- Beranda
- Sejarah & Xenology
Majapahit Penjajah dari Jawa (Nan Sarunai Usak Jawa)
...
TS
dracus_visues
Majapahit Penjajah dari Jawa (Nan Sarunai Usak Jawa)
Quote:
Tulisan ini di kutip tanpa di edit apapun, Tulisan ini dibuat oleh SYAMSUDDIN RUDIANNOOR
Sudah selayaknya agar diingat bahwa dayak mayaan pernah mengukir sejarah di nusantara ini. Salam buat dayak mayaan dari dayak kal-bar.. ADIL KA'TALINO, BACURAMIN KA'SARUGA, BASENGAT KA'JUBATA
ga jadi gan, kepanjangan, jd ane singkat2 aja ya
Sudah selayaknya agar diingat bahwa dayak mayaan pernah mengukir sejarah di nusantara ini. Salam buat dayak mayaan dari dayak kal-bar.. ADIL KA'TALINO, BACURAMIN KA'SARUGA, BASENGAT KA'JUBATA
ga jadi gan, kepanjangan, jd ane singkat2 aja ya
Quote:
Syair Bahasa Dayak Maayan tentang
Nan Sarunai Usak Jawa
syair pertama
Nan Sarunai takam rome usak Jawa
Ngamang talam takam lulun unggah Gurun
Nan Sarunai takam galis kuta apui
Ngamang talam takam jarah sia tutung
Nan Sarunai takam wadik jari danau
Ngamang talam takam wandui janang luyu
Hang manguntur takam galis em’me angang
Kuda langun takam jarah mangalongkong
Suni sowong kala tumpuk tanan olun
Wayo wotak alang gumi Punei Lului
syair kedua
Batang Nyi’ai ka’i hawi tamurayo
Telang nyilu ne’o jaku taleng uan
Anak nanyo ka’i hawi nganyak kaleh
Bunsu lungai ne’o jaku ngisor runsa
Ngunu ngugah pasong teka watang tenga
Hamen bingkang kilit iwo pakun monok
Muru pitip Nan Sarunai ngunu hulet mengalungkung
Ngamang talam takam tantau nuruk nungkai
Hang manguntur takam kala harek jatuh
Kudalangun takam alang rakeh riwo
Hang manguntur takam kala buka payung
Kudalangun takam alang bangun tang’ngui
Jam’mu ahung takam kawan rum’ung rama
Luwai hewo padu ipah bawai wahai
Nan Sarunai Usak Jawa
syair pertama
Nan Sarunai takam rome usak Jawa
Ngamang talam takam lulun unggah Gurun
Nan Sarunai takam galis kuta apui
Ngamang talam takam jarah sia tutung
Nan Sarunai takam wadik jari danau
Ngamang talam takam wandui janang luyu
Hang manguntur takam galis em’me angang
Kuda langun takam jarah mangalongkong
Suni sowong kala tumpuk tanan olun
Wayo wotak alang gumi Punei Lului
syair kedua
Batang Nyi’ai ka’i hawi tamurayo
Telang nyilu ne’o jaku taleng uan
Anak nanyo ka’i hawi nganyak kaleh
Bunsu lungai ne’o jaku ngisor runsa
Ngunu ngugah pasong teka watang tenga
Hamen bingkang kilit iwo pakun monok
Muru pitip Nan Sarunai ngunu hulet mengalungkung
Ngamang talam takam tantau nuruk nungkai
Hang manguntur takam kala harek jatuh
Kudalangun takam alang rakeh riwo
Hang manguntur takam kala buka payung
Kudalangun takam alang bangun tang’ngui
Jam’mu ahung takam kawan rum’ung rama
Luwai hewo padu ipah bawai wahai
Spoiler for Nan Sarunai (youtube):
Quote:
Sejarah Nasional Indonesia
Tidak banyak yang diketahui tentang Negara Nasional Sriwijaya kecuali dikatakan sebagai Negara Maritim termasyhur di Dunia, disanjung dengan lagu “nenek moyangku orang pelaut”. Berbeda dengan Negara Nasional Majapahit. Kerajaan ini dikampanyekan secara terus-menerus di seluruh Nusantara Indonesia sebagai sebuah negara yang dahsyat karena mampu mempersatukan Indonesia bahkan Asia Tenggara kedalam Wawasan Nusantara berkat Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada. Penataran demi penataran dilaksanakan, pelajaran demi pelajaran diberikan. Intinya, Negara Majapahit adalah Negara Nasional Indonesia Terbaik sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Malah katanya, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sekarang merupakan pengejawantahan atau penjelmaan sempurna Kerajaan Majapahit. Republik Indonesia adalah Majapahit II. Oleh karena itu maka tidak salah kalau Mahapatih Gajahmada adalah Pahlawan Nasional Indonesia karena berkat Sumpah Palapa-nya maka Nusantara dapat dipersatukan. Maka adalah wajar kalau untuk mengenang jasa-jasa besar beliau bagi Indonesia, univeritas tertua di negera ini dinamakan Universitas Gajahmada (UGM). Wajar kalau satelit komunikasi kita yang menghubungkan seantero Indonesia dan Asia Tenggara diberi nama Satelit Palapa I, II, III dan seterusnya. Dan wajar pula kalau nama Gajah Mada dan Palapa senantiasa diabadikan untuk memberi nama gedung bertingkat, plaza, pertokoan atau jalan raya. Bahkan wajar pula kalau istilah-istilah dan bahasa yang dipakai dimasa kejayaan beliau kita pergunakan kembali dalam khasanah berbahasa dan berbangsa Indonesia.
Dalam format Indonesia Baru yang sedang dikhayalkan, ternyata belum juga jelas gambarannya. Malah dalam banyak media yang beredar di masyarakat, Indonesia Baru justru akan kembali ke masa silam. Katanya, Pemimpin Indonesia Baru haruslah Satrio Piningit. Indonesia Baru haruslah Negara Majapahit Baru yang modern sehingga sesuai dengan ke-Indonesiaan. Dan rumus kepemimpinan Indonesia haruslah menjunjung tinggi teori NOTONAGORO. Ah, apa pula ini?
Tidak banyak yang diketahui tentang Negara Nasional Sriwijaya kecuali dikatakan sebagai Negara Maritim termasyhur di Dunia, disanjung dengan lagu “nenek moyangku orang pelaut”. Berbeda dengan Negara Nasional Majapahit. Kerajaan ini dikampanyekan secara terus-menerus di seluruh Nusantara Indonesia sebagai sebuah negara yang dahsyat karena mampu mempersatukan Indonesia bahkan Asia Tenggara kedalam Wawasan Nusantara berkat Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada. Penataran demi penataran dilaksanakan, pelajaran demi pelajaran diberikan. Intinya, Negara Majapahit adalah Negara Nasional Indonesia Terbaik sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Malah katanya, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sekarang merupakan pengejawantahan atau penjelmaan sempurna Kerajaan Majapahit. Republik Indonesia adalah Majapahit II. Oleh karena itu maka tidak salah kalau Mahapatih Gajahmada adalah Pahlawan Nasional Indonesia karena berkat Sumpah Palapa-nya maka Nusantara dapat dipersatukan. Maka adalah wajar kalau untuk mengenang jasa-jasa besar beliau bagi Indonesia, univeritas tertua di negera ini dinamakan Universitas Gajahmada (UGM). Wajar kalau satelit komunikasi kita yang menghubungkan seantero Indonesia dan Asia Tenggara diberi nama Satelit Palapa I, II, III dan seterusnya. Dan wajar pula kalau nama Gajah Mada dan Palapa senantiasa diabadikan untuk memberi nama gedung bertingkat, plaza, pertokoan atau jalan raya. Bahkan wajar pula kalau istilah-istilah dan bahasa yang dipakai dimasa kejayaan beliau kita pergunakan kembali dalam khasanah berbahasa dan berbangsa Indonesia.
Dalam format Indonesia Baru yang sedang dikhayalkan, ternyata belum juga jelas gambarannya. Malah dalam banyak media yang beredar di masyarakat, Indonesia Baru justru akan kembali ke masa silam. Katanya, Pemimpin Indonesia Baru haruslah Satrio Piningit. Indonesia Baru haruslah Negara Majapahit Baru yang modern sehingga sesuai dengan ke-Indonesiaan. Dan rumus kepemimpinan Indonesia haruslah menjunjung tinggi teori NOTONAGORO. Ah, apa pula ini?
