Ada dua hal yang bisa digunakan untuk mengatasi situasi seperti ini. Kalian yang sudah menikah tentu mengetahuinya, kasur dan dapur. Untuk opsi yang pertama pasti berhasil, hanya saja rasa2 nya gak mungkin di jalankan kali ini. Saya putuskan memakai opsi ke dua, dapur
Jam 5 pagi saya bela bela-in nyetop tulang sayur di jalan utama, membeli bahan untuk masak ayam balado. Untuk menyukseskan rencana ini saya menemukan cara yang sangat brilian dan mungkin sedikit nyleneh. Saya memindahkan kompor ke depan pintu kamar, memasak di situ.
Setelah semua bahan siap dan kompor juga, saya mulai memasak. Dan untuk menambah persentase kesuksesan misi gencatan senjata kali ini dengan berat hati saya menambahkan trasi ke dalam bumbu ayam balado saya, cabe rawit dua kali lipat ukuran biasa juga.
saat memasukan semua bahan ke dalam penggorengan saya menjalankan rencàna pamungkas, membuka pintu kamar sedikit dan meniup asap masakan itu ke dalam kamar. What a brilian plan!!!!
Semenit kemudian pintu kamar terbuka dan munculah istri saya dengan senyum mengembang. Lebar banget. Misi sukses.
"Ih Papa tau ajah nie masakan kesukaan mama" sambil lompat dari dalam, melewati kompor dan langsung memeluk saya.
"Jelas tau lah... mudah banget kan, tinggal menambah trasi sama cabe doank"
"Hehe...." mencomot terong dari wajan
"Cuci muka dulu kek!"
"Haha... ntar ajah deh.... makan dulu yuk?"
Saya kemudian mengambil dua piring, mengisinya satu penuh satunya setengah. Yang setengah untuk saya dan begitulah kegalauan ini berakhir. Dia sama sekali tidak membahas Eva, Vany ataupun Amel pagi inii. Tentu saja, dia juga lupa membahas fakta tentang suami ganteng-cetar-membahana yang tergeletak tak berdaya di atas tiker tadi malam.
***
Di lapangan desa Grabagan sedang di adakan acara syukuran, ada pengajian umum sebagai acara utamanya. Adalah Pak De saya yang memberikan undangan satu minggu yang lalu. Saya mengajak istri saya menghadiri acara tersebut.
Saya dandan serapi mungkin, maklum ini acara syukuran yang di adakan oleh Pemdes Grabagan bekerja sama dengan Pemkab Tuban. Pak De saya selaku Kepala Humas di Dinas Pariwisata Tuban mendapat jatah undangan lebih dan mungkin karena yang kebagian jatah kali ini adalah Kecamatan di mana saya tinggal maka saya lah yang mendapatkan undangan 'lebih' itu
"Pa, nanti beneran kita bakalan duduk sederet dengan Bupati?" Sambil manyun manyun gak jelas di depan kaca, membenahi jilbab yang dia pakai
"Iya Ma (kalau beruntung)" saya menjawab sekenanya
"Hayuk Pa"
Sampai di tempat, saya langsung parkir. Agak jauh dari gerbang masuk. Saya menyuruh istri saya menunggu di parkiran dulu. Saya masuk kemudian menyusuri kios2 yang berjejer di sepanjang jalan masuk sampai di pinggiran lapangan, memastikan tidak ada bu Herman di sana. Aman
Saya kembali ke parkiran dan menggandeng istri saya masuk. Baru berjalan sekitar 50m tangan saya di tarik paksa oleh seseorang dari samping kiri. Orang itu kemudian mencubit hidung saya, keras sekali lalu mengacak2 rambut saya dan... ah... memeluk saya dengan sangat eratnya....
"Iwaaaannnn... ih gemes ih... Kamu nikah kok Tante gak di undang???"
"....." saya masih berusaha melepaskan pelukanya
"Riska mana? Gak Kamu ajak?" Dia clingukan mencari istri saya
"Tuh.." saya menunjuk kepada seorang wanita mungil yang sedang berdiri bersedekap, manyun
"Halo Tan" istri saya kemudian menyapa Tante Ani dan kemudian menarik saya dari pelukan Tante Ani.
"Duh senengnya yang baru dapet pelukan mesra" nadanya nyindir
"Lah Mama kan tau sendiri Dia gimana.."
"Ah Papa juga seneng gitu, buktinya pasrah aja di peluk2 gak jelas" masih manyun " Memang sih, tetek nya lbih gedhe" sambil melirik ke arah dadanya sendiri
Akhirnya kami memutuskan tidak masuk ke area tamu undangan, sungkan beud. Isinya bapak2 semua. Sejam kemudian karena tidak ada hal yang menarik perhatiannya istri saya sudah merengek pengen pulang padahal acara utama belum dimulai. Gak ada penjual panci di sana.