- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465.5K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#469
F Part 22
Gue terbangun sepi dari tidur gue. Jam berapa gue melihat jam dinding, masih pagi, 05.55. Ah, malasnya ketika gue ingat harus berangkat sekolah. Gue duduk sejenak dengan rambut gue yang kusut dan muka bete gue tentunya. Hari apa ini?
Setelah mandi dan dandan rapi gue turun ke bawah. Gue melihat Ibu dan Ani sedang makan di meja makan. “Makan dulu Fe..” Seru ibu. Gue tidak menjawab dan hanya memasang muka sinis. Kenapa semua orang begitu biasa saja hari ini. Menyebalkan.
Di sekolah pun sama saja, gue memilih untuk diam saja tidak beranjak dari tempat duduk gue. Gue lebih memilih untuk menyendiri walaupun beberapa teman gue mengajak gue pergi ke kantin, tapi gue menolaknya dengan nada bicara yang malas.
“Kenapa lo Fe?” Tanya Dania.
“Ngak papa.” Jawab gue singkat.
“Ah kenapa lo, dari tadi diem saja.”
“Gpp, gue baik-baik saja kok. Yuk temenin gue beli minuman.” Ajak gue beranjak berdiri mengajak Dania pergi ke kantin.
Di kantin dengan segelas jus jambu kesukaan gue, gue hanya melamun memutar-mutar sedotan di gelas.
“Hoii Fe.. kenapa?” Tanya Dania mengagetkan gue.
“Oh.. ngak papa.” Ujar gue lemas.
“Fe serius, kalau ada apa-apa bilang aja?”
“Ngak Dan, gpp. Yuk ah ke kelas lagi.” Ajak gue lagi pergi meninggalkan segelas jus jambu yang belum gue minum sama sekali. Gue dan Dania memang pergi ke kantin pada saat jam pelajaran.
Pulang sekolah, gue tidak langsung pulang ke rumah. Gue pergi ke terminal, ya gue memutuskan untuk pergi ke rumah nenek gue yang berada di daerah priangan timur. Tidak menunggu lama bis yang menuju kampung halaman ibu gue akan berangkat, gue yang masih mengenakan seragam SMA menaiki bis terebut dan duduk agak belakang. Siang hari di hari kerja seperti ini tidak banyak penumpang yang menaiki bis. Selama perjalanan gue terus memikirkan kenapa semua orang itu begitu tolol dan pelupa. Semua orang itu kejam dan jahat. Gue semakin benci semua orang. Tak ada satupun dari mereka baik, ibu, teman-teman gue, atau siapapun kek yang ingat bahwa hari ini adalah HARI ULANG TAHUN GUE! Persetan dengan semuanya, padahal gue selalu ingat kapan mereka lahir ke dunia dan selalu mengucapkan selamat serta menghadiahkan kado, tapi orang-orang ini? Ucapan selamat pun tidak pernah keluar dari mulut mereka. Hanya pesan singkat dari seseorang yang gue kenal dari dunia maya yang mengucapkan atas hari kelahiran gue. Gue nggak mengerti apa yang terjadi di dalam pikiran dan ingatan mereka, sebegitu gak berharganya gue kah kali ini? Sebegitu mudah dilupakannya gue? Gue Felisha Natasha yang dari dulu kalian kenal tertampar keras dengan perlakuan kalian di hari ini. Sambil bersedih dan menangis di dalam bis gue menyumpahi mereka semua. Peduli setan lah buat mereka. Gue tak sudi lagi. Untuk kedua kalinya kejadian ini terjadi lagi, tapi tahun lalu tapi masih mending ketika beberapa orang dari teman gue ngucapin selamat ulang tahun ke gue walaupun telat. Gak masuk diakal. Tailah.
Fuvk all~
“Teu kunanaon neng?” (Gak apa-apa neng) Kata kondektur bus yang memergoki gue menangis di pojokan.
“Oh heunteu kunanaon A.” (Gak apa-apa A) Gue buru-buru menyeka airmata dan iler gue dan membereskan muka gue yang kusut.
“Ongkosna neng.”
“Bntr.” Gue segera mengambil uang di dompet gue dan membayarkannya ke kondektur tersebut.
