- Beranda
- Sejarah & Xenology
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
...
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Arabia
Bizantin
Double Envelopment
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Garnisun
Ghassan
Imperium
Kavaleri
Kekhalifahan
Khalifah
Levant
Mesopotamia
Negara Vasal
Persia-Sassanid
Romawi
Syam
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.
Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.
Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.
Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.
Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.
Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.
Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.
Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.
Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.
Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.
Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.
Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.
Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.
Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.
Romawi
Lihat Bizantin.
Syam
Lihat Levant.
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
plonard
#102
Ini posting pekan kedua. Saya masih menerjemahkan dari buku yang sama. Ebook bisa dibaca atau didownload gratis dari link ini (dalam Bahasa aslinya, Bahasa Inggris)...
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
(Halaman 1)
Seorang Arab berjalan di jalanan Makkah di malam hari, dengan pikiran yang berkecamuk. Ia adalah seorang anggota klan bangsawan Bani Hasyim yang tidak lagi kaya. Seorang laki-lai yang tampan dengan tinggi sedang, dada dan bahu yang kokoh, rambutnya ikal memanjang di bawah telinganya. Matanya yang lebar, gelap, dihiasi bulu mata yang panjang, terlihat penuh dengan pikiran dan kesedihan.
Banyak sekali gaya hidup orang Arab yang melukai hatinya. Di mana-mana ia melihat tanda-tanda kerusakan – ketidakadilan pada kaum miskin dan lemah, pertumpahan darah yang sebenarnya tidak perlu terjadi, perlakuan tehadap perempuan yang tidak lebih baik daripada hewan ternak. Ia akan lebih sedih lagi setiap mendengar berita adanya penguburan bayi perempuan hidup-hidup.
Sejumlah klan Arab tertentu memiliki ritual adat yang kejam, yaitu membunuh anak-anak perempuan. Sang ayah akan membiarkan si anak tumbuh normal sampai usia 5 atau 6 tahun. Kemudian sang ayah akan mengajaknya berjalan-jalan dan memakaikan baju bagus padanya seperti hendak ke pesta. Sang ayah membawanya ke luar kampung atau kota di mana lubang kubur telah disiapkan untuk anak perempuannya. Kemudian si anak disuruh untuk berdiri di tepi lubang, sementara dalam pikirannya dia sudah tidak sabar kapan hal yang menyenangkan akan dimulai. Sang ayah kemudian mendorong anaknya masuk ke lubang kubur, dan saat si anak menangis meminta ayahnya untuk menolongnya keluar, sang ayah akan melempar batu besar kepada anaknya, menghilangkan nyawa dari tubuh lemah anaknya. Ketika si anak tidak lagi bergerak, sang ayah menutup lubang kubur dan pulang ke rumah. Kadang-kadang, ia berbangga dengan perbuatannya ini.
Tradisi ini tentu saja tidak menyebar luas di Arab. Di antara klan-klan terkenal di Makkah – Bani Hasyim, Bani Umayyah, dan Bani Makhzum –, peristiwa pembunuhan anak perempuan tidak tercatat sedikit pun. Tradisi ini hanya berlaku pada beberapa suku padang pasir dan sejumlah klan. Tetapi kejamnya perbuatan sudah cukup untuk membuat muak orang-orang Arab lainnya yang lebih cerdas dan berakhlak mulia di masa tersebut.
Selain itu, berhala-berhala menjamur di Makkah. Ka'bah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim sebagai Rumah Allah, saat itu dikotori dengan tuhan-tuhan dari kayu dan batu. Orang-orang Arab mengambil hati tuhan-tuhan ini dengan sesajian-sesajian kurban karena mereka percaya bahwa tuhan-tuhan ini akan menghukum mereka saat marah dan memberi rezeki saat senang. Di dalam dan sekitar ka'bah, terdapat 360 berhala. Berhala yang paling utama adalah Hubal, Uzza, dan Latta. Hubal, yang tertinggi di antara kelompok tuhan-tuhan Arab, diberikan porsi terbesar dan dipahat dari batu akik merah. Ketika penduduk Makkah mengimpor patung ini dari Syams, patung ini tidak memiliki tangan kanan sehingga mereka menambahkan sebuah tangan baru dari emas.
