Kaskus

Story

rojopurwoAvatar border
TS
rojopurwo
a Good Ending
Prolog

Cerita ini adalah hasil buah karya keisengan saya dan sis briar rose, yah terutama saya sih, sis briar korbanya emoticon-Ngakak (S)
Cerita ini adalah cerita fiksi biasa yang ditampilkan dari dua sudut pandang yang berbeda.
Udahan ya prolognyaaa... emoticon-Ngakak (S)
Enjoy emoticon-Wink

Index

Ghost Story
Namaku Laila I
Harvesting Fear
Namaku Laila II
Harvesting Fear II
Diubah oleh rojopurwo 31-05-2015 19:28
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
2.1K
24
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.2KAnggota
Tampilkan semua post
rojopurwoAvatar border
TS
rojopurwo
#18
Harvesting Fear II
Code:
Dibawah sinar bulan keperakan, sesosok gadis berpakaian gelap sedang asik bermain - main di pinggir danau, kakinya terendam sebatas lutut. Aku mendatanginya tanpa bersuara, mengendap – endap seperti seekor harimau. Tapi ketika aku sampai di batas pepohonan gadis itu tiba – tiba menoleh.

“Hey, kemarilah aku sudah lama menunggumu” katanya sambil tersenyum.

“Siapa namamu gadis kecil? Tempat apa ini?” kataku dalam suara yang menggeram dalam, cukup untuk membuat nyali laki – laki paling jantanpun ciut. Tulang – tulang rusukku berkeratakan ketika aku mendekatinya.

“Kemarilah… ” ucapnya tanpa rasa takut sedikitpun, tanganya terjulur mengundangku untuk mengikutinya masuk ke danau. Aku berhenti beberapa meter darinya sambil menelengkan kepala, mencurigai adanya perangkap. Lalu sambil menelengkan kepala gadis itu berbisik lirih “Samael…”

“Apa?” bukan namanya yang membuat aku kaget, tapi cara dia mengucapkannya menimbulkan desir dingin di tulang punggungku, seolah – olah jantungku bisa kembali berdetak. Aura penuh kekuasaan terpancar dari dirinya. Entah jin, roh, hantu atau entah apapun itu yang jelas gadis itu bukan manusia biasa.

“Mulai hari ini kau kuberi nama Samael”


=============================================================================

Benar – benar absurd. Aku terjaga dari mimpiku ketika matahari sudah hampir terbenam. Masih tersisa kengerian yang ditimbulkan oleh mimpi yang baru saja aku alami. Sebuah nama adalah sebuah pemberian yang sangat aneh. Maksudku kau tidak akan pernah berjalan – jalan dan menamai orang yang kau temui semaumu tanpa dianggap gila kan? Biasanya bila dilakukan dengan ritual yang benar, dengan memberi kami (makhluk halus) sebuah nama, orang yang memberikan nama tersebut akan memiliki kekuasaan penuh atas roh kami. Membelenggu jiwa kami dalam dalam tawanan kemauanya. Tapi aku tak merasakan ikatan apapun, itulah anehnya.

Ah sudahlah, masih ada masalah lain yang lebih mendesak. Perlahan – lahan aku meninggalkan kerangka manusia yang selama ini kupinjam untuk menaungi rohku.

Wujud astralku bersifat ghaib bagi mata manusia, kecuali bagi beberapa orang yang memiliki kemampuan batin yang tinggi. Beberapa hewan seperti kucing, anjing dan kuda juga bisa merasakan kehadiranku. Dalam wujud ini aku lebih leluasa menggunakan kekuatanku, tapi sisi jelek dari wujud ini adalah sinar matahari bisa melemahkanku dan aku akan membutuhkan usaha extra untuk mempengaruhi benda - benda yang bersifat fisik. Itulah sebabnya aku lebih suka bergentayangan dengan meminjam tulang – belulang manusia yang kucuri dari kuburan setempat. Yah, lagipula aku yakin tulang – tulang itu tidak akan keberatan meninggalkan lubang pengap di bawah sana.

Ah, mumpung aku sedang baik hati kuberi kau beberapa tips untuk memilih tubuh fisik yang akan kau pakai jika kau hantu.

