuk membangunkan kak Fe nihil jadi aku lapor aja ke ibu, kak Fe gak mau bangun.
“Bu, kak Fe kebo bu, susah dibangunin.”
“Oyah? Sini biar ibu aja yang bangunin.” Kata ibu.
Sekarang giliran ibu mau bangunin kak Fe. Akankah usaha ibu berhasil membangunkan kak Fe?
***
Setelah beberapa saat ibu kembali dengan senyuman. Benar saja ibu tersenyum karena berhasil membangunkan kak Fe dan membawanya ke meja makan. Cuma ibu yang bisa menaklukan kak Fe.
Kebiasaan di keluarga ini sebelum makan kita harus berdoa dahulu dengan khusyuk di dalam hati, gak boleh makan sebelum berdoa kata ibu, terus juga di meja makan tidak ada yang boleh membawa hp.
Aku berdoa terima kasih ya Tuhan karena sudah berada disini dan bersyukur bisa makan dan tidak kekurangan.
Pas makan ibu memulai pembicaraan, awalnya sih ibu ngomongin ibunya Stella dan Stella mampir ke rumah kepada kak Fe., tapi lama-kelamaan ibu malah inget dan nyerembet ngomongin aku main kemarin.
“Eh ibu baru inget, kemarin Ani nonton ama siapa Fe?” Ibu sudah memulai.
“Pacarnya tuh bu..” Ceplos kak Fe.
“Tuh kan bener, kata ibu juga, kamu pacaran kan ya Ani?”
Ibuuuuu…
“Ih, ibu apaan, kak Fe mah bohong ih.” Aku membela diri.
“Kakakmu ini mah jarang bohong, kamu mah kemarin juga bohong katanya mau belajar kelompok eh taunya malah pacaran, nonton.” Kata ibu.
“Wahaha serius Bu? Ani bilang mau kerja kelompok? Bohong banget itu mah Bu wong aku liat kemarin dia di bioskop gandengan tangan.” Kak Fe jadi ikut-ikutan.
“Wah segitunya kah sayang? Ani hebat ya udah beranjak dewasa.” Kata ibu.
“Ih.. kalian..kok gitu sih..”
“Udah mah gitu mereka panggil papih-mamih pas makan.” Fitnah terbesar yang diucapkan kak Fe.
“KAK FE REZA BUKAN PACAR AKU TAUU!!!!” Aku neriaki kak Fe, itu fitnah benar-benar fitnah, aku gak suka difitnah gini.. tapi ibu dan kak Fe bener-bener kompak ngeledekin aku. Aku jadi sedih.
“Oh.. namanya Reza Ni? Sini dong kenalin ke ibu.”
“Ih.. ibu dia itu bukan pacar aku.”
“Tadi aku ketemu orangnya di sekolah Bu, nanyain Ani kenapa gak sekolah.”
“Oyah? Ani kapan-kapan ajak kesini lah ya...”
“Kok kalian jahat sih..” kata-kata terakhirku sebelum meninggalkan mereka di meja makan. Aku beneran gak suka di ledekin seperti ini, jelas-jelas aku kemarin cuma main doang, nonton, dan makan bareng kak Fe dan temannya. Reza itu bukan pacar aku. Memang aku kemarin salah udah bohongi ibu, tapi ya ibu kok tega banget sih ngeledekin aku gitu, mojokin aku. Aku bete.
Aku masuk ke kamar dan ku kunci pintu kamar rapat-rapat. Aku mengambil amplop yang diberikan Reza tadi siang. Gara-gara orang ini nih aku diledekin seperti ini… Aku robek amplopnya, apaan sih ini.
0
