- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465.5K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#654
A Part 27
Reza diluar? Maksudnya di luar rumah. Aku segera melihat dari jendela di atas dan benar saja aku lihat dia sedang berada di depan pagar rumahku. Apa maksudnya.
“Bentar..” Aku menutup teleponya lalu pergi ke luar menemui Reza.
…***..
“Ada apa Za?” Tanyaku kepada Reza.
“Eyy, kok masih piyama, belum mandi ya?”
“Ehh. Terserah aku donk.”
“Sudah mandi sana…”
“Buat apa…?”
“Maiin..”
“apa?”
“Semalem kan aku sms, main yuk. Terus kamu gak bales Ni. Karena kamu gak bales jadinya aku anggap iya aja.”
“Loh kok gitu?”
“Kamu gak ngasih jawaban, yaudah jawabanya sepihak aja. Iya, aku anggap iya karena kamu gak bales.” Nyengir Reza.
“Wew kok begitu.. kan aku belum kasih jawaban dari akunya.”
“Yauda aku tunggu jawaban dari kamu, mau main gak?” Tanya Reza.
“Hmm.. aku harus jaga rumah, kak Fe sedang pergi.”
“YAHHH..” Tampaknya Reza kecewa mendengar jawabanku. Ekspresinya jadi murung gitu. Aku kok jadi gak enak ya lihat dia jauh-jauh ke rumahku.
“Tapi besok mah hayu Za, besok libur kan?” Kataku.
“Serius besok mau?”
“Iya…”
“Yauda besok aku kesini lagi ya Ni… Good bye!!”
“Bye…”
Reza pergi dan aku pun masuk lagi ke rumah. Tapi, kok heran kenapa aku tadi yang jadi ngajak Reza main ya besok. Aduh emang dasar aku ini orangnya gak bisa nolak dan gak enakan, jadi gini deh, bikin janji asal ceplos aja.
“Ngobrol ama siapa Ni diluar?” Tanya ibu yang sudah bangun dan kayaknya di memperhatikan aku tadi ngobrol di luar.
“Teman, Bu.”
“Oh kirain itu pacar kamu?” Kata ibu.
“Ih bukan ibu, itu mah temen.”
“Hahaa, kemana kakakmu?” Ibu menanyakan kak Fe.
“Gak tau Bu, tadi pergi keluar.”
…..
***…
Keesokan harinya Reza mengajaku nonton, kebetulan sekali memang aku butuh tontonan baru setelah film-film di kaset di rumah sudah bosan. Aku masih belum tau maksud Reza ngajak aku main. Tapi, dia nampak senang sekali ketika aku pergi bersamanya. Dia cerita banyak hal, tapi aku gak terlalu intens memperhatikan apa yang dibicarakan dia. Aku cuman menanggapi seperlunya aja.
Setelah makan siang, aku dan Reza pun masuk ke teater pemutaran film, telat sih telat 10 menitan. Ini gara-gara Reza yang makannya lama. Ketika aku memasuki teater dan mencari tempat duduk. Kok aku kayak melihat kak Fe ya disana, dia duduk berdua bareng seorang cewek yang aku gak kenal. Aku yang duduk di belakang dia terus memperhatikan orang yang mirip kak Fe tersebut. Tapi, setelah diamati lebih lama, aku yakin itu kak Fe. Aku yakin sekali karena dia sempat menengok ke belakang dan aku yakin itu pasti dia. Tapi duduk bersama siapa? Berduaan dengan cewek? Dibarisan kursi yang kak Fe duduki hanya mereka berdua saja. Wah jangan-jangan kak Fe…ini….
Aduh daripada berpikir yang enggak-enggak aku lebih baik nonton filmnya saja dan berharap kak Fe gak mengetahui keberadaanku juga. Kalau ketahuan sih, aku yang repot setelah disebelumnya aku diledekin punya pacar oleh dia.
“HAHAHAHAHA..” Tawa Reza melihat adegan di film.