Quote:
MAJAPAHIT PENJAJAH NUSANTARA
Buku sejarah yang cukup representatif dalam menuturkan Majapahit dan sepak-terjangnya adalah “SEJARAH NASIONAL INDONESIA II karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Pada halaman 411- 413 berbunyi: “Raja Kertanegara adalah raja Singhasari yang sangat terkenal, baik dalam bidang politik maupun keagamaan. Dalam bidang politik ia terkenal sebagai seorang raja yang mempunyai gagasan perluasan cakrawala mandala ke luar pulau Jawa, yang meliputi daerah seluruh dwipatara. Dalam bidang keagamaan ia sangat menonjol dan dikenal sebagai seorang penganut agama Buddha Tantrayana.
Pada awal pemerintahannya ia berhasil memadamkan pemberontakan Kalana Bhaya (Cayaraja). Dalam pemberontakan itu Kalana Bhaya mati terbunuh. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1270. Pada tahun 1275, Kertanegara mengirim ekspedisi untuk menaklukkan Melayu. Pada tahun 1280 baginda raja membinasakan durjana yang bernama Mahisa Rangkah dan pada tahun 1284 menaklukkan Bali, rajanya ditawan dan dibawa ke Singhasari. Demikianlah maka seluruh daerah-daerah lain tunduk dibawah kekuasaan raja Kertanegara, yaitu seluruh Pahang, seluruh Melayu, seluruh Gurun, seluruh Bakulapura, tidak perlu disebut lagi Sunda dan Madura karena seluruh pulau Jawa tunduk dibawah kekuasaan raja Kertanegara.
Pahang terletak di Malaysia, Melayu terletak di Sumatera Barat, Gurun nama pulau di Indonesia bagian timur dan Bakulapura atau Tanjungpura terletak di bagian barat daya Kalimantan. Rupa-rupanya yang dimaksud oleh pengarang Nagarakrtagama dengan nama-nama itu ialah seluruh wilayah Malaysia, seluruh Sumatera, seluruh Kalimantan dan Indonesia bagian timur, seperti ternyata dari bagian lain dari kitab Nagarakrtagama. Kekuasaan raja Kertanegara atas seluruh Nusantara itu, entah benar atau hanya secara simbolis, dinyatakan pula dalam arca Camundi dari desa Ardimulyo (Singasari) yang berangka tahun 1292. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa arca Bhattari Camundi itu ditasbihkan pada waktu Sri Maharaja (Kertanegara) menang di seluruh wilayah dan menundukkan semua pulau-pulau yang lain.
Sebuah prasasti pada alas arca Amoghapasa dari Padangcoro yang berangka tahun 1286 memberi petunjuk bahwa Melayu benar-benar tunduk kepada Singhasari. Disebutkan bahwa arca Amoghapasa itu dengan keempat-belas pengiringnya beserta saptaratna dibawa dari Jawa ke Suwarnabhumi dan ditegakkan di Dharmmasraya. Arca itu adalah punya dari Sri Wiswarupakumara. Yang diperintah oleh Sri Maharajadhiraja Kertanegara untuk mengiringkan arca tersebut ialah Rakryan Mahamantri Dyah Adwayabrama, Rakryan Sirikan Dyah Sugatabrama, Samgat Payanan Hang Dipankaradasa dan Rakryan Demung Pu Wira. Seluruh rakyat Melayu dari keempat kasta bersuka cita terutama rajanya ialah Srimat Tribuwanaraja Mauliwarmmadewa. Jelas dari prasasti itu bahwa kedudukan Kertanegara lebih tinggi dari Mauliwarmmadewa karena Kertanegara diberi gelar maharajadiraja sedangkan Mauliwarmmadewa hanya memakai gelar maharaja”.
Kutipan diatas jelas menggambarkan bahwa upaya untuk mewujudkan gagasan perluasan cakrawala mandala atau perluasan wilayah keluar pulau Jawa adalah dengan cara agresi militer berupa penaklukan demi penaklukan setiap negara tetangga yang ditargetkan. Dengan demikian maka penyatuan wilayah-wilayah dilaksanakan berdasarkan tindak pemaksaan, penindasan, kekerasan dan penjajahan secara berkesinambungan.
Pada halaman 434 sampai 436 dari buku yang sama diceriterakan: “Dari Kaka-win Nagarakrtagama, kita mengetahui bahwa dalam masa pemerintahan Tribhuwana telah terjadi pemberontakan di Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh Gajahmada. Sesudah peristiwa Sadeng itu, kitab Pararaton menyebutkan sebuah peristiwa yang kemudian amat terkenal dalam sejarah, yaitu: “Sumpah Palapa Gajah Mada”. Gajah Mada bersumpah dihadapan raja dan para pembesar Kerajaan Majapahit bahwa ia tidak akan amukti palapa sebelum ia dapat menundukkan nusantara, yaitu Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik.
Dalam tahun 1334 lahirlah putera mahkota yang diberi nama Hayam Wuruk. Kelahirannya disertai alamat gempa bumi, hujan abu, guntur dan kilat bersambungan di udara sebagai akibat meletusnya gunung Kampud.
Dengan bantuan Patih Hamangkubhumi Gajah Mada, Raja Hayam Wuruk berhasil membawa Kerajaan Majapahit kepuncak kebesarannya. Seperti halnya Raja Kertanegara yang mempunyai gagasan politik perluasan cakrawala mandala yang meliputi seluruh dwipatara, Gajah Mada ingin pula melaksanakan gagasan politik Nusantaranya yang telah dicetuskan sebagai Sumpah Palapa dihadapan Raja Tribhuwanothtunggadewi dan para pembesar kerajaan Majapahit. Dalam rangka menjalankan politik nusantaranya itu, satu demi satu daerah-daerah yang belum bernaung dibawah panji kekuasaan Majapahit ditundukkan dan dipersatukannya. Dari pemberitan Prapanca didalam Kakimpoi Nagarakrtagama kita mengetahui bahwa daerah-daerah yang ada dibawah pengaruh kekuasaan Majapahit itu sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi daerah-daerah di Sumatera di bagian barat sampai ke daerah-daerah Maluku dan Irian di bagian timur; bahkan pengaruh itu telah diluaskan pula sampai ke beberapa negara di wilayah Asia Tenggara. Agaknya politik nusantara ini berakhir sampai tahun 1357 dengan terjadinya peristiwa Bubat (Pasunda-Bubat), yaitu perang antara orang Sunda dengan Majapahit.
Peperangan di Bubat yang menyebabkan semua orang Sunda gugur, tidak ada yang ketinggalan. Peristiwa ini dikemukakan dengan panjang lebar didalam kitab Pararaton dan Kidung Sundayana, tetapi tidak dikemukakan didalam Kakimpoi Nagarakrtagama. Agaknya hal ini memang disengaja oleh Prapanca karena peristiwa tersebut tidak menunjang kepada kebesaran Kerajaan Majapahit, bahkan dapat dianggap sebagai kegagalan politik Gajah Mada untuk menundukkan Sunda.”
Berdasarkan paparan diatas, agaknya tidaklah terdapat cukup alasan untuk menyimpulkan bahwa Kerajaan Majapahit merupakan Kerajaan Nasional Pemersatu Nusantara. Tidak ada alasan pula untuk mengangkat Mahapatih Gajah Mada sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dibalik Sumpah Palapanya. Justru sebaliknya, Kerajaan Majapahit lebih pantas dijuluki sebagai Penjajah dari Jawa. Mahapatih Gajah Mada lebih pas dijuluki sebagai Petualang Politik yang haus kekuasaan di seluruh nusantara. Negara Majapahit adalah negara agresor yang sangat aktif menaklukkan negara-negara tetangganya. Oleh karena itu, apakah masih pantas kalau Kerajaan Majapahit tetap disebut sebagai Kerajaan Nasional Pemersatu Nusantara? Pantaskah bila Mahapatih Gajah Mada senantiasa disanjung dengan Gelar Pahlawan Nasional Pemersatu Nusantara? Entahlah, karena bangsa Indonesia masih sulit membedakan makna kata “pemersatu” dengan “penjajah”.
