- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#403
A Part 20
Keesokan harinya aku masuk sekolah seperti biasa. Ada yang aneh ketika aku berjalan mau masuk kelas, semua orang pada melihat kearahku. Aku agak risih diliatin sama orang, apalagi kalau lihat orang-orang itu tampak seperti membicarakanku. Aku sih nyoba untuk cuek aja gak ngeliatin balik mereka.
“Hey… Hebat kamu jadi trending topic sekolah.” Kata Rahmi.
“Trending topic apa?” Tanyaku polos.
“Kan kemarin itu kamu dorong kak Susi ampe jatuh, berani banget kamu ngelawan kakak kelas.”
“Abis dia nampar aku duluan sih.”
“Semua orang di sekolah sekarang tahu loh..”
“Yah biarinlah.”
“Semua orang tahu kalau kamu deket sama kak Bram dan semua orang tahu kalau kamu itu selingkuhannya kak Bram.”
DEG! Ketika aku mendengar perkataan Rahmi tersebut. Perasaanku jadi gak tenang, aku inget sebelumnya kak Fe nyuruh aku untuk terus berhubungan dengan kak Bram. Aku takut dicap sebagai cewek perebut pacar orang. Kak Bram kan pacarnya kak Susi. Lagian aku belum menghubungi lagi kak Bram. Kemarin kak Bram aku cuekin di UKS.
“Selingkuhan?” Tanyaku heran.
“Iya.”
“Aduh bohong itu mah, aku gak pernah jadian ama kak Bram.”
“Ah yang bener?” Goda Rahmi.
“Iya iih. Fitnah.”
“Terus kak Fe tau ini semua?”
“Tau. Malah dia nyuruh aku deketin kak Bram. Kan aku bingung.”
“Lah kok kak Fe aneh, bukannya kak Fe mantannya kak Bram.”
“Aku juga gak ngerti, kenapa kak Fe nyuruh aku begitu.”
“Terus kamu mau?”
“Gak tau mi ah, lieur.”
Obrolanku dengan Rahmi berhenti ketika guru sudah masuk kelas untuk memulai pelajaran. Aku malas memperhatikan pelajaran hari ini karena kejadian kemarin, semua itu kepikiran terus. Aku takut kalau ada apa-apa lagi, khawatir kena labrak lagi Susi. Pasti Susi gak terima dengan perbuatanku kemarin. Aku males ketemu kak Bram lagi, gara-gara rasa penasaranku ke kak Bram, kejadian kemarin bisa terjadi. Aku bingung menghadapi kak Fe, kalau gak diturutin kemauannya, dia pasti bakal marah. Au ah.
“Assalamualaikum, selamat pagi.” Seorang guru mengetuk pintu kelas dan lalu masuk dan menyapa ke kelas kami. Aku gak tau siapa guru itu, belum pernah lihat.
“Apa benar ini kelasnya Anita Maharani?” Tanya dia ke seisi kelas.
“Saya Bu. Saya Anita Maharani.” Aku berdiri dan memberitahu dia.
“Kamu ikut saya ke ruangan BK ya.”
“Hah? Ada perlu apa Bu.” Tanyaku kaget.
“Ikut aja dulu. Bu Emi, pinjem Anitanya sebentar ya.” Kata Guru asing itu.
Aku pun terpaksa harus ikut dengan guru asing ini. Emang ada apa sehingga aku perlu ke ruang BK.
Di ruang BK aku duduk berhadapan dengan guru asing tersebut.
“Nah, Anita. Saya Ibu Dewi, salah satu guru BK di sekolah ini.”
“Ada apa ya Bu? Kok saya harus kesini.” Tanyaku heran.
“Begini, ibu dapat laporan tentang perilaku kamu kemarin. Katanya kamu mendorong kakak kelas sampai jatuh terluka ya?”
Wah ini pasti gara-gara kejadian dengan Susi kemarin. Aku diam saja gak menjawab pertanyaan tersebut.
“Ani?” Tanya guru itu.
“Oh.. iya Bu, apa?”
“Gini, orang tua dari Susi, kakak kelas yang kamu dorong kemarin. Ingin ketemu dengan orang tua kamu.”
“Lah emang ada apa ibu?”
“Susi bilang ke orang tuanya kalau dia di dorong sampai jatuh kesakitan. Susi gak sekolah hari ini. Orang tua Susi menelepon ibu dan ingin ketemu sama orang tua kamu. Bisa kan?”
“Ibu aku gak salah! Kemarin dia duluan yang nampar aku. Kenapa kok aku jadi yang salah gini sih!” Aku emosi di depan guru itu.
“Kamu adiknya Felisha kan?”
“Iya, Bu.”
“Bilangin ya ke orang tua kamu, Orang tua Susi pengen ketemu sama orang tua kamu ya?”
“Iya deh Bu.”
Abis itu aku pikiranku makin ruwet. Aku harus bilang apa sama ibu yang sedang sakit, bisa-bisa sakitnya tambah parah kalau mendengar hal ini, takut jadi pikiran buat ibu. Apalagi bilang ke ayah, pasti dia bakal kecewa dengan putri kecilnya ini. Ini baru pertama kalinya aku dipanggil oleh BK. Benar saja kak Fe benci banget sama Susi, aku juga jadi membencinya. Lebay banget si Susi cuman jatuh doang maen lapor sama orang tua segala. Pokoknya I hate Susi very much sejak hari ini.
