- Beranda
- Stories from the Heart
Condom.
...
TS
langitsaatsenja
Condom.
"Butuh kondom berapa banyak sih? Lo tuh beli.. kalau gak salah ya, tiga kotak setiap minggu."
"Masalah gitu buat lo?"
"Nggak sih.. cuma-"
"Yaudah bagus, diem dan scan aja belanjaan gua"
****
Fara, 19 Tahun, berbakat, selalu terorganisir, dan sedikit keras kepala. Fara sudah punya rencana untuk hidupnya kedepan sejak dia kelas 1 SMP, ketika konselor bimbingan membuatnya menangis karena dia mendapat B di satu tes, dia memutuskan dia nggak akan pernah membuat B lagi, dia akan menjadi seorang perawat, and she wouldn't take a shit from anyone.
Dia seorang kasir.
Di sisi lain, Haza, 20 tahun, lebih ke 'go with the flow' tipe, selalu positif, unik, dan suka menyenangkan orang lain. Haza menyerahkan hidupnya pada takdir. Dia pengen menjadi seorang fotografer, atau mungkin menyanyi, atau mungkin menjadi ahli biologi. Haza belum tau, benar-benar belum yakin. Satu-satunya hal yang dia yakin adalah soal tattoo terukir di kulitnya, permanen.
Dia.... well, he's a drug dealer.
Hidup fara masih normal dan sesuai rencana, sebelum akhirnya cowok pemborong kondom ditokonya datang merusak semua rencana-rencana fara.
INDEX
1. Yakin Ukurannya?
2. Fancy, Hangover, Navel.
3. I'll See You Later
4. Keep Dreaming, Haz
5. Backseat Serenade
6. Hujan, Kunci, Navel.
"Masalah gitu buat lo?"
"Nggak sih.. cuma-"
"Yaudah bagus, diem dan scan aja belanjaan gua"
****
Fara, 19 Tahun, berbakat, selalu terorganisir, dan sedikit keras kepala. Fara sudah punya rencana untuk hidupnya kedepan sejak dia kelas 1 SMP, ketika konselor bimbingan membuatnya menangis karena dia mendapat B di satu tes, dia memutuskan dia nggak akan pernah membuat B lagi, dia akan menjadi seorang perawat, and she wouldn't take a shit from anyone.
Dia seorang kasir.
Di sisi lain, Haza, 20 tahun, lebih ke 'go with the flow' tipe, selalu positif, unik, dan suka menyenangkan orang lain. Haza menyerahkan hidupnya pada takdir. Dia pengen menjadi seorang fotografer, atau mungkin menyanyi, atau mungkin menjadi ahli biologi. Haza belum tau, benar-benar belum yakin. Satu-satunya hal yang dia yakin adalah soal tattoo terukir di kulitnya, permanen.
Dia.... well, he's a drug dealer.
Hidup fara masih normal dan sesuai rencana, sebelum akhirnya cowok pemborong kondom ditokonya datang merusak semua rencana-rencana fara.
INDEX
1. Yakin Ukurannya?
2. Fancy, Hangover, Navel.
3. I'll See You Later
4. Keep Dreaming, Haz
5. Backseat Serenade
6. Hujan, Kunci, Navel.
Diubah oleh langitsaatsenja 24-05-2015 17:12
anasabila memberi reputasi
1
25.5K
139
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
langitsaatsenja
#6
Yakin Ukurannya?
Fara
Fara menghela nafas sambil merapihkan rambut hitam panjangnya. Mata cokelatnya tertuju pada jam, yang digantung di dinding diatas pintu toilet yang bertatahkan sisa-sisa cairan kotor. Sambil berharap entah bagaimana secara ajaib waktu akan mempercepat sendiri. Tapi jam itu seperti meledek fara, pergeseran tiga jam terasa seperti tiga hari, hari-hari yang lambat di minimarket ditempat Fara bekerja. Orang hampir tidak datang ketempat ini. Itu terutama karena produk di sini tidak hanya hampir melewati batas kadaluwarsa, tapi tempat itu tua, kotor dan tersembunyi dari jalan utama.
Fara sering bertanya sendiri kenapa dia mau kerja di minimarket ini, tapi dia nggak punya pilihan lain. Dia harus cari uang untuk tambahan biaya kuliahnya. Selain itu, dia dibayar untuk cuma berdiri di belakang meja selama beberapa jam sambil bernyanyi keras dengan suara fals, dan bahkan kadang-kadang dapet buku buat dibaca.
