- Beranda
- Stories from the Heart
Bagaimana Gue Memandang CINTA sbg sebuah PERMAINAN
...
TS
MainiChi
Bagaimana Gue Memandang CINTA sbg sebuah PERMAINAN

Ane cuman mau berbagi kisah CINTAane. Kadang ada hal yang lebih baik untuk diutarakan melalui kata-kata maupun tulisan. Ane berpikir untuk taro di blog, tapi blog ane gajelas isinya. Intinya ane cuman mau cerita, syukur-syukur ada yang bisa mengambil hikmah dari pengalaman yang ane alamin ini.
ENJOY!
Spoiler for INDEX CERITA:
1 - The Beginning of The Story
2 - SUMPAHKU
3 - TRAGIC (?)
4 - Tri Purnomo Aji
5 - 12 Juli 2014
6 - Diajak Nikah
2 - SUMPAHKU
3 - TRAGIC (?)
4 - Tri Purnomo Aji
5 - 12 Juli 2014
6 - Diajak Nikah
Oh iya, kalo mau baca cerita ane yang up to date bisa ke blog ane DISINIboleh juga yang mau follow twitter ane @elsayunitaa
Warm Regards,
MainiChi





Diubah oleh MainiChi 22-06-2015 18:11
anasabila memberi reputasi
1
6.4K
Kutip
39
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
MainiChi
#21
12 Juli 2014
Spoiler for 12 Juli 2014:
Tidak terasa, ternyata telah lebih dari 2 tahun gue kenal dengan Aji, kenal dengan teman-teman gue dari Aramaic. Setelah lulus SMA sudah pasti gue akan melanjutkan untuk kuliah, gue pun menyampaikan niat gue itu ke Aji.
"Gue stres nih mau kuliah dimana," saat itu gue gagal masuk ke Perguruan Tinggi Negeri, gue cukup putus asa dan masuk ke dalam kegaulaan akan nasib pendidikan gue selanjutnya.
"Ya lo maunya dimana yang?"
"Gue maunya sih di IKJ tapi nyokap ga bolehin."
"Trus gimana?"
"Gue juga masih bingung. Lo sendiri mau lanjut kuliah atau kerja?" Aji lulusan SMK di Aceh. Iya Aceh. Kami terpisah jarak ribuan kilometer, terpisah oleh Selat Sunda untuk bertemu. Ia berada di ujung barat Indonesia, sedangkan gue berada di ibukota yang diagung-agungkan ini.
Tidak hanya gue yang galau akan nasib masa depan, Aji pun begitu. Kami saling cerita akan kegalauan kami, saling membantu satu sama lain. Saat gue telah menetapkan hati untuk masuk ke salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, Aji masih dalam kegalauan. Gue omelin dia, karena dia masih belum menentukan mau seperti apa dia bersikap untuk dirinya sendiri. Terselip rasa kekhawatiran gue terhadap dia. Akhirnya, Aji pun menceritakan niat dia yang ingin kuliah di perguruan tinggi swasta di Jogja. Gue mendukung segala keputusan yang dia buat dan memberikan beberapa saran yang mungkin ia butuhkan. Tapi sayang, niat baik Aji itu mungkin belum direstui oleh Sang Pencipta. Ia bilang bahwa pendaftaran untuk mahasiswa baru di tempat yang ia inginkan telah ditutup.
Waktu berjalan dan hampir memasuki masa perkuliahan semester baru. Akhirnya, Aji memutuskan untuk kuliah di Medan. Awalnya gue ngasih saran, kenapa ga kuliah di Jakarta? Di Jakarta lebih banyak perguruan tinggi swasta yang bagus dan terakreditasi dengan baik. Tapi Aji menolak dan memberikan alasan-alasannya, gue mencoba mengerti dan menghargai keputusan yang dia buat itu. Walaupun sebenarnya gue saat ingin sekali bertemu dengan Aji, ngobrol langsung, mengenal dia yang sebenarnya. Ia pernah menyampaikan niatnya untuk datang ke Jakarta, meskipun hanya sekedar untuk liburan dan bertemu dengan teman-temannya yang lain di Jakarta.
