- Beranda
- Stories from the Heart
Aku mah gitu orangnya
...
TS
veronita
Aku mah gitu orangnya
Quote:
Quote:
Spoiler for penting:
Spoiler for index:
Diubah oleh veronita 23-07-2015 16:44
0
65.4K
469
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
veronita
#410
Part 41
malam hari ini aku banyak melamun dikamar. Aku memikirkan tentang masa kuliahku nanti. Aku harus mempersiapkan itu semua dari sekarang. Terutama masalah biaya. Yang menjadi rincian biaya kuliah bukan hanya bayaran semester. Tapi ada juga uang saku harian, biaya gaul juga bisa masuk dalam list.
Aku nggak mau memberatkan mama. Penghasilan mama untuk keperluan sehari-hari, jika lebih ditabung, sedangkan biaya kuliah, aku harus bisa sendiri. Itu yang ada dipikiranku.
Tapi kan nggak mungkin juga aku harus beralih jadi cewek matre kecentilan. Itu sudah menyangkut harga diri. Dalam keadaan seterpaksa apapun aku nggak akan melakukan itu.
Disaat seperti ini aku jadi teringat papa. Seharusnya jika ada papa aku nggak perlu terlalu memikirkan biaya kuliah. Mama bagaimanapun juga hanya wanita biasa. Mempunyai keterbatasan.
Kuambil nafas panjang lalu kuhembuskan perlahan. Mataku mulai agak terpejam, telingaku tersumpal headset, acara kak ikhsan pas banget waktunya, bisa menjadi pengantar tidur.
Aku belum benar-benar terlelap ketika ada seseorang yang melepas headset dari telingaku. Dari aroma parfum yang bercampur bau rokok, aku tau itu rafi. Setelah melepas headset ditelingaku rafi sedikit membelai kepalaku.
Aku : "rafi salin dulu, cuci muka sana dulu ah, bau rokoknya nggak enak...
"
rafi : "aku kira udah tidur
"
aku : "kamu itu main mulu, kencan mulu jam segini baru balik, bau rokok, pikirin kuliah kamu fi"
rafi : "nyantai kuliah mah, loby dikit aja dosennya kelar urusan, bentar ya kamu jangan molor dulu, sekolah udah bebas kan?
Aku : "iya buruan gih"
rafi itu orang yang sangat mengenal aku. Terkadang bisa seperti dukun, bisa membaca pikiranku. Seperti saat ini contohnya, rafi sepertinya tau aku ingin sedikit bercerita. Tentang apa yang sedang kupikirkan.
Rafi : "masih bau rokok nggak nih? *nyodorin ketiak*"
aku : "nggak bau rokok, tp bau badak, pernah nyium bau badak nggak fi?"
rafi : "nggak pernah, emang kamu pernah?
"
aku : "ini badaknya didepan aku
rafi sana jauh2, takut ah rafi sekarang PK, nanti aku digerayangin
"
rafi : "kamu segitunya banget
mana ada pikiran ngeres kalo sama kamu, rata gitu, mana bisa bikin nafsu
"
aku : "mau keluar sendiri apa nunggu diusir?
*lempar bantal*"
rafi : "becanda, kamu lagi mikirin apa belum bisa tidur? Cerita aja aku dengerin"
aku menceritakan kepada rafi tentang rencanaku ketika lulus sekolah nanti. Rafi mendukung penuh. Sempat menawarkan diri bilang dengan papanya untuk membantu masalah kuliahku. Tapi aku menolak.
Hutang budi itu tak bisa dinilai dengan angka atau nominal, tak bisa diukur dengan kualitas ataupun kuantitas. Wujudnya semu. Budi baik dibalas budi baik, terdengar sederhana, tapi sebenarnya sebuah kewajiban tak terduga. Kamu nggak tau pasti kapan harus membayarnya, kamu juga nggak akan tau apakah masih ada waktu untuk membalasnya.
Aku : "fi aku mau dong dikenalin sama pacar kamu"
rafi : "pacar apaan, belum ada kok"
setelah membahas topik yang agak berat aku mencairkan suasana sedikit. Mengganti topik pembicaraan.
aku : "bohong..."
rafi : "beneran... Kalo gebetan sih berderet
"
aku : "idih mau aja itu cewek2 digebet sama PK
"
rafi : "kamu mendingan tidur deh, drpd makin ngeselin
"
aku : "becanda
gimana pun juga kamu itu tak tergantikan kok
"
rafi : "hahaha... kamu inget nggak dulu kamu waktu masih SMP bla bla bla bla.........."
entah rafi menceritakan apa. Mataku sudah tak tertahan lagi. Perlahan aku terlelap.
Keesokan paginya aku terbangun mendengar hp ku berdering. Ada sebuah sms dari reno. Setelah kubaca, kok sepertinya ada yang aneh. Nggak biasanya reno pake sayang segala.
Sms aku : "kamu mimpi apa semalem? Tumben pake sayang segala?
"
sms reno : "kan kamu duluan tadi yang pake sayang
"
sms aku : "aku baru bangun tidur tauuuu"
sms reno : "lah berarti yg sms aku tadi siapa?
"
setelah kulihat dipesan terkirim memang benar ada sms yang dikirim untuk reno. Ini pasti kerjaan rafi
sms aku : "ah kali juga rafi iseng"
sms reno : "sial
eh kamu mau kesekolah nggak?"
sms aku : "nggak ah, aku masih ngantuk, mau tidur lagi aja"
sms reno : "oh ya udah, aku mungkin kesekolah bentar nati"
sms aku : "kalo siang nanti nggak sibuk, temenin aku cari buku"
sms reno : "buku apa?"
sms aku : "novel2 gitu pokoknya, buat bahan bacaan liburan nanti"
sms reno : "ok siap, nanti agak siang aku kerumah kamu"
sms aku : "iya ati2, awas jangan kecentilan tepe2 disekolah kalo lg nggak ada aku
"
malam hari ini aku banyak melamun dikamar. Aku memikirkan tentang masa kuliahku nanti. Aku harus mempersiapkan itu semua dari sekarang. Terutama masalah biaya. Yang menjadi rincian biaya kuliah bukan hanya bayaran semester. Tapi ada juga uang saku harian, biaya gaul juga bisa masuk dalam list.