Pertama, jangan pernah sekali – sekali masuk kedalam tubuh manusia hidup. Dua pikiran dalam satu tubuh itu benar – benar mimpi buruk. Hanya hantu yang benar – benar kurang waras yang mau merasuki manusia hidup. Aku masih ingat nasib temanku yang melakukan hal itu, pertarungan mental antara dia dan pemilik tubuh yang dirasukinya tersebut benar – benar merusak keduanya. Dan ketika pengusir hantu datang roh keduanya sudah sedemikian rusak hingga tidak dapat diselamatkan. Keduanya berakhir gila. Hiii… membayangkanya saja aku ngeri.

Kedua, jika kau memilih untuk mendiami mayat manusia (atau seperti aku yang merasuki tulang belulang manusia), pilihlah yang sudah meninggal antara 10 – 15 tahun yang lalu, dan jangan pernah memilih mayat baru kecuali kau tidak keberatan ditemani belatung – belatung yang menggerogoti dagingmu saat kau bergentayangan. Percayalah, sama sekali tidak elegan.

Ketiga, benda mati. Sebenarnya konsepnya sama saja sih dengan merasuki mayat. Benda - benda mati yang memiliki hubungan yang kuat dengan pemiliknya sangat mudah disusupi. Seperti boneka misalnya. Ada pula beberapa orang yang memang dengan sengaja memerangkap jin atau makhluk halus lainya dalam benda – benda tertentu agar memiliki efek supernatural khusus. Bisa dalam keris, cincin, atau kalau kalian ingat Aladin dalam kisah seribu satu malam ia memerangkap jin dalam karpet. Bah, kalau menurutku perbudakan tetap saja perbudakan tak peduli korbanya manusia atau makhluk halus.

Sebenarnya masih banyak sih tips – tips lain dalam dunia perhantuan yang aku tahu sih. Tapi lain waktu saja ya, kau tahu sendiri kan aku hantu yang supersibuk. Wahyu dan istrinya telah pergi mengungsi ke rumah kedua orang tua Wahyu untuk sementara waktu. Tapi aku bisa menjamin, Amira akan selalu mengenangku sepanjang sisa hidupnya. Bukan berarti aku sudah menang loh ya, malam ini adalah malam yang dijanjikan oleh dukun sakti yang disewa oleh Wahyu untuk datang mengusirku.

Dan benar saja, sementara aku lengah barusan, tiba - tiba sebuah energi supernatural memasuki daerah kekuasaanku. Kalau saja aku masih keasikan bercerita dengan kalian hampir saja energi atau apapun itu tak terdeteksi olehku. Energi yang baru saja aku rasakan telah sampai di halaman rumah, bergerak perlahan seperti menimbang – nimbang untuk terus masuk ke dalam rumah. Hmmm… sepertinya aku tahu apa ini. Energi itu adalah mata gaib, energi yang dikirimkan oleh orang – orang berkemampuan khusus untuk memata – matai keberadaan makhluk gaib seperti aku.

Aku mendecakan lidah tidak sabar, dan bahkan aku tidak perlu repot – repot menyembunyikan diri. Bagiku urusan ini lebih cepat selesai lebih baik. Aku ingin segera bebas dari urusan ini. Maka yang kulakukan berikutnya adalah hal yang paling keren yang biasanya dilakukan manusia abad ini untuk memulai konfrontasi. Aku keluar menembus pintu depan dan mengacungkan jari tengahku ke arah mata gaib tersebut. Well, kuharap dukun sakti itu tidak terlalu ketinggalan jaman untuk tahu artinya. Sepertinya aku tidak salah duga, setelah melihatku mata gaib itu perlahan memudar seperti asap. Sebagai gantinya dua sosok lain memasuki pekarangan rumah. Dua orang itu adalah Wahyu dan si dukun.

Setelah jarak kami tinggal 10 meter, mereka berdua berhenti. Dukun itu masih berpakaian hitam yang sama sejak aku terakhir melihatnya tapi kali ini dia membawa sebatang tongkat berwarna gelap dengan ukiran kepala ular di bagian atasnya. Wahyu membawa sebuah tas yang entah apa isinya. Wajah dukun itu terlihat tegang. Kami berhadapan dengan mentalitas sepasang cowboy yang akan menentukan hidup dan mati dengan adu tembak.

