- Beranda
- Sejarah & Xenology
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
...
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Arabia
Bizantin
Double Envelopment
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Garnisun
Ghassan
Imperium
Kavaleri
Kekhalifahan
Khalifah
Levant
Mesopotamia
Negara Vasal
Persia-Sassanid
Romawi
Syam
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.
Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.
Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.
Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.
Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.
Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.
Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.
Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.
Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.
Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.
Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.
Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.
Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.
Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.
Romawi
Lihat Bizantin.
Syam
Lihat Levant.
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
plonard
#109
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
(Halaman 3)
"Dari klanku ada 50 orang mengikutiku," katanya pada Abu Sufyan. "Aku punya pengaruh besar di klanku, Bani Aws. Aku meminta agar sebelum pertempuran dimulai, aku diberi kesempatan mengajak Bani Aws di antara pasukan Muslim, dan aku yakin bahwa mereka akan meninggalkan Muhammad dan bergabung denganku."[1] Abu Sufyan dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Bani Aws adalah salah satu dari dua suku utama di Madinah dan mengambil porsi sepertiga dari pasukan Muslim.
Perundingan kemudian dimulai dengan suku-suku tetangga dan pasukan bantuan yang kuat datang dari Bani Kinanah dan Bani Tsaqif. Pada awal bulan Maret 625, pasukan berkumpul di Makkah. Pada saat itu, Abbas, paman nabi di Makkah, mengirim surat kepadanya menginformasikan persiapan pasukan ini.
Pada pekan kedua bulan Maret, pasukan Quraysy berangkat dari Makkah dengan jumlah 3.000, 700 di antaranya berbaju besi. Mereka membawa 3.000 unta dan 200 kuda. Bersama pasukan ini, 15 perempuan Quraysy dibawa dengan tandu. Tugas mereka adalah mengingatkan pasukan akan korban-korban yang tewas di Badr dan memperkuat semangat pasukan. Di antara perempuan-perempuan ini ada Hindun sebagai pemimpin. Perempuan lainnya adalah istri Ikrimah, istri 'Amr ibn Al-'Ash, dan seorang saudara perempuan Khalid. Salah seorang dari mereka adalah Amrah binti Al-Qamah yang namanya akan kita dengar lagi nanti. Di antara mereka juga ada sejumlah perempuan kuat yang membawa tamburin dan gendang.
Saat ekspedisi bergerak menuju Madinah, seorang pimpinan Quraysy bernama Jubayr bin Muth'im berkata kepada budaknya yang bergelar Si Barbar dengan nama asli Wahsyi bin Harb. "Jika kamu membunuh Hamzah, pamannya Muhammad, untuk membalas dendam membunuh pamanku di Badr, aku akan membebaskanmu."[2] Si Barbar senang dengan tawaran ini. Ia adalah orang yang bertubuh besar, budak Abyssinia berkulit hitam yang selalu bertarung dengan lembingnya, khas orang-orang Afrika. Ia sangat ahli dengan senjatanya ini dan dikabarkan tidak pernah meleset dalam melemparkannya.
Tidak lama setelah itu, Si Barbar melihat unta bertandu mendekatinya. Dari tandu tersebut, Hindun melihat kepadanya dan berkata, "Wahai Ayah dari Kegelapan! Ambillah dan kejarlah hadiah untukmu."[3] Hindun menjanjikan jika ia membunuh Hamzah sebagai balasan atas terbunuhnya bapaknya di Badr, ia akan memberikan semua perhiasan yang ia kenakan.
Si Barbar memandang perhiasan tersebut dengan penuh rasa tamak: kalungnya, gelangnya, dan cincinnya. Semuanya terlihat sangat mahal dan matanya berbinar-binar bersiap menjadikan semua itu menjadi miliknya.
Nabi telah diperingatkan oleh Abbas tentang persiapan Quraysy sebelum pasukan meninggalkan Makkah. Selagi pasukan ini dalam perjalanan, sang nabi terus memperoleh informasi tentang lokasi mereka dari utusan-utusan suku bersahabat. Pada tanggal 20 Maret, pasukan Quraysy tiba di dekat Madinah dan membangun kemah di area berhutan di barat Bukit Uhud. Pada hari itu juga, sang nabi mengirim dua mata-mata untuk mengamati pasukan Quraysy. Mata-mata ini pulang dengan data detail kekuatan pasukan tersebut.
Pada tanggal 21 Maret, sang nabi meninggalkan Madinah dengan 1.000 pasukan, 100 orang di antara mereka berbaju perang. Pasukan Muslim mempunyai dua kuda, salah satunya milik sang nabi. Mereka membangun kemah untuk bermalam di dekat sebuah bukit kecil hitam bernama Syaykhayn, sekitar 1.6 km di utara Madinah.