Aku nggak mau memberatkan mama. Penghasilan mama untuk keperluan sehari-hari, jika lebih ditabung, sedangkan biaya kuliah, aku harus bisa sendiri. Itu yang ada dipikiranku.
Tapi kan nggak mungkin juga aku harus beralih jadi cewek matre kecentilan. Itu sudah menyangkut harga diri. Dalam keadaan seterpaksa apapun aku nggak akan melakukan itu.
Disaat seperti ini aku jadi teringat papa. Seharusnya jika ada papa aku nggak perlu terlalu memikirkan biaya kuliah. Mama bagaimanapun juga hanya wanita biasa. Mempunyai keterbatasan.
Kuambil nafas panjang lalu kuhembuskan perlahan. Mataku mulai agak terpejam, telingaku tersumpal headset, acara kak ikhsan pas banget waktunya, bisa menjadi pengantar tidur.
Aku belum benar-benar terlelap ketika ada seseorang yang melepas headset dari telingaku. Dari aroma parfum yang bercampur bau rokok, aku tau itu rafi. Setelah melepas headset ditelingaku rafi sedikit membelai kepalaku.
Aku : "rafi salin dulu, cuci muka sana dulu ah, bau rokoknya nggak enak...
"rafi : "aku kira udah tidur
"aku : "kamu itu main mulu, kencan mulu jam segini baru balik, bau rokok, pikirin kuliah kamu fi"
rafi : "nyantai kuliah mah, loby dikit aja dosennya kelar urusan, bentar ya kamu jangan molor dulu, sekolah udah bebas kan?
Aku : "iya buruan gih"
rafi itu orang yang sangat mengenal aku. Terkadang bisa seperti dukun, bisa membaca pikiranku. Seperti saat ini contohnya, rafi sepertinya tau aku ingin sedikit bercerita. Tentang apa yang sedang kupikirkan.
Rafi : "masih bau rokok nggak nih? *nyodorin ketiak*"
aku : "nggak bau rokok, tp bau badak, pernah nyium bau badak nggak fi?"
rafi : "nggak pernah, emang kamu pernah?
"aku : "ini badaknya didepan aku
rafi sana jauh2, takut ah rafi sekarang PK, nanti aku digerayangin
"rafi : "kamu segitunya banget
mana ada pikiran ngeres kalo sama kamu, rata gitu, mana bisa bikin nafsu
"aku : "mau keluar sendiri apa nunggu diusir?
*lempar bantal*"rafi : "becanda, kamu lagi mikirin apa belum bisa tidur? Cerita aja aku dengerin"
aku menceritakan kepada rafi tentang rencanaku ketika lulus sekolah nanti. Rafi mendukung penuh. Sempat menawarkan diri bilang dengan papanya untuk membantu masalah kuliahku. Tapi aku menolak.
Hutang budi itu tak bisa dinilai dengan angka atau nominal, tak bisa diukur dengan kualitas ataupun kuantitas. Wujudnya semu. Budi baik dibalas budi baik, terdengar sederhana, tapi sebenarnya sebuah kewajiban tak terduga. Kamu nggak tau pasti kapan harus membayarnya, kamu juga nggak akan tau apakah masih ada waktu untuk membalasnya.
Aku : "fi aku mau dong dikenalin sama pacar kamu"
rafi : "pacar apaan, belum ada kok"
setelah membahas topik yang agak berat aku mencairkan suasana sedikit. Mengganti topik pembicaraan.
aku : "bohong..."
rafi : "beneran... Kalo gebetan sih berderet
"aku : "idih mau aja itu cewek2 digebet sama PK
"rafi : "kamu mendingan tidur deh, drpd makin ngeselin
"aku : "becanda
gimana pun juga kamu itu tak tergantikan kok
"rafi : "hahaha... kamu inget nggak dulu kamu waktu masih SMP bla bla bla bla.........."
entah rafi menceritakan apa. Mataku sudah tak tertahan lagi. Perlahan aku terlelap.
Keesokan paginya aku terbangun mendengar hp ku berdering. Ada sebuah sms dari reno. Setelah kubaca, kok sepertinya ada yang aneh. Nggak biasanya reno pake sayang segala.
Sms aku : "kamu mimpi apa semalem? Tumben pake sayang segala?
"sms reno : "kan kamu duluan tadi yang pake sayang
"sms aku : "aku baru bangun tidur tauuuu"
sms reno : "lah berarti yg sms aku tadi siapa?
"setelah kulihat dipesan terkirim memang benar ada sms yang dikirim untuk reno. Ini pasti kerjaan rafi

sms aku : "ah kali juga rafi iseng"
sms reno : "sial
eh kamu mau kesekolah nggak?"sms aku : "nggak ah, aku masih ngantuk, mau tidur lagi aja"
sms reno : "oh ya udah, aku mungkin kesekolah bentar nati"
sms aku : "kalo siang nanti nggak sibuk, temenin aku cari buku"
sms reno : "buku apa?"
sms aku : "novel2 gitu pokoknya, buat bahan bacaan liburan nanti"
sms reno : "ok siap, nanti agak siang aku kerumah kamu"
sms aku : "iya ati2, awas jangan kecentilan tepe2 disekolah kalo lg nggak ada aku
"0
