"Uhuk-uhuk, huek, cuih..."
"Mangkanya Pa, jangan sok-sok an tidur di sofa, nih liat masuk angin kan jadinya.."
"lha bukanya Mama yang ngamuk2 gak jelas kemarin malam?"
"istri mana yang gak marah kalo tau suaminya masih mendam wanita di hatinya Pa?"
"Damai yuk ma

" buka baju, IYKWIM
Berkat tidur di sofa tadi malam saya jadi masuk angin, bathuk, pfilek dan fala fusing. mungkin terharu karena melihat suaminya yang tak berdaya dan teraniaya ini, dia menawarkan diri untuk memijat saya. Ini kejadian langka loh, srius
Dia mengajak saya jalan jalan, makan di luar. Kebetulan sedang ada pasar malam di Rengel (semacam sirkus keliling) lokasinya 7km kalau dari tempat saya tinggal. Selang waktu 30 menit akhirnya saya sampai di pasar malam itu,
tepatnya di Lapangan Bahagia Lampah, Rengel. Saya memarkirkan motor di sebrang jalan, parkir dalam mahal.
Di dalam area pasar malam tersebut, diantara banyaknya wahana dan kios2 berjajar menjajakan aneka makanan dan baju baju yanh wah, semua itu tidak menarik perhatian istri saya, ya dia cuma tertarik dengan kios yang berjualan peralatan dapur.
"Yang ini bagus ya Pa?" Sambil menunjukan sebuah saringan santan kepada saya
"bagus kok ma, tapi yang di rumah kan masih bisa di pakek" saya agak protes
"Yah... tapi Mama suka yang ini Pa, ini liat ada gambarnya. Lucu ih!" dia gemes pada sebuah saringan
Ditangan saya sudah ada setengah lusin gelas, tiga biji piring seng, dan satu panci ukuran kecil dan ya, ada gambar gajahnya lagi duduk. Setelah capek keliling gak jelas, dengan bawaan gak jelas pula. Dia mengajak saya pulang, syukurlah.
Di palang pintu keluar, di depan kios es campur. Saya kaget ketika seseorang menutup mata saya dari belakang, saya yakin bukan istri saya. Tapi saya sangat mengenal bentuk tangan ini juga bau parfum ini. Amelia?
Wanita yang aku kenal sekitar dua tahun lalu, mantan. Sebenarnya saya tidak berharap bertemu dia di sini atau di manapun. Saya dan dia sudah selesai, hubungan kami cuma bertahan tiga bulan. Dan saya rasa saat kemudian (mungkin) bertemu lagi bukan reaksi ini yang saya terima. Saya berharap dapat tamparan keras dari dia; saat putus sama dia saya bilang kalau saya menghamili bos saya, lewat sms pula.
Dan sekarang, setelah hampir dua tahun berlalu. Dia datang menghampiriku, menutup mataku dari belakang, seperti ungkapan kangen?
"Hayo tebak ini siapa?"
"Amalia, putri kedua Bpk Herman penjual es cendol sebelah barat Pasar Rengel"
"Ih pura pura nebak kek!" Dia masih belum melepaskan tanganya dari kepala saya "kok kamu bisa tau secepat itu Kak?"
"Emang siapa lagi yang tanganya bau Nive* biru campur cendol Mel?"
"Separah itu kah?" Akhirnya dia melepaskan tanganya, mencium tanganya
Saat itu juga saya sadar, istri saya sudah berkacak pinggang, bibirnya manyun maksimal, kemudian tangan kirinya di angkat sampai ke leher-ditarik horisontal dari kanan ke kiri. Saya shock, menelan ludah. "Mampus!!"
"Eh Mel, kenalkan itu istri saya, Riska" menunjuk ke arah istri saya berdiri.
"Istri?" Dia kaget, menjauh satu langkah dari posisi awalnya, kemudian menampar wajah saya. "Kakak merit? Kok Amel gak di undang? Amel bukan siapa2 kakak? Apa Amel gak berhak kakaknya bahagia di pelaminan? Kak Iwan jahat!!" Amel menangis dan kemudian berlari entah kemana.
*****
"Brakk!!!" Istri saya membanting pintu kamar
"......"
saya cuman bengong di depan pintu, jujur saya tidak dapat menjelaskan apa yang barusan terjadi. Kenyataanya memang Amel adalah mantan saya. Dan saya juga tidak berpikiran bakalan bertemu dia.
"Buka pintunya Ma, Papa emang gak bisa jelasin apa yang terjadi. Tapi please jangan suruh Papa tidur di luar lagi"
"Hiks...hiks.... kemaren Eva, Sekarang Amel, besok siapa lagi?"
"Vany mungkin Ma" lah...... sumpah saya keceplosan waktu itu
Dia membuka pintu, sambil menggendong tikar di tanganya. "Papa tidur di kamar" kemudia menyerahkan tikarnya pada saya
"Lah kok"
"Papa tidur di kamar" dia mengulanginya lagi, kemudian dia kembali ke ranjang
"Lah ini tiker buat-"
"Tapi di lantai!"
Alamak