Vusing Vala Barbie
Quote:
"PAPA BANGUUUUN!!!"
"Apa an sih ma? Jam berapa ini? Duh belum juga subuh!" Liat jam di hape, lanjut tidur
"Papa mimpi apa hayo ngaku!!" Sambil gebukin kepala saya dengan bantal.
"Banguun Pa!! Papa jahat, masak tega mimpiin wanita lain saat ada Mama tidur di sebelah Papa!"
Jam 4 pagi, beberapa hari setelah membeli kaca mata-yang tidak pernah saya pakai. Saya di bangun kan secara paksa, istri saya menangis bombay di sebelah saya, karena mimpi? Mimpi apa saya? Entahlah.
"Mangnya papa nybut apa sih ma? Kok mama sampek nangis kayak gini?" Mengelus kepala istri saya yang masih menangis bombay dalam pelukan, tapi sudah mendingan.
"Gak tau Pa, yang jelas Papa nyebut 'Va Va' gitu.... " menyeka air mata, trus narik ingus.
"Pasti Papa mimpiin si Vany kan? Mantan papa yang di Gresik itu??!"
"Apa sih Ma? Kok sampai Vany segala?"
"Lah memang siapa lagi yang inisialnya Va- selain Vani si anak gak berpendidikan itu!"
"SMP ma, Vany lulusan SMP"
"BELAIN AJAH TERUS!!"
"Mama jangab ngomong gitu ah, Smp juga pendidikan yang 'cukup' tinggi, bukanya Papa mau membela si Vany, tapi bagi sebagian orang pendidikan setingkat SMP itu sudah sangat, sangat tinggi"
"Ijinkan Papa bercerita tentang seseorang yang sangat istimewà, sangat cantik, kaya raya, baik hati, seorang kartini sejati. Dia lah wanita yang mempunyai inisial Va, yang barusan papa mimpikan, Mama mau mendengarnya?"
******
Di kawasan tertinggi kabupaten Tuban, tinggalah keluarga kaya raya, Keluarga Iskandar. Asetnya meliputi hampir sebagian wilayah tersebut, dari puncak gunung sampai ke dataran paling rendah.
Sebut saya Mawar, anak kedua dari keluarga itu, gadis periang, cerdas, dan ya, dia cantik. Mawar tumbuh seperti gadis seumuranya, bermain bersama anak2 yang lain, tanpa membedakan status mereka.
Saat menginjak usia sekolah, mawar jelas jauh melampaui teman sebayanya. Dia paling aktif, cerdas, dan ya.. dia paling cantik di antara temanya.
Cantik, cerdas, kaya raya sedikit membuat Mawar lupa diri, dia menginginkan sesuatu yang lebih, dia memimpikan sesuatu yang tabu pada masa itu, paling tidak untuk seorang perempuan, mempunyai cita cita.
Siang dia belajar giat, sangat giat. Malamnya dia berdoa sangat kusyuk agar cita cita nya tercapai.
Empat tahun kmudian, di sekolah tempat mawar belajar. Jam sepuluh pagi. Adalah jony (kakak Mawar) menggedor pintu kelas mawar, sambil susah payah mengatur nafas, sesenggukan seperti baru saja menangis. Membawakan kabar yang membuat mawar (harusnya) menangis.
"Dek, ayuk pulang. Bapa sudah menunggu di rumah"
Lihatlah mereka berdua, kakak beradik saling menenangkan satu sama lain. Si adik yang harus tegar, harus ikhlas mengubur cita citanya. Dan si kakak, agar tidak menyalahkan dirinya sendiri atas ketidakmampuanya melindungi adiknya.
"Mas Rama, putranya Mbah Joyo, yang akan menjadi suamimu"
****
"Nah mama sudah ngerti? Jangan merendahkan seseorang hanya karena orang itu lulusan SMP."
"Biasa ajah gitu Pa ceritanya, apanya yang istimewa dari si Mawar?"
"Biasa? Si mawar baru kelas 4 SD saat menerima perjodohan itu, gadis 9 tahun!!"
"....."
"Dan mama tau apa cita cita nya? Apa maksud dari 'suatu hal yang tabu' yang Mawar cita citakan? Atau yang paling penting, apa hubunganya semua itu dengan Papa?"
"Dia ingin lulus SD, hanya sebatas itu. Tidak lebih dan siapa dia?" Saya mengambil dompet, memberikan KTP usang kepada istri saya.
"Dia adalah wanita yang melahirkan suamimu yang ganteng-gagah-perkasa-cetar-membahana-ini"
"Nah sekarang ayuk lanjut tidur lagi, Papa masih ngantuk"
"Maafin Mama Pa..." sambil nangis bombay (lagi)
"......"
Sepuluh menit kemudian....
"PAPA BANGUUUUN!!!!"
"Apa lagi ma!??"
"Nama Alm Ibu Papa kan Maria..... mana ada inisial Va-nya?"
"MAMPUS EIKEH!!"<~ dalam hati
"Hayo PAPA Ngaku!!!"
"Sudahlah Ma, Vava Vusing Vala berbie ne, sumVah Vava gak bohong!!"