Dalam agama orang Arab di masa tersebut, ada percampuran antara politeisme dan kepercayaan pada Allah – Tuhan Sesungguhnya. Mereka percaya bahwa Allah adalah Tuhan dan Pencipta, tetapi mereka juga percaya pada berhala dan menganggap berhala-berhala sebagai anak laki-laki dan perempuan Allah. Posisi ketuhanan dalam pikiran orang Arab saat itu adalah seperti sebuah dewan, Allah sebagai pemimpin dewan dan berhala-berhala sebagai anggota yang masing-masing mempunyai kekuatan supernatural meskipun patuh kepada presiden. Orang-orang Arab itu bersumpah dengan nama Hubal atau berhala-berhala lainnya. Mereka juga terkadang bersumpah dengan nama Allah. Mereka terkadang memberi nama anak laki-laki mereka Abdul Uzza, yang berarti Hamba Uzza. Namun, terkadang mereka juga memberi nama anak laki-laki mereka Abdullah, yang berarti Hamba Allah.
Tidak tepat jika kita mengira segala sesuatu dalam budaya Arab saat itu adalah salah. Masih ada kebiasaan mereka yang mulia dan ksatria. Ada kualita-kualitas tertantu dalam karakter umum orang Arab yang bahkan sulit disaingi oleh orang-orang masa kini – keberanian, keramahtamahan pada tamu, dan harga diri pribadi dan kesukuan. Ada juga elemen-elemen dendam berdarah yang diwariskan dari ayah ke anak laki-laki, tetapi ini bisa dimengerti, bahkan mungkin diperlukan, pada suatu tatanan masyarakat yang tidak memiliki kepemimpinan sentral untuk menegakkan hukum dan keteraturan. Balas dendam berdarah antara pribdai maupun antar suku adalah satu-satunya jalan untuk menjaga kedamaian dan mencegah ketidakadaan hukum.
Apa yang salah dalam budaya Arab terletak pada bidang etika dan agama, dan di kedua bidang inilah, Bangsa Arab mencapai titik terendahnya. Masa ini dikenal dalam sejarah sebagai Masa Kebohohan atau Jahiliyah. Di Masa Kebodohan ini, perilaku Bangsa Arab adalah perilaku bodoh; kepercayaan mereka adalah kepercayaan yang bodoh. Masa Kebodohan bukan hanya sebuah era, tetapi telah menjadi jalan hidup.
Orang Arab yang disebutkan di awal bab ini, menyepi ke sebuah gua yang tidak jauh dari Makkah, setidaknya satu bulan di setiap tahun. Di dalam gua ini, ia memanfaatkan waktunya untuk berpikir dan menunggu – namun tidak tahu apa yang ia tunggu. Sampai pada suatu hari, ketika ia bertafakur di dalam gua tersebut; ia mendadak merasakan kehadiran seseorang. Ia tidak melihat seorangpun dan tidak mendengar suara, tetapi ia bisa merasakan ada seseorang bersamanya. Kemudian terdengar suara yang berkata, "Bacalah!"
__________________________________________________________________________
(Halaman 2)
Terkejut dengan fenomena suara tanpa tubuh ini, orang Arab itu kemudian bertanya, "Apa yang harus saya baca?" Suara itu kembali terdengar lebih keras, "Bacalah!" Lagi, orang Arab itu bertanya, "Apa yang harus saya baca?" Suara tadi terdengar lebih keras dan tegas memerintah, "Bacalah!" Kemudian suara tersebut melanjutkan perkataannya dengan lebih lembut:
Bacalah: dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah: dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar dengan pena;
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. [Al-Qur'an 95: 1-5]
Kejadian ini berlangsung pada hari Senin bulan Agustus 610 M. Dunia tidak pernah sama lagi setelah kejadian ini, Muhammad telah menerima wahyu pertamanya. Sebuah agama terlahir.
Ketika Muhammad (saw) menerima wahyu ini, Khalid berusia 24 tahun.
Selama tiga tahun, Muhammad beraksi dengan sembunyi-sembunyi, menerima bimbingan melalui Malaikat Jibril. Kemudian ia diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah secara terbuka dan ia memulai dari keluarga dan klannya. Namun kebanyakan dari mereka mencela ajarannya dan mengolok-olok agama baru ini.
Suatu hari, Sang Nabi memutuskan untuk mengundang semua keluarga dekatnya dan memberi jamuan makan di rumahnya. Ini adalah kesempatannya untuk mengumpulkan mereka bersama dan menempatkan mereka dalam situasi untuk bisa mendengarkannya. Makanan disajikan dan tamu menyantap jamuan. Sang Nabi menyeru para tamu dan berkata, "Wahai Bani Abdul Muththalib! Demi Allah, saya tidak melihat seorangpun di kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah-tengah kalian yang lebih baik daripada apa yang saya bawa. Kubawakan kepadamu dunia dan akhirat yang terbaik. Allah telah memerintahkan saya untuk mengajak kalian semua. Siapakah diantara kalian yang mau mendukung saya dalam hal ini?