Keesokan paginya, sebelum pasukan dibariskan, Kaum Munafik berjumlah 300 orang mundur meninggalkan pasukan. Mereka berada di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay. Ia berpendapat tidak mungkin menang jika mereka bertempur di luar Madinah dan mereka menganggap semua usaha itu sia-sia. Nabi akhirnya tinggal bersama 700 pasukan dan dengan mereka, nabi berangkat menuju medan tempur. Nabi sebenarnya tidak menghendaki bertempur di luar Madinah. Dia berharap, pasukan Muslim menunggu kedatangan pasukan Quraysy dan bertempur di dalam kota Madinah. Namun kebanyakan Muslim bersikeras untuk keluar Madinah dan menemui pasukan Quraysy. Nabi kemudian mengikuti kehendak mereka dan keluar Madinah menjemput pasukan Makkah. Meskipun demikian, ia sebisa mungkin memaksa pasukan musuh untuk bertempur di lokasi yang ia pilih, yaitu kaki Bukit Uhud.
Catatan Kaki Halaman 3
[1] Waqidi: Maghazi, hlm.161.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 61-62.
[3] Ibid.
__________________________________________________________________________
(Halaman 4)
Bukit Uhud adalah sebuah bukit besar, terbentang 6,4 km di utara Madinah (dengan titik referensi Masjid Nabawi) dan menjulang sekitar 305 m di atas dataran. Bentangannya sepanjang 9,65 km. Di bagian baratnya, bukit bercabang dan menurun terjal. Di bagian kanannya (jika dilihat dari Madinah), sebuah lembah memanjang sejauh sekitar 914 m. Di mulut lembah inilah, nabi menempatkan pasukannya. Bukit Uhud berada tepat di belakangnya.
Ia menyusun pasukan Muslim dalam sebuah formasi dengan garis depan sepanjang 900 m. Ia menempatkan sayap kanan di kaki cabang Bukit Uhud dan sayap kiri di kaki bukit bernama 'Aynayn, bukit kecil setinggi 12 meter sepanjang 150 m. Bagian kanan pasukan Muslim dalam kondisi aman, namun bagian kirinya bisa diserang dengan memutar ke belakang Bukit 'Aynayn. Untuk mengatasi hal ini, nabi menempatkan 50 pemanah di atas Bukit 'Aynayn tersebut. Dari atas bukit ini, mereka bisa mengontrol pergerakan Quraysy agar tidak bisa memutar dan menyerang dari belakang. Para pemanah ini dikomando oleh Abdullah bin Jubayr yang diberi perintah langsung oleh nabi, "Gunakan panah kalian untuk menembak kavaleri musuh. Jaga jangan sampai mereka berada di belakang kita. Selama kalian bertahan di posisi kalian, bagian belakang kita aman. Jangan pernah meninggalkan posisi kalian. Jika kalian melihat kita dalam kondisi menang, jangan turun bergabung. Jika kalian melihat kita dalam kondisi kalah, jangan turun membantu."[1] Perintah untuk korps pemanah ini sangat lugas. Karena Bukit 'Aynayn merupakan bagian paling penting dari taktik dan berpengaruh bagi area di sekitarnya, wajib untuk memastikan bahwa bukit kecil ini tidak jatuh ke tangan pasukan Quraysy.
Di belakang pasukan Muslim, 14 perempuan mengambil posisi, bertugas untuk memberikan air bagi mereka yang kehausan, menandu mereka yang terluka, dan merawatnya. Di antara kelompok perempuan ini adalah Fatimah, anak dari nabi dan suami dari Ali. Nabi sendiri mengambil posisi di sayap kiri pasukan ini.
Penyusunan pasukan Muslim dimaksudkan untuk menggiring pertempuran menuju sebuah kondisi pertarungan frontal dan dipersiapkan dengan sangat rapi. Penempatan ini memberikan pasukan Muslim keuntungan untuk memanfaatkan keunggulan mereka semaksimal mungkin, yaitu keberanian dan keterampilan bertarung. Penempatan ini juga memberikan mereka keamanan dari bahaya yang bisa diberikan oleh pasukan Quraysy dari aspek jumlah pasukan dan kavaleri yang mereka miliki. Kegesitan kavaleri inilah yang tidak dimiliki pasukan Muslim. Akan lebih baik bagi Abu Sufyan dan pasukannya untuk bertempur di tempat terbuka di mana ia bisa bermanuver memukul sayap dan belakang pasukan Muslim dengan kavalerinya serta memaksimalkan semua kekuatannya yang ada. Namun nabi menetralisir keunggulan Abu Sufyan dan memaksanya untuk bertempur di lokasi yang membatasi kekuatan dan kavalerinya. Perlu dicatat juga bahwa pasukan Muslim menghadap Madinah dan membelakangi Bukit Uhud. Artinya, jalan menuju Madinah terbuka bagi Pasukan Quraysy.
