- Beranda
- Stories from the Heart
The Abnormal (kisah fiksi bercampur reality masa-masa SMA)
...
TS
joechristianp
The Abnormal (kisah fiksi bercampur reality masa-masa SMA)
The Abnormal
Selamat pagi, siang, sore, malam agan/wati semuanya
Disini saya mau mengikuti saran dari teman saya yaitu menyebarluaskan hobi iseng-iseng saya ini
tak lain dan tak bukan adalah menulis
selama ini kegiatan saya hanyalah mengekspresikan hobi ini secara tertutup di laptop pribadi
sampai suatu saat teman saya menyarankan untuk memposting di SFTH kaskus.. katanya para pembaca disini baek-baek

oleh karena itu, saya mohon pendapat agan/wati semuanya jikalau ada saran untuk tulisan-tulisan saya yang kebetulan belum pernah dibaca oleh siapapun

satu lagi.. saya masih newbie di kaskus.. jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau thread ini tidak rapi atau tidak layak dimata agan-agan sekalian

Terima kasih untuk yang mau membaca dan mohon bantuannya
~Don't judge a book by it's cover ~
... meh, that's bullshit !
Spoiler for Sinopsis:
...
Samuel yang biasa dipanggil 'Jo' adalah siswa SMA yang selalu beranggapan kalau kata don't judge a book by it's coveradalah omong kosong. karena apa yang dia lihat selalu tak sesuai dengan ekspetasi dia.
ditambah lagi penyakit social awkwardnya membuat dia selalu merasa canggung di dekat lawan jenis dan karena itu, dia dijuluki 'cowo terjutek' semasa hidupnya.
sampai suatu hari. seseorang yang unik muncul di hadapannya dan mengubah seluruh jalan hidupnya. serempak dengan datangnya masalah yang bertubi-tubi, dapatkah dia menggapai tujuannya?
...
Spoiler for Prolog:
Cerita ini bukan dari kisah nyata tetapi saya memberanikan diri untuk menempatkan nama sekolah sendiri sebagai latar utama.Saya juga akan menggunakan gaya bahasa setengah gaul
walaupun saya belum terbiasa memakainya. Ketika saya melihat foto sepupu saya yang menderita down syndrome, pikiran saya mulai mengarang cerita dan saya ingin mengaplikasikannya dalam bentuk light-novel. Walau ini bukan kisah nyata; sifat, latar, dan tokoh yang saya pakai berasal dari dunia nyata.
Disini saya akan menuliskan beberapa pengalaman hidup saya yang baru 16 tahun ini dan menambahkan sedikit bumbu-bumbu imajinasi orisinil dari otak saya sendiri dan dari beberapa buku, film, bahkan kartun yang mengambil peran dalam hidup saya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua orang mengatakan kalau jangan menilai orang dari tampangnya melainkan nilai dari apa yang ada dalam dirinya, tapi bagi gue itu semua omong kosong. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang menilai orang secara langsung dari sifat objek yang dinilainya. Orang-orang akan memperlakukan kamu lebih baik jika kamu cakep (baca: cantik atau ganteng). Berdasarkan paham negatif inilah gue meyakini kalau frase don’t judge a book by it’s cover itu omong kosong. Pada kenyataanya manusia membeli buku dengan cover yang bagus, membeli makanan yang kemasannya bagus, bahkan lebih bangga memakai gadget berlambang apel padahal fiturnya sama dengan gadget yang harganya sama dengan uang jajan gue selama sebulan.
Tapi tak jarang gue sedikit menerima kalau ada beberapa orang yang benar-benar menilai orang dari sifat alaminya. Seperti contoh, saat gue ke Trans Studio Bandung (TSB) bersama teman-teman gue, ada cewek cantik se-kabupaten mempunyai pacar seorang cowo yang mukanya lebih mirip dengan siluman gagang pintu. Disitu gue menilai mungkin si cowo benar-benar memiliki hati yang pure dan si cewe benar-benar tulus mencintainya. Tapi sesaat kami hendak pulang, di tempat parkir, si cowok sedang asyik memainkan kunci mobil lamborgini nya dengan muka senyum sombong merangkul sang cewe yang senang kegirangan memegang produk paling baru dari gadget apel yang sudah disebutkan diatas. Sejak kejadian itu, gue dan teman-teman sejomblo sepakat untuk tidak ke TSB lagi.
Mari kita kesampingkan masalah siluman gagang pintu dulu, disini gue akan memaksukan objek manusia yang biasanya sosoknya dihiraukan oleh manusia lain. Tak lain dan tak bukan adalah manusia yang tidak normal. Orang yang dilahirkan tak sempurna dari semestinya. Gue percaya semua orang mempunyai masa depan yang cerah yang telah Tuhan tentukan. Mau itu cinta, karir, kesehatan, keluarga dan lain-lain asalkan kita sebagai makhluk ciptaanNya mengikuti apa yang Dia perintahkan.
