Saya sedang tiduran di atap, menikmati langit sore surabaya yang gak ada indahnya. Tangan kananku memegang sapu tangan usang punya Rossy dulu dan tangan kiriku masuk ke dalam celah celana, garuk2. Saat tiba2 Rossy eh.... Diana mendekatiku kemudian duduk di sebelahku.
"Eh Diana" saya kaget, memasukan sapu tangan ke kantong.
"Tanganya yang kiri di benerin dulu" menunjuk tangan kiriku yang masih sibuk menyelam di selangkangan
Saya kaget terkejut dan reflek menarik tangan saya. Menghentikan aktifitas 'garuk2' secara paksa, mendadak. Warna oranye terlihat di sela2 kuku jari saya. Shit.
Perih sekali
"Ada apa?" Saya gagap, sedikit menahan perih.
"Rossy saja, "
Sudah sebulan sejak Rossy kembali ke sini, saya juga membatalkan keputusan untuk pulang. Kami sudah akrab, sangat akrab malah. Sore itu dia bercerita tentang banyak hal, banyak sekali. Tentang keluarganya, kerjaan, hubungan asmaranya dan tentu saja, masalah kenapa dia mengganti namanya.
Dia anak ke 11 dari 11 bersaudara, ayahnya sudah meninggal saat dia masuk ke bangku SD. Sejak saat itu yang menanggung biaya hidupnya adalah kakak2 tertuanya, secara bergantian. Malangnya semua bantuan dari saudara2nya itu berhenti saat dia lulus dari SMP.
Beberapa bulan setelah kelulusan dan memastikan tidak akan punya biaya, dia memutuskan untuk ke Surabaya mencari nafkah. Dan malangnya lagi saat hari pertama menjalani masa training di sebuah restoran dia mengalami musibah, dia menabrak orang saat mau berangkat kerja (dia masih belum ingat tau kalo saya adalah orang yang di tabrak malam itu

). Karna syok berlebihan (dia anak smp) performa nya buruk saat menjalani training di hari pertamanya. Dia berhenti, lebih tepatnya 'di hentikan' secara halus oleh pihak resto.
Di saat paling genting dalam hidupnya (lebay gak sih?) Uang sakunya hampir habis, dia belum dapat pekerjaan dan malangnya (lagi) ibunya butuh biaya untuk ke rumah sakit, sumpah klise banget. Dia mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah caffe dan di sanalah dia mulai belajar mengenal dunia malam. Sex, minuman dan om2 berdompet tebal. Diana adalah nama malamnya.
"Kamu gak takut?" Saya menyela dan menghentikan ceritanya
"Emm... apa?"
"Kamu gak takut kalo aku bakalan cerita masalah ini ke semua orang?"
Dia melongo kemudian menutup mulutnya dengan tangan kiri.
"Kamu terlalu banyak membocorkan rahasia mu Ossy" saya membungkuk memegang pundaknya, mukanya memerah. "Sedangkan kamu tidak tau apapun tentang aku?"
Dia agak kaget, mungkin dia baru sadar telah bercerita terlalu banyak tentang dirinya sendiri. Saya masih berdiri di depanya, menikmati ekspresi penyesalan yang terlihat sari mimik mukanya, manis sekali.
"Kamu gak akan cerita masalah ini ke siapapun kan?" Dia merengek
"Jangan khawatir, karena kamu sudah mempercayaiku dengan rahasiamu, maka biar impas maka aku juga harus punya rahasia dariku kan?"
Dia cuman diam, memandangku dengan muka bingung
"Kayaknya aku suka sama kamu" dia kaget, melongo (terpesona kah?) "Dan satu hal lagi, " saya melemparkan sapu tangan usang dari sakuku kepadanya. Kemudian pergi ke kamar.
Duh adegan tadi keren sekali

:
saya tiduran di dalam kamar - yang entah gimana cara mendeskripsikanya, saya tidak akan bilang keaddanya seperti kapal pecah, saya baru sekali naik kapal, emm... dua kali jika pulang pergi berada dalam hitungan berbeda dan itupun cuma dalam perjalanan menyebrangi selat madura, mengenaskan.
Saya melanjutkan garuk2, nikmatnya
"Brak..." pintu kamar terbuka
"Kraak... " duh si Anu lecet lagi, saya reflek menarik tangan yang lagi asik garuk2 sodara2... perih nya... Awsem banget
Rossy tiba2 saja masuk kemudian memeluk dan mencium saya. Okeh saya bingung dengan adegan ini. Dia hebat sekali . Setelah puas, kayaknya. Dia mengambil posisi terlentang di sebelah saya -yang masih melongo dengan adegan panas barusan.
"Aku kotor Mas" sambil menangis "aku gak pantas untuk di cintai"
Well, kayaknya adegan barusan menunjukan bahwa dia telah berkata jujur. Saya tidak menjawab, saya tau dia sedang stress.
"Hendro (om2 yang menjadi pacarnya) selingkuh lagi" sambil membersihkan airmatanya dengan sapu tangan.
"Maksudmu dia kembali kepada istrinya?"
Dia terdiam, mungkin dia baru sadar akan posisinya yang sebenarnya.
"Belajarlah melupakan si hendro sialan itu Ossy, ada aku di sini, masih lajang tentunya (saya punya calon istri sih, tapi baru calon loh, jadi masih dalam kategori lajang kan?)"
"Mas kan tau keadaanku seperti apa?" Dilanjutkan dengan pandangan seperti 'masih yakin?'
"Semua orang punya masa lalu, saya gak peduli meskipun dulunya kamu adalah seorang pramuria sekalipun!" "Yang penting kamu ada niat untuk berubah"
Saya kembali memasukan tangan saya ke selangkangan, masih garuk2
"Cari saja yang lain Mas"
"Saya maunya Kamu"
Mukanya merah, keliatan salah tingkah. sumpah lucu sekali.
Dia berdiri, menjepit 'anu' saya dengan jempol kakinya kemudian pergi meninggalkan saya dengan penuh senyum kemenangan. Dan ya (lagi2) tanpa sengaja saya menggaruk terlalu dalam.
Triple kill