Hari ini adalah salah satu hari sial Fara, dia sakit tenggorokan, artinya dia nggak bisa nyanyi buat ngusir rasa bosennya diminimarket. Dia juga lupa untuk bawa buku yang bagus, dan dia kelaparan. Dia hanya berdiri di sana, menunggu semacam hal yang menarik untuk muncul entah dari mana. Setelah beberapa saat, dia jadi lebih bosan.
Fara terkejut ketika mendengar suara pintu terbuka, tapi seketika menegakkan postur tubuhnya, masuk laki-laki memakai celana jeans ketat dan baju hitam bertuliskan 'nirvana' dia berjalan tanpa memperhatikan Fara, yang dengan sopan menyambutnya setelah ia masuk.
Dalam hitungan detik, ia telah menghilang ke salah satu lorong minimarket, dan kebosanan Fara pun kembali. Dagunya bertumpu dimeja kasir, sambil bersenandung lembut mengikuti irama ia diciptakan dengan ujung jarinya.
Fara mendengar seseorang berdehem, dan dia cepat kembali ke posisi profesionalnya, mata cokelatnya bertemu mata hitam laki-laki tadi. Dengan cuek, laki-laki itu menaruh barang belanjaannya- kondom berukuran besar di meja- menunggu Fara untuk melakukan pekerjaannya.
"Permisi, mas, ini ukurannya sudah benar?" Fara bertanya,
Laki-laki itu mungkin mengira Fara mengejeknya, walaupun pada kenyataannya Fara berhati-hati. Meskipun minimarketnya kurang bagus, itu adalah bagian dari kebijakan mereka untuk selalu memastikan bahwa pelanggan mendapatkan apa yang mereka inginkan secara akurat. Jadi dalam hal ini, itu adalah ukuran kondom.
"Iya, gue yakin ukurannya bener," kata laki-laki itu sambil memutar matanya, tanda kesal, sebelum akhirnya tersenyum licik, "Kecuali kalau lo mau meriksa sendiri ukurannya pas atau engga."
"Nggak mas, terima kasih," Fara tersenyum palsu, mencoba menyembunyikan rasa jijiknya, "Saya pikir saya sudah sering melihat penis berukuran kecil."
"Whoa, lo suka nonton porno?" laki-laki itu menaruh tangannya didada, pura-pura terkejut.
Fara membenci pelanggan yang kasar, mereka selalu datang dalam berpikir bahwa mereka lebih baik daripada yang lain.
"menjijikkan," Fara berkomentar, sebelum memindai kotak kondomnya.
"Gue cuma bercanda kali mba," anak itu meletakkan dua jarinya tanda damai, bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa, "Oh, dan gue saranin mending dibuang aja itu cemilan yang udah kadaluarsa, kecuali kalo lo mau pelanggan pada kena diare."
Fara tertawa, tapi sarcasm penuh diwajahnya,"Sejak kita lagi ngasih nasihat satu sama lain, saya menyarankan mas untuk mendapatkan kotak kondom yang lebih kecil, kecuali jika mas pengen kondom ini menyelip didalam cewek itu pas mas lagi nidurin dia."
"Ya ampun mba, nggak kok, ukurannya udah bener."
Laki-laki itu dengan cepat membayar belanjaannya dan lalu keluar tanpa menunggu uang kembaliannya.
"Wah, ada yang terlalu semangat banget nih buat make kondom-kondom mereka," kata Fara setengah berteriak, sambil melihat pelanggan itu berjalan kearah pintu keluar.
Fara melihat saat pelanggan itu memutar matanya dan berjalan keluar, tidak peduli untuk membalas atau memikirkan ucapan yang bagus untuk membalas perkataan fara barusan.
Fara menghela nafas sambil merapihkan rambut hitam panjangnya. Mata cokelatnya tertuju pada jam, yang digantung di dinding diatas pintu toilet yang bertatahkan sisa-sisa cairan kotor. Sambil berharap entah bagaimana secara ajaib waktu akan mempercepat sendiri. Tapi jam itu seperti meledek fara, pergeseran tiga jam terasa seperti tiga hari, hari-hari yang lambat di minimarket ditempat Fara bekerja. Orang hampir tidak datang ketempat ini. Itu terutama karena produk di sini tidak hanya hampir melewati batas kadaluwarsa, tapi tempat itu tua, kotor dan tersembunyi dari jalan utama.