“HEHEHEHEHE..” Biasa aja sih. Aku memandangi Reza, dia duduk bersila di kursinya aduh emang ini anak seenaknya aja duduk.
“Lucu Za?”
“Lucu lah..”
“Owhahahaa.” Aku pura-pura aja.
Selama film berlangsung, aku malah lebih banyak ngobrolnya bareng Reza daripada mencerna isi filmnya.
Setelah filmnya berakhir aku mengajak Reza untuk cepat-cepat keluar dari teater, takut ketahuan kak Fe soalnya…
Reza terus saja membicarakan tentang film itu, aku sih mau ngomentarin apa, aku gak fokus liat filmnya juga, ngobrol mulu ama Reza.
Sambil berjalan rasanya aku mendengar siulan atau suara dibelakangku. Tapi aku acuhkan saja, mungkin perasaanku saja atau memang bukan ditujukan buatku.
“Woiiii Aniii ! Reza!”
Aku terkejut begitu juga Reza yang berhenti mengoceh dan nampak kaget juga mendengar teriakan dibelakang kita. Kemudian aku dan Reza sama-sama membalikan badan dan Surprisee.. ternyata itu kak Fe…
Oh.. dari tadi kak Fe berada di belakangku, pantes saja seperti ada yang ngata-ngatain dibelakang…
Kak Fe masih berdua dengan cewek yang aku gak tau. Belum pernah aku melihatnya baik di sekolah atau dimanapun. Cewek itu kayak orang jepang yang pernah aku lihat difilm dia berambut pendek dan dia mengenakan rok dan tampak manis tapi sayang dia nampak murung dan matanya agak merah kayak habis nangis.
“Loh ada kak Fe?”
“Selamat yakkk.”
“Selamat buat apa kak?”
“Ciyeee ah Ani ciyeee…” Dia mulai meledek lagi.
“Ciyeee apa kak?”
“Lagi jalan nih yee, ups gue ganggu gak nih..”
“Iya nih kak Fe, ani ngajak main.” Kata Reza.
“Ih.. apaan sih kamu, kamu yang ngajak aku nonton.”
“Kan kemarin kamu ngajak main hari ini…”
“Hahaha.. sudah-sudah jangan ribut disini, malu diliatin orang-orang” Kata kak Fe.
“Oh ya,,, Ani, Reza, ini temen gue namanya Stella, temen gue sejak kecil dari SD. Kebetulan lagi di sini.” Tambah kak Fe.
Oh.. syukurlah aku kira dia siapa, aku kira coupelanya kak Fe.
“Ani..”
“Reza..”
“Stella..”
Cewek tersebut hanya senyum saja, ketika cewek itu tersenyum dia nampak makin cantik karena senyuman manisnya tapi dibalik senyumannya kayak terdapat kesedihan yang mendalam.
“Kalian mau kemana ?” Tanya kak Fe.
“kemana Ni?” Tanya Reza.
“Laparr, makan yuk.” Aku menjawab antusias.
“Bukannya siang tadi udah makan?” Tanya Reza heran.
“Apaan cuman somay doang.”
“Ih dasar kebo hobi makan lagi.. Stell, mau ikut mereka makan gak?” Ledek kak Fe.
“Boleh…” Jawab cewek yang bernama Stella itu singkat.
Akhirnya aku yang tadinya bareng Reza berdua kini jadi berempat bareng kak Fe dan temannya. Kami makan dulu. Sambil makan kami ngobrol-ngobrol, aku diledekin terus sama kak Fe, Reza malah ikutan ngeledekin aku dan nampak begitu bahagia ketika aku dikata-katain kak Fe. Sementara temannya kak Fe, hanya diam saja gak banyak bicara. Tatapannya begitu kosong, kepalanya selau menunduk, sepertinya banyak pikiran. Ini kak Fe bawa teman darimana… baru pertama kali aku bertemu teman kak Fe yang seperti ini, teman-teman di sekolah begitu aktif dan cerewet sedangkan yang satu ini tidak.