Tidak ada respon dari hadirin. Tidak satupun menjawab, mereka saling melihat mengira akan ada yang akan membantu orang ini. Dan kemudian, seorang remaja laki-laki bertubuh kecil dan kurus, berdiri dan bersuara dengan suaranya yang belum pecah, “Aku, hai Rasulullah, yang akan menjadi penolongmu!”
Sontak para hadirin tertawa terhadap apa yang mereka anggap konyol sambil mulai berdiri dan meninggalkan jamuan. Namun sang remaja tidak peduli dengan tertawaan dan Sang Nabi memeluknya dengan penuh cinta. Sang Nabi menyampaikan, “Inilah saudara dan wakilku.”[1] Sang remaja merupakan sepupu nabi, yaitu Ali, anak Abu Thalib. Ia adalah laki-laki pertama yang masuk Islam.[2]
Secara bertahap, kebenaran mulai menyebar; dan sejumlah kecil pribadi, kebanyakan adalah pemuda dan orang-orang lemah, menerima agama baru ini. Jumlah mereka kecil, teatpi keberanian mereka tinggi. Lingkup aktivitas nabi semakin luas. Meskipun harus menghadapi gangguan dan ejekan dari Quraysy, ia melanjutkan kegiatannya mengajak orang-orang di pojok-pojok jalanan dan di pasar-pasar, memperingatkan mereka akan api neraka yang menunggu para pendosa. Ia menunjukkan ketidakbergunaan berhala-berhala kayu dan batu mereka, mengajak mereka menyembah Allah, Tuhan sesungguhnya. Semakin aktif ia melakukan kerjanya, penentangan dari Quraysy semakin keras dan kejam. Penentangan ini terutama datang dari empat orang: Abu Sufyan (bernama asli Shakhr bin Harb, pemimpin klan Bani Umayyah), Al-Walid (ayah dari Khalid), Abu Lahab (paman Sang Nabi) dan Abul Hakam. Nama yang disebut pertama dan terakhir akan sering kita dengar dalam kisah ini.
Abu Sufyan dan Al-Walid adalah dua laki-laki bermartabat dan terhormat. Ketika mereka menunjukkan penentangan mereka terhadap nabi, mereka tidak merendahkan diri mereka dengan melakukan kekerasan fisik. Respon pertama Al-Walid (terhadap ajakan nabi) adalah sebuah kalimat penuh keangkuhan, “Apakah benar kenabian dianugrahkan kepada Muhammad, sedangkan aku, yang paling mulia dan dituakan di Suku Quraysy, tidak mendapat apa-apa? Dan masih ada Abu Mas’ud, kepala Bani Tsaqif. Sungguh dia dan aku adalah yang paling mulia di antara (penduduk) dua kota.”[3] Orang tua berkedudukan ini hidup dalam sebuah dunia di mana semuanya ditentukan oleh kebangsawanan dari keturunan dan pangkat. Tentu saja ia tidak adil dalam hal ini karena garis keturunan mereka bertemu di generasi keenam sebelum mereka dan keluarga Muhammad tidak jauh tingkatannya disbanding keluarga Al-Walid. Faktanya, tidak lama sebelum masa Nabi, keluarganya memperoleh kedudukan lebih tinggi disbanding keluarga lainnya di Makkah. Kakek nabi, Abdul Muththalib, menjadi kepala suku Quraysy di Makkah.
Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 63; Ibnu Sa’d: Vol. 1, hlm. 171.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 245; Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 56. Mas’udi: Muruj; Vol. 2, hlm. 283.