Sejak masuk kuliah, gue mulai berjauhan dengan Aji. Kesibukan kuliah ditambah dengan adanya teman-teman baru, yang membuat gue mulai meninggalkan game online sedikit demi sedikit. Kadang masih suka online, tapi tidak sesering dulu. Begitupun dengan Aji, ia juga menjadi sedikit jauh dari yang dulu pernah gue rasakan. Tapi kami mencoba untuk tetap menjaga komunikasi kami, entah dengan SMS ataupun chat di facebook. Awalnya komunikasi gue dengan Aji berjalan dengan baik, tapi lama-kelamaan kami jadi jarang banget komunikasi. Ia menjadi terlupakan begitu saja, mungkin karena banyaknya kegiatan yang gue jalanin dan juga mulai munculnya figur laki-laki baru yang mulai mengisi hari-hari gue semenjak putus dari Rhesa. Gue merasakan Aji semakin jauh, ah tidak, gue yang semakin menjauh.
Semester awal dunia perkuliahan telah gue lewati. Gue kangen sama Aji, mau ngobrol sama dia lagi. Gue buka facebook gue dan kebetulan Aji juga online. Gue chat dia. Gue basa-basi, membuka obrolan dengan menanyakan kabarnya dan kegiatannya di kampus. Ia menceritakan bagaimana beratnya kegiatan yang ia jalani selama di Medan. Bagaimana ia menjadi merasa lebih kesepian di sana. Ia merasa bahwa ia tidak bisa bersosialisasi dengan lingkungan dan orang-orang yang ada di sekitarnya di sana.
"Ji, tolong jangan kaya gini terus. Lo harus lebih bersosialisasi, hidup lo ga cuma di depan PC!" Gue marah, karena liat regress dari dirinya.
"Iya yang."
"Lo harus berubah Ji demi diri lo sendiri. Lo perantau, di kota orang. Lo harus punya teman, supaya nanti ada yang bisa bantu lo saat lo susah."
Tidak hanya kesedihannya terhadap lingkungan barunya, ia pun menceritakan bagaimana buruknya nilai yang ia dapatkan dalam mata kuliahnya. Gue tau kalau Aji itu tidak bodoh! Ga seharusnya ia mendapatkan nilai yang ga pantas ia dapatkan! Sorry, gue emosi.
Waktu berlalu, gue masih tetap sibuk dengan kegiatan dan keegoisan gue sendiri, dan menjadi terus semakin melupakan Aji. Sampai suatu ketika, ia chat facebook gue,
"Ca, gue mau ke Jakarta."
"DEMI APA???!!!!" Gue girang banget saat itu. Setelah bertahun-tahun kenal Aji, akhirnya gue bisa ketemu dia. "Kapan Ji?"
"Belum tau tepatnya kapan."
"Ada acara apa ke Jakarta?"
"Gue mau pindah ke Jogja, mampir dulu ke Jakarta sekalian ketemu lo, Bebe, Opor, dkk."
"Yaudah lo kabarin aja jadinya kapan, tapi jangan dadakan. Paling ga kabarin seminggu sebelumnya ya."
12 Juli 2014
Bertepatan dengan bulan puasa. Sekitar pukul 12 siang ia sampai di bandara Soekarno-Hatta dan saat itu Jakarta sedang terguyur oleh hujan. Gue bingung gimana caranya jemput Aji ke bandara, karena saat itu gue belum bisa menyetir mobil sendiri. Ga mungkin juga gue minta tolong abang gue buat nemenin jemput Aji, dia juga ga bakalan mau huft
Sehari sebelumnya, gue komunikasi dengan Opor dan Bebe, teman-teman game gue dulu. Kebetulan mereka juga sedang tidak bisa jemput Aji langsung di bandara. Tapi mereka bilang, untuk membawa Aji ke Bogor. Bebe dan Opor tinggal di Bogor. Opor menyuruh gue untuk naik bis DAMRI yang langsung menuju ke bandara dan dari sana naik bis DAMRI lagi menujur Bogor.