“Bentar..” Aku menutup teleponya lalu pergi ke luar menemui Reza.
…***..
“Ada apa Za?” Tanyaku kepada Reza.
“Eyy, kok masih piyama, belum mandi ya?”
“Ehh. Terserah aku donk.”
“Sudah mandi sana…”
“Buat apa…?”
“Maiin..”
“apa?”
“Semalem kan aku sms, main yuk. Terus kamu gak bales Ni. Karena kamu gak bales jadinya aku anggap iya aja.”
“Loh kok gitu?”
“Kamu gak ngasih jawaban, yaudah jawabanya sepihak aja. Iya, aku anggap iya karena kamu gak bales.” Nyengir Reza.
“Wew kok begitu.. kan aku belum kasih jawaban dari akunya.”
“Yauda aku tunggu jawaban dari kamu, mau main gak?” Tanya Reza.
“Hmm.. aku harus jaga rumah, kak Fe sedang pergi.”
“YAHHH..” Tampaknya Reza kecewa mendengar jawabanku. Ekspresinya jadi murung gitu. Aku kok jadi gak enak ya lihat dia jauh-jauh ke rumahku.
“Tapi besok mah hayu Za, besok libur kan?” Kataku.
“Serius besok mau?”
“Iya…”
“Yauda besok aku kesini lagi ya Ni… Good bye!!”
“Bye…”
Reza pergi dan aku pun masuk lagi ke rumah. Tapi, kok heran kenapa aku tadi yang jadi ngajak Reza main ya besok. Aduh emang dasar aku ini orangnya gak bisa nolak dan gak enakan, jadi gini deh, bikin janji asal ceplos aja.
“Ngobrol ama siapa Ni diluar?” Tanya ibu yang sudah bangun dan kayaknya di memperhatikan aku tadi ngobrol di luar.
“Teman, Bu.”
“Oh kirain itu pacar kamu?” Kata ibu.
“Ih bukan ibu, itu mah temen.”
“Hahaa, kemana kakakmu?” Ibu menanyakan kak Fe.
“Gak tau Bu, tadi pergi keluar.”
…..
***…
Keesokan harinya Reza mengajaku nonton, kebetulan sekali memang aku butuh tontonan baru setelah film-film di kaset di rumah sudah bosan. Aku masih belum tau maksud Reza ngajak aku main. Tapi, dia nampak senang sekali ketika aku pergi bersamanya. Dia cerita banyak hal, tapi aku gak terlalu intens memperhatikan apa yang dibicarakan dia. Aku cuman menanggapi seperlunya aja.
Setelah makan siang, aku dan Reza pun masuk ke teater pemutaran film, telat sih telat 10 menitan. Ini gara-gara Reza yang makannya lama. Ketika aku memasuki teater dan mencari tempat duduk. Kok aku kayak melihat kak Fe ya disana, dia duduk berdua bareng seorang cewek yang aku gak kenal. Aku yang duduk di belakang dia terus memperhatikan orang yang mirip kak Fe tersebut. Tapi, setelah diamati lebih lama, aku yakin itu kak Fe. Aku yakin sekali karena dia sempat menengok ke belakang dan aku yakin itu pasti dia. Tapi duduk bersama siapa? Berduaan dengan cewek? Dibarisan kursi yang kak Fe duduki hanya mereka berdua saja. Wah jangan-jangan kak Fe…ini….
Aduh daripada berpikir yang enggak-enggak aku lebih baik nonton filmnya saja dan berharap kak Fe gak mengetahui keberadaanku juga. Kalau ketahuan sih, aku yang repot setelah disebelumnya aku diledekin punya pacar oleh dia.
“HAHAHAHAHA..” Tawa Reza melihat adegan di film.
“HEHEHEHEHE..” Biasa aja sih. Aku memandangi Reza, dia duduk bersila di kursinya aduh emang ini anak seenaknya aja duduk.
