- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#311
Partitur no. 60
Quote:
Quote:
Mungkin semua orang ingin menjadi sepasang kekasih yang normal. Tapi, disisi lain, ada yang bilang bahwa menjadi normal itu membosankan. Begitu pula dengan kehidupanku sehari-hari. Menjalani sebuah hubungan yang berbeda dari yang lain mungkin terkesan sulit untuk dijalani (walaupun memang begitu adanya), namun sangat indah bila kita ceritakan.
Banyak kisah cinta yang tidak normal, atau setidaknya sulit untuk diceritakan, salah satunya seperti yang pernah Jane Hawking—mantan istri ahli kosmologi terkenal, Stephen Hawking—dalam buku yang pernah ia tulis seperti ‘Travelling To Invinity: My Life With Stephen Hawking’.Ketika selesai membaca bukunya—yang kemudian di adaptasi menjadi sebuah film favoritku, Theory Of Everything—membuatku sangat tercengang, dan perasaanku tercampur aduk. Tentu saja menjadi istri seorang pakar sains yang terkemuka, dan memiliki penyakit yang cukup langka itu sangat tidak mudah. Ia juga harus mengurus ketiga anaknya, juga suaminya, yang tentu saja menyebabkan kelelahan batin dan psikis. Setidaknya, walaupun sudah bercerai, mereka tetap menjadi sahabat dekat—hal yang membuatku sangat terharu, sekaligus salut, walaupun sempat tegang karena pernikahan Stephen dengan istri keduanya.
Seperti yang dikatakan Jane Hawking pada buku itu, berdasarkan pada pengalaman hidupnya, ia berkata bahwa kehidupan normal itu tidak ada.
Menjadi sepasang kekasih—yang di mana pasangan perempuan lebih tua dari lelaki—itu memang tidak mudah. Gunjingan demi gunjingan sering kualami dari berbagai kalangan, bahkan kalangan keluarga besarku. Dalam acara kumpul keluarga pada lebaran kemarin, keluarga besar Bundaku ikut berkomentar, dan menanyakan hal-hal seperti: “Man, itu serius pacarnya beda enam tahun? Emang nggak ada yang lebih mudaan lagi apa?” ujar mereka dengan tertawa meledek, seakan sepasang kekasih di mana laki-laki lebih muda itu adalah hal yang sangat aneh. Memang, tak banyak yang kudengar mengenai hubungan di mana laki-laki lebih muda dari perempuan, tapi tetap saja, mereka tak punya hak untuk mengganggu hubungan orang. Kalau ada kerabatku yang mengalami hal ini sementara aku tidak, aku juga tidak akan berkomentar apa-apa, selain aku salut terhadap mereka.
Jika para teman-teman yang sering menggunjing “Najis, Iman demennya sama tante-tante!” masih membuatku tetap bisa bersabar, namun ucapan yang halus tapi menyakitkan dari keluarga yang masih memiliki hubungan sedarah itu lebih menyakitkan. Seperti Tasya, aku selalu membanggakan hubungan itu, dan tak pernah mengeluh soal hubungan ini ke orang lain, toh, kami bahagia-bahagia saja.
***
Mulai ketika aku menaiki angkutan umum dari dekat rumahku, langit sudah tak kuasa membendung kesedihannya, sehingga hujan turun dengan sangat deras. Langit Jakarta kala itu terlihat sangat muram.
Ditengah kemuraman itu, aku tersadar bahwa angkutan umum yang kunaiki sudah mencapai tujuan akhirnya, tujuan yang memang sedang kutuju. Hari itu—di mana Tasya yang sedang menggunakan libur satu hari dalam seminggu—mengajakku menyegarkan pikirannya dari rutinitas sehari-hari. Ia mengajakku menonton salah satu film tentang sisi lain dari mantan Presiden Indonesia, B.J Habibie dengan almarhumah istrinya, Ainun. Aku turun dengan hati-hati, walaupun hujan telah menghajar tubuhku dengan airnya yang sangat lebat. Aku berlari menuju halte bus seperti anak kecil yang sedang kegirangan bermain tanpa perasaan dosa di bawah derasnya air hujan hari itu.
