- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Suami Galau & Istri Kepo
...
TS
twinroses
Cerita Suami Galau & Istri Kepo
Assalamualaikum Wr Wb
Penghuni forum SFTH, Sr,, Para Ts, dan tentu saja Momod tercinta, setelah beberapa bulan ikutan galau, termehek mehek, ketawa guling guling akibat baca thread SFTH, saya memutuskan untuk ikutan berbagi kisah hidup saya. Boleh kan? emm boleh donk, kalau gak di bolehin saya tetep nulis kok

WELL,,, Ini adalah kisah nyata yang saya permak sedemikian rupa sehingga menjadi cerita fiksi (bagian saya ganteng, tetep nyata kok
saya berperan sebagai seorang suami (ganteng) yang galau karena belum tuntasnya kisah masa lalu, yang berjuang keras untuk membuktikan keputusan saya menikah bukan lah hal yang salah. Tidak ada peraturan khusus dalam thread ini, Grand rules KASKUS dan SFTH tetep berlaku loh ya.... Kalo kalian mau kepo? kepoin sepuas kalian, karena di sini, di tempat saya tinggal hanya ada dua orang yang mengenal KASKUS ( Saya dan temen saya; orang yang mengenalkan Kaskus pada saya)
Lets Roll.....
Spoiler for Indeks:
Diubah oleh twinroses 21-01-2016 12:57
tien212700 dan anasabila memberi reputasi
2
123K
480
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
twinroses
#220
Kembang Kuning.....Pfffttt....
Apa yang seharus nya saya lakukan? Menjauhi kawasan ini tentu saja secara perlahan saya harus menjauhi Ayu. Well kalo saja keadaan ini saya alami saat ini (4 tahun kemudian) tentu semua tak akan seruwet ini. Saya tinggal membawa Ayu lari dari kawasan ini (Riska urusan belakangan), pulang kampung mungkin? Itu moge kalo di jual kan lumayan harghanya? Mudah bukan?
Tapi saya waktu itu baru berumur 20 tahun, gak kuat mikir sejauh itu. Jadi saya putuskan untuk tetap tinggal, tetap menjalin hubungan dengan Ayu dan masalah preman bayaran Papa nya? Ah... Pikir belakangan
Sudah sangat larut ketika kami memutuskan untuk pulang. Ayu mengantar kan saya sampai ke depan gerbang kost. Memberikan kecupan yang cukup 'panas' kemudian berlalu begitu saja. Meninggalkan saya menggantung! Damn it, kenapa dia membiarkan pikiran liar itu masuk di otak saya! Saya kan....
Sabun, come here please
Saya masuk ke kost, menyalakan lampu ruang tengah dan mendapati Pak Tarno sedang melamun, nampaknya sedang banyak pikiran. Saya mendekatinya dan memulai berbasa basi ria
"Kok gabung sama anak2 Pak?" Saya tidak menemui jones2 laknat, teman se kost an saya di depan, mereka pasti ngopi di pinggiran Balong Sari
"Ah, gak ah Mas..." Dia kayaknya kebingungan hendak memanggil saya
"Iwan, saya Iwan, temen sekamar Pak Tarno, sejak sebulan yang lalu" blum kenal setelah tidur berhimpitan selama sebulan? Kalian akan mengalaminya kalo punya temen sekamar seperti Pak Tarno ini. Pembicaraan pun berlanjut ke arah yang lebih dalam, lebih intens
eh....
Asli orang ngawi, bapak dengan satu anak. Dulu berprofesi sebagai penjual pentol di daerahnya. Penghasilanya gak besar, tapi cukup untuk menghidupi keluarganya. Sampai suatu ketika motornya hilang, dicuri orang, jelas! Motor adalah satu2 nya sarana buat menghidupi keluarganya.
Setelah menganggur beberapa bulan akhirnya Pak Tarno memutuskan buat beli motor lagi menguras hampir seluruh tabunganya untuk membeli motor bekas. Lewat makelar
Yeah, seperti yang kalian tebak. Motor yang baru saja di beli itu ternyata surat2nya di gadaikan oleh makelar tadi, nunggak sampai lima bulan (anggep saja segitu) Dan tentu saja Pak Tarno jadi kejar2an Bank. Dia menyerah dan dengan berat hati memberikan motor tsb ke pihak Bank. Harapan terakhirnya hilang.
Sekitar setahun kemudian, mungkin karena tidak kuat dengan keadaan ekonomi ancur dan gak kunjung membaik, istrinya pergi dari rumah dan membawa serta anaknya. Pak Tarno....