“Lucu Za?”
“Lucu lah..”
“Owhahahaa.” Aku pura-pura aja.
Selama film berlangsung, aku malah lebih banyak ngobrolnya bareng Reza daripada mencerna isi filmnya.
Setelah filmnya berakhir aku mengajak Reza untuk cepat-cepat keluar dari teater, takut ketahuan kak Fe soalnya…
Reza terus saja membicarakan tentang film itu, aku sih mau ngomentarin apa, aku gak fokus liat filmnya juga, ngobrol mulu ama Reza.
Sambil berjalan rasanya aku mendengar siulan atau suara dibelakangku. Tapi aku acuhkan saja, mungkin perasaanku saja atau memang bukan ditujukan buatku.
“Woiiii Aniii ! Reza!”
Aku terkejut begitu juga Reza yang berhenti mengoceh dan nampak kaget juga mendengar teriakan dibelakang kita. Kemudian aku dan Reza sama-sama membalikan badan dan Surprisee.. ternyata itu kak Fe…
Oh.. dari tadi kak Fe berada di belakangku, pantes saja seperti ada yang ngata-ngatain dibelakang…
Kak Fe masih berdua dengan cewek yang aku gak tau. Belum pernah aku melihatnya baik di sekolah atau dimanapun. Cewek itu kayak orang jepang yang pernah aku lihat difilm dia berambut pendek dan dia mengenakan rok dan tampak manis tapi sayang dia nampak murung dan matanya agak merah kayak habis nangis.
“Loh ada kak Fe?”
“Selamat yakkk.”
“Selamat buat apa kak?”
“Ciyeee ah Ani ciyeee…” Dia mulai meledek lagi.
“Ciyeee apa kak?”
“Lagi jalan nih yee, ups gue ganggu gak nih..”
“Iya nih kak Fe, ani ngajak main.” Kata Reza.
“Ih.. apaan sih kamu, kamu yang ngajak aku nonton.”
“Kan kemarin kamu ngajak main hari ini…”
“Hahaha.. sudah-sudah jangan ribut disini, malu diliatin orang-orang” Kata kak Fe.
“Oh ya,,, Ani, Reza, ini temen gue namanya Stella, temen gue sejak kecil dari SD. Kebetulan lagi di sini.” Tambah kak Fe.
Oh.. syukurlah aku kira dia siapa, aku kira coupelanya kak Fe.
“Ani..”
“Reza..”
“Stella..”
Cewek tersebut hanya senyum saja, ketika cewek itu tersenyum dia nampak makin cantik karena senyuman manisnya tapi dibalik senyumannya kayak terdapat kesedihan yang mendalam.
“Kalian mau kemana ?” Tanya kak Fe.
“kemana Ni?” Tanya Reza.
“Laparr, makan yuk.” Aku menjawab antusias.
“Bukannya siang tadi udah makan?” Tanya Reza heran.
“Apaan cuman somay doang.”
“Ih dasar kebo hobi makan lagi.. Stell, mau ikut mereka makan gak?” Ledek kak Fe.
“Boleh…” Jawab cewek yang bernama Stella itu singkat.
Akhirnya aku yang tadinya bareng Reza berdua kini jadi berempat bareng kak Fe dan temannya. Kami makan dulu. Sambil makan kami ngobrol-ngobrol, aku diledekin terus sama kak Fe, Reza malah ikutan ngeledekin aku dan nampak begitu bahagia ketika aku dikata-katain kak Fe. Sementara temannya kak Fe, hanya diam saja gak banyak bicara. Tatapannya begitu kosong, kepalanya selau menunduk, sepertinya banyak pikiran. Ini kak Fe bawa teman darimana… baru pertama kali aku bertemu teman kak Fe yang seperti ini, teman-teman di sekolah begitu aktif dan cerewet sedangkan yang satu ini tidak.
0
