- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#352
Partitur no. 65 : Januari
Dulu aku memang pernah bilang bahwa aku sangat menyukai hujan—karena banyak cerita dibalik setiap rintik-rintik hujan yang turun. Hujan juga menambah sebuah kesan dramatis, baik itu disengaja maupun tidak. Tapi, hujan yang kusuka adalah hujan deras di bulan Desember, bukan hujan deras di bulan Januari.
Hujan di bulan Desember membuatku merasa bersyukur—bahwa aku terlahir di negara tropis yang bulan Desembernya adalah musim hujan, bukan di negara yang sedang mengalami salju. Walaupun aku ingin sekali merasakan rasanya musim salju.
Aku bisa merasakan dinginnya hujan sambil mengingat kenangan manis yang baru saja terjadi, sekaligus merasakan kehangatan dari teh
manis ataupun jaket yang kukenakan. Rasanya, dunia yang kulihat ini tak kalah indahnya ketika ku melihatnya pada musim kemarau.
Namun, aku tak merasakan hal yang sama pada hujan di bulan Januari. Ia begitu deras, tidak menenangkan seperti halnya di bulan Desember. Saking derasnya—didukung dengan sampah-sampah yang dibuang sembarangan dan curah hujan yang sangat tinggi—banyak daerah di Jakarta ini tergenang banjir, termasuk daerah di dekat rumahku, Kp. Pulo dan Kp. Melayu yang memang terkenal rawan banjir.
Rumahku tak kebanjiran, tapi rumah Tasya setiap bulan Januari harus bersiaga agar membersihkan genangan banjir yang masuk ke dalam rumahnya—membuanya menolak untuk ikut ke dalam perayaan sederhana makan malam ulang tahunku yang tak lama lagi. Sebenarnya, menurutku itu bukan perayaan—hanya berkumpul yang menurutku spesial karena kami sekeluarga harus benar-benar berkumpul ditengah kesibukan mereka masing-masing sekali dalam setahun dihari ulang tahun masing-masing anggota keluara, dan juga tentang di mana dulu kami pernah pisah rumah.
Suatu hari, ketika sekolahku diliburkan akibat kebanjiran (salah satu rezeki diawal tahun!), aku menyempatkan diri bersama ayahku mengelilingi daerah sekolahku yang tergenang banjir—sambil sesekali memotret fenomena alam tersebut.
Waktu itu, seorang rekanku dari penggemar Gigi tiba-tiba datang berkunjung untuk melihat daerah banjir dekat rumahku itu, sekalian untuk
mendiskusikan lebih lanjut tentang rencana komunitas Mr. Big yang ingin membuat acara di rumahku. Namanya adalah Om Iyunk.
Kami bertiga pun segera berjalan menuju daerah banjir tersebut—disusul dengan sepupuku yang setiap pulang sekolah selalu mampir ke rumahku, Adam namanya, karena rasa penasarannya untuk melihat keadaan sekitar.
Karena pasti basah, kami disuruh mengenakan celana pendek dan sendal, serta baju seadanya saja. Awalnya aku menyangkalnya karena kukira hanya melihatnya dari samping, namun tidak.
Banjirnya benar-benar tinggi. Kali pertamanya aku melihatnya dengan mata kepala sendiri, bukan melalui tayangan televisi. Di sana ramai sekali dengan orang-orang. Mulai dari penduduk yang sedang akan mengungsi, orang yang memberi bantuan, orang yang ingin melihat-lihat saja, orang yang berenang di banjir tersebut, atau bahkan hampir seluruh stasiun televisi ingin meliput kejadian itu. Pemandangan paling menyedihkan yang pernah kulihat secara langsung—selain hewan-hewan yang berada di pasar Jatinegara, yang kalau Tasya mengingat hal itu akan mengomel tanpa sebab kepadaku yang tak salah apa-apa.
Dua suara yang kontras itu sangat terdengar di kupingku. Suara isak tangis ibu-ibu yang rumahnya terendam banjir, lalu suara kegembiraan anak-anak yang sedang berenang di banjir yang tingginya sampai sepinggangku kala itu. Kami menyusuri jalan dengan sangat hati-hati, karena kami bisa terbawa arus yang deras. Sandal yang kugunakan sesekali ikut terbawa arus, sehingga harus benar-benar kutahan. Sampah-sampah pun berserakan di mana-mana, termasuk di kakiku saat ini. Baju yang kukenakan benar-benar basah kuyup. Hati nurani kecilku ini mulai tergerak untuk harus melakukan sesuatu.
***
Malam harinya, ketika Lukman dan Bang Iik datang ke rumah untuk mendiskusikan acara ini lebih lanjut, ayahku dan Om Iyunk sepertinya sudah siap menyambutnya sedari tadi.
“Jadi gini, nih, kayaknya ada perubahan konsep..” kata Lukman membuka pembicaraan. “Kan lagi banjir di mana-mana sekarang ini, termasuk di dekat sini saya liat tadi.. Jadi, konsep acara besok kita jadiin bukan untuk seneng-seneng aja, tapi untuk charity juga..”
“Nah, itu dia yang mau saya omongin tadi,” sahut ayahku.
“Iya, kan nggak enak gitu kalo tetangga kita di sana lagi berduka, terus kita seneng-seneng sendiri disini..” ujar Bang Iik. “Rencananya, besok abis acaranya kita mau baksos.. Kalo temen-temen dari komunitas lain mau ikut juga nggak apa-apa..”
“Bagus kok, Pak, idenya..” kata Om Iyunk menyetujuinya. Ayahku yang terdiam itu pun akhirnya menyetujuinya.
“Nah, kalo udah diizinin lagi sama Bapak, kita mau izin dan koordinasi lagi sama RT disini..” lanjut Lukman menjelaskan kembali.
“Nanti Iman aja yang temenin ke RT nya, Yah..” usulku.
“Yaudah, paling kasih uang rokok atau apa gitu buat ketua RT nya..” lanjut ayahku.
Walaupun aku tak bergabung ke kepanitiaan acara ini, tapi, aku serasa juga ikut bergabung dan berusaha mensukseskan acara ini—karena menurutku acara itu menggabungkan orang yang kukenal menjadi satu bagian. Terlebih lagi, kami disatukan oleh musik.
Semua berjalan sangat lancar sampai tahap ini. Hingga aku dipusingkan oleh Abangnya Tasya yang meminta bermain diatas jam tujuh malam—karena sang vokalisnya yang bisa pada jam itu—dan penentuan lagu yang mereka bawakan yang sudah dibawakan oleh band lain. Aku sampai berdiskusi dengan Tasya untuk mencari jalan keluarnya. Dan tentu saja, aku harus berunding dengan pihak komunitas Mr. Big itu.
Satu hal lagi yang membuatku bingung: Kang Naufal yang sakit demam dimusim yang banyak penyakit itu, padahal ia harus mengisi bass di band itu—yang waktunya tak lama lagi—terlebih, berarti ia tak bisa ikut acara makan malam dengan keluarga lengkap.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 22:34
0