Buku sejarah yang cukup representatif dalam menuturkan Majapahit dan sepak-terjangnya adalah “SEJARAH NASIONAL INDONESIA II karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Pada halaman 411- 413 berbunyi: “Raja Kertanegara adalah raja Singhasari yang sangat terkenal, baik dalam bidang politik maupun keagamaan. Dalam bidang politik ia terkenal sebagai seorang raja yang mempunyai gagasan perluasan cakrawala mandala ke luar pulau Jawa, yang meliputi daerah seluruh dwipatara. Dalam bidang keagamaan ia sangat menonjol dan dikenal sebagai seorang penganut agama Buddha Tantrayana.
Pada awal pemerintahannya ia berhasil memadamkan pemberontakan Kalana Bhaya (Cayaraja). Dalam pemberontakan itu Kalana Bhaya mati terbunuh. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1270. Pada tahun 1275, Kertanegara mengirim ekspedisi untuk menaklukkan Melayu. Pada tahun 1280 baginda raja membinasakan durjana yang bernama Mahisa Rangkah dan pada tahun 1284 menaklukkan Bali, rajanya ditawan dan dibawa ke Singhasari. Demikianlah maka seluruh daerah-daerah lain tunduk dibawah kekuasaan raja Kertanegara, yaitu seluruh Pahang, seluruh Melayu, seluruh Gurun, seluruh Bakulapura, tidak perlu disebut lagi Sunda dan Madura karena seluruh pulau Jawa tunduk dibawah kekuasaan raja Kertanegara.
Pahang terletak di Malaysia, Melayu terletak di Sumatera Barat, Gurun nama pulau di Indonesia bagian timur dan Bakulapura atau Tanjungpura terletak di bagian barat daya Kalimantan. Rupa-rupanya yang dimaksud oleh pengarang Nagarakrtagama dengan nama-nama itu ialah seluruh wilayah Malaysia, seluruh Sumatera, seluruh Kalimantan dan Indonesia bagian timur, seperti ternyata dari bagian lain dari kitab Nagarakrtagama. Kekuasaan raja Kertanegara atas seluruh Nusantara itu, entah benar atau hanya secara simbolis, dinyatakan pula dalam arca Camundi dari desa Ardimulyo (Singasari) yang berangka tahun 1292. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa arca Bhattari Camundi itu ditasbihkan pada waktu Sri Maharaja (Kertanegara) menang di seluruh wilayah dan menundukkan semua pulau-pulau yang lain.
Sebuah prasasti pada alas arca Amoghapasa dari Padangcoro yang berangka tahun 1286 memberi petunjuk bahwa Melayu benar-benar tunduk kepada Singhasari. Disebutkan bahwa arca Amoghapasa itu dengan keempat-belas pengiringnya beserta saptaratna dibawa dari Jawa ke Suwarnabhumi dan ditegakkan di Dharmmasraya. Arca itu adalah punya dari Sri Wiswarupakumara. Yang diperintah oleh Sri Maharajadhiraja Kertanegara untuk mengiringkan arca tersebut ialah Rakryan Mahamantri Dyah Adwayabrama, Rakryan Sirikan Dyah Sugatabrama, Samgat Payanan Hang Dipankaradasa dan Rakryan Demung Pu Wira. Seluruh rakyat Melayu dari keempat kasta bersuka cita terutama rajanya ialah Srimat Tribuwanaraja Mauliwarmmadewa. Jelas dari prasasti itu bahwa kedudukan Kertanegara lebih tinggi dari Mauliwarmmadewa karena Kertanegara diberi gelar maharajadiraja sedangkan Mauliwarmmadewa hanya memakai gelar maharaja”.
Kutipan diatas jelas menggambarkan bahwa upaya untuk mewujudkan gagasan perluasan cakrawala mandala atau perluasan wilayah keluar pulau Jawa adalah dengan cara agresi militer berupa penaklukan demi penaklukan setiap negara tetangga yang ditargetkan. Dengan demikian maka penyatuan wilayah-wilayah dilaksanakan berdasarkan tindak pemaksaan, penindasan, kekerasan dan penjajahan secara berkesinambungan.
Pada halaman 434 sampai 436 dari buku yang sama diceriterakan: “Dari Kaka-win Nagarakrtagama, kita mengetahui bahwa dalam masa pemerintahan Tribhuwana telah terjadi pemberontakan di Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh Gajahmada. Sesudah peristiwa Sadeng itu, kitab Pararaton menyebutkan sebuah peristiwa yang kemudian amat terkenal dalam sejarah, yaitu: “Sumpah Palapa Gajah Mada”. Gajah Mada bersumpah dihadapan raja dan para pembesar Kerajaan Majapahit bahwa ia tidak akan amukti palapa sebelum ia dapat menundukkan nusantara, yaitu Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik.
Dalam tahun 1334 lahirlah putera mahkota yang diberi nama Hayam Wuruk. Kelahirannya disertai alamat gempa bumi, hujan abu, guntur dan kilat bersambungan di udara sebagai akibat meletusnya gunung Kampud.
Dengan bantuan Patih Hamangkubhumi Gajah Mada, Raja Hayam Wuruk berhasil membawa Kerajaan Majapahit kepuncak kebesarannya. Seperti halnya Raja Kertanegara yang mempunyai gagasan politik perluasan cakrawala mandala yang meliputi seluruh dwipatara, Gajah Mada ingin pula melaksanakan gagasan politik Nusantaranya yang telah dicetuskan sebagai Sumpah Palapa dihadapan Raja Tribhuwanothtunggadewi dan para pembesar kerajaan Majapahit. Dalam rangka menjalankan politik nusantaranya itu, satu demi satu daerah-daerah yang belum bernaung dibawah panji kekuasaan Majapahit ditundukkan dan dipersatukannya. Dari pemberitan Prapanca didalam Kakimpoi Nagarakrtagama kita mengetahui bahwa daerah-daerah yang ada dibawah pengaruh kekuasaan Majapahit itu sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi daerah-daerah di Sumatera di bagian barat sampai ke daerah-daerah Maluku dan Irian di bagian timur; bahkan pengaruh itu telah diluaskan pula sampai ke beberapa negara di wilayah Asia Tenggara. Agaknya politik nusantara ini berakhir sampai tahun 1357 dengan terjadinya peristiwa Bubat (Pasunda-Bubat), yaitu perang antara orang Sunda dengan Majapahit.
Peperangan di Bubat yang menyebabkan semua orang Sunda gugur, tidak ada yang ketinggalan. Peristiwa ini dikemukakan dengan panjang lebar didalam kitab Pararaton dan Kidung Sundayana, tetapi tidak dikemukakan didalam Kakimpoi Nagarakrtagama. Agaknya hal ini memang disengaja oleh Prapanca karena peristiwa tersebut tidak menunjang kepada kebesaran Kerajaan Majapahit, bahkan dapat dianggap sebagai kegagalan politik Gajah Mada untuk menundukkan Sunda.”
Berdasarkan paparan diatas, agaknya tidaklah terdapat cukup alasan untuk menyimpulkan bahwa Kerajaan Majapahit merupakan Kerajaan Nasional Pemersatu Nusantara. Tidak ada alasan pula untuk mengangkat Mahapatih Gajah Mada sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dibalik Sumpah Palapanya. Justru sebaliknya, Kerajaan Majapahit lebih pantas dijuluki sebagai Penjajah dari Jawa. Mahapatih Gajah Mada lebih pas dijuluki sebagai Petualang Politik yang haus kekuasaan di seluruh nusantara. Negara Majapahit adalah negara agresor yang sangat aktif menaklukkan negara-negara tetangganya. Oleh karena itu, apakah masih pantas kalau Kerajaan Majapahit tetap disebut sebagai Kerajaan Nasional Pemersatu Nusantara? Pantaskah bila Mahapatih Gajah Mada senantiasa disanjung dengan Gelar Pahlawan Nasional Pemersatu Nusantara? Entahlah, karena bangsa Indonesia masih sulit membedakan makna kata “pemersatu” dengan “penjajah”.
