- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
466.2K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#430
A Part 21
Sebegitu parahkah cedera Susi atau sebegitu lebaykah orang namanya Susi ini. Aku keluar dari ruang BK dipenuhi rasa bingung luar biasa, bingung karena harus bilang apa ke ayah dan ibu.
“Oh… jadi ini ya anak ya..”
“He.. lo yang kemarin dorong Susi ya?”
Tiba-tiba dua orang cewek menghampiriku ketika aku berjalan kembali menuju kelas, satu berambut pendek, satu lagi berambut panjang, eh tapi kok berkumis. Aku sejenak memandangi mereka, tinggi mereka lebih tinggi dariku, mungkin dia kakak kelas juga.
“Ada apa ya kak?” Tanyaku polos.
Mereka tidak menjawab pertanyaanku, mereka malah pergi begitu saja. Huh, ada-ada aja.
***
Sampai di rumah pun aku kepikiran terus tentang orang tua Susi yang mau ketemu ayah dan ibu. Aku harus bilang apa kepada mereka, aku malu sekali bilangnya. Tadinya aku mau coba bilang kak Fe, tapi aku ragu. Puncaknya ketika makan malam. Di meja makan aku tampak seperti orang kebingungan, aku hanya diam saja sambil terus memikirkan apa aku harus bilang gak yah ke ayah dan ibu. Kalau aku bilang takutnya mereka nanya ada apa, bisa kecewa mereka padaku, tapi kalau aku gak bilang, orang tua Susi bakal datang besok ke sekolah dan ingin bertemu, aku harus bilang apa ke guru BK. Pasti kalau aku gak bilang, aku bakal dicap anak pembohong .
“Ayah, ibu aku mau ngomong sesuatu.” Aku memotong obrolan ayah dan ibu. Aku pikir aku ngomong aja deh daripada di sekolah citraku jadi buruk.
“Iya, Ani mau ngomong apa?” Tanya ibu
“Itu.. aduh aku mulainya gimana ya..” Aku agak takut ngomongnya
“Emang ada apa Ani?” Ayah malah bertanya lagi. Aku makin takut.
“Ayah atau ibu besok bisa ke sekolah gak ? Disuruh ibu BK.” Akhirnya aku berbicara yang sebenarnya.
“Emang kenapa Ani?” Tanya Ibu lagi.
“Aku kemarin abis berantem sama kakak kelas. Kakak kelasnya aku dorong terus jatuh dan cedera. Orang tuanya pengen ketemu ayah atau ibu.” Ujar aku takut dan malu sekali mengakuinya.
“HAH?!!!” Terdengar suara kak Fe, tapi aku menghiraukannya.
“Orang tua siapa Ani?” Ibu tanya lagi.
“Kamu berantem ama siapa Ani?” Tanya ayahku.
“Susi…….!” Jawab kak Fe yang menaruh piringnya di meja makan lalu pergi begitu saja ke kamarnya.
“Siapa itu?” Tanya Ibu.
“Kakak kelas, seangakatan sama kak Fe.”
“Kamu berantem kenapa?” Tanya ibu lagi.
“Iya kok sampai berantem?” Ayah juga ikut bertanya.
“Gak tau yah, tiba-tiba datang kepadaku, lalu menamparku.”
“DITAMPAR?” nada ayah meninggi. “Siapa yang berani menampar Anakku ini.”
“Kamu gak kenapa-kenapa kan ?” Tanya Ibu.
“Aku gak apa-apa kok, aka baik-baik saja.”
“Yasudah, besok biar Ayah yang datang ke sekolah.” Ujar Ayah.
***
Keesokan harinya. Aku pulang agak telat soalnya aku harus menyalin beberapa catatan pelajaran dari temanku. Tapi pas aku pulang ayah sudah menungguku di kursi depan. Tumben ayah jam segini udah pulang.
“Kamu duduk disini!” Kata Ayah. Aku duduk lalu ayah berdiri dan memasang tampang serius.
