- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#458
F Part 21
Gue jadi merasa kasihan sama Ani semenjak dimarahin ayahnya. Memang semuanya bukan salah Ani, tapi ayolah Burhan masa gara-gara bokapnya Susi mantan atasan lu, lu jadi marahin anak lu sendiri.
“Bu, kenapa ibu dulu menikah dengan ayahnya Ani?” Tanya gue ke ibu. Jam 7 malam ketika Burhan belum pulang kerja dan Ani sedang berada di kamar, gue ke kamar ibu.
Ibu hanya tersenyum saja.
“Ayolah Bu, kenapa senyum saja.” Paksa gue.
“Kalau boleh jujur, ibu tidak mencintai dia. Yang ibu cintai hanya ayah kamu, dari ayah kamu, ibu bisa melahirkan kamu, putri kesayangan ibu, permata ibu satu-satunya di dunia ini.” Jawaban ibu membuat gue shok dan tidak masuk akal.
“Aneh! Terus kenapa ibu menikahinya?” Tanya gue sekali lagi.
“Entahlah, saat pertama kali bertemu dengan dia, ibu bertemu dengan anaknya di rumahnya. Ibu jadi ingat kamu kalau lihat Ani. Ibu merasa kasihan kepada Ani yang sudah kehilangan ibunya saat masih kecil. Ibu ingin merawat dia sama seperti ingin ibu merawat kamu.”
“Aku gak ngerti deh Bu. Cuman gara-gara Ani, ibu menikah dengan dia?”
“Iya.” Senyum ibu.
Sekali lagi jawaban yang tidak masuk akal bagi gue.
“Fe…” Panggil ibu ketika gue hendak keluar kamar ibu.
“Iya,,?”
“Sini tidur bareng ibu. Temani ibu.”
“Tapi.. bu, aku harus belajar besok ulangan.” Sebenarnya sih nggak ada alias bohong.
“Ayolah sayang, kamu gak usah belajar juga past bisa, kamu kan pinter.”
“Hmm.. yasudah.”
“Kunci pintu kamarnya ya.” Perintah ibu.
Gue pun malam itu tidur bersama ibu. Sebenarnya gue resah juga sudah berapa tahun gue tidak pernah tidur bareng lagi dengan ibu. Gue cepat-cepat memejamkan mata dan pura-pura tidur ketika naik kasur berbaring bersama ibu.
“Fe… maafin ibu selama ini kalau ibu bukanlah ibu yang baik buat kamu. Ibu tahu segala kekurangan ibu kepadamu, tapi bagaimanapun juga ibu sangat-sangat menyayangi kamu lebih dari apapun. Sayang ibu tidak terhingga buat kamu.” Ibu mengucapkan kata-kata itu sambil membelai rambut gue. Mungkin ibu mengira gue sudah tertidur, tapi sebenarnya gue masih tersadar dan sangat jelas mendengar kata-kata yang keluar dari mulut ibu.
“Jika waktu bisa terulang kembali, ibu pasti bakal memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah ibu perbuat.”
Mendengar kata-kata itu membuat gue sedih. Jika memang seperti itu kenapa ibu melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dulu. Jujur gue pengen nangis saat itu juga, tapi gue tahan karena gue pura-pura tertidur. Seberapa pun kesalnya gue kepada ibu, tapi tetap saja sebanarnya gue juga menyangi ibu karena dia itu ibu gue. Setelah ibu benar-benar tertidur, gue bangun dan bangkit dari kasur. Sebelum keluar kamar, gue menyelimuti ibu.
***
“Hey…” Sapa Burhan ketika gue melewatinya yang sedang menonton tv di tengah malam begini.
“Ya?”
“Belum tidur?”
“Gak ngantuk.”
“Bisa duduk dulu disini.? Temani saya.”
“Iya..”
“Ini filmnya unik, seseorang terlahir tua seperti kakek-kakek dan makin hari malah makin muda. Aneh, Hahaha” Celoteh dan tawa dia sendiri. Gue yang duduk bersama dia jadi ikut menonton tv dan gue langsung bisa menyimpulkan film yang dia maksud adalah film The Curious Case of Benjamin Button, filmnya Brad Pitt.
“Ada apa ya nyuruh saya duduk disini?” Tanya gue.
“Gak ada apa-apa sih.” Ujar dia.
Gue segera bangkit dari sofa. Gue kira ada apa, taunya cuman nemenin dia doang.
“Tunggu.. Fe..”
“Ya?” Gue duduk kembali.
“Begini… Saya kemarin merasa bersalah karena telah memarahi Ani dan sekarang Ani pasti sedang marah sama saya, saya tahu betul marahnya Ani seperti apa. Mungkin untuk beberapa saat Ani tidak akan mengobrol dengan saya. Terus terang emosi Ani itu tidak stabil, saya takut kalau dia berbuat yang ngak-ngak kalau emosinya ngak stabil.”
“Terus?” Tanya gue.
“Tolong awasi dia ya Fe.. Saya khawatir.”
“Gak usah khawatir, Ani pasti bisa mengurus dirinya sendiri kok.”
“Bukan begitu Fe…”
“Sudahlah saya ngantuk.”