[3] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 361. Al-Qur’an 95:1-5
__________________________________________________________________________
(Halaman 3)
Menurut Ibnu Hisyam, pernyataan Al-Walid ini memicu turunnya ayat Al-Qur'an: Dan mereka berkata, "Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua kota ini?" [Al-Qur'an 43:31] Dua kota itu adalah Makkah dan Tha'if. Sebuah ayat Al-Qur'an lainnya juga menyebut Al-Walid, yang pada bab sebelumnya dijelaskan bahwa ia juga dipanggil sebagai Al-Wahid (Satu-satunya), yaitu ayat: Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang telah Aku ciptakan sendiri, dan Aku berikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersamanya, dan Ku-lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya. Kemudian dia ingin sekali agar Aku menambahnya. Sekali-kali tidak akan, karena sungguh dia menentang ayat-ayat Kami. Aku akan membebaninya pendakian yang memayahkan.... kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri, lalu berkata, "(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari dari orang-orang dahulu, ini tidak lain hanyalah perkataan manusia". Aku akan memasukkannya ke dalam neraka. [Al-Qur'an: 11-17 dan 21-26]
Di antara pembesar Quraisy yang paling kejam dan penuh benci adalah Abul Hakam, sepupu dan teman Khalid. Karena kejamnya penentangan Abul Hakam pada Islam, ia digelari sebagai Abu Jahl, Bapak Kebodohan, dan dari namanya inilah keturunannya mengenalnya. Seorang yang pendek, namun tangguh dan kuat dengan mata juling, ia digambarkan orang semasanya sebagai "seorang dengan wajah seperti besi, penampilan seperti besi, dan lisan seperti bsei."[1] Dan Abu Jahl tidak pernah melupakan di masa remajanya, Muhammad pernah membantingnya dengan keras dalam sebuah pertarungan gulat yang sengit, melukai lututnya dengan bekas luka yang tidak hilang sampai meninggalnya.[2]
Para pembesar Quraysy ini dengan sejumlah orang lainnya terus gagal menemukan cara untuk menghentikan nabi, baik dengan ancaman atau bujukan. Mereka memutuskan untuk mendekati Abu Thalib yang dituakan dan disegani, paman dari sang nabi dan pemimpin Bani Hasyim. Mereka sebenarnya sangat ingin membunuh nabi, tetapi masih ada perasaan kesatuan suku dan keluarga yang melindungi nabi. Apabila ia dibunuh, jelas akan muncul rentetan kekerasan lainnya dari Bani Hasyim yang sudah pasti akan membalas membunuh si pembunuh atau keluarga si pembunuh.
Utusan Quraysy mengunjungi Abu Thalib dan berkata, "Hai Abu Thalib! Anda adalah pemimpin kami dan orang yang terbaik di antara kita. Anda telah melihat bagaimana anak saudara laki-lakimu perbuat pada agama kita. Ia mencela tuhan-tuhan kita. Ia mengejek agama kita dan agama bapak-bapak kita. Anda adalah bagian dari agama kita. Mohon hentikan Muhammad dari kegiatannya atau izinkan kami untuk melakukan apa saja yang kami inginkan terhadapnya."[3]
Abu Thalib menjawab dengan lembut bahwa ia akan mempelajari lebih jauh masalah ini dan mereka pun kembali ke tempat masing-masing. Meskipun Abu Thalib menginformasikan kepada nabi apa yang dikatakan utusan Quraysy kepadanya, Abu Thalib tidak melakukan apapun untuk menghentikan nabi menyebarkan agama barunya. Abu Thalib adalah penyair. Kapan saja ia menghadapi masalah seperti ini, ia akan menumpahkannya ke dalam sebuah syair yang panjang.
Di dalam keluarga Al-Walid, kegiatan sang nabi menjadi topik pembicaraan hangat. Di malam hari itu, Al-Walid duduk dan bercengkrama dengan anak-anak dan keluarganya tentang kejadian tersebut, bahwa pembesar Quraysy hendak membendung pergerakan Muhammad. Khalid dan saudara-saudaranya mendengarkan penjelasan ayah mereka tentang utusan pertama kepada Abu Thalib. Beberapa pekan kemudian, mereka mendengar dari ayahnya bahwa utusan kedua kepada Abu Thalib juga pulang tanpa hasil. Sang nabi melanjutkan dakwahnya.
Kemudian Al-Walid mengambil langkah berani. Ia memutuskan menawarkan anaknya sendiri, yaitu Ammarah, kepada Abu Thalib untuk ditukar dengan Muhammad. Ammarah adalah seorang pemuda tampan yang dengan keutamaan dalam dirinya. Utusan Quraysy mengunjungi Abu Thalib dengan membawa Ammarah. "Hai Abu Thalib," sapa utusan. "Ini adalah Ammarah, anak Al-Walid. Ia adalah pemuda terbaik di antara Quraysys, dan yang paling tampan dan paling baik keturunannya. Ambillah ia sebagai anak laki-lakimu. Ia akan menolongmu dan menjadi anakmu yang sesungguhnya. Sebagai gantinya, berikanlah anak saudara laki-lakimu, yang telah berkhianat pada agamamu dan agama bapak-bapakmu, memunculkan perselisihan dalam suku kita. Kami akan membunuhnya. Tidakkah ini adil, seorang laki diganti dengan seorang laki-laki?
Abu Thalib tersentak dengan tawaran itu. "Saya pikir ini sama sekali tidak adil," jawabnya. "Kalian berikan anak kalian untuk keberi makan dan kubesarkan, sedangkan kalian menginginkan anakku untuk dibunuh. Demi Allah, ini tidak akan kuizinkan."[4] Misi ini gagal. Kita tidak mengetahui bagaimana Ammarah bereaksi terhadap kegagalan ini, apakah kecewa atau lega!
Catatan Kaki Halaman 3
[1] Waqidi: Maghazi, hlm.20; Ibnu Rustah hlm. 223.