Dari rumah, di Matraman, gue naik ojek untuk sampai ke Terminal Rawamangun dimana bis DAMRI berada. Untung saja, saat gue sampai di terminal, bis DAMRI sedang bersiap untuk berangkat. Singkat cerita, gue berangkat menuju bandara dibutuhkan waktu sekitar 1 jam. Selama di perjalanan itu, gue menjaga komunikasi dengan Aji. Sampai di bandara, gue turun di terminal Kedatangan Dalam Negeri, mencari Aji. Pertama kalinya gue bertemu Aji, gue semangat banget! Gatau kenapa. Gue mau tau ia seperti apa saat ini, baju apa yang ia kenakan, bagaimana suaranya, apakah ia sama asiknya seperti yang gue kenal sebelumnya? Gue membayangkan hal-hal itu sampai berekspektasi terlalu tinggi.
"Ca!" Terdengar seseorang yang memanggil gue dari kejauhan.
"Aji? AJI!!!!!!!!!!!" Gue girang kebangetan. "Uda nunggu lama?"
"Engga, gue juga baru keluar tadi."
"Yaudah ayo langsung cabut kita ke Bogor, entar ketemu Bebe sama Opor di sana."
Kesan pertama gue ketemu sama Aji? TOTALLY I WAS DISSAPOINTED WITH HIM!
Not really, emang guenya aja yang berekspektasi ketinggian. Jujur, Aji jauh dari apa yang gue duga dan harapkan. Maaf Ji, gue harus jujur demi keberlangsungan cerita gue di sini
Bagaimana suaranya, bagimana penampilannya, bagaimana cara berbicaranya, bagimana asiknya dia diajak ngobrol, semuanya ga sesuai apa yang gue harapkan. Gue pikir Aji seasik Aji yang gue kenal dulu, yang tiap hari ngobrol dan bercanda sama gue. Tapi kenyataannya tidak. Entah karena itu adalah pertemuan pertama ia dengan gue yang membuatnya canggung atau mungkin emang sifat aslinya yang introvert. Who knows?
Kami berdua ke Bogor naik bis DAMRI. Selama di perjalanan, gue bete. Aji ga asik diajak ngobrol. Ia tidak banyak ngomong dan lebih sering gue yang ngajak ngobrol duluan. HEY! DIA BENAR-BENAR BUKAN SEPERTI AJI YANG GUE KENAL DULU!!!
Karena gue bete, gue lebih banyak sibuk main hp sendiri. Tapi saat dia ngajak ngobrol, gatau kenapa gue jawabnya jutek dan ketus. Gue merasa bersalah saat itu. Ga harusnya gue bersikap kaya gitu ke dia, harusnya gue berpura-pura asik meskipun gue lagi bete.
Sampai di Bogor, kami berdua dijemput di Botani Square. Saat itu kami sampai di Bogor sore hari dan hampir memasuki waktu berbuka puasa. Setelah bertemu dengan Bebe dan Opor, kami menuju sebuah restoran all you can eatdi daerah Padjajaran. Selesai makan, kami tidak langsung pulang tapi memilih menetap untuk berbincang-bincang. Ada saat dimana gue dan Opor keluar dari restoran, lalu gue pun menceritakan tentang kekecewaan gue terhadap Aji.
"Por, kok dia kaya bukan Aji ya?"
"Maksudnya gimana, Ca?"
"Iya, saat pertama kali ketemu, pas di perjalanan ke sini juga kita lebih banyak diam. Dia kaya bukan Aji yang gue kenal dulu. Dia gaasik!"
"Mungkin karena Aji capek ca. Ini juga pertama kalinya dia ketemu lo, mungkin dia malu jadinya canggung pas ngobrol sama lo."
Saat itu gue egois banget, gamau mendengarkan pendapat orang lain dan lebih memilih mempercayai apa yang gue lihat langsung. Gue lebih banyak ngobrol sama Bebe dan Opor daripada sama Aji. Masih terpengaruhi oleh efek bete dan kecewa yang gue rasakan. Jahat banget gue. Kesenangan gue yang awalnya mendengar berita Aji akan ke Jakarta, berubah menjadi kekecewaan saat betemu dengan dia. Harusnya gue mencoba mengerti akan kondisi dia saat itu, tapi gue egois dan lebih memilih memikirkan diri gue sendiri.