Gue meninggalkan Burhan dan segera pergi tidur ke kamar.
***
“Bu, kenapa ibu dulu menikah dengan ayahnya Ani?” Tanya gue ke ibu. Jam 7 malam ketika Burhan belum pulang kerja dan Ani sedang berada di kamar, gue ke kamar ibu.
Ibu hanya tersenyum saja.
“Ayolah Bu, kenapa senyum saja.” Paksa gue.
“Kalau boleh jujur, ibu tidak mencintai dia. Yang ibu cintai hanya ayah kamu, dari ayah kamu, ibu bisa melahirkan kamu, putri kesayangan ibu, permata ibu satu-satunya di dunia ini.” Jawaban ibu membuat gue shok dan tidak masuk akal.
“Aneh! Terus kenapa ibu menikahinya?” Tanya gue sekali lagi.
“Entahlah, saat pertama kali bertemu dengan dia, ibu bertemu dengan anaknya di rumahnya. Ibu jadi ingat kamu kalau lihat Ani. Ibu merasa kasihan kepada Ani yang sudah kehilangan ibunya saat masih kecil. Ibu ingin merawat dia sama seperti ingin ibu merawat kamu.”
“Aku gak ngerti deh Bu. Cuman gara-gara Ani, ibu menikah dengan dia?”
“Iya.” Senyum ibu.
Sekali lagi jawaban yang tidak masuk akal bagi gue.
“Fe…” Panggil ibu ketika gue hendak keluar kamar ibu.
“Iya,,?”
“Sini tidur bareng ibu. Temani ibu.”
“Tapi.. bu, aku harus belajar besok ulangan.” Sebenarnya sih nggak ada alias bohong.
“Ayolah sayang, kamu gak usah belajar juga past bisa, kamu kan pinter.”
“Hmm.. yasudah.”
“Kunci pintu kamarnya ya.” Perintah ibu.
Gue pun malam itu tidur bersama ibu. Sebenarnya gue resah juga sudah berapa tahun gue tidak pernah tidur bareng lagi dengan ibu. Gue cepat-cepat memejamkan mata dan pura-pura tidur ketika naik kasur berbaring bersama ibu.
“Fe… maafin ibu selama ini kalau ibu bukanlah ibu yang baik buat kamu. Ibu tahu segala kekurangan ibu kepadamu, tapi bagaimanapun juga ibu sangat-sangat menyayangi kamu lebih dari apapun. Sayang ibu tidak terhingga buat kamu.” Ibu mengucapkan kata-kata itu sambil membelai rambut gue. Mungkin ibu mengira gue sudah tertidur, tapi sebenarnya gue masih tersadar dan sangat jelas mendengar kata-kata yang keluar dari mulut ibu.
“Jika waktu bisa terulang kembali, ibu pasti bakal memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah ibu perbuat.”
Mendengar kata-kata itu membuat gue sedih. Jika memang seperti itu kenapa ibu melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dulu. Jujur gue pengen nangis saat itu juga, tapi gue tahan karena gue pura-pura tertidur. Seberapa pun kesalnya gue kepada ibu, tapi tetap saja sebanarnya gue juga menyangi ibu karena dia itu ibu gue. Setelah ibu benar-benar tertidur, gue bangun dan bangkit dari kasur. Sebelum keluar kamar, gue menyelimuti ibu.
***
“Hey…” Sapa Burhan ketika gue melewatinya yang sedang menonton tv di tengah malam begini.
“Ya?”
“Belum tidur?”
“Gak ngantuk.”
“Bisa duduk dulu disini.? Temani saya.”
“Iya..”
“Ini filmnya unik, seseorang terlahir tua seperti kakek-kakek dan makin hari malah makin muda. Aneh, Hahaha” Celoteh dan tawa dia sendiri. Gue yang duduk bersama dia jadi ikut menonton tv dan gue langsung bisa menyimpulkan film yang dia maksud adalah film The Curious Case of Benjamin Button, filmnya Brad Pitt.
“Ada apa ya nyuruh saya duduk disini?” Tanya gue.
“Gak ada apa-apa sih.” Ujar dia.
Gue segera bangkit dari sofa. Gue kira ada apa, taunya cuman nemenin dia doang.
“Tunggu.. Fe..”
“Ya?” Gue duduk kembali.
“Begini… Saya kemarin merasa bersalah karena telah memarahi Ani dan sekarang Ani pasti sedang marah sama saya, saya tahu betul marahnya Ani seperti apa. Mungkin untuk beberapa saat Ani tidak akan mengobrol dengan saya. Terus terang emosi Ani itu tidak stabil, saya takut kalau dia berbuat yang ngak-ngak kalau emosinya ngak stabil.”
“Terus?” Tanya gue.
“Tolong awasi dia ya Fe.. Saya khawatir.”
“Gak usah khawatir, Ani pasti bisa mengurus dirinya sendiri kok.”
“Bukan begitu Fe…”
“Sudahlah saya ngantuk.”
Gue meninggalkan Burhan dan segera pergi tidur ke kamar.
Diubah oleh natashyaa 19-06-2015 16:37
itkgid memberi reputasi
1