[2] Ath-Thabari: Vol. 1, hlm. 265; Ibnu Sa'd: hlm. 186.
[3] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 265; Ibnu Sa'd: hlm. 186.
[4] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 267; Ibnu Sa'd: hlm. 186.
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
(Halaman 1)
"Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi.”
[Al-Qur'an 48:28]
[Al-Qur'an 48:28]
Seorang Arab berjalan di jalanan Makkah di malam hari, dengan pikiran yang berkecamuk. Ia adalah seorang anggota klan bangsawan Bani Hasyim yang tidak lagi kaya. Seorang laki-lai yang tampan dengan tinggi sedang, dada dan bahu yang kokoh, rambutnya ikal memanjang di bawah telinganya. Matanya yang lebar, gelap, dihiasi bulu mata yang panjang, terlihat penuh dengan pikiran dan kesedihan.
Banyak sekali gaya hidup orang Arab yang melukai hatinya. Di mana-mana ia melihat tanda-tanda kerusakan – ketidakadilan pada kaum miskin dan lemah, pertumpahan darah yang sebenarnya tidak perlu terjadi, perlakuan tehadap perempuan yang tidak lebih baik daripada hewan ternak. Ia akan lebih sedih lagi setiap mendengar berita adanya penguburan bayi perempuan hidup-hidup.
Sejumlah klan Arab tertentu memiliki ritual adat yang kejam, yaitu membunuh anak-anak perempuan. Sang ayah akan membiarkan si anak tumbuh normal sampai usia 5 atau 6 tahun. Kemudian sang ayah akan mengajaknya berjalan-jalan dan memakaikan baju bagus padanya seperti hendak ke pesta. Sang ayah membawanya ke luar kampung atau kota di mana lubang kubur telah disiapkan untuk anak perempuannya. Kemudian si anak disuruh untuk berdiri di tepi lubang, sementara dalam pikirannya dia sudah tidak sabar kapan hal yang menyenangkan akan dimulai. Sang ayah kemudian mendorong anaknya masuk ke lubang kubur, dan saat si anak menangis meminta ayahnya untuk menolongnya keluar, sang ayah akan melempar batu besar kepada anaknya, menghilangkan nyawa dari tubuh lemah anaknya. Ketika si anak tidak lagi bergerak, sang ayah menutup lubang kubur dan pulang ke rumah. Kadang-kadang, ia berbangga dengan perbuatannya ini.
Tradisi ini tentu saja tidak menyebar luas di Arab. Di antara klan-klan terkenal di Makkah – Bani Hasyim, Bani Umayyah, dan Bani Makhzum –, peristiwa pembunuhan anak perempuan tidak tercatat sedikit pun. Tradisi ini hanya berlaku pada beberapa suku padang pasir dan sejumlah klan. Tetapi kejamnya perbuatan sudah cukup untuk membuat muak orang-orang Arab lainnya yang lebih cerdas dan berakhlak mulia di masa tersebut.
Selain itu, berhala-berhala menjamur di Makkah. Ka'bah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim sebagai Rumah Allah, saat itu dikotori dengan tuhan-tuhan dari kayu dan batu. Orang-orang Arab mengambil hati tuhan-tuhan ini dengan sesajian-sesajian kurban karena mereka percaya bahwa tuhan-tuhan ini akan menghukum mereka saat marah dan memberi rezeki saat senang. Di dalam dan sekitar ka'bah, terdapat 360 berhala. Berhala yang paling utama adalah Hubal, Uzza, dan Latta. Hubal, yang tertinggi di antara kelompok tuhan-tuhan Arab, diberikan porsi terbesar dan dipahat dari batu akik merah. Ketika penduduk Makkah mengimpor patung ini dari Syams, patung ini tidak memiliki tangan kanan sehingga mereka menambahkan sebuah tangan baru dari emas.
Dalam agama orang Arab di masa tersebut, ada percampuran antara politeisme dan kepercayaan pada Allah – Tuhan Sesungguhnya. Mereka percaya bahwa Allah adalah Tuhan dan Pencipta, tetapi mereka juga percaya pada berhala dan menganggap berhala-berhala sebagai anak laki-laki dan perempuan Allah. Posisi ketuhanan dalam pikiran orang Arab saat itu adalah seperti sebuah dewan, Allah sebagai pemimpin dewan dan berhala-berhala sebagai anggota yang masing-masing mempunyai kekuatan supernatural meskipun patuh kepada presiden. Orang-orang Arab itu bersumpah dengan nama Hubal atau berhala-berhala lainnya. Mereka juga terkadang bersumpah dengan nama Allah. Mereka terkadang memberi nama anak laki-laki mereka Abdul Uzza, yang berarti Hamba Uzza. Namun, terkadang mereka juga memberi nama anak laki-laki mereka Abdullah, yang berarti Hamba Allah.