Sekitar pukul 8 malam lewat kami keluar dari restoran dan Bebe mengantar gue sampai ke stasiun Bogor. Gue menolak untuk diantar Bebe sampai ke rumah. Gue orangnya gaenakan gan, selama gue bisa sendiri gue lebih memilih untuk ga ngerepotin orang lain.
Sejak saat itu, pemikiran gue terhadap Aji berubah drastis. Makin lama gue makin menjauh dari dia sampai benar-benar menjauh dan tidak pernah lagi berkomunikasi. Untuk beberapa saat gue denial dan masih menyalahkan Aji atas apa yang gue rasakan. Sampai gue mendengar kabar bahwa Aji telah pindah kuliah ke Jogja. Gue mau menghubungi dia, tapi kok malah lupa terus ya?
12 Juli 2014 menjadi tanggal dimana gue pertama kali bertemu dia dan mengalami kekecewaan karenanya. Sejak hari itu, gue gapernah bertemu dia lagi sampai dimana cerita ini ditullis. Kekecewaan yang gue rasakan dulu pun lambat laun sirna dengan sendirinya. Bulan lalu ia tiba-tiba chat facebook gue tapi baru gue bales beberapa hari yang lalu
Karena kan gue ga pernah buka facebook dari laptop, facebook di hp gue pun gaada mesengasrnya jadi gue gatau kalo ada chat masuk. Nah, sejak beberapa hari yang lalu, gue mulai komunikasi lagi sama dia dan berlanjut sampai sekarang. Ga intensif sih, cuma sekedar ngobrol dan sharing kehidupan kami.
Gue menceritakan tentang kegiatan baru gue, yaitu menulis, dan meminta dia untuk mengomentari tulisan gue. Dia juga bercerita tentang perkembangan dirinya selama di Jogja. Gatau kenapa, gue bahagia saat mendengar bahwa dia yang saat ini di Jogja menjadi lebih baik daripada ia yang sebelumnya. Sejak kami mulai menjalin komunikasi lagi, entah kenapa gue ingin membuat tulisan tentang dia menjadi salah satu bagian dari judul ini. Meskipun ia tidak pernah menyatakan perasaannya ataupun menjadi gebetan atau pacar gue, tapi gue merasakan dia telah masuk ke dalam hidup gue dan menjadi salah satu orang yang figurnya berpengaruh terhadap kehidupan percintaan gue. Oleh karena itu, gue memasukkan ia dan menjadikan dirinya dengan cerita tersendiri sebagai bentuk apresiasi gue kepada dirinya.
Gue merasakan kehadiran Aji yang berharga dalam hidup gue. Salah satu dari banyak orang yang membuat gue berubah menjadi diri gue yang lebih baik. Gue berharap, kisah gue dengan Aji dapat berjalan terus. Walaupun bukan menjadi kisah percintaan, setidaknya dapat menjadi kisah pertemanan yang tidak akan pernah terlupakan dan kembali diingat saat hari tua menjelang.
"Gue stres nih mau kuliah dimana," saat itu gue gagal masuk ke Perguruan Tinggi Negeri, gue cukup putus asa dan masuk ke dalam kegaulaan akan nasib pendidikan gue selanjutnya.
"Ya lo maunya dimana yang?"
"Gue maunya sih di IKJ tapi nyokap ga bolehin."
"Trus gimana?"
"Gue juga masih bingung. Lo sendiri mau lanjut kuliah atau kerja?" Aji lulusan SMK di Aceh. Iya Aceh. Kami terpisah jarak ribuan kilometer, terpisah oleh Selat Sunda untuk bertemu. Ia berada di ujung barat Indonesia, sedangkan gue berada di ibukota yang diagung-agungkan ini.
Tidak hanya gue yang galau akan nasib masa depan, Aji pun begitu. Kami saling cerita akan kegalauan kami, saling membantu satu sama lain. Saat gue telah menetapkan hati untuk masuk ke salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, Aji masih dalam kegalauan. Gue omelin dia, karena dia masih belum menentukan mau seperti apa dia bersikap untuk dirinya sendiri. Terselip rasa kekhawatiran gue terhadap dia. Akhirnya, Aji pun menceritakan niat dia yang ingin kuliah di perguruan tinggi swasta di Jogja. Gue mendukung segala keputusan yang dia buat dan memberikan beberapa saran yang mungkin ia butuhkan. Tapi sayang, niat baik Aji itu mungkin belum direstui oleh Sang Pencipta. Ia bilang bahwa pendaftaran untuk mahasiswa baru di tempat yang ia inginkan telah ditutup.