Quote:
NAN SARUNAI USAK JAWA
A. Majapahit Menjajah Tanah Dayak
Kedatangan orang-orang Majapahit ke Tanjung Negara atau Pulau Kalimantan untuk melaksanakan penaklukan diyakini terjadi dalam beberapa gelombang agresi. Ekspedisi pertama dilaksanakan semasa kekuasaan Raja Kertanegara setelah tahun 1280. Ekspedisi lanjutan dan yang paling dahsyat terjadi berkali-kali pasca Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada dimasa kekuasaan Maharaja Tribhuwanottunggadewi setelah tahun 1331. Kemudian agresi-agresi aktif militer Majapahit terus-menerus dilakukan dibawah Maharaja Hayam Wuruk (lahir tahun 1331) dengan bantuan penuh Mahapatih Hamangkubhumi Gajah Mada. Akhirnya, Kerajaan Majapahit berhasil mencapai puncak kejayaan setelah “bersatunya” seluruh kerajaan-kerajaan di Nusantara dan Asia Tenggara. Kemudian politik Nusantara ini berakhir tahun 1357 tatkala terjadinya peristiwa Bubat.
“Kerajaan Hindu yang berdiri pertama kali di Kalimantan ialah Kutai, waktu itu bernama Tanjung Kute, kira-kira pada tahun 400. Peninggalan Kerajaan Hindu di Kutai meliputi sejumlah barang kesenian yang terdapat dalam Goa Kumbeng, Kotabangun dan Muara Kaman (Sangkulirang). Menurut tulisan dalam barang itu menunjukkan berasal dari masa Raja Mulawarman anak Aqwawarman, cucu Kudungga. Batu kesenian ini sekarang tersimpan di Gedung Gajah Jakarta dan menurut penyelidikan para ahli nyatalah bahwa batu itu merupakan batu tertua peninggalan Hindu di Indonesia.
Ketika kerajaan Hindu berkembang diseluruh kepulauan Indonesia hingga kemasa Kerajaan Hindu-Majapahit, pulau Kalimantan tidak terlewatkan oleh pengaruh Hinduisme, dimana waktu itu Kalimantan masih bernama Tanjung Negara. Kerajaan Hindu masuk menduduki Kalimantan kira-kira tahun 1350 pada masa Hindu-Majapahit. Andayaningrat yang bergelar Ratu Penggir berlayar dengan kapal dan tentaranya untuk menaklukkan beberapa tempat di seluruh Indonesia, seperti Makassar, Gowa, Banggawai, Salaya, Bantian (Selebesi), Sumbawa, Flores, Timor, Ceram, Ternate, Brunei, Jambi, Riau, Lingga, Pasai, Udung, Tanah Semenanjung, Malaka, Mempawah, Sukadana, Pasir, Pulau Laut, Sebuku, Banjarmasin, Pontianak, Sambas, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Pada antara tahun 1300-1400 di Kalimantan ada beberapa tempat yang telah dimasuki Hindu tetapi bercampur dengan peradaban Jawa disebabkan oleh Kerajaan Majapahit. Dalam abad ke-14 (1365) sebagian daerah yang telah ditaklukkan Majapahit adalah Kotawaringin, Sampit, Katingan, Kapuas dan Banjarmasin yang beribukota di Tanjungpura (terletak di sungai Pawan, Ulu Matan, Kalimantan Barat). Tanjung Pura dimasuki oleh Kerajaan Hindu kurang lebih sejak tahun 1200, yaitu sebelah selatan Sukadana, Sebuku, Pulau Laut, Pasir, Kutai, Berau (atau seluruh Kalimantan bagian selatan dan timur).
Kerajaan Hindu Majapahit masuk menduduki Kalimantan bagian selatan dan timur, meliputi Kotawaringin tahun 1350, Sampit tahun 1350, Sungai Barito tahun 1350, Munir (Pulau Laut) tahun 1350, Sawaku (Sebuku) tahun 1350, Tabalong tahun 1350, Pasir tahun 1350, Tanjung Kute tahun 1350, Muara Kaman (Sangkulirang) tahun 1400 dan Berau tahun 1350. Peninggalan yang dapat dijumpai adalah Candi Laras di Margasari, Candi Agung di Amuntai dan batu kesenian di Muara Kaman, Gunung Kumbang dan Kota Bangun (Sangkulirang).
Tampaknya kedatangan kerajaan Hindu-Majapahit di Kalimantan berturut-turut dimulai dari sepanjang pantainya, baru kemudian masuk ke pedalaman. Di tanah Barito mereka menggunakan kapal-kapal masuk melalui sungai Barito, mendirikan negara dan rumah-rumah pemukiman. Mereka berlabuh di pulau yang mereka sebut Ampu Jatmika, Pulau Hujong Tanah (Kalimantan?) dan terus mudik melalui sungai Barito (Murung). Seorang mualim atau Pandita Hindu melarang Laksamana mengambil jalan sebelah kiri karena takut kepada suku Dayak. Karenanya mereka masuk melalui sebelah kanan, disitu merupakan tempat yang baik.
Hikayat Lambung Mangkurat yang terkenal di Kalimantan Selatan menceriterakan bahwa seperangkat kapal layar dari Keling dibawah pimpinan Empu Jatmika datang di pulau Hujung Tanah (Kalimantan). Mula-mula disatu pemberhentian mendirikan Candi Laras di Margasari. Kemudian sebagian rombongan lainnya terus mudik dan mendarat di tanah yang “panas dan harum baunya” lalu mendirikan Candi Agung dan Kerajaan Kuripan Jaya (Negara Dipa-Hindu). Bekas-bekas bangunan batu bata Candi Agung dan lainnya masih terdapat disudut kota Amuntai sekarang. Berdirinya kerajaan ini kira-kira pada zaman Gajah Mada-Majapahit atau mungkin zaman akhir kerajaan Singhasari (1300-1400).
Lambung Mangkurat (Lembu Mangkurat) anak Empu Jatmika terkenal sebagai pembina utama kerajaan ini. Keturunannyalah kemudian yang menurunkan raja-raja Banjar-Martapura sejak tahun 1600 hingga berakhir pada zaman Belanda tahun 1860. Konon kabarnya Candi Agung sebagai peninggalan zaman Hindu di Amuntai masih utuh sampai zaman Islam permulaan tahun 1600, dan kemudian dihancurkan Belanda*7) ketika mereka dapat menduduki Amuntai akhir 1800. Kerajaan Banjar masuk Islam dengan bantuan Kerajaan Demak tahun 1600.*8)
Ketika Kerajaan Hindu-Majapahit diperintah oleh Raja Brawijaya putera Angka Wijaya, saat itulah kerajaan mengalami keruntuhan. Raja yang merobohkan Kerajaan Majapahit ialah Raden Patah dengan delapan orang menterinya, yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Ngundung dan Sunan Demak. Mulai saat itulah agama Islam tersebar di seluruh Indonesia.
Dengan runtuhnya kerajaan Majapahit maka berkembanglah Kerajaan Islam Banjarmasin tahun 1540, Kerajaan Islam Kotawaringin tahun 1620, Kerajaan Pasir (Tanah Grogot) tahun 1600, Kerajaan Kutai tahun 1600, Berau dan Bulungan tahun 1700, Pontianak tahun 1450, Matan tahun 1743 dan Mempawah tahun 1750.*9)
Pada mulanya kerajaan Hindu berperang dengan kerajaan-kerajaan Islam, terutama Kerajaan Hindu Candi Laras, Candi Agung, Tanjung Pura dan lain-lain. Tetapi karena rakyat semakin banyak memeluk agama Islam termasuk sebagian rakyat Dayak di pantai-pantai, akhirnya Kerajaan Hindu menyerah. Rakyat Dayak yang telah masuk Islam sering disebut sebagai Dayak Melayu dan kebanyakan berdomisili di Kuala Kapuas, Tumpung Laung (Barito) dan dibeberapa Kampung Melayu lainnya. Sebenarnya mereka tetap suku Dayak, hanya saja sudah beragama Islam.*10)
A. Majapahit Menjajah Tanah Dayak
Kedatangan orang-orang Majapahit ke Tanjung Negara atau Pulau Kalimantan untuk melaksanakan penaklukan diyakini terjadi dalam beberapa gelombang agresi. Ekspedisi pertama dilaksanakan semasa kekuasaan Raja Kertanegara setelah tahun 1280. Ekspedisi lanjutan dan yang paling dahsyat terjadi berkali-kali pasca Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada dimasa kekuasaan Maharaja Tribhuwanottunggadewi setelah tahun 1331. Kemudian agresi-agresi aktif militer Majapahit terus-menerus dilakukan dibawah Maharaja Hayam Wuruk (lahir tahun 1331) dengan bantuan penuh Mahapatih Hamangkubhumi Gajah Mada. Akhirnya, Kerajaan Majapahit berhasil mencapai puncak kejayaan setelah “bersatunya” seluruh kerajaan-kerajaan di Nusantara dan Asia Tenggara. Kemudian politik Nusantara ini berakhir tahun 1357 tatkala terjadinya peristiwa Bubat.
