Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#4878
Episode 1 : Chamomile Tea

Hari sudah larut malam, dan gue masih duduk bersandarkan busa sandaran kepala di tempat tidur sambil membaca novel paperback yang gue beli di sebuah toko buku bekas. Gue melihat jam meja di samping gue, dan kemudian menoleh ke sisi lain. Gue melihat istri gue tidur berselimut tebal, sehingga hanya tampak kepala dan rambut coklat kemerahan khas miliknya. Gue tersenyum dan mengusap mata dengan jari.

Gue menghela napas berat, ketika menyadari bahwa lusa gue sudah harus kembali ke Tanah Air, untuk menjalani rutinitas. Sebuah long distance relationship dalam hubungan pernikahan sesungguhnya jauh lebih berat dari long distance relationship dalam pacaran. Terutama karena rasa tanggung jawab yang dipikul lebih besar. Gue menandai halaman yang sudah gue baca dan menutup novel tersebut, kemudian memejamkan mata sambil tetap duduk bersandar.

Gue menoleh sekali lagi ke arah istri gue, dan mencium keningnya perlahan, kemudian menarik diri sambil tersenyum. Atas alasan apapun, gue bersyukur tentang dirinya. Gue kemudian merebahkan badan dan menarik selimut.

Gue terbangun ketika alarm jam disamping gue berbunyi, dan waktunya melaksanakan ibadah sholat subuh. Istri gue sudah bangun, dan itu merupakan kebiasaannya setelah menikah, selalu terbangun sebelum alarm berbunyi. Dia tersenyum dan menarik selimut gue, menyuruh gue bangkit dan mengambil air wudhu.

“Bangun gih, trus kita sholat” katanya sambil merapikan selimut yang barusan diacak-acak.

Gue tersenyum meskipun masih mengantuk, dan beranjak ke kamar mandi tanpa protes. Setelah sholat subuh berjamaah, gue duduk di ruang tengah sementara dia mulai sibuk di dapur kecil kesayangannya. Denting cangkir dan sendok terasa akrab di telinga gue. Dia berjalan sambil tersenyum dan membawa dua cangkir di masing-masing tangannya, kemudian meletakkan keduanya di meja rendah di depan gue.

“teh semua?” tanya gue heran.
Dia menoleh ke gue dan mengangguk pelan sambil tersenyum.
“iya teh. Chamomile.”
“bukan kopi?”
“gak boleh kebanyakan kopi. Teh pagi-pagi lebih sehat.” Dia menyeruput teh panasnya perlahan, dan kemudian bersandar ke belakang sambil tersenyum ke gue. “Mulailah hari dengan hal sehat.”
Gue tertawa dan menyeruput chamomile tea itu perlahan. Enak juga rasanya. Gue memutar-mutarkan cangkir berwarna putih gading itu dan menaikkan alis.
“katanya bikin rileks ya?” ujar gue.
“iya, that’s the common use. Tapi sebenernya chamomile itu banyak manfaatnya, misalnya untuk nyembuhin insomnia, penyakit dalam sama menstruasi yang gak lancar.”

Gue mengangguk-angguk sambil meniup teh yang masih panas.

“selain itu, chamomile juga berguna untuk kanker, katanya sih gitu.” lanjutnya lagi sambil memegang bahu gue.
“anak kedokteran yang nyamar jadi anak ekonomi nih ceritanya?” balas gue sambil tersenyum jahil. “tapi itu bagus, kamu banyak baca-baca jadi semakin tahu banyak hal.”
“iya, aku gak mau membatasi diri kok, mas. Gak ada ruginya kan dapet ilmu sebanyak-banyaknya.”
Gue tersenyum dan mengelus rambutnya dengan lembut.
“that’s my wife.”

Siang harinya, kami berdua berjalan-jalan di Chinatown sambil dia menggandeng lengan gue, seperti yang selama ini selalu dia lakukan. Gue menoleh dan memandangi dia yang berjalan sambil tersenyum melihat deretan bangunan di sampingnya. Anindya, itu nama wanita di samping gue, dan dia adalah istri gue.

Setelah makan siang, kami kembali ke apartemen dan bersantai. Gue mengganti-ganti channel TV sementara dia tenggelam di majalah bacaannya sambil ngemilin pisang. Kemudian kami mendengar telepon di sudut berdering dengan nyaring. Anin bangkit dari duduk dan mengangkat telepon itu.

Gue yang duduk di depan TV tetap memandangi acara di hadapan gue, tapi telinga gue berkonsentrasi ke pembicaraan antara istri gue dengan seseorang di telepon. Dengan sabar gue menunggunya selesai bertelepon, kemudian dia duduk di samping gue.