Tidak semua manusia normal. Ada yang dilahirkan hanya dengan satu tangan. ada juga yang mempunyai dua tangan, dua kaki tapi harus berbagi kepala dan jantung dan seisi perutnya bersama saudara kembar sebadannya. Begitu pula dengan cinta. Semua punya selera masing-masing. Si tampan dengan si cantik. Si kaya dengan si miskin. Si pemain film serigala dengan si cantik, si kaya, si sosialita, si pintar dan si lain-lainnya. yaa, pemain film mempunyai banyak pacar, oleh karena itu, selain jadi pengacara, cita-cita sampingan gue adalah pemain film.
Gue sebagai pengarang cerita ini berharap kalau isi novel ini benar-benar ada di dunia nyata dimana orang-orang yang dilahrikan kurang dari semestinya mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama seperti manusia pada umumnya.
walaupun saya belum terbiasa memakainya. Ketika saya melihat foto sepupu saya yang menderita down syndrome, pikiran saya mulai mengarang cerita dan saya ingin mengaplikasikannya dalam bentuk light-novel. Walau ini bukan kisah nyata; sifat, latar, dan tokoh yang saya pakai berasal dari dunia nyata.Disini saya akan menuliskan beberapa pengalaman hidup saya yang baru 16 tahun ini dan menambahkan sedikit bumbu-bumbu imajinasi orisinil dari otak saya sendiri dan dari beberapa buku, film, bahkan kartun yang mengambil peran dalam hidup saya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua orang mengatakan kalau jangan menilai orang dari tampangnya melainkan nilai dari apa yang ada dalam dirinya, tapi bagi gue itu semua omong kosong. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang menilai orang secara langsung dari sifat objek yang dinilainya. Orang-orang akan memperlakukan kamu lebih baik jika kamu cakep (baca: cantik atau ganteng). Berdasarkan paham negatif inilah gue meyakini kalau frase don’t judge a book by it’s cover itu omong kosong. Pada kenyataanya manusia membeli buku dengan cover yang bagus, membeli makanan yang kemasannya bagus, bahkan lebih bangga memakai gadget berlambang apel padahal fiturnya sama dengan gadget yang harganya sama dengan uang jajan gue selama sebulan.
Tapi tak jarang gue sedikit menerima kalau ada beberapa orang yang benar-benar menilai orang dari sifat alaminya. Seperti contoh, saat gue ke Trans Studio Bandung (TSB) bersama teman-teman gue, ada cewek cantik se-kabupaten mempunyai pacar seorang cowo yang mukanya lebih mirip dengan siluman gagang pintu. Disitu gue menilai mungkin si cowo benar-benar memiliki hati yang pure dan si cewe benar-benar tulus mencintainya. Tapi sesaat kami hendak pulang, di tempat parkir, si cowok sedang asyik memainkan kunci mobil lamborgini nya dengan muka senyum sombong merangkul sang cewe yang senang kegirangan memegang produk paling baru dari gadget apel yang sudah disebutkan diatas. Sejak kejadian itu, gue dan teman-teman sejomblo sepakat untuk tidak ke TSB lagi.
Mari kita kesampingkan masalah siluman gagang pintu dulu, disini gue akan memaksukan objek manusia yang biasanya sosoknya dihiraukan oleh manusia lain. Tak lain dan tak bukan adalah manusia yang tidak normal. Orang yang dilahirkan tak sempurna dari semestinya. Gue percaya semua orang mempunyai masa depan yang cerah yang telah Tuhan tentukan. Mau itu cinta, karir, kesehatan, keluarga dan lain-lain asalkan kita sebagai makhluk ciptaanNya mengikuti apa yang Dia perintahkan.
Tidak semua manusia normal. Ada yang dilahirkan hanya dengan satu tangan. ada juga yang mempunyai dua tangan, dua kaki tapi harus berbagi kepala dan jantung dan seisi perutnya bersama saudara kembar sebadannya. Begitu pula dengan cinta. Semua punya selera masing-masing. Si tampan dengan si cantik. Si kaya dengan si miskin. Si pemain film serigala dengan si cantik, si kaya, si sosialita, si pintar dan si lain-lainnya. yaa, pemain film mempunyai banyak pacar, oleh karena itu, selain jadi pengacara, cita-cita sampingan gue adalah pemain film.
Gue sebagai pengarang cerita ini berharap kalau isi novel ini benar-benar ada di dunia nyata dimana orang-orang yang dilahrikan kurang dari semestinya mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama seperti manusia pada umumnya.
