Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.3KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#343
Partitur no. 64 : Hyper Music(al)


Kini, aku mulai mengumpulkan potongan-potongan memori yang terjadi di tahun 2013 dari awal sampai akhir tahun—sebanyak yang bisa kuingat. Untungnya, mengumpulkannya tak begitu sulit karena dibantu dengan suasana yang nyaman dari Kafe tempat Kang Naufal bekerja yang baru sebagai barista sekarang ini. Kang Naufal memutuskan untuk pindah bekerja membantu temannya—teman kami yang juga dari komunitas Muse ini.

Teman-temanku yang terlibat dalam cerita ini juga hadir di sini, membantuku untuk mengumpulkan potongan-potongan memori—terlebih di acara tribute Muse yang ke-3 ini oleh komunitasku.

Dengan wangi dan hangat dari secangkir kopi yang sangat nikmat, izinkan aku memulai menceritakan petualangan baru di tahun 2013 ini.

***


Quote:


Quote:


Pada awalnya, kami berniat untuk menyelenggarakan acara tribute Muse ini di minggu kedua pada bulan Desember—mungkin beberapa hari setelah ulang tahun Tasya—mengembangkan euforia atas meluncurnya album baru Muse pada bulan September lalu yang bejudul The 2nd Lawitu. Akan tetapi, setelah beberapa pertimbangan, kami memindahkan acara ini menjadi di awal tahun 2013 ini—membuat awal tahun ini menjadi lebih asyik—walaupun keesokan harinya aku harus kembali bersekolah.

Album Muse kala itu membuat para fans cukup terkejut—atau lebih tepatnya tak terduga seperti setiap albumnya yang selalu membuat kejutan-kejutan. Diawali ketika meluncurnya lagu baru Muse yang menjadi soundtrack dari Olimpiade di Inggris 2012 silam, dan sebuah trailer dari lagu Unsustainable yang terinspirasi dari Skrillex itu. Lalu single Madness yang cukup banyak mengandung elektronik di dalamnya, dan pengaruh dari Queen juga terasa pada lagu tersebut.

Kami merencanakan hal yang cukup unik—tapi juga bermanfaat—yaitu dress code untuk para panitia yang harus menggunakan batik, agar mudah dikenali dan mudah dibedakan dengan pengunjung biasa selain menggunakan name tag. Kali ini aku kebagian sebagai panitia dekorasi, juga sebagai panita yang membantu jika sedang tak ada yang harus dikerjakan.

Para panitia seperti Rama—yang dulu juga satu kepanitiaan denganku ketika acara komunitas breaking benjamin—lalu Elvin, Rizal, Putra, dll. berkumpul terlebih dahulu di rumahku sejak kemarin malam untuk menginap, agar bisa berangkat bersama-sama ke tempat acara itu akan diselenggarakan siang harinya. Kami melakukan briefing lagi agar acara tersebut berjalan lancar, sesuai yang telah dirapatkan beberapa bulan kebelakang.

Tak terduga—mungkin aku yang tak tahu—pagi itu rombongan komunitas Muse dari Semarang pun turut hadir jauh-jauh dari Jawa Tengah ke rumahku, untung konvoi sampai tempat tujuan. Mereka bercerita bahwa mereka semalaman terus berada di jalan menggunakan satu mobil Kijang yang muat—terlihat sangat ngepas—dengan orang yang terbilang banyak sekali. Terlebih, mereka juga membawa alat-alat musik untuk main di acara tribute ini dan juga membawa spanduk. Tulisan ‘Tour De Jakarta—05-06 January 2013’ itu pun menghiasi spanduk tersebut.

Melihat itu, para panitia yang menginap pun membantu membereskan ruang tengah rumahku yang cukup untuk menampung pasukan dari Semarang itu untuk beristirahat sejenak—melepaskan keletihan selama perjalanan, setidaknya sampai jam makan siang untuk segera berangkat menuju kafe tempat acara ini akan diselenggarakan.

Kami kembali menyiapkan poster-poster acara ini dalam jumlah yang cukup banyak, banner komunitas Muse, name tag, tiket, juga beberapa perlengkapan lainnya agar tak tertinggal. Salah satu dari kami mencari dua taksi untuk para panitia yang akan segera berangkat kesana dari rumahku.