“Kau kuberi kesempatan yang terakhir untuk segera hengkang dari tempat ini, kembali ke alammu sekarang juga atau kau akan kuhancurkan. Dunia ini tempat bagi mereka yang masih hidup. Urusanmu disini sudah selesai”

“Kau yang tak punya urusan disini Pak Tua, apa hakmu mencampuri kehidupanku?” aku menggeram penuh kemarahan. Aku sangat tidak suka diingatkan kalau aku adalah sisa – sisa dari kehidupan, apalagi oleh orang asing.

“Itu jawabanmu? Aku sudah memperhatikanmu sejak bertahun – tahun yang lalu. Keberadaanmu disini sudah meresahkan orang – orang yang hidup di sekitarmu. Sebagai orang yang memiliki ilmu, sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengatasi masalah ini. With great power come great responsibility” Ooooh my Goood… aku shock. Dukun ini mengutip kata – kata di film Spiderman, lengkap dengan bahasa inggrisnya pula. Tampaknya dia benar – benar tidak terlalu ketinggalan jaman. Yah, setidaknya masih ada harapan untuknya.

“Sekali lagi pergi…”, lalu ia menghentakkan ujung tongkatnya ketanah, sebentuk energi menyeruak keluar dari tongkat itu seperti kabut dan menyelimuti mereka berdua. “…atau kau akan menyesal”.

“Ini adalah tempatku, kau yang akan menyesal telah berani menginjakkan kaki di tempat ini” sambil berkata, aku mengumpulkan energiku di telapak tangan kananku hingga berbentuk bola api, siap melontarkanya ke arah mereka berdua.

Kali ini dukun tersebut mengacungkan tongkatnya ke arah langit dan beberapa detik kemudian sebentuk sulur – sulur gelap berbentuk bayangan keluar dari kepala tongkatnya melesat menuju ke arahku. Aku melompat menghindar ke kiri dan melontarkan serangan balasan ke arah mereka berdua.

“Baaaammmmm….!!!” bola apiku membentur dinding kabut. Kabut itu terpencar beberapa saat sebelum kemudian kembali menutup. Sementara itu, sulur – sulur itu masih saja mengejarku, seperti peluru kendali. Sambil bersalto ke belakang aku menembakkan bola api lagi ke arah sulur itu. Yess… berhasil, dengan apiku aku berhasil membakarnya.

Tak tinggal diam sementara aku berjumpalitan kesana kemari, dukun itu komat kamit membaca mantra. Ah sial, harusnya aku tahu, sulur – sulur itu cuma pengalih perhatian. Serangan yang sesungguhnya akan segera datang. Tak berapa lama dari arah langit sebentuk meteor api jatuh ke halaman tepat ke arah posisiku berada. Untungnya aku sadar lebih cepat dan pergi menghindar. “Duaaaaarrrr…!!!”.

Dari tumbukan meteor itu dengan tanah terbentuk lubang yang berbau hangus dan belerang. Tak terbayangkan akibatnya bila meteor itu mengenaiku, aku yakin rohku akan langsung remuk. Untungnya sebagai hantu aku tidak akan kehabisan nafas setelah sekian banyak manuver yang aku lakukan. Setelah beberapa saat pulih dari keterkejutanku, aku tak membuang – buang waktu untuk bersantai. Dari seranganku yang pertama aku tahu kelemahan dinding kabut tadi. Jeda beberapa detik sebelum kabut kembali merapat.

Jadi kali ini aku mempersiapkan dua bola api di tangan kanan kiriku dan bersiap menyerang. Dengan gerakan yang cukup cepat untuk ukuran manusia aku melemparkan bola api di tangan kiriku dan melompat kedepan untuk serangan kombinasi jarak dekat dengan tangan kanan. Sesuai rencanaku, dinding kabut itu terpencar setelah serangan pertama, aku bersiap untuk serangan susulan dengan tangan kanan……..

“Aaaaahhkk….” tiba – tiba sesosok lengan yang luar biasa besar mencengkeram leherku dari arah belakang. Aku meronta dan menendang kian kemari. Tapi tangan kokoh itu tetap tak bergeming sedikitpun. “Lepaskan aku… “.