“Kerajaan Hindu yang berdiri pertama kali di Kalimantan ialah Kutai, waktu itu bernama Tanjung Kute, kira-kira pada tahun 400. Peninggalan Kerajaan Hindu di Kutai meliputi sejumlah barang kesenian yang terdapat dalam Goa Kumbeng, Kotabangun dan Muara Kaman (Sangkulirang). Menurut tulisan dalam barang itu menunjukkan berasal dari masa Raja Mulawarman anak Aqwawarman, cucu Kudungga. Batu kesenian ini sekarang tersimpan di Gedung Gajah Jakarta dan menurut penyelidikan para ahli nyatalah bahwa batu itu merupakan batu tertua peninggalan Hindu di Indonesia.
Ketika kerajaan Hindu berkembang diseluruh kepulauan Indonesia hingga kemasa Kerajaan Hindu-Majapahit, pulau Kalimantan tidak terlewatkan oleh pengaruh Hinduisme, dimana waktu itu Kalimantan masih bernama Tanjung Negara. Kerajaan Hindu masuk menduduki Kalimantan kira-kira tahun 1350 pada masa Hindu-Majapahit. Andayaningrat yang bergelar Ratu Penggir berlayar dengan kapal dan tentaranya untuk menaklukkan beberapa tempat di seluruh Indonesia, seperti Makassar, Gowa, Banggawai, Salaya, Bantian (Selebesi), Sumbawa, Flores, Timor, Ceram, Ternate, Brunei, Jambi, Riau, Lingga, Pasai, Udung, Tanah Semenanjung, Malaka, Mempawah, Sukadana, Pasir, Pulau Laut, Sebuku, Banjarmasin, Pontianak, Sambas, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Pada antara tahun 1300-1400 di Kalimantan ada beberapa tempat yang telah dimasuki Hindu tetapi bercampur dengan peradaban Jawa disebabkan oleh Kerajaan Majapahit. Dalam abad ke-14 (1365) sebagian daerah yang telah ditaklukkan Majapahit adalah Kotawaringin, Sampit, Katingan, Kapuas dan Banjarmasin yang beribukota di Tanjungpura (terletak di sungai Pawan, Ulu Matan, Kalimantan Barat). Tanjung Pura dimasuki oleh Kerajaan Hindu kurang lebih sejak tahun 1200, yaitu sebelah selatan Sukadana, Sebuku, Pulau Laut, Pasir, Kutai, Berau (atau seluruh Kalimantan bagian selatan dan timur).
Kerajaan Hindu Majapahit masuk menduduki Kalimantan bagian selatan dan timur, meliputi Kotawaringin tahun 1350, Sampit tahun 1350, Sungai Barito tahun 1350, Munir (Pulau Laut) tahun 1350, Sawaku (Sebuku) tahun 1350, Tabalong tahun 1350, Pasir tahun 1350, Tanjung Kute tahun 1350, Muara Kaman (Sangkulirang) tahun 1400 dan Berau tahun 1350. Peninggalan yang dapat dijumpai adalah Candi Laras di Margasari, Candi Agung di Amuntai dan batu kesenian di Muara Kaman, Gunung Kumbang dan Kota Bangun (Sangkulirang).
Tampaknya kedatangan kerajaan Hindu-Majapahit di Kalimantan berturut-turut dimulai dari sepanjang pantainya, baru kemudian masuk ke pedalaman. Di tanah Barito mereka menggunakan kapal-kapal masuk melalui sungai Barito, mendirikan negara dan rumah-rumah pemukiman. Mereka berlabuh di pulau yang mereka sebut Ampu Jatmika, Pulau Hujong Tanah (Kalimantan?) dan terus mudik melalui sungai Barito (Murung). Seorang mualim atau Pandita Hindu melarang Laksamana mengambil jalan sebelah kiri karena takut kepada suku Dayak. Karenanya mereka masuk melalui sebelah kanan, disitu merupakan tempat yang baik.
Hikayat Lambung Mangkurat yang terkenal di Kalimantan Selatan menceriterakan bahwa seperangkat kapal layar dari Keling dibawah pimpinan Empu Jatmika datang di pulau Hujung Tanah (Kalimantan). Mula-mula disatu pemberhentian mendirikan Candi Laras di Margasari. Kemudian sebagian rombongan lainnya terus mudik dan mendarat di tanah yang “panas dan harum baunya” lalu mendirikan Candi Agung dan Kerajaan Kuripan Jaya (Negara Dipa-Hindu). Bekas-bekas bangunan batu bata Candi Agung dan lainnya masih terdapat disudut kota Amuntai sekarang. Berdirinya kerajaan ini kira-kira pada zaman Gajah Mada-Majapahit atau mungkin zaman akhir kerajaan Singhasari (1300-1400).
Lambung Mangkurat (Lembu Mangkurat) anak Empu Jatmika terkenal sebagai pembina utama kerajaan ini. Keturunannyalah kemudian yang menurunkan raja-raja Banjar-Martapura sejak tahun 1600 hingga berakhir pada zaman Belanda tahun 1860. Konon kabarnya Candi Agung sebagai peninggalan zaman Hindu di Amuntai masih utuh sampai zaman Islam permulaan tahun 1600, dan kemudian dihancurkan Belanda*7) ketika mereka dapat menduduki Amuntai akhir 1800. Kerajaan Banjar masuk Islam dengan bantuan Kerajaan Demak tahun 1600.*8)
Ketika Kerajaan Hindu-Majapahit diperintah oleh Raja Brawijaya putera Angka Wijaya, saat itulah kerajaan mengalami keruntuhan. Raja yang merobohkan Kerajaan Majapahit ialah Raden Patah dengan delapan orang menterinya, yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Ngundung dan Sunan Demak. Mulai saat itulah agama Islam tersebar di seluruh Indonesia.
Dengan runtuhnya kerajaan Majapahit maka berkembanglah Kerajaan Islam Banjarmasin tahun 1540, Kerajaan Islam Kotawaringin tahun 1620, Kerajaan Pasir (Tanah Grogot) tahun 1600, Kerajaan Kutai tahun 1600, Berau dan Bulungan tahun 1700, Pontianak tahun 1450, Matan tahun 1743 dan Mempawah tahun 1750.*9)
Pada mulanya kerajaan Hindu berperang dengan kerajaan-kerajaan Islam, terutama Kerajaan Hindu Candi Laras, Candi Agung, Tanjung Pura dan lain-lain. Tetapi karena rakyat semakin banyak memeluk agama Islam termasuk sebagian rakyat Dayak di pantai-pantai, akhirnya Kerajaan Hindu menyerah. Rakyat Dayak yang telah masuk Islam sering disebut sebagai Dayak Melayu dan kebanyakan berdomisili di Kuala Kapuas, Tumpung Laung (Barito) dan dibeberapa Kampung Melayu lainnya. Sebenarnya mereka tetap suku Dayak, hanya saja sudah beragama Islam.*10)
Quote:
B. Nan Sarunai Usak Jawa
Kedatangan orang-orang Majapahit yang pertama terjadi di Kayutangi. Begitu Kayutangi berhasil ditaklukkan dan kebudayaan Hindu telah ditancapkan, mulai terpencarlah suku-suku Dayak ke pedalaman melalui jalan sungai dan daratan. Jadi, di Kayutangi inilah diperkirakan akhir jumpa dan perpisahan antara suku-suku Dayak. Disinilah akhir kebersamaan dan awal perpisahan yang kemudian mempertegas lahirnya suku keluarga atau suku-suku baru. Artinya dari usul Kayutangi inilah yang memaksa orang-orang Dayak Ot dipisahkan dari saudaranya Dayak Ngaju, Ma’anyan, Dusun, Bakumpai, Taboyan dan suku lainnya. Orang Dayak Ot Danum dan Dayak Ngaju berpisah dari saudaranya dan eksodus menelusuri sungai Barito, sungai Kapuas, sungai Kahayan dan juga menyusur pesisir lalu memasuki sungai Arut, Lamandau dan sungai-sungai kecil lainnya. Sedangkan keluarga Bakumpai, Ma’anyan, Dusun dan Lawangan pergi mudik meninggalkan negeri asalnya menelusuri sungai-sungai Barito, Tabalong dan anak cabang sungai yang masih dalam kitaran geografi yang sama.