“Yuk, Man, panggilin yang lain, taksinya udah dateng!” ujar Rama dari depan gerbang rumahku yang baru saja memanggil taksi ketika sesudah makan siang. Sesuai instruksinya, aku memanggil teman-temanku yang masih berada di dalam. Para panitia yang di dalam rumah itu pun sedang berfoto bersama dengan para rombongan dari Semarang tersebut.

Hampir semuanya yang menginap di sini adalah para pemain musik, yang bergabung dalam band The Panitias—sebuah band yang dibentuk oleh para panitia yang bisa bermain musik—sisi lain dari para panitia untuk unjuk kebolehan. Aku tak ikut dalam band itu, karena aku bergabung dalam sebuah band saingan bernama The Pembantus—kumpulan para pembantu yang bermain band.

Masing-masing dari kami membawa alat-alat kami ke dalam bagasi taksi tersebut. Tentu saja, aku yang tak main ini pun ikut membantu mengangkat-angkat peralatan bass Kang Naufal, dan keyboard milik Rama yang setahuku baru ia beli.

“Nanti mobilnya ngikutin taksi ini aja, ya.” Pinta Rama kepada salah satu perwakilan rombongan dari Semarang tersebut. Aku pun menaiki taksi yang sama dengan band The Panitias tersebut—minus Putra yang menaiki taksi satunya lagi untuk membimbing kami.

“Nanti pas sampe lo langsung kerja ya, Man.” Ujar Rizal kepadaku.

“Siap!” kataku dengan mantap. Memang benar saja, karena aku merasa tugasku selama ini sedikit—aku harus membuktikan bahwa aku memiliki kegunaan yang bisa kusumbangkan untuk panitia ini. Dulu, aku sudah pernah mengecewakan Mbak Sari ketika menemaninya memberikan proposal kepada sponsor, dan kali ini tak akan terjadi lagi—semoga. Ya, semoga.

***


Kami pun akhirnya sampai di sebuah Kafe dibilangan Jakarta Selatan, yang desainnya mudah membuat orang tertarik kepada tempat tersebut. Tempatnya persis dekat dengan sebuah Kantor Kepolisian. Aku pun langsung memindahkan barang-barang yang menjadi tugasku untuk kukerjakan—menjadi bagian dekorasi, sementara ada beberapa orang yang menemui Kepala Marketing Kafe tersebut, ada juga yang mulai membereskan panggung di dalam.

Aku memasang poster di salah satu mading dekat pintu masuk panggung tersebut, juga memasang banner acara tersebut yang selalu saja terjatuh tertiup angin. Saat mengangkat banner yang selalu terjatuh itu, aku terkaget-kaget kehadiran sosok yang baru saja kembali dari rasa berdukanya—datang bersamaan dengan angin yang cukup kencang berhembus. Ya, ia adalah Tasya! Ia datang bersama Abangnya yang menjadi Ketua acara ini. Walaupun sudah tahu ia akan datang karena ia bagian dari panitia—tetap saja aku merasa kaget.

Rasanya, ia semakin cantik saja hari itu. Ia mengenakan baju batik berwarna putih yang sangat anggun dikenakan olehnya. Rambutnya pun terasa lebih panjang dari terakhir kali kami bertemu.

Kali ini, ia bertugas sebagai penjual tiket di depan pintu masuk, dibantu oleh salah satu seorang dari kekasih salah satu panitia, Romy namanya—yang ternyata pacarnya merupakan salah satu teman SMP mantan kekasihnya Tasya. Dan juga, ia ditemani oleh Ajeng yang waktu itu menemaniku ketika menjenguk Papanya Tasya kecelakaan tabrak lari.

“Gimana, udah nggak sedih lagi?” tanyaku kepada Tasya yang baru hadir sambil memeluknya karena rasa rinduku. Ia menampakan senyum manisnya dan mengangguk, walaupun bukan senyum gembira seperti yang biasa ia tampilkan seperti biasanya. Memang, mungkin merasakan kepergian orang tersayang untuk selama-lamanya memang sangat pedih.

“Kamu udah dateng dari tadi?” ujar Tasya sambil mencoba untuk terlihat gembira kembali.

“Iya, Ucing..” jawabku. “Do your best, ya!” kataku menyemangatinya. Dukungan moral dari rekan terdekat menurutku memang cukup ampuh.

“Aku ke dalem dulu, ya, mau bantu beres-beres..”