Sebenarnya ketika gue sadar dan dipergoki oleh kondektur tadi, penumpang lain terutama penumpang yang diseblah gue melihat ke arah gue terus. Ibu-ibu itu mungkin terus berpikir, ini anak siapa kok pakai seragam naik bis sendirian lalu nangis, jangan-jangan kabur atau korban sesuatu. Tapi sekali lagi bodolah, semua orang itu kayak tai bagi gue pada saat ini.
Memerlukan waktu setidaknya 3 jaman gue sampai di kampung halaman, ah sudah sejak lama ketika gue turun dari bis. Untungnya gue masih hafal cara pergi ke rumah nenek. Gue hanya perlu naik sekali angkot dan berjalan kaki saja tidak jauh untuk mencapai rumah nenek.
Nenek gue tinggal bersama anaknya paling bungsu, yaitu si Anto yang belum saja menikah. Rumah nenek gue merupakan model rumah model tua zaman belanda. Sangat luas, dibelakangnya ada kolam ikan dan sawah tapi di depannya ada pohon yang gede, gak tau gue itu pohon apaan. Gue mengetuk pintu rumah nenek, dan seketika nenek gue yang masih sehat walafiat membuka pintu dan begitu terkejut melihat gue di depannya.
“FELISHA?” Tampaknya dia kaget.
“Sareng saha kadieu?” (Bareng siapa kesini?) Tanya dia.
“Sendiri.” Jawab gue.
“Euleuh aya naon, kunaon? Si mamah apaleun teu?” (Kenapa, ada apa? Ibu tau gak?) Tanya dia lagi.
Gue hanya menggelengkan kepala. Keluarga ibu gue emang tidak lepas dari bahasa Sunda karena ibu gue memang mojang parahyangan.
“Aya naon geuning kadieu?” (Ada apa kok kesini?)
“Gpp nek.. hoyong aja(Pengen aja).” Jawab gue.
“Si mamah teu apalaeun mah, urg telepon we nya, bisi hariwang.” (Kalau ibu gak tau, biar nenek telepon aja ya, takut dia khawatir).
“Ulah (Gak usah). Biarin aja we nek, nggak bakalan inget.”
“Ih kamu mah ulah sok kitu.” (Ih kamu jangan begitu).
“Jangan nek, jangan nek.”
“Nya sok atuh, (Iya). Sok istirahat aja dulu. Nanti nenek bikinin makanan karesep (kesukaan).”
****
Setelah mandi dan dandan rapi gue turun ke bawah. Gue melihat Ibu dan Ani sedang makan di meja makan. “Makan dulu Fe..” Seru ibu. Gue tidak menjawab dan hanya memasang muka sinis. Kenapa semua orang begitu biasa saja hari ini. Menyebalkan.
Di sekolah pun sama saja, gue memilih untuk diam saja tidak beranjak dari tempat duduk gue. Gue lebih memilih untuk menyendiri walaupun beberapa teman gue mengajak gue pergi ke kantin, tapi gue menolaknya dengan nada bicara yang malas.
“Kenapa lo Fe?” Tanya Dania.
“Ngak papa.” Jawab gue singkat.
“Ah kenapa lo, dari tadi diem saja.”
“Gpp, gue baik-baik saja kok. Yuk temenin gue beli minuman.” Ajak gue beranjak berdiri mengajak Dania pergi ke kantin.
Di kantin dengan segelas jus jambu kesukaan gue, gue hanya melamun memutar-mutar sedotan di gelas.
“Hoii Fe.. kenapa?” Tanya Dania mengagetkan gue.
“Oh.. ngak papa.” Ujar gue lemas.
“Fe serius, kalau ada apa-apa bilang aja?”
“Ngak Dan, gpp. Yuk ah ke kelas lagi.” Ajak gue lagi pergi meninggalkan segelas jus jambu yang belum gue minum sama sekali. Gue dan Dania memang pergi ke kantin pada saat jam pelajaran.