“Kamu tahu siapa yang ayah temui tadi di sekolah?”
“Siapa yah ?” Tanyaku penasaran.
“Mantan atasan ayah dulu, Pak Martono.”
“Anak yang kamu dorong itu anak anaknya pak Martono !”
Aku jadi takut mendengar nada bicara ayah yang tinggi. Aku pun nunduk ketika mendengarkan ayah bicara.
“Kamu ini malu-maluin Ayah!” Bentak ayah. Tak kuasa aku jadi nangis.
“Kamu tau siapa yang ngasih kado boneka gajah pas ulang tahun kamu dulu, itu dari Pak Martono. Pak Martono sudah banyak membantu ayah selama ini.”
“Kenapa kamu ini malu-maluin ayah sih, Ayah jadi gak enak sama dia. Susi masuk sekolah karena tulang punggungnya ada yang kegeser, besok akan diperiksa lebih lanjut.”
“Ayah kecewa sama kamu!!” Teriak ayah.
“Tapi aku kan gak tau yah, lagian dia yang mulai duluan.” Kataku tersiak. Aku gak kuat dimarahi ayah sendiri seperti ini, aku bangkit lalu pergi begitu saja, aku berlari menuju kamarku.
“Hey, Ani!” Terdengar suara ayah memanggilku ketika aku sedang menaiki tangga.
Aku masuk ke kamar. Aku duduk diatas kasur bengong menatap ke jendela dengan air mata yang terus mengalir diwajahku. Aku tidak mengerti lagi, makin hari hidupku makin berantakan dan kacau. Aku sedih.
Tok.. Tok..Tok…Ketuk seseorang di luar.
“Ani?” Terdengar seseorang memanggilku dari luar. Dari suaranya aku kenal, itu suara kak Fe. Aku tidak mengunci kamarku tadi sehingga kak Fe bisa masuk ke dalam kamarku. Aku tahu dia sedang datang menghampiriku, dia naik ke kasur lalu dia duduk disampingku. Lalu dia membelai kepalaku. Aku pun langsung memeluknya.
“Oh… jadi ini ya anak ya..”
“He.. lo yang kemarin dorong Susi ya?”
Tiba-tiba dua orang cewek menghampiriku ketika aku berjalan kembali menuju kelas, satu berambut pendek, satu lagi berambut panjang, eh tapi kok berkumis. Aku sejenak memandangi mereka, tinggi mereka lebih tinggi dariku, mungkin dia kakak kelas juga.
“Ada apa ya kak?” Tanyaku polos.
Mereka tidak menjawab pertanyaanku, mereka malah pergi begitu saja. Huh, ada-ada aja.
***
Sampai di rumah pun aku kepikiran terus tentang orang tua Susi yang mau ketemu ayah dan ibu. Aku harus bilang apa kepada mereka, aku malu sekali bilangnya. Tadinya aku mau coba bilang kak Fe, tapi aku ragu. Puncaknya ketika makan malam. Di meja makan aku tampak seperti orang kebingungan, aku hanya diam saja sambil terus memikirkan apa aku harus bilang gak yah ke ayah dan ibu. Kalau aku bilang takutnya mereka nanya ada apa, bisa kecewa mereka padaku, tapi kalau aku gak bilang, orang tua Susi bakal datang besok ke sekolah dan ingin bertemu, aku harus bilang apa ke guru BK. Pasti kalau aku gak bilang, aku bakal dicap anak pembohong .
“Ayah, ibu aku mau ngomong sesuatu.” Aku memotong obrolan ayah dan ibu. Aku pikir aku ngomong aja deh daripada di sekolah citraku jadi buruk.
“Iya, Ani mau ngomong apa?” Tanya ibu
“Itu.. aduh aku mulainya gimana ya..” Aku agak takut ngomongnya
“Emang ada apa Ani?” Ayah malah bertanya lagi. Aku makin takut.