“Makasih, Ucing..” kelihatannya, ia mulai membereskan barang-barang yang sangat dibutuhkan untuk tugasnya nanti—tiket dan stempel tangan untuk penonton yang ingin masuk.

Ketika masuk ke dalam tempat itu, teman-teman yang lain mulai membereskan bangku-bangku dan kursi di tengah yang akan dipindahkan entah kemana—untuk orang-orang yang ingin menonton. Dan ada juga yang sedang membereskan panggung—terutama sebuah screen projector di belakang untuk memasang sebuah gambar poster acara itu. Setidaknya, persiapan kali ini sudah lebih matang, dan siap menunggu ketika acara itu akan dimulai!

***


Perlahan tapi pasti, tempat ini terasa mulai penuh. Penuh dengan keantusiasan para penonton yang ingin menonton band-band terpilih yang akan dipercayai untuk membawakan lagu-lagu dari Muse malam itu. Terlebih lagi, salah satu dari mereka akan membawakan lagu terbaru dari Muse, agar tidak bosan dengan lagu lama dari mereka.

Karena waktu itu sedang belum bertugas lagi, terpikir dalam benakku untuk iseng melihat Tasya yang pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya di luar. Dan, benar saja, ia sedang menyobekkan tiket dan memberikan stempel di tangan para pengunjung satu per satu.

“Mbak, saya mau dong di stempel.” Aku pun mulai menghampiri Tasya, “Di hati aku tapi stempelnya..” ledekku kepada Tasya yang sedang asyik dengan pekerjaannya itu.

“Dasar, gombal mulu kamu, nih!” ujarnya dengan mata melotot. “Mending bantuin aku sini daripada nge gombal mulu!”

“Eh, tiba-tiba aku ada kerjaan, nih. Pindah ke dalem dulu, ya..” kataku sambil melipir ke dalam—ketika band pertama yang menang dalam seleksi itu sedang akan bermain.

Satu persatu mereka pun mulai membakar semangat penonton yang hadir malam itu. Selain dari Semarang, ternyata ada juga band dari komunitas Muse di Bandung yang juga mengisi acara malam itu dengan hebohnya. Band dari Bandung itu membawakan lagu Unsustainable—penuh dengan alat-alat elektronik, termasuk sebuah tablet komputer dan perlengkapan lainnya—dengan sangat bagus sekali, membuatku harus bertukar posisi sementara dengan Tasya.

Ketika Tasya kembali, aku sedang dihadapi oleh seorang Bapak-bapak yang tiba-tiba menghampiriku. “Mas, ini beneran acara tributenya Muse?” tanya Bapak itu sambil memainkan handphonenya.

“Bener, Pak..” jawabku dengan ramah.

“Tiketnya masih ada?” lanjutnya kemudian.

“Ada, Pak..” kataku. Lalu, Bapak-bapak itu pun menunjukkan dengan bangga sebuah broadcast di salah satu chat BBM nya. Kami yang sedang menjaga tiket itu pun tersenyum ramah kepada Bapak itu—yang telah membeli tiket dan sudah dicap tangannya untuk tanda ia memasuki tempat tersebut.

Mbak Sari terlihat berada di crowd paling depan, asyik menonton band-band yang sedang memainkan lagu favoritnya.

Setelah band dari Bandung itu selesai bermain, dilanjukan oleh band dari Jakarta—yang dulu Kang Naufal pernah menjadi pemain bass di band tersebut—yang gitarisnya itu benar-benar seperti terbawa euforia malam itu. Walaupun Kang Naufal sudah tidak bermain bass di band ini, ia masih membantu mereka, walaupun hanya memainkan sedikit synthesizer untuk lagu Invincible. Posisi Kang Naufal malam itu digantikan oleh Rahman, yang baru beberapa minggu lalu bertemu denganku.

Bak mengamuk—mungkin terbawa suasana lagu yang dibawakan—sang vokalis maju berbaur dengan penonton; bermain salah satu solo gitar sambil dengan bergaya dan menjatuhkan badannya di lantai setelah meloncat. Dan tak tanggung-tanggung, ia juga meniru aksi panggung Kurt Cobain dan juga Matt Bellamy untuk menghancurkan gitar di lagu terakhir.