Sejarah tradisional (traditional history) yang ditemukan pada suku Dayak Ma’anyan yang dijumpai dalam Taliwakas serta nyanyian para wadian (dukun) dengan tegas menyatakan bahwa “kontak” dengan Majapahit telah mengkibatkan kehancuran kerajaan orang Dayak. “Nan Sarunai Usak Jawa, begitulah episode papat mamang atau sumpah serapah dan caci maki itu ditembangkan dalam ratap tangis sejati. Begitulah pembacaan sejarah kejayaan Nan Sarunai yang dinista pendatang Jawa dari selatan. Begitu menyedihkan mendengarkan kidung wadian itu bertutur pilu merista kegetiran. Sungguh sangat menyakitkan. Apatah lagi tatkala fihak musuh kemudian dengan bangga mengangkat dan menobatkan Majapahit dan Gajah Mada sebagai Pahlawan Nasional Pemersatu Nusantara, semua itu tiada makna lain bagi suku Dayak (khususnya Ma’anyan) berikut generasi-generasi penerusnya kecuali air mata nanah dari sebuah derita abadi nan tiada akhir.
Kedatangan orang-orang Majapahit yang pertama terjadi di Kayutangi. Begitu Kayutangi berhasil ditaklukkan dan kebudayaan Hindu telah ditancapkan, mulai terpencarlah suku-suku Dayak ke pedalaman melalui jalan sungai dan daratan. Jadi, di Kayutangi inilah diperkirakan akhir jumpa dan perpisahan antara suku-suku Dayak. Disinilah akhir kebersamaan dan awal perpisahan yang kemudian mempertegas lahirnya suku keluarga atau suku-suku baru. Artinya dari usul Kayutangi inilah yang memaksa orang-orang Dayak Ot dipisahkan dari saudaranya Dayak Ngaju, Ma’anyan, Dusun, Bakumpai, Taboyan dan suku lainnya. Orang Dayak Ot Danum dan Dayak Ngaju berpisah dari saudaranya dan eksodus menelusuri sungai Barito, sungai Kapuas, sungai Kahayan dan juga menyusur pesisir lalu memasuki sungai Arut, Lamandau dan sungai-sungai kecil lainnya. Sedangkan keluarga Bakumpai, Ma’anyan, Dusun dan Lawangan pergi mudik meninggalkan negeri asalnya menelusuri sungai-sungai Barito, Tabalong dan anak cabang sungai yang masih dalam kitaran geografi yang sama.
Sejarah tradisional (traditional history) yang ditemukan pada suku Dayak Ma’anyan yang dijumpai dalam Taliwakas serta nyanyian para wadian (dukun) dengan tegas menyatakan bahwa “kontak” dengan Majapahit telah mengkibatkan kehancuran kerajaan orang Dayak. “Nan Sarunai Usak Jawa, begitulah episode papat mamang atau sumpah serapah dan caci maki itu ditembangkan dalam ratap tangis sejati. Begitulah pembacaan sejarah kejayaan Nan Sarunai yang dinista pendatang Jawa dari selatan. Begitu menyedihkan mendengarkan kidung wadian itu bertutur pilu merista kegetiran. Sungguh sangat menyakitkan. Apatah lagi tatkala fihak musuh kemudian dengan bangga mengangkat dan menobatkan Majapahit dan Gajah Mada sebagai Pahlawan Nasional Pemersatu Nusantara, semua itu tiada makna lain bagi suku Dayak (khususnya Ma’anyan) berikut generasi-generasi penerusnya kecuali air mata nanah dari sebuah derita abadi nan tiada akhir.
Masih panjang gan, Siap lanjut di page berikutnya
NOTE : untuk catatan-catatan khusus akan dilampirkan
Sumber :
https://rudiannoor.wordpress.com/201...nai-usak-jawa/
Diubah oleh dracus_visues 12-06-2015 16:50
0
33.6K
Kutip
75
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dracus_visues
#1
Lanjut Gan
Quote:
B. Nan Sarunai Usak Jawa
Agresi-agresi militer Majapahit ke Kalimantan menaklukkan kerajaan orang Dayak di pesisir, menurut F. Ukur yang memetik pendapat Muh. Yamin, diperkirakan antara tahun 1309 sampai 1389. Sedangkan Tjilik Riwut mengutip literatur pada zaman Belanda memperkirakan dalam tahun 1350. Tetapi yang pasti, begitu Kayutangi telah takluk ketangan Majapahit, mengungsilah orang-orang Dayak ke pedalaman mengikuti pemimpin kaum masing-masing. Dalam pengungsian dan pelarian itu, orang-orang Dayak Ma’anyan mendirikan kerajaan Nan Sarunai. Dan “beberapa informasi menyebutkan bahwa disekitar Candi Agung berdiri pula kerajaan selain Nan Sarunai, yaitu Negeri Gagelang dan Negara Kuripan.
Ekspansi militer Majapahit rupanya tidak berhenti sampai ditakluknya kerajaan Dayak di pesisir saja. Kerajaan Nan Sarunai kembali digempur ulang oleh tentara Majapahit. Kerajaan orang Dayak ini diserang dan dihancurkan habis-habisan. Semua pemimpin suku Dayak Ma’anyan dikabarkan tewas. Dan tokoh yang berperang melawan Majapahit itu adalah Ambah Idung dan Ambah Jarang. Sedangkan Idung, Jarang dan anak-anak Dayak lainnya beserta kaum wanita diungsikan dan disembunyikan di dalam hutan di gunung. Akibat perlawanan dahsat itu, Nan Sarunai akhirnya hancur lebur tanpa sisa. Semua pimpinan dan tentara Nan Sarunai mati dibunuh. Tinggallah anak-anak, orang tua dan kaum wanita yang mengungsi ke dalam hutan yang selamat.
Dengan tewasnya pahlawan dua bersaudara Ambah Idung dan Ambah Jarang bergelar Datu Taturan Wulau Miharaja Papangkat Amas, maka kerajaan Nan Sarunai yang wilayahnya meliputi pesisir Sungai Tabalong sampai ke Tanah Pasir di Kalimantan Timur telah ditinggalkan secara mengenaskan. Kedaton Nan Sarunai tane ngambang talam di sekitar Margasari berikut sumur abadi Ambah Jarang isa puang ta’u karing, dilupakan secara paksa. Singkatnya, musnahlah kerajaan Nan Sarunai dari kampung halamannya di tangan musuhnya dari Jawadwipa.
Begitu Idung dan sepupunya Jarang telah menginjak dewasa di pelarian, kembali mereka mencoba membangun dan meneruskan Kerajaan Nan Sarunai baru di Watang Helang Rano Tane Ngagang Wunrung, terletak diantara dua sungai yang tiada lain adalah sungai Tabalong dan sungai Mahakam. Kemudian Watang Helang Rano Tane Ngagang Wunrung inilah yang disebut sebagai Kerajaan Nan Sarunai Wa’o atau Kerajaan Nan Sarunai Baru.