Pasukan Quraysy bergerak. Mereka mendirikan tenda sekitar satu setengah kilometer di selatan cabang Bukit Uhud dan dari sana, Abu Sufyan mengomando pasukannya untuk berbaris menghadap pasukan Muslim. Dia meletakkan bagian utama infantri di tengah dengan dua sayap kavaleri. Di sayap kanan ada Khalid dan di sayap kiri ada Ikrimah, masing-masing memimpin 100 kavaleri. 'Amr ibn Al-'Ash ditunjuk untuk mengatur koordinasi kedua korps kavaleri ini. Abu Sufyan menempatkan 100 pemanah di hadapan garis depan untuk mengawali pertempuran. Bendera Quraysy dibawa oleh Thalhah bin Abi Thalhah, salah seorang yang selamat di Badr. Dengan demikian, pasukan Quraysy membelakangi Madinah, menghadap barisan pasukan Muslim dan Bukit Uhud. Faktanya, mereka berada di antara pasukan Muslim dan markasnya di Madinah. (Susunan pasukan kedua pasukan bisa dilihat di Peta 1).
Tepat di belakang badan utama pasukan Qurays, perempuan-perempuan mengambil tempat. Sebelum pertempuran dimulai, perempuran-perempuan ini berjalan bolak-balik di depan pasukan, mengingatkan mereka tentang siapa saja yang telah tewas pada Pertempuran Badr. Setelah itu, mereka kembali ke belakang pasukan. Kemudian suara keras dan jelas dari Hindun terdengar, menyanyikan sebuah sya’ir:
Wahai kalian anak-anak Abduddar!
Pembela negerimu!
Kami adalah anak-anak perempuan sang malam;
Kami akan menunggu di atas dipan berbantal
Jika kalian maju, kami akan merangkul kalian.
Jika kalian mundur, kami akan meninggalkan kalian
dengan perpisahan tanpa cinta. [2]
Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ibnu Hisyam: Vol.2, hlm. 65-66; Waqidi: Maghazi, hlm. 175.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 68; Waqidi: Maghazi, hlm. 176.
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
(Halaman 3)
"Dari klanku ada 50 orang mengikutiku," katanya pada Abu Sufyan. "Aku punya pengaruh besar di klanku, Bani Aws. Aku meminta agar sebelum pertempuran dimulai, aku diberi kesempatan mengajak Bani Aws di antara pasukan Muslim, dan aku yakin bahwa mereka akan meninggalkan Muhammad dan bergabung denganku."[1] Abu Sufyan dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Bani Aws adalah salah satu dari dua suku utama di Madinah dan mengambil porsi sepertiga dari pasukan Muslim.
Perundingan kemudian dimulai dengan suku-suku tetangga dan pasukan bantuan yang kuat datang dari Bani Kinanah dan Bani Tsaqif. Pada awal bulan Maret 625, pasukan berkumpul di Makkah. Pada saat itu, Abbas, paman nabi di Makkah, mengirim surat kepadanya menginformasikan persiapan pasukan ini.
Pada pekan kedua bulan Maret, pasukan Quraysy berangkat dari Makkah dengan jumlah 3.000, 700 di antaranya berbaju besi. Mereka membawa 3.000 unta dan 200 kuda. Bersama pasukan ini, 15 perempuan Quraysy dibawa dengan tandu. Tugas mereka adalah mengingatkan pasukan akan korban-korban yang tewas di Badr dan memperkuat semangat pasukan. Di antara perempuan-perempuan ini ada Hindun sebagai pemimpin. Perempuan lainnya adalah istri Ikrimah, istri 'Amr ibn Al-'Ash, dan seorang saudara perempuan Khalid. Salah seorang dari mereka adalah Amrah binti Al-Qamah yang namanya akan kita dengar lagi nanti. Di antara mereka juga ada sejumlah perempuan kuat yang membawa tamburin dan gendang.