Gitar replika Manson yang sedang dibanting itu pun perlahan hancur lebur tak karuan. Terkadang, selain dibanting, gitar itu juga dilempar ke arah drum. Penonton tentu saja terkejut dengan aksi panggung yang sangat ‘gila’itu. Aksi itu menambah semangat penonton, disambut dengan kemeriahan tepuk tangan dari segala penjuru ruangan itu. Belum usai, setelah gitar replika yang mahal itu hancur, ia tinggalkan begitu saja di tempat para penonton—sehingga mereka berebut untuk memegang gitar tersebut, terutama bagian yang seperti layar di gitar itu.

Untungnya, salah satu kru band segera mengamankan gitar itu, agar mungkin tidak terjadi kerusakan yang lebih parah—atau mungkin untuk diperbaiki kembali.

Spoiler for :


Masih terbawa dengan suasana yang baru saja terjadi—band selanjutnya sudah harus bermain untuk kembali memanaskan suasana acara ini. Tentu saja, aku sangan menunggu band ini: The Panitias, yang berarti Kang Naufal juga ikut bermain di atas panggung ini. Aku iri dengannya. Ia sudah bisa berdiri di atas panggung acara tribute yang dipenuhi penonton di depannya.

Elvin menyanyikan lagu-lagu Muse dengan sangat baik. Suaranya juga sangat bagus, membuatku terkejut malam itu. Dan, Putra yang mencakup sebagai MC acara juga memainkan drum dengan cukup bagus. Rasanya, aku ingin sekali mendokumentasikan band para panitia yang tak kalah hebatnya dengan band-band sebelumnya ini—terlebih ada Rama, yang tak kusangka ia juga sangat lihai bermain keyboardnya—tapi apa daya, baterai handphoneku sudah habis, dan menurut hemat pikirku, pasti ada orang lain yang akan mendokumentasikannya.

Rama sangat kontras dengan ketika ia berada di komunitas breaking benjamin. Rasanya, ia lebih dibutuhkan di komunitas Muse ini.

Band-band selanjutnya juga terus mengejutkanku. Ada sebuah band grunge yang memainkan lagu-lagu lama Muse dengan sangat hebatnya, adapula band yang baru kudengar namanya juga memainkannya dengan sangat baik.

Suara fuzzgitar, efek bass, dan suara aneh-aneh yang identik dengan musik Muse terus dimainkan sampai akhir acara—yang ditutup dengan meriahnya oleh Guest Star yang sudah pasti semakin membuat sesak malam itu. Terlebih, Guest Star itu juga menampilkan seorang dari personil band lain yang mencakup sebagai pemain drum dan sebagai penyanyi. Ia memiliki suara falsetto yang sangat mirip dengan Matt Bellamy. Hebatnya ia mengeluarkan falsetto tersebut sambil menggebuk drumnya—yang menurutku tak mudah dilakukan. Drummer asli mereka turut hadir di tempat tersebut, dan ikut menonton. Entah mengapa ia tak main pada hari itu. Yang mengisi bass di band itu tentu saja Rahman—yang sudah mengisi bass di dua band yang berbeda. Dan terakhir, yang memainkan synth atau sampling adalah seorang jenius yang bernama Bastian.

Tentu saja, sebagai Guest Star, mereka memiliki hak memainkan lagu lebih banyak dari band lainnya. Dan, tentu saja, mereka sangat hebat! Mereka membawakan lagu yang membuat kami hanyut terbawa suasana di dalam sana. Mulai dari awal yang kencang, tengah-tengah lagu yang membuat kami bernyanyi bersama—membawakan lagu yang pelan, hingga kembali kepada lagu yang kencang. Seingatku, ada satu lagu yang berjudul Explorers dibawakan atas permintaan seorang penonton karena Kakaknya yang tengah di operasi tepat pada hari itu—dan lagu tersebut merupakan lagu favorit milik Kakaknya. Dan benar saja, lagu itu langsung dibawakan! Membuatku yang mudah terbawa suasana ini sangat terharu.

Quote:


Quote:


Usai band itu menutup acara yang meriah tersebut, para penonton tak langsung pulang. Ada yang membeli hal-hal berbau Muse yang disediakan di depan, ada yang menanda tangani di banner yang tersedia di depan untuk menulis kesannya selama acara berlangsung, ada yang berfoto bersama panitia, dan ada juga membereskan alat-alat di atas panggung. Sementara itu, Mbak Sari dan Tasya sedang asyik menghitung hasil penjualan tiket dan menghitung berapa tiket yang terjual.

