Hari ini saya sedang tidak dalam mood yang bagus untuk menceritakan tentang mantan. Saya putuskan untuk jalan2 keluar sekedar mengurangi stress. Istri saya tidak ikut, dia masih berhibernasi mingguan.
"Penyet ayam satu Om, sama teh tawar anget"
"Bungkus atau makan sini?"
"Makan sini aje Om"
"Bang, penyet bebek satu ya, sama teh tawar, makan sini"
"Okeh Mas Bro"
"Bang Moha, Nasgor satu sama teh tawar, makan sini"
Setelah perut penuh saya putuskan buat mampir warung kopi. Tapi niat itu saya batalkan karena di sana ada si Gogon, calon suami mantan STSSN (sohib tapi sama2 ngarep

) saya. Kemudian saya putuskan untuk ke rental PS, di sana juga menyediakan kopi.
Di depan rental Ps tersebut, saya menyaksikan pemandangan yang luar biasa indah. Ada tiga orang yang sedang main bareng (membuat kompetisi liga di winning eleven, mungkin). Adalah si Rico aka Semut Sariawan di sebelah kiri, kemudian si Ian aka celengan semar dan si Anton aka dear diary. Ya, ketiganya adalah mantan pacar istri saya.
Mereka saling ejek, saling tunjuk siapa yang paling payah dan siapa yang paling jago diantara mereka. Melihat itu, saya yang sedang berdiri di depan pintu kemudian berdehem, membenarkan kerah baju, tersenyum sinis penuh kemenangan kemudian berbalik arah dan meninggalkan mereka, saya yakin mereka sedang mengutuk saya dalam hati.
Pffttt....
*****
"Mas.., tunggu" ucap seorang gadis kecil berseragam Smp, sambil ngos2an.
"Eh.. ada apa Dek?" Saya tidak kenal siapa anak itu.
"Emm ini Mas, menyerahkan kotak kecil yang di ikat dengan pita warna merah. Panjangnya sekitar 20cm, ringan. Saya masih mengamati kotak tersebut.
"Mas?"
"hemm? Ada titipan lagi?"
"Mas?"
Dia masih berdiri di depan saya, menaruh kedua tanganya di belakang pantat, memanyunkan bibirnya kemudian menggoyangkan kaki kananya (bener gak ilustrasinya?)
"Yaelah..." saya merogoh kantong dan memberikan 2 butir permen kop*ko kepadanya. Dia masih cemberut. Saya membuka dompet dan dengan berat hati memberikan sepuluh ribu. Dia segera berlari, langsung pergi
Saya membuka kotak tersebut, saya tidak terkejut melihat isinya. sebuah pulpen model 'toktek' berwarna emas. Benda yang tentu saja sangat berarti buat seorang yang gemar menulis, dan Amel adalah satu2nya mantan saya yang tahu kalau saja hobi menulis.
"Eh dek" saya menghampiri anak tadi, sambil ngos2an. "Mbaknya yang nitipin kado tadi kemana?"
"......" anak itu tidak menjawab, kali ini menodongkan tanganya, seperti bilang 'bayar dulu'
"Iya2 nanti, jawab dulu"
"Sudah pulang lah Mas, biasanya dia nganter aku sampai rumah, tapi tadi aku di turunin di jalan pàs Mbak Amel melihat Mas lagi di depan rental dan kemudian menyuruh aku untuk memberikan kotak tadi" dia berhenti bicara kemudian kembali menodongkan tanganya, "mana?"
MasyaAlloh ini anak, saya membuka dompet kemudian mengambil uang sebelas ribu, selembar sepuluh ribu dan dua keping lima ratusan. Kalian benar, saya memasukan kembali yang sepuluh ribu dan memberikan kepadanya yang dua keping di tambah satu butir permen kop*ko. Kecil2 kok sudah belajar ngrampok!
Hari ini hari minggu, tentu saja. Satu2nya alasan kenapa anak smp pergi ke sekolah di hari minggu adalah untuk mengikuti eskul. Dan dari dulu Amalia sudah jadi pembina untuk eskul pramuka di Smp.
Sesampainya di rumah saya membangunkan istri saya yang masih molor. Dia sudah ganti baju juga sudah wangi, mungkin tadi pagi sudah mandi kemudian baru kembali molor.
"Mama bangun ih"
"Ah nanti siang ajah Pa!" Masih ngeles
"Ini sudah siang keles, jam sebelas!!"
"Heh?"
"Mangkanya bangun! Ini tadi papa beli jus" menempelkan plastik item ke kepalanya.
"Udah Papa modif blum jusnya?"
"Yah enggak lah Ma, masak iya jus di kasih trasi sama cabe rawit"

Selesai minum jus dia kembali ke kamar. Di menyisir rambutnya, kemudian membuka baju.
"Ini kan hari libur Pa"
"Heh.. ho'oh Ma"
Saya mendekati istri saya kemudian ikutan buka baju
"Punggung sama leher ya Pa"
"Heh?"
Dia menyerahkan koin seribuan sama minyak kayu putih kepada saya
"Hah?"
"Mumpung hari minggu Pa, mama kayaknya masuk angin, kerokin yah?"