Sebulan kemudian Pak Tarno memutuskan untuk merantau ke Surabaya. Dia mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik Mur (baut) di kompleks pergudangan Margomulyo, dia kerja di sini dengan jaminan uang sebesar 2juta. And guess what, dia ketipu lagi
Dan di sinilah dia sekarang, pengangguran, uang mepet. Aaa... Pengen mewek...
"Emm, maaf nie ya Pak, kemaren Bapak doa apa sih kok sampek mewek gt?"
"Hemm...eh..." :kagets
"Minta rejeki?"
"Hemm, bukan2... iya sih... secara gak langsung jg minta tejeki...., saya cuma iri Mas, kepada mereka yang jalan2 di taman, sepasang suami istri menggandeng anaknya di tengah, saya pengen seperti itu..."
"Eh, tadi saya liat temen Mas Iwan nangis di depan itu kenapa?"
"Hoh... yang mana?"
"Yang tadi sore itu loh., cewek"
"Oh itu, Bapak nya gak suka sama Saya Pak" saya menjawab dengan enteng
"Cuman gak di restuin? Tp kok, kayaknya dia khawatir banget Mas?"
"Hemmm..., bapaknya menyuruh preman buat nangkep saya Pak"
"Nangkep? Buat apaan?"
"Di habisi, mungkin"
"Di...habisi?"
"Di bunuh Pak"
"Heeh....."
Pingsan
Hari berganti seperti biasa, saya putuskan untuk tetap tinggal di sini. Menghiraukan permintaan Ayu. Toh Sampai saat ini saya masih baik2 saja. Gak lecet sedikitpun. Orang2 suruhan Si Burhan tetep setia mengikuti saya. Dan sesekali menyerang saya ketika ada kesempatan. Tapi dengan bantuan Codet serangan mereka menjadi gampang saya atasi. Kebanyakan cuman si Codet sih yang pegang kendali. Saya cuman merokok di trotoar melihat Codet menghabisi 4-5 orang pada setiap kesempatan. He is the best among us
Ayu benar. Ayahnya tidak gampang menyerah. Setiap kali gerombolan pesuruh itu datang mereka membawa senjata baru. Seperti saat ini
Lima orang menghadang saya dan Codet ketika lagi asik nongkrong di pinghiran gang kompleks pergudangan. Masing2 bawa sajam, parang dan err... katana ?
. Great!! "Kabur Det!!" Saya menarik tangan Codet kemudian berlari sekencang mungkin
"Lawan ajah yuk Wan! Toh cuman lima orang"
"Gila lu, bawa sajam gitu di lawan??" Kemudian kami kembali berlari
"Eh bentar"
"Paan?"
"Bukanya lu punya ilmu kebal bacok Det?"
"Oiya si...." Codet balik arah kemudian memasang kuda2, beberapa saat kemudian... kabur lagi
"Kok malah kabur Nyet?!"
"Sorry gw lupa, gw dah gak perjaka lagi. Ilang juga tuh ilmu sialan"
"Hah!!!? Trus siapa tuh cewek apes?"
"Boro2 cewek Wan" ekspresinya sekejap berubah
"Maksud?"
"Kembang Kuning" dia menjawab dengan ragu, seketika itu tawa saya lepas
"Lu? Buang keperjakaan di Kembang Kuning? Sama batang?"
Pfffttt....
"Udah diem dulu, pinjemin gw satu. Biar gw rontokin mereka"
"Pinjem? Apaan?"
"Ah lu, pinjemin yang paling tua!!"
"Paan sih?" Saya masih blum paham
"Anjir,,, lu gerakin pembukaan deh, step terakhirnya lu taruh telapak tangan di punggung gw. Paham?"
Saya melakukan apa yang dia perintahkan, meminjamkan 'sesuatu' yang paling tua. Dia memasang kuda2 dan menerimanya. Menarik nafas dalam2, mengeluarkanya pelan2. Mendesis seperti ular. Dan ketika musuk sudah dalam dua kli jarak serang Codet menghembuskan nafasnya dan mengeluarkan suara seperti auman seekor harimau. Keras sekali. Lima orang di depanya terlihat gemetar. Sangat gemetar, mereka melihat ke atas Codet. Seperti melihat sosok yang lain.
.
Codet mengajak saya mampir ke sebuah kedai kopi giras. Codet memulai lagi pembicaraan, kayaknya serius
"Tinggalin Ayu Wan"
"Heh?"
"Lu mau di kejar2 trus seperti ini?" Dia beranjak sambil menepuk pundak saya. I guess he is right
Tapi saya waktu itu baru berumur 20 tahun, gak kuat mikir sejauh itu. Jadi saya putuskan untuk tetap tinggal, tetap menjalin hubungan dengan Ayu dan masalah preman bayaran Papa nya? Ah... Pikir belakangan