Waktu berjalan dan hampir memasuki masa perkuliahan semester baru. Akhirnya, Aji memutuskan untuk kuliah di Medan. Awalnya gue ngasih saran, kenapa ga kuliah di Jakarta? Di Jakarta lebih banyak perguruan tinggi swasta yang bagus dan terakreditasi dengan baik. Tapi Aji menolak dan memberikan alasan-alasannya, gue mencoba mengerti dan menghargai keputusan yang dia buat itu. Walaupun sebenarnya gue saat ingin sekali bertemu dengan Aji, ngobrol langsung, mengenal dia yang sebenarnya. Ia pernah menyampaikan niatnya untuk datang ke Jakarta, meskipun hanya sekedar untuk liburan dan bertemu dengan teman-temannya yang lain di Jakarta.
Sejak masuk kuliah, gue mulai berjauhan dengan Aji. Kesibukan kuliah ditambah dengan adanya teman-teman baru, yang membuat gue mulai meninggalkan game online sedikit demi sedikit. Kadang masih suka online, tapi tidak sesering dulu. Begitupun dengan Aji, ia juga menjadi sedikit jauh dari yang dulu pernah gue rasakan. Tapi kami mencoba untuk tetap menjaga komunikasi kami, entah dengan SMS ataupun chat di facebook. Awalnya komunikasi gue dengan Aji berjalan dengan baik, tapi lama-kelamaan kami jadi jarang banget komunikasi. Ia menjadi terlupakan begitu saja, mungkin karena banyaknya kegiatan yang gue jalanin dan juga mulai munculnya figur laki-laki baru yang mulai mengisi hari-hari gue semenjak putus dari Rhesa. Gue merasakan Aji semakin jauh, ah tidak, gue yang semakin menjauh.
Semester awal dunia perkuliahan telah gue lewati. Gue kangen sama Aji, mau ngobrol sama dia lagi. Gue buka facebook gue dan kebetulan Aji juga online. Gue chat dia. Gue basa-basi, membuka obrolan dengan menanyakan kabarnya dan kegiatannya di kampus. Ia menceritakan bagaimana beratnya kegiatan yang ia jalani selama di Medan. Bagaimana ia menjadi merasa lebih kesepian di sana. Ia merasa bahwa ia tidak bisa bersosialisasi dengan lingkungan dan orang-orang yang ada di sekitarnya di sana.
"Ji, tolong jangan kaya gini terus. Lo harus lebih bersosialisasi, hidup lo ga cuma di depan PC!" Gue marah, karena liat regress dari dirinya.
"Iya yang."
"Lo harus berubah Ji demi diri lo sendiri. Lo perantau, di kota orang. Lo harus punya teman, supaya nanti ada yang bisa bantu lo saat lo susah."
Tidak hanya kesedihannya terhadap lingkungan barunya, ia pun menceritakan bagaimana buruknya nilai yang ia dapatkan dalam mata kuliahnya. Gue tau kalau Aji itu tidak bodoh! Ga seharusnya ia mendapatkan nilai yang ga pantas ia dapatkan! Sorry, gue emosi.
Waktu berlalu, gue masih tetap sibuk dengan kegiatan dan keegoisan gue sendiri, dan menjadi terus semakin melupakan Aji. Sampai suatu ketika, ia chat facebook gue,
"Ca, gue mau ke Jakarta."
"DEMI APA???!!!!" Gue girang banget saat itu. Setelah bertahun-tahun kenal Aji, akhirnya gue bisa ketemu dia. "Kapan Ji?"
"Belum tau tepatnya kapan."
"Ada acara apa ke Jakarta?"
"Gue mau pindah ke Jogja, mampir dulu ke Jakarta sekalian ketemu lo, Bebe, Opor, dkk."