Tidak tepat jika kita mengira segala sesuatu dalam budaya Arab saat itu adalah salah. Masih ada kebiasaan mereka yang mulia dan ksatria. Ada kualita-kualitas tertantu dalam karakter umum orang Arab yang bahkan sulit disaingi oleh orang-orang masa kini – keberanian, keramahtamahan pada tamu, dan harga diri pribadi dan kesukuan. Ada juga elemen-elemen dendam berdarah yang diwariskan dari ayah ke anak laki-laki, tetapi ini bisa dimengerti, bahkan mungkin diperlukan, pada suatu tatanan masyarakat yang tidak memiliki kepemimpinan sentral untuk menegakkan hukum dan keteraturan. Balas dendam berdarah antara pribdai maupun antar suku adalah satu-satunya jalan untuk menjaga kedamaian dan mencegah ketidakadaan hukum.
Apa yang salah dalam budaya Arab terletak pada bidang etika dan agama, dan di kedua bidang inilah, Bangsa Arab mencapai titik terendahnya. Masa ini dikenal dalam sejarah sebagai Masa Kebohohan atau Jahiliyah. Di Masa Kebodohan ini, perilaku Bangsa Arab adalah perilaku bodoh; kepercayaan mereka adalah kepercayaan yang bodoh. Masa Kebodohan bukan hanya sebuah era, tetapi telah menjadi jalan hidup.
Orang Arab yang disebutkan di awal bab ini, menyepi ke sebuah gua yang tidak jauh dari Makkah, setidaknya satu bulan di setiap tahun. Di dalam gua ini, ia memanfaatkan waktunya untuk berpikir dan menunggu – namun tidak tahu apa yang ia tunggu. Sampai pada suatu hari, ketika ia bertafakur di dalam gua tersebut; ia mendadak merasakan kehadiran seseorang. Ia tidak melihat seorangpun dan tidak mendengar suara, tetapi ia bisa merasakan ada seseorang bersamanya. Kemudian terdengar suara yang berkata, "Bacalah!"
__________________________________________________________________________
(Halaman 2)
Terkejut dengan fenomena suara tanpa tubuh ini, orang Arab itu kemudian bertanya, "Apa yang harus saya baca?" Suara itu kembali terdengar lebih keras, "Bacalah!" Lagi, orang Arab itu bertanya, "Apa yang harus saya baca?" Suara tadi terdengar lebih keras dan tegas memerintah, "Bacalah!" Kemudian suara tersebut melanjutkan perkataannya dengan lebih lembut:
Bacalah: dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah: dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar dengan pena;
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. [Al-Qur'an 95: 1-5]
Kejadian ini berlangsung pada hari Senin bulan Agustus 610 M. Dunia tidak pernah sama lagi setelah kejadian ini, Muhammad telah menerima wahyu pertamanya. Sebuah agama terlahir.
Ketika Muhammad (saw) menerima wahyu ini, Khalid berusia 24 tahun.
Selama tiga tahun, Muhammad beraksi dengan sembunyi-sembunyi, menerima bimbingan melalui Malaikat Jibril. Kemudian ia diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah secara terbuka dan ia memulai dari keluarga dan klannya. Namun kebanyakan dari mereka mencela ajarannya dan mengolok-olok agama baru ini.
Suatu hari, Sang Nabi memutuskan untuk mengundang semua keluarga dekatnya dan memberi jamuan makan di rumahnya. Ini adalah kesempatannya untuk mengumpulkan mereka bersama dan menempatkan mereka dalam situasi untuk bisa mendengarkannya. Makanan disajikan dan tamu menyantap jamuan. Sang Nabi menyeru para tamu dan berkata, "Wahai Bani Abdul Muththalib! Demi Allah, saya tidak melihat seorangpun di kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah-tengah kalian yang lebih baik daripada apa yang saya bawa. Kubawakan kepadamu dunia dan akhirat yang terbaik. Allah telah memerintahkan saya untuk mengajak kalian semua. Siapakah diantara kalian yang mau mendukung saya dalam hal ini?
Tidak ada respon dari hadirin. Tidak satupun menjawab, mereka saling melihat mengira akan ada yang akan membantu orang ini. Dan kemudian, seorang remaja laki-laki bertubuh kecil dan kurus, berdiri dan bersuara dengan suaranya yang belum pecah, “Aku, hai Rasulullah, yang akan menjadi penolongmu!”