Spoiler for PART 1: Normal:
Nama gue Sam Cristian. Panjangnya Samuel Cristian Gibran Panjaitan. Gue mempunyai nama paling panjang di kelas (mungkin di sekolah) sekaligus mempunyai gelar nama panggilan terpendek. Makhluk-makhluk di sekolah biasa memanggil gue Jo (bahkan ada yang memanggil O ). (panggilan gue didapat dari nama karakter game online gue. semua game online yang gue mainin nick nya Joe blablabla.., awalnya hanya teman sepermainan gue yang tau, eh ternyata sampe keterusan ke kelas..)(diluar ketika ditanya apa nama panggilannya, gue selalu mengatakan 'Jo')
Sepanjang hidup gue yang masih pendek ini, terlihat sangat normal. Tampang biasa saja,Hidup berkecukupan, sekolah lancar, makan tiga kali sehari, berantem, bahkan ikut main ke warnet saat point blank datang merusak generasi yang sudah rusak ini.
Tapi dikehidpuan gue yang normal ini, gue menderita penyakit psikologis yang beberapa orang mungkin mengalaminya tapi belum menyadarinya, penyakit ini disebut social-awkward. Ciri-cirinya: gue akan mengeluarkan aura canggung setiap bertemu orang yang baru kenal,gue gak bisa menatap mata orang lama-lama, gue gak akan bisa membuat percakapan di ruang penuh orang tetapi sepi, gue hanya ngobrol akrab bersama orang yang gue anggap teman (biasanya teman sekelas), dan yang paling menonjol setiap gue suka sama sosok cewek, gue akan mengobrol tak kenal lelah melalui jejaring sosial, entah itu sms, bbm, LINE, simsimi, apapun itu. Tapi ketika bertemu dengan orangnya langsung, mulut gue membisu, otak gue berhenti sesaat, tak ada yang bisa gue lakukan selain membuang muka. Alhasil gue dapat predikat cowo terjutek sejak SD kelas 4 sampai sekarang. Gue sedikit bangga dengan itu, itu membuktikan kalau keberadan gue setidaknya di akui orang.
Selain social-awkward di kehidupan gue yang normal ini ada satu hal yang menurut gue tidak normal kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan gue. Yaitu cinta.
Gue belum pernah merasakan cinta yang benar-benar sampai ke pojok hati gue. Sebatas suka yang sebulan kemudian rasa itu telah terlupakan. Cinta monyet yang merupakan salah satu dari syndrom remaja ini sering menghampiri gue. Gebetan gue banyak (pas smp). Tapi hanya tiga yang nyantol.
Gue sering membandingkan kisah asmara gue dengan teman-teman smp dan sma gue. Beberapa dari mereka bisa awet pacaran sampai bertahun-tahun padahal setiap bulannya mereka pasti berantem dan membuat suasana kelas jadi canggung. Ada yang pacarannya sudah direstui orangtua kedua belah pihak. Bahkan ada yang sudah merasakan first kiss nya (ya gue gak ngarep sih). Tapi gue disini hanya menjadi perantara teman-teman gue yang pacaran dan menjadi sumber cibiran mereka saat gue melakukan kesalahan. “jomblo sihh” begitu kurang lebih.
Ketiga mantan gue ini hampir semua gue udah lupa. Yang paling gue inget adalah yang terakhir. Sosok bernama Fifi ini mengaku suka gue ketika jurit malam acara dari gereja gue dulu. Malam itu kami disuruh melewati jalan setapak becek nan gelap. Gue sebagai laki-laki satu-satunya di kelompok itu membranikan diri membawa senter dan maju di barisan paling depan. Fifi berada dibelakang gue dan sepanjang perjalan dia memegang lengan jaket gue.
Awalnya hanya jaket. Tapi makin jauh kami melewati jalan setapak ini, tangan dia berada di telapak tangan gue.
“gue takut Jo, kaya gini sebentar gapapa ya?”
Yahh well ini berkah buat gue. Lumayan tangan gue yang sudah lama tidak digenggam ini dipegang oleh cewe cantik yang baru saja gue kenal. Jadi gue bersikap gentle dan mempersilahkan dia menyandarkan ketakutannya ke tangan gue.
Selesai acara dia berkata
“wah Jo lu hebat banget ya. Kok berani siih di tempat gelap sempit gitu? Jago deh kamu”
Disitu gue gak mungkin berkata yang sejujurnya. Apanya yang berani? Sepanjang acara gue ngumpulin semua ketakutan gue ke dalam perut gue yang masuk angin. Seingat gue, setiap mau jalan langkah kaki gue gemetar membayangkan apa yang bersembunyi di tempat gelap seperti itu. Tapi apa boleh buat, bacot an khas gue keluar tiba-tiba bercampur dengan kebiasaan social-awkward gue.
“ah segitu mah udah sering di rumah, huehe” gue berbicara dengan nada sok cool sambil membuang muka.