“Hamba menghadap untuk melayanimu tuan” kata makhluk itu. Dari bau belerang yang ditimbulkan kedatanganya aku bisa menduga makhluk ini adalah jin. “Perintahkan hamba…”

Sungguh kacau, aku tak menduga kalau meteor itu sebenarnya adalah jin pelayan dukun sakti itu. Berbeda dari hantu yang memakan rasa takut dari orang – orang yang hidup di sekitarnya untuk bertambah kuat, kekuatan jin alami dari dalam dirinya. Dengan semakin bertambahnya umur, mereka juga akan semakin kuat. Satu – satunya kesempatanku keluar dari situasi ini hidup – hidup adalah kabur.

Dukun itu menatapku dengan pandangan muram. “Inilah akhir bagimu hantu, semoga kau bisa memaafkanku” lalu ia memerintahkan jin tersebut “Baal, hancurkan makhluk ini...”

Jin itu menyeringai lebar memperlihatkan gigi – giginya yang runcing ketika aku menoleh ke arahnya. Tapi hanya sesaat, seringai itu berubah menjadi teriak kesakitan ketika aku melontarkan bola api di tangan kananku ke arah matanya. Kemudian ketika perhatian jin itu teralihkan, aku melontarkan diri dari cengkeramanya langsung ke arah si dukun, menembus dinding kabut yang menyelimutinya.

“Hancurlah kau pak tua” teriakku dengan kemarahan yang mengalahkan akal sehatku. Wahyu yang sejak tadi bersiaga di belakang dukun itu tidak tinggal diam, ia menyiramkan air yang kuduga telah diberi mantra sebelumnya ke arahku. Dengan panik aku mencoba menghindar.

Efek dari air ini bagi makhluk sepertiku sungguh luar biasa, rohku meleleh di tempat – tempat yang tersentuh. Kini giliranku yang menjerit kesakitan “Aaaaarrrghhh…!!!”.

Setelah sadar dari keterkejutanya, Baal kembali ke rencana awalnya. Kali ini dengan antusiasme yang lebih besar dari sebelum aku melukai matanya. Aku hanya meringkuk di tanah ketika Baal bertubi – tubi menghajarku. Aku sadar, keadaanku sekarang tidak memungkinkanku untuk melawan lagi. Jadi ketika Baal mengangkat kakiku dan melemparkanku ke dinding rumah, aku hanya pasrah. Bahkan itulah yang aku tunggu sejak tadi. Dengan memanfaatkan tenaga lemparan Baal aku melenting dan menambahkan tenagaku sendiri. Kabur, hanya itu harapanku.

Aku terus berlari hingga akhirnya pertahananku habis dan aku menyerah pada rasa sakit. Ketika aku sadar, aku sudah berada di pinggir daerah perkotaan. Malam ini aku benar – benar hancur. Rohku mulai memudar di beberapa tempat. Tanpa rumah dan tubuh fisik untuk kutinggali, aku akan benar – benar mati. Aku sekarat.

Jadi inilah rencanaku sekarang, aku akan meringkuk di balik tong – tong sampah itu dan menunggu, antara rohku yang memudar atau sinar matahari; aku ingin tahu yang mana yang akan membunuhku terlebih dahulu. Ketika aku duduk dan merenungi nasibku, sesosok mata menatapku. Seekor kucing hitam, dengan luka cakar di dahinya.

“Psssshhhh….” Aku mencoba mengusirnya

“Meeww…” bukannya pergi kucing ini malah mendekatiku. Mengendus endus tumpukan sampah di kakiku.

“Pssshhhh…”

Lagi – lagi kucing itu tak mengindahkanku dan malah mendekati wajahku. Akhirnya aku menyerah dan menutup mataku, berharap bahwa sebelum mati aku akan merasakan sedikit kedamaian.

“Meewww…” aku kembali terjaga, kali ini suara itu bukan lagi keluar dari mulut kucing itu. Suara yang baru saja kudengar berasal dari bibirku.
Diubah oleh rojopurwo 31-05-2015 19:26
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.