"Yaudah lo kabarin aja jadinya kapan, tapi jangan dadakan. Paling ga kabarin seminggu sebelumnya ya."
12 Juli 2014
Bertepatan dengan bulan puasa. Sekitar pukul 12 siang ia sampai di bandara Soekarno-Hatta dan saat itu Jakarta sedang terguyur oleh hujan. Gue bingung gimana caranya jemput Aji ke bandara, karena saat itu gue belum bisa menyetir mobil sendiri. Ga mungkin juga gue minta tolong abang gue buat nemenin jemput Aji, dia juga ga bakalan mau huft

Sehari sebelumnya, gue komunikasi dengan Opor dan Bebe, teman-teman game gue dulu. Kebetulan mereka juga sedang tidak bisa jemput Aji langsung di bandara. Tapi mereka bilang, untuk membawa Aji ke Bogor. Bebe dan Opor tinggal di Bogor. Opor menyuruh gue untuk naik bis DAMRI yang langsung menuju ke bandara dan dari sana naik bis DAMRI lagi menujur Bogor.
Dari rumah, di Matraman, gue naik ojek untuk sampai ke Terminal Rawamangun dimana bis DAMRI berada. Untung saja, saat gue sampai di terminal, bis DAMRI sedang bersiap untuk berangkat. Singkat cerita, gue berangkat menuju bandara dibutuhkan waktu sekitar 1 jam. Selama di perjalanan itu, gue menjaga komunikasi dengan Aji. Sampai di bandara, gue turun di terminal Kedatangan Dalam Negeri, mencari Aji. Pertama kalinya gue bertemu Aji, gue semangat banget! Gatau kenapa. Gue mau tau ia seperti apa saat ini, baju apa yang ia kenakan, bagaimana suaranya, apakah ia sama asiknya seperti yang gue kenal sebelumnya? Gue membayangkan hal-hal itu sampai berekspektasi terlalu tinggi.
"Ca!" Terdengar seseorang yang memanggil gue dari kejauhan.
"Aji? AJI!!!!!!!!!!!" Gue girang kebangetan. "Uda nunggu lama?"
"Engga, gue juga baru keluar tadi."
"Yaudah ayo langsung cabut kita ke Bogor, entar ketemu Bebe sama Opor di sana."
Kesan pertama gue ketemu sama Aji? TOTALLY I WAS DISSAPOINTED WITH HIM!
Not really, emang guenya aja yang berekspektasi ketinggian. Jujur, Aji jauh dari apa yang gue duga dan harapkan. Maaf Ji, gue harus jujur demi keberlangsungan cerita gue di sini

Bagaimana suaranya, bagimana penampilannya, bagaimana cara berbicaranya, bagimana asiknya dia diajak ngobrol, semuanya ga sesuai apa yang gue harapkan. Gue pikir Aji seasik Aji yang gue kenal dulu, yang tiap hari ngobrol dan bercanda sama gue. Tapi kenyataannya tidak. Entah karena itu adalah pertemuan pertama ia dengan gue yang membuatnya canggung atau mungkin emang sifat aslinya yang introvert. Who knows?
Kami berdua ke Bogor naik bis DAMRI. Selama di perjalanan, gue bete. Aji ga asik diajak ngobrol. Ia tidak banyak ngomong dan lebih sering gue yang ngajak ngobrol duluan. HEY! DIA BENAR-BENAR BUKAN SEPERTI AJI YANG GUE KENAL DULU!!!
Karena gue bete, gue lebih banyak sibuk main hp sendiri. Tapi saat dia ngajak ngobrol, gatau kenapa gue jawabnya jutek dan ketus. Gue merasa bersalah saat itu. Ga harusnya gue bersikap kaya gitu ke dia, harusnya gue berpura-pura asik meskipun gue lagi bete.
Sampai di Bogor, kami berdua dijemput di Botani Square. Saat itu kami sampai di Bogor sore hari dan hampir memasuki waktu berbuka puasa. Setelah bertemu dengan Bebe dan Opor, kami menuju sebuah restoran all you can eatdi daerah Padjajaran. Selesai makan, kami tidak langsung pulang tapi memilih menetap untuk berbincang-bincang. Ada saat dimana gue dan Opor keluar dari restoran, lalu gue pun menceritakan tentang kekecewaan gue terhadap Aji.