Saat ekspedisi bergerak menuju Madinah, seorang pimpinan Quraysy bernama Jubayr bin Muth'im berkata kepada budaknya yang bergelar Si Barbar dengan nama asli Wahsyi bin Harb. "Jika kamu membunuh Hamzah, pamannya Muhammad, untuk membalas dendam membunuh pamanku di Badr, aku akan membebaskanmu."[2] Si Barbar senang dengan tawaran ini. Ia adalah orang yang bertubuh besar, budak Abyssinia berkulit hitam yang selalu bertarung dengan lembingnya, khas orang-orang Afrika. Ia sangat ahli dengan senjatanya ini dan dikabarkan tidak pernah meleset dalam melemparkannya.
Tidak lama setelah itu, Si Barbar melihat unta bertandu mendekatinya. Dari tandu tersebut, Hindun melihat kepadanya dan berkata, "Wahai Ayah dari Kegelapan! Ambillah dan kejarlah hadiah untukmu."[3] Hindun menjanjikan jika ia membunuh Hamzah sebagai balasan atas terbunuhnya bapaknya di Badr, ia akan memberikan semua perhiasan yang ia kenakan.
Si Barbar memandang perhiasan tersebut dengan penuh rasa tamak: kalungnya, gelangnya, dan cincinnya. Semuanya terlihat sangat mahal dan matanya berbinar-binar bersiap menjadikan semua itu menjadi miliknya.
Nabi telah diperingatkan oleh Abbas tentang persiapan Quraysy sebelum pasukan meninggalkan Makkah. Selagi pasukan ini dalam perjalanan, sang nabi terus memperoleh informasi tentang lokasi mereka dari utusan-utusan suku bersahabat. Pada tanggal 20 Maret, pasukan Quraysy tiba di dekat Madinah dan membangun kemah di area berhutan di barat Bukit Uhud. Pada hari itu juga, sang nabi mengirim dua mata-mata untuk mengamati pasukan Quraysy. Mata-mata ini pulang dengan data detail kekuatan pasukan tersebut.
Pada tanggal 21 Maret, sang nabi meninggalkan Madinah dengan 1.000 pasukan, 100 orang di antara mereka berbaju perang. Pasukan Muslim mempunyai dua kuda, salah satunya milik sang nabi. Mereka membangun kemah untuk bermalam di dekat sebuah bukit kecil hitam bernama Syaykhayn, sekitar 1.6 km di utara Madinah.
Keesokan paginya, sebelum pasukan dibariskan, Kaum Munafik berjumlah 300 orang mundur meninggalkan pasukan. Mereka berada di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay. Ia berpendapat tidak mungkin menang jika mereka bertempur di luar Madinah dan mereka menganggap semua usaha itu sia-sia. Nabi akhirnya tinggal bersama 700 pasukan dan dengan mereka, nabi berangkat menuju medan tempur. Nabi sebenarnya tidak menghendaki bertempur di luar Madinah. Dia berharap, pasukan Muslim menunggu kedatangan pasukan Quraysy dan bertempur di dalam kota Madinah. Namun kebanyakan Muslim bersikeras untuk keluar Madinah dan menemui pasukan Quraysy. Nabi kemudian mengikuti kehendak mereka dan keluar Madinah menjemput pasukan Makkah. Meskipun demikian, ia sebisa mungkin memaksa pasukan musuh untuk bertempur di lokasi yang ia pilih, yaitu kaki Bukit Uhud.
Catatan Kaki Halaman 3
[1] Waqidi: Maghazi, hlm.161.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 61-62.
[3] Ibid.
__________________________________________________________________________
(Halaman 4)
Bukit Uhud adalah sebuah bukit besar, terbentang 6,4 km di utara Madinah (dengan titik referensi Masjid Nabawi) dan menjulang sekitar 305 m di atas dataran. Bentangannya sepanjang 9,65 km. Di bagian baratnya, bukit bercabang dan menurun terjal. Di bagian kanannya (jika dilihat dari Madinah), sebuah lembah memanjang sejauh sekitar 914 m. Di mulut lembah inilah, nabi menempatkan pasukannya. Bukit Uhud berada tepat di belakangnya.