Pulang sekolah, gue tidak langsung pulang ke rumah. Gue pergi ke terminal, ya gue memutuskan untuk pergi ke rumah nenek gue yang berada di daerah priangan timur. Tidak menunggu lama bis yang menuju kampung halaman ibu gue akan berangkat, gue yang masih mengenakan seragam SMA menaiki bis terebut dan duduk agak belakang. Siang hari di hari kerja seperti ini tidak banyak penumpang yang menaiki bis. Selama perjalanan gue terus memikirkan kenapa semua orang itu begitu tolol dan pelupa. Semua orang itu kejam dan jahat. Gue semakin benci semua orang. Tak ada satupun dari mereka baik, ibu, teman-teman gue, atau siapapun kek yang ingat bahwa hari ini adalah HARI ULANG TAHUN GUE! Persetan dengan semuanya, padahal gue selalu ingat kapan mereka lahir ke dunia dan selalu mengucapkan selamat serta menghadiahkan kado, tapi orang-orang ini? Ucapan selamat pun tidak pernah keluar dari mulut mereka. Hanya pesan singkat dari seseorang yang gue kenal dari dunia maya yang mengucapkan atas hari kelahiran gue. Gue nggak mengerti apa yang terjadi di dalam pikiran dan ingatan mereka, sebegitu gak berharganya gue kah kali ini? Sebegitu mudah dilupakannya gue? Gue Felisha Natasha yang dari dulu kalian kenal tertampar keras dengan perlakuan kalian di hari ini. Sambil bersedih dan menangis di dalam bis gue menyumpahi mereka semua. Peduli setan lah buat mereka. Gue tak sudi lagi. Untuk kedua kalinya kejadian ini terjadi lagi, tapi tahun lalu tapi masih mending ketika beberapa orang dari teman gue ngucapin selamat ulang tahun ke gue walaupun telat. Gak masuk diakal. Tailah.
Fuvk all~
“Teu kunanaon neng?” (Gak apa-apa neng) Kata kondektur bus yang memergoki gue menangis di pojokan.
“Oh heunteu kunanaon A.” (Gak apa-apa A) Gue buru-buru menyeka airmata dan iler gue dan membereskan muka gue yang kusut.
“Ongkosna neng.”
“Bntr.” Gue segera mengambil uang di dompet gue dan membayarkannya ke kondektur tersebut.
Sebenarnya ketika gue sadar dan dipergoki oleh kondektur tadi, penumpang lain terutama penumpang yang diseblah gue melihat ke arah gue terus. Ibu-ibu itu mungkin terus berpikir, ini anak siapa kok pakai seragam naik bis sendirian lalu nangis, jangan-jangan kabur atau korban sesuatu. Tapi sekali lagi bodolah, semua orang itu kayak tai bagi gue pada saat ini.
Memerlukan waktu setidaknya 3 jaman gue sampai di kampung halaman, ah sudah sejak lama ketika gue turun dari bis. Untungnya gue masih hafal cara pergi ke rumah nenek. Gue hanya perlu naik sekali angkot dan berjalan kaki saja tidak jauh untuk mencapai rumah nenek.
Nenek gue tinggal bersama anaknya paling bungsu, yaitu si Anto yang belum saja menikah. Rumah nenek gue merupakan model rumah model tua zaman belanda. Sangat luas, dibelakangnya ada kolam ikan dan sawah tapi di depannya ada pohon yang gede, gak tau gue itu pohon apaan. Gue mengetuk pintu rumah nenek, dan seketika nenek gue yang masih sehat walafiat membuka pintu dan begitu terkejut melihat gue di depannya.
“FELISHA?” Tampaknya dia kaget.
“Sareng saha kadieu?” (Bareng siapa kesini?) Tanya dia.
“Sendiri.” Jawab gue.
“Euleuh aya naon, kunaon? Si mamah apaleun teu?” (Kenapa, ada apa? Ibu tau gak?) Tanya dia lagi.
Gue hanya menggelengkan kepala. Keluarga ibu gue emang tidak lepas dari bahasa Sunda karena ibu gue memang mojang parahyangan.
“Aya naon geuning kadieu?” (Ada apa kok kesini?)
“Gpp nek.. hoyong aja(Pengen aja).” Jawab gue.
“Si mamah teu apalaeun mah, urg telepon we nya, bisi hariwang.” (Kalau ibu gak tau, biar nenek telepon aja ya, takut dia khawatir).
“Ulah (Gak usah). Biarin aja we nek, nggak bakalan inget.”
“Ih kamu mah ulah sok kitu.” (Ih kamu jangan begitu).
“Jangan nek, jangan nek.”
“Nya sok atuh, (Iya). Sok istirahat aja dulu. Nanti nenek bikinin makanan karesep (kesukaan).”
****
Diubah oleh natashyaa 19-06-2015 16:36
itkgid memberi reputasi
1