Sontak para hadirin tertawa terhadap apa yang mereka anggap konyol sambil mulai berdiri dan meninggalkan jamuan. Namun sang remaja tidak peduli dengan tertawaan dan Sang Nabi memeluknya dengan penuh cinta. Sang Nabi menyampaikan, “Inilah saudara dan wakilku.”[1] Sang remaja merupakan sepupu nabi, yaitu Ali, anak Abu Thalib. Ia adalah laki-laki pertama yang masuk Islam.[2]
Secara bertahap, kebenaran mulai menyebar; dan sejumlah kecil pribadi, kebanyakan adalah pemuda dan orang-orang lemah, menerima agama baru ini. Jumlah mereka kecil, teatpi keberanian mereka tinggi. Lingkup aktivitas nabi semakin luas. Meskipun harus menghadapi gangguan dan ejekan dari Quraysy, ia melanjutkan kegiatannya mengajak orang-orang di pojok-pojok jalanan dan di pasar-pasar, memperingatkan mereka akan api neraka yang menunggu para pendosa. Ia menunjukkan ketidakbergunaan berhala-berhala kayu dan batu mereka, mengajak mereka menyembah Allah, Tuhan sesungguhnya. Semakin aktif ia melakukan kerjanya, penentangan dari Quraysy semakin keras dan kejam. Penentangan ini terutama datang dari empat orang: Abu Sufyan (bernama asli Shakhr bin Harb, pemimpin klan Bani Umayyah), Al-Walid (ayah dari Khalid), Abu Lahab (paman Sang Nabi) dan Abul Hakam. Nama yang disebut pertama dan terakhir akan sering kita dengar dalam kisah ini.
Abu Sufyan dan Al-Walid adalah dua laki-laki bermartabat dan terhormat. Ketika mereka menunjukkan penentangan mereka terhadap nabi, mereka tidak merendahkan diri mereka dengan melakukan kekerasan fisik. Respon pertama Al-Walid (terhadap ajakan nabi) adalah sebuah kalimat penuh keangkuhan, “Apakah benar kenabian dianugrahkan kepada Muhammad, sedangkan aku, yang paling mulia dan dituakan di Suku Quraysy, tidak mendapat apa-apa? Dan masih ada Abu Mas’ud, kepala Bani Tsaqif. Sungguh dia dan aku adalah yang paling mulia di antara (penduduk) dua kota.”[3] Orang tua berkedudukan ini hidup dalam sebuah dunia di mana semuanya ditentukan oleh kebangsawanan dari keturunan dan pangkat. Tentu saja ia tidak adil dalam hal ini karena garis keturunan mereka bertemu di generasi keenam sebelum mereka dan keluarga Muhammad tidak jauh tingkatannya disbanding keluarga Al-Walid. Faktanya, tidak lama sebelum masa Nabi, keluarganya memperoleh kedudukan lebih tinggi disbanding keluarga lainnya di Makkah. Kakek nabi, Abdul Muththalib, menjadi kepala suku Quraysy di Makkah.
Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 63; Ibnu Sa’d: Vol. 1, hlm. 171.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 245; Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 56. Mas’udi: Muruj; Vol. 2, hlm. 283.
[3] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 361. Al-Qur’an 95:1-5
__________________________________________________________________________
(Halaman 3)
Menurut Ibnu Hisyam, pernyataan Al-Walid ini memicu turunnya ayat Al-Qur'an: Dan mereka berkata, "Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua kota ini?" [Al-Qur'an 43:31] Dua kota itu adalah Makkah dan Tha'if. Sebuah ayat Al-Qur'an lainnya juga menyebut Al-Walid, yang pada bab sebelumnya dijelaskan bahwa ia juga dipanggil sebagai Al-Wahid (Satu-satunya), yaitu ayat: Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang telah Aku ciptakan sendiri, dan Aku berikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersamanya, dan Ku-lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya. Kemudian dia ingin sekali agar Aku menambahnya. Sekali-kali tidak akan, karena sungguh dia menentang ayat-ayat Kami. Aku akan membebaninya pendakian yang memayahkan.... kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri, lalu berkata, "(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari dari orang-orang dahulu, ini tidak lain hanyalah perkataan manusia". Aku akan memasukkannya ke dalam neraka. [Al-Qur'an: 11-17 dan 21-26]
Di antara pembesar Quraisy yang paling kejam dan penuh benci adalah Abul Hakam, sepupu dan teman Khalid. Karena kejamnya penentangan Abul Hakam pada Islam, ia digelari sebagai Abu Jahl, Bapak Kebodohan, dan dari namanya inilah keturunannya mengenalnya. Seorang yang pendek, namun tangguh dan kuat dengan mata juling, ia digambarkan orang semasanya sebagai "seorang dengan wajah seperti besi, penampilan seperti besi, dan lisan seperti bsei."[1] Dan Abu Jahl tidak pernah melupakan di masa remajanya, Muhammad pernah membantingnya dengan keras dalam sebuah pertarungan gulat yang sengit, melukai lututnya dengan bekas luka yang tidak hilang sampai meninggalnya.[2]
Para pembesar Quraysy ini dengan sejumlah orang lainnya terus gagal menemukan cara untuk menghentikan nabi, baik dengan ancaman atau bujukan. Mereka memutuskan untuk mendekati Abu Thalib yang dituakan dan disegani, paman dari sang nabi dan pemimpin Bani Hasyim. Mereka sebenarnya sangat ingin membunuh nabi, tetapi masih ada perasaan kesatuan suku dan keluarga yang melindungi nabi. Apabila ia dibunuh, jelas akan muncul rentetan kekerasan lainnya dari Bani Hasyim yang sudah pasti akan membalas membunuh si pembunuh atau keluarga si pembunuh.