Ia menyusun pasukan Muslim dalam sebuah formasi dengan garis depan sepanjang 900 m. Ia menempatkan sayap kanan di kaki cabang Bukit Uhud dan sayap kiri di kaki bukit bernama 'Aynayn, bukit kecil setinggi 12 meter sepanjang 150 m. Bagian kanan pasukan Muslim dalam kondisi aman, namun bagian kirinya bisa diserang dengan memutar ke belakang Bukit 'Aynayn. Untuk mengatasi hal ini, nabi menempatkan 50 pemanah di atas Bukit 'Aynayn tersebut. Dari atas bukit ini, mereka bisa mengontrol pergerakan Quraysy agar tidak bisa memutar dan menyerang dari belakang. Para pemanah ini dikomando oleh Abdullah bin Jubayr yang diberi perintah langsung oleh nabi, "Gunakan panah kalian untuk menembak kavaleri musuh. Jaga jangan sampai mereka berada di belakang kita. Selama kalian bertahan di posisi kalian, bagian belakang kita aman. Jangan pernah meninggalkan posisi kalian. Jika kalian melihat kita dalam kondisi menang, jangan turun bergabung. Jika kalian melihat kita dalam kondisi kalah, jangan turun membantu."[1] Perintah untuk korps pemanah ini sangat lugas. Karena Bukit 'Aynayn merupakan bagian paling penting dari taktik dan berpengaruh bagi area di sekitarnya, wajib untuk memastikan bahwa bukit kecil ini tidak jatuh ke tangan pasukan Quraysy.
Di belakang pasukan Muslim, 14 perempuan mengambil posisi, bertugas untuk memberikan air bagi mereka yang kehausan, menandu mereka yang terluka, dan merawatnya. Di antara kelompok perempuan ini adalah Fatimah, anak dari nabi dan suami dari Ali. Nabi sendiri mengambil posisi di sayap kiri pasukan ini.
Penyusunan pasukan Muslim dimaksudkan untuk menggiring pertempuran menuju sebuah kondisi pertarungan frontal dan dipersiapkan dengan sangat rapi. Penempatan ini memberikan pasukan Muslim keuntungan untuk memanfaatkan keunggulan mereka semaksimal mungkin, yaitu keberanian dan keterampilan bertarung. Penempatan ini juga memberikan mereka keamanan dari bahaya yang bisa diberikan oleh pasukan Quraysy dari aspek jumlah pasukan dan kavaleri yang mereka miliki. Kegesitan kavaleri inilah yang tidak dimiliki pasukan Muslim. Akan lebih baik bagi Abu Sufyan dan pasukannya untuk bertempur di tempat terbuka di mana ia bisa bermanuver memukul sayap dan belakang pasukan Muslim dengan kavalerinya serta memaksimalkan semua kekuatannya yang ada. Namun nabi menetralisir keunggulan Abu Sufyan dan memaksanya untuk bertempur di lokasi yang membatasi kekuatan dan kavalerinya. Perlu dicatat juga bahwa pasukan Muslim menghadap Madinah dan membelakangi Bukit Uhud. Artinya, jalan menuju Madinah terbuka bagi Pasukan Quraysy.
Pasukan Quraysy bergerak. Mereka mendirikan tenda sekitar satu setengah kilometer di selatan cabang Bukit Uhud dan dari sana, Abu Sufyan mengomando pasukannya untuk berbaris menghadap pasukan Muslim. Dia meletakkan bagian utama infantri di tengah dengan dua sayap kavaleri. Di sayap kanan ada Khalid dan di sayap kiri ada Ikrimah, masing-masing memimpin 100 kavaleri. 'Amr ibn Al-'Ash ditunjuk untuk mengatur koordinasi kedua korps kavaleri ini. Abu Sufyan menempatkan 100 pemanah di hadapan garis depan untuk mengawali pertempuran. Bendera Quraysy dibawa oleh Thalhah bin Abi Thalhah, salah seorang yang selamat di Badr. Dengan demikian, pasukan Quraysy membelakangi Madinah, menghadap barisan pasukan Muslim dan Bukit Uhud. Faktanya, mereka berada di antara pasukan Muslim dan markasnya di Madinah. (Susunan pasukan kedua pasukan bisa dilihat di Peta 1).
Tepat di belakang badan utama pasukan Qurays, perempuan-perempuan mengambil tempat. Sebelum pertempuran dimulai, perempuran-perempuan ini berjalan bolak-balik di depan pasukan, mengingatkan mereka tentang siapa saja yang telah tewas pada Pertempuran Badr. Setelah itu, mereka kembali ke belakang pasukan. Kemudian suara keras dan jelas dari Hindun terdengar, menyanyikan sebuah sya’ir:
Wahai kalian anak-anak Abduddar!
Pembela negerimu!
Kami adalah anak-anak perempuan sang malam;
Kami akan menunggu di atas dipan berbantal
Jika kalian maju, kami akan merangkul kalian.
Jika kalian mundur, kami akan meninggalkan kalian
dengan perpisahan tanpa cinta. [2]
Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ibnu Hisyam: Vol.2, hlm. 65-66; Waqidi: Maghazi, hlm. 175.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 68; Waqidi: Maghazi, hlm. 176.
Diubah oleh plonard 14-06-2016 07:23
0