Dengan semua kejadian itu, pada akhirnya gue bertukaran nomor handphone dan pin bb. Kebiasaan buruk gue terjadi lagi. Gue banyak berbicara di percakapan tak langsung itu. Kami berbicara tak kenal waktu. Menanyakan hal-hal yang sama terus menerus sampai salah satu berkata “udah dulu ya udah malam, dadah good night, sleep well !”
Itu berulang terus menerus sampai takdir mempertemukan kami secara langsung di gereja. Saat kami berpapasan dia hanya melempar senyum sedangkan gue melempar muka sambil menahan malu.
Sampai sekarang belum ada percakapan secara langsung diantara kami. Gue hanya berbicara seperti orang bisu melalui handphone.
Lambat laun kami menyatakan saling suka (melalui sms). Walaupun ngomongnya udah pake sayang-sayang an, gue gak pernah nembak dia. Jadi secara teoritis hubungan ini tidak bisa dikatakan pacar. Hanya gue seorang yang menganggap dia mantan pacar gue setiap ditanya perihal “berapa banyak mantan pacar lo?”
Fifi cewek yang bener-bener gue respect. Dia berkata kalau gue cinta pertamanya dan dia belum pernah merasa senyaman ini setiap dia chattingan dengan gue.
Sampai sekarang kami punya janji. Setelah kelulusan SMP gue pernah berkata gue bakal masuk sma di Bandung (saat itu gue masih tinggal di cianjur). Dia berkata gak ada yang bisa gantiin gue, dia gak pengen gue pindah. Dan dengan kebranian, kebodohan, kepolosan gue, gue berkata “sanggup nunggu tiga tahun?”.
Dia menyanggupinya, dia berkata bakal nunggu tiga tahun sampai dia lulus sma dan hendak kuliah ke Bandung. Janji itu masih berlaku sampai sekarang. Gue tinggal meunggu 1,5 tahun lagi untuk membuktikan janji yang dibuat anak smp ini. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati gue, janji ini sama sekali tidak gue tanggapi.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun penyakit gue, gue sadar kalau Fifi adalah orang terakhir yang gue suka. ~
Sampai dia datang dan mengubah segalanya...
Sepanjang hidup gue yang masih pendek ini, terlihat sangat normal. Tampang biasa saja,Hidup berkecukupan, sekolah lancar, makan tiga kali sehari, berantem, bahkan ikut main ke warnet saat point blank datang merusak generasi yang sudah rusak ini.
Tapi dikehidpuan gue yang normal ini, gue menderita penyakit psikologis yang beberapa orang mungkin mengalaminya tapi belum menyadarinya, penyakit ini disebut social-awkward. Ciri-cirinya: gue akan mengeluarkan aura canggung setiap bertemu orang yang baru kenal,gue gak bisa menatap mata orang lama-lama, gue gak akan bisa membuat percakapan di ruang penuh orang tetapi sepi, gue hanya ngobrol akrab bersama orang yang gue anggap teman (biasanya teman sekelas), dan yang paling menonjol setiap gue suka sama sosok cewek, gue akan mengobrol tak kenal lelah melalui jejaring sosial, entah itu sms, bbm, LINE, simsimi, apapun itu. Tapi ketika bertemu dengan orangnya langsung, mulut gue membisu, otak gue berhenti sesaat, tak ada yang bisa gue lakukan selain membuang muka. Alhasil gue dapat predikat cowo terjutek sejak SD kelas 4 sampai sekarang. Gue sedikit bangga dengan itu, itu membuktikan kalau keberadan gue setidaknya di akui orang.
Selain social-awkward di kehidupan gue yang normal ini ada satu hal yang menurut gue tidak normal kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan gue. Yaitu cinta.
Gue belum pernah merasakan cinta yang benar-benar sampai ke pojok hati gue. Sebatas suka yang sebulan kemudian rasa itu telah terlupakan. Cinta monyet yang merupakan salah satu dari syndrom remaja ini sering menghampiri gue. Gebetan gue banyak (pas smp). Tapi hanya tiga yang nyantol.
Gue sering membandingkan kisah asmara gue dengan teman-teman smp dan sma gue. Beberapa dari mereka bisa awet pacaran sampai bertahun-tahun padahal setiap bulannya mereka pasti berantem dan membuat suasana kelas jadi canggung. Ada yang pacarannya sudah direstui orangtua kedua belah pihak. Bahkan ada yang sudah merasakan first kiss nya (ya gue gak ngarep sih). Tapi gue disini hanya menjadi perantara teman-teman gue yang pacaran dan menjadi sumber cibiran mereka saat gue melakukan kesalahan. “jomblo sihh” begitu kurang lebih.
Ketiga mantan gue ini hampir semua gue udah lupa. Yang paling gue inget adalah yang terakhir. Sosok bernama Fifi ini mengaku suka gue ketika jurit malam acara dari gereja gue dulu. Malam itu kami disuruh melewati jalan setapak becek nan gelap. Gue sebagai laki-laki satu-satunya di kelompok itu membranikan diri membawa senter dan maju di barisan paling depan. Fifi berada dibelakang gue dan sepanjang perjalan dia memegang lengan jaket gue.