Utusan Quraysy mengunjungi Abu Thalib dan berkata, "Hai Abu Thalib! Anda adalah pemimpin kami dan orang yang terbaik di antara kita. Anda telah melihat bagaimana anak saudara laki-lakimu perbuat pada agama kita. Ia mencela tuhan-tuhan kita. Ia mengejek agama kita dan agama bapak-bapak kita. Anda adalah bagian dari agama kita. Mohon hentikan Muhammad dari kegiatannya atau izinkan kami untuk melakukan apa saja yang kami inginkan terhadapnya."[3]
Abu Thalib menjawab dengan lembut bahwa ia akan mempelajari lebih jauh masalah ini dan mereka pun kembali ke tempat masing-masing. Meskipun Abu Thalib menginformasikan kepada nabi apa yang dikatakan utusan Quraysy kepadanya, Abu Thalib tidak melakukan apapun untuk menghentikan nabi menyebarkan agama barunya. Abu Thalib adalah penyair. Kapan saja ia menghadapi masalah seperti ini, ia akan menumpahkannya ke dalam sebuah syair yang panjang.
Di dalam keluarga Al-Walid, kegiatan sang nabi menjadi topik pembicaraan hangat. Di malam hari itu, Al-Walid duduk dan bercengkrama dengan anak-anak dan keluarganya tentang kejadian tersebut, bahwa pembesar Quraysy hendak membendung pergerakan Muhammad. Khalid dan saudara-saudaranya mendengarkan penjelasan ayah mereka tentang utusan pertama kepada Abu Thalib. Beberapa pekan kemudian, mereka mendengar dari ayahnya bahwa utusan kedua kepada Abu Thalib juga pulang tanpa hasil. Sang nabi melanjutkan dakwahnya.
Kemudian Al-Walid mengambil langkah berani. Ia memutuskan menawarkan anaknya sendiri, yaitu Ammarah, kepada Abu Thalib untuk ditukar dengan Muhammad. Ammarah adalah seorang pemuda tampan yang dengan keutamaan dalam dirinya. Utusan Quraysy mengunjungi Abu Thalib dengan membawa Ammarah. "Hai Abu Thalib," sapa utusan. "Ini adalah Ammarah, anak Al-Walid. Ia adalah pemuda terbaik di antara Quraysys, dan yang paling tampan dan paling baik keturunannya. Ambillah ia sebagai anak laki-lakimu. Ia akan menolongmu dan menjadi anakmu yang sesungguhnya. Sebagai gantinya, berikanlah anak saudara laki-lakimu, yang telah berkhianat pada agamamu dan agama bapak-bapakmu, memunculkan perselisihan dalam suku kita. Kami akan membunuhnya. Tidakkah ini adil, seorang laki diganti dengan seorang laki-laki?
Abu Thalib tersentak dengan tawaran itu. "Saya pikir ini sama sekali tidak adil," jawabnya. "Kalian berikan anak kalian untuk keberi makan dan kubesarkan, sedangkan kalian menginginkan anakku untuk dibunuh. Demi Allah, ini tidak akan kuizinkan."[4] Misi ini gagal. Kita tidak mengetahui bagaimana Ammarah bereaksi terhadap kegagalan ini, apakah kecewa atau lega!
Catatan Kaki Halaman 3
[1] Waqidi: Maghazi, hlm.20; Ibnu Rustah hlm. 223.
[2] Ath-Thabari: Vol. 1, hlm. 265; Ibnu Sa'd: hlm. 186.
[3] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 265; Ibnu Sa'd: hlm. 186.
[4] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 267; Ibnu Sa'd: hlm. 186.
Diubah oleh plonard 14-06-2016 07:20
0