Akhir segala perlawanan kerajaan Nan Sarunai ditandai dengan dikuasainya daerah Tumpuk Uhang atau Banua Lawas oleh Raja Ampu Jatmika. Pusat Kerajaan Nan Sarunai itu telah ditaklukkan dan dikuasai secara penuh sehingga diteruskan penguasaannya sampai masa Lambung Mangkurat. Dan “Lambung Mangkurat yang dikenal sebagai Patih Negara Dipa atau Pimpinan Negara Dipa, kekuasaannya semakin merangkak maju. Berbagai penaklukkan dilakukan oleh ahli-ahli strategi dan ekonominya antara lain oleh Wiramartas (jabatan, bukan nama) dan lain-lain.
Lambung Mangkurat sendiri kemudian menemukan “puteri” yang dikenal dengan Junjung Buih (Tunjung Buih). Untuk memperkuat serta memperkokoh kekuasaan dan wilayah, (dia) mengorbankan (membunuh sebagai persembahan) Sukmaraga dan Patmaraga untuk kepentingan negara dan rakyat. Mungkin ini sebentuk pernyataan ketundukan atau kerjasama berdampingan dengan penguasa lama yakni Nan Sarunai (Ma’anyan), disamping mendudukkan (Puteri) Junjung Buih sebagai lambang kekuasaan Kerajaan Negara Dipa dan leburnya rakyat kedua negara kedalam bentuk baru, yaitu rakyat Negara Dipa yang membawahi pula beberapa kerajaan taklukan seperti Negara Gagelang, Kuripan, Batang Balangan, Batang Tabalong dan lain-lain.
Berdirinya Candi Agung disertai dengan menapaknya kekuasaan dalam bentuk Pemerintahan Kerajaan Negara Dipa yang diperkuat lagi dengan perkimpoian antara Junjung Buih dengan bangsawan Kerajaan Majapahit bernama Cakranegara, yang kemudian setelah menjadi raja Negara Dipa bergelar Pangeran Suryanata.
Dari penelitian arkeologi, ada sejumlah indikasi yang disamarkan dalam Tutur Candi dan Hikayat Banjar, yaitu:
Pendiri Negeri Negara Dipa dan Candi bernama Ampu Jatmika yang berasal dari Majapahit.
Ampu Jatmika menyuruh menjemput keluarga dan hartanya ke Negeri Keling di Majapahit.
Ampu Jatmika menaklukkan daerah-daerah lain disekitar Negara Dipa dipimpin seorang Puteri bernama Junjung Buih yang bersuamikan pangeran dari Majapahit bernama Suryanata (Cakranegara).
Pangeran Suryanata menaklukkan negeri-negeri di Kalimantan yang sebagian sudah disebut dalam Kitab Negarakrtagama.
Data dari kitab-kitab tersebut memungkinkan kisah Negara Dipa adalah sebuah NEGARA VASAL dari Majapahit sejak sebelum tahun 1365 M.
Agresi-agresi militer Majapahit ke Kalimantan menaklukkan kerajaan orang Dayak di pesisir, menurut F. Ukur yang memetik pendapat Muh. Yamin, diperkirakan antara tahun 1309 sampai 1389. Sedangkan Tjilik Riwut mengutip literatur pada zaman Belanda memperkirakan dalam tahun 1350. Tetapi yang pasti, begitu Kayutangi telah takluk ketangan Majapahit, mengungsilah orang-orang Dayak ke pedalaman mengikuti pemimpin kaum masing-masing. Dalam pengungsian dan pelarian itu, orang-orang Dayak Ma’anyan mendirikan kerajaan Nan Sarunai. Dan “beberapa informasi menyebutkan bahwa disekitar Candi Agung berdiri pula kerajaan selain Nan Sarunai, yaitu Negeri Gagelang dan Negara Kuripan.
Ekspansi militer Majapahit rupanya tidak berhenti sampai ditakluknya kerajaan Dayak di pesisir saja. Kerajaan Nan Sarunai kembali digempur ulang oleh tentara Majapahit. Kerajaan orang Dayak ini diserang dan dihancurkan habis-habisan. Semua pemimpin suku Dayak Ma’anyan dikabarkan tewas. Dan tokoh yang berperang melawan Majapahit itu adalah Ambah Idung dan Ambah Jarang. Sedangkan Idung, Jarang dan anak-anak Dayak lainnya beserta kaum wanita diungsikan dan disembunyikan di dalam hutan di gunung. Akibat perlawanan dahsat itu, Nan Sarunai akhirnya hancur lebur tanpa sisa. Semua pimpinan dan tentara Nan Sarunai mati dibunuh. Tinggallah anak-anak, orang tua dan kaum wanita yang mengungsi ke dalam hutan yang selamat.
Dengan tewasnya pahlawan dua bersaudara Ambah Idung dan Ambah Jarang bergelar Datu Taturan Wulau Miharaja Papangkat Amas, maka kerajaan Nan Sarunai yang wilayahnya meliputi pesisir Sungai Tabalong sampai ke Tanah Pasir di Kalimantan Timur telah ditinggalkan secara mengenaskan. Kedaton Nan Sarunai tane ngambang talam di sekitar Margasari berikut sumur abadi Ambah Jarang isa puang ta’u karing, dilupakan secara paksa. Singkatnya, musnahlah kerajaan Nan Sarunai dari kampung halamannya di tangan musuhnya dari Jawadwipa.
Begitu Idung dan sepupunya Jarang telah menginjak dewasa di pelarian, kembali mereka mencoba membangun dan meneruskan Kerajaan Nan Sarunai baru di Watang Helang Rano Tane Ngagang Wunrung, terletak diantara dua sungai yang tiada lain adalah sungai Tabalong dan sungai Mahakam. Kemudian Watang Helang Rano Tane Ngagang Wunrung inilah yang disebut sebagai Kerajaan Nan Sarunai Wa’o atau Kerajaan Nan Sarunai Baru.
Akhir segala perlawanan kerajaan Nan Sarunai ditandai dengan dikuasainya daerah Tumpuk Uhang atau Banua Lawas oleh Raja Ampu Jatmika. Pusat Kerajaan Nan Sarunai itu telah ditaklukkan dan dikuasai secara penuh sehingga diteruskan penguasaannya sampai masa Lambung Mangkurat. Dan “Lambung Mangkurat yang dikenal sebagai Patih Negara Dipa atau Pimpinan Negara Dipa, kekuasaannya semakin merangkak maju. Berbagai penaklukkan dilakukan oleh ahli-ahli strategi dan ekonominya antara lain oleh Wiramartas (jabatan, bukan nama) dan lain-lain.
Lambung Mangkurat sendiri kemudian menemukan “puteri” yang dikenal dengan Junjung Buih (Tunjung Buih). Untuk memperkuat serta memperkokoh kekuasaan dan wilayah, (dia) mengorbankan (membunuh sebagai persembahan) Sukmaraga dan Patmaraga untuk kepentingan negara dan rakyat. Mungkin ini sebentuk pernyataan ketundukan atau kerjasama berdampingan dengan penguasa lama yakni Nan Sarunai (Ma’anyan), disamping mendudukkan (Puteri) Junjung Buih sebagai lambang kekuasaan Kerajaan Negara Dipa dan leburnya rakyat kedua negara kedalam bentuk baru, yaitu rakyat Negara Dipa yang membawahi pula beberapa kerajaan taklukan seperti Negara Gagelang, Kuripan, Batang Balangan, Batang Tabalong dan lain-lain.
Berdirinya Candi Agung disertai dengan menapaknya kekuasaan dalam bentuk Pemerintahan Kerajaan Negara Dipa yang diperkuat lagi dengan perkimpoian antara Junjung Buih dengan bangsawan Kerajaan Majapahit bernama Cakranegara, yang kemudian setelah menjadi raja Negara Dipa bergelar Pangeran Suryanata.
Dari penelitian arkeologi, ada sejumlah indikasi yang disamarkan dalam Tutur Candi dan Hikayat Banjar, yaitu:
Pendiri Negeri Negara Dipa dan Candi bernama Ampu Jatmika yang berasal dari Majapahit.
Ampu Jatmika menyuruh menjemput keluarga dan hartanya ke Negeri Keling di Majapahit.
