Kaskus

Story

ShadowroadAvatar border
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ane mau share novel buatan ane sendiri gan

Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural

Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati


Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang

Spoiler for Begini gan ceritanya::



Gan, setelah baca mohon komennya, ya

Ane sangat menerima kritik dan saran

Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini

emoticon-Malu (S)Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya ganemoticon-Malu (S)

emoticon-Blue Guy PeaceTerima kasih ganemoticon-Blue Guy Peace
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87.1K
544
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
ShadowroadAvatar border
TS
Shadowroad
#137
Part 19: Lantai Tiga
Rencana Erik adalah membersihkan lantai empat dan terus turun hingga lantai pertama. Maksudnya adalah membukakan jalan untuk bala bantuan dari Paladin dan Silver Swords dengan cara mengepung vampire-vampire yang ada di lantai empat hingga satu. Erik dan kelompoknya menyerang dari lantai empat hingga turun ke lantai satu. Sementara bantuan dari Silver Swords dan Paladin terus menyerang dari lantai satu hingga ke atas. Ringkasnya, Erik bermaksud menjepit para vampire.

Erik menggunakan rencana ini karena dia realistis. Dengan kondisi kelompoknya yang tidak siap bertarung seperti itu, dia tidak akan menang jika menyerang ke lantai lima yang sudah dikuasai vampire. Meskipun secara ajaib Erik dan kelompoknya berhasil menaklukkan lantai lima, para vampire dari lantai atas dan bawah akan menjepit dan menghancurkan mereka. Beberapa vampire dari lantai lima sudah mencoba turun untuk menghancurkan pertahanan Silver Swords pimpinan Erik di lantai empat. Mau tidak mau, Erik dan kelompoknya harus kabur menuju lantai tiga sesuai rencana mereka dengan tangga. Terpaksa menggunakan tangga lebih tepatnya. Karena para vampire sudah menonaktifkan semua lift di rumah sakit ini. Selama bertarung dan berjalan, Kartika dan Niken menyembuhkan luka-luka Erik akibat pertarungan dengan kemampuan vitakinesis mereka.

Ketika menuruni tangga dari lantai empat menuju lantai tiga, Erik melirik Mario. Playboy yang mampu mengendalikan logam itu mukanya merah padam. Erik tahu bahwa Mario sedang marah. Namun, tidak biasanya Mario semarah ini. Bahu Mario mengalami pendarahan. Anehnya dia sama sekali tidak terlihat kesakitan. Saat ini, bahu Mario sedang disembuhkan oleh Kartika. Anggota Paladin yang kuliah di kedokteran.

Quote:


Erik terdiam selama beberapa detik. Menunggu jawaban Mario. Mario tetap menunduk dengan muka merah padam. Dia menggigit bibir bawahnya dan terlihat berpikir.

Quote:


Tangga di rumah sakit ini bergaya spiral. Selain itu jarak dari lantai empat ke lantai tiga cukup tinggi juga. Entah apa yang dipikirkan si arsitek ketika merancang rumah sakit ini. Lebih tepatnya, apa yang dipikirkan si arsitek ketika akan membangung rumah sakit jiwa ini. Tidak lama ketika baru sampai pertengahan tangga, mereka berpapasan dengan dua orang vampire yang sedang naik ke lantai empat. Vampire itu tampak terkejut dan menodongkan pistol mereka pada kelompok Erik.

Quote:


Tidak banyak bicara, Mario mengeluarkan pengendalian logamnya. Sambil berpura-pura mengangkat tangan, Mario mengarahkan kedua tangannya ke dua pistol yang digenggam oleh vampire-vampire itu. Pistol-pistol itu tiba-tiba terbang di udara dan para vampire mundur ketakutan melihat kejadian itu. Dengan pengendalian logamnya, Mario menembakkan beberapa peluru ke tubuh dan kepala dua vampire itu. Ya, kepala. Meskipun kepala mereka sudah berlubang, mereka tetap tidak mati. Mereka bangkit dan menunjukkan cakar-cakar yang tajam. Mario lalu menghabiskan seluruh peluru yang ada untuk melumpuhkan dua vampire itu.

Tubuh dua vampire ini sudah bermandikan darah. Karena kekurangan darah, dua vampire itu langsung menunjukkan taring mereka dan mencoba menggigit Maya yang berdiri paling depan. Usaha mereka sia-sia. Mereka merasakan ada sesuatu yang menghantam perut sehingga membuat mereka terhempas. Di saat dua vampire ini pusing karena terbentur dinding gara-gara tinju angin buatan Maya, mereka merasakan benda runcing terbenam di dada kiri mereka.

Quote:


Niken berjongkok dan menggeledah dua mayat vampire yang terkapar. Cukup cepat baginya untuk menemukan empat set peluru. Dia memberikanya pada Mario. Mario berterima kasih pada Niken dan segera memasukkan ke sakunya. Mereka pun segera menuruni tangga lagi.