Sudah sangat larut ketika kami memutuskan untuk pulang. Ayu mengantar kan saya sampai ke depan gerbang kost. Memberikan kecupan yang cukup 'panas' kemudian berlalu begitu saja. Meninggalkan saya menggantung! Damn it, kenapa dia membiarkan pikiran liar itu masuk di otak saya! Saya kan....
Sabun, come here please

Saya masuk ke kost, menyalakan lampu ruang tengah dan mendapati Pak Tarno sedang melamun, nampaknya sedang banyak pikiran. Saya mendekatinya dan memulai berbasa basi ria
"Kok gabung sama anak2 Pak?" Saya tidak menemui jones2 laknat, teman se kost an saya di depan, mereka pasti ngopi di pinggiran Balong Sari
"Ah, gak ah Mas..." Dia kayaknya kebingungan hendak memanggil saya
"Iwan, saya Iwan, temen sekamar Pak Tarno, sejak sebulan yang lalu" blum kenal setelah tidur berhimpitan selama sebulan? Kalian akan mengalaminya kalo punya temen sekamar seperti Pak Tarno ini. Pembicaraan pun berlanjut ke arah yang lebih dalam, lebih intens
eh....Asli orang ngawi, bapak dengan satu anak. Dulu berprofesi sebagai penjual pentol di daerahnya. Penghasilanya gak besar, tapi cukup untuk menghidupi keluarganya. Sampai suatu ketika motornya hilang, dicuri orang, jelas! Motor adalah satu2 nya sarana buat menghidupi keluarganya.
Setelah menganggur beberapa bulan akhirnya Pak Tarno memutuskan buat beli motor lagi menguras hampir seluruh tabunganya untuk membeli motor bekas. Lewat makelar
Yeah, seperti yang kalian tebak. Motor yang baru saja di beli itu ternyata surat2nya di gadaikan oleh makelar tadi, nunggak sampai lima bulan (anggep saja segitu) Dan tentu saja Pak Tarno jadi kejar2an Bank. Dia menyerah dan dengan berat hati memberikan motor tsb ke pihak Bank. Harapan terakhirnya hilang.
Sekitar setahun kemudian, mungkin karena tidak kuat dengan keadaan ekonomi ancur dan gak kunjung membaik, istrinya pergi dari rumah dan membawa serta anaknya. Pak Tarno....

Sebulan kemudian Pak Tarno memutuskan untuk merantau ke Surabaya. Dia mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik Mur (baut) di kompleks pergudangan Margomulyo, dia kerja di sini dengan jaminan uang sebesar 2juta. And guess what, dia ketipu lagi

Dan di sinilah dia sekarang, pengangguran, uang mepet. Aaa... Pengen mewek...
"Emm, maaf nie ya Pak, kemaren Bapak doa apa sih kok sampek mewek gt?"

"Hemm...eh..." :kagets
"Minta rejeki?"

