Kaskus

Story

natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.

Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.


I Am (NOT) Your Sister

Big thanks to quatzlcoatlfor cover emoticon-Smilie

Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
imamarbaiAvatar border
pulaukapokAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465.8K
3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
#627
F Part 26
Setelah beres-beres kamar, minggu pagi gue memilih untuk menyalakan komputer dan online.

“Hey.. Fe… long time no see.”

Gue baca chat masuk di YM!. Gue udah lama sih gak buka YM! Chat tersebut 2 hari yang lalu.

“Siapa ya?” Ketik gue kepada akun tak di kenal ini.

“Ini gue Stella, Fe.” Balas dia langsung.

Ternyata pemilik akun tersebut sedang online juga.

Stella? Gak mungkin. Sudah lama gue gak mendengar nama itu.

“Stella Verliana?”

“Iyaaaaa.. apa kabar Fe?”

Gue melepaskan jari-jari gue di keyboard. Menatap layar komputer dengan seriusnya, memelotinya. Apa benar ini Stella? Gue mau lihat avatar YM! nya tapi entah kenapa avatarnya gak muncul-muncul. Koneksi gue sedang lemot kayaknya. Jika benar dia adalah Stella teman lama gue, gak nyangka deh. Stella itu adalah teman gue waktu SD dan SMP, Stella adalah temen sekelas gue sekaligus rival gue di kelas dari dulu. Dibilang deket juga sih nggak, cuman kita jarang berbicara tapi selalu ngumpul bareng genk SD dan SMP. Kadang kita gak pernah akur sampai pada akhirnya ada sebuah kejadian yang membuat kita akur dan mungkin mencoba untuk mengerti satu sama lain. Setelah lulus SMP dia pindah kota.

“Hai.. Stell, udah lama juga ya. I’m fine, hbu?”

“Baik, Fe gue sekarang lagi di Bandung.”

“Oyah?? Dimana?”

“Rumah yang dulu..”

“Ohh…”

“Kesini Fe.”

“siangan tapi ya?”

“Iya.. ditunggu.”

Habis Duzhur gue pergi ke rumah Stella, agak jauh sih rumahnya tapi tidak terlalu jauh juga. Naik angkot sekali juga nyampe.

“Sudah lama gue gak kesini” Gumam gue ketika sudah berdiri di depan rumah Stella. Rumahnya masih diurus ternyata, padahal sudah 3 tahun dia pindah ke ibukota. Gue memijit bel rumahnya menunggu dibukakan pintu.

“Hallo, selamat siang Tante. Stella nya ada?” Salam gue ke ibu Stella yang membukan pintu.

“Ini Felisha? Makin cantik aja. Yuk masuk ke dalam, Stella ada di dalam kok.”

“Makasih Tante.”

Gue segera masuk ke dalam rumahnya dan duduk bersama ibunya di sofa.

“Gimana kabar mamah?”

“Baik Tante. Tante sendiri?”

“Baik..Salam yah buat mamah, sebentar Tante panggilin dulu Stella nya ya.”

Ibu Stella beranjak dari sofa.

“Stella ada di kamarnya, kata dia kesana aja.”

“Oke Tante. Terima kasih.”

Gue pun segera pergi ke kamar Stella. Ya, ampun terakhir kali gue di rumah ini ketika gue masih puber, bareng genk SMP dulu, mungkin 3 tahun yang lalu juga.

“Stell?”

Gue membuka pintu kamarnya. Gue lihat dia sedang duduk saja menghadap monitor komputer.

“Eh hai Fe…”

Gue langsung duduk di kasurnya mengamati dirinya yang sedang bermain komputer. Suasana kaku menyelimuti kamar Stella, bagaimana pun juga dari dulu gue dan Stella jarang berbicara dan pasti canggung kalau mulai mengobrol juga setelah sekian lama tidak bertemu.

“Jadi.. sekarang sekolah di SMA… ya?”

“Hehe iya Stell.”

“Masih suka ketemu sama anak-anak yang lain?”

Gue menggeleng. SMA gue udah punya genk lagi. Genk pas SMP udah pada pisah dan bubar.

“Gimana di Jakarta Stell?” Tanya gue.

“Begitulah Fe, panas. Hehe.”

“Oh… hehe”

“Kapan kesini Stell?”

“Kemarin malam.”

“Oh…”

Sekali lagi kita masih canggung dan kaku.

“Fe…”

Stella beranjak dari kursinya lalu berdiri menghadap jendela.

“Sudah tiga tahun ya, aku benar-benar tidak bisa melupakannya, aku merasa bersalah. Maafkan aku.” Kata Stella.

“Sudahlah Stell, yang sudah terjadi, sudahlah. Mau bagaimana pun juga sudah takdirnya dan kehendak-Nya. Kita sebagai manusia tidak bisa berbuat apa-apa, jangan menyalahkan diri sendiri atas kejadian itu.”

Aku segera bangkit dan mendatangi Stella.

“Besok antar aku ke makamnya ya dan ke rumah orang tua nya ya.”

“Iya.”
itkgid
itkgid memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.