Awalnya hanya jaket. Tapi makin jauh kami melewati jalan setapak ini, tangan dia berada di telapak tangan gue.
“gue takut Jo, kaya gini sebentar gapapa ya?”
Yahh well ini berkah buat gue. Lumayan tangan gue yang sudah lama tidak digenggam ini dipegang oleh cewe cantik yang baru saja gue kenal. Jadi gue bersikap gentle dan mempersilahkan dia menyandarkan ketakutannya ke tangan gue.
Selesai acara dia berkata
“wah Jo lu hebat banget ya. Kok berani siih di tempat gelap sempit gitu? Jago deh kamu”
Disitu gue gak mungkin berkata yang sejujurnya. Apanya yang berani? Sepanjang acara gue ngumpulin semua ketakutan gue ke dalam perut gue yang masuk angin. Seingat gue, setiap mau jalan langkah kaki gue gemetar membayangkan apa yang bersembunyi di tempat gelap seperti itu. Tapi apa boleh buat, bacot an khas gue keluar tiba-tiba bercampur dengan kebiasaan social-awkward gue.
“ah segitu mah udah sering di rumah, huehe” gue berbicara dengan nada sok cool sambil membuang muka.
Dengan semua kejadian itu, pada akhirnya gue bertukaran nomor handphone dan pin bb. Kebiasaan buruk gue terjadi lagi. Gue banyak berbicara di percakapan tak langsung itu. Kami berbicara tak kenal waktu. Menanyakan hal-hal yang sama terus menerus sampai salah satu berkata “udah dulu ya udah malam, dadah good night, sleep well !”
Itu berulang terus menerus sampai takdir mempertemukan kami secara langsung di gereja. Saat kami berpapasan dia hanya melempar senyum sedangkan gue melempar muka sambil menahan malu.
Sampai sekarang belum ada percakapan secara langsung diantara kami. Gue hanya berbicara seperti orang bisu melalui handphone.
Lambat laun kami menyatakan saling suka (melalui sms). Walaupun ngomongnya udah pake sayang-sayang an, gue gak pernah nembak dia. Jadi secara teoritis hubungan ini tidak bisa dikatakan pacar. Hanya gue seorang yang menganggap dia mantan pacar gue setiap ditanya perihal “berapa banyak mantan pacar lo?”
Fifi cewek yang bener-bener gue respect. Dia berkata kalau gue cinta pertamanya dan dia belum pernah merasa senyaman ini setiap dia chattingan dengan gue.
Sampai sekarang kami punya janji. Setelah kelulusan SMP gue pernah berkata gue bakal masuk sma di Bandung (saat itu gue masih tinggal di cianjur). Dia berkata gak ada yang bisa gantiin gue, dia gak pengen gue pindah. Dan dengan kebranian, kebodohan, kepolosan gue, gue berkata “sanggup nunggu tiga tahun?”.
Dia menyanggupinya, dia berkata bakal nunggu tiga tahun sampai dia lulus sma dan hendak kuliah ke Bandung. Janji itu masih berlaku sampai sekarang. Gue tinggal meunggu 1,5 tahun lagi untuk membuktikan janji yang dibuat anak smp ini. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati gue, janji ini sama sekali tidak gue tanggapi.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun penyakit gue, gue sadar kalau Fifi adalah orang terakhir yang gue suka. ~
Sampai dia datang dan mengubah segalanya...
Spoiler for Indeks:
PART 6: Hoseki ? Hoffen?
PART 7: Hoseki ? Hoffen? -2
PART 8: The Abnormal One
PART 9: The Abnormal One -2
PART 10: The Abnormal One -3
PART 11: Pembahasan Tanpa Ujung
PART 12: Kerupuk Ikan Rasa Udang (A story from Redzki)
PART 13: Kerupuk Ikan Rasa Udang (A story from Redzki) -2
PART 14: Benjamin Spock
PART 15: Benjamin Spock -2
PART 16: Benjamin Spock -3
PART 17: Trissha Minnoty
PART 18: Trissha Minnoty -2
PART 19: Between You and Her
PART 20: Symphony 7 Warna
PART 21: Symphony 7 Warna -2
PART 22: Symphony 7 Warna -3
PART 23: Permata dan Harapan
PART 24: Permata dan Harapan -2
PART 25: Permata dan Harapan -3
PART 26: Gadis Malu
PART 27: Black Market
PART 28: Black Market -2
PART 29: Sebab Akibat
PART 30: Sebab Akibat -2
PART 31: Anggrek Bulan
PART 32: Anggrek Bulan -2
PART 33: Dibalik Hujan Kemarau (A story from Agam)
PART 34: Dibalik Hujan Kemarau (A story of Agam) -2
PART 35: If You Know What I Mean
PART 36: If You Know What I Mean -2
PART 37: 15 Agustus
PART 38: 15 Agustus -2
PART 39: Minneapolis
PART 40: Minneapolis -2
PART 41: Woman's Problem
PART 42: Woman's Problem -2
PART 43: Uncompleted Canceled Plan
PART 44: Uncompleted Canceled Plan -2
PART 45: Uncompleted Canceled Plan -3
PART 46: Uncompleted Canceled Plan -4
PART Bonus: Yuk! mengenal dan tes Highly Sensitive Person !