Walaupun di dekat sini banyak kendaraan dan cenderung macet karena lampu merahnya yang sangat cepat, aku menyukai di mana pun hujan itu turun.
Dengan penasarannya, orang-orang di Halte itu melihatku yang sekujur tubuhnya basah kuyup dengan bertanya-tanya. Tapi, aku tak memedulikannya. Ah, andaikan aku tak menggunakan kacamata, aku bisa lebih menyatu dengan alam ketika hujan-hujanan tadi. Aku bisa melihat keadaan sekitar lebih baik karena tak perlu membersihkan kembali kacamata.
Tanpa membawa jaket, aku menggulungkan tanganku sendiri yang kedinginan di dalam bus TransJakarta itu, meskipun suasana ramai di dalam bus itu membuat bus itu terasa tak begitu dingin, dan aku berdiri tepat di bawah AC. Turun dari bus itu dan menaiki angkutan umum ke Kelapa Gading juga membuatku kembali basah kuyup—terkesan seperti anak hilang yang kehilangan arah, menanti pertolongan.
Langit bertambah gelap ketika aku sudah sampai ke Kelapa Gading, dan bersiap untuk menyebrang menuju tempat yang di mana aku berjanji bertemu dengan Tasya. Tentu saja, selain kami yang mulai jarang bertemu ini membuatku kangen terhadapnya, jantungku juga tetap berdegup kencang seperti awal bertemu dengannya. Lagipula, aku juga penasaran dengan film yang ingin kami tonton kala itu.
Aku berjalan menuju tangga bawah dan terkejut mendapati bahwa Tasya sudah menungguku di sana dengan senang. Wajahnya yang gembira itu secara tiba-tiba berubah menjadi wajah yang sedih. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil membenarkan rambutku yang sudah acak-acakan.
“Ujan deres, sayang. Karena takut terlambat, aku buru-buru kesini, nggak peduli ujan atau nggak..” jawabku dengan santai. Tasya mengambil kacamataku, membersihkan kaca yang sudah penuh air hujan itu dengan lap pembersih kacamata miliknya.
“Nggak apa-apa aku nunggu lama, Ucing, daripada kamu basah kuyup begini..” setelah ia membersihkan kacamataku, ia juga meminjamkan handuk kecilnya untuk mengeringkan tubuhku yang basah ini. “Ini, kamu bersihin di kamar mandi, ya..”
Aku yang seperti anak kecil tertangkap Ibunya sehabis hujan-hujanan ini pun segera menuju ke kamar mandi, masuk ke dalam toilet yang tertutup itu, dan mulai mengeringkan sedikit demi sedikit. Memang aku tak membawa baju ganti, tapi aku lupa bahwa aku menggunakan dua celana pada waktu itu—celana pendek dan celana jeans, karena aku terburu-buru tadi. Untungnya celana pendek itu tak begitu basah, setidaknya aku bisa menggunakannya.
Setelah sekiranya sudah kering, aku pun keluar dari kamar mandi, mencuci muka, menemui Tasya yang sedang berdiri tak jauh dari kamar mandi itu. “Baju kamu masih basah.. Mau aku beliin?” tanyanya dengan muka sedih.
“Eh, anu.. Nggak usah sayang. Masa segitunya hehe” kutolak ajakannya dengan halus.
“Kalo gitu, kamu nanti pake jaket aku aja, gimana?” ia pun mengeluarkan jaket dari tas favoritnya itu.
“Jaket kamu emang muat di aku?” tanyaku.
“Eiya, ya.. Kamu sih gendut!” ledeknya kepadaku.
“Masih sempet aja ngeledek!”
“Hehe,” katanya dengan malu. “Terus gimana? Mau tetep lanjut nonton, nih?”