Sekiranya sudah selesai, semua menuju ke depan Kafe yang akan tutup itu. Terasa belum cukup, para hadirin disana pun turut berfoto kembali dengan banner yang sudah ditanda tangani tersebut. Aku dan Tasya turut hadir dalam foto bersama itu.

“Man, bilangin next tribute Muse ditempat kemaren aja tuh, enak tempatnya!” ujar Rahman kepadaku ketika selesai berfoto sambil melap keringatnya yang masih bercucuran sedari tadi.

“Iya, asik sih tempatnya. Coba ajakin aja..” kataku.

“Emang di mana tempatnya?” sambung Mbak Sari ditengah obrolan kami.

“Ada, Mbak, di daerah Rawamangun yang mau ke Kelapa Gading..” jelas Rahman kepada Mbak Sari.

Tak terasa, hari itu sudah lewat tengah malam—yang berarti paginya (walaupun sekarang sudah pagi) aku akan kembali bersekolah, melanjutkan kehidupan untuk menuju masa depan. Acara ini menutup rentetan hari-hari liburan yang menyenangkan itu.

“Kamu langsung pulang?” tanyaku sambil menghampiri Tasya yang terlihat sangat lelah. Ia mengangguk menanjakan setuju. “Nungguin Abang, ya?”

“Iya, Ucing..” jawabnya.

“Kamu takut dimarahin pulang pagi?” lanjutku.

“Nggak, soalnya aku udah izin dari kemaren-kemaren.. Apalagi perginya bareng Abang, jadi nggak dimarahin..” jelasnya kepadaku. Aku pun mengangguk mengerti.

Rasanya perutku terasa sangat lapar. Mungkin karena sedari tadi acara dimulai belum tersentuh makanan. Sayangnya, didekat sini tak kulihat banyak yang berjualan makanan (lesehan tentunya maksudku) selain tukang bakpao yang berada disebrang tempat ini. Karena tak ada pilihan lain, aku harus mengisi perutku. “Aku laper, nih. Kamu mau ikut kesana nggak, Ucing?” ajakku kepada Tasya.

“Nggak, deh..” jawabnya sambil tersenyum letih.

“Yaudah, aku duluan ya, Ucing..” kataku. “Kalo kamu langsung pulang hati-hati, ya.. Seneng bisa ketemu kamu lagi malem ini” aku pergi sambil melambaikan tangan dan senyuman kelaparan.

Karena haus, aku pergi ke Supermarket depan tukang bakpao terlebih dahulu untuk membeli air mineral—menghilangkan rasa dahagaku yang sedari tadi kutahan karena tak boleh membawa minuman dari luar.

Pagi yang indah diawali dengan bakpao nikmat yang masih sangat hangat itu. Tak kusangka, ketika hendak menikmati bakpao daging yang masih hangat tersebut, Tasya menghampiriku. Kukira, ia sudah pulang duluan, karena tukang bakpao ini agak lama membuatnya. “Eh, aku kira kamu udah pulang!” seruku karena kaget. “Bang, bikinin satu lagi ya..” pintaku kepada abang yang berjualan bakpao ini.

“Masih kangen..” ujarnya sambil menyandarkan kepalanya ke bahuku. “Itu satu lagi bakpaonya buat kamu atau buat aku?”

“Sebenernya sih buat aku.” kataku meledeknya.

“Iih, jangan.. Nanti perut kamu juga jadi kayak bakpao..” ia pun memegang perutku, seakan perutku benar-benar gendut. Abang-abang pembuat bakpao itu pun tersenyum menahan ketawa mendengarnya.

“Dari pada diledekin mulu, mendingan balik kesana lagi, yuk.” Kataku sambil membayar kedua bakpao tersebut.

“Dih, ngambek” katanya sambil mengerjarku—yang kemudian diakhiri dengan memakan bakpao daging hangat itu berdua.

***


Keesokan harinya, ketika sebagian dokumentasi telah diunggah di facebook, salah satu dari rombongan Semarang keliru mengira bahwa Rama adalah adik kandung Kang Naufal—karena nama belakang kami sebenarnya sama.

“Maaf, Mas, adik kandungnya Naufal itu Iman, bukan Rama.” Komentar Elvin dalam postingan tersebut sambil menyebut akun facebook-ku.

Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 22:34
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.