Ampu Jatmika menaklukkan daerah-daerah lain disekitar Negara Dipa dipimpin seorang Puteri bernama Junjung Buih yang bersuamikan pangeran dari Majapahit bernama Suryanata (Cakranegara).
Pangeran Suryanata menaklukkan negeri-negeri di Kalimantan yang sebagian sudah disebut dalam Kitab Negarakrtagama.
Data dari kitab-kitab tersebut memungkinkan kisah Negara Dipa adalah sebuah NEGARA VASAL dari Majapahit sejak sebelum tahun 1365 M.
Quote:
Kesultanan Banjarmasin
Kehancuran dan kekalahan Kerajaan Nan Sarunai serta leburnya rakyat Nan Sarunai kebawah kekuasaan (baru) Negara Dipa membuat rakyat Nan Sarunai terpaksa menerima perdamaian dibawah pemerintahan orang lain. Yang pasti, Negara Dipa didirikan diatas puing-puing Negara Nan Sarunai oleh Ampu Jatmika dari Majapahit. Negara Dipa inilah cikal bakal dari Kesultanan Banjarmasin.
Dampak ikutan bubarnya Negara Nan Sarunai (abad XIV) akibat agresi militer Majapahit dan akibat didirikannya Negara Dipa di atas puing-puingnya, kembali membuat penduduk Dayak Ma’anyan yang tidak terima melakukan eksodus mencari pemukiman-pemukiman baru ke pedalaman. Akhirnya terjadi lagi perpisahan dan perpecahan sehingga muncul pula pemukiman-pemukiman baru yang terpisah-pisah. Pemukiman baru itu muncul menyebar dari sekitar Gunung Rumung, Katuping Balah, Waman Sabuku, Candi Agung, Candi Laras, Patukangan, Labuhan Amas, Bakumpai Lawas, Ulak Banyu Tanggang, Maniungku, Abun Alas, Muara Binsau, Danau Salak, Dangka Nangkai, Kupang Sunnung, Danaukien (Danikien), Tuntang Alu dan terakhir pemukiman Baras Ruku.
Dalam abad XVII terjadi lagi perpisahan dan pelarian dikalangan suku Dayak Ma’anyan keturunan Nan Sarunai. Ini terjadi karena pemukiman yang ada dianggap sudah terlalu padat dan tidak adanya kata sepakat diantara pemimpin masing-masing. Maka perpisahan pun terjadi dibawah para Patih sebagai pemimpin pemerintahan dan Uria sebagai pemimpin hukum adat. Tercatat ada 7 orang Uria dan 12 orang Patih yang memimpin pengembaraan untuk pencarian pemukiman baru tersebut.
Dalam pencarian pemukiman itu, Uria Warung membangun pemukiman baru di Murung Kaliwen (sekarang desa Haringen). Uria Biring mengembara dan membangun desa di Dayu Lasi Muda. Uria Malangkan beserta rombongannya berhenti dan membangun pemukiman di Kayu Tinggi (Tangi?). Uria Mapas memimpin rakyatnya membangun Desa Patai. Uria Tadung Wanyi membangun di Kandangan. Uria Rantau membangun perkampungan di Karau, dan Uria Puneh membangun pemukiman di Witu (sekarang DAS Barito).
Para Patih yang berjumlah 12 orang juga pergi mengembara mencari dan mendapatkan daerah pemukiman masing-masing. Patih Saluang membangun pemukiman di Bakumpai. Patih Rumis membangun di Kahayan (Petak Bahandang). Patih Uwei membangun di Uwei (Teweh Pupuh). Patih Bantar membangun daerah Agung Langit. Patih Balimbing membuka hutan dan membangun daerah Balimbing. Patih Sabah membuka daerah Waruken. Patih Buhungen membangun daerah Buhungen. Patih Bisu membangun kampung Bbaik (Patangkep Tutui). Patih Jimang membuka dan memimpin pembangunan perkampungan di Pusa. Patih Ganting membuka hutan dan membangun Desa Murutuwu. Patih Mawuyung membangun daerah Balawa dan Patih Sanggak memimpin pembangunan daerah perkampungan Wengau.
Semenjak kehancuran Kerajaan Nan Sarunai sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan pribumi, anak-cucu suku Dayak (Ma’anyan) melakukan eksodus, pengungsian dan pembukaan pemukiman sebanyak 18 kali. Terakhir perpindahan berhenti di Kupang Sunnung, Daniken, Tuntang Alu dan Baras Ruku.
Kehancuran dan kekalahan Kerajaan Nan Sarunai serta leburnya rakyat Nan Sarunai kebawah kekuasaan (baru) Negara Dipa membuat rakyat Nan Sarunai terpaksa menerima perdamaian dibawah pemerintahan orang lain. Yang pasti, Negara Dipa didirikan diatas puing-puing Negara Nan Sarunai oleh Ampu Jatmika dari Majapahit. Negara Dipa inilah cikal bakal dari Kesultanan Banjarmasin.
Dampak ikutan bubarnya Negara Nan Sarunai (abad XIV) akibat agresi militer Majapahit dan akibat didirikannya Negara Dipa di atas puing-puingnya, kembali membuat penduduk Dayak Ma’anyan yang tidak terima melakukan eksodus mencari pemukiman-pemukiman baru ke pedalaman. Akhirnya terjadi lagi perpisahan dan perpecahan sehingga muncul pula pemukiman-pemukiman baru yang terpisah-pisah. Pemukiman baru itu muncul menyebar dari sekitar Gunung Rumung, Katuping Balah, Waman Sabuku, Candi Agung, Candi Laras, Patukangan, Labuhan Amas, Bakumpai Lawas, Ulak Banyu Tanggang, Maniungku, Abun Alas, Muara Binsau, Danau Salak, Dangka Nangkai, Kupang Sunnung, Danaukien (Danikien), Tuntang Alu dan terakhir pemukiman Baras Ruku.
Dalam abad XVII terjadi lagi perpisahan dan pelarian dikalangan suku Dayak Ma’anyan keturunan Nan Sarunai. Ini terjadi karena pemukiman yang ada dianggap sudah terlalu padat dan tidak adanya kata sepakat diantara pemimpin masing-masing. Maka perpisahan pun terjadi dibawah para Patih sebagai pemimpin pemerintahan dan Uria sebagai pemimpin hukum adat. Tercatat ada 7 orang Uria dan 12 orang Patih yang memimpin pengembaraan untuk pencarian pemukiman baru tersebut.
Dalam pencarian pemukiman itu, Uria Warung membangun pemukiman baru di Murung Kaliwen (sekarang desa Haringen). Uria Biring mengembara dan membangun desa di Dayu Lasi Muda. Uria Malangkan beserta rombongannya berhenti dan membangun pemukiman di Kayu Tinggi (Tangi?). Uria Mapas memimpin rakyatnya membangun Desa Patai. Uria Tadung Wanyi membangun di Kandangan. Uria Rantau membangun perkampungan di Karau, dan Uria Puneh membangun pemukiman di Witu (sekarang DAS Barito).
Para Patih yang berjumlah 12 orang juga pergi mengembara mencari dan mendapatkan daerah pemukiman masing-masing. Patih Saluang membangun pemukiman di Bakumpai. Patih Rumis membangun di Kahayan (Petak Bahandang). Patih Uwei membangun di Uwei (Teweh Pupuh). Patih Bantar membangun daerah Agung Langit. Patih Balimbing membuka hutan dan membangun daerah Balimbing. Patih Sabah membuka daerah Waruken. Patih Buhungen membangun daerah Buhungen. Patih Bisu membangun kampung Bbaik (Patangkep Tutui). Patih Jimang membuka dan memimpin pembangunan perkampungan di Pusa. Patih Ganting membuka hutan dan membangun Desa Murutuwu. Patih Mawuyung membangun daerah Balawa dan Patih Sanggak memimpin pembangunan daerah perkampungan Wengau.
Semenjak kehancuran Kerajaan Nan Sarunai sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan pribumi, anak-cucu suku Dayak (Ma’anyan) melakukan eksodus, pengungsian dan pembukaan pemukiman sebanyak 18 kali. Terakhir perpindahan berhenti di Kupang Sunnung, Daniken, Tuntang Alu dan Baras Ruku.
0
Kutip
Balas