Fara sering bertanya sendiri kenapa dia mau kerja di minimarket ini, tapi dia nggak punya pilihan lain. Dia harus cari uang untuk tambahan biaya kuliahnya. Selain itu, dia dibayar untuk cuma berdiri di belakang meja selama beberapa jam sambil bernyanyi keras dengan suara fals, dan bahkan kadang-kadang dapet buku buat dibaca.
Hari ini adalah salah satu hari sial Fara, dia sakit tenggorokan, artinya dia nggak bisa nyanyi buat ngusir rasa bosennya diminimarket. Dia juga lupa untuk bawa buku yang bagus, dan dia kelaparan. Dia hanya berdiri di sana, menunggu semacam hal yang menarik untuk muncul entah dari mana. Setelah beberapa saat, dia jadi lebih bosan.
Fara terkejut ketika mendengar suara pintu terbuka, tapi seketika menegakkan postur tubuhnya, masuk laki-laki memakai celana jeans ketat dan baju hitam bertuliskan 'nirvana' dia berjalan tanpa memperhatikan Fara, yang dengan sopan menyambutnya setelah ia masuk.
Dalam hitungan detik, ia telah menghilang ke salah satu lorong minimarket, dan kebosanan Fara pun kembali. Dagunya bertumpu dimeja kasir, sambil bersenandung lembut mengikuti irama ia diciptakan dengan ujung jarinya.
Fara mendengar seseorang berdehem, dan dia cepat kembali ke posisi profesionalnya, mata cokelatnya bertemu mata hitam laki-laki tadi. Dengan cuek, laki-laki itu menaruh barang belanjaannya- kondom berukuran besar di meja- menunggu Fara untuk melakukan pekerjaannya.
"Permisi, mas, ini ukurannya sudah benar?" Fara bertanya,
Laki-laki itu mungkin mengira Fara mengejeknya, walaupun pada kenyataannya Fara berhati-hati. Meskipun minimarketnya kurang bagus, itu adalah bagian dari kebijakan mereka untuk selalu memastikan bahwa pelanggan mendapatkan apa yang mereka inginkan secara akurat. Jadi dalam hal ini, itu adalah ukuran kondom.
"Iya, gue yakin ukurannya bener," kata laki-laki itu sambil memutar matanya, tanda kesal, sebelum akhirnya tersenyum licik, "Kecuali kalau lo mau meriksa sendiri ukurannya pas atau engga."
"Nggak mas, terima kasih," Fara tersenyum palsu, mencoba menyembunyikan rasa jijiknya, "Saya pikir saya sudah sering melihat penis berukuran kecil."
"Whoa, lo suka nonton porno?" laki-laki itu menaruh tangannya didada, pura-pura terkejut.
Fara membenci pelanggan yang kasar, mereka selalu datang dalam berpikir bahwa mereka lebih baik daripada yang lain.
"menjijikkan," Fara berkomentar, sebelum memindai kotak kondomnya.
"Gue cuma bercanda kali mba," anak itu meletakkan dua jarinya tanda damai, bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa, "Oh, dan gue saranin mending dibuang aja itu cemilan yang udah kadaluarsa, kecuali kalo lo mau pelanggan pada kena diare."
Fara tertawa, tapi sarcasm penuh diwajahnya,"Sejak kita lagi ngasih nasihat satu sama lain, saya menyarankan mas untuk mendapatkan kotak kondom yang lebih kecil, kecuali jika mas pengen kondom ini menyelip didalam cewek itu pas mas lagi nidurin dia."
"Ya ampun mba, nggak kok, ukurannya udah bener."
Laki-laki itu dengan cepat membayar belanjaannya dan lalu keluar tanpa menunggu uang kembaliannya.
"Wah, ada yang terlalu semangat banget nih buat make kondom-kondom mereka," kata Fara setengah berteriak, sambil melihat pelanggan itu berjalan kearah pintu keluar.
Fara melihat saat pelanggan itu memutar matanya dan berjalan keluar, tidak peduli untuk membalas atau memikirkan ucapan yang bagus untuk membalas perkataan fara barusan.
Diubah oleh langitsaatsenja 21-05-2015 07:45
0