Kaskus

Story

langitsaatsenjaAvatar border
TS
langitsaatsenja
Condom.
"Butuh kondom berapa banyak sih? Lo tuh beli.. kalau gak salah ya, tiga kotak setiap minggu."

"Masalah gitu buat lo?"

"Nggak sih.. cuma-"

"Yaudah bagus, diem dan scan aja belanjaan gua"


****

Fara, 19 Tahun, berbakat, selalu terorganisir, dan sedikit keras kepala. Fara sudah punya rencana untuk hidupnya kedepan sejak dia kelas 1 SMP, ketika konselor bimbingan membuatnya menangis karena dia mendapat B di satu tes, dia memutuskan dia nggak akan pernah membuat B lagi, dia akan menjadi seorang perawat, and she wouldn't take a shit from anyone.

Dia seorang kasir.

Di sisi lain, Haza, 20 tahun, lebih ke 'go with the flow' tipe, selalu positif, unik, dan suka menyenangkan orang lain. Haza menyerahkan hidupnya pada takdir. Dia pengen menjadi seorang fotografer, atau mungkin menyanyi, atau mungkin menjadi ahli biologi. Haza belum tau, benar-benar belum yakin. Satu-satunya hal yang dia yakin adalah soal tattoo terukir di kulitnya, permanen.

Dia.... well, he's a drug dealer.


Hidup fara masih normal dan sesuai rencana, sebelum akhirnya cowok pemborong kondom ditokonya datang merusak semua rencana-rencana fara.


INDEX

1. Yakin Ukurannya?
2. Fancy, Hangover, Navel.
3. I'll See You Later
4. Keep Dreaming, Haz
5. Backseat Serenade
6. Hujan, Kunci, Navel.
Diubah oleh langitsaatsenja 24-05-2015 17:12
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
25.5K
139
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
langitsaatsenjaAvatar border
TS
langitsaatsenja
#34
I'll see you later
Fara


"Bisa berhenti ga lo? Nggak ada yang lucu!" rengek Fara. Pelanggan itu pun akhirnya berusaha berhenti tertawa dengan masih tersenyum-senyum memperlihatkan barisan giginya yang putih. Fara mengangkat alisnya, bingung mengapa pelanggan itu berdiri di depan meja kasir.

"Bisa saya bantu?" tanyanya kasar, menatapnya dengan jijik. Pelanggan itu mengulurkan tangannya.

"Gue Haza," pelanggan itu memperkenalkan dirinya, dan tatapan Fara bergeser dari tangan haza ke wajahnya dengan tatapan tidak percaya.

"Kayaknya ini bagian dimana lo ngulurin tangan lo terus nyebutin nama lo juga deh," Ucap haza, dan Fara memutar matanya.

"Gue nggak tertarik kenalan sama lo," fara berkomentar, mengalihkan perhatiannya ke deretan lampu neon dimimarket yang dilapisi kotoran untuk pencahayaan; deretan tua, lampu neon itu saat ini tampak lebih menarik bagi fara daripada harus melihat muka haza.


Fara terus memandang lampu-lampu itu sampai dia mendengar haza berdeham. Fara menatapnya lagi, jengkel kenapa dia masih berdiri di sana. Fara mau bilang ke haza buat fuck off sampai dia sadar kalau haza sudah menaruh belanjaannya dimeja kasir - that's right - beberapa kotak kondom.

"Bukannya kemaren lo baru beli ya? Gue masih inget banget, lo beli 3 box" Fara melihat kotak kondom itu kebingungan.

"Iya," Jawab haza singkat.

"Oh my god, jangan bilang lo salah satu dari anak-anak aneh suka koleksi kondom," Fara menatapnya, matanya melebar.

"Nggak," Haza menggeleng cuek, "yang kemaren udah abis."

"3 box itu totalnya 15 kondom, bro," ujar Fara, tidak percaya dengan pelanggan ini.

"Gini ya.. seperti yang lo liat, gue pribadi menikmati--"

"Stop, stop! Gue nggak pengen tau ya, tentang kehidupan seks lo," Fara angkat bicara, sambil men-scan belanjaan haza itu.


Setelah memberikan uang kembaliannya, fara menyuruh haza pergi, Haza akhirnya menyerah. Fara merasa puas; dia harus membiarkan Haza tau kalau dia bukan salah satu dari gadis-gadis yang gampang horny setiap saat dan putus asa cuma untuk seks hanya karena haza cukup tampan. Haza meletakkan tangannya gagang pintu kaca, menariknya ringan. Dia memutar kepalanya kearah fara dan tersenyum kecil.

"I'll see you later, fara."

"Hey.. darimana lo tau nama g--" Fara setengah berteriak, tapi Haza sudah keluar. Fara berdiri kebingungan, sampai ia sadar kalau dia memakai nametag-nya.


Haza


Haza menjatuhkan dirinya disofa, bergabung dengan keempat temannya yang sedang bermain FIFA, pantatnya hanya dapat setengah bagian sofa, dan setengahnya lagi memepet dipaha Ilham. Tapi haza tidak peduli, karena mereka telah dekat selama bertahun-tahun dan duduk di pangkuan masing-masing bukanlah apa-apa dibandingkan dengan fakta bahwa mereka semua biasanya berakhir meringkuk di tempat tidur yang sama hampir setiap malam saat musim hujan karena kamar yang lain bocor parah.

Haza segera membagikan bong, beberapa detik kemudian asap memenuhi ruangan yang dicat hijau berlapiskan beberapa poster model wanita dan pokemon itu. Mereka sudah terbiasa berbagi, entah saat punya kelebihan uang dan membeli beberapa botol beer untuk diminum bersama, atau saat membeli 3 bungkus indomie untuk dimakan berlima.

"Jadi," Haza merenung, menghirup tajam marijuana-nya dan membiarkan asap keluar perlahan dari bibirnya. "Ada yang kekampus nggak hari ini? Selain Ali." ucap haza pelan.

Ali dikecualikan dari pertanyaan tadi karena dia selalu pergi ke kelas. Dia juga yang selalu memaksa teman-temannya untuk belajar. Dan dia satu-satunya yang bisa menggunakan mesin cuci dengan benar, meskipun itu tidak masalah karena mereka bahkan tidak mencoba untuk memisahkan jenis pakaian mereka sebelum dicuci lagi.

"Lian sama gue," keluh Fahri. Dia kelihatan tidak fokus, dengan wajahnya yang seperti model majalah vogue yang sedang high. "Ada quiz kita berdua. Paling gagal.. kecuali ada cewek pinter yang duduknya didepan kita."

"Cewek pinter?" Tanya haza, setiap kata keluar dengan napas bercampur asap tebal.

"Iye, cewek pinter baik hati yang suka rela mau kita contekin" sambung Lian. "Eh,kita punya cheetos gak?"


Itu jadi akhir obrolan mereka karena ilham mengeluarkan kantong berisi cheetos, dan mereka langsung berebut memasukan tangannya kedalam kemasan itu.

****


nb ; boring i know, it'll get better i promiseee
Diubah oleh langitsaatsenja 22-05-2015 11:05
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.