Spoiler for Penokohan:
Sam Cristian (Joe) ... Tokoh utama dalam cerita. juga berperan sebagai penulis cerita alias TS sendiri

Hoseki Hoffen ... Perempuan yang menjadi sorotan karena keunikannya.. mungkin ada yang bertanya kenapa namanya nyentrik banget, karena itu tetap bersabar karena ada part dimana nama makhluk ini dijabarkan.
Mino ... Perempuan yang mempunyai cara sendiri ketika mengejar orang yang disukainya... aneh memang.
Agam ... si otaku pervert temennya Sam
Redzki ... Maniak komputer yang misterius. temennya Sam juga
Bagdi (bang Andi) ... anaknya pak kost yang kebetulan seorang psikolog. temennya Sam lagi..
Cipta ... pelawak di Baka sekaligus ketua Baka. lagi-lagi temannya Sam..
Bella ... Perempuan yang dikejar-kejar Sam. ...tadinya
Om Albert ... Ayahnya Hoseki. si kaya dengan sembilan anak uniknya.
Pakos ... pria buncit sang penjaga rumah kost
Bukos ... sepaket dengan Pakos
Renaldi ... teman bermain Sam. hanya muncul saat dikantin.
Bu Musdianti .. si guru bahasa Inggris yang kelewat baik.
Pak Momo ... Si wali kelas tercintah
..next, Coming Soon
Diubah oleh joechristianp 13-09-2015 20:08
anasabila memberi reputasi
1
17.2K
Kutip
126
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
joechristianp
#28
Spoiler for PART 14: Benjamin Spock:
Gue kembali ke rutinitas biasa. Sekolah, tidur, makan (selera makan tergantung penanggalan), dan terkadang belajar. Walau gue udah bisa dibilang bertobat, kebiasaan gue main warnet tidak bisa diubah. Setidaknnya di warnet gue gak buka yang macem-macem.
Warnet bernama permai ini udah gue anggap rumah ke-3 (setelah rumah dan kost). Gue bermain untuk menghabiskan waktu luang gue. operatornya juga menjadi primadona di warnet ini. Hampir seluruh anak-anak yang sering bermain di warnet ini berkonsultasi tentang hidupnya kepada babeh (panggilan makhluk warnet untuk operator warnet yang memang sudah tua ini). Dia punya banyak pengalaman hidup jadi dia bisa diandalkan. Kalau sedang krisis akhir bulan, babeh menjadi sandaran gue yang terakhir. Karena kebaikannya dia mempersilahkan gue membeli kredit supermie double + telor + teh gelas. Terkadang pakai kerupuk.
Gue diajak ke warnet ini oleh teman seagama gue disekolah, Yosian. Karena dia gue gak bisa lepas dari warnet.
Seperti biasa ketika gue baru pulang dari warnet, gue selalu di sapa oleh fans gue. tukang ojek. Mereka selalu melambaikan tangan setiap gue melintas didepan mereka. Momment ketika gue lewat didepan lambaian tangan mereka sambil menggelengkan kepala menjadi sensansi tersendiri buat gue. Hari itu yang berbeda, ketika gue melintas di depan pangkalan ojek, bu Musdianti, guru bahasa Inggris, yang sudah menaikkan setengah badannya ke ojek mendadak turun kembali setelah melihat gue.
“Sam ?”
“ya bu?”
“kamu darimana?”
Pertanyaan ini yang paling ingin gue hindari.
“anuu bu dari rumah temen.”
“ oh yaudah sini dulu.” Ajak bu Mus sambil mengeluarkan selembaran dari tas gandeng nya.
“apa ini bu?”
“jadi gini, kamu kan bahasa Inggrisnya lumayan. Sekolah kita dapet undangan lomba bahasa Inggris gitu. Nah kamu ingin ibu masukin di kategori Scrabble. Jadi besok kamu cari partner main kamu dan berkumpul pas jam kedua istirahat di perpustakaan ya?” perintah Bu Mus panjang lebar.
“wah olimpiade bu?! Oke saya ikut !”
“iya iya, besok bawa satu orang temen kamu ke perpus buat jadi lawan main kamu. Understood?”