“Ayah atau ibu besok bisa ke sekolah gak ? Disuruh ibu BK.” Akhirnya aku berbicara yang sebenarnya.
“Emang kenapa Ani?” Tanya Ibu lagi.
“Aku kemarin abis berantem sama kakak kelas. Kakak kelasnya aku dorong terus jatuh dan cedera. Orang tuanya pengen ketemu ayah atau ibu.” Ujar aku takut dan malu sekali mengakuinya.
“HAH?!!!” Terdengar suara kak Fe, tapi aku menghiraukannya.
“Orang tua siapa Ani?” Ibu tanya lagi.
“Kamu berantem ama siapa Ani?” Tanya ayahku.
“Susi…….!” Jawab kak Fe yang menaruh piringnya di meja makan lalu pergi begitu saja ke kamarnya.
“Siapa itu?” Tanya Ibu.
“Kakak kelas, seangakatan sama kak Fe.”
“Kamu berantem kenapa?” Tanya ibu lagi.
“Iya kok sampai berantem?” Ayah juga ikut bertanya.
“Gak tau yah, tiba-tiba datang kepadaku, lalu menamparku.”
“DITAMPAR?” nada ayah meninggi. “Siapa yang berani menampar Anakku ini.”
“Kamu gak kenapa-kenapa kan ?” Tanya Ibu.
“Aku gak apa-apa kok, aka baik-baik saja.”
“Yasudah, besok biar Ayah yang datang ke sekolah.” Ujar Ayah.
***
Keesokan harinya. Aku pulang agak telat soalnya aku harus menyalin beberapa catatan pelajaran dari temanku. Tapi pas aku pulang ayah sudah menungguku di kursi depan. Tumben ayah jam segini udah pulang.
“Kamu duduk disini!” Kata Ayah. Aku duduk lalu ayah berdiri dan memasang tampang serius.
“Kamu tahu siapa yang ayah temui tadi di sekolah?”
“Siapa yah ?” Tanyaku penasaran.
“Mantan atasan ayah dulu, Pak Martono.”
“Anak yang kamu dorong itu anak anaknya pak Martono !”
Aku jadi takut mendengar nada bicara ayah yang tinggi. Aku pun nunduk ketika mendengarkan ayah bicara.
“Kamu ini malu-maluin Ayah!” Bentak ayah. Tak kuasa aku jadi nangis.
“Kamu tau siapa yang ngasih kado boneka gajah pas ulang tahun kamu dulu, itu dari Pak Martono. Pak Martono sudah banyak membantu ayah selama ini.”
“Kenapa kamu ini malu-maluin ayah sih, Ayah jadi gak enak sama dia. Susi masuk sekolah karena tulang punggungnya ada yang kegeser, besok akan diperiksa lebih lanjut.”
“Ayah kecewa sama kamu!!” Teriak ayah.
“Tapi aku kan gak tau yah, lagian dia yang mulai duluan.” Kataku tersiak. Aku gak kuat dimarahi ayah sendiri seperti ini, aku bangkit lalu pergi begitu saja, aku berlari menuju kamarku.
“Hey, Ani!” Terdengar suara ayah memanggilku ketika aku sedang menaiki tangga.
Aku masuk ke kamar. Aku duduk diatas kasur bengong menatap ke jendela dengan air mata yang terus mengalir diwajahku. Aku tidak mengerti lagi, makin hari hidupku makin berantakan dan kacau. Aku sedih.
Tok.. Tok..Tok…Ketuk seseorang di luar.
“Ani?” Terdengar seseorang memanggilku dari luar. Dari suaranya aku kenal, itu suara kak Fe. Aku tidak mengunci kamarku tadi sehingga kak Fe bisa masuk ke dalam kamarku. Aku tahu dia sedang datang menghampiriku, dia naik ke kasur lalu dia duduk disampingku. Lalu dia membelai kepalaku. Aku pun langsung memeluknya.
0