"Por, kok dia kaya bukan Aji ya?"
"Maksudnya gimana, Ca?"
"Iya, saat pertama kali ketemu, pas di perjalanan ke sini juga kita lebih banyak diam. Dia kaya bukan Aji yang gue kenal dulu. Dia gaasik!"
"Mungkin karena Aji capek ca. Ini juga pertama kalinya dia ketemu lo, mungkin dia malu jadinya canggung pas ngobrol sama lo."
Saat itu gue egois banget, gamau mendengarkan pendapat orang lain dan lebih memilih mempercayai apa yang gue lihat langsung. Gue lebih banyak ngobrol sama Bebe dan Opor daripada sama Aji. Masih terpengaruhi oleh efek bete dan kecewa yang gue rasakan. Jahat banget gue. Kesenangan gue yang awalnya mendengar berita Aji akan ke Jakarta, berubah menjadi kekecewaan saat betemu dengan dia. Harusnya gue mencoba mengerti akan kondisi dia saat itu, tapi gue egois dan lebih memilih memikirkan diri gue sendiri.
Sekitar pukul 8 malam lewat kami keluar dari restoran dan Bebe mengantar gue sampai ke stasiun Bogor. Gue menolak untuk diantar Bebe sampai ke rumah. Gue orangnya gaenakan gan, selama gue bisa sendiri gue lebih memilih untuk ga ngerepotin orang lain.
Sejak saat itu, pemikiran gue terhadap Aji berubah drastis. Makin lama gue makin menjauh dari dia sampai benar-benar menjauh dan tidak pernah lagi berkomunikasi. Untuk beberapa saat gue denial dan masih menyalahkan Aji atas apa yang gue rasakan. Sampai gue mendengar kabar bahwa Aji telah pindah kuliah ke Jogja. Gue mau menghubungi dia, tapi kok malah lupa terus ya?
12 Juli 2014 menjadi tanggal dimana gue pertama kali bertemu dia dan mengalami kekecewaan karenanya. Sejak hari itu, gue gapernah bertemu dia lagi sampai dimana cerita ini ditullis. Kekecewaan yang gue rasakan dulu pun lambat laun sirna dengan sendirinya. Bulan lalu ia tiba-tiba chat facebook gue tapi baru gue bales beberapa hari yang lalu
Karena kan gue ga pernah buka facebook dari laptop, facebook di hp gue pun gaada mesengasrnya jadi gue gatau kalo ada chat masuk. Nah, sejak beberapa hari yang lalu, gue mulai komunikasi lagi sama dia dan berlanjut sampai sekarang. Ga intensif sih, cuma sekedar ngobrol dan sharing kehidupan kami.
Gue menceritakan tentang kegiatan baru gue, yaitu menulis, dan meminta dia untuk mengomentari tulisan gue. Dia juga bercerita tentang perkembangan dirinya selama di Jogja. Gatau kenapa, gue bahagia saat mendengar bahwa dia yang saat ini di Jogja menjadi lebih baik daripada ia yang sebelumnya. Sejak kami mulai menjalin komunikasi lagi, entah kenapa gue ingin membuat tulisan tentang dia menjadi salah satu bagian dari judul ini. Meskipun ia tidak pernah menyatakan perasaannya ataupun menjadi gebetan atau pacar gue, tapi gue merasakan dia telah masuk ke dalam hidup gue dan menjadi salah satu orang yang figurnya berpengaruh terhadap kehidupan percintaan gue. Oleh karena itu, gue memasukkan ia dan menjadikan dirinya dengan cerita tersendiri sebagai bentuk apresiasi gue kepada dirinya.
Gue merasakan kehadiran Aji yang berharga dalam hidup gue. Salah satu dari banyak orang yang membuat gue berubah menjadi diri gue yang lebih baik. Gue berharap, kisah gue dengan Aji dapat berjalan terus. Walaupun bukan menjadi kisah percintaan, setidaknya dapat menjadi kisah pertemanan yang tidak akan pernah terlupakan dan kembali diingat saat hari tua menjelang.
0
Kutip
Balas