"Hemm, bukan2... iya sih... secara gak langsung jg minta tejeki...., saya cuma iri Mas, kepada mereka yang jalan2 di taman, sepasang suami istri menggandeng anaknya di tengah, saya pengen seperti itu..."

"Eh, tadi saya liat temen Mas Iwan nangis di depan itu kenapa?"
"Hoh... yang mana?"

"Yang tadi sore itu loh., cewek"
"Oh itu, Bapak nya gak suka sama Saya Pak" saya menjawab dengan enteng
"Cuman gak di restuin? Tp kok, kayaknya dia khawatir banget Mas?"
"Hemmm..., bapaknya menyuruh preman buat nangkep saya Pak"
"Nangkep? Buat apaan?"

"Di habisi, mungkin"
"Di...habisi?"
"Di bunuh Pak"
"Heeh....."
Pingsan
Hari berganti seperti biasa, saya putuskan untuk tetap tinggal di sini. Menghiraukan permintaan Ayu. Toh Sampai saat ini saya masih baik2 saja. Gak lecet sedikitpun. Orang2 suruhan Si Burhan tetep setia mengikuti saya. Dan sesekali menyerang saya ketika ada kesempatan. Tapi dengan bantuan Codet serangan mereka menjadi gampang saya atasi. Kebanyakan cuman si Codet sih yang pegang kendali. Saya cuman merokok di trotoar melihat Codet menghabisi 4-5 orang pada setiap kesempatan. He is the best among us
Ayu benar. Ayahnya tidak gampang menyerah. Setiap kali gerombolan pesuruh itu datang mereka membawa senjata baru. Seperti saat ini
Lima orang menghadang saya dan Codet ketika lagi asik nongkrong di pinghiran gang kompleks pergudangan. Masing2 bawa sajam, parang dan err... katana ?
. Great!! "Kabur Det!!" Saya menarik tangan Codet kemudian berlari sekencang mungkin"Lawan ajah yuk Wan! Toh cuman lima orang"
"Gila lu, bawa sajam gitu di lawan??" Kemudian kami kembali berlari
"Eh bentar"

"Paan?"
"Bukanya lu punya ilmu kebal bacok Det?"

"Oiya si...." Codet balik arah kemudian memasang kuda2, beberapa saat kemudian... kabur lagi
"Kok malah kabur Nyet?!"
"Sorry gw lupa, gw dah gak perjaka lagi. Ilang juga tuh ilmu sialan"
"Hah!!!? Trus siapa tuh cewek apes?"
"Boro2 cewek Wan" ekspresinya sekejap berubah
"Maksud?"

"Kembang Kuning" dia menjawab dengan ragu, seketika itu tawa saya lepas
"Lu? Buang keperjakaan di Kembang Kuning? Sama batang?"
Pfffttt....

"Udah diem dulu, pinjemin gw satu. Biar gw rontokin mereka"
"Pinjem? Apaan?"
"Ah lu, pinjemin yang paling tua!!"
"Paan sih?" Saya masih blum paham
"Anjir,,, lu gerakin pembukaan deh, step terakhirnya lu taruh telapak tangan di punggung gw. Paham?"
Saya melakukan apa yang dia perintahkan, meminjamkan 'sesuatu' yang paling tua. Dia memasang kuda2 dan menerimanya. Menarik nafas dalam2, mengeluarkanya pelan2. Mendesis seperti ular. Dan ketika musuk sudah dalam dua kli jarak serang Codet menghembuskan nafasnya dan mengeluarkan suara seperti auman seekor harimau. Keras sekali. Lima orang di depanya terlihat gemetar. Sangat gemetar, mereka melihat ke atas Codet. Seperti melihat sosok yang lain.
.Codet mengajak saya mampir ke sebuah kedai kopi giras. Codet memulai lagi pembicaraan, kayaknya serius
"Tinggalin Ayu Wan"
"Heh?"
"Lu mau di kejar2 trus seperti ini?" Dia beranjak sambil menepuk pundak saya. I guess he is right
Diubah oleh twinroses 27-06-2015 11:36
0