Lima orang vampire muncul ketika Erik dan kelompoknya hampir sampai di kaki tangga. Mereka langsung mengangkat senjata dan menembaki kelompok Erik. Usaha mereka sia-sia. Peluru-peluru itu terhenti dan sekarang melayang di udara. Tidak percaya apa yang mereka lihat, sekali lagi mereka mencoba menembaki kelompok Erik. Namun hasilnya tetap saja. Bahkan hingga pistol dan submachinegun mereka mengeluarkan bunyi klik berkali-kali yang berarti kehabisan peluru. Semua peluru yang dimuntahkan terhenti dan melayang di udara.

Quote:


Tahu akan rencana Mario, Erik dan Kartika memberikan sedikit listrik kuning di peluru-peluru yang melayang di udara. Dua pengendali listrik itu tahu bahwa peluru-peluru sebanyak itu tetap tak akan bisa membunuh para vampire. Kulit-kulit mereka akan meregenerasi dan mengeluarkan peluru yang masuk ke tubuh. Karena itulah, mereka berdua menyelimuti peluru-peluru itu dengan listrik kuning untuk melumpuhkan mereka.

Quote:


Semua peluru yang terhenti di udara itu berbalik dan melesat dengan cukup cepat. Tidak secepat ketika ditembakkan dengan senjata. Peluru-peluru yang bagaikan lebah itu sudah cukup untuk melukai tiga vampire. Mereka menjerit karena tak kuasa menahan sakit ketika kulit mereka ditembus oleh peluru-peluru itu. Dua orang vampire berhasil kabur dari gempuran peluru Mario dengan kecepatan vampire mereka.

Quote:


Mereka berlima akhirnya sampai di kaki tangga dan menyentuh lantai tiga. Langsung saja menghajar para vampire yang masih terkapar lumpuh gara-gara listrik. Membalik tubuh mereka dan membenamkan pasak-pasak kayu ke tubuh mereka.

Quote:


Mereka akhirnya sampai di koridor lantai tiga. Benar dugaan Erik. Di sana berdiri seorang wanita vampire yang menatap kelompok Erik. Di belakang wanita itu, ada lebih dari sepuluh vampire dengan senjata lengkap. Erik sudah tahu, vampire ini bukan vampire biasa. Jika bukan vampire biasa, tentu saja vampire ini lebih buas daripada peluru liar dari vampire. Entah kenapa dia tersenyum sinis begitu melihat Maya. Maya pun demikian. Cewek pengendali angin itu tersenyum dan melangkah ke depan.

Quote:


Bentakan Maya itu mempengaruhi para vampire penuh senjata yang berdiri di belakang si vampire wanita. Mereka langsung melangkah mundur dan terlihat takut. Tidak hanya para vampire, Erik dan kelompoknya juga mundur satu langkah ketika Maya membentak. Itulah yang dia pelajari dari seorang Immortals. Kemampuan psikis yang mampu mempengaruhi mental. Hanya saja si vampire wanita yang tidak terpengaruh. Vampire itu hanya tersenyum kecil dan masih tetap berdiri di tempatnya.

Quote:


Callista sekarang berdiri seorang diri. Callista tetap tersenyum sambil memandang Maya. Kali ini, dia mengangkat jari tangannya dan menunjuk Maya.

Quote:


Erik semakin penasaran dengan istilah Immortals ini. Itu karena Erik baru masuk Silver Swords dan itupun tidak terlalu mempedulikan keadaan. Erik menyadari bahwa dirinya selama ini terlalu fokus pada misi sehingga tidak tahu kaum Immortals. Selain itu, dia baru tahu bahwa ternyata guru dan sekaligus partner kerjanya adalah seorang Immortals. Selama ini, dirinya mengira Arthur adalah manusia biasa yang sangat menyukai kisah Arthurian. Ternyata gurunya adalah tokoh utama dalam kisah Arthurianitu sendiri. Lalu Callista tadi menyebut dua nama Immortals: Aswatama dan Gilgamesh. Erik tahu Gilgamesh adalah Raja Sumeria. Sementara, Aswatama … yang dia tahu soal Aswatama adalah bahwa orang itu merupakan guru dari Amanda. Entahlah. Prioritas Erik sekarang adalah bertahan hidup di tengah situasi panas antara Maya dan Callista ini.

Quote:


Maya tersenyum mendengarkan jawaban Callista. Tangan Maya lalu terangkat ke atas, menggumpalkan angin, menajamkannya dan melemparkan angin itu ke Callista. Cukup dua kali hempasan tangan dari Callista, api vampire itu bertumbukan dengan pisau angin Maya ketika di udara.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.