“yes, ma’am”
“oke ibu pulang dulu.” Bu Mus kembali naik ke ojeknya, membisikkan sesuatu kepada sang supir dan mereka melaju berlawanan dari arah gue.
Gue melambaikan tangan tanda perpisahan. Tetapi setelah gue melihat kebelakang, gue melihat Hoseki, yang entah dari mana, naik ke mobil Camry hitam. Itu mobil yang biasa dipakai untuk menjemput dia.
Sontak rasa penasaran gue kembali naik. Gue menarik sopir ojek yang sedang menikmati gorengan dan gue memerintah.
“MANG IKUTIN MOBIL ITU !” perintah gue sambil menunjuk mobil Hoseki.
Si sopir ojek mendadak panik. Dia melempar gorengan dia yang baru dia makan setengah dan mulai mengejar mobil ala film Ftv.
“eh mang jangan terlalu cepat, takut ketahuan” bisik gue ke sopir ojek.
Si sopir menyanggupi perintah gue. dia melambatkan kendaraannya dan menetapkan kendaraannya kira-kira lima belas meter dibelakang mobil Hoseki.
Beberapa menit kemudian mobil itu berhenti didepan rumah yang lumayan mewah dikawasan komplek elit bernama Casa de esta. Mobil itu masuk ke garasi sedangkan gue berada dua ratus meter dari rumah tersebut sambil mengawasi parimeter. Kalau memang benar itu rumah Hoseki, rumor tentang Hoseki si anak orang kaya berarti benar adanya.
Gue sekarang tau rumah Hoseki. gue kembali ke ojek dan kembali menuju ke pangkalan.
Gue masih kepikiran tentang lomba inggris dan rumah Hoseki selama perjalanan ke pangkalan ojek. Tanpa gue sadari, gue sudah sampai dipangkalan ojek dekat dengan rumah kost gue.
“empat belas ribu dek ongkosnya” ucap sopir ojek memecah pikiran gue.
“oh bentar mang” balas gue sambil merogoh saku celana gue
“eh..” kantong celana gue kosong
Dompet gue juga kosong. Gue lupa kalau tadi gue menghabiskan semua uang di warnet.
Mendadak jantung gue berpacu. Gue gak ada duit lagi dikamar kost. Ditambah perwatakan si sopir yang menyeramkan. Gue gak mungkin kabur.
“anu mang, anter sedikit lagi ke depan” kata gue sambil menunjuk arah kost gue.
Beruntung di teras rumah kost, si pakos sedang memandikan burung peliharaannya. Gue gak habis pikir. Satu-satunya orang yang bisa membayar ojek adalah pakos.
“pak punten pinjem duit sebentar buat bayar ojek hehe..” pinta gue gak tau malu.
“ohh berapa ?” tanya pakos sambil melihat wajah sopir ojek.
“ohh mang Amri hahaha ini mah langganan bapak atuh.” Pak kos menutup dompetnya kembali dan berjalan menuju sopir ojek yang bernama Amri.
Mereka saling berbisik dan lama-lama mengobrol. Yang gue denger si pakos dan sopir malah membahas batu akik.
Setelah lima belas menit akhirnya mereka selesai mengobrol khas kolektor batu akik.
“udah Jo tenang aja, entar kapan-kapan aja kamu bayarnya ke si Amri.”
“ohh oke pak, kok bisa ya pak ngutang sama sopir ojek?”
“ah itu mah karena saling kenal aja ha ha ha.. ya karena batu akik ini juga sih.” Kata pakos sambil memamerkan batu blue sapphire ditangan kiri dan kalimaya di tangan kanannya.
Gue hanya mengangguk, berterima kasih, dan kembali kekamar kost.
Warnet bernama permai ini udah gue anggap rumah ke-3 (setelah rumah dan kost). Gue bermain untuk menghabiskan waktu luang gue. operatornya juga menjadi primadona di warnet ini. Hampir seluruh anak-anak yang sering bermain di warnet ini berkonsultasi tentang hidupnya kepada babeh (panggilan makhluk warnet untuk operator warnet yang memang sudah tua ini). Dia punya banyak pengalaman hidup jadi dia bisa diandalkan. Kalau sedang krisis akhir bulan, babeh menjadi sandaran gue yang terakhir. Karena kebaikannya dia mempersilahkan gue membeli kredit supermie double + telor + teh gelas. Terkadang pakai kerupuk.
Gue diajak ke warnet ini oleh teman seagama gue disekolah, Yosian. Karena dia gue gak bisa lepas dari warnet.
Seperti biasa ketika gue baru pulang dari warnet, gue selalu di sapa oleh fans gue. tukang ojek. Mereka selalu melambaikan tangan setiap gue melintas didepan mereka. Momment ketika gue lewat didepan lambaian tangan mereka sambil menggelengkan kepala menjadi sensansi tersendiri buat gue. Hari itu yang berbeda, ketika gue melintas di depan pangkalan ojek, bu Musdianti, guru bahasa Inggris, yang sudah menaikkan setengah badannya ke ojek mendadak turun kembali setelah melihat gue.