“Yuk!”
“Tapi kamunya nggak apa-apa?” ia sepertinya masih menghawatirkanku takut masuk angin.
“Nggak apa-apa,” jawabku sambil menarik tangannya. “Yuk, nanti keburu main filmnya. Kan kamu sendiri yang bilang kalo kamu nggak suka kalo nonton filmnya telat..” Ia pun pasrah tangannya kutarik, malah ia menampakkan senyum manisnya yang membuatku lemah itu.
Kami segera mengantre tiket yang ternyata sangat ramai itu, meskipun kami menonton di hari biasa yang notabene biasanya sepi. Rata-rata yang menonton pun yang sudah berkeluarga. Aku pun berniat membayar sendiri-sendiri seperti yang biasa kami lakukan, namun ketika aku akan mengeluarkan uangku untuk membayar tiket itu, ia buru-buru membayar tiket untuk dua orang dengan uangnya sendiri. Ia menoleh kepadaku dengan tersenyum, “Nanti uang kamu abis, lebih baik kamu tabung. Sebagai ganti baju kamu yang basah banget itu juga..”
“Makasih banyak ya, Ucing..” sebenarnya aku merasa tak enak, tapi bagaimana pun aku tak bisa menolaknya. Jika aku menolaknya, ia akan marah kepadaku.
Tasya memang tak suka terlambat, terutama ketika akan menonton pertunjukan, seperi menonton bioskop. Ia pernah bad mood kepadaku ketika kami telat masuk ke bioskop karena aku terlalu banyak bicara di jalan, sehingga memperlambat perjalanan, yang sebenarnya baru tertinggal semenit ataupun dua menit. Aku mengerti perasaan itu, yang sebenarnya memang menggangu dalam menikmati sebuah karya seni. Ia juga sebal jika ada orang yang banyak berbicara di dalam bioskop ketika pertunjukan film sedang berlangsung.
Kami pun mendapat tempat yang cukup strategis. Saat film akan dimulai, ia memelukku dengan erat. “Biar kamu nggak kedinginan,” ujarnya dengan senang.
Karena aku sedang kecanduan sebuah media sosial baru khusus platform tertentu, Path, aku iseng mencoba mengupdate momen kala itu disaat film baru dimulai. Tasya langsung melihatku dengan kesal, “Kamu sebenernya mau nonton nggak, sih?” mukanya seperti sedih.
“Mau kok, Ucing. Tadi aku ngeupdate bentar,” lantas aku langsung memasukkan handphoneku ke dalam saku celana pendek itu karena merasa tak enak.
Tak mungkin jika kau tak menginginkan menonton film itu, bohong jika aku tak niat menonton, karena itu adalah salah satu yang kutunggu-tunggu. Alur ceritanya benar-benar membuatku yang mudah terbawa ini merasa larut dalam ceritanya yang menarik. Aku pun tak kuasa menahan tangis ketika melihat akhir dari film itu, ketika almarhumah Ibu Ainun meninggal, dan sang suami membacakan pesan-pesan terakhir. Kukira Tasya yang akan menangis, ternyata aku yang menangis terisak-isak. Benar-benar tak kuasa.
Tasya memperhatikanku yang sedang menangis itu, dan menenangkanku seakan aku benar-benar adalah anaknya, anak yang hilang tepatnya. “Cup, cup.. Jangan nangis, Ucing..” katanya sambil mengelus-elus pundakku.
“Nggak nangis, kok,” kataku menjaga harga diri. “Tadi aku kelilipan doang..”
“Kelilipan apaan? Itu kok nyampe terisak-isak?”
“Itu tadi kelilipan baskom. Aduh sakit banget nih,”
Tasya pun tertawa terbahak-bahak. “Ternyata kamu ini tipe-tipe muka metal tapi hati Hello Kitty, yah!” Sial. Aku tak tahu harus bagaimana diledeki begitu.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 22:22
0