“Hey… Hebat kamu jadi trending topic sekolah.” Kata Rahmi.
“Trending topic apa?” Tanyaku polos.
“Kan kemarin itu kamu dorong kak Susi ampe jatuh, berani banget kamu ngelawan kakak kelas.”
“Abis dia nampar aku duluan sih.”
“Semua orang di sekolah sekarang tahu loh..”
“Yah biarinlah.”
“Semua orang tahu kalau kamu deket sama kak Bram dan semua orang tahu kalau kamu itu selingkuhannya kak Bram.”
DEG! Ketika aku mendengar perkataan Rahmi tersebut. Perasaanku jadi gak tenang, aku inget sebelumnya kak Fe nyuruh aku untuk terus berhubungan dengan kak Bram. Aku takut dicap sebagai cewek perebut pacar orang. Kak Bram kan pacarnya kak Susi. Lagian aku belum menghubungi lagi kak Bram. Kemarin kak Bram aku cuekin di UKS.
“Selingkuhan?” Tanyaku heran.
“Iya.”
“Aduh bohong itu mah, aku gak pernah jadian ama kak Bram.”
“Ah yang bener?” Goda Rahmi.
“Iya iih. Fitnah.”
“Terus kak Fe tau ini semua?”
“Tau. Malah dia nyuruh aku deketin kak Bram. Kan aku bingung.”
“Lah kok kak Fe aneh, bukannya kak Fe mantannya kak Bram.”
“Aku juga gak ngerti, kenapa kak Fe nyuruh aku begitu.”
“Terus kamu mau?”
“Gak tau mi ah, lieur.”
Obrolanku dengan Rahmi berhenti ketika guru sudah masuk kelas untuk memulai pelajaran. Aku malas memperhatikan pelajaran hari ini karena kejadian kemarin, semua itu kepikiran terus. Aku takut kalau ada apa-apa lagi, khawatir kena labrak lagi Susi. Pasti Susi gak terima dengan perbuatanku kemarin. Aku males ketemu kak Bram lagi, gara-gara rasa penasaranku ke kak Bram, kejadian kemarin bisa terjadi. Aku bingung menghadapi kak Fe, kalau gak diturutin kemauannya, dia pasti bakal marah. Au ah.
“Assalamualaikum, selamat pagi.” Seorang guru mengetuk pintu kelas dan lalu masuk dan menyapa ke kelas kami. Aku gak tau siapa guru itu, belum pernah lihat.
“Apa benar ini kelasnya Anita Maharani?” Tanya dia ke seisi kelas.
“Saya Bu. Saya Anita Maharani.” Aku berdiri dan memberitahu dia.
“Kamu ikut saya ke ruangan BK ya.”
“Hah? Ada perlu apa Bu.” Tanyaku kaget.
“Ikut aja dulu. Bu Emi, pinjem Anitanya sebentar ya.” Kata Guru asing itu.
Aku pun terpaksa harus ikut dengan guru asing ini. Emang ada apa sehingga aku perlu ke ruang BK.
Di ruang BK aku duduk berhadapan dengan guru asing tersebut.
“Nah, Anita. Saya Ibu Dewi, salah satu guru BK di sekolah ini.”
“Ada apa ya Bu? Kok saya harus kesini.” Tanyaku heran.
“Begini, ibu dapat laporan tentang perilaku kamu kemarin. Katanya kamu mendorong kakak kelas sampai jatuh terluka ya?”
Wah ini pasti gara-gara kejadian dengan Susi kemarin. Aku diam saja gak menjawab pertanyaan tersebut.
“Ani?” Tanya guru itu.
“Oh.. iya Bu, apa?”
“Gini, orang tua dari Susi, kakak kelas yang kamu dorong kemarin. Ingin ketemu dengan orang tua kamu.”
“Lah emang ada apa ibu?”
“Susi bilang ke orang tuanya kalau dia di dorong sampai jatuh kesakitan. Susi gak sekolah hari ini. Orang tua Susi menelepon ibu dan ingin ketemu sama orang tua kamu. Bisa kan?”
“Ibu aku gak salah! Kemarin dia duluan yang nampar aku. Kenapa kok aku jadi yang salah gini sih!” Aku emosi di depan guru itu.
“Kamu adiknya Felisha kan?”
“Iya, Bu.”
“Bilangin ya ke orang tua kamu, Orang tua Susi pengen ketemu sama orang tua kamu ya?”
“Iya deh Bu.”
Abis itu aku pikiranku makin ruwet. Aku harus bilang apa sama ibu yang sedang sakit, bisa-bisa sakitnya tambah parah kalau mendengar hal ini, takut jadi pikiran buat ibu. Apalagi bilang ke ayah, pasti dia bakal kecewa dengan putri kecilnya ini. Ini baru pertama kalinya aku dipanggil oleh BK. Benar saja kak Fe benci banget sama Susi, aku juga jadi membencinya. Lebay banget si Susi cuman jatuh doang maen lapor sama orang tua segala. Pokoknya I hate Susi very much sejak hari ini.
0