“Sam ?”
“ya bu?”
“kamu darimana?”
Pertanyaan ini yang paling ingin gue hindari.
“anuu bu dari rumah temen.”
“ oh yaudah sini dulu.” Ajak bu Mus sambil mengeluarkan selembaran dari tas gandeng nya.
“apa ini bu?”
“jadi gini, kamu kan bahasa Inggrisnya lumayan. Sekolah kita dapet undangan lomba bahasa Inggris gitu. Nah kamu ingin ibu masukin di kategori Scrabble. Jadi besok kamu cari partner main kamu dan berkumpul pas jam kedua istirahat di perpustakaan ya?” perintah Bu Mus panjang lebar.
“wah olimpiade bu?! Oke saya ikut !”
“iya iya, besok bawa satu orang temen kamu ke perpus buat jadi lawan main kamu. Understood?”
“yes, ma’am”
“oke ibu pulang dulu.” Bu Mus kembali naik ke ojeknya, membisikkan sesuatu kepada sang supir dan mereka melaju berlawanan dari arah gue.
Gue melambaikan tangan tanda perpisahan. Tetapi setelah gue melihat kebelakang, gue melihat Hoseki, yang entah dari mana, naik ke mobil Camry hitam. Itu mobil yang biasa dipakai untuk menjemput dia.
Sontak rasa penasaran gue kembali naik. Gue menarik sopir ojek yang sedang menikmati gorengan dan gue memerintah.
“MANG IKUTIN MOBIL ITU !” perintah gue sambil menunjuk mobil Hoseki.
Si sopir ojek mendadak panik. Dia melempar gorengan dia yang baru dia makan setengah dan mulai mengejar mobil ala film Ftv.
“eh mang jangan terlalu cepat, takut ketahuan” bisik gue ke sopir ojek.
Si sopir menyanggupi perintah gue. dia melambatkan kendaraannya dan menetapkan kendaraannya kira-kira lima belas meter dibelakang mobil Hoseki.
Beberapa menit kemudian mobil itu berhenti didepan rumah yang lumayan mewah dikawasan komplek elit bernama Casa de esta. Mobil itu masuk ke garasi sedangkan gue berada dua ratus meter dari rumah tersebut sambil mengawasi parimeter. Kalau memang benar itu rumah Hoseki, rumor tentang Hoseki si anak orang kaya berarti benar adanya.
Gue sekarang tau rumah Hoseki. gue kembali ke ojek dan kembali menuju ke pangkalan.
Gue masih kepikiran tentang lomba inggris dan rumah Hoseki selama perjalanan ke pangkalan ojek. Tanpa gue sadari, gue sudah sampai dipangkalan ojek dekat dengan rumah kost gue.
“empat belas ribu dek ongkosnya” ucap sopir ojek memecah pikiran gue.
“oh bentar mang” balas gue sambil merogoh saku celana gue
“eh..” kantong celana gue kosong
Dompet gue juga kosong. Gue lupa kalau tadi gue menghabiskan semua uang di warnet.
Mendadak jantung gue berpacu. Gue gak ada duit lagi dikamar kost. Ditambah perwatakan si sopir yang menyeramkan. Gue gak mungkin kabur.
“anu mang, anter sedikit lagi ke depan” kata gue sambil menunjuk arah kost gue.
Beruntung di teras rumah kost, si pakos sedang memandikan burung peliharaannya. Gue gak habis pikir. Satu-satunya orang yang bisa membayar ojek adalah pakos.
“pak punten pinjem duit sebentar buat bayar ojek hehe..” pinta gue gak tau malu.
“ohh berapa ?” tanya pakos sambil melihat wajah sopir ojek.
“ohh mang Amri hahaha ini mah langganan bapak atuh.” Pak kos menutup dompetnya kembali dan berjalan menuju sopir ojek yang bernama Amri.
Mereka saling berbisik dan lama-lama mengobrol. Yang gue denger si pakos dan sopir malah membahas batu akik.
Setelah lima belas menit akhirnya mereka selesai mengobrol khas kolektor batu akik.
“udah Jo tenang aja, entar kapan-kapan aja kamu bayarnya ke si Amri.”
“ohh oke pak, kok bisa ya pak ngutang sama sopir ojek?”
“ah itu mah karena saling kenal aja ha ha ha.. ya karena batu akik ini juga sih.” Kata pakos sambil memamerkan batu blue sapphire ditangan kiri dan kalimaya di tangan kanannya.
Gue hanya mengangguk, berterima kasih, dan kembali kekamar kost.
Masih bersambung ..

Silahkan mendirikan tenda di tempat yang terteduh
0
Kutip
Balas