“mas.” panggilnya sambil mencolek paha gue.
“hm?” gue menoleh.
“barusan mama telpon, katanya Nana mau main kesini.”
Gue mengkerutkan dahi, mencoba mengingat-ingat siapa Nana itu. Dan sepertinya Anin sangat paham kalo gue lupa siapa sosok Nana itu.
“Nana itu sodara sepupu aku, Maaass.”
“aaah, iya inget aku sekarang. Mau kesini kapan dia?”
“besok katanya. Kita jemput di Changi apa gimana?” Anin membetulkan letak duduknya, dan bersandar ke belakang. “Dia landing jam 10 pagi sih jadwalnya.”
“ya iyalah, masa Nana disuruh cari sendiri nih apartemen.” sahut gue gemas.
Anin tertawa.

Keesokan harinya, kami menjemput Nana di Changi Airport. Gak perlu menunggu lama, karena pesawatnya on time. Gue bersalaman dengan Nana dan memeluknya, sementara Anin, seperti biasa, sangat ramah terhadap adik-adik sepupunya. Sosok Nana adalah wanita bertubuh sedang, dengan wajah indo seperti Anin. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan diatasnya ada kupluk berwarna abu-abu. Dia memakai jaket berwarna putih gading, dan jeans biru gelap. Gue menawarkan diri menarik kopernya, dan dia mengiyakan sambil tertawa.

“dalam rangka apa ke sini, Na?” tanya Anin sambil menggandeng Nana.
“main aja mbak, sebelum ke Beijing.”
“oh abis ini ke Beijing ya? Liburan juga?”
“iya mbak, hehehe. Mumpung sekolah libur.”

Gue tertarik untuk nimbrung pembicaraan mereka berdua itu. Sambil berjalan menarik koper, gue menoleh ke mereka berdua.

“umur kamu berapa sih Na?” tanya gue sambil tersenyum.
“17, Mas. Masih kecil yaaa.”
“oh sama dong, aku juga 17 tahun kok.” ujar gue kalem tapi bermuka jahil.
“….iya 17 tahun tapi 7 tahun yang lalu.” balas Anin pelan, mewakili Nana, gue yakin.
Kami bertiga tertawa cukup keras setelah itu.

Sesampainya di apartemen, Anin memasakkan beberapa jenis makanan untuk Nana, sebagai ucapan selamat datang. Sementara Anin memasak, gue menemani Nana di ruang tengah sambil ngobrol-ngobrol hal ringan, sambil sesekali bertanya tentang hal-hal pribadinya. Sampe akhirnya ke masalah pacar.

“jadi, mantan kamu gak bisa kalo LDR, terus minta putus?” tanya gue.
“iya, Mas. Dia gak bisa kalo gak ketemu dalam waktu lama. Aku curiga dia udah punya yang lain deh sebelum minta putus.” ujarnya bersungut-sungut.
Gue tersenyum, dan menepuk pahanya untuk menenangkan.
“LDR gak semudah yang dibayangin loh, Dek. Banyak godaannya, berat bebannya.” Gue menarik napas panjang kemudian menoleh ke Nana sambil tersenyum. “Aku kan juga LDR sekarang.”
“susah ya, Mas?”
“tergantung gimana kita menyikapinya kok, Dek. Semua hubungan kan berangkat dari kepercayaan. Dengan percaya, kita bisa tenang, dan bisa menghindari masalah-masalah yang gak perlu.” jelas gue.
“ya iya juga sih, Mas….”
“sebenernya, sebagian besar masalah LDR kan berawal dari negative thinking atau over thinking. Kebanyakan pasangan takut sama apa yang gak mereka lihat. Padahal ya, kalo emang niatnya mau selingkuh, meskipun pacarnya disebelahnya aja tetep bisa selingkuh kok.” lanjut gue sambil tersenyum.
“terus aku harus gimana dong, Mas?”
“ya yang udah ya udah, biarkan berlalu. Kalo dia mutusin kamu karena itu, artinya dia memang gak bisa diajak berjuang bersama. Kalo kamu mau cari pacar lagi, carilah yang mau berjuang bersama, dan di jalan yang sama. Ya?”
Nana tersenyum memandangi gue.
“iya, Mas. Terimakasih ya…”

Gue mengangguk dan tersenyum, kemudian menoleh ke Anin yang sedang menyiapkan makanan di meja. Dia yang dari tadi mendengar seluruh pembicaraan gue dan Nana, tersenyum ke arah kami berdua. Anin bertanya lembut,

“Kayaknya ada yang butuh chamomile tea lagi ya?”

Gue tertawa pelan, dan menoleh ke Nana yang bingung. Kemudian gue menoleh kembali ke Anin yang masih berdiri di tempat yang sama.

“Ya, sepertinya kita semua butuh.”

Varamore
chanry
chanry dan Varamore memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.